Chapter 2
Terdengar langkah kecil bolak-balik gusar di kamar asrama 303. Cahaya matahari bahkan belum menampakkan semburatnya saat itu. Sakura sudah terlihat siap dengan tas dan seragamnya. Rencananya, dia akan langsung berlatih pagi ini seorang diri. Namun, ia masih menunggu teman sekamarnya yang dari kejadian tadi malam belum juga kembali ke kamarnya.
'Apakah dia mati?!' ucap Sakura takut sambil menggelengkan kepalanya, yakin kalau hal itu tidak mungkin terjadi.
Cklek
Pintu kamar terbuka, menampakkan pria berambut raven dengan wajah yang super masam sambil memegangi belakang kepalanya yang masih nyeri. Sakura yang melihatnya masuk langsung lega sekaligus kikuk. Dia takut Sasuke kemarin melihat wajahnya.
"Ehem-hem," ucapnya sambil menghampiri Sasuke yang berjalan ke arah ranjang. "Kau darimana saja, Sasuke?" ucapnya pura-pura menanyakan Sasuke yang masih memasang wajah kusut.
"Bajingan gila, membuatku terjatuh tadi malam," ucapnya mengelus kepalanya lagi. "Awas saja kalau bertemu, dasar pria gila." Katanya dengan berapi-api.
Sakura hanya mengangguk sambil tersenyum panik. "Kau tidur lagi saja. Kepalamu masih sakit kan? Haha." ucapnya pasang sambil membantu Sasuke berbaring. Tanpa ragu, Sakura langsung kabur keluar kamarnya.
"Terimakasih Tuhan, dia tidak menyadarinya," ucap Sakura yang terlihat girang sambil berjalan girang di sepanjang koridor asrama.
Udara segar dengan aroma embun pagi masih terasa. Cahaya jingga mulai muncul di balik gedung sekolah, menambah kehangatan pagi itu. Sakura berdiri di tengah lapangan, menghirup udara dalam-dalam. Ia tersenyum kecil, merasa damai di lingkungan barunya.
"Baiklah, ayo kita mulai," ucapnya pelan.
Sakura mengencangkan ikatan tali sepatunya dan sedikit merenggangkan pergelangan kakinya. Rencananya, ia akan pemanasan dengan berlari mengelilingi lapangan sekolah sebelum latihan pagi nanti. Ia ingin keadaan sudah on point untuk kesan pertama yang baik nanti.
Ia mengencangkan tali sepatunya dan mulai merenggangkan pergelangan kaki. Rencananya, dia akan berlari mengelilingi lapangan sebelum latihan tim dimulai. Langkahnya perlahan semakin cepat, tubuhnya mulai panas, dan dia merasa seperti melayang di bawah sinar matahari pagi.
"Ini tempat yang sempurna. Aku bisa berlatih setiap hari di sini," gumamnya sambil terus berlari.
Setelah beberapa putaran, ia berhenti di tepi lapangan untuk mengelap keringat. Namun, tak lama kemudian, segerombolan pria mendekat. Salah satu dari mereka tampak tak asing.
'Neji-san!' pikir Sakura dengan mata berbinar.
Gerombolan pria itu berhenti di depannya. Surai hitam panjang itu mengenalinya.
"Saku, kau datang pagi sekali," ucap Neji sambil menepuk pundak Sakura lembut.
"Harus semangat di hari pertama!" jawab Sakura antusias, senyumnya lebar sambil memperhatikan beberapa orang baru yang ada di sana.
"Teman-teman ini adalah anggota tim kita, Saku Haruno," ucap Neji sambil mencoba mengenalkan Sakura pada teman-temannya itu.
Neji memperkenalkan anggota tim satu per satu. Lelaki dengan mata bulat besar di sana langsung mengambil tangan dan menjabat ramah Sakura sambil tersenyum lebar. "Kenalkan, aku Rock Lee."
"Aku Choji Akimichi. Salam kenal," ujar pria bertubuh besar dengan senyum ramah.
