Dear Maid!

.

.

Disclaimer : Bleach adalah sepenuhnya milik Tite Kubo. Fanfict ini hanya bersifat hiburan non-profit.

Halo semua! Selama ini, saya menggunakan nama 'Ishida' secara sering untuk merujuk 'Ishida Uryu'. Namun, setelah saya membaca lagi tulisan saya, saya sadar kalau ternyata penggunaan kata Ishida terlalu memusingkan apalagi dengan kehadiran Ishida Ryuken dan Ishida Katagiri. Dengan begitu, kedepannya saya akan menggunakan nama Uryu sebagai rujukan nama untuk Ishida Uryu. Terima kasih dan selamat membaca!

"Hey! Kau!" seorang pria botak terdengar sedang berteriak dan-

"Siapa yang kau panggil pria botak! Dasar pria kurang ajar! Berani-beraninya kau muncul lagi setelah vakum membuat fanfict ini! Selain itu … KAU CURANG! Bisa-bisanya Renji mendapat adegan dengan perempuan sementara aku masih belum mendapatkan adegan yang semenyenangkan itu! Apa maksudnya itu?!"

Ya ampun … tidak lagi … ba-baiklah para pembaca yang budiman, kita akan bertemu lagi di akhir cerita nanti ya! U-untuk sekarang saya harus kabur sebelum Ikkaku mengeluarkan bankainya!

Sekali lagi, selamat membaca!

.

.

Rukia sedang menyeruput teh dengan tenang tak kala duduk di rumah kediaman Ishida. Dia melihat sekeliling rumah yang tertata dengan rapi disertai dengan ornamen bertemakan kerajaan Inggris.

"Betapa tenangnya tempat ini," gunamnya sembari tersenyum dengan mata tertutup.

Dia menyimpan tehnya dengan senyum simpul yang puas.

"Sangat tenang dan elegan …"

DUAR!

Tidak berselang lama setelah Rukia mengatakan itu, sesuatu terhempas ke tembok di belakang tempat duduk Rukia. Debu bertebaran dan kita melihat Ichigo yang menempel ke tembok.

"Oi, oi, bajingan orange, kelihatannya main 'SUPER MARTABAK BROS' yang seharusnya kau berikan kepadaku membuatmu jadi selemah ini ya? Aku baru saja pemanasan loh," gunam Renji yang menyeringai dengan mata yang berwarna merah. Dia meregangkan tangannya dan bersiap untuk melompat ke arah Ichigo.

"Bersiaplah!" Renji melompati Rukia yang masih menutup mata dan tersenyum.

Dia menerjang Ichigo yang mulai sadarkan diri.

"OI RENJI, SIALAN, TUNGGU!" teriak Ichigo.

"Sudah cukup! Saatnya jurus sliding kak Seto!"

Tendangan keras mendarat di perut Ichigo. Namun, anehnya, Renji justru menjerit kesakitan saat itu terjadi.

"AAHHH! SIALAN KUROSAKI!" Renji menjerit kesakitan dan menggeliat di lantai.

"Hahaha! Rasakan! Kepala nanas bodoh! Aku sudah menyelipkan nampan baja untuk bertahan! HAHAHAHHA," Ichigo tertawa puas tapi tidak untuk waktu lama.

Renji menarik kaki Ichigo dan segera membuat Ichigo terjatuh. Dia pun mengunci kaki Ichigo dengan lengan dan sikunya sehingga membuat Ichigo terkunci seperti di acara WWE!

"Sial! Re-renji! Kau …curang!" gunam Ichigo yang sedang menahan rasa sakit.

"Pria tidak boleh lengah! Ingat itu Ichigo! Rasakan ini, jurus rahasiaku, pukulan berapi menyakitkan-" ucapan Renji terhenti karena Ichigo memukulnya dengan sapu yang ada di dekat sana.

"Berisik! Lepaskan! Lepaskan aku, kepala nanas!" ucap Ichigo terus memukul Renji.

"Kepala nanas?! Sialan kau bajingan orange! Rasakan ini!" Renji semakin mengunci kaki Ichigo sementara Ichigo tetap memukulnya.

Di sisi lain Rukia masih berusaha tenang selagi mengambil tehnya dan akan menyeruput.

"AHHHH, brengsek kau, Renji!"

