Disclaimer
ハイスクール DxD - 石踏 一榮 High School DxD
Ishibumi Ichiei
Deon 'Minami' Decimus (2)
.
.
Sebelumnya…
Tak jauh darinya.
Zevanna duduk bersimpuh di depan sebuah tumbuhan kecil, membuat Deon memperhatikan gerak-gerik mencurigakan Zevanna dalam diam, penasaran.
[….….….…Cyka, cyka…?]
'Pohon kecil itu bisa bicara?' Deon dibuat tercengang seperti orang bodoh.
"Hmmm?"
Tapi melihat gelagat bingung Zevanna di matanya lebih menarik lagi dibandingkan mendengar sebuah pohon bisa berbicara.
Lalu tiba-tiba,
[Cyka blyat!]
Deon dan Zevanna blank untuk sesaat, dengan alasan yang berbeda. Lalu wanita berambut ungu itu berkata, atau tepatnya berbicara ke tumbuhan kecil tersebut….(?).
".….….Saya terkejut. Tak disangka 'tanda' yang kuberikan saat itu masih disimpan. Bukankah begitu… Nona Lumiel?"
"——?!"
[Sudah cukup lama, bukan?]
Zevanna menoleh, menatap ke arah Deon dengan mata menyipit tajam, seolah-olah menyuruh pria itu untuk tidak bertingkah.
Deon yang mengerti arti tatapan itu pun mengangguk, tersenyum geli—menahan tawa.
"….…Saya kira tiga tahun tidak lebih dari sekedar kedipan mata saja bagimu."
[Hmm, itu tidak benar. Kurasa tiga tahun ini tak terlalu buruk.]
"….….….….…"
Zevanna terdiam bukan karena apa yang dia dengar melainkan karena melihat apa yang dilakukan oleh Deon.
Pria itu membuat simbol "Hati" dengan menggunakan jari jemarinya.
'Aku ingin memukul Deon-sama.'
[Btw, baru-baru ini aku sedikit kesulitan. Aku benar-benar sibuk dibuatnya.]
Zevanna menghela nafas, menahan diri untuk tidak menerjang ke arah lelaki di depan sana.
"Abaikan itu. Sepertinya, kamu, sedang merencanakan sesuatu yang hebat lagi. Mari dengarkan rinciannya dulu."
[Apa aku selalu seperti itu?]
"Ternyata bukan. .….….….Jadi?"
Zevanna mengerlingkan mata, tanpa melepaskan atensinya dari Deon—yang mulai melakukan tarian aneh.
[Kamu tahu, beberapa tahun lalu, berkat bantuanmu aku berhasil mendapatkan "itu" dari tangan Gereja 'kan?]
"Yah. Kudengar kamu membutuhkannya untuk menolong orang-orang. Begitu—. Apakah "itu" hilang?"
[Tidak. Masih di tanganku.]
".….….….…."
Lagi, Zevanna terdiam saat melihat Deon menyentuh dadanya seolah-olah sedang menggenggam sesuatu.
—Hati—
'Ah, aku sangat ingin memukulnya.'
[Masalahnya, orang-orang yang kutolong dan tempatku menolong orang-orang, itu menghilang entah bagaimana.]
"Begitu…. Bisa menghapus jejak sampai seseorang seperti nona Lumiel kesulitan dibuatnya. Menarik."
—Memicing tajam—
Zevanna mendelik sedemikian tajamnya hingga membuat Deon diam mematung.
'Deon-sama menyembunyikan kekuatan aneh lainnya…? Aku sangat sangat ingin memukulnya.'
Mendengar apa yang Lumiel ungkapan melalui saluran komunikasi khusus-nya membuat dia berpikir kalau 'Deon' yang dirinya kenal —jadi semakin aneh.
[Sayangnya benar…. Kamu seorang ahli dalam menangkap jejak. Karena itu, jika berkenan, bisakah kamu membantuku?]
"Aku tidak tahu."
[—Huh?]
"Saat ini, jika aku ke permukaan, banyak mata yang akan menatapku. Sejujurnya, lebih seperti, jika aku melakukannya, itu, aku akan merasa bodoh sendiri."
