Warning : Cerita absurd, mature-content, dibawah umur jangan masuk!
.
.
.
Malam semakin larut, cahaya bulan masih nampak terang menembus jendela besar yang tirainya sengaja tak ditutup itu. Kesunyian itu nampak kontras dengan suara-suara yang dihasilkan oleh kegiatan dua orang manusia yang tengah sibuk merengkuh kenikmatan duniawi.
Kedua insan itu masih betah bergulat dan berbagi cumbuan seiring dengan semakin panasnya suhu tubuh.
Rambut pirang panjang manusia di bawahnya nampak lusuh, menandakan betapa liarnya kegiatan keduanya kini.
Sang pria, dengan masih tak sabarannya menghujamkan kemaluannya pada si wanita pirang. Membuat si pirang tak kuasa menahan desahannya akibat desakan penis yang terasa berdenyut-denyut di dalam kemaluannya.
"Ahn... Sasuke... Ah..."
"Aku sampai, Ino. Aahh..."
Kedua tubuh yang bertaut itu menegang, merasakan pelepasan yang luar biasa nikmat. Sampai...
Tring... tring... tring...
"Akh... sial..." Ino hanya dapat menggumamkan kalimat serapahan itu ketika dirinya tersadar dari mimpi mesumnya. Bukan satu atau dua kali, tapi sering!
Ya, Uchiha Sasuke, nama pria yang menjadi aktor di mimpi mesum Ino. Uchiha Sasuke merupakan atasan Ino di kantornya. Bisa dibilang Sasuke juga merupakan pemilik dari Uchiha Corp, dan adik dari Uchiha Itachi, CEO perusahaan mentereng itu.
Beruntung saja, berkat otaknya yang lumayan pintar, membuat Ino dapat bekerja di Uchiha Corp, bersaing dengan ribuan pelamar lainnya.
Kesan pertamanya terhadap Sasuke bukanlah suatu hal yang positif. Ino dapat melihat Sasuke adalah orang yang dingin, irit bicara, perfeksionis dan cenderung angkuh.
Ya, paling tidak sikapnya itu dapat dimaklumi berkat visual dan uang Uchiha.
Ino sangat lemah terhadap pria tampan. Bisa dibilang Ino dapat mudah jatuh cinta dengan paras rumawan. Namun, sering kali terjadi, ketika seorang laki-laki incaran Ino menunjukkan ketertarikan yang sama, Ino malah berubah tak menyukainya lagi.
Meski dengan kebiasaannya itu, di umurnya yang menginjak 26 tahun, Ino masihlah seorang virgin. Bisa dibilang Ino pro di 'teori'nya, namun payah dalam pelaksanaannya.
Tentu, tentu saja fisik Ino sangatlah menarik. Dengan tinggi 170cm, kaki ramping, dada berisi dan pinggang yang kecil. Cukup membuat para wanita iri. Paras Ino yang mungil, dengan bibir tebal sensual ditambah lagi dengan rambut pirang panjangnya, membuat Ino tak nampak seperti orang Jepang asli.
Ino memiliki pengalaman menjalin hubungan beberapa kali. Namun dari sekian itu, Ino terkesan seperti seorang gadis yang ingin mempermainkan pasangannya. Ino sangat hobi menggoda kekasihnya, namun ketika si laki-laki sudah 'jatuh', Ino akan merasa bosan dan berakhir memutuskan hubungannya. Tentu tidak ada perpisahan baik-baik di dalam kamus Ino. Bahkan adapula laki-laki yang sampai ingin mencelakai Ino akibat sakit hati. Agak berlebihan memang, namun bukankah kadang cinta itu membuatmu tak rasional?
Setelah kejadian tak mengenakkan yang pernah ia alami, Ino tak pernah memiliki kekasih lagi. Baginya, berurusan dengan laki-laki dalam sebuah hubungan sangat merepotkan. Apalagi tak jarang si laki-laki akan terlalu posesif terhadapnya.
Namun kali ini berbeda. Uchiha Sasuke sempat membuatnya berpikir kembali untuk menjalin hubungan dengan seorang pria. Terlepas dari paras dan uang pria itu, namun entah mengapa Ino merasa seperti tak bisa berpaling darinya. Tak dapat ditampik oleh Ino, bahkan ia bisa saja 'basah' hanya dengan melihat Sasuke yang tak sengaja menggulung lengan kemejanya sebatas siku, atau ketika Sasuke tengah fokus dengan dokumen-dokumen penting itu sembari mengenakan kacamatanya.
