Suasana di dalam Lamborghini Veneno Roadster hitam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya suara mesin yang menggeram halus, bahkan nyaris tidak terdengar sama sekali, diiringi suara gesekan ban dengan aspal basah. Hujan baru saja reda, tetesan embun masih membekas di kaca depan. Lampu-lampu jalan yang temaram memantulkan bayangan samar di wajah Sylus, yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin, tatapannya lurus ke depan.

Kamu menggigit bibir, menahan napas sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri membuka suara.

"…Sylus..?" tegurmu, pelan, nyaris berbisik.

Tak ada jawaban.

Sylus bergeming, tangannya menggenggam kemudi dengan erat hingga kuku-kuku jarinya memutih. Rahangnya mengeras—pertanda kalau ia mendengar, tapi memilih untuk tidak menanggapi.

Kamu menghela nafas pelan, melayangkan pandangan ke arah jendela, mencoba meredam ketidaknyamanan yang menggeliat di antara kalian. Sejak menjemputmu dari hotel bintang lima tempat reuni SMA-mu diadakan tadi, Sylus belum mengucapkan sepatah kata pun. Tidak saat kamu melambaikan tangan saat kamu melihat mobilnya mendekat ke arahmu, tidak saat kamu membuka pintu mobil, masuk ke dalam, dan menyapanya.

Dan kamu tahu benar apa penyebabnya.

Pasti karena Sylus melihatmu bercengkrama dan tertawa akrab dengan Zayne—teman sekelasmu saat SMA yang juga merupakan mantan kekasihmu—selagi menunggu Sylus menjemputmu.

Kamu kembali menghela nafas, gusar. Kamu tahu, dari semua mantan kekasihmu, Sylus paling tidak suka dengan Zayne. Dari semua mantan kekasihmu, Zayne adalah satu-satunya yang masih berhubungan baik denganmu—mengingat perpisahan kalian tidak bisa dibilang buruk. Dari semua mantan kekasihmu, Zayne adalah satu-satunya yang masih sering kau temui—mengingat pekerjaannya sebagai residen dokter di rumah sakit yang paling dekat dengan tempat tinggalmu—setiap kali kau jatuh sakit.

Dan Sylus... Kamu tahu benar bagaimana lelaki itu bisa menjadi sangat berbahaya dan gelap mata kalau sudah menyangkut semua hal tentangmu. Masih segar di pikiranmu, saat Sylus nyaris membunuh seorang lelaki asing yang iseng bersiul menggodamu di tengah jalan. Atau saat ia mencoba mengajak berkelahi seorang anak SMA yang meminta nomor teleponmu di halte bus saat kamu sedang menunggu Sylus keluar dari kantornya. Atau yang baru-baru ini, saat ia memindahkan semua data dan rekam medismu ke rumah sakit lain—tanpa menunggu persetujuanmu—setelah ia mengetahui dokter di rumah sakit dekat tempat tinggalmu yang sering kau temui adalah mantan kekasihmu.

Saat pertama kali menjalin hubungan dengan Sylus, kamu merasa sifatnya yang gampang cemburu sangatlah lucu dan menggemaskan, tapi lambat laun, seperti saat ini, keposesifannya bisa membuatmu merasa ingin mati saja.

"Aku nggak suka kamu kayak gini, Sylus..." lanjutmu, kali ini dengan suara bergetar. "Please, say something. Please... You're killing me, you know that..?"

Sylus masih bergeming.

Kamu mengepalkan tanganmu. Dadamu mulai terasa panas. Tidak, kamu tidak akan menyebutkannya sendiri. Kamu tahu Sylus tidak menyukai apa yang telah ia lihat di depan hotel tadi, dan kamu akan membuat lelaki itu mengungapkannya. Bukankah itu kunci dari hubungan yang baik? Terbuka kepada satu sama lain, alih-alih mendiamkan satu sama lain. Seperti ini.

"Apa aku buat salah? Apa aku salah ngomong? Apa, Sylus? Aku nggak bisa nebak-nebak isi kepala ka—"

"Kamu mau tahu isi kepala saya?"

Kamu tertegun saat akhirnya mendengar suara rendah Sylus menggema di ruang sempit itu. Kamu menoleh menatapnya yang masih memandang lurus ke depan selagi menyetir, tanpa menyadari kecepatan Lamborghini itu meningkat sedikit demi sedikit.

"You look like a whore when you're talking to and laughing with that bastard."