'Aku tidak bisa setuju.' Zevanna memiliki alasannya sendiri. Namun dia juga tidak akan menyatakan penolakannya secara langsung.
Dan….
"Aku, entah bagaimana, menjadi bagian sebuah organisasi teroris. Kamu paham maksudnya, kan?"
Zevanna, dia justru lebih memilih untuk mengungkapkan situasi dan statusnya, daripada harus mengatakan alasan dia tidak mau membantu Lumiel.
[Hah? ….…Aku tidak salah dengar kan?]
Seperti yang diharapkan.
Mendengar suara Lumiel yang berusaha menyembunyikan keterkejutannya, lagi, Zevanna melihat ke arah Deon. Anehnya kali ini pria itu tidak bertingkah.
"….….Khaos Brigade."
[.….….]
.
.
.
.
[Seriusan?]
"Yah, entah bagaimana."
Melihat Deon berjalan menjauh, Zevanna pun menawarkan,
"Mari bertukar informasi. Itupun jika nona Lumiel berminat."
[Aku tidak tertarik!]
'Tentu saja dia akan menolaknya.'
[Maksudku, bagaimana bisa kamu juga berakhir menjadi teroris Khaos Brigade, Zevanna-han?!]
Zevanna menghela nafas sejenak.
"Ceritanya panjang."
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian…
"Ha Ha Ha Ha!"
Saat ini, suara tawa lucu terdengar seakan tak mau berhenti. Deon Decimus, pria itu, dengan riang menertawakan sang wanita di depannya.
Zevanna yang tak kuasa menahan kesal pun berujar dingin.
"Berhentilah tertawa. Dasar parasit tidak tahu terimakasih."
Deon langsung bungkam saat itu juga setelah mendengar gumaman wanita yang sedang memakan ikan bakar itu. Namun sesaat kemudian dia tersenyum tipis.
"Kalau 'gitu, terimakasih, Zevanna."
Dia mengungkapkan rasa bersyukurnya dengan nada setengah bercanda. Tetapi sebenarnya dia benar-benar tulus. Dan, seperti yang dia duga. Wanita itu hanya menunjukkan wajah muramnya.
Zevanna – adalah seseorang yang paling mengenal dirinya lebih dari siapapun di dunia ini dan Deon tak bisa membantah hal itu.
Mereka berdua sudah saling mengenal sejak lama.
Hubungan di antara keduanya teramat sangat dekat. Saking dekatnya mereka, sampai-sampai hampir tak ada satu hal pun yang bisa disembunyikan dari satu sama lain.
Mereka adalah orang seperti itu.
Jadi….….….….
Saat Deon mengetahui kalau ternyata, orang yang menghubungi Zevanna adalah Lumiel, dan melihat Zevanna mengakui dirinya salah seorang anggota organisasi teroris yang sedang marak akhir-akhir ini, yakni Khaos Brigade, dia bisa langsung tahu kalau alasan dibalik semua tindakan Zevanna pastilah karena dirinya.
"Mungkinkah itu terjadi sekitar lima tahun lalu?"
Zevanna hanya mengangguk. Tapi itu saja sudah cukup bagi Deon. Jadi Zevanna tak perlu menjelaskan apa-apa lagi padanya.
—Semuanya jadi terhubung sekarang.
'Karena itu terjadi lima tahun yang lalu, berarti, itu benar.' Deon tersenyum miring. Itu adalah saat-saat dimana (dia) sangat membutuhkan pertolongan.
"Itu proses yang cukup panjang, bukan?"
"….…Tidak terlalu."
"Begitu.… Terimakasih."
"Kamu jadi sering mengatakan itu. Tolong hentikan. Itu membuat saya risih."
"Ayolah, aku hanya berusaha jadi lebih jujur."
"….….….Saya tahu."
Senyum Deon sedikit melebar. Ekspresi Zevanna semakin muram. Dua orang itu menampilkan raut wajah yang kontras.
Sambil mengambil ikan bakar yang lain, dengan wajah muramnya, Zevanna pun memulai percakapan kembali.
"Saya tidak mengira bahwa itu menjadi yang 'kesepuluh', bukan kedelapan atau kesembilan."
