Disclaimer
ハイスクール DxD - 石踏 一榮 High School DxD
Ishibumi Ichiei
.
.
Krit, Krit, Krit…!
Lembar demi lembar digurat dengan tinta hitam. Kertas-kertas kecoklatan itu pun terbang ke sisi lain, menumpuk dengan rapi tanpa bantuan tangan.
Tuk, Tuk, Tuk…!
Sesekali jari jemarinya akan mengetuk permukaan meja. Pikirannya tenggelam, mata beriris keemasan dibalik frame itu menatap dalam saat mulai mengukir kata demi kata di atas kertas.
Krit—
"Heufth…."
Ia mendesah lemah.
Pikirannya tiba-tiba kacau, dan fokusnya pun buyar ketika teringat informasi yang didapatkannya.
Dia tidak bisa begini terus!
Dia segera bangkit berjalan menuju ke arah gantungan baju, mengambil sebuah jas putih lalu memakainya. Ia menyimpan pena di dalam saku jas tersebut.
Menatap ke luar jendela apartemennya yang berada di lantai teratas. Sejenak, ia tenggelam dalam kenangan acak——.
.
.
——Tingh!
Pintu lift bergeser terbuka.
Ia berjalan menuju pintu keluar gedung apartemen, rambut hitamnya yang diikat ponytail bergoyang lembut mengikuti setiap langkah kakinya.
Hari ini adalah hari yang telah ditentukan.
Di luar sudah ada beberapa taksi yang siap untuk mengantarkan penumpang. Dia pun menuju ke salah satunya.
Kaca mobil itu turun, menampilkan wajah sang supir yang ternyata adalah seorang perempuan cantik berambut ungu, yang tersenyum main-main.
"Atas nama Lumiel-san, dengan tujuan Kota Kuoh, benar?"
Lumiel memutar matanya bosan. Ia masuk ke kursi penumpang tanpa membalasnya. Sang supir bicara lagi setelah pintu mobil ditutup.
"Aku sudah menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan. Itu. Jika ada kondisi yang kurang memuaskan, katakan saja."
Lumiel melirik ke yang berkas terletak di sebelahnya. Ia mengambil lalu membaca lembar demi lembar dengan kecepatan super. Sepasang alisnya yang cantik dan tajam turun kemudian.
"Bahkan di industri pendidikan etika dan estetika itu serius. Posisi yang disiapkan untukku ini terlalu berlebihan, bukan?"
"Apa salahnya jadi guru pembina OSIS?"
Sang supir tersenyum, matanya melirik ke kaca spion. Ekspresi sebal Lumiel tampak lucu di matanya.
Kelistrikan dinyalakan, suara mesin mobil pun berderu halus.
"Sebenarnya aku merekomendasikan kamu menjadi Guru Fisika, tapi Azazel memiliki rencana lain. Selain itu posisi itu sudah ada yang menempatinya. Matematika pun sama saja, apalagi itu diisi oleh seseorang dari pemilik yurisdiksi itu sendiri."
Akhirnya mobil itu melaju.
Supir taksi dan penumpangnya itu mulai meninggalkan gedung apartemen.
"Kudengar baru-baru ini, beberapa orang yang sudah cukup lama diam tiba-tiba mulai bertindak mencurigakan. Aku cukup penasaran, apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan ya?"
Lumiel menyilangkan tangannya di dada, dan mendengus acuh, tak lantas memberi jawaban. Melihat hal itu, sang supir pun tersenyum penuh arti.
"Ufufu, jadi benar, pergerakan mereka ada hubungannya denganmu?'
"Itu...Bukan hal yang penting."
"Oh benarkah? Walaupun aku tidak dapat mengawasi semua orang-mu, jangan kira aku tidak akan tidak tahu apa-apa. Sudah kubilang bukan? Onee-san ini sesekali ingin membantumu juga"
Mendengar itu Lumiel pun mencibir…
"Haruskah aku berterima kasih? Sungguh. Jika ada bantuan yang bisa kuharapkan darimu maka itu adalah diam-mu… Penemue-sama."
Penemue tertawa kecil, lalu menggeleng pelan. Sekretaris Utama Grigori tersebut mengendarai mobil dengan andal.
"Aku serius, Lumiel."
