Disclaimer!

ハイスクール DxD - 石踏 一榮 High School DxD

Ishibumi Ichiei


Chapter 01 : Lumiel Kleinsterns (1)


.

.

.

.

———[POV]!

.

Sudah lima hari sejak hari itu. Hari dimana [Decimus Psychiatric Hospital] lenyap tak berbekas dan hilang tak bersisa.

Tidak ada jejak penyebab yang bisa ditemukan. Tidak ada korban jiwa yang selamat.

Saat menyelidikinya lebih jauh, Aku menemukan banyak hal janggal dan tidak beres.

Para mantan pasien yang sudah sembuh yang pernah melakukan perawatan intens di [Decimus Psychiatric Hospital] tidak mengingat hospital itu. Sama sekali. Namun mereka masih mengingatku dengan jelas.

‹Lumiel Kleinsterns-sensei› —Begitulah mereka semua memanggil namaku.

Para mantan pasien yang kehilangan ingatannya membuat Aku teringat akan 'insiden' yang agak mirip dengan itu yang terjadi sekitar lima tahun lalu——.

Itu baru satu dari sekian banyak kejanggalan. Jadi saat kuputuskan untuk menyelidiki lebih jauh lagi, satu persatu kejanggalan lain pun ditemukan.

Pada akhirnya Aku memutuskan menahan diri.

Skeptis akan kejanggalan-kejanggalan itu, pikiran dimana ada 'tangan gelap' yang bermain dari balik bayang-bayang pun melintas di kepalaku—.

Insiden hilangnya hospital dan hanya menyisakan sebuah lubang besar tersebut tidak sesimpel yang kukira. Jejak lubang besar itu terlalu tua. Seakan-akan lubang itu sudah ada di sana sejak bertahun-tahun sebelumnya. Menghitung jejak usianya setidaknya lubang itu sudah ada di sana sekitar sepuluh tahun lalu, sedangkan Decimus Psychiatric Hospital baru didirikan tujuh tahun lalu.

Like, WTF?!

Sebab itu….….

Aku memutuskan kembali ke "Institut Grigori" dan berniat menemui sang Gubernur Malaikat Jatuh, Azazel-sama, untuk mencari petunjuk————.

Banyak hal telah berubah.

Institut Grigori adalah pusat wilayah Malaikat Jatuh di Dunia Bawah. Banyak wilayah Malaikat Jatuh yang masih terbengkalai, tidak terpakai atau tidak terurus. Karena populasi Malaikat Jatuh yang kian waktu kian menurun pada akhirnya ada terlalu banyak area yang ditinggalkan.

Pertama kali Aku masuk Grigori, setidaknya saat itu ada sepuluh Pemimpin Organisasi. Namun dengan menghitung kejadian beberapa bulan lalu, sekarang Grigori hanya memiliki Tujuh Pemimpin tersisa.

Jika dibandingkan dengan pihak tetangga, Iblis, yang telah mengekspansi melalui berbagai macam cara, Grigori—Malaikat Jatuh justru bertindak pasif. Mereka bahkan tidak berniat menambahkan populasi Malaikat Jatuh seperti halnya yang telah Iblis lakukan menggunakan sistem reinkarnasi yang berhubungan dengan [Game] para Iblis yang disebut [Evil Piece].

'Aku dengar, orang-orang berwajah putih dari atas juga mulai melakukan hal serupa—'

[Brave Saint] atau apalah itu, sistem yang Malaikat gunakan untuk 'membangkitkan' manusia menjadi sosok baru sebagai 'Malaikat Reinkarnasi'.

Iblis memiliki [Evil Piece] sementara Malaikat memiliki [Brave Saint, sedangkan Malaikat Jatuh….….

"Grigori cuma memiliki orang-orang mesum."

Tepat setelah Aku mengatakan itu, sebuah tipe sihir komunikasi muncul di dekat telingaku.

[Datanglah kesini kapanpun. Kamu tidak akan bisa menemukan Azazel di sana—]

Begitulah.

————Sayangnya sang Gubernur sedang tidak bisa ditemui. Kurasa?