Alasan kenapa Deon mengambil nama 'Decimus' karena itu berhubungan dengan 'Evolusi' yang dialaminya. Decimus juga berarti 'kesepuluh' (tenth).
'Deon' telah 'Berevolusi' setidaknya sebanyak sepuluh kali dan 'Evolusi' kesepuluh itulah yang menjadi 'Evolusi' terakhirnya.
"Suatu hari, Sensei—."
Deon menghentikan kata-katanya untuk sejenak, kemudian ia menggeleng pelan.
"Lumiel Kleinsterns membawa sesuatu di tangannya. Dan itu sangatlah membantu hal-hal di 'sisi lain' dunia, termasuk 'Aku'. Karena itulah….…."
Deon tidak menuntaskan kata-katanya tetapi dia tahu kalau Zevanna akan langsung mengerti.
"Jadi itulah sebabnya.….? Ternyata ada hal semacam itu pada nona Kleinsterns. Begitu, ya."
'Jadi ini semua berawal dariku.' Zevanna tampak semakin dan semakin muram.
Deon yang mendengarnya pun terdiam tidak tahu harus apa. Bahkan dia, entah bagaimana, seolah bisa mendengarkan 'inner' Zevanna mengalir keluar sebagai kelanjutan kata-katanya Zevanna. Tidak. Itu lebih seperti dirinya mengetahui apa yang dipikirkan oleh wanita itu.
'Aku tidak berhak menghiburnya.' Deon tersenyum masam.
"Sebenarnya. Saya bisa saja menganggap kalau kamu adalah, hanya seperti, perasa dan pewarna, yang ditambahkan ke dalam gelas berisi air."
Deon terdiam mendengar sesuatu seperti sebuah harapan manis yang sama sekali tak diharapkan hinggap ke sisinya.
Namun, melihat ke depan….…
Ekspresi Zevanna kembali terlihat murung, sambil mengunyah ikan bakar yang dipegang dengan kedua tangannya.
"Tetapi tetap saja, (kunyah kunyah), sulit dipercaya."
….…Harapan itu hilang seketika.
"Deon-sama. Untuk sementara, kita akan berpisah."
"Hee? Kupikir kamu tidak mau melihatku lagi."
"….…Saya teroris."
"Hmm, benar juga."
"Apalagi. Saat mendengar 'parasit' yang selama ini mengolok-olok partner Saya, ternyata merenggut keberadaannya. Itu terlalu berat untuk diterima."
Bagi seseorang yang mengenal "teman" hidupnya lebih dari siapapun, ketika kau mengetahui kalau "teman" itu bukanlah orang yang sama lagi, rasanya sungguh tidak wajar. Tidak bisa diterima. Sangat sulit untuk menerima kenyataan itu.
Mau dipikirkan bagaimanapun. Itu tidak benar.
"Maaf. Benar. Aku parasit."
Deon yang asli adalah 'Minami' dan si idiot itu telah pergi, pergi meninggalkan sisi ini.
Meninggalkan rekan-rekannya.
Meninggalkan Zevanna.
'Dia' pergi begitu saja, juga, membiarkan 'parasit' merebut tubuh-'nya'. Menguasai 'dirinya'. Menggantikan keberadaan-'nya' di dunia ini.
Sepenuhnya.
—Keduanya jatuh dalam keheningan.
Ada teori bahwa apa yang terbawa lahir bersama dirimu adalah dirimu yang lain. Dalam kasus partner-nya Zevanna, yaitu 'Minami Deon', pria itu membawa sesuatu bersamanya semenjak kelahirannya, dan "Itu" adalah sesuatu yang lumayan umum terjadi kepada manusia.
Termasuk 'Minami Deon'.
Di dalam dirinya terdapat suatu misteri yang tidak bisa dipahami. Sesuatu yang akan membuat orang lain menjadi gila.
Dan sesuatu itu disebut 'Perangkat Suci'.
Tapi meskipun itu disebut Perangkat Suci nyatanya itu tak memiliki wujud fisik juga tidak mempunyai rupa. Akan tetapi tidak semua Perangkat Suci tidaklah memiliki wujud fisik maupun rupa karena sebagian besar dari mereka faktanya memilikinya.
