A Boboiboy fanfiction present

"SIXTH SENSE" by Aprilia Hidayatul

BoBoiBoy Galaxy characters belong to Monsta Studio, except my original characters and the storyline of this fanfiction.

Please keep on mind, I don't get any profit from this fanfiction.

Warning! OOC, OOT, absurd, some characters speak a little using harsh words in a certain time or anything and etc

Genre : Fantasy Comedy Horror Romance

Rate : T ( trying not to change it to M )


•••


Akhir pekan merupakan kemenangan dan kebebasan untuk setiap orang. Entah itu para pekerja atau anak sekolahan. Mereka akan menghabiskan hari libur itu dengan berkegiatan di luar seperti berkunjung ke suatu tempat atau berjalan-jalan ke mana saja tanpa tujuan. Pastinya hingga hari mereka terlewati bukan hanya berdiam di kamar seharian.

Itu rencana awal Yaya. Dia ingin tidur seharian tanpa harus melakukan apa pun. Rencananya yang dibuatnya sudah sempurna yaitu makan, tidur, aktivitas lainnya, lalu kembali tidur. Pokoknya, tidak ada hal lain lagi. Terlebih lagi kedua orang tua nya sedang keluar bersama sang adik. Sehingga dia sendiri di rumah.

Tidak sendirian juga sebenarnya. Masih ada Lyan si setan aneh yang sering muncul tiba-tiba dan mengagetkannya. Meskipun sedikit heran hari ini kelihatannya Lyan ada kesibukan lain. Sejak pertama kali membuka mata pagi ini, arwah itu sudah menghilang.

Yaya agak penasaran kemana perginya Lyan. Namun, dia hanya mengangkat bahu acuh tak acuh dan kembali pada rencananya.

Awalnya akan berjalan lancar, namun tiba-tiba saja dering ponselnya terdengar. Tampaknya Yaya lupa memasang mode jangan ganggu sehingga ada panggilan masuk. Ketika dia melongok kan kepalanya, terlihat nama pemanggil tertera di display nya.

Keningnya berkerut heran. "Seingatku, aku tidak pernah memberi nomorku pada orang lain? Kenapa bisa ada kontaknya Ying ya?" gumamnya.

Ia kembali mengingat-ingat kapan mereka bertukar nomor. Karena seingatnya, meskipun dia menerima ajakan pertemanan dari Ying, belum sekalipun dia bertukar nomor ponsel. Bahkan, tidak ada keinginan untuk Yaya. Akan tetapi, melihat ini membuatnya sedikit ragu kalau dia memang memberikannya.

Jika tidak salah waktu itu mereka sedang di tribun lapangan. Dia sibuk menggambar sesuatu di buku sketsanya, sedangkan Ying sibuk mengoceh soal anak laki-laki yang dia sukai. Samar-samar saat itu Yaya masih merespons ceritanya. Namun, fokusnya kemudian sepenuhnya tertuju pada sketsa yang dia buat.

Sekitar sepuluh menit, akhirnya Yaya selesai. Ketika kepalanya menoleh ke samping tampak jika Ying sedang tersenyum lebar sambil menatapnya. Entah apa maksudnya hingga Yaya bingung sendiri.

"Kenapa kamu cengar-cengir begitu? Kesambet tahu rasa loh," cetus Yaya datar.

"Enak saja kalau bicara. Tidak mungkin aku kesambet." Ying mendengus sombong dan dibalas putaran mata malas oleh Yaya. "Eh tapi, jangan lupa ya!"

"Hah?" beonya bingung.

"Pokoknya jangan lupa. Akhir pekan ini!" Ying segera bangun dari duduknya dan menepuk debu dari rok yang dikenakannya. "Sekarang bangun karena jam istirahat sebentar lagi habis. Aku tidak mau kena omel Bu Ratna akibat telat masuk kelas beliau ya," ajaknya.

Masih dalam kebingungannya, Yaya menuruti perkataan Ying. Kedua gadis itu pun beranjak dari tribun menuju kelas mereka.

Sepanjang perjalanan ditemani oleh ocehan Ying dan Yaya yang berusaha mencari tahu maksud ucapan temannya itu.