"Aku juga. Aku akan sangat terbantu kalau kamu mau menutup mata."
Penemue melirik ke arah spion, di sana, Lumiel melihat ke luar jendela mobil dengan wajah tanpa ekspresi. Dia pun menghela nafas pasrah namun detik berikutnya dia tersenyum seringai.
"Jika aku menutup mata, aku tidak tahu akan menabrak apa."
"Bukan itu maksudku—ah sudahlah."
"Ufufufu, baiklah baik. Kau menang. Tapi kamu harus melakukan satu hal untukku."
Lumiel mendelik ke arah spion, dia dapat melihat seringai menyebalkan terpatri di wajah cantik Penemue.
"Panggil aku 'Onee-chan' sekali saja."
"Persetan!"
"Hahahaha!"
.
.
.
.
.
.
Kuoh Academy
.
Beberapa hari setelah pertandingan mereka melawan kelompok Great-King Sairaorg Bael, datang sebuah kabar kalau; ada satu orang baru yang ditambahkan ke dalam Akademi Kuoh secara resmi.
Lebih spesifik lagi, kabar itu dibawakan langsung oleh Gubernur Azazel.
"Itu bukan hal yang perlu dihebohkan tapi mungkin akan sedikit merepotkan kalau kita tidak segera mengabarkan ini."
Tampaknya pihak Iblis dan Malaikat juga telah menyetujui hal ini dan memberitahu pihaknya masing-masing.
"Aku dengar dari Michael-sama kalau orang itu dari Grigori. Katanya dia Magician?"
"Sungguh, aku tidak tahu apa yang kamu rencanakan lagi, Azazel."
Rias Gremory, sang Ketua Klub Penelitian Ilmu Gaib, menambahkan sambil menatap curiga pada sang Gubernur Malaikat Jatuh.
"Oh man… kalian tidak imut."
Azazel mendesah tak berdaya, kemudian melanjutkan kata-katanya dengan sebuah senyuman licik.
"Itu hanya antisipasi kalau-kalau aku tidak disini, misalnya jalan-jalan liburan. Jadi dia dapat menggantikan kekosonganku untuk sementara itu."
""""….….….….….…""""
Orang yang berpenampilan seperti pria paruh baya itu bahkan terang-terangan menyatakan agenda liciknya yang ingin kabur dari tugasnya di depan mereka.
—Tolong lebih serius lah, wahai Gubernur!
"Ngomong-ngomong Akeno. Apa Baraqiel mengatakan sesuatu padamu? Mengingat dia yang paling tegas menentang rencana ini."
"Ara Ara… Tidak ada yang spesifik? Ufufu, Ayah hanya mengatakan padaku untuk menjaga jarak."
"Ya, terserah lah. Cih."
"Azazel. Akan aku laporkan ke Ayah kalau kamu merencanakan hal-hal buruk lagi."
"Oh, ayolah."
Azazel mendesah dalam. Ia menoleh dan menatap keluar jendela ruangan Klub.
Seringai misterius pun terukir sesaat di wajahnya, sebelum kemudian dia berdiri dari kursinya.
'Mari kita lihat. Apa dia bisa menangani bocah-bocah keras kepala itu atau…'
.
.
.
.
.
[Kuoh Akademi]
—Ruang OSIS—
Kapan terakhir kali ruangan Dewan OSIS, yang diketuai oleh Bangsawan Iblis Kelas Atas, Sona Sitri, menghadapi suasana tegang yang mirip seperti sekarang ini?
Kalau tidak salah, mereka merasakan ketegangan ini adalah ketika terdengarnya kabar kalau Kader Grigori, yakni Kokabiel, akan menyerang Akademi Kuoh.
Itu sudah beberapa bulan berlalu.
Dan ya, situasi semacam itu terjadi sekali lagi.
Sona Sitri… duduk di sofa sambil bermain catur dengan wajah lurus. Para budaknya berdiri di belakangnya dengan aura serius.
Di depan Grup Sitri, tepatnya di seberang meja Sona, ada seorang perempuan cantik berambut hitam bermata keemasan duduk dan menjadi lawan bermain catur Sona—.
"Sudahkah kamu mengerahkan seluruh Kemampuanmu? Jika kamu kalah, lagi, di ronde ketiga ini, maka tidak ada komentar apapun mengenai situasimu."
