A Boboiboy fanfiction present

"SIXTH SENSE" by Aprilia Hidayatul

BoBoiBoy Galaxy characters belong to Monsta Studio, except my original characters and the storyline of this fanfiction.

Please keep on mind, I don't get any profit from this fanfiction.

Warning! OOC, OOT, absurd, some characters speak a little using harsh words in a certain time or anything and etc

Genre : Fantasy Comedy Horror Romance

Rate : T ( trying not to change it to M )


•••


Malam kian larut. Bulan perlahan naik ke puncaknya meskipun hanya nampak sebagian saja. Namun, suasananya tidak berubah sama sekali. Terkesan horor dan sunyi. Angin bertiup lembut hingga gorden jendela bergerak lambat seakan melambai pada tubuh yang berbaring di atas ranjang. Matanya terbuka lebar memandangi langit-langit kamar. Tidak peduli meskipun tak ada penerangan lain kecuali dari sinar rembulan yang masuk lewat jendela. Itu sudah cukup untuk memperlihatkan wajahnya yang frustrasi dan kerumitan.

Tubuhnya berguling ke kiri sebentar, dua detik kemudian berguling ke kanan. Terus diulang beberapa kali sampai akhirnya tetap tidur terlentang. Kelihatannya itu semua memang tak berguna sama sekali.

Menarik napas dalam-dalam kemudian dihembuskan perlahan. Mungkin dengan cara itu mampu membuatnya tidur malam ini. Matanya kembali dipejamkan dan berhitung dalam hati.

Satu detik ...

Dua detik ...

Tiga detik ...

Empat de—

"Hei, Nona Muda, meskipun kamu berusaha kalau memang tidak bisa tidur itu sia-sia."

Suara bernada ejekan itu masuk ke dalam telinganya. Alisnya bertaut dan keningnya berkerut merasa terganggu. Tapi, tidak membuka matanya.

"Yaya~ jangan tidur terus. Temani aku mengobrol, ayo~"

Apa-apaan nada suaranya itu?!

"Yaya~ Yaya ~ Yaya ~"

"Diam!"

"Nah akhirnya respons juga." Sosok itu muncul di atas lemari sambil duduk bersila. Masih dengan pakaian khas zaman kuno serta rambut panjangnya yang disampirkan di bahu, dia memancarkan aura kemalasan. Sambil berpangku dagu, jemarinya digerakkan sembarangan seolah membuat segel mantra. "Kamu kenapa seperti gelisah banget? Mimpi buruk?"

Yaya yang kini duduk di ranjangnya segera menekuk lutut dan memeluknya. Dagunya ditaruh di atasnya. "Aku juga tak paham. Namun, itu bukan mimpi buruk. Hanya saja seperti sedang menonton film di mana aku tidak mengenal siapapun di mimpi tersebut."

"Menonton film?"

Yaya mengangguk.

"Apa yang kamu lihat?"

Merenung sesaat, ia menatap Lyan diatas sana dengan pandangan kosong. Hal itu tentunya menimbulkan keheranan dibenak Lyan.

Baru saja akan kembali bicara, perempuan berambut sebahu itu mulai bercerita perihal apa yang terjadi dalam mimpinya. Suaranya begitu tenang dan lancar. Kadang begitu semangat, detik berikutnya air muka Yaya berubah sendu. Tampak dia seperti merasakan emosi dari ceritanya sendiri. Lyan merasa curiga akan sesuatu.

Namun, Lyan tidak mau asal tebak. Dia perlu mencari bukti lain demi menyesuaikan dugaan-dugaannya.

Meskipun, kenyataan bahwa dia berharap itu kebenaran.

Setelah bercerita pasal mimpinya pada Lyan, Yaya menolehkan kepalanya. Menatap roh manusia kuno itu agar menanggapi. Dia berkata pelan, "Lyan, kamu kenal siapa itu Hanna?"

Nama itu selintas lewat di benaknya. Samar dan tampak kabur. Tapi, dia seorang perempuan bergaun sederhana dengan rambut yang diperkirakan berwarna cokelat. Mirip dengan warna rambutnya. Itu saja yang dapat dia tangkap. Sisanya ... blur.

Lyan menggelengkan kepala. "Tidak, tapi entah kenapa terdengar akrab di telingaku. Dari mana kau tahu nama itu?" Ia bertanya dengan kening berkerut heran.

"Di mimpi," jawabnya.

"Kamu penasaran dengan sosok itu hanya karena dia hadir di mimpimu?" Lyan memandangnya dengan sorot tak percaya.

Melihat respons dari arwah tersesat itu raut wajahnya berubah masam. Bibirnya dikerucutkan sebal.