Rukia menyeruput tehnya.

"HAHAHA! Aku berhasil mengambil sapumu!"

Sebuah sapu melayang ke arah Rukia dan mengenai kepalanya. Namun, Rukia masih tetap tidak bergeming dan terus tersenyum sembari minum teh.

"HEY! BODOH! JANGAN GUNAKAN ITU!"

Sebuah guci melayang ke meja di depan Rukia dan membuat teko teh di depannya tumpah.

Dari sisi lain sebuah suara terdengar.

"Kalian curang! Aku tidak akan biarkan kalian berdua bersenang-senang berdua!" Uryu mendadak melompati Rukia dan tanpa sengaja kakinya menyenggol bahu Rukia dan membuat tehnya tumpah.

"Oi! Apa yang!? Ishida!? Untuk apa kau ikut-ikutan!?" geram Ichigo.

Amarah Rukia pun akhirnya tidak terbendung takala tehnya yang dia nikmati sedari tadi tumpah.

"OI … KALIAN …," Rukia berdiri dari kursinya dengan aura hitam yang menakutkan.

"BERHENTILAH MAIN-MAIN DASAR BODOH!" suara keras Rukia beserta jeritan kesakitan yang mengikuti menggema ke ruangan atas, tempat Ryuken tengah menanyakan pertanyaan kepada Orihime.

'Masa muda memang indah,' batin Ryuken.

Pandangan Ryuken kemudian teralih ke Orihime yang sedang berkeringat dan bergunam.

"Isshin-sama … maksudku … Isshin-san," gunam Orihime yang setengah tidak sadarkan diri.

'Shiba Isshin?' batin Ryuken.

'Sejak tadi aku mencatat kronologis ingatan anak ini, tak aku sangka dia sangat banyak berhubungan dengan keluarga Kurosaki. Terlebih Masaki. Aku kira Orihime hanya maid biasa yang bekerja dengan Masaki dengan marga yang kebetulan adalah Inoue. Ternyata, dugaan awalku tentang marga anak ini tidak sepenuhnya salah,' batin Ryuken yang memandang Orihime dengan serius.

"Inoue-san, apa yang terjadi setelah kau bertemu dengan Kurosaki Isshin? Bisakah kau mengingat sesuatu," ucap Ryuken.

Orihime mendengar pertanyaan tersebut dan seketika dirinya yang dalam alam bawah sadarnya tengah kaku terpana mulai mencoba menggerakkan badannya.

"I-isshin-san, lama tidak bertemu dan-" seketika tubuh mungil Orihime diangkat oleh pria yang sedang dia ajak bicara.

"Wah! Senangnya kau masih mengingatku, Orihime-chan~~ kau benar-benar sudah tumbuh ya berat badanmu pun agak bertambah ketimbang-"

PLAK!

Ucapan Isshin terhenti oleh pukulan Masaki ke kepala suaminya itu.

"Oi, Masaki! apa-apaan kau inI?!" ucap Isshin mengeluh sembari mengubah posisi Orihime ke gendongannya.

"Lagian kau juga sembarangan ngomong! Berat badan perempuan itu adalah omongan tabu! Jadi, jangan dengan entengnya kau bilang seperti itu kepada Orihime-chan!" geram Masaki.

"Lagi-lagi kau mengatakan hal yang tidak-tidak! Lagi pula apa salahnya jika aku bilang berat badanmu enam puluh-"

PLAK!

"Orihime-chan~~ nanti kalau kamu sudah besar carilah laki-laki yang tidak sebodoh suamiku ya!" ucap Misaki yang mendadak bernada ceria ke hadapan Orihime setelah dia ambil Orihime dari gendongan Isshin.

"Jahat~~," gunam Isshin yang berdiri membatu dengan benjol yang besar.

"Meski begitu, kalau kamu bertemu dengan Ichigo, anakku, tolong berteman dengannya ya. Dia memang bodoh seperti ayahnya tapi dia anak yang baik, kok!" gunam Masaki dengan senyum yang ceria.

Orihime sedikit tertegun. Dia baru menyadari kalau dia pernah berbicara seperti ini dengan Masaki.

"Benar Orihime dan tolong jadilah gadis yang kuat dan pintar ya. Lihat saja Masaki! Dia memang cocok jadi panutan," ucap Isshin dengan wajah serius yang berbinar-binar.