Jadi sekembalinya Aku ke Grigori, selama dua hari itu Aku habiskan waktuku untuk berkeliling di institut tersebut dan kemudian berkeliling dari satu 'fasilitas' ke 'fasilitas' bahkan yang berada diluar Dunia Bawah———.

.

.

.

Lalu—

Hari ini Aku mengunjungi salah satu fasilitas milik Grigori yang baru diresmikan yang terletak di kedalaman pegunungan di Jepang.

Kudengar tempat ini berhasil didirikan setelah terjalin kerjasama dengan pihak yang terkait dengan kepemilikan wilayah.

Ngomong-ngomong…. Sekali lagi.

Grigori adalah tempat berkumpulnya orang aneh dan orang mesum yang mana cabang-cabang fasilitasnya tersebar di berbagai belahan dunia.

Tidak ada orang normal disini.

Kenapa Aku bilang begitu? Tentu saja karena begitulah kenyataannya.

Di sepanjang perjalananku, Aku melihat banyak orang, beberapa diantaranya ada yang menarik perhatiannya. Aku juga bisa mendengar suara seseorang berteriak-teriak kesetanan, suara jeritan pedih, atau suara orang-orang gila yang menggembar-gemborkan 'supremasi kejahatan'—.

Meskipun ini fasilitas baru, banyak wajah-wajah baru yang belum pernah Aku lihat sebelumnya. Beberapa "Nephilim" bisa dilihat berkeliaran bebas. Mereka adalah manusia, setengah manusia, yang mempunyai Sacred Gear yang dilatih oleh Grigori agar tidak lepas kendali, dengan kata lain, supaya mereka dapat mengendalikan kemampuan Sacred Gear-nya sendiri.

Selain Nephilim, beberapa makhluk dari ras lain, saat ini, bahkan Iblis 'biasa' bisa ditemukan di fasilitas milik Grigori.

Kurasa, efek positif dari Aliansi Tiga Fraksi sangat mencengangkan. Mereka bergerak begitu cepat seolah-olah sedang dikejar sesuatu.

"Iblis, Vampir… Sacred Gear? Kombinasi unik apa ini?"

Huh, itu bukan iblis biasa—.

Aku berhenti di luar sebuah ruangan terhalang kaca. Di dalam ruangan itu ada seorang anak remaja yang mengenakan 'kotak kardus' di tubuhnya. Itu pemandangan yang cukup unik. Jika ini bukan di Grigori maka bisa dipastikan akan dianggap aneh. Tapi karena ini Grigori….… Yaaah, jadi biarlah.

Lagi pula Grigori adalah tempat berkumpulnya orang-orang aneh, mesum, dan orang-orang gila. Grigori adalah tempat semacam itu. Tidak ada orang normal disini. Sekalipun ada, lambat laun pasti akan terkontaminasi lalu berakhir menjadi orang mesum lainnya.

Jadi bertambahnya satu orang aneh lagi tidaklah berarti apa-apa.

'Akan kumasukkan yang satu ini ke dalam daftar juga—!'

Selama beberapa waktu kedepannya Aku teruskan berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain—.

Sebelum akhirnya, Aku berhenti di depan ruangan yang tampak seperti tempat dimana seorang Bos Besar akan tinggal di dalamnya.

Aku sudah membuat janji temu dengannya sebelumnya———.

.

.

.

Di dalam ruangan—

Aku mengambil tempat duduk tanpa mengucap permisi lagi.

Wanita berambut ungu panjang yang duduk di meja kerjanya, di seberang tempatku duduk, adalah orang yang terakhir kali kutemui di tempat lain.

—Penemue-sama.

Penemue, atau Penemuel, adalah Malaikat Jatuh yang namanya bahkan tercatat dalam sejarah. Itu, hm, bukan sejarah yang baik.

"Kali ini kamu kembali begitu cepat. Apakah kamu sudah memikirkan tawaran 'itu', —Lumiel?"

"Memang. Ini baru seminggu tapi Aku ingin mendengar syaratnya."

Ekspresinya seketika menjadi cerah setelah ia mendengar ucapanku.

"Kalau memungkinkan, tolong berikan padaku akses ke fasilitas milik pak tua itu."

Ayahku—. Adalah pria gila dan orang mesum yang tidak masuk akal.