"Kalau tidak bisa memberiku pencerahan setidaknya jangan menatapku seperti orang gila, Setan. Kamu ini menyebalkan sekali," cetusnya mengeluh.

Lyan mengangkat bahunya acuh tak acuh. Dia tidak merasa bersalah sama sekali. "Aku berkata realitas, Yaya. Lagi pula, itu hanya mimpi saja. Tidak perlu kamu cemaskan sedemikian rupa."

"Inginnya begitu."

Alis Lyan terangkat sebelah. "Lantas, kenapa tidak?"

"Masih terbayang dan terngiang di kepalaku."

"Mau aku beri cara bagaimana agar tidak terus ingat?" tawar Lyan yang kini bersidekap seraya menatapnya dari atas lemari. Keseriusan di wajahnya cukup memantik rasa penasaran dari Yaya.

"Bagaimana?"

"Benturkan kepalamu dan kamu akan hilang ingatan."

Senyum puas timbul di bibirnya. Dia dengan percaya diri memberikan solusi pada gadis muda itu.

Lalu, tiba-tiba saja sebuah bantal melayang dan menghamtamnya dengan telak. Meskipun benda itu tembus saat lewat di tubuhnya, tetap saja Lyan kaget.

Kepalanya menoleh cepat dan menegur Yaya. "Kamu ini gila apa bagaimana?! Main lempar-lempar bantal begitu saja!"

"Berisik kamu, Setan!"

"Aku bukan setan hey! Hanya arwah penasaran!"

"Apa bedanya?!"

"Beda!"

"Ya apa?!"

Lyan terdiam, lalu menatap Yaya dengan polos. "Eh, tidak tahu juga. Mungkin benar tidak ada bedanya."

Duak!

Dan untuk kedua kalinya bantal melayang ke arahnya.


•••


Halilintar berpikir jika saat itu dia tidak bertindak pengecut, mungkin tidak akan ada kejadian di mana seseorang menjadi korban. Mereka akan hidup dengan rencana yang telah disusun rapih sedemikian rupa. Membayangkan masa depan cerah dan juga damai. Tidak harus merasa cemas dan waspada akan bahaya yang mengintai dari dalam kegelapan.

Namun, kembali lagi. Semua sudah terlanjur terjadi. Kekacauan dari masa ke masa tidak pernah berubah, bahkan di kehidupannya saat ini. Seakan takdir tidak bisa melihat dia damai meskipun untuk sesaat.

Memikirkan semua itu, helaan napas berat lolos dari bibir Halilintar. Punggung tegapnya kembali bersandar pada batang pohon yang dipanjatnya. Topi hitam yang selalu menutupi surai gelap dan tebal miliknya entah terbang ke mana. Menampilkan sejumput putih yang menjadi ciri khas di keluarganya. Di mana semakin tebal warna putih itu, dialah yang menjadi pewaris utama.

Halilintar benci fakta itu. Tapi, bagaimanapun juga dia tidak bisa mengelak. Kelak setelah semua selesai, ada takdir lain telah menantinya.

Manik delima itu terpejam dengan tangan terulur ke depan. Bibirnya bergerak pelan menggumamkan sesuatu. Tidak lama kemudian energi merah muncul dan berpusat di telapak tangannya. Dari ukuran kecil, lalu kemudian semakin besar hingga membentuk sesuatu dengan jelas.

Itu pedang.

Tajam dan mengkilap dengan gradasi merah di bagian atas dan gagangnya. Logo kilat merah menandakan kekuatan yang dimilikinya. Sang pewaris guruh dan kilatan, di juluki petir merah pada masanya.

"Wow, untuk pertama kali setelah sekian lama akhirnya aku bisa melihat Voltra. Kamu benar-benar menyimpannya dengan baik, Kak Hali."

Pujian berkedok ledekan itu terlontar begitu saja dari entitas biru yang entah sejak kapan sudah nangkring di depan Halilintar. Posisi duduk berjongkoknya memungkinkan siapapun berkeinginan untuk menendang pantatnya. Begitu pun dengan Halilintar. Namun, karena rasa malas dan enggan bergerak, dibiarkan saja adiknya itu mengganggu waktunya. Padahal, dia sudah sembunyi-sembunyi ketika pergi ke atas pohon ini. Entah bagaimana tetap ketahuan oleh Taufan.

Iya, si entitas biru itu Taufan. Satu-satunya dari enam adiknya yang punya nyali dan nyawa sembilan karena hobi sekali menjaili kakak sulungnya.

Halilintar memutar matanya malas. "Berhenti beromong kosong, Taufan," ujarnya malas.

"Apanya yang omong kosong, Kak Hali. Aku bilang fakta kok," tukasnya santai. "Lagi pula, itu pedang kesayanganmu. Terakhir kali kamu memakainya juga sudah lama sekali."