"Shikamaru Nara," ucap pria berambut diikat sambil menguap kecil, terlihat malas namun tetap sopan.
Sakura membalas mereka dengan penuh antusias. "Salam kenal, semuanya. Kuharap kita bisa bekerja sama dengan baik!" ujarnya sambil membungkuk kecil.
Neji melanjutkan, "Kami bagian dari tim inti voli Seiryuu Academy. Jadi, kau akan sering berlatih dengan kami."
Sebelum mereka bisa berbincang lebih jauh, suara lantang Naruto terdengar dari kejauhan. "Saku! Apa kau sudah siap jadi bagian dari tim hebat ini?!"
Sebelum mereka bisa berbincang lebih jauh, suara lantang Naruto terdengar dari kejauhan. "Saku! Apa kau sudah siap jadi bagian dari tim hebat ini?!"
Naruto muncul bersama Sasuke yang berjalan di belakangnya dengan ekspresi tak acuh. Shikamaru datang menghampiri dan menepuk kepala Naruto. "Kau terlambat."
"AW! Bukan salahku. Si Teme ini masih tertidur saat ku datang," ucap Naruto membela diri. Di sebelahnya, Sasuke masih memasang tampang masam persis seperti tadi pagi sebelum Sakura pergi berlari.
"Sialan kau, Teme, tidak pernah bersemangat!" keluh Naruto, mencoba menyentil kepala Sasuke, namun langsung dihindari.
Sasuke hanya mendengus dan melanjutkan langkahnya ke tengah lapangan. "Banyak bicara."
Semua terkekeh kecil melihat tingkah kocak Naruto. Sakura dengan senyumnya memperhatikan orang-orang yang baru ia temui itu. Naruto sepertinya pria yang ramah dan baik hati. Sifatnya yang hangat menjadi perekat tim ini. Berbeda dengan Neji, pria itu lebih memiliki sifat sebagai seorang ketua tim. Peduli dan juga ramah. Shikamaru terlihat sedikit keras, namun ia juga terlihat dapat diandalkan di tim. Rock Lee dan Choji juga sangat ramah dan suka tersenyum. Tidak ketinggalan si rambut pantat ayam, Sasuke yang sok dingin itu. Sepertinya di balik kepribadiannya yang buruk, dia juga terlihat seperti orang yang bisa diandalkan—a perpaduan yang pas.
Tak jauh dari mereka, Pria berambut perak dengan gaya santainya berjalan mendekat sambil memegang buku kecil. "Selamat pagi," ucapnya dengan suara tenang.
"Pagi, Kakashi Sensei!" jawab mereka serentak.
Kakashi melihat Sakura yang berdiri sedikit canggung di tengah kelompok. "Murid baru, ya? Saku Haruno?"
Sakura berdiri tegap. "Benar, Sensei. Mohon bimbingannya!"
Kakashi mengangguk kecil. "Berlatihlah dengan baik. Saya mengandalkanmu."
Sakura mengangguk kecil sambil tersenyum.
Hari itu dimulai dengan latihan fisik yang dipimpin oleh Neji. Semua diminta berpasangan. Kakashi langsung memutuskan pasangan Sakura. "Sasuke, kau dengan Saku."
Sasuke langsung melotot. Dengan wajah tidak terimanya, Sasuke menatap Kakashi tajam. "Kenapa aku yang dipasangkan dengan si cebol itu, Sensei?" protesnya.
Kakashi hanya menjawab santai. "Kau punya catatan fisik terbaik. Bantulah teman sekamarmu." Lalu, ia melanjutkan membaca buku di tangannya, meninggalkan Sasuke yang mendengus kesal.
Sakura menepuk kepala Sasuke pelan sambil menyeringai.
"AW! Kau ini apa-apaan?!"
"Cebol kau bilang? Awas kau pantat ayam," jawab Sakura ikut kesal.
"Apa aku salah?" balas Sasuke.