"Hei! A-apa-apaan kamu! Jangan sok menggombal!" geram Misaki yang terkejut dengan wajah yang sedikit merah.

"Ayolah … bagaimana mungkin aku mengada-ngada ke matahariku?" ucap Isshin yang masih mempertahankan wajah yang sekarang seperti tipikal wajah laki-laki tampan dengan aura cerah di manga shoujo.

Masaki pun kalah dengan ucapan gombal yang diucapkan Isshin. Wajahnya semakin memerah dan pikirannya menjadi campur aduk.

"Ya-ya sudah! Kalau kau sudah tahu tidak apa-apa, hehe. Ngomong-ngomong kapan rilis gimbot yang kau bicaran?" ucap Masaki yang wajahnya langsung berseri dan hatinya yang berbunga-bunga.

Tiba-tiba Isshin langsung mendekatkan wajahnya ke Orihime.

"Psst lihat kan Orihime? Jadilah anak yang pintar seperti aku agar kau bisa meluluhkan hati orang dengan ucapanmu. Lihat kan? Akhirnya aku jadi bisa membeli gimbot yang sejak kemarin dia larang, hahahaha. Intinya tetaplah jadi gadis yang kuat dan pintar, kalau bisa kau harus lebih pintar dari Masaki! Jangan terlalu seperti dia, oke?" bisik Isshin sembari mengedipkan matanya.

Orihime tersenyum maklum dan tidak bisa berkata-kata dengan tingkah laku pasutri ini.

"Baiklah sayang jika itu kehendakmu. Kalau begitu, izinkan aku permisi ke stand gulali," Isshin pun berjalan pergi dengan wajah yang masih sama seperti tipikal laki-laki tampan di manga shoujo.

"Psst lihat kan Orihime? Jadilah anak yang pintar seperti aku agar kau bisa mengelola tingkah laku orang. Lihat saja, setelah beli gimbot nanti, aku akan membuat dia tidak akan bisa menolak aturan yang pastinya akan membuat dia jera bicara sembarangan. Intinya tetaplah jadi gadis yang kuat dan pintar, kalau bisa kau harus lebih pintar dari Isshini! Jangan terlalu seperti dia, oke?" bisik Masaki sembari mengedipkan matanya.

Orihime kembali tersenyum maklum dengan sedikit ekspresi kaget.

'Me-mereka mengingatkanku pada seseorang. Memang buah tidak akan jatuh dari pohonnya ya?' batin Orihime.

Masaki pun menurunkan Orihime dan kembali berbicara dengan ibu Orihime.

"Bagaimana Orihime? Kamu sudah senang sekarang?" terdengar suara Sora yang bertanya ke arahnya.

"Iya, kak. Aku bahkan lupa karena apa aku marah tadi sebelum aku ikut."

"Hehe, baguslah. Lagi pula, dengan kamu ikut, setidaknya kamu jadi bertemu lagi dengan bibi Masaki dan paman Isshin. Mereka itu dari dulu selalu memperlakukanmu dengan baik, jadi kamu juga harus baik-baik ya dengan mereka," ucap Sora dengan nada halus sembari mengusap kepala Orihime.

Orihime tersenyum hangat mendengar ucapan kakaknya. Dia merasakan perasaan hangat yang baru ia sadari sudah lama tidak ia rasakan. Hatinya ingat bahwa dia pernah terisi oleh sosok orang yang selalu menyayanginya dan selalu menjaganya. Perasaan lama yang pernah terjadi namun baru ia sadari lagi.

'Terlalu lama, sepertinya terlalu lama aku tidak merasa apa yang kurasa ini. Perasaan yang hampir pudar ini tak kusangka akan kurasa lagi. Perasaan yang sederhana tapi entah mengapa sangat membuatku lega sampai-sampai agak membuatku sesak. Oh, andai saja masa ini tak pernah pergi. Akan seperti apa diriku ini?' batin Orihime dengan mata yang berkaca-kaca.

Tak berselang lama tubuh mungilnya memeluk kaki Sora. Kakaknya menyadari itu dan melihat ke bawah.

"Kak … terima kasih banyak. Seandainya saja kita bisa seperti ini lebih lama lagi," ucapnya dengan wajah yang masih menempel ke paha Sora.