Namun nampaknya Sasuke tak tertarik padanya. Sikapnya terlalu datar dan biasa terhadap Ino. Ya, mungkin saja Sasuke telah memiliki pasangan yang seratus kali lebih cantik dan kaya raya. Misalnya Hinata Hyugaa, pewaris Hyugaa Corp, atau Sakura Haruno dari Haruno corp, Selebritis seperti Shion juga memungkinkan.
Ino tak berharap lebih, Ino bahkan tak berani untuk berandai dapat menjalin hubungan dengan Sasuke.
Sasuke merupakan anak bungsu keluarga Uchiha, dimana Uchiha Itachi, si sulung menduduki kursi CEO perusahaan. Sedangkan, Sasuke menjabat sebagai Direktur Marketing dan Operasional, dimana Ino bekerja sebagai staff marketing biasa/ bawahan Sasuke. Tentu saja Ino bukanlah siapa-siapa dibanding anak dari konglomerat lainnya, kolega Klan Uchiha.
Ino tak merasa kecewa dengan hal itu. Dapat bekerja di perusahaan besar dengan penghasilan yang sudah sangat lebih dari cukup untuk hidupnya saja sudah bersyukur. Wanita itu cukup tahu posisinya. Sebagai wanita muda tentu normal saja apabila dia mengagumi atasannya yang kaya dan tampan. Hanya sekedar mengagumi, tidak bermaksud memiliki.
Hubungan antara dua orang kaya dan miskin hanya terjadi di fiksi, nyatanya tak banyak terjadi di dunia nyata.
Ino mematut dirinya di depan cermin, tersenyum tipis akibat tampilannya yang sempurna. Perfect. Setelan hitam memang favorit Ino. Kulit putih bersihnya dapat terlihat kontras dalam balutan pakaian hitam.
Ino bergegas agar tidak terlambat menunggu bus untuk pergi ke stasiun. Meskipun saldo rekening Ino sudah cukup hanya untuk sekedar membeli mobil, namun ia tahan. Ia lebih suka menghabiskan uangnya untuk fashion atau makanan.
Seperti biasa, kereta bawah tanah merupakan andalan kebanyakan orang Jepang untuk pergi bekerja. Ino sudah terbiasa dengan situasi itu. Itulah mengapa wanita itu selalu siap sedia dengan parfum di tas kerjanya. You know, right?
Ino berdiri dengan tidak nyaman, entah dia kurang yakin namun Ino merasa seperti ada yang menyentuh bagian bokongnya. Ino masih berprasangka baik bahwa itu adalah tas penumpang lain. Namun wanita itu merasa semakin kurang nyaman ketika sentuhan itu terasa semakin menjadi. Tentu ini bukanlah sebuah tas, melainkan tangan seseorang!
"Jauhkan tanganmu selagi saya masih memintanya baik-baik." Suara seorang laki-laki di samping Ino terdengar jelas dalam situasi kereta yang tenang. Ino otomatis menoleh ke pria di belakangnya, yang diteriaki oleh laki-laki tersebut.
"A-apa m-maksudmu?!" Pemuda yang nampak grogi itu berusaha membela diri.
"Hei, kau masih muda, tolong bersikaplah yang sopan dan berhenti menyerang wanita di dalam kereta." Jawab laki-laki di samping Ino.
Ino sadar, sepertinya memang pemuda yang ada di belakang Ino yang telah dengan sengaja menyentuh area belakangnya. Belum sempat Ino mengeluarkan sumpah serapahnya, kereta telah berhenti di pemberhentian pertama. Sontak beberapa orang keluar dan pemuda itu berlari keluar kereta.
"Heiii jangan lari kau!" Sontak laki-laki itu hendak mengejarnya, namun Ino menahan.
"Ah tidak perlu dikejar tuan. Sepertinya pemuda itu memang penjahat kambuhan. Dan juga, sepertinya anda sedang akan menuju ke tempat kerja."
"Oh ya baiklah nona. Apakah anda baik-baik saja?" Laki-laki itu terdengar mencemaskan Ino.
Ino memberanikan diri mendongak menatap lawan bicaranya. A-apa ini? Kenapa laki-laki ini mirip Uchiha?
"Nona?"
"Ah ya tuan, saya baik-baik saja. Maaf jika lancang, apakah anda seorang Uchiha?"