Teman-teman mereka terkekeh mendengar pertengkaran itu. Naruto berseru, "Pasangan 303 ini lucu sekali, ya!"
"Sudahlah kalian, ayo cepat mulai," ucap Neji melerai pertengkaran mereka.
"Dia yang mulai," ucap Sakura menunjuk Sasuke yang berdiri di sebelahnya, Sasuke hanya memutar bola matanya malas.
Latihan dimulai dengan push-up, sit-up, dan lari keliling lapangan. Sakura memulai gerakan pertama dengan push up. Walaupun ia bisa melakukan gerakannya, dengan kondisi fisik yang notabene seorang perempuan membuatnya sedikit kesulitan mengimbangi temannya yang lain. Teman-temannya semua memiliki kondisi fisik yang bagus. Gerakan-gerakan seperti itu sangatlah mudah dilakukan mereka.
"Hey, kau ini main-main atau apa?" ujar Sasuke ketus melihat tubuh Sakura yang sudah tidak kuat terangkat ke atas di push upnya yang ke-50. Sakura hanya memandanginya kesal dengan nafas terengah-engah.
Sudah merasa tidak mampu, Sakura membaringkan tubuhnya di tanah. "Sasuke, gentian! aku tidak kuat lagi," ucapnya memohon. Sasuke menghela nafas.
Sasuke menghela nafas panjang lalu menggantinya. Dengan gerakan sempurna, ia langsung memamerkan 100 push-up tanpa henti.
Mata hijau yang semula lemas kembali berbinar. Sakura takjub dengan pemandangan di depannya, benar kata Kakashi sensei. Sasuke pasti memiliki nilai tes fisik yang sempurna. Dilihat dari postur tubuh, kontrol nafas, dan temponya, semua dilakukan dengan baik.
'Wah, dia memang luar biasa,' pikir Sakura, diam-diam mengagumi Sasuke.
Sasuke melanjutkan ke gerakannya yang selanjutnya. "Cebol, pegangi kakiku," ucapnya.
Sakura yang mengerti langsung menuruti perintah Sasuke. Sekarang ia akan melakukan push up. Sakura memegangi kakinya agar gerakan lebih stabil. "Hitung yang benar."
Sakura mengangguk sambil fokus memperhatikan gerakan Sasuke.
'1.. 2..3..' hitungan dimulai, diiringi dengan gerakan yang mengiringinya. Terlarut dengan pandangan di depannya, tak sadar Sakura kini memandangi wajah Sasuke yang benar-benar tepat di depannya. Mata yang sesekali bertemu. Hembusan nafas saling terasa. Wajah Sasuke benar-benar sangat dekat.
Deg!
Sakura yang kehilangan fokusnya mulai membuang pandangannya ke tempat lain. Ia harus bergerak gesit sebelum wajahnya berubah merah.
"Hey, hitung yang benar," ucap Sasuke.
"I-iya!" ucap Sakura dengan gugup, masih berusaha kembali fokus.
Di sesi lari, suasana menjadi kompetitif. Naruto menantang semua untuk balapan.
"Siapa takut," jawab Rock Lee mengiyakan perkataan temannya itu, diiringi dengan anggukan setuju temannya yang lain.
"Saku, kau ikut?" tanya Neji yang memastikan semuanya tidak terlewat. Sakura merasa percaya diri dengan kemampuannya, tersenyum lebar.
Sakura dengan percaya diri berkata, "Aku pasti menang!" Sasuke hanya memandanginya dan merasa tertantang juga.
Semua antusias tertantang. Mereka berbaris dan mengambil ancang-ancang.
Neji menghitung mundur, "3..2..1!"
prit!
Suara peluit terdengar dan mereka berlari. Di awal, tidak disangka Shikamaru memimpin di depan. Disusul dengan Sasuke di posisi kedua, Naruto, Sakura, Rock Lee, dan Choji. Sakura yang tidak mau kalah secepat itu mengarahkan kekuatannya.
