Disclaimer
ハイスクール DxD - 石踏 一榮 High School DxD
Ishibumi Ichiei
Deon 'Minami' Decimus (1)
.
Ruangan itu tidak besar karena itu hanyalah sebuah pondokan kecil kurang dari lima meter persegi.
Lelaki berambut merah jingga itu duduk bersandar pada sebuah ranjang yang terbuat dari kayu. Matanya yang berwarna keemasan tampak memantulkan kobaran api di depannya. Kedua tangannya sesekali akan melemparkan ranting kering ke dalam perapian….….….
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Meanwhile…
.
Sudah beberapa hari sejak diriku 'membuang' hospital itu. Nah, Aku tidak menghitungnya. Lebih menarik untuk memikirkan tujuanku untuk saat ini dan kedepannya.
"Apa kamu akan tinggal diam disini?"
Apalagi setelah mendengar pertanyaan yang terlontar dari seseorang yang sedang berbaring di atas ranjang di belakangku.
Dia –wanita ini– adalah pemilik pondok kecil yang terletak di antah-berantah ini.
Di luar cukup dingin…
"Sepertinya kehadiranku tidak diinginkan."
"Kita sudah sepakat untuk saling melupakan hubungan di masa lalu. Saya bersyukur waktu itu kamu telah menyelamatkanku, tetapi itu saja. Saya rasa semua itu sudah impas."
"Maaf. Aku tak bermaksud mengganggumu. Hanya saja… hanya sedikit orang yang ku kenal yang bisa dimintai bantuan."
"Itu alasan yang buruk."
"Hm… yah. Aku hanya mampir. Tolong jangan dimasukkan ke dalam hati."
"Kamu sudah sedikit berubah. Sekarang cara bicaramu jadi sedikit lebih fasih."
Itu benar…
"Aku sangat berterimakasih padamu atas bantuan yang kamu berikan. Berkat itu, Aku sudah banyak berubah."
(Aku bukan lagi orang yang sama dengan seseorang yang kamu kenal)
Aku tidak berbohong.
"Apakah itu berkat perawatan dari orang yang saya rekomendasikan sebelumnya, Tuan Deon?"
"Iya, benar."
Aku—Deon Decimus.
"Tidak kusangka kamu kenal seorang yang luar biasa seperti 'Sensei'."
"Nona Kleinsterns memang luar biasa. Saya sudah banyak tertolong olehnya. Jadi. Pada saat yang sama, saya juga merasa sedih telah membalas penolongku yang baik hati dengan cara mendorongnya ke tempat Tuan Deon."
Kata-katanya seolah mengindikasikan kalau Aku adalah orang yang tidak baik—.
Sementara aku melemparkan ranting kering, yang diambil dari luar, ke dalam api, aku merasakan sentuhan di kedua pundakku. Lalu, suara lembut dan menggoda datang memasuki telingaku…
"Lalu, apakah kamu berhasil?"
Api yang menjadi satu-satunya penerangan di ruangan ini sedikit membesar.
"Sayangnya ada kegagalan."
Sentuhan lembut di pundak-ku bergeser ke arah leherku. —Tekanan yang diberikan cukup kuat. Sangat kuat!
(Kalau saja tubuh ini tidak 'tidak masuk akal', leherku sudah pasti akan patah)
"Jadi semua yang direncanakan gagal, kah? Siapa.—tidak. Apa sebenarnya dirimu yang sekarang? Kenapa [kamu] melakukan itu?"
"Tidak. Rencana itu tidak sepenuhnya gagal."
Cengkeramannya pada leherku semakin kuat…
Aku bisa bilang kalau, wanita ini, mengenal (Aku) dengan sangat baik. Hampir-hampir tanpa celah.
"[Aku] merubah rencana ketika mendekati akhir saat menyadari bahwa hidup terlalu lama sudah tidak ada artinya, lalu, akhirnya membiarkan aku mengambil alih [diriku]."
