Chapter 32
.
.
.
"Rook-san!"
Beberapa saat lalu, seorang pelayan datang dan memberitahu Rook kalau ada yang mencarinya di bawah. Namun baru saja Rook hendak turun tangga, orang yang mencari itu sudah memunculkan diri. Rambut serupa warna senja itu bergerak tak karuan karena si empunya yang melompat-lompat seperti tupai.
"Cheka-kun!" Setengah melompat—ikut senang karena ada anak manis yang menunggunya di bawah, Rook turun ke lantai satu. Ia langsung memberi pangeran termuda negerinya itu sebuah pelukan hangat. "Aaaa, rasanya seperti sudah lama sekali tidak bertemu! Aku rindu Cheka-kun!"
"Aku juga rindu Rook-san!" Cheka menjauhkan wajahnya dan mencium pipi Rook lembut.
"Cheka-sama, nanti dimarahi Leona-sama kalau ketahuan." Tiba-tiba sebuah tangan muncul. Cheka, yang sebenarnya masih enggan melepas pelukan, diangkat begitu saja oleh orang yang tadi menegur. "Maaf, Rook-sama. Saya mohon untuk tidak mengatakan apa-apa pada Leona-sama nanti." Ternyata Kifaji.
Tawa Rook terdengar agak canggung karena malu. "Tenang saja. Aku akan tutup mulut," ia akhirnya ikut bercanda. "Jadi, ada apa Cheka-kun kemari?"
"Aku mau main!" Kedua tangannya terangkat ke udara. Ada sebuah piringan Magical Shift di antara tangan-tangan kecilnya itu. "Ponselku sedang disita Kifaji, jadi aku langsung lari ke sini untuk menjemput Rook-san."
"Disita?"
"Karena Cheka-sama terlalu banyak bermain saat waktunya belajar," Kifaji memberi alasan. "Selama minggu ujian kemarin, Cheka-sama sering mencuri waktu untuk memainkan ponselnya. Jadi, sebagai hukuman, selama libur tahun baru ini, saya menyitanya."
"Kifaji itu jelek kalau sudah marah."
"Saya hanya menjalankan tugas."
"Dan bukannya seharusnya Kifaji bersama Leona Oji-san, ya? Kenapa membuntutiku?"
Kifaji melepas kacamatanya, mengelapnya dengan lap yang selalu ada di saku, dan memakainya lagi. Rook langsung menebak itu adalah salah satu cara agar Kifaji bisa tetap sabar. "Perhatian saya ini tidak hanya pada Leona-sama. Waktu saya dengan Leona-sama untuk hari ini sudah selesai, maka giliran Cheka-sama yang harus diperhatikan."
"Pasti melelahkan mengurus dua anak sekaligus, ya, Kifaji-san." Tak disangka, bird-beastman tua itu tertawa mendengar candaan yang dilontarkan Rook, membuat si gadis pemburu ikut tertawa.
"Yang satu itu badan saja besar, tapi tingkahnya masih buat pusing."
"Couldn't agree more," balas Rook cepat tanpa pikir dua kali. Cukup dengan melihat kesulitan Ruggie semasa sekolah, lalu tinggal satu atap dengannya selama setengah tahun, Rook sudah berbagi keresahan yang sama dengan sang kepala istana. "Sungguh hebat Kifaji-san bisa mengurusnya selama dua dasawarsa. Aku belum tentu bisa sekuat itu."
"Oh, tentu saja Rook-sama bisa. Sebentar lagi, yang perlu saya urus tinggal Cheka-sama, karena Leona-sama akan saya serahkan pada Anda." Balasan Kifaji barusan diakhiri dengan sebuah senyum tulus yang sempat menutup jalur napas Rook selama beberapa detik. Kata-katanya seakan terdengar seperti Rook akan selamanya tinggal di istana, menjadi istri dari adik raja, Pangeran Leona Kingscholar.
