Disclaimer
ハイスクール DxD - 石踏 一榮 High School DxD
Ishibumi Ichiei
Dibalik layar: Informasi itu mengerikan!
.
.
.
Beberapa jam setelah menonton Rating Game di wilayah Agares—.
Lumiel kembali ke tempat awal dimana dia memasuki wilayah Agares melalui koneksinya.
Tidak.
Tepatnya dia mendapatkan 'tiket khusus' untuk menyaksikan Rating Game berkat koneksinya, yaitu Iblis sekaligus mantan kontraktor-nya.
Karena dia pula akhirnya Lumiel berhasil memaksa Azazel untuk bertatap muka.
Tatapannya lurus ke depan. Tangannya tak henti-henti memasukkan camilan ke dalam mulut.
"Mmh. Aku tak masalah selama itu tidak mengintervensi urusan pribadiku. Tapi kenapa tiba-tiba begini?"
Saat ini dia sedang bersandar di tempat duduk mewah bak tahta di kediaman Iblis tersebut sambil menonton berita dunia bawah di televisi. Pada saat yang sama dia tengah melakukan sesi percakapan melalui sihir komunikasi rahasia.
Jadi——.
[Ini telah disetujui oleh mayoritas suara. Oh benar! Ada satu masalah. Sepertinya Baraqiel masih membencimu, mengingat dia yang paling tegas menentang ide ini. T-Tenang saja itu sudah diurus kok!]
——Agak gawat kalau ada orang acak yang mendengar.
"Katanya di sana ada putrinya, huh. Yah, jangan membicarakan orang itu. Kalau tidak, aku akan menolak dengan tegas."
[….?! Baiklah. Bisakah aku anggap kalau kamu benar-benar menyetujuinya. Ya?]
"Mmh. Benar."
Sejujurnya dia mulai jengah mendengar ocehan mantan atasannya itu. Tapi apa boleh buat.
[Huuuuuu! Syukurlah!]
Dia bisa mendengar orang di sisi sana menghela nafas lega. 'Kasihan sekali.' pikirnya.
[Kamu boleh memulai sebagai seorang pengajar atau apapun di Akademi Kuoh nanti, setelah Festival Musim Panas di sana selesai. Apakah kamu sudah punya rencana mau jadi apa?]
"Aku baru saja diberitahu, jadi belum ada ide yang kupikirkan."
[Benar juga—!]
"Tentu saja kan. Nah, kalau bisa jadikan aku sebagai petugas kebersihan."
[—Oke. Lupakan! Ikuti saja rencana awal dari Azazel. Begitu tak masalah 'kan?]
"Tsk…. Lakukan semaumu. Dah."
Lumiel memutuskan secara sepihak sihir komunikasi yang datang dari Grigori.
Yup, tentu saja.
Hanya Penemue yang akan memberikan omong kosong semacam itu kepadanya.
Padahal baru kemarin—.
Baru sekali bertemu Azazel, tapi mereka sudah seenaknya membuat keputusan.
'Menjadi tenaga kerja di sebuah akademi, ya…'
Akademi Kuoh, berlokasi di Kota Kuoh.
Kota Kuoh, mungkin sekitar 5 tahun lalu, wilayah itu sebelumnya adalah teritori di bawah kekuasaan Bangsawan Belial.
Akan tetapi berdasarkan percakapannya dengan Kepala Keluarga Belial 'kemarin' "sesuatu" tampaknya telah terjadi, yang membuat perubahan status kepemilikan wilayah Kuoh.
"Cowok itu benar-benar putus asa, huh. Tapi terserahlah."
Daripada memikirkan hal-hal nggak jelas yang akan membuatnya kesal, sebaiknya dia menikmati siaran wawancara pasca pertandingan di televisi.
"Mungkin aku bisa memikirkan tawaran dari cowok itu. —bercanda sih."
Sebagai tamu, dan mumpung difasilitasi dengan fasilitas terbaik, bukankah lebih baik dia menikmatinya?
"Inilah bentuk 'kesopanan' menerima apa yang telah diberikan. Nah, lanjut nonton."
.
.
Sang Kaisar, Diehauser Belial, menjawab di hadapan para wartawan ketika ditanyai pendapatnya mengenai pertandingan [Tim Rias Gremory vs Tim Sairaorg Bael].
