EVERYTHING

.

.

Warning: Mature Content

Tidak diperuntukkan untuk underage

Skiittt…

Sebuah mobil SUV oranye cerah milik Deidara melaju secara ugal-ugalan di jalanan yang syukurnya tak begitu ramai. Dengan mudahnya, ia memutar kemudinya menghindari mobil-mobil di depannya yang tentu diiringi dengan umpatan-umpatan kasar dari para pemilik mobil itu.

Jika menyangkut temannya, Itachi, tentu ia tak kan main-main.

Setelah mendapatkan petunjuk dari Shino, Deidara bergegas menghubungi antek-anteknya untuk berangkat ke Suna. Mungkin bila perlu, ia akan melibatkan polisi nantinya. Deidara memang bukan warga sipil yang taat, namun setidaknya biarlah para pegawai pemerintah itu bekerja sebagai mana mereka dibayar.

Ino. Awalnya Deidara tak ingin memberitahu kekasih gelap Itachi itu, tapi ia tak ingin nantinya disalahkan. Ia memberi pesan pada Ino agar berhati-hati dan tak sendirian, siapa tahu nantinya Ino juga cukup berguna di sana.

Dengan senyum yang sumringah, Sasori bersenandung kecil menuju ke kamar Itachi. Memainkan kunci kamar itu dengan gembira, karna akan bertemu dengan orang yang ia rindukan.

Cklek.. cklek..

Itachi menoleh. Was was. Atensinya tertuju pada pintu kamar yang perlahan terbuka. Sasori.

"Wah.. apa ini?" Sasori berseringai melihat baju-baju mahal yang ia berikan berserakan di lantai.

Sasori menginjaknya begitu saja, melewatinya dan mendekati Itachi yang masih terduduk di pinggir ranjang, terdiam.

Dengan kasar, Sasori menarik rambut Itachi hingga pria itu menengadah.

"Akh!"

"Apa kamu mencoba berbuat semaumu karena aku masih berbaik hati padamu, hm?"

"Bunuh aku, Sasori." Itachi mencoba untuk memprovokasi pria merah itu.

"ng? Ha? Hahahahaha… Tentu Itachi. Tentu, jika memang itu yang kau mau!" Plak! Sasori menampar keras pipi Itachi hingga ujung bibir pria itu robek.

Tak cukup sampai disitu, Sasori menendang perut Itachi ketika pria itu jatuh terjerembab di lantai.

"Uhuk! Uhuk!" Itachi muntah. Ah, rasanya benar-benar menyakitkan.

Sasori menarik rambut Itachi kembali. Ekspresinya benar-benar bak psikopat sekarang.

"Benar. Pada akhirnya aku akan membunuhmu Itachi. Tapi tidak sekarang. Mungkin saja, aku akan merubah pikiranku jika kamu mau hidup denganku."

"CIh! Tidak akan pernah!" Dengan sekuat tenaga, Itachi bangkit meraih vas bunga di sampingnya dan memukul kepala Sasori hingga pemuda itu terjatuh. Tanpa berlama-lama, Itachi membuka rantai di kakinya yang ternyata sudah tak terkunci itu, dan lari sekuat tenaga.

"Brengsek!" Sasori menyeka darah yang berleleran di kepalanya. Ia hendak berdiri namun ambruk, kepalanya terasa sangat pening. Sasori meraih handphonenya dengan tak sabaran.

"Tangkap bedebah itu, dan bawa dia ke hadapanku!" Dengan marah, Sasori melempar handphone mahalnya itu entah kemana.

Pagi ini, sebelum Sasori tiba setelah perjalanan bisnisnya, seperti biasa Nagato membawakan makanan untuk Itachi. Tak seperti biasanya, kali ini Itachi seakan memang menunggu Nagato datang.

Nagato berojigi, baru kali ini ia bertemu pandang dengan Itachi setelah beberapa waktu menyiapkan keperluan laki-laki itu. Apa Itachi sudah mulai mencoba menerima?

"Nagato-san, sebenarnya ada yang ingin ku katakan padamu." Nagato mengangguk, menghampiri Itachi dan duduk bersiap mendengarkan apa yang akan pria itu katakan.

"Silakan, Itachi-san."

"Seperti yang kau lihat, rambutku sudah mulai memanjang. Aku tak nyaman dengan itu. Bolehkah aku meminta penjepit rambut padamu? Aku.. aku tak ingin memangkasnya untuk sementara waktu." Sial! Nampaknya Nagato sadar apa tujuannya meminta penjepit itu.