"…Tidak masalah."
Wanita itu sangat….… terlalu tenang.
Dia muncul, asal-usulnya agak tidak jelas tapi katanya berasal dari Grigori. Dengan kata lain, orang 'tambahan' belaka.
Hanya saja…
"Begitukah, calon "Pembina"-san?"
Ini menyangkut harga diri OSIS!
Gubernur itu—. Azazel terus saja bersikap seenaknya. Bisa-bisanya dia memasukkan seseorang dan berencana menempatkan orang tersebut di sisi OSIS sebagai Guru Pembina.
Masalahnya Sona tidak tahu apa-apa. Dia sama sekali tidak diberitahu satu informasi pun mengenai hal ini!
Mendadak mendatangkan orang asing di sekolah ini, yang mana pada dasarnya adalah wilayah yurisdiksi iblis, Gremory, seenak jidatnya.
Sona bisa saja menerima, kalau saja dia mendapat usulan terlebih dahulu.
Bukan main asal tempat 'gitu aja.
"Hmmhm."
Mata biru Sona dibalik frame itu melirik dingin. Dia tidak mengharapkan reaksi itu. Lawan mainnya, sungguh terlalu santai, untuk ukuran orang yang sudah kalah dua kali berturut-turut.
Sembari memindahkan bidak caturnya, Sona berkata dengan nada datar.
"Aku ingin tahu, apa kau akan menepati kata-katamu?"
"Tidak masalah."
Lagi. —Apaan 'tidak masalah' itu?!
Itu bukanlah jawaban yang ingin mereka dengar.
Wanita itu tersenyum, seakan mengerti isi pikiran lawannya dan para bawahannya ia bicara sambil memindahkan bidak caturnya sendiri.
"Menang atau kalah, situasiku tidak akan ada bedanya. Hmhmm, kupikir aku akan diterima begitu saja tapi tidak kusangka seleksi untuk bergabung di sisi ini cukup ketat."
Sona diam saja. Gilirannya menggerakkan bidak caturnya.
Wanita itu membalas langkahnya dengan segera.
"Walaupun aku memenangkan ronde ini, nyatanya aku sudah kalah dua kali. Yah, ini cukup menghibur untuk dijadikan sebagai taruhan—Aha, maksudku "kriteria" untuk bergabung ke sisi ini."
"Tapi ucapanmu seperti orang yang tidak mau mengakui kekalahan."
Sona menyindir tajam, para bawahannya di belakang mengangguk-angguk setuju.
Wanita itu tersenyum, tak menanggapi.
Keduanya melanjutkan permainan catur mereka dalam keheningan selama beberapa waktu. Jari jemari mereka terus bergerak begitu lihai saling membalas dan memutus langkah.
Hingga akhirnya…
"—Checkmate!"
"Hmm, aku kalah telak."
Kemenangan tiga kali beruntun untuk Sona Sitri!
"Sepertinya aku tidak memenuhi syarat untuk jadi Pembina OSIS." Wanita bermata keemasan itu berdiri, tersenyum tak berdaya. "Baiklah. Karena aku sudah kalah, tidak ada yang bisa aku lakukan lagi disini."
"Kau akan pergi begitu saja?" tanya Sona, sedikit tidak puas melihat reaksi santai itu. Meski sudah menang tiga kali beruntun tapi semua kemenangan itu terasa sedikit hampa.
"Itu syarat yang telah ditetapkan. Sesuai peraturan. Aku akan mundur."
Jas putihnya berkibar pelan saat wanita tersebut memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, lalu mengeluarkan sebuah ballpoint dan memo lalu… mulai mencatat.
Krit Krit Krit!
Suara guratan pena yang bergesekan dengan kertas bergema samar dan terdengar tajam bak sayatan pedang.
Grup Sitri sweatdrop, tidak mengerti apa yang sedang dia lakukan.
Tuk!
"Selesai."
Itulah katanya sambil menotok ujung pena ke memo. Ekspresinya tampak, puas…(?)
—Orang ini kenapa sih…(?)—
Saat Grup Sitri bertanya-tanya apa yang wanita itu lakukan, sebuah suara maskulin yang (akhir-akhir ini mulai) terdengar familiar pun memasuki ruang OSIS.