Melihat wajah Rook yang mendadak memerah, Cheka sontak berteriak, "LIHAT, KIFAJI! Apa yang kau lakukan pada Rook-san?!"
"Loh? Kenapa jadi saya?" Mengabaikan Cheka yang memprotes, Kifaji langsung menggendong sang putra mahkota, lalu beralih pada Rook yang masih sedikit menyembunyikan wajahnya, "Rook-sama, bersedia menemani Cheka-sama bermain Magical Shift sebentar, kan?"
Seketika lupa dengan kekesalannya, Cheka bersorak kegirangan. "Ayo, Rook-san! Main sama aku! Biar aku bisa melawan Oji-san nanti!"
Masih dengan pipinya yang bersemu, akhirnya Rook mengiyakan dan mengikuti keduanya keluar. Cheka masih terus berceloteh dengan penuh semangat, sementara Rook hanya bisa diam dengan pikirannya yang telah bepergian entah ke mana.
Mengurus Leona-kun menggantikan Kifaji-san? Tahu kalau dia ingin aku ada di sisinya saja belum, lantas bagaimana caranya bisa bersama selamanya?
.
.
.
WHOOSH
"YEAH! Menang lagi!"
Cheka sontak melempar tongkat sihirnya. "KENAPA AKU SELALU KALAAAH! UWAAAAH!"
"Oh lala … maafkan aku—"
"Cheka-sama, berhenti menangis." Kifaji segera memotong Rook yang hendak menghibur Cheka. Dari sorot matanya, Rook bisa menangkap kalau Kifaji tidak ingin Cheka terus-terusan dimanja. Kepala istana itu berjalan mendekat ke putra mahkotanya, menepuk-nepuk sebagian tubuhnya yang dipenuhi debu. "Ayo, kita sudahi dulu mainnya hari ini. Anda harus mandi."
"Tapi aku belum menang!"
Kifaji menarik nafasnya dalam. "Kalau soal begini, Cheka-sama mirip dengan Leona-sama, huh," gumamnya.
"Eh?"
"Maksud saya, lap dulu cairan hidung Anda," alih Kifaji, mengeluarkan saputangan dari kantong bajunya dan mulai mengelap hidung Cheka yang dipenuhi ingus. "Ingat, Anda masih harus persiapkan diri untuk Masa Pengenalan. Jangan sampai ada luka yang membuat Anda tidak bisa mengikuti acaranya nanti."
Rook akhirnya bergabung dan duduk di samping Cheka yang baru tenang dari tantrumnya. "Oh, benar juga. Masa Pengenalan Ujian Berburu itu sebentar lagi, ya."
"Benar." Kifaji mengangguk. "Bagian perencana, Falena-sama dan Leona-sama, sedang sibuk-sibuknya sampai—setidaknya—di malam penyambutan nanti. Sekitar satu minggu sebelum Masa Pengenalan dimulai, para saudara beserta keluarganya direncanakan untuk datang ke istana dan menginap sampai hari-H; kurang lebih sama dengan Ujian Berburu yang sesungguhnya. Dan, pada malamnya di hari kedatangan itu, akan ada pesta penyambutan berikut peresmian Masa Pengenalan oleh Falena-sama. Jadi kita akan sangat sibuk sampai malam itu tiba."
"..." Rook tidak menjawab, dan justru membantu Kifaji membersihkan beberapa kotoran yang masih menempel di pakaian Cheka. Gadis itu mulai berpikir untuk menawarkan bantuannya, ketika tiba-tiba ia merasakan kehadiran seseorang yang sudah sangat dihafalnya.
"Di sini kalian rupanya. Pantas ribut sekali."
Semua orang langsung berdiri, kecuali Rook yang masih setengah berjongkok. Entah apa yang merasukinya, tapi mendadak kakinya lemas melihat Leona masih dalam baju kerjanya—masih seperti pagi tadi. Adegan di mana pria itu mencium jari-jarinya terulang, ditambah dengan "godaan" Kifaji saat masih di mansion sebelum ke lapangan Magift tadi.