Kembali ke waktu sekarang. Ungkapan Ying tempo hari ternyata maksudnya ini. Pantas saja dia cengar-cengir tidak jelas hari itu. Lengah sedikit, mereka sudah bertukar nomor.

Astaga, Yaya kecolongan. Tapi ya sudahlah, lagi pula gadis itu anak yang baik. Semoga saja pertemanan mereka tidak akan membawa Ying pada petaka atau hal berbahaya apa pun. Karena ini pertama kalinya Yaya bisa dekat dengan orang lain.

Ia mengambil ponselnya dan menggeser tombol hijau itu. "Halo, ada apa?" tanyanya langsung.

"To the point sekali, Yaya."

"Lama kalau berbasa-basi. Jadi, katakan."

Terdengar kekehan kecil dari seberang. "Akhir pekan ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang seru. Aku yakin kamu akan senang dengan itu, Yaya," katanya.

"Tempat apaan itu?"

"Pokoknya kamu bersiap saja. Dalam sepuluh menit aku akan tiba di depan rumahmu. Jadi, jangan buang-buang waktumu, Yaya!"

"Hey, aku belum bilang setuju. Kamu jangan ambil keputusan sendiri, Ying —" Tut!

Sambungan terputus. Ying langsung mematikan telepon dengan sengaja tanpa membiarkan Yaya berbicara.

Sambil memandangi layar ponselnya, Yaya tidak tahu harus berkata apa. Ajakan atau lebih tepatnya paksaan itu menghancurkan rencana rebahannya hari ini.

Dia tidak tahu harus tertawa atau menangis. Namun, karena sudah begini mau tidak mau harus segera bersiap. Yaya merasa kalau ucapan Ying sepuluh menit sudah tiba di depan rumahnya bukan gurauan saja. Gadis mungil itu entah punya kekuatan apa hingga kecepatan geraknya sulit dipercaya. Hal itu sesaat membuat Yaya ragu apakah Ying itu manusia normal atau apa. Entahlah.

Yaya segera beranjak menuju kamar mandi dan bersiap. Kemanapun mereka akan pergi, dia harus mempersiapkan diri. Tempat mana pun pasti memiliki energi dan aura tersendiri. Sebagai seseorang dengan kemampuan melihat dan merasakan energi, semakin kuat makan hal itu akan membuatnya melemah. Oleh karena itu, Yaya tidak boleh lengah.

"Tidak bisakah aku mendapatkan kedamaian sehari saja? Tolong, jangan ada kekacauan hari ini," ucapnya penuh harap.

Yah, itu harapan bagus. Terkabul tidaknya hanya menunggu waktu. Apa pun yang terjadi nanti, mau tidak mau harus dihadapi.


••••


Jalanan di Pulau Rintis berbeda dengan di pusat kota. Masih hijau asri, tetapi tidak tertinggal jika soal teknologi. Kecanggihan di sana sudah diterapkan untuk umum. Baik kendaraan, pelayanan publik dan sebagainya. Contohnya, seperti sepeda motor tanpa roda ini. Selain menggunakan tenaga listrik sebagai bahan bakar, pergerakannya juga mulus. Tidak harus ada drama mengganti roda dan juga ramah lingkungan.

Kebetulan sekali di akhir pekan selalu ada kegiatan bazar. Di pusat Pulau Rintis akan ramai oleh berbagai pedagang dan pembeli. Setelah acara lari maraton, orang-orang berbondong-bondong untuk membeli makanan. Begitu pula mereka berdua. Sebelum pergi ke tempat tujuan, Ying mengajak Yaya sarapan di salah satu stand jajanan di sana.

Crepes dan satu cup besar soda.

Itu cukup untuk mengisi perut, setidaknya bagi Yaya. Dia tidak begitu banyak makan saja sudah kenyang. Berbeda dengan Ying. Gadis itu entah sudah berapa jenis jajanan dibeli dan dihabiskan. Sepanjang perjalanan terus mengeluh kalau dia lapar.

Yaya menghela napas. Ia melirik perut ramping Ying dan berujar malas. "Kurasa di dalam perutmu itu ada lubang hitam. Makanan apapun yang masuk langsung hilang begitu saja hingga kamu terus merasa lapar, Ying."