"Apa-apaan suasana suram ini?"
"Azazel-sensei…!?"
Itu adalah pria paruh baya yang mereka kenal. Gubernur Malaikat Jatuh. Dan juga,
"Rias… Semuanya. Kenapa kalian disini?"
Tidak hanya Gubernur, di sebelahnya ada Rias Gremory beserta Peerages-nya yang mengikuti di belakang.
"Halo, Sona."
Gadis berambut merah itu menyapa. Sambil melipat tangannya di dada dia pun menjelaskan kunjungannya.
"Aku dengar ada orang baru yang akan menjabat sebagai Guru Pembina OSIS di sekolah kita. Karena itulah aku datang untuk melihat-lihat."
"Bukan apa-apa….… Aku harap tidak ada lagi yang seperti itu."
"Oh? Dilihat dari hasil ini sepertinya kau menang. Begitu. Memang takkan mudah untuk bisa menang melawan Rival-ku."
Sona tak bereaksi berlebihan, dia hanya menusuk kacamatanya. Tapi dia tidak lengah. Matanya mengikuti gerak-gerik Gubernur Azazel yang mendekati lawan bermain caturnya.
—Begitu. Sepertinya dia memang berasal dari pihak Malaikat Jatuh.
Saat sudah berdiri di sebelah wanita itu, Azazel bertanya sambil mencuri pandang ke dalam memo itu.
"Bagaimana, apa sudah selesai?"
Wanita itu mencabut secarik kertas dari memo dan menyodoknya kasar ke wajah Azazel.
"Tolong jangan dekat-dekat. Anda berbau kejahatan dan kemesuman."
Azazel yang diperlakukan demikian pun mengeluh tapi tetap menerima memo itu. Dan, tak berselang lama setelah membaca isinya, sesegera itu ekspresinya berubah.
"Ini menarik! —Sungguh.… Sebentar? Apa ini…? Ohh! Yah, ini ada yang sedikit mirip. Ini juga! Hmm… mungkin untuk yang satu ini aku harus mempersiapkan 'itu' terlebih dulu. Wah! Hahaha! Tidak kusangka Era untuk "Itu" bersinar akhirnya telah tiba—!"
Gubernur itu, mulai menggumamkan ini dan itu serta hal-hal lainnya. Dia tampak antusias dan gembira. Sesekali kepalanya akan mengangguk. Matanya pun berbinar.
Grup Sitri dan Grup Gremory yang melihat kejadian itu pun bertanya-tanya. Mereka curiga, karena wajah Azazel yang seperti itu, itu terlihat seperti saat dia sedang merencanakan sesuatu yang tidak benar!
—Orang gila ini pasti akan berulah!—
Mereka sepakat berpikir begitu.
Hanya, siapa wanita itu dan apa yang dia tulis sampai-sampai membuat Gubernur Azazel tampak begitu gembira…(?)
Lalu…
"Kalau begitu, aku pergi dulu."
Seolah ditabrak tronton, Azazel yang sedang asik berpikir dan tenggelam di dalam dunianya sendiri pun spontan langsung sadar.
"Eh! Kenapa kau pergi, —Lumiel?"
Ia terlihat kaget.
Wanita berambut hitam itu, Lumiel, tak segera menjawab. Dia mengambil sesuatu dari saku jas putihnya, sebuah frame, lalu kemudian memakainya.
Selesai itu,
"Karena tugasku selesai." ujarnya santai, seraya berbalik hendak pergi.
"Tidak bisa!"
Namun Azazel segera menghentikannya. Ia kemudian menyatakan.
"Ini bukan urusan sepele yang bisa kamu abaikan begitu saja. Ini permintaan dari Raja Iblis Leviathan. Maou loh! bayarannya juga akan digandakan kalau kamu sudah menyelesaikannya."
Lumiel, berbalik lagi, dia menatap Azazel, yang berusaha meyakinkannya, dengan ekspresi tenang bercampur heran.
"Tapi urusanku sudah selesai."
"Bukan begitu, maksudku—"
"Aku ada hal penting yang belum diurus. Kalau ditunda-tunda, aku tidak tahu harus mulai darimana lagi nantinya."