"Oji-san! Pokoknya, aku tidak akan kalah!" Tepat saat mendengar seruan Cheka, serta lirikan Leona yang langsung mengenai ulu hati, barulah Rook mampu memaksakan kaki-kakinya untuk menopang tubuhnya. "Aku akan terus berlatih Magift, jadi nanti, Oji-san tidak akan menolak ajakanku lagi!"
"Masih butuh seratus tahun untuk kau bisa membuatku melawanmu di Magift, bocah bulu." Leona mencoba mendorong kepala Cheka yang memeluknya erat. Anak ini … bukankah baru beberapa waktu lalu kepalanya berada di perut Leona? Kenapa sekarang sudah hampir ke dada? Secepat itu, kah, pertumbuhan anak-anak? Atau ini perasaan Leona saja, yang lama-lama sudah seperti orang tua?
Kifaji membantu Leona dengan menarik Cheka menjauh. Sambil terus menahannya dengan tanpa effort berlebih (kepala istana tua ini benar-benar masih prima), ia membuat gestur berpamitan ke Leona, kemudian ke Rook. "Kami pamit dulu, Cheka-sama butuh mandi—dan makan yang banyak. Dia butuh tumbuh besar dulu sebelum bisa melawan Leona-sama."
"Aku sudah besar!"
"Kurang besar." Sebelum Leona berhasil menyentil dahi anak nakal itu, Kifaji sudah menariknya menjauh, berjalan kembali ke istana. Begitu yakin mereka tersisa berdua, Leona memungut satu sapu terbang terdekat. Itu sapu yang tadi Rook pakai—sementara sapu yang Cheka pakai entah berada di mana. "Kita pulang naik sapu saja," ujar sang pangeran kemudian.
Rook melihat ke sekeliling, berusaha mencari satu sapu lagi, tapi terhenti ketika Leona menarik pelan tangannya. "E-eh? Sebentar, cari satu lagi—"
"Memangnya kenapa kalau berdua?"
"Eh? Mau berdua?!"
Tidak dibiarkan kabur, Leona langsung meraih pinggang Rook, menggendongnya ala pengantin, lalu naik ke atas sapu dan berdiri dengan kedua kakinya. Saat mereka mulai terbang—dengan sangat perlahan, ia membenarkan posisi mereka; Leona duduk dengan kaki kiri di atas sapu untuk menyangga punggung Rook, sementara tangan kanannya tetap berada di bawah kaki-kaki istrinya. Daripada digendong, posisi Rook sekarang lebih seperti dipangku oleh Leona, dan dengan kurang ajarnya, kenangan beberapa malam lalu di vila keluarganya terputar. Si gadis pemburu refleks membuang muka, mempertanyakan kenapa Leona dengan sengaja memperlambat kecepatan terbang sapunya.
"Ada yang mau kubicarakan padamu," Sang pangeran membuka obrolan dengan suara yang menurut Rook seperti sengaja dibuat serendah dan seseksi mungkin, "tapi mulai besok, aku akan mulai sibuk."
Setelah hening beberapa saat, Rook akhirnya mendeham. Ia tampak berusaha keras mempertahankan kewarasan. "Oh … yang soal Masa Pengenalan itu, kan? Aku sudah dengar sedikit dari Kifaji-san."
"Pria tua itu memang ahlinya membocorkan informasi, eh."
Sedikit memaksakan diri, Rook memutar kepalanya agar dapat melihat wajah Leona. Beruntungnya ia karena Leona sedang fokus melihat ke depan, sehingga Rook bisa dengan leluasa memperhatikan semua fitur yang ada di paras mempesona pangeran kesayangannya. "Memang kenapa … tidak sekarang saja?" ia akhirnya bertanya. "Ini kau sudah pulang, kan?"