Dibilang begitu bukannya tersinggung justru Ying tersenyum malu-malu. "Hehehe aku tidak bisa berhenti mengunyah. Makanannya enak sekali," katanya.

"Hampir semua stand jajanan sudah kamu singgahi. Tidak ada yang terlewat satu pun."

"Sebuah pencapaian tahu."

"Lebih ke rakus sih."

"Heh!"

Yaya tertawa kecil. "Sudah, kamu mau mengajak aku ke mana sebenarnya?" Ia segera bertanya pada hal utama kenapa mereka kemari.

Sambil menelan suapan terakhir crepes yang dibeli tadi, Ying pun menjawab. "Tidak jauh dari sini ada tempat wisata yang menarik. Bendungan besar di Pulau Rintis ini. Aku ingin mengajakmu ke sana untuk menikmati pemandangan di atas bendungan itu."

"Oh, begitu." Yaya mengangguk paham. "Baiklah, sekarang kita pergi. Hari sudah semakin siang dan tentunya itu bisa membuatku malas untuk ke mana pun," ujarnya sambil menutupi cahaya matahari yang menyorot ke matanya.

"Okay, let's go!"

Setelah itu, keduanya pun meninggalkan acara bazar menuju bendungan besar yang letaknya tidak begitu jauh dari kota. Semangat terpancar jelas dari Ying yang menarik tangan Yaya membuat gadis yang ditarik itu tersenyum lembut.

"Hey, jalannya pelan-pelan. Aku tidak mau terjatuh dan mencium aspal karena ulahmu!"

"Tidak masalah kalau mencium aspal. Itu akan jadi hot trending di sekolah nanti!"

"Hentikan imajinasimu itu!"

"Hahahahah!"

Tawa lepas Ying terdengar nyaring. Orang-orang menatap mereka berdua dengan berbagai pandangan. Namun, kelihatannya tidak dipedulikan sama sekali. Baik itu olehnya atau Ying sekali pun. Saking asyiknya, bahkan keduanya sampai tidak sadar jika ada sepasang mata mengintai dari kejauhan. Memperhatikan mereka sebelum akhirnya hilang bersama hembusan uap es dingin dan kepingan kristal salju.


•••


Sring!

Tebasan cepat membelah kayu tebal yang sengaja ditaruh. Balok kayu besar kini terbelah menjadi dua bagian sama besar.

Duri dan Blaze yang menonton aksi itu bertepuk tangan kegirangan. Mereka senang melihat kelihaian sang kakak sulung dalam bermain pedang. Tingkatan kemampuannya sudah lebih dari kata seorang ahli.

"Kak Hali memang jago soal memakai pedang. Hebat!" puji Duri tersenyum cerah.

Blaze mengangguk setuju. "Itu sudah mendarah daging banget kalau soal per pedangan dengan Kak Hali. Gila, sekali tebas langsung terbelah begitu saja. Pasti tajam sekali itu," ujarnya terpukau.

Sambil menyeka keringatnya, Halilintar mendengus geli dengan lontaran pujian yang isinya hanya omong kosong itu. Dia tahu betul kedua adiknya itu sengaja berkata demikian bukan untuk benar-benar kagum akan keahliannya, melainkan memanasi seseorang.

Dan benar saja, itu berhasil. Target mereka sudah mengepulkan asap kekesalan di kepalanya. Halilintar meliriknya sekilas, kemudian menggelengkan kepala pasrah. Dia yakin sebentar lagi akan ada drama antar saudara.

"Kamu setuju, kan dengan ucapanku, Duri?" tanya Blaze menoleh pada adiknya.

Duri mengangguk setuju. "Mn! Benar sekali!"

"Lalu, bagaimana menurutmu, Solar? Kak Hali memang terbaik kan?" Nada bicaranya terdengar songong di telinga siapapun yang mendengarnya.

Halilintar yang kini sudah berdiri di samping Gempa menautkan alisnya. Menunggu reaksi dari ucapan songong itu. Meski bukan ditujukan padanya, entah kenapa dia ikut kesal juga. Apalagi Solar ya?

Benar saja, tak butuh waktu lama Solar akhirnya terpancing juga. "Itu belum seberapa."

"Benarkah?" Blaze menaikkan satu alisnya. "Kamu tidak sedang bohong, kan?"

"Tidak."