"Apa itu sangat penting?" tanya Azazel dengan tampang polos, tapi sebenarnya dia sangat penasaran saat melihat Lumiel mengerutkan keningnya—tidak senang.
"Tentu saja. Kalau aku kehilangan mereka, kerugiannya akan sama seperti kehilangan akses ke "fasilitas penelitian pribadi"–ku yang kamu ambil."
"Hei hei hei! Aku tidak mengambil apapun, tau. Aku hanya menyegelnya."
"Masih saja berkilah, dasar pencuri tak tahu malu."
"Aku bukan pencuri."
Azazel menyangkal, namun, sadar akan situasi sekitar, melihat orang-orang menontonnya "bertengkar" dengan Lumiel, dia hanya bisa mendesah dalam
Sial…
Dia terbawa suasana—dan kalah.
"Tolong duduklah sebentar. Biar aku jelaskan dulu."
"Oke."
"….…Eh?"
.
.
.
.
Di Ruang Dewan OSIS, Azazel mulai menjelaskan.
Sederhananya seperti ini—
Azazel yang bertanggung jawab sebagai Penasihat Klub Penelitian Ilmu Gaib, tidak lain karena permintaan Raja Iblis Lucifer, Sirzechs, Kakak Rias Gremory.
—Yah, itu juga keinginannya sendiri sih.
Disamping itu, tujuannya adalah untuk membantu mengembangkan potensi para pemilik Sacred Gear di Kebangsawanan Rias, dan membimbing Grup Gremory.
Selain kelakuan absurd dan sifatnya yang kacau, Azazel sebenarnya seseorang yang benar-benar layak untuk melakukan hal itu.
"Jadi, Onee-sama membuat permintaan yang serupa kepadamu, Azazel?"
Itulah sebabnya kenapa Lumiel ada disini.
"Bisa dibilang begitu. Tapi Serafall berkata kalau "So-tan benci laki-laki, jadi lakukan sesuatu tentang itu, Azazel!" (sambil memberi Azazel uang suap) —begitulah."
Wajah Sona merona malu, yang lain pun tercengang mendengarnya. Sementara itu, Azazel dengan tidak peduli reaksi mereka, melanjutkan.
"Ada banyak wanita yang mahir di pihak kami. Tapi masalahnya mereka tidak mahir dalam banyak hal sekaligus. Karena tidak ada satu orang pun yang bisa aku pikirkan akan cocok memenuhi permintaan itu. Jadi untuk memenuhi hal itu, aku meminta dia untuk melakukannya."
Azazel menoleh ke kanan, melambaikan tangan ke Lumiel, mempersilahkan.
Lumiel mengangguk mengerti, kemudian memperkenalkan diri.
"Namaku Lumiel. Magician. Tapi…"
—Tapi?—
"Karena aku tak terikat dengan asosiasi penyihir manapun, kadang-kadang aku melakukan pekerjaan paruh waktu."
….….…(?)
Ia menunjuk Azazel menggunakan ibu jari tangan kirinya.
"Aku biasanya bekerja atas permintaan Azazel-sama. Bisa dibilang, aku penyihir "lepas" atau pekerja serabutan. Jadi kalau ada masalah tinggal aku lemparkan saja masalahnya ke Grigori dan biarkan mereka yang mengurusnya."
"Oi, itu terdengar tak bertanggung jawab! Astaga."
Lagi, Azazel mendesah, tak berdaya. Dia tidak bisa mengeluh karena dia tidak mau menanggung konsekuensinya.
Sementara, baik Grup Sitri maupun Grup Gremory terheran-heran melihat tingkah laku keduanya.
Azazel yang "nakal" yang mereka kenal, pada saat ini terlihat tertekan seakan dia telah mengalami kekalahan beruntun.
Tapi…
"Sensei. Apa kau serius?" Sona bertanya curiga dan terdengar tidak puas. Matanya yang tajam menatap Lumiel.
…Penyihir Lepas
…Penyihir Part-time
…Penyihir Serabutan
Penyihir yang tidak terikat dengan asosiasi sihir manapun…(?)
'Emangnya ada ya, orang yang begini?'
Bisa-bisanya Azazel mengenalkan orang yang profesinya "meragukan" semacam itu untuk melakukan pekerjaan yang diajukan oleh Maou.
Tapi dia tidak bisa menilainya secepat itu.