Perangkat Suci atau secara umum lebih dikenal dengan sebutan [Sacred Gear].
'Minami Deon' juga seorang yang terlahir dengan Sacred Gear.
Sacred Gear juga memiliki nama lain yang disebut "God's Artifact" dimana itu adalah peralatan dengan kemampuan kuat yang telah diciptakan oleh Tuhan dan diberikan kepada "Manusia" atau, mereka yang juga memiliki garis darah keturunan manusia.
Sacred Gear sangat amat bervariasi dan beragam entah dari segi bentuk maupun kemampuan.
Ada yang dapat mengeluarkan api putih, hijau, biru, hitam dan mungkin juga yang berwarna-warni bagaikan pelangi(?) atau mengontrol, menciptakan, mengendalikan atribut elemen lainnya seperti petir, tanah, angin, air dan es.
Tidak sedikit pula Sacred Gear yang bisa menciptakan selain fenomena alam.
Lebih dari itu. Misalnya; memproduksi senjata seperti pedang, mengendalikan benda mekanik, atau mengontrol monster sebagai peliharaan, dan atau menjadikan mereka sebagai partner, atau kemampuan penyembuhan dan lain-lain sebagainya yang tidak mungkin bisa disebutkan satu persatunya.
Sederhana namun tidak sederhana, pada dasarnya Sacred Gear dianggap sebagai berkah sekaligus kutukan bagi pemiliknya.
Diantara tak terhitung banyaknya jumlah Sacred Gear di dunia ini, ada "Tiga Belas" Sacred Gear yang paling terkenal dimana kesemuanya berada pada tingkatan yang tidak biasa.
[Longinus]!
Dan ketiga belasnya disebut sebagai Longinus Asli. Akan tetapi, bahkan diantara Longinus sendiri ada yang namanya klasifikasi seperti:
[Low-Tier Longinus]
[Mid-Tier Longinus]
[High-Tier Longinus]
Sementara Longinus itu sendiri dikatakan memiliki kekuatan dahsyat yang sanggup membunuh eksistensi superior maupun transendental di dunia, berdasarkan dari penelitian, High-Tier Longinus dikatakan mempunyai potensi "bisa menghancurkan dunia" itu sendiri seandainya digunakan oleh tangan yang salah.
Dan,
Diantara semua Longinus, yang terkuat dan yang paling terkenal diantara semua Longinus adalah [True Longinus].
Itu menjadi asal-usul pertama kali nama "Longinus" digunakan, sebagai identifikasi terhadap "Sacred Gear" yang mempunyai tingkat kekuatan luar biasa.
Sementara itu,
Zevanna bertanya. Menanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah dia tahu jawabannya.
"Apakah kamu masih ingat nama Sacred Gear-mu, Deon-sama?"
Deon tersentak
Sacred Gear yang dimiliki 'Minami Deon' hanyalah sebuah Sacred Gear tak berguna 'Tipe-Penciptaan' remeh bagaikan kentut!
Nama Sacred Gear-nya adalah….….
Deon menjawab dengan suara pelan,
"…. [Nervus Vesper]."
Ekspresi Zevanna menjadi sedikit serius setelah mendengarnya.
"Saya jarang melihatmu berdoa di malam hari. Itu seperti omong kosong."
Deon hanya bisa tertawa geli mendengar gumaman mengejek dari wanita bersurai ungu tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
"Penjara Kutukan (Condemnation Prison)…."
Deon tersentak.
Dia bertanya-tanya mengapa Zevanna tampaknya ingin mengungkit lebih jauh. Tapi wanita itu tidak hanya berhenti disitu dan melanjutkannya dengan sebuah pertanyaan.
"Apa…. [Balance Breaker]….… Deon-sama sekarang?"
Tatapan perempuan itu tampak menuntut jawaban.
Deon tertawa gugup.
Itu sebuah pertanyaan yang terdengar simpel tetapi cukup sulit dirinya jawab.
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu?"
"Saya hanya penasaran."
Deon terdiam cukup lama. Wajah kecewa Zevanna yang samar-samar terlihat telah membuat dirinya sadar.