Kata-kata Sylus menghantammu seperti ombak besar, menyeretmu ke dalam pusaran ketidakpercayaan. Kamu benar-benar tidak menyangka kalau ia akan mengucapkan kalimat sekejam dan semerendahkan itu. Tubuhmu membeku, dan untuk beberapa detik, nafasmu tercekat. Suaramu parau, tapi kamu memaksakan diri untuk mengucap. "Ap-apa..?"

"Kamu tidak dengar?" Ujung bibir Sylus terangkat, menyeringai seakan ia dengan senang hati akan mengucapkannya sekali lagi. "Pelacur." Gumamnya dengan suara rendah, tapi tentu saja kamu dapat mendengarnya dengan jelas di tengah kesunyian yang sangat tidak nyaman itu.

"..."

"..."

"Kamu berlebihan, anjing." Kamu menatapnya, nanar. Benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikirannya. Air matamu bahkan sudah mengalir di kedua pipimu, tapi kamu tidak repot-repot untuk mengusapnya. Kamu sungguh terluka, dan kamu ingin Sylus melihatnya. "Kenapa kamu bereaksi seakan-akan kamu nangkep basah aku ngentot sama dia di depan matamu?!"

"Watch your language, kitten." Kedua mata merah itu menatap lurus dan tajam ke arahmu, membuat jantungmu berdebar ketakutan juga. Tidak adil. Dia bebas mengumpat dan mengataimu seenak jidatnya, tapi kamu tidak boleh melakukan hal yang sama. "Kamu tahu saya nggak pernah suka melihat kamu berinteraksi sama mantan pacarmu, tapi kamu tetap saja melakukannya. Dan... Well, congratulations. You're a certified slut!"

"For fuck's sake..." Kamu tidak mengindahkan tegurannya untuk tidak mengumpat. Emosimu sudah tidak lagi terbendung. "We were just talking! Aku nunggu kamu jemput aku, dia nunggu valet nganter mobilnya... Apa salahnya sih, ngobrol sama temen lama sambil nunggu jemputan?!"

"Ngobrol? Teman lama?" Sylus tertawa meremehkan. "Kamu ini pura-pura bodoh atau benar-benar tolol?" Kali ini suara tawanya makin kencang, menggema di ruang sempit itu, membuatmu telingamu berdengung kesakitan. "Apa kamu gak bisa liat matanya hampir meloncat keluar pas lagi ngobrol sama kamu? Kitten, semua lelaki itu brengsek. Saya berani bilang begini karena saya salah satunya. Kamu mau tahu apa yang kami pikirkan saat melihat perempuan sepertimu mendekati kami, mengajak kami mengobrol, dengan gaun berdada rendah seperti yang kamu kenakan saat ini? Kamu mau dengar, bagaimana kami menelanjangimu di pikiran kami, selagi kamu berpikir dengan naifnya kalau kamu cuma sedang berbicara dengan seorang teman, sementara kami membayangkan tubuhmu tanpa busana?"

"What the fuck, Sylus?!" Air matamu berubah menjadi indikasi kemarahanmu. Kamu benar-benar sudah naik pitam saat ini. Alih-alih sedih karena sikapnya atau takut karena kata-katanya, perasaanmu segera berubah menjadi muak. "Stop di sini! Aku mau turun!"

Kamu tak gentar saat Sylus benar-benar menepikan mobilnya ke bahu jalan bebas hambatan yang sudah cukup sepi malam itu. "Here?" gumamnya santai seakan tidak terjadi apa-apa barusan, membuatmu semakin muak mendengar suara itu. Suara rendahnya yang sedikit serak dan tak pernah gagal membuat darahmu berdesir itu.

Tapi kamu sudah tidak peduli. Kamu mendesis lirih sambil menatapnya penuh kebencian. "I'm so fucking done with you this time."

Tanganmu meraih tuas pintu mobil, hendak menariknya dan bangkit dari dudukmu sampai akhirnya kamu bisa merasakan tangan hangat Sylus menyentuh lenganmu—mencegahmu menarik tuas pintu mobil tersebut, membuatmu terkesiap.

"Kitten..." Sekujur tubuhmu merinding saat indera pendengarmu mendengar suara rendah Sylus, sementara indera penglihatanmu menangkap raut wajah Sylus yang menatapmu dengan kedua mata yang berubah sayu. Ekspresinya yang beberapa menit lalu seakan mampu membunuhmu perlahan—berubah melembut. "You know I didn't mean all that, right..?"