Entah bagaimana, karena Magician yang bernama Lumiel itu diperkenalkan sendiri oleh Azazel, setidaknya ada sesuatu yang (seharusnya) tidak biasa tentangnya.
Begitulah yang Sona pikirkan.
Tetapi tetap saja.
"Bahkan jika itu kamu, kamu tidak boleh asal-asalan memilih orang untuk berbisnis dengan Maou."
Sona merasa kalau Azazel seperti sedang meremehkan status Kakaknya.
"Hei. Aku tidak sembarangan memilih orang, loh."
Azazel menyanggah tuduhan itu. Dia pun menoleh ke kanan untuk meminta bantuan kepada gadis yang duduk di sampingnya, Lumiel malah mengangkat bahu acuh.
Mau tak mau Azazel mendesah lagi.
Karena tak ada pilihan, tidak, tepatnya karena akan terlalu merepotkan, dia pun menyerahkan kertas yang dia dapatkan dari Lumiel—kepada adik Maou Leviathan itu.
"Pokoknya, yang lain jangan coba-coba mengintip. Begitulah. Jadi Sona, bacalah ini dulu."
Mendengar peringatan semacam itu dari Azazel, mereka pun tercengang. Namun tidak dengan Sona, dia justru memberikan tatapan curiga.
Meski demikian, gadis berambut hitam dengan gaya bob itu menerima kertas itu.
Sona tak buru-buru membaca, dia melirik ke kiri terlebih dahulu, dimana Rias duduk di sampingnya, seolah-olah mengatakan "Jangan ngintip kau!" kepada sahabatnya itu.
Rias segera membuang muka—.
Merasa kalau semuanya sudah dalam kendali, Sona pun mulai membaca isi yang tertuang di dalam kertas itu.
Ngomong-ngomong itu ditulis menggunakan alphabet.
Mula-mula pupilnya mengecil, di sana ada nama-nama budaknya beserta *footnotes nya masing-masing. Lalu matanya mulai melebar, ekspresi datar dan seriusnya pun segera luntur dan tergantikan oleh wajah keterkejutan.
Dan, matanya memicing tajam ketika dia melihat poin-poin yang menurutnya paling penting...
——.
(Ronde Ke2: Kemampuan mengendalikan permainan: bagus. Sayangnya terlalu kaku dan terlalu mengikuti aturan. Pertarungan nyata tak selalu mengikuti jumlah normal bidak, dll. dst.)
(Ronde Ke3: gaya pengaturannya masih sama seperti dua ronde sebelumnya. Tak ada salahnya mengincar kemenangan dengan menargetkan "King" seefisien mungkin. Dalam permainan papan, itu hasil yang "seharusnya" untuk digapai. Sayangnya ada banyak celah dan juga kesalahan jika diterapkan dalam Game Iblis maupun pertempuran nyata. dll. dst.)
Nilai Total:
1. Baik; untuk bertempur melawan kelompok kecil yang setara atau sedikit lebih kuat. Kekurangan; "Bidak" yang dimiliki tidak punya kekuatan nyata yang sanggup untuk mengimbangi strategi yang dijalankan seperti di permainan papan.
2. Cukup Baik; untuk mengejar suatu kemenangan tanpa melawan yang lainnya selain "King". Kekurangan; Menghitung adanya "Bidak" lain milik musuh yang diabaikan atau tidak dijatuhkan, akan mengganggu jalannya permainan.
3. Buruk; untuk digunakan di dalam perang, atau pertempuran melawan kelompok kecil yang mana "King" lawan memiliki kekuatan seperti "mimpi buruk". Kekurangan; Menghitung adanya "Bidak" lain milik musuh, mengabaikan mereka atau tidak menghabisinya sebelum melawan "King" adalah kesalahan fatal.
(Game Papan adalah sebuah metode yang dijalankan menggunakan akal. Meskipun memiliki aturan yang "hampir sama" tapi, Game Iblis tidak hanya bergantung pada akal semata. Kekuatan yang seimbang sangatlah penting dan dibutuhkan untuk memuluskan strategi.)
——.
Selesai membaca, tatapan Sona segera beralih ke papan catur di atas meja. Warna bidak catur miliknya adalah Hitam, sementara lawannya adalah Putih.