"Itu sungguh pertarungan yang bagus. Kedua kelompok sudah dipastikan akan memposisikan diri mereka di peringkat top segera setelah mereka bermain di level profesional. Aku merasakan datangnya era baru."
Setelah wawancara itu, salah satu wartawan mengajukan pertanyaan padanya.
"Kalau Sairaorg Bael memerintahkan [Pion]–nya untuk menjatuhkan Rias Gremory, bukankah dengan cara itu Sairaorg Bael akan menang?"
Sang Kaisar menjawab pertanyaannya dengan nada bergairah.
"Pada waktu itu, di stadion ini, adakah pilihan seperti itu? Yang semua orang harapkan adalah pertarungan antara Heavenly Red Dragon dan Great-King yang tak memiliki [Power of Destruction]. Bahkan seorang anak kecil pun pasti mengetahui itu. Kalau itu tak terjadi, tak seorangpun akan merasa puas. Lantas apa masalahnya?"
Seluruh wartawan dibuat bungkam oleh jawabannya.
.
.
"Hmm. Dia hebat di depan layar."
Lumiel tersenyum sinis dan kemudian mematikan televisi yang menyiarkan tayangan ulang sesi wawancara sang Emperor.
Padahal cowok itu, kemarin malam dia tampak begitu menyedihkan. Tapi, yah. Terserah lah.
"Hal yang paling tidak berguna di dunia adalah memikirkan kehidupan selebriti."
Lumiel tersenyum mencemooh seraya membetulkan posisi duduknya.
Mata beriris keemasan itu memandang dengan tatapan merendahkan ketika ia melihat pintu megah terbuka perlahan.
Sekelompok orang terlihat memasuki ruangan, dipimpin oleh seorang lelaki gagah yang berjalan di paling depan.
"Baru saja aku mendengar sesuatu yang kurang menyenangkan. Apa itu?"
"Oh, Diehauser Belial-han*. Kau masih ingat jalan pulang rupanya."
#Ps: (-han) adalah honorific yang sama dengan dialek yang berbeda dari (-san)
Iblis itu, pria berambut abu-abu bermata abu-abu tersebut berdiri di ruangannya, sementara dengan senyum kaku hanya bisa menatap jengkel pada Lumiel yang seenaknya duduk di tempatnya.
Dia adalah — Diehauser Belial.
Orang-orang di sekitar Diehauser Belial menatap Lumiel tajam, mereka tidak lain adalah peerage sang Kaisar.
Tatapan mereka diisi permusuhan serta kegeraman melihat seorang tak dikenal duduk di "Tahta" [Raja] mereka di Kastil Belial.
Tahta sang Kaisar.
The Champion of the Rating Game.
Itu jadi penghinaan yang tak termaafkan bagi mereka!
Namun mereka bukan sekumpulan orang bodoh. Karena tidak adanya instruksi dari [Raja] mereka, Diehauser Belial, untuk sementara mereka hanya akan diam dan berwaspada sambil mengamati.
"Minami-dono. Sepertinya aku membuat kau menunggu lama. Apakah tempat itu terasa nyaman?"
"Sama sekali tidak. Tapi moodku sedang tidak bagus saat ini."
Lumiel tersenyum penuh arti. Sekarang namanya adalah "Minami", setidaknya untuk hari ini dan disini saja. Mungkin?
"Emperor" Belial mau tak mau, terpaksa harus menahan diri agar tidak langsung menghantam gadis itu dengan kekuatan iblisnya.
'Yah, aku tak tahu apa itu bahkan akan berhasil.'
Lumiel adalah seseorang yang bahkan Diehauser akui tidak akan bisa dirinya tundukkan dengan mudah.
Gadis aneh itu bukan orang sederhana yang sama seperti 'mereka-mereka' itu.
"Kalau begitu…."
Sang Emperor menjeda beberapa saat, kemudian bertanya dengan suara yang dalam.
"Apakah ada hasil? Seperti, sesuatu yang "tidak biasa" itu?"
"Apa kau yakin? Ini akan jadi rahasia yang cukup untuk menjungkirbalikkan tatanan dunia iblis, loh."
Diehauser diam, diam-diam menunggu.