Cengkeramannya sedikit mengendur…
"Aku masih lah "[Deon]" yang sama, dan berbeda, namaku 'Decimus'."
Aku masih memiliki perasaan yang sama seperti (diriku) karena (Aku) adalah diriku saat ini. Tapi mengingat cara berpikir (kami) yang berbeda, tak akan jadi masalah kalau aku memulai kehidupan yang (Aku) wariskan untuk diriku….…
"Deon. Decimus. Nama yang terdengar menjijikan."
….…kan?
"——Aku minta maaf."
"Setidaknya bagian dirimu yang ini masih tidak berubah."
Kalau soal itu, Aku ragu. Ini hanyalah kebiasaan buruk yang didasarkan pada (diriku) yang telah membangun sifat terlalu waspada.
Meminta maaf tidak berarti akan menyelesaikan masalah begitu saja, (Aku) sering melakukannya hanya untuk menghindar dari membuat masalah berkembang menjadi lebih besar. Dan, karena itu kebiasaan, tanpa disadari aku pun melakukannya begitu saja seolah-olah hal itu normal untuk dilakukan.
"Apa yang bisa saya bantu?"
Bantuan, ya. Itu akan bagus untukku kalau ada seseorang yang mau membantuku. Tapi,
"Aku tidak benar-benar butuh bantuan."
Aku hanya sedikit bingung mengenai apa selanjutnya yang akan kulakukan. Hidupku saat ini adalah sebuah pemberian. Sebuah hadiah dari seorang idiot yang setiap harinya dihabiskan untuk berlatih, berlatih, berlatih, bertarung, berpetualang, berlatih dan berlatih saja.
Bagaimana mungkin aku akan melanjutkan seperti apa yang dilakukan idiot itu. Bahkan sekalipun hidupku adalah pemberian, mana mungkin aku mau hidup dengan cara yang sama sebagaimana idiot itu lakukan sepanjang hidupnya.
Aku adalah Deon. Namaku adalah Decimus. Gelarku adalah «Decimator» (Penghancur). Namun perasaan yang kumiliki adalah milik idiot itu.—orang yang tidak pernah berpikir akan menghancurkan sesuatu apalagi dunia.
Dia adalah teman terbaikku.
Deon Minami.
Diriku.
Sial. Ini membuaku bingung!
"Aku hanya tidak tahu harus apa. Sepertinya kedepannya Aku akan hidup cukup lama."
"Jadi Tuan Deon dalam kondisi itu juga."
Sudah sejak tadi cengkeraman pada leherku berganti menjadi rengkuhan. Nada gelinya yang penasaran membuatku ikut tergelitik.
"Saya awalnya adalah manusia. Begitulah."
"….…Apanya?"
"Hmhm, kamu jadi lebih tegas. Tuan Deon yang kukenal biasanya tidak banyak bicara."
Aku tidak tahu apa maksudnya. Maksudku, kata-katanya yang sebelumnya. Sebenarnya apa yang mau dia bicarakan? Aku tahu betul kalau (diriku) memang jarang berterus terang.
Tentu saja Aku akan berbeda. Tapi,
'Jadi maksud kata-katanya tadi itu apa?'
"Heheh, sepertinya ada yang tidak mengerti disini. —Disini."
Aku melihat ke bawah, kepada tangan mungil yang menyentuh bagian dadaku. 'Disini apa?' pikirku. Apanya yang disini?!
"Manusia adalah makhluk yang paling cepat dalam prosesnya. Lahir. Tumbuh. Lalu mati."
Itu juga yang sering dikatakan idiot itu.
"Begitu manusia melampaui batasannya, sementara masih mempertahankan perasaan manusianya, mereka akan menabrak sesuatu. Kebosanan. Sesuatu yang membuat mereka kehilangan perasaan ketertarikan atas kehidupan. Manusia seperti itu akan memilih serta mengharap kematian datang. Tetapi pada saat membayangkan kematian sudah dekat…"
"Mereka takut mati, bukan?"
Uh, huh?!