"Jadi, kamu mengatakan kalau kemampuan kak Hali itu belum lebih baik dari kamu ya?" Pertanyaan itu cukup memantik dua orang sekaligus. Satu terpancing karena tiba-tiba dijadikan bahan percakapan mereka, satunya lagi mulai kesal.

"Aku tidak bilang begitu! Dan maksudnya juga bukan itu!" sergahnya menyangkal. Kedua cuping telinganya memerah, entah alasannya apa.

Blaze semakin gencar menggoda. Ia suka dengan reaksi Solar yang menurutnya menarik karena terlihat terus saja menyangkal kalau dia tidak kagum dengan Halilintar. Padahal, sudah menjadi rahasia umum di keluarganya jika seorang Solar kagum pada kakak sulungnya. Hanya tertutup gengsi setinggi langitnya itu.

"Terus apa dong?" tambah Duri ikut bertanya.

Bibir Solar cemberut. Kedua tangannya terkepal dan seluruh wajahnya memerah.

"Kak Hali memang keren, kok." Solar mencicit pelan.

"Apa? Kurang ke dengaran. Ulangi lagi," pinta Blaze sengaja.

"KAK HALI KEREN! KEREN! KEREN! PUAS!"

Blaze dan Duri mengangguk puas, lalu keduanya tertawa lepas. Reaksi adik bungsu mereka itu sangat lucu. Terlepas dari perilaku sok dewasa dan usia mereka sebenarnya sama, tetap saja ada perbedaan yang signifikan. Contohnya seperti Solar.

Halilintar menautkan alisnya, lalu menggeleng pasrah. Taufan sudah berguling-guling di tanah menertawakan penderitaan Solar yang digoda dua adiknya itu. Sedangkan Gempa tersenyum lembut. Meskipun waktu sudah berlalu banyak, keseruan ini tidak pernah lekang oleh zaman.

Diperhatikan oleh nya setiap saudara yang berkumpul di halaman belakang rumah. Akhir pekan ini mereka ingin menghabiskan waktu bersama mengingat akhir-akhir ini baik dia dan semua saudaranya sering sibuk oleh kegiatan lain. Kini, mereka bisa bersenda gurau.

Ketika matanya tanpa sadar mencari keberadaan yang lain, ada satu orang yang belum terhitung.

Keningnya dikerutkan. Ia menoleh pada Halilintar. "Kak, kamu lihat Ais tidak?"

"Hm? Bukannya dia masih tidur ya?"

"Benarkah?"

Gempa mengangguk. "Terakhir kali aku cek kamarnya, dia masih meringkuk. Memangnya kenapa, Kak?"

Halilintar tak langsung menjawab. Ia seolah merenung sejenak, lalu menggeleng. "Tidak ada. Kalian di sini dulu ya, aku ada urusan sebentar," katanya pada Gempa.

"Okay. Jangan melakukan hal aneh, Kak."

"Ya."

Halilintar pun pergi meninggalkan halaman belakang. Gempa menatap punggung tegap itu hingga hilang dari pandangannya. Helaan napas berat lolos dari bibirnya.

Di sebelahnya, Taufan terus saja menahan tawa sejak keduanya bertukar kata. Seolah-olah pemuda itu sudah mengetahui maksud dari ucapan Halilintar.

Gempa mendelik kesal. "Berhenti tertawa, Kak Taufan. Kamu kelihatannya paling menikmati ini," ujarnya.

"Tentu saja. Pertunjukan menarik ini sayang sekali untuk dilewatkan." Taufan mengangkat bahunya singkat. "Lagi pula, aku ingin melihat seberapa keras kak Hali bertindak. Jika tidak dipancing, dia akan menyesal nantinya."

Gempa terdiam. Benar juga, kakak tertuanya itu belum ada pergerakan sama sekali sejak pertemuan mereka dengan Yaya. Seperti ada sesuatu yang membatasi keduanya untuk sekadar berinteraksi. Selain itu, aura Yaya juga cukup sulit untuk dideteksi.

"Yeah, aku harap di pemalas itu tidak bertindak gegabah atau kita akan kena masalah," cetus Taufan.

"Kamu dan idemu memang selalu menantang nyawa sendiri, Kak."

•••

To Be Continued