"Tidak." Nagato benar-benar seperti orang yang tanpa ekspresi.

"Baiklah. Aku akan jujur saja padamu. Mungkin kau tahu maksudku ingin membuka rantai sialan ini. Tapi aku berjanji padamu, aku hanya ingin melepasnya sementara. Kau tahu, aku sangat tidak nyaman menggunakan ini. Lagipula kau selalu mengunci pintu itu, aku tak akan bisa kabur!" Itachi bak kehabisan akal sekarang. Tentu saja Nagato bukanlah orang bodoh. Pria itu berdiri dari duduknya. Sekali lagi berojigi pada Itachi.

"Saya permisi." Itachi benar-benar kesal.

"Kau! Orang sepertimu memang patut menjadi anjing psikopat itu! Kalian sama-sama gila! Yang tak enggan menginjak-injak hidup orang lain demi kepuasan kalian sendiri! Dasar bajingan!" Nagato sama sekali tak menoleh. Ia menutup kembali pintu itu dan menguncinya.

Tidak. Itachi salah. Nagato melakukan ini bukan karena ia mau. Ia berhutang kepada Sasori karena telah menyelamatkan nyawanya. Walaupun ia tahu, Sasori melakukan itu bukan karena ia baik. Pada dasarnya, Sasori mencari anjing malang yang kesepian untuk ia rawat. Bukankah mereka akan patuh dan setia pada tuannya?

Nagato sudah tak memiliki siapapun. Ia mengenal Sasori sudah cukup lama, hampir 10 tahun lamanya. Tak ada lagi tempat tujuan untuknya, selain pria itu.

Sejujurnya Nagato sama sekali tak membenarkan perbuatan Sasori pada Itachi. Namun tak ada yang bisa dia lakukan selain menuruti perintah tuannya.

Nagato meletakkan nampan yang ia bawa. Ia membuka laci meja nakasnya mencari-cari sesuatu. Sebuah peniti. Ia tahu Itachi memang bermaksud mencari sesuatu untuk membuka gembok di kakinya. Penjepit rambut memang satu-satunya alasan yang sedikit bisa dimengerti. Namun Nagato tak memiliki itu. Biarkanlah ia membantu Itachi barang sedikit. Namun hanya sampai disini saja.

Tok.. tok.. tok.. Pintu kamar Itachi diketuk. Namun tidak ada tanda-tanda siapapun masuk. Itachi melihat sesuatu yang diselipkan di bawah sela-sela pintu. Pria itu mendekat. Ia menemukan sebuah peniti disana. Apa Nagato yang memberinya? Apa laki-laki itu berniat membantunya?

Dengan bersemangat Itachi mencoba membuka belenggu di kakinya. Cklak.. dan akhirnya ia berhasil. Bersamaan dengan itu, seseorang membuka pintu kamarnya. Dan tak lain adalah Sasori.

Itachi berlarian di koridor rumah besar itu dengan tergesa-gesa. Nampak anak buah Sasori dari kejauhan mengejar dirinya. Itachi berusaha untuk terus berlari mencari jalan keluar. Hingga ia berhasil mencapai pintu utama rumah sialan itu. Buaaakh! Namun dengan tiba-tiba anak buah Sasori muncul di depannya dan menendang tubuhnya hingga jatuh tersungkur.

Seseorang tinggi besar keluar dan menyeret Nagato yang tak berdaya dengan luka lebam di wajahnya. Itachi tentu tak menyangka jika mereka mencurigai Nagato bekerja sama dengannya.

"Apa.. Apa yang kalian lakukan padanya?! Dia sama sekali tak ada kaitannya denganku!" Itachi merasa sangat bersalah pada Nagato. Karena dirinya, Nagato dihajar habis-habisan.

"Kau tak perlu mengelak Itachi. Budak kotor itu pantas mendapatkannya." Dengan dipapah oleh salah seorang anak buahnya, Sasori masih mendapatkan kesadarannya.

"Kau memang iblis, Sasori!" Itachi bangkit dari posisinya, dengan marah ia menghajar anak buah Sasori yang mengepungnya.

Itachi tak dapat menghadapi mereka sendirian. Hantaman, pukulan, tendangan mendarat bertubi-tubi di tubuhnya.

Itachi jatuh telentang. Pandangannya begitu silau ketika bertemu pandang dengan langit yang nampak cerah. Udara sejuk yang lama tak ia rasakan, berbaur dengan aroma anyir darah yang keluar dari hidung mancungnya. Apa hidupnya benar-benar akan berakhir disini?