Dia tiba-tiba memutar kepalaku, menangkup wajahku, membuat kami beradu tatap dalam jarak sangat dekat.
"Apakah itu juga yang telah dirasakan oleh Tuan [Deon]?"
Aku mengerti—.
Matanya, yang memiliki kesamaan warna seperti milikku, menunjukkan ketertarikan yang kuat. Haus akan rasa penasaran serta keingintahuan.
"Begitulah kenyataannya."
Apa yang dirasakan si [Deon] itu disaat-saat terkahirnya adalah perasaan ketakutan. Takut akan ketidakpastian. Takut akan sesuatu yang tidak diketahui setelah kematian.
Aku tahu…
Aku tahu betul perasaan itu. Karena semua itu masih membekas, dan dapat kurasakan. Seolah mengakar kuat di kedalaman diriku.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya dia melepaskan tangannya dari wajahku. Aku kembali menatap ke depan, memandangi kobaran api yang perlahan mulai mengecil.
"Mungkin saja dia menyesalinya. Lagipula, siapa yang tahu pemikiran orang yang sudah pergi?"
"….Saya mengerti. Terimakasih."
Aku pikir dia ingin mempresentasikan apa yang dirinya rasakan. Sebagai manusia yang sudah melampaui batas kemanusiaan. Tapi setelah sedikit bertukar kata denganku, dia mungkin memikirkan banyak hal, kemudian memahami sesuatu entah bagaimana. Pada akhirnya dia menerima kata-kataku begitu saja.
Dia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang kayu.
"Kamu boleh tinggal disini selama yang kamu mau. Tuan Deon."
"Terimakasih, ————."
Manusia memang makhluk yang aneh dan rumit. Apalagi manusia perempuan. Kupikir kerumitan yang mereka miliki tidak terbatas!
Malam itu, Aku menghabiskan waktuku di depan perapian dalam diam. Memandangi kobaran api, yang menjadi satu-satunya sumber pencahayaan dan kehangatan di dalam pondokan kecil ini, sepanjang malam.
.
.
.
.
Saat pagi hari tiba—
Aku keluar dari pondokan kecil. Udara segar dan dingin seketika menerpa kulitku. —Aku memutuskan untuk berjalan ke arah tertentu.
Sekitar lima menit kemudian, di depanku kini terdapat sebuah sungai kecil dengan aliran air yang jernih. Begitu aku memasukkan kaki ke dalam air, sensasi dingin menyegarkan dapat kurasakan. Kedalaman airnya hanya mencapai beberapa sentimeter di atas mata kaki. Karena airnya yang begitu jernih, bisa dilihat dengan mata telanjang kalau dasar sungainya adalah bebatuan kecil.
Dan…
Bruussss!!!
Aku menjatuhkan diriku ke dalam sungai ini. Sekujur tubuhku langsung basah. Tentu saja. Sudah berapa lama aku tidak mandi? Sensasi nyaman pun menerpa diriku saat merebahkan tubuhku di sungai.
Matahari tidak terlihat jelas. Mungkin karena topografi wilayah ini yang biasanya memang mendung. Apalagi musim dingin disini baru berakhir sekitar sebulanan yang lalu?
Aku benar-benar tidak tahu waktu atau bulan apa sekarang.
Saat masih di hospital, biasanya dengan rutin melihat tanggal dari hari ke hari. Menunggu seorang Lumiel Kleinsterns-sensei datang ke hospital untuk melakukan pemeriksaan pada diriku.
Maafkan aku, Sensei.
Aku tersenyum. Sungguh. Aku tidak tahu apa sebenarnya yang dipikirkan oleh si bodoh itu. Kenapa harus bermain-main menjadi orang sakit, sangat tidak sopan, hanya karena sudah tidak mampu membendung kesadaran yang semakin tergerus setiap saat.
Tidak tanggung-tanggung, mempermainkan dan menipu seorang wanita baik hati, penuh perhatian, dan kasih sayang ketika menangani (diriku).