Pandangan pangeran itu turun, jatuh tepat ke belanga hunter green si gadis pemburu. Mereka berhenti sesaat di udara ketika Leona memberi jawaban, "Maunya juga begitu, tapi ternyata waktunya tidak pas. Selain itu, aku sadar aku butuh waktu yang lama untuk berdua … denganmu." Kalimatnya berakhir dengan suara yang mengecil. Ada warna serupa senja menghiasi sebagian pipinya, yang kemudian menular ke kedua pipi Rook. "Ini … hal yang sangat penting, jadi aku tidak mau diganggu oleh apa pun. Kau mau menungguku, kan?"
Jelas sekali ada sesuatu yang tersimpan dalam pandangan itu. Selama ini, Rook selalu mendengar soal matanya yang membesar setiap melihat Leona. Dan sekarang, apa yang suaminya sering katakan itu, bisa ia saksikan juga. Pupil tajam Leona membulat, tidak mungkin akan sebesar itu kalau hanya karena kurang cahaya (karena cahaya di sekitar mereka masih lah banyak). Itu karena ia sedang menatap Rook, hanya pada Rook.
Sambil sedikit memajukan bibir, Rook mendorong pelan pipi Leona yang masih bersemu dengan jari telunjuknya, supaya matanya kembali menatap depan. "Iya, aku tunggu, tapi kita harus pulang dulu," gadis itu mengingatkan.
"Um …." Mereka kembali terbang, kali ini sudah lebih cepat dari sebelumnya. Rook memanfaatkan waktu yang sebentar ini untuk terus memperhatikan wajah tampan suaminya sambil mengelus-elus belakang lehernya yang ternyata sama panasnya dengan pipinya tadi. Ia menyadari betapa Leona tengah menahan berbagai gejolak rasa tak terucap, tapi ia tak memberi komentar apa pun dan melanjutkan elusan di leher sang suami. Diam-diam Rook menikmati saat-saat ini, dan mulai membayangkan kalau Leona sungguh-sungguh telah jatuh ke dalam perangkap cintanya.
.
.
.
Rook sedang menyiapkan keperluan skincare malamnya ketika pintu kamarnya diketuk. Ia akhirnya berdiri dan membukakan pintu, sudah tahu siapa yang berada di sebaliknya. "Sekarang sopan, ya. Mengetuk pintu dulu, seperti anak baik-baik."
Leona mendengus kecil mendengar "candaan" Rook barusan. "Biar tidak tiba-tiba diusir karena tidak sopan dan tidak jadi anak baik-baik."
"Terserah." Membiarkan Leona yang mengurus pintunya (menutup dan mengunci), Rook kembali ke meja rias, menyematkan beberapa jepitan ke rambutnya. "Kalau mau tidur duluan silakan. Aku masih mau skincare-an."
Masih menjadi anak baik-baik yang tahu sopan santun, Leona naik ke kasur dan duduk bersandar di sana. Bisa Rook rasakan tatapan sang singa yang jatuh langsung ke punggungnya. Berusaha tidak peduli, ia meneruskan kegiatannya, hingga tak sampai satu menit kemudian, ada beban berat di pundak sebelah kanan. Sepasang tangan berukuran besar tak mau ketinggalan, beristirahat di kedua sisi pinggangnya.
"... Kau tahu kau mengganggu, kan, Roi du Leon?"
Kuping lucu itu bergerak-gerak. "Lanjutkan saja. Aku akan diam, tidak akan mengganggu." Ia mengutarakan alasannya sambil terus menyembunyikan wajah di sekitar perpotongan leher Rook, membuat gadis itu nyaris mengeram geli.
Mencoba sabar (dan tetap tabah di tengah cobaan batin ini), Rook meneruskan kegiatannya yang sempat tertunda. Selama satu hingga dua menit pertama, masih tidak ada pergerakan dari Leona. Pertanda bagus, tandanya ia berkelakuan sesuai ucapannya sendiri. Namun, Rook tahu siapa itu Leona Kingscholar. Laki-laki itu akan melanggar dalam waktu dekat. Dan benar, masuk menit ketiga, bergeraklah tangan-tangan nakal itu. Awalnya masih mengeratkan cengkeraman di kedua sisi pinggangnya, sampai perlahan, tangan kanannya bergerak ke depan, sementara tangan kirinya ke belakang. Leona mengelus punggung dan perutnya bersamaan.