Sasuke yang memang terbiasa unggul menyusul cepat Shikamaru ke posisi pertama. Tidak disangka, pada putaran kedua, Sakura mulai menyusul ke posisi 3.
Saat ini, 3 urutan unggul diisi oleh Sasuke, Shikamaru, dan Sakura. Di akhir set ke-2, tidak disangka Sakura menyusul Shikamaru dengan gesit. Sakura memang sengaja. Ia tidak terlalu membuang tenaganya di awal set. Saat teman-temannya mulai kelelahan, ia baru mempercepat langkahnya. Dengan mudah, ia merebut posisi ke-2 saat ini.
Di putaran terakhir terlihat begitu tegang. Sasuke masih memimpin. Ego-nya yang tinggi tidak akan membiarkannya kalah dengan Sakura semudah itu. Sakura yakin pada dirinya sendiri ia bisa lebih cepat dari langkahnya sekarang. Dengan sisa tenaganya, ia mulai hampir mengimbangi Sasuke.
Neji sudah menunggu di garis finish dengan peluitnya, melihat dengan seksama.
Prit!
Sasuke dan Sakura sampai di garis finish berbarengan diikuti dengan anggota tim di belakangnya. Semuanya terengah-engah sambil mengatur nafas dan berbaring di tanah.
"WAHHH, Teme dan Saku kalian ini gila! Cepat sekali," ucap Naruto yang tak terpacaya dengan yang dilihatnya.
"Saku.. kau.. cepat.. sekali.." ucap Choji sambil terengah-engah kagum melihat kemampuan Sakura.
"Bagaimana caranya kau tiba-tiba menyusul kami semua, Saku," timbal Rock Lee yang juga tak kalah kagum dengan Sakura.
Sakura tersenyum bangga, meski tubuhnya terasa lelah. Sasuke meliriknya dengan tatapan tak percaya, tetapi tetap menyelipkan pujian.
"Dia belum bisa mengalahkanku," ucap Sasuke.
Sakura mendengus kesal sambil menyiapkan kepalan tangannya untuk mendorong Sasuke.
"Walaupun begitu, kau hebat, Sakura. Jika banyak berlatih lagi, mungkin kau akan jauh lebih baik dari Sasuke," ujar Neji yang ikut mengagumi Sakura.
Sakura tersenyum lebar. "Terimakasih, teman-teman. Aku akan banyak berlatih lagi agar menjadi lebih baik." Teman-temannya membalas dengan senyuman.
Naruto yang tiba-tiba berdiri mengangkat tangan temannya.
"Karena hari ini kita sudah berlatih dengan baik, ayo ke Ichiraku Ramen untuk merayakan kedatangan Saku ke tim kita!" ucap Naruto kepada teman-temannya. Teman-temannya setuju dengan usulannya dan langsung berdiri mengikuti Naruto.
Rencananya, mereka akan ke kota Tokyo untuk menikmati ramen Ichiraku yang direkomendasikan Naruto. Tempatnya tidak terlalu jauh dari asrama mereka. Hanya perlu naik bus sekali untuk sampai ke sana.
Sampai di tengah kota, benar-benar membuat Sakura takjub. Pemandangan kota Tokyo sangat berbeda dengan kotanya dulu. Di sana, banyak sekali toko kelontong dan jajanan manis yang lezat. Pemandangan orang-orang yang beralalu-alang di sana juga sangatlah beragam. Sepanjang jalan, Sakura hanya menganga kagum melihat sekitar.
"Saku, minumlah ini. Kau banyak berkeringat hari ini," ucap Neji yang seketika membangunkan lamunan Sakura.
Sakura mengangguk tipis, "Ahh, terimakasih, Kapten," ucapnya sambil mengambil minuman isotonic pemberian Neji. Saat ini, Sakura dan Neji berjalan berdampingan di paling belakang, agak jauh dari teman-temannya yang berjalan cepat di depan itu. Dari kejauhan, Naruto terlihat berhenti dan melambai ke arah belakang, menandakan mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Ayo cepat, Saku! Neji! Aku sudah lapar sekali," ucap Naruto yang melihat Neji dan Sakura masih tersisa jauh di belakang. Sasuke hanya melihat mereka dari kejauhan.
