EVERYTHING

.

.

Warning : Mature content

Don't like, just click back.

Itachi's pov

Aku, Itachi Uchiha. Pria dewasa berusia 40 tahun. Bersyukur karna pola hidupku yang sehat, badanku masih kekar dan otot perutku masih terlihat dengan jelas (dahlah bayangin aja kaya Chris Evans, wkwkwk). Gen Uchiha memang tak bohong, wajahku tentu saja masih sangat tampan. Oh sejak kapan aku begitu narsis?

Aku adalah seorang profesor psikologi di Universitas Konoha. Tentu pekerjaan ini sudah sangat cukup untuk membiayai hidupku dan istriku, Anko. Ya, aku sudah menikah, 7 tahun lalu dengan wanita yang pernah sangat kucintai. Sekarangpun, aku masih sangat meyayanginya, hanya saja rasanya sedikit berbeda. Aku tak pernah berbicara lagi dengan istriku semenjak dia sakit. Dia koma, tak sadarkan diri akibat kecelakaan yang dialaminya 2 bulan lalu. Kurasa hal itu cukup parah, mengingat dia dalam keadaan seperti ini sudah cukup lama.

Selama aku bekerja, aku menyerahkan segala keperluan istriku kepada Shizune. Perawat yang secara pribadi aku pekerjakan untuk merawatnya di kala aku sedang tak ada di rumah.

"Baiklah. Kita bertemu lusa." Jam menunjukkan pukul 1 siang, kelas terakhirku hari ini telah selesai.

"Baik, Pak." Jawab mahasiswaku serentak dan berhambur keluar kelas. Namun ada satu mahasiswa yang malah menghampiriku. Yamanaka Ino.

Dengan senyum manjanya, dia menghampiriku dan memberikan secuil kertas.

'Kau sangat keren dan seksi saat berdiri di sana, Pak.'

Wajahku memanas. Gadis muda itu melewatiku begitu saja.

'benar-benar.'

Yamanaka Ino. Ku akui dia gadis yang cantik. Rambut pirangnya, mata birunya, tubuh tinggi semampainya dengan bagian-bagian yang sangat pas. Selain itu, dia juga gadis yang pintar. Dia selalu mendapat nilai yang memuaskan di kelasnya. Ayahnya juga merupakan salah satu pengusaha sukses di Konoha, Yamanaka Inoichi. Lalu, apa yang tak dimiliki gadis itu? Satu hal yang ku tahu, dia menyukaiku. Sebentar, biar aku luruskan. Aku mengatakan ini bukan tanpa sebab. Salah satu contohnya adalah note yang diberikannya padaku selepas jam kuliah tadi. Dia begitu berani bukan, untuk ukuran seorang mahasiswa. Selain itu, selama aku mengajar, aku selalu mendapatinya begitu intens melihatku. Bukan seperti mahasiswa yang sedang memperhatikan penjelasan dosennya, namun lebih dari itu. Apa yang dicari seorang gadis muda 22 tahun flirting pada dosennya yang sudah beristri?

Itachi's pov end

Profesor muda itu tengah merapikan meja kerjanya, memasukkan barang ke dalam tasnya. Hendak pulang. Namun ketukan pintu, membuatnya terhenyak dari kegiatan yang dilakukan.

"Masuk" jawab Itachi singkat sembari memakai long coat hitamnya.

Dipersilakan, gadis pirang itu masuk. Terpana pada penampilan profesornya saat ini. Ya dia tahu, Itachi memang tampan, namun aura itu bertambah berkat long coat hitam yang bertengger di tubuh tinggi atletis pria itu. Itachi nampak bingung dengan sikap aneh gadis cantik itu.

"Ada keperluan apa, Yamanaka?" Tanya Itachi begitu melihat Ino masuk dan terbengong di depannya.

"Apa ada yang pernah mengatakan bahwa anda terlihat begitu menawan dengan pakaian itu, Profesor?" Ino melangkah mendekati Itachi yang masih diam berdiri tak mengerti.

Jarak mereka terlampau dekat. Bahkan Itachi dapat mencium harum nafas gadis itu dari tempatnya berdiri.