"Aku terus kepikiran," Lagi, suara itu terdengar rendah dan seksi, dan sekarang tepat mengenai telinganya, "apa kau sering sit up? Tapi aku sepertinya jarang—bahkan hampir tidak pernah—melihatmu melakukannya, terutama setelah menikah. Tapi perutmu sepertinya masih terbentuk dengan baik."
Masih berusaha menahan diri sambil meneruskan skincare, Rook membalas, "Yah … aku memang sudah lacking semenjak menikah. Selama masih sekolah dulu, aku selalu punya jadwal rutin untuk exercise. Sekarang, perlahan-lahan semuanya hampir terlupakan, dan diperburuk dengan kau yang sering membelikanku makanan macam-macam."
Leona mengangkat sedikit kepalanya, menatap Rook dari samping dan tersenyum tipis. "Kan, aku memang sengaja ingin membuatmu gendut," candanya, yang secara mengejutkan tidak mendapat cubitan atau tabokan dari Rook. "Tapi, aku tidak bohong. Perutmu masih bagus sekali, meski disentuh dari balik baju begini," ia kembali berkomentar, dengan tangan yang semakin merajalela menyentuh perut sempurna Rook.
"Mungkin karena aku masih sesekali main dengan Cheka-kun dan memanah, jadi lemak yang kukonsumsi tidak berkumpul di satu tempat," jawab Rook. Tangannya turun ke perut setelah selesai dengan serum di wajahnya. Ini langsung menghentikan elusan Leona, karena pria itu ganti menyambut baik tangan istrinya. Mereka berpegangan tangan, dalam diam, hingga tangan di punggung Rook kembali bergerak naik dan turun. Rook sedikit menegang, tapi kemudian setengah menyandar ke tubuh suaminya, mulai rileks.
Di saat seperti ini barulah Rook sadar, kalau sejak tadi, Leona sedikit melipat kakinya. Bangku riasnya ini ternyata lebih pendek dari yang dikira (padahal kalau dari jauh terlihat cukup tinggi). Posisi suaminya yang lucu itu akhirnya mengembalikan kewarasannya sesaat, setelah beberapa detik lalu sempat terlena dengan godaan mautnya.
"Aku juga kepikiran," Gadis pemburu itu kembali fokus pada skincare-nya yang sempat tertunda, "kenapa kau tidak pernah mempermasalahkan freckles di wajahku."
Leona melihat ke cermin, membiarkan mata mereka bertemu melalui pantulan. Sesuai arahan, matanya kemudian fokus pada titik-titik yang menghiasi sekitar hidung dan pipi istrinya. "Memang kenapa?"
"Penasaran saja." Rook memperlihatkan senyum ramah andalan. "Mungkin kau sudah pernah lihat saat aku masih di Savanaclaw. Tapi, karena waktu paling banyak kau lihat aku saat di Pomefiore, kupikir kau akan protes atau semacamnya setelah menikah. Setiap malam, inilah wajahku tanpa makeup."
"Dan setiap malam juga aku tidur denganmu." Leona menempelkan pipinya ke pipi Rook begitu tahu gadis itu sudah selesai dengan prosesi treatment terakhirnya. "Tidak setiap malam juga, sih, tapi aku sering tidur denganmu, dan aku tidak mengatakan apa pun. Tandanya aku tidak peduli."
Ada sedikit rasa panas yang sukses mewarnai pipi putihnya. Tak perlu diragukan, Leona pasti menyadari itu. Ia juga pasti merasakan panasnya dengan pipi mereka yang saling bersentuhan ini. Namun Rook memilih untuk tidak membuang muka. Ia tetap pada posisi, bertukar pandang dengan Leona melalui pantulan cermin.