Mendengar kata-kataku, Penemue-sama pun memasang wajah berpikir, seolah ragu, dan dia kemudian berkata,

"Di sana sudah hampir dikosongkan. Hal-hal penting sudah dipindahkan ke tempat lain. Ini akan sedikit sulit. —Apa yang akan kamu lakukan dengan tempat yang sudah kosong itu?"

Ah—Aku mengerti maksudnya.

"Aku hanya ingin menggunakannya sebagai tempat untuk melakukan penelitian pribadiku. Jika kamu bermaksud menanyaiku tentang hal-hal rahasia yang disembunyikan pak tua, maka kamu salah paham. Aku tidak pernah tertarik pada apa yang diinginkannya."

"….…. Begitukah?"

Tentu saja.

Dia mungkin menanyakan tujuanku ingin menggunakan fasilitas yang telah ditinggalkan oleh 'mendiang' Ayahku, fasilitas yang dikosongkan, katanya. Namun makna dibalik ucapannya cukup dimengerti. Dia pasti mencurigai diriku dan berpikir kalau ada sesuatu yang dirahasiakan oleh pak tua yang disembunyikan dari mereka di fasilitas itu, yang mana hanya akulah orang yang mengetahui rahasia itu.

Atau sesuatu yang mirip seperti itu.

Tentu saja Aku mengetahui sebagian besar rahasia pak tua yang disembunyikan dari Grigori, karena bagaimanapun dia adalah orang tuaku, kan?

Hanya saja Aku benar-benar tidak tertarik pada mereka.

Rahasia yang kutahu yang disembunyikan pak tua dari Grigori adalah hal-hal konyol bagaikan kentang goreng kecil menurutku. Yang Aku tahu, si psikopat mesum itu, di kepalanya hanya memikirkan cara untuk bersenang-senang

"Jadi bagaimana menurutmu?"

"Kamu butuh persetujuan dari yang lainnya. Aku tidak bisa begitu saja mengizinkan."

"Bukankah kamu Sekretaris Utama Grigori?"

"Memang benar tapi—. Walaupun Aku pribadi ingin sekali mendukungmu, keputusan akhir akan tetap ditentukan melalui jumlah suara Petinggi."

"——Aku mengerti."

Dengan kata lain, dukungannya padaku tak lebih dari sekadar bualan manis.

Untuk orang sepertiku, sikap mereka terlalu ketat sampai ke akarnya. Aku mengerti alasan mengapa sikap mereka begitu kepadaku. Itu karena, meski kebangsaanku adalah Grigori, Aku adalah 'orang luar' yang terlambat bergabung dan tidak bisa mereka gunakan dengan baik.

Itulah sebabnya, Aku menjauhkan diri dari urusan Grigori.

Tidak ada yang bisa kulakukan di sana.

"Bagaimanapun, alih-alih menampilkan angka (kontribusi) yang cukup, terakhir kali, kamu justru mencuri sesuatu yang dijaga ketat oleh 'Perwakilan Surga'."

"….…."

"Aku tidak bermaksud memaksamu dan kemudian memberikan ‹Itu› kepada pihak lain. Sebenarnya, kami hanya membutuhkan data dari ‹Itu› untuk dibagikan ke Aliansi. Lagipula tidak sembarangan orang bisa menyentuh ‹Itu›. Jadi. Akankah kamu bersedia menyerahkan ‹Itu›?"

"Apa itu juga termasuk dalam kesepakatan Aliansi?"

"Yah, itu benar."

Begitu ya. Aku jadi penasaran bagaimana nasib orang-orang yang memiliki sesuatu yang sama seperti yang ada di tanganku.

Aku bertanya-tanya kenapa Grigori yang pelit dan puas dengan diri mereka sendiri, tiba-tiba bersedia membeberkan informasi kepada pihak lain. Faksi Surga—mereka menginginkan sesuatu yang bahkan tidak dapat mereka tangani dengan baik.

Meski demikian mereka tetap menginginkanya.

Apa yang membuat mereka begitu? Alasannya sangatlah sederhana.

Benar.

Itu karena Aku mencurinya.

Aku pencuri, dan barang curian tersebut adalah milik mereka. Wajar saja kalau mereka meminta kembali apa yang menjadi milik mereka.