"Kurasa... banyak." Ino berbisik di samping wajah Itachi. Membuat nafas hangat gadis itu menggelitik leher dan telinganya. Benar-benar gila, Itachi dapat merasakan bagian bawahnya menegang. Ya, Itachi lemah apabila lehernya 'diganggu', terlebih oleh gadis muda yang begitu menggairahkan.

Gadis itu memberanikan diri mendekatkan wajahnya kepada pria tampan itu. Mengecup bibir tebal itu singkat. Itachi benar-benar tak percaya, akan tindakan Ino barusan. Namun, kenapa ia menerimanya saja dan tidak memilih untuk marah dan mengusir Ino dari ruangannya? Merasa tak mendapat penolakan, Ino mengecup kembali bibir Itachi. Menjilat bibir yang masih terkatup itu, untuk meminta akses. Runtuh sudah, pertahanan pria itu. Dengan segera, Itachi menarik tubuh Ino mendekat, menekan leher belakang gadis itu agar tak melepaskan diri. Ino begitu terkejut akan tindakan dadakan Itachi. Namun kemudian, gadis itu menyeringai. Lidah mereka saling membelit. Saliva mereka saling bertukar. Saling meraup bibir pasangannya, seakan sudah tak ada waktu lagi. Tubuh Ino terasa sangat pas dalam dekapan Itachi. Tangannya tak ingin tinggal diam, menjelajah turun bagian belakang gadis itu sampai menemukan 2 bulatan pantat yang sekal. Diremasnya gemas benda itu, membuat sang pemilik meleguh di sela cumbuan mereka. Ino dapat merasakan bagian bawah Itachi yang mengeras menyentuh bagian bawah perutnya. Terasa sangat sensual dan menggairahkan.

Namun tiba-tiba, handphone Itachi berdering. Membuat kedua insan itu dengan terpaksa melepaskan diri. Ino menyeka leleran saliva di mulutnya. Benar-benar panas.

"Ya, Shizune?"

"Apakah anda belum dalam perjalanan pulang, Uchiha-san? Kebetulan saya ada keperluan medadak di rumah sakit."

"Ah ya, saya sudah selesai dan akan segera pulang. Tolong tunggu saya sebentar lagi."

Itachi memasukkan handphonenya ke dalam tas dan meraih tas dan kunci mobilnya. Ino masih berdiri di sana. Suasana begitu canggung di antara keduanya.

"Ehem.. Yamanaka, saya harus segera pulang. Apakah kau masih ada keperluan?" Ucap Itachi di tengah kecanggungan itu.

"Y-ya, Profesor. Saya juga akan segera pulang." Ino melempar senyum pada laki-laki yang beberapa menit yang lalu mencumbunya itu.

"Baiklah, jika demikian." Itachi melangkahkan kaki panjangnya segera meninggalkan ruangan itu dan bergegas pulang.

Sesampai di rumahnya, Shizune telah selesai memandikan Anko. Harum bunga mawar menyeruak dari tubuh istrinya yang selesai dibersihkan. Shizune membungkuk dan bergegas pergi.

Itachi mendekati tubuh istrinya yang masih setia terbaring di ranjang mereka. Mengelus kepalanya sayang, dan mengecup singkat kening wanita yang entah kapan akan membuka mata. Terbesit rasa bersalah kepada istrinya terhadap apa yang baru saja dia lakukan dengan mahasiswanya. Apakah tadi dia bergairah? Ya, mungkin saja. Bagaimana tidak, apabila sudah sekian lama Anko tak sadarkan diri dan selama itu pula Itachi tak dapat memuaskan kebutuhan sexnya. Mengingat betapa besar hasrat laki-laki itu.