Lumiel menyeringai main-main melihat ekspresi serius sang Emperor. Lalu dia menunjuk ke camilan yang tersisa yang ada di tangannya.
"Setidaknya lakukan nanti setelah semua ini pergi ke dalam mulutku, kan?"
Mata beriris kuning keemasan Lumiel mengerling mempesona.
Diehauser Belial yang mengerti apa yang dimaksud gadis itu pun menjawab tenang.
"Tidak. Tidak masalah."
Dia menatap kepada para budaknya yang hadir dengan tatapan yang sangat dalam. Mereka gugup karena tidak tahu apa-apa.
Diehauser kembali menatap ke Lumiel.
"Aku tahu mereka akan tutup mulut mau apapun yang terjadi pada mereka."
'Artinya, dia sangat mempercayai mereka, huh.' —senyum Lumiel berubah sinis.
Kepercayaan dan keyakinan bukanlah hal yang dapat dinilai dalam sekali lihat. Dia tidak tahu kesetiaan macam apa yang ada pada budak-budak Diehauser Belial pada "Raja" mereka itu, tetapi dia tidak berhak mengomentari keyakinannya.
'Dia memang iblis dengan bakat aneh.'
"Hmm, baiklah."
Lumiel berdiri kemudian turun dari tahta tersebut sampai akhirnya tiba beberapa kaki di depan Diehauser Belial.
"Jadi. Diehauser Belial-han. Aku pikir apa yang jadi tebakanmu tidaklah salah. Nah, artinya, kamu benar."
"Apa 'benar' begitu?!"
Diehauser Belial yang tiba-tiba menjadi bersemangat -hendak merangsek maju- seketika berhenti begitu melihat Lumiel mengarahkan jari telunjuknya kepadanya.
Tubuhnya bergetar samar, tatapan tajam dilayangkan kepada Lumiel.
"Kuharap, kamu tidak bercanda."
Lumiel mendengus "hmph!" mencemooh kemudian merentangkan tangannya, lalu dengan bangga dia menyatakan.
"Dari ujung kepala sampai ujung kaki-ku dipenuhi 'hal-hal' eksternal. Ketahuilah. Tidak seorangpun ada yang lebih baik dariku dalam hal pengamatan."
Dia menyentuh pelipisnya dengan jari telunjuk.
"Aku yakin penilaianku sembilan puluh delapan persen—benar. Bukankah kau mengenalku dengan baik… Belial-han?"
Diehauser Belial terdiam.
Jika semua kata-kata itu diucapkan oleh orang lain, maka semua akan terdengar seperti omong kosong belaka di telinga Emperor. Namun karena itu berasal dari Lumiel—mantan kontraktornya selama bertahun-tahun….….
"….…"
"Ufufu~."
Lumiel tertawa kecil melihat pria iblis itu menunduk dan mengepalkan tangannya erat-erat.
Menahan emosi.
"Karena permintaanmu sudah kulakukan, sekarang, tinggal bagaimana orang yang dipanggil "Emperor" akan menyelesaikan urusannya, ufufu."
Diehauser Belial mendongak. Matanya tampak tajam memancarkan sorot kuat penuh tekad.
"Minami-dono…"
"Minami-desu~."
"Maukah kau membantuku sampai akhir?"
Lumiel tersenyum, yup, menyeringai geli. Pertanyaan seserius itu dia balas dengan sangat amat sederhana.
"Tidak mau."
"Sudah kuduga. —Sialan."
"Ufufu, kau baru saja mengumpat."
"….…Tidak. Kau salah dengar."
"Eeeh, baiklah, baiklah."
Lumiel mengangkat bahu, tersenyum tak peduli. Dia tidak mau menggoda pria itu lebih jauh. Lagi pula ia punya masalah lain yang harus diurus.
Sesuatu yang penting!
"Bagaimana caramu akan membayarku?"
Dia bertanya pada Sang Kaisar sembari mengaktifkan sihir teleportasi di bawah kakinya.
"Seperti yang aku katakan 'sebelumnya'. Selagi bukan uang, aku bisa memberikan apapun yang kau mau."
Diehauser Belial, tersenyum main-main.
"Kaisar Miskin yang banyak gaya." Lumiel membalas dengan senyuman tak berdaya.
Yup, gadis berambut hitam itu mengeluh dan menyindir pada saat yang sama. Tak pelak hal itu menyebabkan senyuman di wajah sang Kaisar luntur.