Semua itu adalah kepura-puraan. Konspirasi yang sengaja diciptakan oleh kami. Dilakukan demi menggapai tujuan kami—yang mengejar sebuah "Kesempurnaan «Visualisasi»"!
Aku ingin meminta maaf dan berterimakasih kepada Sensei. Berkat bantuannya, apa yang telah (kami) kejar selama bertahun-tahun akhirnya telah berhasil (kami) gapai.
[Evolution]!
Lagi, lagi dan lagi, aku berhasil mendapatkan 'evolusi'!
—("Kami") berhasil berevolusi!!
Jadi, setelah semua ini, apa yang seharusnya Aku lakukan? Biasanya aku akan menggoda (diriku) untuk berbuat onar. Tapi sekarang, sekarang hanya tinggal diriku seorang. Tidak ada lagi yang akan mengambil keputusan di antara (kami).
Sekarang ini hanyalah tentangku, hidupku. Deon Decimus.
Ketika aku bingung memikirkan semua itu, sebuah suara yang terdengar terganggu telah menarik diriku dari duniaku.
"Duh. Kenapa kamu berbaring di sana. Saya akan kerepotan menangkap ikan-ikan disini kalau kamu mengganggu ekosistemnya."
Aku segera bangun dan berdiri—.
Orang yang mengatakan itu adalah seorang wanita yang mengenakan jubah—atau gaun yang didominasi warna putih dengan motif unik warna merah, mirip sebuah pakaian yang akan dipakai seorang Pendeta Wanita (Priestess) dari suatu ritus keagamaan tertentu, dan hampir menutupi seluruh tubuhnya. Ia mempunyai tinggi tubuh yang bahkan lebih tinggi dariku, tingginya mungkin sekitaran 186cm [6 kaki 1 inci] dan itupun dia sedang tidak mengenakan alas kaki. Wajahnya cantik, kurasa? Dengan tone kulit sangat putih tanpa cacat. Hidungnya mancung, bibirnya merah muda alami. Matanya yang berwarna emas tampak berkilauan.
Dia memiliki rambut berwarna ungu kelabu tampak berkilauan yang—wow, panjangnya melewati lutut dengan kepang di sisi kirinya sementara sisi-sisi lainnya dibiarkan tergerai bebas. Di atas kepalanya ada semacam karangan bunga yang tampak seperti mahkota.
"Kamu mau menangkap ikan?"
"Tentu saja, ya ampun."
Jawabannya jelas.
Sebetulnya itu pertanyaan yang bodoh. Aku jelas melihatnya membawa sebuah perangkap tradisional berbahan kayu. Hanya saja, perasaan misterius yang datang dari keranjang untuk menangkap ikan itu agak tidak biasa.
"Kamu? Makan ikan dari sungai?"
"Apa masalahnya?"
"Kamu sangat kaya, padahal."
Setelah menggumamkan itu Aku pun segera naik ke sisi sungai. Tatapannya tidak kunjung lepas dariku. Dia menatapku dengan ekspresi muram seakan-akan aku adalah seorang anak pembuat onar.
"Tolong jangan mengacaukan kehidupanku yang santai jadi penuh air mata dan darah."
Itu agak berlebihan. Tapi seperti biasanya,
"Maaf sudah mengacau."
Mengabaikan permintaan maafku yang tidak tulus, dia turun ke sungai, lalu mencari spot terbaik untuk meletakkan perangkap. Tidak lama setelah memasang perangkap di sungai, dia pun kembali. Lalu, dia kemudian duduk sambil menekuk lutut di dekatku. Pandangan matanya menatap lurus ke keranjang kayu di sungai. Dia menunggu, pada saat yang sama, terlihat seperti sedang merenungkan banyak hal.
Kalau itu orang lain, aku pastilah akan merasa aneh ketika… melihat pakaiannya yang tetap kering bahkan setelah ia menceburkan diri ke sungai. Tapi karena itu adalah wanita ini, aku tidak merasa perlu memikirkannya lebih jauh.