"Sepertinya fisik seorang Uchiha tidak bisa disembunyikan lagi ya." Laki-laki itu tersenyum manis, Ino merasakan hangat di sekitar pipinya.
"Jangan mulai lagi kau Ino!" Batin Ino menjerit.
"Perkenalkan nama saya Uchiha Obito." Laki-laki bernama Obito itu menawarkan tangannya. Tanpa berlama-lama Ino balas menjabat.
"Nama saya Yamanaka Ino." Obito tersenyum, lalu dengan terburu Ino melepaskan jabatannya.
"Salam kenal Obito-san dan maaf saya harus turun di stasiun ini. Terima kasih untuk pertolongannya." Ino dengan tergesa turun dari kereta. Obito tak sempat mengucapkan apapun hanya menatap Ino yang berjalan menjauh.
Ino mengigiti ujunh bolpennya sembari membaca dokumen-dokumen yang harus ia selesaikan. tepukan kecil di bahu Ino cukup membuatnya kaget.
"Sialan kau Temari" seketika Ino memberikan death glare kepada Temari yang dengan sengaja membuatnya kaget.
"Ehehe gomen ne Ino-chan? Sudah tahu hot news?" Ino mendengus. Ya Temari memang sangat suka bergosip.
"Ini serius Ino. Hari ini Uchiha Sasuke pindah divisi. Dan katanya divisi kita diganti direktur baru pindahan dari anak cabang Uchiha Corp di Suna. Kau tak tahu kan?" Cerocos Temari. Berbeda dari topik-topik gosip Temari lainnya, berita ini cukup menarik perhatian Ino.
"A-apa?! Pindah divisi?" Tanya Ino tak percaya.
Sial... Memang Ino harus berhenti menganggumi Uchiha Sasuke. Ino sudah cukup dengan hanya meliht Sasuke melalui bilik ruangannya. Namun apalagi ini? Pindah divisi? Itulah mengapa ruangan Sasuke kosong pagi ini.
"Pindah ke divisi mana?" Ino nampak penasaran.
"Heheyy... Nampaknya kau cukup tertarik Ino. Kudengar akan naik jabatan Direktur Utama. Memang sebarusnya kan Ino?" Perkataan Temari ada benarnya. Sudah sangat bisa ditebak hal ini akan terjadi. Sasuke adalah anak pemilik perusahaan dan tentu sudah sangat wajar akan menduduki posisi itu.
"Ku dengar juga, pengganti Uchiha Sasuke juga seorang Uchiha tampan, huaa... Memang ya gen Uchiha tak pernah gagal!" Ucap Temari semangat. Ino diam tak merespon.
"Hei Ino jangan bersedih. Kau tak akan kecewa divisi kita memang kehilangan orang tampan, namun langsung diisi dengan orang tampan lainnya. Tak perlu khawatir Ino. Lebih baik kita bersiap untuk menyambut pemimpin divisi kita yang baru." Ino mengikuti Temari dengan langkah yang sedikit tak bernyawa. Yah, ia harus tetap terima. Uchiha Sasuke semakin jauh dari pandangannya.
Para anggota tim marketing berjejer di pintu ruangan untuk menyambut direktur baru mereka. Berbeda dengan Temari dan anggota lain, Ino nampak tak bersemangat. Pandangannya hanya menatap pada lantai di bawahnya.
"Selamat pagi, oh apakah harusnya selamat siang ya?" Ucap seseorang yang baru memasuki ruangan tim.
Semua anggota tertawa kecil, kecuali Ino. Menyadari hal itu, Temari menyikut kecil lengan Ino agar wanita itu fokus.
Ino terkejut melihat siapa yang baru saja memasuki ruangan mereka, yang artinya adalah direktur baru mereka, yaitu Uchiha Obito, laki-laki yang menyelamatkannya pagi ini di kereta. Tak perlu waktu lama Obito mengenali Ino.
"Ah, Nona yamanaka?" Para staf menatap bingung ke arah Ino dan Obito, menyadari bahwa mereka saling mengenal.
"Iya, Uchiha-san." Ino lantas berojigi.
"Anda mengenal Yamanaka Ino, Uchiha-san?" Temari tak ragu bertanya.
"Sebenarnya saya hanya bertemu nona Yamanaka pagi ini di kereta. Ada suatu insiden kecil. Dan juga karna saya baru dengan wilayah konoha, maka dari itu saya salah turun stasiun dan berakhir telat." Jelas Obito.