"Itadakimasu!" ucap mereka serentak.
Menyantap ramen untuk makan malam setelah berlatih dari pagi benar-benar nikmat. Penjual ramen ini sangat ramah sampai memberikan makanan penutup gratis untuk rombongan tim. Naruto dan Choji terlihat sangat kelaparan sampai memesan 3 porsi jumbo.
"Selamat bergabung ke tim kami, Saku," ucap Neji di tengah kegiatan mereka.
"Selamat, Saku!"
Sakura tersentuh dengan perlakuan teman-temannya. Ia tak menyangka mereka memperlakukannya dengan sangat baik. Semua kegundahannya hilang tergantikan dengan rasa syukur dan bersemangat untuk menjalani hari esok bersama teman-temannya.
"Terimakasih!"
"Terimakasih, Paman!"
"Datanglah kembali!"
Sudah puas dengan santapan makan malam mereka, Sakura dan teman-temannya keluar dari kedai dan berkumpul di depan.
"Aku, Choji, dan Lee akan membeli buku. Kalian duluan saja," ucap Shikamaru yang memutuskan untuk berpisah dengan rombongan tim.
"Aku dan Neji juga akan membeli beberapa bola voli untuk latihan besok," tambah Naruto.
"Saku, kau pulanglah bersama Sasuke," ujar Neji menambahkan.
Mereka memutuskan untuk berpisah untuk keperluan masing-masing. Mengerti dengan keadaan Sasuke dan Sakura yang tersisa, mereka mengiyakan dan pulang bersama kemudian.
Diperjalanan mereka berdua hanya saling terdiam dan tidak membuka obrolan sama sekali. Sasuke berjalan di depan dan Sakura hanya mengikutinya dari belakang. Sakura yang tidak nyaman dengan atmosfer itu berusaha membuka obrolan di antara mereka.
"Sasu-"
Brug
Sasuke tiba-tiba berhenti, matanya tertuju pada etalase toko itu. Sakura yang berada di belakangnya tak sengaja menabrak punggungnya.
"ADUH! Kenapa tiba-tiba berhenti sih?!" ucap Sakura sambil memegangi hidungnya yang sedikit nyut-nyutan. Sasuke masih terdiam tidak menyautinya. Sakura yang bingung mencoba melihat sekitar. Hanya ada toko bunga di sana. Pandangan mata Sakura langsung melihat lelaki di depannya itu. Sasuke hanya terdiam sambil memandangi toko bunga itu.
"Apa yang kau lihat, Sasuke?" Sasuke masih diam tidak menjawab pertanyaan gadis itu.
Sasuke tidak menjawab, hanya diam memandangi toko itu. Wajahnya terlihat berbeda—tidak dingin, tapi lebih seperti... melamun.
"Apa kau kenal seseorang di sana?" tidak puas dengan respon Sasuke yang masih diam, Sakura berjalan ke hadapan Sasuke.
"Ada pacarmu ya?" tanya Sakura iseng sambil mulai menggoda Sasuke.
"Bisakah kau diam," jawab Sasuke ketus yang langsung meninggalkan Sakura. Sakura tersentak dengan jawaban Sasuke yang sangat masam itu. Raut wajahnya sangat dingin sampai membuat Sakura ngeri.
Semenjak kejadian tadi, Sasuke masih mendiamkan Sakura. Sakura yang merasa tidak enak padanya juga tidak bisa berbuat apapun. Mereka berdua hanya saling mengabaikan satu sama lain selama di perjalanan. Bahkan saat berada di dalam bis, Sasuke duduk di sebrangnya dan fokus dengan ponsel serta penyuaranya. Berusaha mengabaikan Sakura.
'Apa aku salah bicara dan menyinggungnya ya?' batin Sakura.