Itachi melepas pakaiannya kemudian bermaksud mandi. Ya, dia harus memuaskan dirinya sendiri sekarang. Bukan apa-apa, setelah terangsang seperti itu dan terpaksa harus berhenti, tentu saja sangat menyiksa bukan. Itachi meleguh di bawah guyuran shower. Tangannya bergerak cepat pada kemaluannya. Ah ya, sebentar lagi dia sampai. Namun kenapa, Itachi malah membayangkan melakukannya dengan gadis pirang itu sementara ia memuaskan diri? Ya, mungkin karena kejadian di ruangannya tadi. Ya, mungkin hanya itu, tidak ada alasan lain. Setelah selesai dengan urusannya, ia pun meneruskan aktivitas membersihkan diri sebagaimana mestinya.

--

Itachi menatap arloji mahalnya. Jam 9 pagi. Artinya masih ada waktu satu jam sebelum kelas berikutnya. Selagi menunggu, pria tampan itu sibuk membaca surat kabar elektronik di handphonenya sembari menikmati satu cangkir kopi hitam favorit. Tak berselang lama, kedamaian kegiatannya diinterupsi oleh ketukan pintu ringan.

"Ya, masuk." Pandangan Itachi tak beralih dari layar handphonenya, namun seketika ekspresinya berubah begitu mengenali wangi seseorang yang baru masuk ke ruangannya itu.

"Selamat pagi, Profesor." Tak lain dan tak bukan, Yamanaka Ino. Jangan lupakan senyum manis yang saat ini ia lemparkan kepada pria di hadapannya itu.

'Perasaanku saja, atau memang dress gadis itu terlalu pendek?'

"Ada perlu apa,Yamanaka? Bukankah kita hari ini tidak ada kelas?" Selidik Itachi.

"Ya benar, profesor. Tapi saya ingin menyampaikan hal lain. Film yang sudah lama saya tunggu tayang perdana hari ini. Bisakah profesor menemaniku menontonnya?" Pinta manja Ino.

'Gadis ini...'

"Apa aku terlihat seperti temanmu, Yamanaka?" Itachi menatap tajam gadis di hadapannya itu. Mendapat perlakuan dingin, tak membuat Ino gentar. Ino melangkah dengan percaya dirinya, dan duduk di sisi meja Itachi. Dengan jarak yang sangat dekat, Ino sedikit membungkuk dan berbisik...

"Saya tidak memaksa, Profesor. Hanya jika anda berkenan." Bisikan sensual itu menggelitiknya lagi.

Gadis itu lantas berdiri dan berojigi sebelum kemudian keluar ruangan tanpa sepatah katapun.

Itachi merasa otaknya sedikit aneh. Dia tak pernah menghadapi situasi yang seperti ini. Ya memang, tak sedikit mahasiswinya yang sekadar memberinya coklat ataupun makanan ringan, namun hanya berhenti di sini. Yamanaka Ino memang berbeda. Gadis itu lebih dari sekedar berani. Atau lebih tepatnya berpengalaman?

Namun, entah bagaimana Itachi berakhir di bangku penonton, bersebelahan dengan Ino menatap layar lebar di depannya. Itachi tak mengerti, mengapa ia tak menolak ajakan gadis muda itu. Itachi hanya merasa mungkin dia akan menyesal jika menolaknya, dan tak akan mendapatkan kesempatan yang sama. Tentu, tentu atensinya terganggu pada seseorang yang saat ini tengah asik tertawa kecil akibat salah satu adegan di film yang mereka tonton. Sumpah, Itachi benar-benar tak peduli dengan jalan ceritanya. Ada hal yang lebih menarik perhatian dan terlalu berharga untuk dilewatkan. Sadar jika dirinya tengah diperhatikan, Ino menoleh pada pria itu. Ino tak berkata apapun, hanya tersenyum tipis.

Dua manusia berbeda jenis itu tampak terburu melepaskan sepatu mereka. Ciuman-ciuman liar tercipta seketika mereka baru selangkah memasuki kamar motel itu. Ino nampak kewalahan ketika Itachi mendorongnya, mau tak mau Ino harus berjalan mundur dengan bibir yang masih saling terpaut. Kedua insan itu mendarat tepat di atas tujuan. Ranjang. Itachi menopang berat badannya dengan kedua sikunya yang sekaligus ia posisikan untuk mengungkung gadis yang nampak sudah sangat pasrah di bawahnya kini.