"Kalau kau mau, aku bisa menawarkan posisi [Ratu]-ku untukmu."
Kata-kata yang disampaikan sang Kaisar jelas sekali menyebabkan kejutan kepada anggota Peeragenya.
Nah, akan tetapi jawaban Lumiel lebih mengejutkan lagi.
"Terima kasih. Aku merasa terhormat, tapi aku tidak mau, bajingan."
Wanita itu menolak mentah-mentah tepat di depan muka sang Emperor. Bahkan tak segan-segan memanggilnya 'bajingan'.
'Apa yang harus kami lakukan…(?)'
Sang Kaisar tersenyum maklum. Dia tahu sejak awal, kalau Lumiel pasti takkan mau menerima tawarannya.
"Masih saja sok jual mahal."
"Orang miskin harusnya sadar diri."
Kemudian, tiba-tiba,
"Ha Ha Ha Ha!"
"Ha Ha Ha Ha!"
Keduanya sama-sama tertawa congkak seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
"Enyah kau, Penyihir sialan!"
"Persetan, Kaisar pantatmu!"
Dalam sekejap, wanita berambut hitam itu hilang dari pandangan mereka, hilang dari Kastil Belial.
….….….…(?)
.
Selang beberapa detik, raut wajah sang Kaisar berubah.
Ekspresinya tampak serius di mata para Peeragenya yang mana hal itu membuat mereka khawatir.
"Diehauser-sama…"
[Ratu]-nya memanggilnya dengan cemas.
Dia, dan yang lain, jarang melihat Tuannya berwajah seperti itu. Apalagi sebelumnya Tuannya menyinggung soal 'posisi' [Ratu] dalam Kebangsawanannya tepat di depan mereka. Tentu dia jadi orang yang merasa paling gelisah.
—Posisinya bisa terancam—.
"Jangan khawatir. Tadi itu lelucon."
Sang [Ratu] merasa sedikit lega, akhirnya, wajah ramah Kaisar-nya telah kembali.
"Aku sudah menawarkan posisi itu sejak sejak lama, tapi baginya itu tidak berarti apa-apa. Dia selalu menolaknya."
Diehauser Belial tersenyum simpul.
Resiko menjadikan Lumiel sebagai [Ratu] dalam Kebangsawanannya terlalu besar. Meskipun keuntungan yang bisa didapat juga tak kalah besar.
Masalahnya…
Wanita itu tidak tunduk pada siapapun. Kebanggaannya sebagai Penyihir amat kuat.
'Dia seperti pedang bermata dua.'
Lebih baik menjadikannya "rekan bisnis" daripada sebagai teman.
'Setidaknya dia adalah sekutu yang setara dan bisa diandalkan.'
Terlebih lagi, wanita itu juga orang yang toksik! Ucapannya selalu setajam pedang yang menusuk ke ulu hati!
"Omong-omong dia berbahaya apalagi bagi Iblis seperti kita."
Menjadikannya sebagai bawahan hanya akan membuat Diehauser pusing setiap harinya.
"Dan ingat. Jangan sampai membocorkan apa tadi yang kalian dengar."
""Yaah! Mengerti!""
Setidaknya Diehauser tahu kalau anggota Peeragenya mempunyai loyalitas 'mutlak' kepadanya.
Jadi dia bisa tenang.
Jika apa yang telah disampaikan Lumiel menemukan titik terang, mendapatkan kebenaran, maka yang harus ia lakukan adalah memikirkan langkah selanjutnya untuk memulai rencana besarnya….….
.
.
.
.
.
.
Di sisi lain…
Selepas hengkang dari teritorial Belial, Lumiel tak buru-buru kembali ke dunia manusia alias Bumi, atau pergi ke Grigori.
Nah, justru yang terakhir tak terpikirkan sama sekali olehnya.
Dia berjalan-jalan dengan santai di area Zona Hijau, atau pinggiran antara wilayah Iblis dan wilayah Malaikat Jatuh yang tak terlalu jauh dari wilayah Belial.