Masih dengan berurai air mata, kamu balas menatapnya—tidak mengerti.

Sial.

Ini terjadi lagi.

Ini bukan pertama kalinya Sylus melakukan ini. Mengamuk seperti harimau kelaparan yang tak kunjung menemukan mangsa, lalu setelah kau menatapnya tidak percaya, menangis ketakutan, atau bagaimanapun kau bereaksi terhadap kemarahannya, ia segera bertransformasi menjadi seekor anak anjing dengan buntut yang dikibaskan seakan mencari perhatian majikannya.

Kamu tidak berkata apa-apa saat menepis tangannya dengan kasar. Kamu kembali meraih tuas pintu dan mencoba menariknya cepat, tapi Sylus menahanmu dengan mencengkeram tanganmu erat-erat, membuatmu merintih kesakitan. "Lepas!"

"Tidak." Geram Sylus, pelan. Cengkeramannya pada pergelangan tanganmu malah semakin erat, membuatmu mau tak mau menoleh menatapnya dengan ekspresi kesakitan.

"Sylus, lepas! Sakit!" Kali ini kamu menjerit, merasakan nyeri di bagian pembuluh darah di pergelangan tanganmu. Tanganmu yang lain mencoba melepaskan cengkeramannya, tapi usahamu sia-sia. Dengan mudah Sylus kembali mencengkeram kedua tanganmu dengan satu tangannya saja. Sekarang kedua tanganmu seakan tertawan, akan tetapi alih-alih borgol besi, yang menjerat kedua tanganmu adalah tangan Sylus. "Sylus... S-sakit..."

"Kitten..." Melihatmu merintih kesakitan, Sylus mengendurkan cengkeramannya—tetapi tidak sepenuhnya melepaskan tanganmu. Kali ini ia menggenggam kedua tanganmu erat, mendekatkan tanganmu ke bibirnya, lalu ia mengecup kedua punggung tanganmu bergantian. Kemudian Sylus beralih menciumi pergelangan tanganmu yang memerah karena cengkeramannya. Kecupannya hangat, lembut, dan sedikit basah, seakan ia tengah menebus kesalahannya yang sudah menyakitimu.

"..." Kamu memejamkan kedua matamu sambil mencoba mengatur nafasmu. Aneh. Ini semua aneh. Kamu ingin marah, mendorong tubuhnya sejauh mungkin, kalau bisa sampai ia jatuh terjengkang dari mobilnya ke luar sana, lalu melarikan diri darinya sejauh-sejauhnya. Tapi saat ini kamu malah terdiam, merasakan kecupan-kecupan hangatnya di tanganmu—membuatmu merasa aman dan tenang. Betapa berbanding terbalik dengan apa yang terjadi beberapa saat yang lalu, saat kamu merasa ingin mati saja karenanya.

"Hey. Look at me." Kedua tangan besar Sylus menangkup wajahmu mendekat hingga wajah kalian hanya berjarak beberapa senti sekarang. Tatapannya lembut, tetapi juga menusuk dalam-dalam. "Kamu tahu, kan, saya nggak bermaksud seperti itu..? Saya sayang sekali sama kamu, kitten... I love you so much. So, fucking, much. Saya benci lihat lelaki lain melihatmu, menatapmu, bicara denganmu, mengagumi indah parasmu... Lembut bibirmu... Lekuk tubuhmu..." Ucapan Sylus terhenti saat ia mengusap air matamu dengan ibu jarinya yang hangat, lalu turun untuk mengusap bibirmu yang masih bergetar setelah semua kejadian emosional yang baru saja kaurasakan. Satu tangannya merambat turun membelai pinggang rampingmu, perlahan. "Kamu udah bikin saya gila, kitten. Saya gak pernah bisa lihat kamu terlalu dekat dengan orang lain... Especially... Your damn ex-boyfriend... Kamu mengerti perasaan saya, kan..? Kitten..?"

Tidak ada kata maaf di sana, tetapi dengan bodohnya kedua pipimu menghangat.

Kamu mengerjap, sebutir-dua butir air mata kembali lolos dari ujung matamu, dan dengan cepat Sylus kembali mengusapnya. Pandangannya tak pernah lepas dari wajahmu, ia bergantian memandangi bibir dan kedua matamu dengan pandangan teduhnya. Satu tangannya merambat naik untuk mengusap pipimu lembut—yang kamu yakin seratus persen, Sylus bisa melihat rona kemerahan itu di pipimu meski di tengah temaram kegelapan mobil itu saat ini.