Sasori mendekati tubuh Itachi yang sudah tak berdaya itu. Tersenyum sinis, seakan merampas kembali kemenangannya.

Sasori membawa sesuatu yang mengkilat di tangan kirinya. Itachi menutup matanya perlahan. Ah, dia gagal. Itachi gagal untuk kembali pulang. Ke pelukan wanita pirang itu.

"Itachi!" Pria uchiha itu tersenyum. Apa dia baru saja mendengar suara Ino? Apa dia sudah berhalusinasi sekarang?

Tak lama. Kegaduhan terjadi. Sasori dan anak buahnya diserang oleh segerombolan orang tak dikenal. Sasori yang terluka mundur dengan seorang kepercayaannya, selagi yang lain mengulur waktu.

Ino menerobos, berlari menuju tubuh kekasihnya yang terkapar.

"Itachi! Itachi! Ini aku! Kumohon buka matamu!" Isak tangis Ino, menyadarkannya kembali.

"I..Ino…? Apa ini mimpi?" Ucapnya lirih.

"Tidak! Ini aku.. Ini aku Ino.. bertahanlah.. petugas medis akan segera datang. Kumohon bertahan untukku! Hiks.." Ino membawa Itachi dalam pelukannya. Pria yang sangat ia cintai.

Itachi merasakan kantuk yang teramat sangat. Ia ingin tertidur. Sebentar saja. Ia lelah.

"Itachi.. kau masih mendengarku kan? Itachi.. Itachi?" Sayup-sayup suara Ino semakin hilang. Dunianya menggelap.

Mobil ambulans dan mobil patroli polisi beriringan sampai di rumah singgah Sasori. Pihak berwenang memberikan tembakan peringatan. Orang-orang Sasori terkepung. Tak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain menyerah.

Petugas medis segera memberikan pertolongan kepada pria yang setengah telanjang itu dengan luka-luka yang cukup serius. Sedangkan Nagato, masih mendapatkan kesadarannya.

Deidara mencoba menerobos masuk ke rumah itu. Ia sadar jika dalang dari ini semua, melarikan diri. Ia menelusuri rumah besar itu, dengan tangan siaga pada revolver hitam miliknya. Namun nihil, tak ada siapapun disana. Ia kehilangan jejak Sasori.

"Deidara-san?" Lelaki pirang itu menoleh. Nampak salah seorang petugas di belakangnya.

"Ya, saya pak." Deidara mendekat.

"Para korban sudah di bawa ke rumah sakit terdekat, Suna Hospital. Untuk penyelidikan lebih lanjut akan kami lakukan segera." Ucap polisi tersebut.

"Baik, terima kasih untuk bantuannya." Deidara berojigi dan segera keluar dari tempat itu.

Pria pirang itu menuju ke tempat dimana Itachi dibawa. Nampak Ino tengah duduk di depan ruang IGD. Ia menangkup wajahnya, terlihat begitu frustasi.

"Yamanaka Ino." Gadis itu menoleh ke sumber suara. Deidara duduk mendekat di samping kekasih sahabatnya itu.

"Aku tahu ini berat. Tapi setidaknya sekarang Itachi sudah mendapatkan perawatan." Deidara mencoba menenangkan gadis yang nampak berantakan itu.

"Terima kasih Deidara-san. Aku tak bisa bayangkan jika kita tak segera datang ke tempat itu." Ino menyeka matanya yang sudah sangat bengkak dan memerah.

"Hn. Bagaimanapun Itachi adalah keluargaku. Oh ya, aku akan berjaga disini. Orangku telah mereservasi kamar di hotel Sabaku. Tidak jauh dari sini. Sebaiknya kau beristirahat sementara disana." Deidara memberikan kartu akses kepada Ino.

"Tidak, Deidara-san. Aku akan tetap disini sampai Itachi sadar." Ino bersikukuh.

"Jangan keras kepala, Yamanaka. Kau baru saja tiba di Suna, lagipula pakaianmu penuh darah. Aku akan menyiapkan beberapa pakaian dan keperluanmu disana. " Ino merasakan tangannya sedikit lengket akibat noda darah yang mulai mengering.

"Ambil ini. Dan anak buahku akan menunggumu." Mau tak mau Ino mengambil kartu akses itu dan menuruti perkataan Deidara.

Tak jauh dari tempat mereka, laki-laki berpakaian serba hitam nampak mengamati. Ia bergegas pergi begitu Ino beranjak dari tempatnya.