Karena wilayah yurisdiksi Belial berada di pegunungan, jauh dari Ibukota Lilith, bisa dikatakan kalau wilayah milik bangsawan Belial termasuk miskin bila dibandingkan bangsawan Iblis lainnya. Sedangkan Zona Hijau atau wilayah netral adalah dataran suram dengan medan yang sangat kacau serta sulit untuk dijadikan tempat tinggal.
Ada berbagai macam jenis kondisi yang berbeda-beda di tiap-tiap lokasi.
Sedangkan di lokasi Lumiel berada saat ini adalah belantara hutan dengan hembusan aroma kematian yang tercium menyengat. Pepohonan di hutan ini besar-besar, tidak jarang diantaranya sudah ada sejak beribu tahun lalu.
Untuk seberapa luasnya? Yah, cukup sulit untuk dijelaskan. Singkatnya, luas hutan disini beberapa kali lebih luas dari Hutan Amazon.
Sebuah seringai tipis terukir di wajahnya.
Setelah memeriksa sekitar, Lumiel pun berhenti. Ia membuka tangan kanannya, lalu sebuah "ranting" kayu muncul dari lingkaran sihir.
Kondisi ranting itu tampak masih segar, ada dua lembar daun muda yang sedikit layu di ujungnya.
"Aku lupa merawatnya? Sepertinya aku benar-benar hilang arah."
Lumiel menghela nafas pendek.
Selama tiga tahun lebih, dia melupakan banyak hal yang bersangkutan dengan dunia supranatural.
Menurutnya, dunia sudah tidak menarik seperti saat-saat itu.
Saat dimana begitu berminat pada sihir.
Saat dimana dia memimpikan akhir dari impiannya.
Saat dimana dia selalu bertemu dengan batas ketika mengejar sihir dan berakhir menerobosnya, yang menurutnya sangat menyenangkan.
Dan,
Saat dimana dia menghabiskan waktu di Decimus Psychiatric Hospital — bertukar pikiran, berbagi cerita, ambisi dan impian dengan seorang pasiennya yang menarik dan juga cukup imut.
Saat Lumiel memikirkan hari-hari pendek namun cukup berkesan itu, tanpa disadari dia tersenyum getir.
—!?
Tiba-tiba dia merasakan sensasi seperti tersengat di kepalanya. Ekspresi Lumiel seketika berubah tenang.
Sebuah lingkaran sihir tipe komunikasi muncul di dekat telinganya, dan sebuah suara cempreng pun terdengar dari situ.
[Halo, halo? —Yay~ terhubung!]
Lumiel mengernyit, kepalanya sedikit berdengung mendengar suara nyaring dan bersemangat milik seorang gadis.
"Yah, sudah terhubung ada—"
[Bos! Bos! Ada kemajuan, Bos!]
"Jangan teriak-teriak."
[Ma-Maaf! Huweeee!]
'Lah dia malah nangis!' Lumiel tepuk jidat sembari menghela nafas lelah. Gini amat punya anak buah, pikirnya.
"Jadi kemajuan seperti apa yang kamu maksud?"
[Ya! Bos! Ada kemungkinan kalau 'TKP' tenggelam kedalam tanah. Ini akan sulit. Mengingat "Vena Bumi" tersebar luas—]
"Bukan itu yang ingin kudengar. Kalau itu aku sudah tahu. Lagian perubahan suasanamu terlalu cepat."
[Ma-Maaf! Kami akan melakukan sekuat tenaga! Hampir semua tenaga kerja telah dikerahkan! Kami juga sudah mengontak para [Glanz] seperti yang diperintahkan!]
"Eh, apa? Glanz? Perintah apa?"
[Kamu tahu, Bos? Gila! Mereka langsung memulai penyelidikan begitu mendengar pekerjaan ini berasal darimu!]
"Heck?! Y-Ya sudahlah. Laporkan sesegera mungkin jika menemukan petunjuk sekecil apapun."
[Dimengerti—! Satu minggu! Dalam satu minggu akan kami pastikan dapat banyak petunjuk!]
Lumiel diam sejenak.
'Jika satu minggu lagi, mungkin akan ada sedikit masalah.'
"Aku akan menghubungimu lagi untuk mengatur ulang jadwal pertemuannya."
[Ah ha ha….? Sepertinya Bos cukup sibuk pada saat itu. Apa ada sesuatu yang….?]
"Hanya urusan biasa yang orang-orang tua bebankan kepadaku."