Aku mencuri ‹Itu› bukan untuk kepuasanku saja melainkan untuk memuluskan pekerjaanku dalam menangani para pasien juga. Tetapi tetap saja, mencuri adalah perbuatan yang tidak baik. Apapun alasannya. Jadi jangan kalian tiru di rumah, oke?

Hanya saja,

"Bagaimana kalian tahu kalau Aku lah pencurinya?"

Aku cukup yakin kalau Aku tidak meninggalkan jejak yang terlalu jelas. Tapi, melihat senyum geli di wajah Penemue-sama membuatku menyadari satu hal—.

"Kamu seharusnya tahu dimana kamu mencuri ‹Itu› dan siapa orang yang menjaganya."

—Orang yang berurusan denganku di masa lalu sepertinya tidak pernah melupakan jejakku.

"Si tampan itu, huh?"

Mendengar ucapanku, Penemue-sama pun tertawa.

"Hahaha, hanya kamu yang akan menganggapnya tampan. Yaaaah, sayang sekali saat ini dia sudah menjadi seorang kakek-kakek yang kehilangan semangatnya."

"Bahkan jika dia sudah menjadi kakek-kakek, kupikir dia masih lebih tampan dari kebanyakan orang yang pernah kutemui."

"Hohoho~? Itu agak berbeda dari sebelumnya? Ah, yaah, kembali ke permasalahan tadi. Apa kamu akan menyerahkan ‹Itu› atau tidak?"

"Tidak. Terimakasih."

Lihatlah. Ekspresinya seketika berubah menjadi kaku setelah mendengar jawabanku.

Bagus.

Itulah wajah yang ingin kulihat sedari tadi.

Tapi—

"Tapi, Aku akan mengatakan kalau ‹Itu› sudah berevolusi. Karena Aku tidak pernah menggunakan ‹Itu› dalam skala penuh, jadi kupikir, kalau kamu membutuhkan data ‹Itu›, bagaimana kalau kamu mencobanya sendiri, Penemue-sama?"

—Itu belum cukup.

"A-ku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan."

Biasanya Penemue-sama adalah orang yang akan menunjukkan penampilan yang 'kuat'. Tapi, lihat dirinya yang sekarang.

Alisnya berkedut. Dia berusaha menghindar dari pertemuan di antara mata kami. Hebat. Lihat saja senyumannya yang kaku itu, dan getaran samar di tubuhnya itu.

—Pengecut.

Sekarang, Aku sudah cukup puas.

Dan, Aku mengerti. Namun Aku ingin memastikan satu hal. Jadi Aku pun bertanya.

"Jadi pencurinya adalah Penyihir [Itu] ya?"

"Itu….…. Haaaah~, kamu benar."

Ternyata benar.

Aku tersenyum melihat wajah kekalahannya.

Memang Aku lah pencurinya, akan tetapi bagi si tampan yang mengenal betul jejakku, dia pastilah mengira kalau itu adalah 'musuh' lama yang sama seperti di masa lalu.

Si Penyihir [.….]!

"Tetap saja. Mereka tahu kalau si Penyihir [Itu] memiliki hubungan dengan Grigori. Kalau kamu tidak kooperatif, kami lah yang akan kerepotan nantinya."

"Seharusnya kamu mengeluh kepada Gubernur. Sejak awal yang menutup-nutupi keberadaanku adalah Azazel-sama."

"….…"

"Aku hanya bertindak sesuai yang kalian inginkan. Kurang kooperatif apalagi diriku?"

"Itu karena kamu terlalu mengkhawatirkan."

Itu, bisa ku mengerti.

Hmm, Aku langsung kehabisan kata-kata begitu Penemue-sama mengatakan apa yang sejujurnya dia pikirkan tentangku.

Lihatlah wajahnya, betapa lelahnya dirinya karena terus menerus mengkhawatirkanku—. Khawatir akan setiap gerak-gerikku. Mencurigai diriku tanpa bisa bersantai.

Huh!

"Kamu menempatkan diriku di posisi yang terlalu tinggi. Tanpa diriku pun dunia akan selalu berjumpa dengan kekacauan. Pada akhirnya, Akhir Dunia sudah diprediksi oleh banyak orang sejak zaman kuno. Aku hanyalah anak-anak."