"Sebelumnya perkenalkan, saya Uchiha Obito pindahan dari anak cabang Uchiha Corp di Suna. Di sini saya akan ditugaskan sebagai direktur marketing dan operasional Uchiha Corp Konoha. Mari kita semua bekerja sama dengan baik!" Jelas Obito.
Para staf menyambut dan bertepuk tangan meriah atas kedatangan direktur tampan tersebut.
Tiba waktunya di jam makan siang. Namun Ino nampak masih betah di depan komputernya.
"Hei Ino, mari ke food court bersama. Aku yang traktir! Kebetulan kemarin Shikamaru memberikanku kartu kreditnya!" Ajak Temari bersemangat.
"Kau saja Temari. Aku sedang diet." Tolak Ino
"Cih... menyebalkan. Ya sudah. Aku pergi ne Ino." Temari bergegas mengambil tasnya dan keluar ruangan.
Ino mengeluarkan kotak bekalnya. Melahap sayuran yang ia persiapkan tadi pagi. Tentu saja, makanan tersebut tidak se-enak makanan di food court Uchiha Corp, namun Ino adalah tipikal wanita yang harus berdiet bahkan ketika angka timbangan naik 1 kilo.
Obito yang masih di dalam ruangannya, menghampiri Ino.
"Nona Yamanaka, kau tidak pergi dengan yang lain?" Tentu pertanyaan retoris, yang mana jawabannya sudah sangat jelas.
"Ano... tidak Uchiha-san. Saya membawa makanan saya sendiri." Ino sedikit malu. Tentu saja hari ini mereka kedatangan orang baru, yang mana masih awam dengan situasi mereka. Berbeda ketika Sasuke masih menjadi atasannya. Sasuke tak akan pernah peduli dengan apa yang ia lakukan.
"Kau sedang berdiet? Haha. Apakah sebenarnya itu perlu?" Obito tersenyum tipis. Pertanyaan Obito memang masuk akal. Ino bukanlah wanita dengan figur kelebihan berat badan, malah fisik Ino terlampau langsing dan bagus.
"Itu..."
"Oh hei Obito. Lama tak bertemu ya!" Belum sempat Ino menyelesaikan kalimatnya, seseorang masuk menghampiri mereka.
"Sasuke... apa kabar? Maaf tadi tidak sempat menemuimu karena aku sendiri pun terlambat. Haha." Kedua pria tampan itu saling berbagi rangkulan.
"Bagaimana jika kita makan siang bersama? Ah aku juga akan mengambil beberapa barangku yang masih tertinggal. Sebentar ya ku ambil dulu." Sasuke menambahkan.
Obito sebenarnya tak mau pergi. Entah mengapa ia lebih memilih untuk bersama Ino.
"Ayo Obito. Akan ku tunjukkan padamu menu andalan food court Uchiha." Sasuke mengajak, setelah mengambil beberapa barangnya di meja Obito.
Sasuke paham atas pandangan Obito terhadap Ino.
"Kau bisa ikut juga Yamanaka." Ino sedikit terhenyak, mendengar kalimat itu dari mulut Sasuke.
"E-e.. tidak perlu Uchiha-san, kebetulan saya sudah membawa makanan saya sendiri." Sasuke hanya mengangguk.
"Ayo Obito, tunggu apa lagi?" Sasuke mengulangi ajakannya.
"Baiklah Sasuke." Kedua pria tampan itu kemudian pergi meninggalkan Ino sendiri di ruangan.
Sasuke's pov
Jam makan siang sudah tiba, ku dengar Obito yang menggantikanku di divisi marketing. Sudah lama aku tak bertemu dengannya. Obito adalah sepupuku. Sebelumnya dia bekerja di Uchicha Corp Suna. Dengan cara seperti ini, kami dapat saling bertemu kembali. Tentu saja karena kami sangat sibuk, waktu untuk hangout bersama pun tak punya.
Dengan santai aku melangkah menuju ruangan tim marketing. Kupikir semua staf sudah pergi, namun Obito masih bersama seseorang di sana. Ya, Yamanaka Ino. Ah, jangan dulu. Kuputuskan untuk menonton mereka sejenak. Apa ini? Bukankah sangat jelas jika Obito tertarik kepada Yamanaka? Aku sudah kenal Obito sejak kecil tentu aku sangat paham segala perilakunya. Obito memang orang yang baik dan ramah, namun tak banyak berbasa-basi. Entah mengapa, aku tak suka momen ini. Secepat mungkin aku harus menginterupsi mereka.