Saat aku bertanya 'Bolehkah aku duduk?' padanya, dia menjawab dengan anggukan kecil tanpa mengatakan apa-apa.
Dan, kami berdua duduk bersebelahan di tepian sungai tanpa berbicara satu sama lain selama beberapa waktu.
Sama seperti tadi malam. Tidak banyak yang berubah.
Bagaimanapun, kami pernah memiliki suatu ikatan di masa lalu. Namun karena ada suatu kesepakatan diantara kami, hubungan kami pun harus diputuskan.
Aku adalah seseorang yang tidak tahu malu.
Mungkin begitulah diriku di matanya. Orang sepertiku, yang mengabaikan kesepakatan dan mengingkari perjanjian, adalah bajingan yang tidak dapat dipercayai.
Sebelum datang kesini, aku mendatangi satu persatu tempat-tempat yang ku ketahui. Tapi sayangnya, situasinya sudah banyak berubah. Bukan hanya (kami) yang berevolusi, hampir semua orang yang kukenal pun telah banyak mengalami perubahan; entah itu perubahan yang bersifat positif ataupun negatif.
Setiap orang memiliki masalahnya sendiri.
Masalahku adalah, kebuntuan.
Mungkin sama sepertiku—.
Wanita yang ada di sebelahku pun sepertinya sedang menderita kebingungan. Itu hanyalah kemungkinan. Salah satu hipotesa yang dapat aku pikirkan setelah mengamati perilakunya semenjak kemarin.
Aku ingin bertanya, apa yang sedang dirinya pikirkan. Sekadar untuk memastikan. Tetapi, sekalipun aku cukup penasaran, aku pikir itu akan tidak sopan. Jadi akan lebih baik bagiku untuk tetap tutup mulut.
Setidaknya… kecemasanku sudah terobati.
————Dia baik-baik saja.
"Maaf sudah membuatmu khawatir."
Perasaanku jadi sedikit lega mendengarnya. Syukurlah. Sekalipun aku akan dianggap tak tahu malu, itu takkan menghentikan diriku untuk memastikan keadaan seseorang yang paling dikhawatirkan di dalam diriku.
Kalau begitu—.
Aku berdiri. Diam-diam menunjuk ke sungai, atau tepatnya ke perairan di dekat perangkap ikan. Tidak butuh waktu lama bagiku, hanya dalam beberapa detik, air di sekitar perangkap pun bergejolak hebat.
Jump! Jump! Jump!
Ada belasan ikan seukuran lenganku yang melompat-lompat di sana. Perangkap ikan tampak bergetar.
"Apa, apa yang kamu lakukan? Saya tidak bisa memakan mereka. Kamu tahu, kan?"
"Tenang saja. Mereka tidak "diciptakan". Aku hanya menggiring mereka dari suatu tempat."
"….…? Kemampuanmu jadi semakin aneh."
Setelah mengutarakan keheranannya ia pun turun ke sungai dan mengambil perangkap yang hampir terisi penuh oleh ikan.
Itu benar seperti katanya.
Setelah "Berevolusi", aku bisa leluasa untuk menggunakan kekuatanku, tanpa kekangan, tanpa syarat maupun konsekuensi. Dengan kata lain, aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan menggunakan kekuatanku—.
"Ini…. Tidak mungkin ikan tuna sirip biru ada di sungai kan?"
Ia tampak sedikit tercengang begitu melihat segerombolan ikan di dalam keranjang kayu tersebut. Ia lalu melayangkan tatapan curiga padaku, itu agak membuatku sedikit takut. Dan, dengan nada menyelidik dia bertanya,
"Ini tidak bisa dimakan, kan?"
"Itu bisa dimakan."
Aku membalasnya cepat.
"Tidak bisa?"
"Itu bisa."
Aku menegaskan sekali lagi. Tapi,
"….…."
Tatapannya padaku berubah menjadi seperti sedang melihat setumpuk kotoran. Serius, itu agak menyakitkan. Aku pun membual, untuk meyakinkannya kalau ikan-ikan tuna itu bisa 'banget' untuk dikonsumsi.