"….. Anak kecil macam apa yang bisa menghasut perang. Merepotkan."

Dia berbisik. Sial. Dia benar-benar berbisik dengan wajah putus asa. Fufu, Aku merasa sedikit kasihan padanya. Dia pasti sangat kerepotan terus menerus mengkhawatirkan sesuatu yang tidak akan terjadi. Terlebih, pada saat yang sama harus mengurusi masalah demi masalah yang ditimbulkan oleh rekan-rekan seperjuangannya yang aneh dan mesum.

"Ngomong-ngomong, Penemue-sama. Adakah 'sudut' yang masih kosong disini? Kalau ada, tolong daftarkan satu untukku. Sebagai gantinya, Aku akan memberikan informasi yang kutemukan di hari-hari luangku."

Wajah Penemue-sama langsung berubah menjadi cerah, dia bahkan mengeluarkan "Ohooo?!" sambil membetulkan letak kacamatanya yang sebenarnya baik-baik saja.

"Jika itu ‹Lumiel› kita, maka itu pastilah informasi yang sangat menarik.…. Ahem. Baiklah. Akan Aku pikirkan setelah mendengar penjelasanmu."

Baru sekarang kamu memanggilku 'Lumiel kita'? Benar-benar licik seperti orang Grigori.

"Aku pikir daftarnya harus segera diubah. Kalau menghitung dengan yang kulihat saat berjalan di dekat sini, kukira jumlahnya akan menjadi sekitar Dua Puluh Lima (25)."

Brak!!

"T-unggu, tunggu! Dua Puluh Lima, kamu bilang?! Itu jumlah yang sangat banyak!"

"….…"

Dia terlihat benar-benar terkejut sampai-sampai dia berdiri. Dia bahkan menggunakan dialek. Lalu untuk apa pula kamu menggebrak meja?

"M-aaf. Aku terlalu terkejut."

Penemue-sama segera menenangkan dirinya dan kembali duduk. Ia kemudian melayangkan tatapan menuntut kepadaku.

"Bisakah kamu menjelaskannya padaku?"

Aku mengangguk enggan.

"Tiga diantaranya kulihat secara langsung, satu lainnya hanya menurut perkiraanku. Sekarang itu menjadi Delapan Belas."

"Lalu bagaimana kamu menentukan Tujuh lainnya——Eh?! Sebentar! Tiga Belas ditambah Empat….…. Tujuh Belas? Seharusnya Tujuh Belas, sial! Gimana 'sih cara kamu menghitung?!"

"Tcih!"

Dia benar-benar heboh.

"A-aah. Maaf."

"Haruskah Aku melanjutkannya?"

Penemue-sama mengangguk terburu-buru.

Aku menghela nafas pendek. Wanita cantik ini sebenarnya punya sisi yang akan meledak-ledak kalau menyangkut sesuatu yang dapat menarik jiwa peneliti-nya. Yup. Dia juga orang Grigori. Dengan kata lain, orang mesum!

'Grigori adalah simbol Kemesuman!'

Setelah menegaskan pemikiranku tentang Grigori, lagi, Aku pun berkata,

"Ini akan berdasarkan penemuan dan tebakanku. Yang tidak disebutkan anggap saja informasinya berasal dari orang gila—. Hm, begitulah."

"….…?"

"….…"

"….…"

"Apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?"

"Apanya yang 'Apa?'! Lalu 'Hm, begitulah' apanya?!"

Bruh, wajah Penemue-sama memerah padam. Dia terlihat lucu, seperti tomat. Aku bahkan bisa melihat asap keluar dari kepala berambut ungunya, seperti ubi panas yang baru keluar dari kukusan.

"Memangnya kenapa? Bahkan pasien-ku saja bisa langsung mengerti semua yang ku katakan."

Aku bertanya-tanya kenapa dia tidak paham apa yang ku katakan tadi. Apakah IQ-nya sudah mulai tumpul karena terlalu banyak bekerja atau gimana?

"Kamu 'kan Sekretaris Utama Grigori. Bagaimana bisa kamu tidak mampu memahami apa yang bahkan pasien 'mental illness' bisa pahami?"