"Oh hei Obito. Lama tak bertemu ya!" Ku jabat dan ku rangkul Obito. Diam-diam aku melirik ke arah Ino yang hanya menundukkan pandangannya. Apa? Dia tak ingin melihatku ya? Kenapa dengan Obito dia berani bertatap muka sedangkn denganku tidak?
"Sasuke... apa kabar? Maaf tadi tidak sempat menemuimu karena aku sendiri pun terlambat. Haha."
"Bagaimana jika kita makan siang bersama? Ah aku juga akan mengambil beberapa barangku yang masih tertinggal. Sebentar ya ku ambil dulu."
Aku menuju meja kerja Obito untuk mengambil beberapa figura kecil tak penting hanya untuk mengawasi Ino. Sebab ruangan direktur dan meja Ino saling berhadapan hanya jeda satu lapisan kaca. Aku berada di depanmu Ino, tapi kau tak melihatku sama sekali, malah memilih untuk mengobrol dengan Obito. Ah gadis itu benar-benar menyebalkan.
"Ayo Obito. Akan ku tunjukkan padamu menu andalan food court Uchiha." Obito tak kunjung mengikutiku, malah menatap penuh arti pada Ino. Ya, mungkin mengajak Ino bersama kami bukan ide buruk. Toh ada Obito, jadi aku tak akan canggung dan dicap yang tidak-tidak.
"Kau bisa ikut juga Yamanaka." Yash, kali ini pasti berhasil. Ino mendongak merespon perkataanku.
"E-e.. tidak perlu Uchiha-san, kebetulan saya sudah membawa makanan saya sendiri." Sial. Apa yang ada di pikiran gadis ini? Mungkin semua staf yang ada di sini akan menunggu kesempatan ini, namun apa? Dia menolak? Sial. Aku sangat kesal!
"Ayo Obito, tunggu apa lagi?" Aku berbalik memunggungi Obito dan Ino. Aku tak dapat menyembunyikan lagi moodku yang jelek.
"Baiklah Sasuke."
Ya, Yamanaka Ino. Gadis itu. Entah ia mengingatku atau tidak. Pertama kali aku bertemu dengannya sudah sangat lama. Ketika kami masih berusia sekitar 5 atau 6 tahun. Waktu itu kami bertemu di taman depan sekolahku. Saat itu aku sedang menunggu ayahku datang menjemput. Dan Ino juga duduk di bangku sebelahku menunggu ayahnya. Kami tidak satu sekolah, bahkan aku tidak tahu saat itu ia tinggal dimana.
20 tahun lalu.
Flashback
Sasuke kecil dengan sabar menunggu ayahnya sembari duduk di bangku panjang di taman depan sekolahnya. Ayahnya berpesan untuk selalu menunggunya di sana. Sasuke memakan satu demi satu coklat yang ia pegang sedari tadi. Namun tiba-tiba anak perempuan kecil berambut pirang duduk di sebelahnya. Kedua anak kecil itu lantas bertemu pandang. Sasuke tersenyum terlebih dahulu padanya. Menawarkan beberapa butir coklat yang ia pegang. Namun gadis itu hanya menggeleng lemah.
"Namamu siapa?" Bocah laki-laki itu mencoba membuka percakapan.
"Y-yamanaka Ino. Kau?"
"Aku Uchiha Sasuke. Sedang apa kau disini?" Sasuke nampak lebih aktif dan penasaran dengan bocah perempuan itu.
"Aku sedang menunggu ayahku membeli es krim di sana." Ino menunjuk arah satu toko kecil di dekat mereka. Sasuke menyipitkan pandangannya, setahunya toko itu bukanlah toko yang menjual makanan, melainkan toko baju. Ketika hendak memastikan, mobil ayahnya berhenti tepat di depannya.
"Sasuke. Maaf ayah telat lagi." Pria dengan setelan rapi turun dari mobil itu.
"Iya ayah, tidak apa-apa. Tapi, apa kita bisa menunggu sebentar lagi? Ino sedang menunggu ayahnya di sini, bisakah kita menemaninya?" Ucap Sasuke kecil.
Fugaku hanya menatap anak kecil perempuan di samping Sasuke. Sebenarnya ia tak tega, namun ada meeting penting yang harus ia hadiri, apalagi Uchiha Corp sedang dalam proses berkembang.