"Namaku bukan 'Minami' (Ocean) kalau membawa sesuatu seperti ikan tuna saja tidak bisa."
"Saya kira namamu 'Minami' (Beautiful). Dan telah berganti jadi 'Decimus'. Ikan-ikan ini pasti akan meledak saat dimakan, iya kan?"
Balasannya benar-benar cepat, lugas dan sangat menyayat hatiku.
"Kamu ingin melakukan 'Pemusnahan' 'kan, dengan saya sebagai targetnya?"
"Sama sekali tidak!"
Sejak kapan—! Sebenarnya seberapa jauh dia ingin mencurigai diriku?! Kenapa?! Aku hanya ingin berbuat baik dengan sedikit membantunya mendapatkan ikan. Karena, kupikir terlihat dia menantikan ikan-ikan di sungai masuk dalam perangkapnya. Itulah mengapa aku menggunakan kekuatanku; menggiring ikan dari suatu tempat yang dulu menjadi tempat kami berpetualang.
Tunggu, sebentar…
"Kamu tidak benar-benar ingin mendapatkan ikan?"
Dia… mengangguk dan menjawab "Iya." yang terdengar lambat. Lalu kemudian berkata,
"Saya hanya, sedang menunggu…. Dan menghabiskan waktu."
Jadi begitulah katanya, dengan ekspresi muram.
Tanpa banyak bicara lagi dia membawa keranjang yang dipenuhi ikan itu dengan santainya dengan hanya menggunakan satu tangan. Kupikir itu pasti akan berat untuk orang normal bisa membawanya.
Tapi karena itu dia… yah….…
"Tuan Deon. Bisakah kamu mencarikan kayu bakar?"
"——Tentu."
.
.
.
.
Saat Aku kembali dari mengambil kayu bakar dari hutan terdekat, di depan pondokan sudah ada orang baru yang sedang berdiri berhadap-hadapan dengan wanita pemilik pondok.
'Apakah itu tamunya?'
Orang itu adalah seorang wanita muda berambut pendek yang mengenakan sebuah pakaian gaun gothic-lolita ungu dan memegang sebuah payung di tangannya. Penampilannya diawal usia 20an dan tampak seperti boneka dengan kecantikan yang misterius.
Samar-samar namun pasti, aku merasa kalau dia memiliki sesuatu yang sedikit mirip dengan Sensei yang mengelilingi dirinya. Hanya saja, kalau dibandingkan dengan Lumiel-sensei, dia lebih inferior dalam semua hal.
Aku secara alami menilainya seperti itu.
Dilihat dari sini, perbedaan tinggi tubuh pemilik pondok dan gadis itu jadi tampak mencolok. Saat melihat kedatanganku, si pemilik pondok menatapku dengan raut muka muram, sedangkan si wanita gothic melemparkan senyuman manis ke arahku dan melihatku dengan sorot matanya yang….….…
"Haloo, Tuan yang tampan~."
Aku mengangguk. Lalu membalas "Hai." terhadap sapaannya yang… terdengar kekanakan, dan juga "Silakan lanjutkan." diiringi senyuman ramah. Setelah itu aku membawa diriku melwati mereka ke arah sebelah kanan pondok.
Di sebelah kanan pondok ada kanopi dan sebuah tungku dari tumpukan batu bata. Melihat dari kondisinya yang tak terawat, tampaknya tungku ini sudah cukup lama tidak dipakai.
Aku berjongkok.
Pertama-tama aku letakkan kayu kering yang aku dapatkan dari hutan terdekat. Kemudian menyusun kayu satu persatu di dalam tungku.
Lalu, selanjutnya akan bagaimana? Aku tidak punya pemantik. Atau haruskah aku "menciptakan" apiku sendiri seperti tadi malam?
Saat aku sedang berpikir, —seseorang berdiri di belakangku dan merapatkan jarak diantara tubuh kami. Ada ujung payung runcing yang diarahkan ke tungku di depan mataku.