Ino menuju ke mobilnya yang sudah siap di depan lobi. Nampak seseorang di depan kemudi keluar, membukakan pintu untuk si Yamanaka.

"Apa kita akan kembali ke Konoha, nona?" Tanya seseorang berambut gelap itu.

"Tolong antar aku ke Hotel Sabaku, Asuma-san. Dan setelah itu kau boleh kembali ke Konoha." Jelas Ino.

"Baik, Nona. Namun bagaimana nantinya dengan Nona?"

"Aku akan tinggal di Suna untuk beberapa hari. Jadi tolong, rahasiakan ini dari ayah." Ino menjelaskan.

"Baik, nona."

Tak lama, mobil mewah itu sampai di tempat yang Ino maksud. beberapa orang berjas rapih telah menunggu Ino, yang tak lain adalah orang-orang suruhan Deidara.

Asuma mengamati orang-orang itu barang sebentar, namun Ino segera memberi isyarat kepadanya untuk segera pergi.

Supir Keluarg Yamanaka itu menepikan mobilnya tak jauh dari hotel. Ia terlihat sibuk dengan ponselnya.

"Tuan. Saat ini saya sedang dalam perjalanan menuju Konoha. Saya sudah mengirimkan informasi yang saya dapat, untuk detailnya akan saya sampaikan ketika saya tiba." Seseorang di seberang telepon tak memberikan respon apapun. Ekspresinya nampak datar, namun sorot matanya penuh dengan amarah. Ia memutus panggilan telepon itu.

Ia menatap tak senang pada seseorang yang tengah duduk di hadapannya kini.

Tok.. tok…

"Masuk, Karin." Wanita itu masuk sembari membawa sebuah kotak putih penuh dengan obat-obatan.

"Bersihkan dan obati lukanya." Pria paruh baya itu memberi perintah.

"Baik, Shachou."

"Ak!" Pria yang tengah terluka itu merintih.

"Kau benar-benar mengecewakan, Sasori-san." Mata biru itu menyiratkan ketidaksenangannya.

"Maafkan saya. Ini semua di luar kendali. Beberapa orang datang dan mengacaukan semuanya. Dan juga, putri anda."

Brak! Inoichi menggebrak meja di depannya.

"Ini semua murni salahmu! Dari awal, aku ingin bajingan itu disingkirkan. Namun kau malah bermain-main dengannya! Lihat kekacauan ini!"

Sasori hanya terdiam. Bagaimanapun dia juga bukan orang miskin yang menjadi kacung pria tua itu demi upah.

Tadinya, Sasori hanya murni bermitra dengan perusahaan raksasa milik si Yamanaka, namun nyatanya Itachi yang terlibat hubungan terlarang dengan putri dari Inoichi, dirasanya lebih menarik dari bisnis dengan profit milyaran yen itu.

Sasori menangkis tangan Karin, dan berdiri dari posisinya.

"Yamanaka-san. Saya kira lebih baik kita membicarakan ini di lain waktu. Permisi." Bagaimanapun Sasori tidak ingin terlihat menyedihkan bagai anjing yang dipijak lehernya.

Di depan ruangan itu, Pein membungkuk begitu Sasori keluar.

Pein mengikuti bosnya yang berjalan sedikit tergesa.

"Pein, kita menuju ke villaku yang belum lama ku beli di Kiri. Kurasa itu tempat yang paling aman saat ini. Polisi tak akan bisa menjangkaunya." Terang Sasori.

"Baik, tuan."

Mobil mewah itu melesat dalam pelariannya menuju Kiri, yang terletak ratusan kilometer dari Konoha.

Sasori memejamkan matanya. Namun pikirannya sama sekali tidak tidur. Ia mencoba berpikir apa yang akan dilakukan setelahnya. Sial. Bagaimana bisa situasi menjadi serumit ini.

Sasori menurunkan kaca jendela mobilnya, dan melempar keluar handphone mahal yang tak seberapa baginya. Ia harus berhati-hati. Tak akan ada yang bisa menyentuhnya, setidaknya untuk saat ini.

Hi Readers!

Aku kembali. Ternyata chapter terbaru Everything terbit setahun yang lalu!

Maaf untuk inkonsistensinya untuk melanjutkan karya-karyaku. Karena jujur, agak sulit ternyata untuk menyesuaikan waktuku. Hihihi.

Dan kemarin aku iseng untuk login ke akun ini, ternyata masih ada yang menunggu kelanjutan cerita gaje ini. Akan aku usahakan, sembari aku mengembangkan ide nantinya. Hehehe sedikit cringe ya...

See you in the next chap!