Tangan Ino merambat naik, dikalungkan dileher Itachi. Sementara belum ada tanda ciuman panas itu akan berakhir. Merasa terganggu, Itachi menyingkap dress ketat yang dikenakan Ino agar kaki gadis itu bisa dilebarkan. Itachi memposisikan dirinya tepat di antara kedua kaki Ino. Membuat area privat mereka saling bersentuhan di balik pakaian yang mereka kenakan. Ino meleguh. Area bawah Itachi yang sudah menonjol di balik celana panjangnya, kini bergesekan ketat dengan kemaluannya. Membuat gadis itu semakin lembab.

Karena kebutuhan akan oksigen menipis, Itachi melepaskan pagutanya. Bibir sensual itu terlihat bengkak akibat ulahnya. Ino berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya hingga membuat dadanya yang besar bergerak naik-turun seakan sedang menggoda pria di atasnya itu.

Tanpa berlama-lama, Itachi membuka resleting dress Ino dan menurunkannya sebatas perut. Itachi berpikir, gadis itu benar-benar licik. Bagaimana bisa dia mengunakan bra yang terlihat lebih kecil dari ukuran payudaranya, yang terlihat tak nyaman itu.

'Damn' Itachi mengumpat dalam hatinya.

Ya, dia mengerti. Gadis itu benar-benar ingin menggodanya. Dengan terbiasa, Itachi mencari kait bra itu di punggung Ino dan melepasnya dengan sekali gerakan. Payudara Ino seakan tumpah dan merasa senang telah dibebaskan dari belitan bra yang sama sekali bukan ukuran aslinya itu.

Itachi benar-benar terpana dengan kecantikan Ino. Ditambah dengan kondisi gadis itu yang saat ini benar-benar hampir telanjang bulat. Kulit seputih susunya yang terdapat semburat samar warna pink-kemerahan, dan lagi kilau keringat dari aktifitas panas sebelumnya, membuat Itachi benar-benar tak dapat berpikir logis.

Spontan Ino mencoba menutupi dadanya yang terekspos dengan kedua tangannya, namun Itachi melarangnya.

"Jangan.. Biar aku lihat keindahanmu." Bisik Itachi seduktif. Suara maskulin pria itu yang seperti bertambah berat karena hasrat, benar-benar terdengar sangat seksi di telinga Ino. Bagian bawah perutnya benar-benar gatal sekarang.

Itachi meremas gemas dua payudara bulat Ino yang seakan mengundangnya. Puncaknya benar-benar sudah tegang sekarang. Dengan ahlinya, Itachi bermain di area itu. Membuat sang pemilik tak dapat berhenti meleguh.

"Ah... Ouh..." Itachi benar-benar membuat Ino basah. Bagaimana tidak, di saat bibir dan tangan pria itu mengeksplorasi bagian atas tubuhnya, sementara Itachi dengan sengajak menggesekkan kejantanannya yang sudah sangat keras ke celana dalam Ino yang sudah sangat basah.

Tak sabar, Ino menangkup wajah Itachi agar menatapnya.

"Tolong profesor. Ah. Aku tak bisa menunggu." Pinta Ino frustasi. Itachi hanya menyeringai tipis.

"Ne, Ino. Haruskah ku turuti semua kemauanmu?" Itachi menyentuh tangan Ino yang masih bertengger di pipinya. Mencium jemari lentik gadis itu, kemudian mengulumnya. Itachi benar-benar pria yang sudah sangat ahli dalam sex. Ia tahu bagaimana cara merangsang pasangannya berkali-kali lipat dan membuatnya merintih dan memohon agar segera dihujami penis besarnya. Ya, baginya itu sangat menyenangkan.

Ino mendesah frustasi. Sepertinya ini tidak akan berlangsung singkat.

Itachi menarik lepas satu-satunya kain yang menutupi tubuh Ino. Gadis itu benar-benar tahu cara merawat diri. Bagian kewanitaannya begitu bersih tanpa bulu dan terlihat merah merona. Itachi benar-benar tak tahan untuk tak mencicipi rasa dari gadis itu.