[Uuh, mereka lagi…!?]
"Abaikan saja. Lakukan saja tugas kalian sebaik mungkin sekalipun nyawamu jadi taruhannya."
Dia tidak mau memberitahu bawahannya kalau mulai minggu depan dia akan pergi ke Akademi Kuoh.
Kalau informasi ini tersebar di antara para idiot itu, mereka pasti akan berbuat onar.
[Kheh! Sialan, kamu kejam banget! Ahhn! Tapi—Kyaaan! Aku suka! Inilah bos kami!]
Lihat?!
Tidak ada orang normal di Grigori!
"Ahem! Yah, ada yang harus kulakukan sekarang. Pokoknya. Kuharap akan ada hal baik yang bisa kudengar darimu saat aku hubungi lagi."
[Tentu saja! Serahkan pada kami! Desu!]
"Sampai nanti…..desu?"
Begitu komunikasi putus, Lumiel seketika menggigit bibir bawahnya, merinding.
'Hari ini aku mengatakan itu dua kali tapi tetap saja…..'
Dia tidak pernah terbiasa bertingkah imut seperti gadis-gadis pada umumnya. Yah, tidak pernah ada yang menyebutnya imut bahkan sejak dia bisa mengingat.
Tapi kalau tadi dia tidak melakukannya, orang yang menghubunginya pasti akan menangis lagi.
Itu akan menyebalkan.
Disamping itu…
'[Glanz] kah—.'
Padahal sudah cukup lama Lumiel tidak menghubungi para idiot itu, semenjak ia berhenti dari tugas resmi di Grigori, tapi sepertinya mereka masih mengingatnya.
'—Mereka tidak mudah ditangani.'
"Bisa saja para idiot itu akan melihat ini sebagai kesempatan untuk menjebakku."
Namun, untuk mendapatkan apa yang dirinya cari selama berhari-hari ini, dia pikir, sedikit terlibat masalah harusnya tidak apa-apa.
Mungkin?
"Daripada itu…"
Gara-gara panggilan mendadak tadi, hal yang ingin dilakukan sempat tertunda.
Lumiel menatap "ranting" di tangannya intens. Kemudian ia menyalurkan energi sihir ke "ranting" tersebut secara teratur.
'Semoga saja belum expired!'
Dan…
Pendar hijau kebiruan memancar dari "ranting tersebut".
Lumiel tersenyum cerah melihatnya.
Nah, sebenarnya dia berharap-harap cemas. Khawatir kalau renting tersebut sudah kehilangan manfaatnya, sebab ia lupa untuk melestarikannya.
Ranting ini adalah objek pemberian dari seorang kenalan.
"Mari dicoba."
Kemudian Lumiel mengaktifkan saluran komunikasi "khusus" dengan melakukan pelbagai pengaturan rumit pada ranting tersebut.
Pemilik dan pemberi ranting ini adalah seseorang yang, mungkin bisa dimintai bantuannya….….
"Cyka, cyka…?"
[Hmmm?]
'Terhubung…!' dalam hati, Lumiel berseru senang.
"Cyka blyat!"
Tolong jangan ditiru apa yang wanita ini ucapkan! Ini buruk untuk perangai kalian, readers-san!
[——Saya terkejut. Tak disangka 'tanda' yang kuberikan saat itu masih disimpan. Bukankah begitu, Nona Lumiel?]
Lumiel tersenyum senang.
Ternyata 'tanda' yang saling mereka tukar saat itu masih bisa digunakan.
"Sudah cukup lama, bukan?"
[——Saya kira tiga tahun tidak lebih dari sekedar kedipan mata saja bagimu.]
"Hmm, itu tidak benar. Kurasa tiga tahun ini tak terlalu buruk."
[….….….….…]
Lumiel tak terlalu mengenalnya tapi dia setidaknya pernah bekerjasama dengan orang itu.
Yang Lumiel tahu, kemampuan orang ini sangat dapat diandalkan!
….….Dia seorang "ahli" yang tahu banyak hal tentang "Vena Bumi" dengan sangat baik!
"Btw, baru-baru ini aku sedikit kesulitan. Aku benar-benar sibuk dibuatnya."
[Abaikan itu. Sepertinya, kamu, sedang merencanakan sesuatu yang hebat lagi. Mari dengarkan rinciannya dulu.]