'Dia juga mulai berubah, huh—'
Namun detik berikutnya Deon tertegun, menyadari sesuatu, seulas senyum lebar pun terukir di wajahnya.
"Aku tidak memerlukan Balance Breaker lagi."
"Bagaimana maksudnya?" tanya Zevanna, mengangkat alis heran.
Sacred Gear memang perangkat misterius yang masing-masing mempunyai keunggulan dan keunikan tersendiri. Namun ada satu hal yang pasti. Tanpa Balance Breaker, kekuatan Sacred Gear akan jauh dari titik optimalnya.
"Walaupun Deon-sama….….…tetapi tetap ada batasan pada seberapa banyak keluaran kekuatan fisik yang bisa digunakan."
Smirk!
Deon menyeringai.
"Setidaknya aku masih lebih kuat darimu, loh."
"Saya tidak setuju." Zevanna menyangkal dengan tegas. Dia Mengangkat kepalan tangan kanannya ke depan wajah.
Deon tersenyum kaku, "Kenapa?"
"Pertama; dalam kondisi normal kami, saya yakin masih bisa mengalahkan Deon-sama. Dua; kalau saya menggunakan 'itu', kamu tidak mungkin akan dapat mengalahkan saya. Seratus persen. Jika——"
"Tidak." Deon menyela.
Giliran Zevanna yang dibuat tertegun. Ia mendelik, menuntut jawaban. Deon tertawa hambar kemudian menjelaskan.
"Pada kondisi normal-ku yang sekarang, sama saja dengan kondisi optimal-ku. Aku tak perlu menggunakan kekuatan Sacred Gear-ku seperti sebelumnya, lagi… maupun mode Balance Breaker."
"Benarkah?!"
Zevanna terbelalak tak percaya. Namun sedetik kemudian ekspresinya terlihat murung kembali.
Seringai Deon melebar, lalu mengangkat tangan kanannya yang terkepal.
"Selain itu, aku juga bisa melakukan ini."
…Dia membuka kepalan tangannya.
Wusshh!
——!?
Zevanna kehabisan kata-kata, matanya sedikit melebar saat menangkap apa yang muncul di tangan pria itu.
Deon menyeringai tipis, "Bagaimana?"
"Bagaimana kamu bisa melakukan itu?"
Zevanna tak habis pikir. Apa yang dirinya lihat, apa yang ada di tangan Deon, tidak lain adalah… yup, [Api Ungu]!
'Bagaimana Deon-sama bisa menciptakan itu?'
Itu adalah kekuatan yang terdapat pada Longinus. Sesuatu yang seharusnya ada hanya di Longinus itu sendiri. Dalam hal ini, Api Ungu, adalah kekuatan Longinus [Incinerate Anthem] yang juga satu dari lima [Holy Relic] yakni [Holy Cross].
Itu bukanlah sesuatu yang bisa diproduksi ulang oleh siapapun, bahkan sampai saat ini.
'Tapi…. Deon-sama…. Dia….'
Seolah mengerti apa yang dipikirkan oleh wanita itu, Deon tertawa lagi.
"Selama aku dapat memahami 'konstitusi' dan 'sifat' suatu bentuk atau hal-hal lain, dengan kemampuanku yang sekarang, aku bisa 'memproduksi' berbagai macam hal maupun fenomena. Tidak terkecuali kekuatan Longinus. Seperti yang ada di tanganku ini."
"Jadi begitu. Jika bisa 'memproduksi'….."
Zevanna memikirkannya lagi. Kalau Deon bahkan mampu 'memproduksi' fenomena berbagai hal, "tidak terkecuali Longinus", maka itu akan sangat menyeramkan. Ada satu hal yang membuatnya cukup penasaran.
"Apa kekuatannya akan sama seperti yang aslinya?"
Deon menggeleng pelan.
"Sekilas memang tampak sama tetapi tetap akan ada pembeda. Entah itu dari detail kecil yang terlewatkan atau justru kelebihan muatan yang tidak sengaja ditambahkan."
"Umm, walaupun tidak sama tetapi…. Hm. Begitu ya. Dengan kata lain….".