"Berisik."

Dengusan sinis dari Taufan terdengar. "Melarikan diri saja terus sampai kehidupan berikutnya. Aku tidak akan terkejut lagi kalau hal yang sama bakalan terus terulang kalau kamu begini terus, Kak Hali." Ia segera duduk dengan kedua kaki menggantung ke bawah. "Kamu tidak bisa hanya melihat dari jauh dan biarkan dia menghadapi semuanya sendirian. Meski ada keraguan sedikit dalam hati, kamu sudah merasakan bahwa itu dia kan?" tanya Taufan.

Halilintar mengangguk pelan. "Iya."

"Lalu, kapan? Sampai dia terus diganggu oleh makhluk-makhluk itu dan menyerah?" Gelengan lemah Taufan dengan pandangan sedikit diturunkan. "Dia sudah mulai meragukan identitasnya sekarang. Kamu harus bergerak cepat. Apalagi dia tidak sendiri sekarang, Kak."

Kening Halilintar berkerut bingung. "Maksudnya?"

Taufan menoleh pada Halilintar sekilas, kemudian menatap lurus ke depan. Tidak langsung memberikan jawaban atas pertanyaan Halilintar barusan. Membuat kakaknya itu menunggu dalam penasaran.

"Penjaganya sudah bangun sejak kedatangan dia kembali ke kota ini. Sejak kita bertemu dengannya lagi."

Ah?

"Kamu pasti sadar akan hal itu juga, kan? Dia bukan sekadar anak perempuan berkemampuan melihat makhluk halus atau iblis, tapi juga berpotensi menjadi pemimpin dengan aura kuatnya. Dia ..." Suara Taufan memelan, terdengar lirih.

Halilintar dapat merasakannya. Dia tahu apa yang akan disampaikan oleh Taufan. Namun, tetap saja membiarkan adiknya itu menyelesaikan kalimatnya. Di mana itu bukan s sesuatu yang dia harapkan.

Taufan menarik napas pelan dan dihembuskan.

"Dia berbeda dengan Hanna."

Dia berbeda dengan Hanna.

Kata-kata itu telak membuatnya bungkam. Sebuah fakta yang tidak bisa terpatahkan karena memang itu kenyataan. Gadis merah muda itu bukan Hanna. Hanya bagian kecil dari masalalu yang belum terselesaikan.

Sosok baru dengan kenangan lama yang akan terus muncul dalam setiap kehidupan.

Bunga mataharinya, Hanna-nya atau sekarang dia harus memanggil nya dengan sebutan Yaya.

Takdir memang selucu ini. Halilintar ingin tertawa keras betapa dia harus menjalani kehidupan penuh komedi dan drama yang entah kapan akan berakhir.

Di mana bukan hanya tentang dia saja. Melainkan mereka yang ada dalam takdir berantai di setiap perputaran roda reinkarnasi.

Kali ini, bahkan bukan hanya dia sendiri tetapi penjaganya pun ikut terbangun. Sosok paling sulit untuk Halilintar lewati.

Ia mendengkus pelan. "Ini semakin menantang saja."

"Kamu jangan anggap ini permainan, Kak Hali!"

"Itu pendapatmu, jangan lemparkan tuduhan itu padaku, sialan," ketus Halilintar tidak sudi dituduh begitu. "Kamu seakan cemas padahal menikmati kerepotan yang aku alami, bukan?"

Taufan cengengesan. "Hehehe ketahuan ya?"

"Kamu memang payah. Tidak cocok jadi villain."

"Bisakah kamu apresiasi sedikit saja adikmu ini, Kak Hali?" Taufan memang wajah memelas andalannya. Gempa atau Duri akan mudah terpengaruh. Namun, tidak dengan kakak sulungnya ini.

Dan benar saja. Tanpa perlu berkata apapun, sebuah pedang diayunkan secepat kilat menghantam Taufan. Pemuda itu seketika terlontar jauh terbang ke atas langit usai menerima tebasan cinta dari Halilintar.

"KAMU MEMANG SIALAN, HALILINTAR!"

"Yes, I am."

Pedang Voltra di tangannya menghilang. Embusan angin malam tiba-tiba saja mengenainya. Helaian rambutnya bergoyang mengikuti arah angin, pun dengan jaket yang dikenakannya.

Halilintar memejamkan matanya sesaat. Lalu, kembali dibuka perlahan hingga menampilkan sepasang manik cerah yang kini sorotnya tampak tajam. Ia memikirkan ucapan Taufan.

"Yeah, it seems I should take a movement before her guard and shadow admire make trouble with me."

Usai berkata, Halilintar bergerak cepat menghilang dari atas pohon.

•••

To Be Continued

Hello, dear friends!

Long time no see. Hehe, apa kabar semua?