"Apa tuan tampan mau menyalakan api untuk membakar ikan?! Aku sangat pandai 'membuat' api! Mau kubantu?"
….….… Sudah kuduga. Gadis ini agak tidak beres. Mungkin ada beberapa sekrup yang hilang di kepalanya.
"Bagaimana caramu membuat api?"
Ia memutar-mutar ujung payungnya, sementara tangan kirinya memeluk tubuhku, menggerayanginya. Dengan nada sensual dia berbisik di telingaku,
"Tentu saja seperti—Iniii~!"
Dan… sebuah api muncul dan langsung membakar kayu di tungku. —Api Ungu! Kayu-kayu itu langsung habis terbakar, tanpa sisa! Namun kobaran Api Ungu itu tidak terlihat akan mengecil sama sekali! Tidak ada tanda-tanda kalau Api Ungu di depanku ini akan padam.
"﹏﹏﹏"
"Aku hebat, iya kan~?"
—berdenyut!
'Gear-gear' di kepalaku berputar sangat cepat. Informasi yang tidak terbendung segera berkelebatan dalam kepalaku!
• [————; [—————]!]
—berdenyut!
Setiap sel-sel otakku bekerja lebih keras dari biasanya! —denyut! Sebuah jawaban pun telah ditentukan!
• [————; [————————]!]
Tak mampu menahan diri, seulas senyum pun terukir di wajahku. Aku mengangguk penuh semangat!
"Iya! Ini benar-benar hebat!"
Aku yakin sekali Api Ungu ini tidak bisa digunakan untuk membakar ikan! Tidak mungkin! Ini terlalu ganas! Intensitasnya tidak main-main! Aku yakin bahkan Aku, tubuhku pun akan cukup terluka kalau terkena Api Ungu ini secara langsung—.
"—Nak. Bisakah kau menyingkir dari sana?"
Itu bukan aku. Aku tidak bicara apa-apa karena aku masih memperhatikan "Sifat" Api Ungu di depanku.
Namun berkat suara tajam dan muram itu, gadis tidak beres yang menempel padaku pun segera menjauhkan dirinya dariku.
"Hohoho~ apa kau cemburu? Apa kau akan ma-rah~?"
"Enyahlah!"
"Kyaaa, aku takuuut! Hahaha!"
Oh, sepertinya ada pertikaian. Tapi Aku tidak tertarik. Aku masih ingan melihat lebih dalam lagi ke kedalaman Api Ungu. Aku bahkan tak lagi memperhatikan apa yang selanjutnya kedua wanita tersebut bicarakan.
Api Ungu ini…
'Aku menginginkannya!'
Kalau aku bisa… Api Ungu——
"Yayaya~ Zevanna-"obasama"~. Ingatlah, okay? Lakukanlah pekerjaanmu, sesuatu yang harus dilakukan salah satu founder "Khaos Brigade", dengan benar! Ngerti?!"
.
…
….….….….….….….…Apa itu? Apa yang baru saja kudengar itu?
Saat aku menengok ke belakang, wanita pemilik pondok, tengah berdiri menatap ke arahku dengan wajah muramnya yang biasa.
—Sepertinya gadis tidak beres tadi sudah pergi entah kemana. Tapi Aku tidak peduli. Karena Aku baru saja mendengar sesuatu yang "woaaah keren!" menurutku.
Aku tidak bisa menahan tawaku.
"Khukuku. Tolong jangan mengacaukan kehidupanku yang santai jadi penuh air mata dan darah——kan?"
Itu adalah kata-katanya yang dia ucapkan padaku saat masih di sungai. Sekarang itu jadi lucu bagiku saat aku mengembalikan kata-kata itu kepadanya.
"….….….….…"
"Aku mengerti. Priestess Zevanna. —uh, atau haruskah ku panggil 'Founder Priestess' mulai sekarang?"
"….….….….…"
"Ppftt! Ha Ha Ha Ha Ha——!"
.
.
TBC