"Benar. Entah bagaimana, aku akan bisa menyempurnakannya sesuai versiku sendiri. Yah, walaupun tidak semuanya akan sama. Karena ada beberapa hal yang biasanya akan membutuhkan 'syarat' atau suatu 'kondisi' tertentu agar aku bisa memproduksinya."
Api Ungu di tangan Deon berubah, lebih tepatnya mengambil bentuk perwujudan 'manusia api' berukuran mini. Dilihat saja bentuknya mirip seseorang, yup seorang wanita.
"….Mesum."
"Hahaha."
Zevanna tidak kuasa untuk mencela. Mau dilihat bagaimanapun wujud 'manusia api' itu mirip dengan dirinya.
"Maaf, maaf. Kupikir ini cantik karena mirip dengan kamu saat menggunakan 'itu'. Emm, apa kamu mau menyentuhnya?"
Deon menjulurkan tangannya ke depan Zevanna, ekspresi wanita itu pun terlihat murung seketika.
"Saya akan terbakar, bukan?"
"Tidak 'kok. Dijamin aman."
"….….…Baiklah."
Memang benar 'manusia api' itu, tepatnya Api Ungu di tangannya tidak membakar apalagi melukainya secuil pun goresan—. Karenanya Zevanna cukup kagum sesaat merasakan sensasi dingin dari Api Ungu di tangannya.
"Saya dapat membayangkan, seandainya Deon-sama memproduksi massal 'monster' dengan 'Api Ungu' ini, pastilah akan menyebabkan kegaduhan."
"Oh, sepertinya begitu. Tapi aku masih perlu menyesuaikan beberapa hal agar tidak tumpang tindih."
"Apa itu akan sulit?"
"Tidak terlalu. Hanya rentang waktu yang cukup untuk memahaminya.
Zevanna terdiam, dia memperhatikan 'manusia api' di tangannya.
"Sacred Gear Deon-sama adalah Tipe Penciptaan. Apakah memberi kesadaran kepada "kreasi" akan "memungkinkan" untuk dilakukan?"
"Bagaimana, ya." Deon mencubit dagunya. Ia berpikir kalau pertanyaan Zevanna bagaikan sebuah ide hebat yang sangat layak untuk dicoba.
Tapi…
"Sepertinya akan sulit. Yah, dicoba saja."
Snap!
Sesaat setelah Deon menjentikkan jarinya, si 'manusia api' di tangan Zevanna mulai bergerak. Itu memperagakan gerakan bak petarung handal.
Namun…
Deon mengernyit kemudian tersenyum seraya menggeleng.
"Mungkin masih tidak ada bedanya dengan sebelumnya. Karena "kesadaran" itu berasal dariku, pada dasarnya, itu bergerak sesuai dengan yang kuinginkan."
Zevanna mengangguk mengerti. Daripada diberikan "kesadaran", akan lebih tepat kalau menyebutnya "kehendak" yang disampaikan.
Dia kagum melihat tempo gerakan 'manusia api' itu mulai berubah menjadi cepat.
"Jadi, mirip makhluk hidup tetapi bukan. Tapi karena Deon-sama bisa menghafal gerakan orang-orang…."
'Bukankah dia adalah monster yang bisa menciptakan 'pasukan elit' dan 'monster' dalam jumlah yang tidak diketahui?'
Zevanna tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi kalau 'monster' seperti lelaki di depannya menciptakan monster dengan kemampuan penciptaan-nya.
'Deon-sama sendiri orang aneh.'
Deon tertawa kecil melihat tatapan sinis Zevanna.
"Itu artinya aku bisa membuat dunia jatuh dalam kekacauan…(?)"
"Tolong jangan lakukan itu."
"Heh~. Kenapa begitu?"
Zevanna menghela nafas lalu meremas si 'manusia api' sampai hancur. Ia mendelik dingin, menatap Deon penuh intimidasi.
"Menjadi salah satu pendiri Khaos Brigade cukup menguntungkan. Saya tahu satu dua hal metode untuk mengekstrak Sacred Gear."
"Ermm…?" Deon bergidik ngeri.
Seseorang yang Sacred Gear-nya diambil paksa, akan menemui kematiannya. Meski demikian, ada satu hal yang membuatnya cukup penasaran.