Keparat.

Kamu menarik kerah jaketnya dengan tidak sabar lalu sedikit memiringkan wajahmu sebelum akhirnya bibirmu bertemu dengan bibirnya dalam sebuah ciuman yang panas. Rasanya seperti ada yang bergejolak di perutmu. Mungkin itu ulah ribuan kupu-kupu yang sedang mengepakkan sayap-sayapnya seperti yang sering orang bilang. Kamu sudah tidak peduli saliva siapa yang mengalir di antara bibir kalian yang masih saling memagut, bergantian dengan helaan nafas untuk sesekali menghirup oksigen, tanpa melepas kontak bibir kalian sama sekali.

"—Mmmh!" Kamu mengerang tertahan saat Sylus sudah menindih tubuhmu di jok kursi penumpang berbahan kulit itu. Hell, kamu bahkan tidak menyadari kapan dia berpindah dari jok kursi pengemudi ke atasmu—saking terbuainya kau dengan ciumannya.

Well, now that's what actually proves he's a good kisser.

"S-Sylus..." Sebuah desahan lolos dari bibirmu saat Sylus berlutut di hadapanmu, lalu menurunkan bibirnya ke lehermu. Kamu menggunakan tanganmu untuk menutupi mulutmu, merasakan ia meninggalkan jejak kemerahan sepanjang tulang belikatmu. Sial! Kissmark itu tidak akan hilang dalam semalam, padahal besok kau harus mengenakan gaun off-shoulder yang sudah dipilihkan stylist pribadimu untuk acara launching merek parfum Perancis yang sudah disetujui manajermu jauh-jauh hari. "S-Sylus... D-don't... A-aku ada event penting besok..."

"M-hmm..? Terus kenapa..?" Dari nada suaranya, kamu bisa merasakan ia sedang menyeringai tanpa rasa bersalah sedikitpun di bawah sana. "Doesn't it turn you on when I do this to you..?"

"N-no... That's not—" Kamu melenguh, merasa sia-sia saja untuk mengeluh. Toh, ia sudah melakukannya, dan desahan-desahanmu mengindikasikan kalau kamu tidak merasa keberatan sepenuhnya. Sylus hanya menyentuhmu dengan bibirnya, tapi kamu yakin ada yang menegang di dadamu dan ada yang sudah cukup basah di bawah sana.

So, it does.

It does turn you on when he does this to you.

Setelah puas menciumi dan menjelajahi lehermu dengan bibirnya, Sylus mengangkat wajahnya, lalu memandangi lehermu dengan seringai puas—seakan mengagumi hasil karyanya. "...These will be brushed off quickly with that expensive foundation I bought you last week, right?"

Wajahmu memerah. Kamu memalingkan wajahmu, mencoba menghindari pandangannya. Nafasmu memburu, dadamu naik-turun.

"Kitten..." Kamu kembali menegang saat suara rendah Sylus kembali terdengar. Kamu mengalihkan pandanganmu menatapnya lagi. Kali ini tali gaun yang ada di pundak kananmu sudah ada di antara bibirnya, membuatmu terkesiap. "Can I..?" lirih Sylus, menatapmu dengan pandangan merajuk. Meminta izinmu sesopan mungkin untuk melakukan hal secabul mungkin—menelanjangimu.

Kamu tidak berkata apa-apa, tapi kepalamu seakan bergerak sendiri saat kamu mengangguk samar, dengan wajah yang masih semerah kepiting rebus.

Sedetik kemudian, simpul tali gaun itu lolos dari pundakmu saat Sylus membukanya hanya dengan giginya. Bibir Sylus bergerak ke pundak kirimu, dan ia melakukan hal yang sama pada tali gaunmu yang sebelah kiri. Menggigit simpul tali itu dengan giginya, lalu dengan sekali tarikan gaun itu merosot hingga ke perutmu, mengekspos kulit tubuhmu yang tanpa cacat, membuat Sylus berdecak kagum seperti anak anjing kelaparan yang melihat piringnya diisi dengan makanan oleh sang majikan. Tanganmu bergerak tidak nyaman untuk menutupi dadamu, meskipun ini bukan pertama kalinya Sylus melihat tubuh setengah telanjangmu.