Senyum Lumiel berubah jadi seringai tipis mendengar kata-katanya.
"Apa aku selalu seperti itu?"
[Ternyata bukan. ———Jadi?]
'Orang ini masih tidak kenal basa-basi?' pikirnya, memaklumi sikap lugas lawan bicaranya.
Tapi itu juga hal yang bagus bagi Lumiel, karena ia sedang tidak dalam mood baik barang sekadar bertukar omong kosong.
Setelah diam beberapa saat, akhirnya Lumiel membuka percakapan.
"Kamu tahu, beberapa tahun lalu, berkat bantuanmu aku berhasil mendapatkan "itu" dari tangan Gereja 'kan?"
[Yah. Kudengar kamu membutuhkannya untuk menolong orang-orang. Begitu—. Apakah "itu" hilang?]
Lumiel mengernyit,
"Tidak. Masih di tanganku."
[.….….….….]
Diamnya lawan bicara membuat Lumiel sedikit ragu untuk melanjutkan obrolan.
Tapi…
"Masalahnya, orang-orang yang kutolong dan tempatku menolong orang-orang, itu menghilang entah bagaimana."
Decimus Psychiatric Hospital — kasus menghilangnya rumah sakit itu sangat penting baginya.
Hilangnya Decimus Psychiatric Hospital sangat membingungkan. Meski tampak seperti kasus-kasus "hilang" yang biasa terjadi di dunia supranatural, tetapi luar biasa sekaligus mengherankan-nya, dia kesulitan untuk mendapatkan petunjuk.
Hilangnya Decimus Psychiatric Hospital tampak begitu alami, saking alaminya hal tersebut, justru membuat semuanya jadi janggal.
Benar, kalau hospital itu seolah-olah tak pernah ada, tetapi tentu, keberadaannya sebelumnya benar-benar ada!
Maksudnya, meskipun 'sejarah' tentang Decimus Psychiatric Hospital lenyap, itu tidak dapat menghapuskan bukti bahwa disana pernah ada sebuah rumah sakit. Tempat dimana Lumiel menghabiskan waktu pada hampir setiap harinya.
Jadi…
Ingatan tentang tempat itu pernah ada, masih utuh di dalam benak Lumiel.
[Begitu…. Bisa menghapus jejak sampai seseorang seperti nona Lumiel kesulitan dibuatnya. Menarik."
"Sayangnya benar."
Lumiel tersenyum tipis.
"Kamu seorang ahli dalam menangkap jejak. Karena itu, jika berkenan, bisakah kamu membantuku?"
[Aku tidak tahu.]
"—Huh?"
Itu balasan cepat yang tidak terduga.
[Saat ini, jika aku ke permukaan, banyak mata yang akan menatapku. Sejujurnya, lebih seperti, jika aku melakukannya, itu, aku akan merasa bodoh sendiri.]
Lumiel mengernyit heran, 'apa yang ingin orang ini bicarakan?' kata-katanya terlalu berbelit-belit.
[Aku, entah bagaimana, menjadi bagian sebuah organisasi teroris. Kamu paham maksudnya, kan?]
"Hah?" Lumiel tercengang mendengar hal itu, sampai-sampai ternganga. "Aku tidak salah dengar, kan?"
[….….…Khaos Brigade.]
".…."
.
.
.
.
"Seriusan?"
[Yah, entah bagaimana.]
Lumiel memijat pelipisnya. Ia menghela nafas tak berdaya.
'Apa-apaan ini?' dia membicarakan suatu hal yang sangat penting baginya dengan seorang anggota teroris Khaos Brigade?!
[Mari bertukar informasi. Itupun jika nona Lumiel berminat.]
"Aku tidak tertarik!"
Meskipun mungkin akan berguna baginya jika dia mendapatkan informasi dari orang dalam di organisasi teroris, tetapi Lumiel tidak menginginkannya!
Yang dia butuhkan adalah informasi lain yang akan membawakan petunjuk untuk menemukan kebenaran dibalik hilangnya Decimus Psychiatric Hospital.
Sialan!
"Maksudku, bagaimana bisa kamu juga berakhir menjadi teroris Khaos Brigade, Zevanna-han?!"
[….….Ceritanya panjang.]
.
.
.
.
—TBC—