"Ap—. Hm, bagaimana kalau Host dan Sacred Gear-nya sudah menjadi satu?"
——!!
Zevanna menundukkan kepalanya selama beberapa saat.
Kata-kata Deon cukup mengganggu.
Sacred Gear memiliki banyak tipe, sebagai contoh, salah satunya—.
Ada tipe Sacred Gear yang mempunyai 'sesuatu' tersegel di dalamnya, tentu saja, 'sesuatu' itu mempunyai kesadaran serta 'kepribadian' tersendiri.
Jika host yang –dan– terlahir dengan tipe Sacred Gear semacam itu menjadi satu, maka akan sulit untuk dibedakan.
—Apakah orang itu orang yang sama, atau orang itu sebenarnya 'sesuatu' yang ada di Sacred Gear tipe itu?—
'Sacred Gear Deon-sama… Sacred Gear tipe "Penciptaan". Tapi…'
Tidak ada 'sesuatu' yang tersegel pada Sacred Gear-nya dan Zevanna cukup yakin akan hal itu. Namun, Zevanna juga yakin kalau lelaki di depannya sudah bukan lagi Deon yang sama.
'Dalam beberapa tahun, dia berubah terlalu banyak.'
Samar-samar Zevanna mengerti maksud tersembunyi dibalik pertanyaan Deon tentang "penyatuan" di antara Host dan Sacred Gear-nya.
'Apakah dia benar-benar berhasil, atau… dia hanya takut…(?)'
Nah, Zevanna tidak tahu.
"Itu sangat disayangkan, ya, Deon-sama."
Deon tersenyum masam melihat senyum, tidak, seringai tipis di wajah Zevanna. Jadi posisi mereka terbalik sekarang. —Giliran Deon yang terganggu.
Tidak.
Keduanya sama-sama terganggu saat ini.
"﹏﹏"
"﹏﹏"
Deon tahu, tapi dia tidak mau menjawab begitu saja. Ada sebuah cara agar Zevanna mengatakannya sendiri.
"Deon-sama. Karena kita akan berpisah, apa yang akan kamu lakukan kedepannya? Omong-omong, kamu sudah mendengar yang "kami" bicarakan, bukan?"
Deon tahu, tapi dia tidak mau menjawab begitu saja. Ada sebuah cara agar Zevanna mengatakannya sendiri.
"….….…Huh, apa maksudmu?"
Yup, balik bertanya dengan menanyakan pertanyaan ambigu.
Zevanna mengernyit heran. Matanya tidak lepas dari wajah lelaki itu. Ekspresi Deon, terlihat menyembunyikan sesuatu.
Deon tahu, tapi dia tidak mau menjawab begitu saja. Ada sebuah cara agar Zevanna mengatakannya sendiri.
"Kamu tahu siapa yang menghubungiku, kan?"
Deon mengangguk. Sial baginya, karena Zevanna malah mencurigainya.
Perempuan satu ini memang tidak mudah.
Karena sudah tidak ada jalan lain, dengan ragu Deon menjawab.
"Lumiel….?"
"Wah, luar biasa."
Zevanna bertepuk tangan, tapi jelas sekali kalau nada suaranya terdengar menyindir.
"Apa yang sudah kamu lakukan padanya? Dia tidak cuma menghubungiku, karena sepertinya ada banyak koneksinya yang sudah dihubungi."
Deon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia tersenyum canggung.
Ini memang masalah.
"A-ku tidak sengaja mengangkut banyak barang-barangnya yang disembunyikan di ruang bawah tanah hospital."
"(ꏿ﹏ꏿメ)!"
"I-tu… bukan barang-barang biasa. Ada banyak, maksudku, banyak "Whoaa!" dan hal-hal menakjubkan lainnya yang tidak sengaja aku angkut ketika menghilangkan hospital."
"Duh. Apa kamu bodoh?"
Deon tersentak, perasaan canggungnya semakin berkembang begitu mendengar omelan Zevanna.
"Tidak bisa dipercaya. Kupikir Deon-sama tidak akan melakukan kesalahan remeh semacam itu."
"Ermm… aku tidak sengaja, oke?"
"Bukan itu intinya."