Sylus meraih tanganmu, menyingkirkannya dari depan dadamu dan meletakannya di atas kepalamu, membuatmu sangat terangsang karena posisi tubuhmu terasa sangat menantang saat ini. "Don't be shy, kitten... You're so fucking gorgeous, you know that, right..?"

Pipimu terasa panas karena merona.

"Ouch, strapless..." Jemari panjang Sylus menyentuh bra tanpa tali yang menutupi buah dadamu, mengingat kau mengenakannya di balik gaun bertali tipis untuk menghadiri reuni SMA-mu malam itu. "My favorite..." Sylus kembali menggeram selagi jemarinya bermain-main di antara keranuman buah dadamu yang menyembul dari balik bra itu, membuatmu mengerang tak tertahankan.

Entah setan apa yang merasukimu saat tanganmu tergerak untuk membuka pengait bra-mu sendiri. Kamu mengesah pelan, bersusah-payah membuka pengait bra-mu dengan sendirinya. Sial! Padahal kau sudah bertahun-tahun memakai dan melepas bra setiap harinya dalam hidupmu, tapi kenapa saat kamu ingin melepasnya secepat mungkin—kamu malah tidak bisa?

"Need some help, kitten..?" Sylus tersenyum lembut melihatmu yang tampak frustasi karena tidak bisa melepas bra-mu sendiri.

"Yes, please." Kamu tidak peduli betapa lacurnya kamu terdengar saat ini. Kamu menarik tangan Sylus dan meletakkannya di punggungmu, mengarahkannya lebih tepat ke pengait bra-mu. "Please..?"

"As you wish, kitten." Sylus kembali mendekatkan wajahnya ke wajahmu, dan bibir kalian kembali bertemu dalam ciuman lembut. Lama-lama ia melesakkan lidahnya ke dalam mulutmu, mengubah ciuman lembut itu menjadi ciuman panas. Sementara di belakangmu, jari-jemari Sylus melepaskan pengait bra-mu dengan mudahnya, sekaligus sepenuhnya menanggalkan gaun hitam yang masih melingkar di sekitar perutmu.

"Ngh—" Kamu mendesah di antara ciuman itu saat kamu merasakan Sylus meremas kedua buah dadamu dengan kedua tangan besarnya. Nikmat, batinmu. Sialan, kamu benar-benar merasa cabul saat ini. Sylus masih berpakaian lengkap—sweter hitam berkerah tinggi, jaket kulit hitam, jins hitam. Satu-satunya kain yang masih melekat di tubuhmu hanya g-string hitam yang membalut alat kelaminmu, dan kamu tidak yakin kalau g-string itu masih akan tetap berada di tempatnya dalam waktu dekat.

"Sylus..." Kamu mendesahkan namanya. Hasratmu sudah tidak tertahankan lagi. Jantungmu berdebar, wajahmu merona, pendingin di mobil itu seakan sudah tidak berguna karena kamu benar-benar kepanasan saat ini. Kamu menghimpit pahamu rapat-rapat, menahan rasa geli di antara kedua kakimu yang semakin menjadi selagi Sylus bergantian menyesap puting kanan-kirimu yang mencuat keluar karena birahi tak terbendung. Saat menyesap puting sebelah kanan, tangan besarnya menangkup yang sebelah kiri, memainkan ujung putingmu dengan ujung telunjuk panjangnya. Saat berganti menyesap yang kiri, ia melakukan hal yang sama pada yang sebelah kanan. Pandanganmu seakan kabur, desahan demi desahan kerap meluncur dari bibirmu sebagai reaksi akan apa yang Sylus perbuat pada tubuhmu.

"Your tits fucking amazing, kitten..." Sylus bergumam tidak jelas selagi meninggalkan kecupan demi kecupan di kedua buah dadamu setelah puas menyesap putingmu.

"—MMMH!" Kamu mendesah keras saat kamu merasakan tangan Sylus membuka kedua kakimu lebar-lebar, lalu tangannya menyeruak masuk di antara kedua kakimu dan menyentuh bagian sensitifmu di bawah sana. "...S-Sylus..." Kamu kembali mendesahkan namanya sambil meremas rambut peraknya yang masih berkutat di dadamu. Jemarinya tidak bisa diam di bawah sana, ia kerap menggesek daerah kewanitaanmu dengan jari-jarinya, membuatmu melenguh tidak karuan. Kakimu sudah lemas, bahkan kamu bisa merasakan sesuatu mengalir keluar di bawah sana.