Itachi seketika menurunkan kepalanya dan mengecupi area genital gadis itu. Ah, gila. Ino serasa melayang. Lidah Itachi serasa menusuk-nusuk vaginanya.

"Aaah... Profesor... Aku . Aah.." Itachi menjiat habis cairan yang dilepaskan gadis itu.

Ino terengah-engah akibat pelepasannya yang terasa begtu luar biasa. Itachi dengan tak sabar, melepas seluruh pakaiannya yang masih lengkap. Menampilkan tubuh kekar atletisnya. Ino tahu Itachi bertubuh tegap dengan bahu yang lebar. Namun ia tak menyangka laki-laki itu seseksi ini. Pandangan Ino turun ke arah pangkal paha Itachi. Lagi-lagi, Ino membulatkan matanya. Begitu besar, keras dan tegak. Ino menelan ludahnya susah payah. Sedikit takut, namun sudah kepalang tanggung.

Ino menjulurkan tangannya bermaksud hendak memuaskan Itachi. Namun, Itachi melarangnya.

"Tidak ada pergerakan nona." Itachi mengunci kedua tangan Ino di atas kepala gadis itu, membuatnya tidur telentang tak berdaya.

Dengan satu tangannya yang menganggur Itachi mencoba memasuki Ino. Di luar dugaan. Itachi merasakan sesuatu yang menghalangi jalannya. Yamanaka Ino masih perawan! Dugaan Itachi meleset. Ia mengira bahwa Ino adalah tipikal gadis yang terbiasa akan sex, mengingat bagaimana beraninya tingkah gadis itu.

Ino memejamkan mata, menahan sedikit rasa nyeri di vaginanya yang sebentar lagi akan ditembus Itachi.

"Yamanaka..."

"Teruskan saja, Profesor." Mendapat izin dari Ino, Itachi mendorong penisnya agar segera masuk sepenuhnya, supaya tak menyakiti gadis itu lebih lama.

"Ahhh..." Desah Itachi dan Ino akibat penyatuan mereka. Itachi melihat sedikit darah yang keluar dari tempat yang baru saja ia masuki itu. Dinding-dinding vagina Ino terasa begitu ketat dan semakin mencengkram penisnya. Pria itu benar-benar tak tahan lagi. Itachi harus segera bertindak atau game over begitu saja.

Itachi bergerak dengan perlahan. Gesekan-gesekan di dalam sana begitu menggairahkan. Ino tak hentinya mendesah dibawah permainan laki-laki yang terpaut usia 18 tahun dengannya. Berapapun itu, Ino tak perduli.

"Ahh.. profesor... Faster.. ahh."

"Yamanaka.. ugh.."

Itachi tak sempat mengeluarkan penisnya dan menyelesaikannya di dalam Ino. Tubuhnya ambruk di atas gadis itu.

"Maaf..." Ucap Itachi lirih.

" Hmm? Untuk?" Ino menyisipkan rambut Itachi ke belakang telinga pria itu, agar lebih leluasa memandangi wajah tampan profesornya.

"Aku mengeluarkannya di dalammu."

"Hahah. Tak masalah profesor. Saya aman..." Ino trsenyum tipis mendapati Itachi tertidur di atasnya. Dengan perlahan, Ino mengeluarkan penis Itachi yang masih di dalamnya.

"Ugh..." Ino dengan spontan menutup mulutnya, sensasi dua kemaluan yang saling bergesekan itu membuatnya terangsang lagi. Sial!

Dengan perlahan, Ino membaringkan Itachi di sebelahnya. Mengamati pahatan sempurna wajah pria itu. Otot-ototnya terlihat sangat kuat dan keras. Pandanga Ino lagi-lagi tertuju pada bagian bawah laki-laki itu. Mesti tak tegak, namun terlihat besar dan tebal.

'Ck! Stop Ino!' ino meneriaki dirinya sendiri. Lalu gadis itu mengambil selimut yang terlempar di lantai dan menutupi tubuh mereka berdua dan beringsut ke dalam lengan Itachi yang kokoh. Rasanya benar-benar nyaman, pikir gadis itu.