Senyum itu menghiasi wajahnya lagi, tapi kali ini bukan ramah melainkan malu-malu. "... Kau juga selalu memujiku wangi. Aku bahkan jarang pakai wewangian kalau bukan karena ada acara khusus. Bisa jadi karena detergen yang kupakai untuk pakaianku, atau aroma sabunku. Tapi sebelum ini, saat kita masih sekolah, kau tidak pernah memujiku begitu." Sekarang senyumnya berubah sedikit sedih.
Leona tetap menempelkan pipinya. Kedua tangannya sudah beralih ke depan, menghalangi Rook agar tidak ke mana-mana. "Aku sudah pernah mengatakannya dan akan terus mengulanginya: itu dulu, sekarang berbeda. Aku sadar aku sekarang suka baumu, dan mungkin sudah di tahap kecanduan."
"Jangan samakan aku dengan narkoba."
"Aku tidak sebut-sebut narkoba, ya. Kau sendiri yang menyebutnya barusan."
Rook tertawa, melunturkan kesedihan yang tadi sempat menguasai. Perubahan ekspresi dan perasaan yang cepat seperti ini … rasanya hanya terjadi bila ia bersama Leona. Aneh memang, tapi mungkin inilah efek dari cinta.
"Yakin tidak mau membicarakannya sekarang?" Ia mengungkit apa yang tadi sore Leona sampaikan.
Pangeran itu melepas satu nafas pendek. "Yakin. Aku tidak mau merusak momen. Aku butuh waktu yang lebih panjang dari satu malam ini."
Dan apa boleh aku mengharapkan apa yang kuharapkan sekarang setelah mendengar kata-katamu itu?
Rook ikut melepas nafas pendek seperti suaminya tadi. "Baiklah, aku sudah selesai dengan rutinitas malamku. Mau tidur sekarang?"
Tanpa pikir dua kali, Leona langsung mengangkat tubuh Rook, membawanya ke kasur, dan merebahkannya dengan perlahan. Sangat pelan, bahkan satu tangannya berada di belakang leher Rook, memastikan gadisnya berada pada posisi tidur yang sempurna. Rambut pirang yang sudah semakin panjang itu dirapikan sedikit, menyingkir dari sebagian wajah sang tuan putri. Sekali lagi mata keduanya bertemu; Leona di atas, dan Rook di bawah. Tak ada yang ingin memutus pandangan itu, bahkan sampai ketika Leona ikut merebahkan diri. Tatapan itu baru terputus ketika Leona mendekap erat Rook, yang mana langsung dibalas Rook dengan mengistirahatkan tangannya di pinggang Leona. Tangannya masuk ke kaos tanpa lengan yang suaminya itu pakai, menyentuh dan mengelus seperti yang pernah suaminya lakukan. Sesekali, mungkin karena geregetan, Rook memainkan sedikit kuku-kukunya, mengakibatkan Leona tersentak.
Mereka terus dalam posisi itu, sampai keduanya kompak masuk ke alam mimpi beberapa saat setelahnya. Sebelum benar-benar tidur, kepala Rook sempat disambangi pikiran mengenai kejelasan hubungan mereka. Pertanyaan-pertanyaan itu tetap menaikkan tanda tanyanya masing-masing. Namun, secara mengejutkan, Rook langsung bisa membuang pemikiran itu jauh-jauh. Apa yang Leona lakukan padanya sekarang, dan apa yang Rook lakukan padanya sekarang, seolah menjadi "obat penenang"—setidaknya untuk sekarang.
Keragu-raguan itu masih ada, tentu. Namun, hati mereka seperti sudah mampu untuk menyatu. Tali-tali tak terlihat itu … seakan sedang mulai mengikat sesuatu di antara mereka. Rook bisa merasakannya, dan ia tidak ingin melewatkan kebahagiaan ini, seperti yang sudah-sudah ia lakukan.
Tinggal sedikit lagi. Entah bagaimana, rasanya sudah dekat.
Tinggal sedikit lagi.
.
.
.
Next: Chapter 33