"Kamu sudah basah banget, kitten..." Sylus mengangkat wajahnya dari dadamu, lalu menempelkan keningnya dengan keningmu, memaksamu menatap kedua matanya selagi kamu melenguh keenakan karena gesekan lututnya di bawah sana. "Do you want to feel more, hmm..?"

Kamu mengangguk cepat sambil menatap mata merah Sylus dengan penuh nafsu. Persetan dengan harga diri seorang wanita, padahal kamu penganut feminisme sejak kamu mempelajari teori itu di sekolah menengah. Mendadak kamu lupa ingatan, apa itu feminisme?

"Beg me."

Kamu mendongak, menatapnya linglung saat kamu tak lagi merasakan apa-apa di antara kedua kakimu.

Sylus menyeringai seperti seorang iblis. Ia mengangkat tangannya yang semula berada di antara kakimu, lalu memiringkan kepala, mengulangi perintahnya. "If you want it that bad, beg me, then."

"I..." Kamu merem-melek memandang ke arahnya, nafasmu tersengal, lagi. Ini begitu memalukan, tapi juga sangat menggairahkan. "Sylus, please... Sentuh aku di bawah sini..."

"Apa?" Bajingan. Pakai acara tidak dengar segala.

"Sylus..." Kamu mendesah, menatapnya lemah sambil menggigit bibirmu, tak tahan lagi. "Tolong... Tolong sentuh aku... Di bawah sini..."

"What is it, kitten..?" Sylus menyeringai lagi, mendekatkan telinganya ke bibirmu. "Can't hear you through all your moans, anyway..."

Nafasmu berderu, frustasi. Lelaki ini benar-benar sudah mengujimu sampai ke ujung tanduk. "Fuck! Sylus, fucking please! Ruin my fucking pussy with your fucking fingers, please! I want you to make me feel so fucking good! I want you to make me fucking cum a river!"

"Hmph." Sylus menahan tawanya mendengar permohonanmu, membuatmu merasa begitu rendah, kotor, naif, tapi juga berdebar, bernafsu, dan bergairah. "Someone sounds so desperate..." Bulu kudukmu berdiri saat tangannya mencapai pinggangmu, lebih tepatnya pada simpul tali g-string-mu. Dalam sekali tarikan, kamu sudah telanjang bulat di hadapannya. Belum sempat kamu bereaksi, Sylus menukar posisi tubuhnya denganmu. Kini ia duduk di jok kursi penumpang sementara kamu duduk di pangkuannya seperti seorang bayi, tapi telanjang bulat dengan kedua kaki terbuka lebar.

"Begini?" Telapak tangan Sylus yang hangat menangkup labiamu. Kamu bahkan bisa merasakan cairan yang keluar sedikit-sedikit dari tubuhmu menetes di tangannya.

"Mm-hmm..." Kamu tidak mampu berkata apa-apa lagi. Tubuhmu lemas, kamu hanya bisa bersandar di bahunya sementara satu tangannya dengan bebas menggerayangi bagian kewanitaanmu. "Ah..." Kamu membenamkan wajahmu di lehernya saat satu jarinya memasuki tubuhmu. Sambil merem-melek, kamu melirik sekilas ke bawah sana. Jari tengahnya. Tentu saja, itu jari tengahnya. Jari tengahnya yang panjang dan hangat itu. "Mmmhh..." Desahan kembali lolos dari bibirmu saat ibu jarinya tak lupa mengusap klitorismu. Satu jari lainnya masuk lagi. Oh, telunjuknya. Ibu jarinya masih memanja klitorismu yang mulai berkedut-kedut nikmat, membuatmu semakin keenakan. Tanganmu semakin erat memeluk lehernya, desahanmu semakin kencang saat Sylus mempercepat ritme pergerakan jari-jemarinya di bawah sana.

"S-Sylus..." Kamu menangkup wajah Sylus, mencari-cari bibirnya, mencoba melampiaskan rasa nikmat di sekujur tubuhmu. Dengan senang hati Sylus kembali memagut bibirnya dengan bibirmu. Desahanmu tertahan selagi kalian berciuman. Jemari Sylus bergerak semakin liar di bawah sana, kamu bahkan tidak menyadari keempat jarinya sudah memasuki tubuhmu begitu dalam, bergerak cepat dengan gerakan memutar secara ritmis, sementara ibu jarinya masih betah membelai klitorismu yang semakin berkedut.