Tiga Kali, kemenangan adalah miliknya.
Tapi….…
Setelah dihitung-hitung, jumlah bidak putih yang tumbang adalah; [King] [1-Bishop] [1-Knight] [4-Pawns]. Tujuh Bidak Hitam.
Sementara jumlah bidak Hitam yang jatuh adalah; [Queen] [2-Bishops] [1-Knight] [1-Rook] [5-Pawns].
Selama kau berhasil menjatuhkan "King" kau menang. Itulah peraturan sederhana pada permainan Catur—.
"….….…Begitu….….…ya."
Sona akhirnya mengerti alasan kenapa kemenangannya terasa "hampa"—.
Adik Maou Leviathan itu segera melipat kertas tersebut, lalu, memasukkannya ke dalam saku. Melihat hal itu, Azazel pun protes.
"Hei, Sona. Jangan diambil. Aku masih membutuhkan itu."
Namun Sona mengabaikannya. Matanya yang sebelumnya dingin dan meragukan saat melihat ke arah Lumiel, kini dipenuhi keseriusan dan rasa penghormatan.
Lumiel yang ditatapi sedemikiannya pun menyeringai tipis.
Kedua-duanya tak bersuara.
Sementara yang lainnya linglung, tidak tahu apa yang sedang kedua perempuan itu pikirkan.
Sedangkan Azazel menyeringai, dialah yang pertama memecah keheningan.
"Jadi bagaimana, Kaichou-san?" tanyanya, menggoda.
"Sebelum itu…"
Tatapan Sona tak lepas-lepasnya dari Lumiel. Ia kemudian mengajukan sebuah pertanyaan padanya.
"Bagaimana kalau kita bermain sekali lagi?"
"Tidak mau." Lumiel menjawabnya cepat dan begitu santai, Sona pun terlihat kaget.
"….…Kenapa?"
Bukan Sona saja, hampir semua orang di sana juga terkejut. Yang membuat mereka terkejut adalah tingkah Sona yang terlihat tidak biasa.
Adik Maou Leviathan itu tampak kecewa!
"Bagaimanapun, kalau kita bermain lagi, selanjutnya dan seterusnya akan menjadi kemenanganku."
Dan, Bamm!!
Atas pernyataan yang sangat sombong itu, kecuali Azazel, semua orang yang hadir dalam ruangan OSIS tercengang!
Sona merengut, alisnya menukik, wajahnya ditekuk dan tampak tidak puas. Namun, wajahnya menjadi cerah saat dia mendengar perkataan Lumiel selanjutnya.
"Aku orang yang sibuk. Tapi… Mulai sekarang, Aku, sebagai Pembina OSIS yang baru, untuk sementara waktu dan kedepannya semoga kita bisa bekerjasama dan rukun."
Lumiel mengulurkan tangannya. Melihat itu, Sona segera menyambut. Keduanya berjabat tangan dan saling bertukar senyuman misterius.
Azazel terkekeh puas, disisi lain, mereka tidak mengerti ada apa atau apa sih yang sebenarnya terjadi di antara ketiga orang ini…(?)
Orang-orang yang paling kebingungan di sana, tentu saja, adalah anggota OSIS.
'Kenapa malah jadi begini…(?)'
Sekarang wajah Sona jadi terlihat menakutkan juga!
"Oh man, oh yeah. Sekarang saatnya kita yang memperkenalkan diri."
Dengan begitu semua orang pun mulai memperkenalkan diri dimulai dari Sona Sitri dan Rias Gremory diikuti Peerages masing-masing.
.
.
TBC
Rias Gremory's Peerages
[King] — Rias Gremory
[Queen] — Akeno Himejima
[Bishop] — Asia Argento, Gasper Vladi
[Knight] — Kiba Yuuto, Xenovia Quarta
[Rook] — Rossweisse, Koneko Toujou,
[Pawn] — Issei Hyōdo
Sona Sitri's Peerages
[King] —Sona Sitri
[Queen] — Tsubaki Shinra
[Bishop] — Momo Hanakai, Reya Kusaka
[Knight] —Meguri Tomoe
[Rook] — Yura Tsubasa,
[Pawn] — Saji Genshirou, Ruruko Nimura
Lainnya:
Irina Shidou
Ravel Phenex