"Maafkan ayah, Sasuke. Tapi ayah ada urusan penting yang mendadak. Kita tak bisa membuang waktu." Fugaku mengelus sayang kepala anaknya itu.
Fugaku lantas menggandeng tangan mungil anaknya itu untuk segera memasuki mobil. Sasuke terus menoleh ke belakang menatap Ino kecil yang juga tengah menatapnya. Meskipun baru mengenal, Sasuke merasa tidak tega. Dan lagi, perkataan Ino yang sedang menunggu ayahnya membeli es krim di toko pakaian, membuatnya merasa semakin bingung. Sasuke kecil yang pintar, merasa hal tersebut tidaklah benar.
Flashback end
Sejak itu, aku terus memikirkan Ino. Apakah Ino bertemu dengan ayahnya? Apa dia baik-baik saja? Namun semenjak hari itu, aku tak pernah melihatnya lagi. Sampai 18 tahun kemudian, Ino mendaftar di perusahaan ayah.
Tentu, marga yamanaka dan nama Ino sangatlah lumrah di Jepang. Namun, firasatku mengatakan jika dia Ino, gadis kecil pirang yang dulu bertemu denganku di taman.
Benar saja. Aku bertemu dengannya ketika hari pertamanya bekerja. Rambut pirang dan mata biru itu. Aku sangat mengingatnya. Apakah dia juga mengingatku? Nyatanya tidak. Dia melewatiku begitu saja. Aku tersenyum sinis mengingatnya. Apakah selama ini hanya aku yang memikirkannya?
Aku berusaha meyakinkan ayah untuk menempatkanku di bagian marketing, dimana gadis itu ditempatkan. Awalnya, ayah sangat menentang keras permintaanku ini. Namun, akhirnya Itachi dapat menyakinkan ayah dan mengizinkanku di divisi itu.
Sebisa mungkin aku bersikap sangat tidak peduli terhadap Ino. Sebisa mungkin aku menahan tubuhku untuk mendekatinya dan berteriak jika aku adalah anak laki-laki di bangku taman itu. Tapi untuk apa? Bukankah hal itu malah akan membuatku tak memiliki harga diri?
Sampai 2 tahun sudah aku berada di divisi itu. Membuatku semakin terbiasa dan tidak lagi memikirkan Ino. Gadis itu juga tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mengenalku atau bahkan ingin dekat denganku.
Ah ya, mungkin ego Uchiha ku ini yang membuatku gengsi untuk sekedar menyapanya terlebih dahulu. Tentu aku sangat ingin dekat dengannya.
Satu hal yang masih aku ingat dari Ino yang dulu, rona pipi kemerahannya yang masih ada hingga sekarang. Membuatku tak tahan untuk sekedar mencubitnya atau... menciumnya? Ah.. tidak.. tidak.. kendalikan dirimu Sasuke.
Sampai pada masanya, rencana perjodohanku dengan putri bungsu Hyuuga Corp, sama seperti Itachi dulu dijodohkan dengan Shizune. Memang kabar perjodohanku masih tersimpan rapi dari media. Ayah memberiku kelonggaran 3 bulan untuk mengenalkan pasanganku kepada keluarga besar Uchiha, atau jika tidak, perjodohan itu akan benar adanya.
Aku benar-benar tidak memiliki kekasih. Tentu banyak wanita di luar sana yang menunjukkan minatnya padaku, namun entah mengapa jawaban hatiku tetaplah Ino.
Akupun juga tidak bisa berharap banyak padanya. Ino sama sekali tak menunjukkan rasa tertariknya padaku. Andai satu langkah saja dia mendekatiku, ku pastikan aku akan balik mengejarnya. Di lain itu, aku tak yakin jika Ino akan di terima oleh Uchiha. Menikah dengan seseorang dengan marga besar dan sukses adalah salah satu syarat yang di keluarga kami. Dan dengan Ino... aku tak yakin.. akupun tak tahu bagaimana keluarga Ino kini.
Sasuke's pov end
TO BE CONTINUE. . .
Holaa...
I'm back with a new story..
So sad, karena belum bisa merampungkan cerita sebelumnya. Karena beberapa bulan ini aku sibuk untuk menyelesaikan studiku dan akhirnya aku lulus. Hehe!
Untuk cerita ini, I really sorry kalo ada company structure yang ga jelas. Karena akupun gak tahu menahu tentang itu ya guys. Tolong dimaafkan
Hope you enjoy this fre*k story!! Bye bye.
I'll be back soon at the next chap!! Thank U