"Ngh... Sylus..." Kamu melepas kontak bibirmu dengannya, kedua matamu terpejam saat tubuhmu mulai bereaksi akan sentuhannya. Perutmu terasa penuh, sensasinya bukan main. Rasanya seperti ada kembang api yang siap dinyalakan dalam tubuhmu, dan sentuhan demi sentuhan Sylus mempercepat semua progresnya.

"Kenapa, kitten..?" Sylus menyeringai, tahu benar kalau kau akan segera mencapai klimaks. Ia mendekatkan wajahnya ke dadamu, menjilati putingmu yang kembali mencuat keluar, membuatmu semakin merinding karena sensasi yang berlebihan di sekujur tubuhmu.

"S-Sylus... A-aku... Aku mau ke—" Kamu sudah tidak sanggup lagi berkata-kata, tubuhmu bereaksi lebih cepat daripada dugaanmu. Kamu meremas bahunya kuat-kuat saat cairanmu menyembur keluar dengan hebatnya, meninggalkan sensasi menyengat di perutmu yang berujung membuat sekujur tubuhmu melemas. "—luar..."

"Kitten... You came a lot... For me..." Sylus tidak berkedip melihat jari-jemarinya basah berlumuran cairan cintamu. Sisa-sisa cairan yang tidak mengenai jemarinya menetes turun dari lubangmu, membasahi celana jins Sylus, lalu merembes ke jok kursi penumpang berbahan kulit di bawahnya. "Mmmh..." Sylus memejamkan kedua matanya, menggeram rendah saat ia menyesap cairanmu dari jemarinya, membuatmu berdebar antara malu dan senang. "You taste amazing, kitten..."

Sylus mendekatkan jemarinya yang masih berlumur cairanmu itu ke wajahmu. "You wanna taste yourself too..?"

Kamu menatap jemari Sylus, ragu untuk sesaat. Tapi tanpa berpikir dua kali, kamu menjilat jemari Sylus sambil menatap matanya yang juga menatapmu dalam. Kamu menyesap jemarinya sampai mengering, membuat Sylus menyeringai geli dan mengusap kepalamu lembut. "Good girl." Bisiknya, membuatmu merasa... Bangga?

Entah siapa yang memulai, dan kalian kembali berciuman setelahnya. Tanganmu mengalungi lehernya erat-erat, sementara tangannya melingkar di pinggangmu sembari mempersempit jarak di antara kalian. Ciuman Sylus benar-benar memabukkan, kamu bahkan bisa merasakan putingmu kembali menegang hanya dengan cumbuannya di bibirmu. He's a good kisser for a thousand reasons, and this is one of them.

"So... Tell me, kitten..." Sylus menghentikan ciumannya, lalu menangkup wajahmu dengan satu tangannya. Kedua iris merah itu menatapmu dalam dengan nafas terengah. "Are we good..?"

Kamu tersenyum lirih, dadamu naik-turun—mencoba menghirup oksigen yang tersisa di dalam mobil itu. Kakimu lemas, bagian bawah tubuhmu yang semula basah bahkan sudah setengah mengering. Bra tanpa talimu terkulai di jok kursi pengemudi, mungkin Sylus asal melemparnya ke sana saat ia tergesa-gesa menelanjangimu selagi kalian berciuman panas. G-string hitammu menggantung di tungkai kaki kananmu, sementara gaun hitammu entah ada di mana. Mungkin tergeletak di bawah sana, kamu tidak peduli. Di bawahmu, terdapat sisa-sisa cairan tubuhmu yang merembes di celana jins hitam Sylus, meninggalkan noda berwarna lebih gelap dari warna asli jins tersebut. "You fucked me so good, so now... We're fucking good."

Seringai puas itu muncul di wajah Sylus, sebuah bisikan lembut meluncur dari bibirnya selagi ia kembali membenamkan wajahnya—kali ini di ceruk lehermu, membuatmu merasa sedikit kegelian, tetapi juga menyenangkan karena kamu bisa merasakan hangat desah nafasnya di kulitmu. "Love you, kitten."

Nafasmu masih tersengal. Kepalamu pening. Rasanya seperti ada ribuan bintang yang berputar-putar di satu titik di atap mobil itu, dan kamu tertegun sejenak memandangi bintang-bintang itu.

Kalau memang benar hubungan ini beracun,

...mungkin kamu tidak keberatan untuk menenggaknya sampai habis.