Dan,

"KEEELLUUUUAAAAAAAAARRRR!!!!!"

Yup, dia berteriak seperti jalang.

Kupikir bukan saja sudah menumpul, dia pasti sudah kehilangan akalnya. Karena Penemue-sama tiba-tiba mengusirku, Aku meletakkan sebuah memo kecil di atas meja kerjanya lalu kemudian keluar dari ruangannya seperti yang dia minta.

Huh, dasar orang aneh mesum dari Grigori!

Brukh! Brakk!

Bamm! Bamm!!

(Sfx: suara-suara tindak kekerasan yang tidak patut dicontoh sedang terjadi di dalam ruangan!!)

Karena tidak mendapatkan apa-apa dari wanita mesum itu, sepertinya Aku….….…. Hm, lanjut menginspeksi fasilitas baru terdengar tidak buruk.

Setidaknya Aku sudah menunjukkan sikapku kepada mereka. Yah, semoga mereka mengerti maksudku.

[POV End!]

.

.

.

"Bohooo! Aku kacau! Huhuhu!"

[Um, y-ah. Kerja bagus. Kurasa?]

"Kerja bagus palakau! Tolong gantikan Aku untuk mengawasinya! Harus berapa tahun lagi Aku menahan ini?!"

[.….….….]

"Hei, Jawab! Sialan! Aku sudah tidak tahan lagi harus berurusan dengan monster kecil ituuu!"

Penemue berteriak kesal ke sebuah perangkat komunikasi yang sebelumnya ia sembunyikan di bawah mejanya. Dia benar-benar kacau seperti yang dia katakan. Ruang kerjanya untuk sementara dan masihlah baru sudah berantakan karena ulahnya sendiri.

Bukan!

Itu karena ulah monster kecil bernama Lumiel yang 'mengaduk-aduk' dan membuat emosinya naik turun.

[Uhh. Apakah negosiasinya berjalan lancar?]

"Kau masih sempat memikirkan hal itu?! Jangan abaikan kata-kataku begitu saja!"

[….Kurasa, tidak ya. Eh he he. Maaf.]

Penemue menarik nafas dalam-dalam. Inginnya ia berteriak mendengar suara tawa gugup seseorang di sisi lain, tetapi dia mengurungkan niatnya.

Percuma saja, pikirnya lelah.

"Aku sudah mengirimkan 'pesan' yang diberikan Lumiel. Apa kamu sudah memeriksanya? Jadi?"

[Aku sudah memeriksanya. Bahkan untukku, ini agak mengkhawatirkan—]

"Kamu akan mempercayai itu?"

[—Informasi yang diberikan mungkin terlalu minim tetapi Aku mempercayai kredibilitasnya.]

"Tapi, di sana tertulis kalau salah satunya ada di dekat sini. Dan, 'itu' baru dibawa kemarin—."

[Karena itulah Aku percaya. Butuh waktu bagiku untuk memastikan benar atau tidaknya kalau 'itu' termasuk kedalam salah satu yang berpotensi—. Tapi bagi Lumiel, cukup dengan hanya melihatnya satu kali sudah dapat mengetahui potensinya dan segera mengklasifikasikan 'itu' sebagai [Longinus Class] tanpa banyak usaha. —Sial! Aku penasaran apa rahasianya dan bagaimana caranya melakukan itu?]

"Kau yang sial. Dasar tidak tahu malu."

[Yayaaa! Kita harus segera menemukan mereka dan menariknya ke sisi kita berdasarkan ciri-ciri yang diberikan Lumiel, si [Penyihir «Zebel»] itu!]

"Penyihir «Zebel» ya. Baiklah, akan kusampaikan itu kepada pengelola Tim Scouting—. Bagaimana urusan di sisimu….…., Azazel?"

[Aku tidak yakin tapi sepertinya———]

Percakapan mereka pun terus berlanjut melalui perangkat komunikasi itu dengan ritme yang selalu berubah-ubah.

.

.

TBC


.

.

.

Kira-kira Chapters 2-4 : ditulis untuk 'siapa Lumiel Kleinsterns?' atau begitulah.