"﹏﹏"
Zevanna menghela nafas, Deon pun tak bisa berkata-kata lagi dibuatnya.
"Nona Kleinsterns itu, dia… meskipun orangnya pragmatis, tetapi akan beda ceritanya kalau sudah mendendam."
Glup…
"Kalau sudah begini akan sulit bagimu menghilangkan jejakmu, haaaaaah!" Zevanna menghela nafas panjang. "Padahal kamu sudah merencanakannya sejak lama tapi… heuft!"
'D-Dia menghela nafas banyak pagi ini!?'
"Hei, ini bukan cuma aku, kamu juga terlibat. Huh, lupakan. Tapi, apakah akan sesulit itu?"
Jujur saja Deon tak begitu tahu apa yang membuat seorang Zevanna terlihat begitu khawatir.
Dan…
Sebuah jari telunjuk yang ramping namun tampak setajam tombak pun teracung.
"Dengar. Deon-sama. Nona Kleinsterns itu seorang 'master penyembunyi' yang tidak bisa dianggap enteng sama sekali."
Deon sweatdrop, dia entah mengapa agak paham maksud dari 'master penyembunyi' yang diungkit Zevanna. Dengan kata lain,
"Dia bisa menebak rangkaian skema sulit meski hanya berdasarkan petunjuk kecil. Persepsinya sangat tajam hingga mampu membaca skenario rumit dengan akurasi yang mendekati sempurna. —Kalau nona Kleinsterns sampai tahu apa yang selama ini kita lakukan, tidak salah lagi, dia pasti akan mengejar kita. Lalu…"
Dengan wajah serius, untuk pertama kali, Zevanna menggerakkan tangannya seolah menebas leher dengan sebuah pedang.
"Khekk! Kita berdua akan mati!"
"Hiiiieee!"
"﹏﹏"
"﹏﹏"
Keduanya… mengambil masing-masing satu ikan tuna bakar yang sudah masak yang ditusuk menggunakan rapier…(?)
Munch munch munch…
"Kira-kira apa yang harus kulakukan?"
"Apanya?"
"Yah, itu."
"Hmm." Zevanna mengangguk seakan paham. Deon yang melihatnya pun tak kuasa menahan senyum senang.
"Saya pikir, Deon-sama bisa menyelinap kemudian mengembalikan barang-barang nona Kleinsterns di kolong tempat tidurnya."
Senyum Deon luntur, wajahnya berubah jadi serius.
"….…Seperti yang kuduga."
"﹏﹏"
"Rasa ikan tuna bakar tidak terlalu enak."
"Dibuat sashimi pasti jauh lebih baik."
"Kita buat lain kali."
"Yeah…"
.
.
.
"Kamu tahu dimana kamar—maksudku, tempat tinggal Lumiel?"
Zevanna berhenti memakan ikan bakar, nah, tepatnya ikan bakar di tangannya sudah habis. Matanya memicing menatap lelaki di depannya tertarik.
"Kamu mau mencuri pakaian dalamnya?"
"Tidak." Deon sweatdrop. "Aku hanya ingin mengikuti saranmu sebelumnya."
"Uh-huh? Jadi. Aku tidak tahu."
"Eh? Apa maksudnya tidak tahu?" Deon pun heran.
"Saya mencari dia selama beberapa waktu, dan akhirnya bertemu dua tahun kemudian."
'—Itu pastilah pencarian yang tidak mudah!'
"Kami dapat bertemu karena hubungan dia dengan salah seorang pendiri Khaos Brigade. Dia adalah, emm… kerabatnya. Mungkin?"
"Hei, sekarang kamu terdengar seperti teroris sungguhan."
"(ꏿ﹏ꏿメ)?! Omong-omong, sudah lama sejak saya tidak memukul wajah Deon-sama. Bolehkah?"
"….….…Hohoho! I-ini dia ikan lainnya yang sudah siap santap. Untukmu, Priestess!"
"Wah, terima kasih…(?)"
"(ꏿ﹏ꏿ;)…"
.
.
.
.
TBC
Deon Decimus:
Sacred Gear: [Nervus Vesper]
Other name: [Condemnation Prison of the Evening Star]