Sora mengernyitkan dahinya sembari tersenyum maklum.

"Apa yang kau bicarakan, Orihime? Tentu saja kau bisa seperti ini selama yang kau mau," ucap Sora dengan halus sembari mengangkat tubuh adiknya ke gendongannya.

"Yosh, yosh, Orihime, sepertinya kamu sudah mengantuk ya? Bagaimana kalau kita mencari es krim, oke?" Sora pun membawa Orihime.

'Tidak, kak. Sayangnya tidak selamanya,' batin Orihime yang meringkuk di pangkuan Sora.

Sejalan dengan langkah Sora, perlahan, suasana di sekitar mereka mulai menggelap dan mencekam.

-orange-

"Mama!" ucap seorang anak kecil berambut orange yang berlari ke sebuah ranjang rumah sakit.

'Ah, benar, saat ini, dua belas tahun lalu. Kenapa aku harus berada di tempat ini?' batin Ichigo yang melihat anak tersebut berlari ke arah ibunya.

Anak itu naik ke atas kursi untuk melihat ibunya yang sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan infus yang tersambung.

Seorang maid dengan rambut hitam panjang ikalnya mengikut anak itu dari belakang. Perlahan dia membantu anak itu naik.

"Mama … mama? Hei! Bangun, ma! Mama tidak apa-apa kan?" ucapnya dengan nada gelisah dan khawatir.

Maid di sampingnya mengusap punggungnya berusaha menenangkan anak itu.

"Tenanglah, Ichigo-sama, Masaki-sama sudah melewati masa kritisnya. Jadi, saya yakin Misaki-sama akan baik-baik saja.

"Kritis!? Apa maksudmu, Unohana-san?" mata Ichigo kecil terlihat mulai berkaca-kaca dan nafasnya tersenggal-senggal.

"TIDAK MAU! MAMA JANGAN MENINGGAL! HUAAA" Ichigo kecil menangis keras sembari memeluk Masaki dari samping.

"Hei, tidak apa-apa. Maksudku, Masaki-san sudah tidak dalam bahaya," ucap Unohana yang dengan perlahan dan lembut mencoba melepaskan tangan Ichigo agar tidak mengusik jarum infus di tangan Masaki. Perlahan Unohana memeluk Ichigo dan menenangkannya.

"Cup, cup, Ichigo-sama. Misaki-sama adalah perempuan kuat, dia pasti akan segera sembuh," ucap Unohana sembari tersenyum.

'Itulah katanya. Dasar, aku ternyata bodoh sekali ya dulu?' batin Ichigo dewasa yang menggaruk kepalanya selagi dia berdiri di samping Ichigo kecil.

"Ingatlah, Ichigo-sama, Masaki-san tidak akan meninggalkanmu. Percayalah itu," tambah Unohana.

Ichigo kecil hanya mengangguk tidak mengerti. Dia kembali melihat ke arah ibunya yang terlihat tertidur dengan lebih tenang.

"Baiklah, Unohana-san," ucapnya perlahan sembari mengucek matanya.

Ichigo yang berdiri di samping dirinya yang masih kecil hanya memandang Masaki dengan sedikit kesedihan.

'Yang benar saja, Unohana,' dia pun berbalik dan berjalan pergi.

"Ichigo …," sebuah suara terdengar memanggil namanya.

Ichigo berbalik ke belakang.

Mata Ichigo terbuka. Terdengar suara gaduh dari sekitarnya. Dia menemukan dirinya tengah terbaring di lantai rumah kediaman Ishida. Saat bangun, sedikit sensasi sakit terasa di kepalanya.

'Ya ampun, kenapa kepalaku sakit?' batinnya saat dia sedang bangun.

"ICHIGO!" terdengar lagi suara yang memanggil namanya.

"Hm?" Ichigo berbalik hanya untuk melihat sebuah cahaya yang menjepret ke arahnya.

"HAHAHAHAH! LIHAT ITU! DIA KUROSAKI MAIDCHIGO! HAHAHAHHA," ucap Renji yang tertawa keras sembari memegang kamera. Di belakangnya Uryu sedang tertawa terpingkal-pingkal di lantai.

"Hah?" Ichigo masih tidak mengerti apa yang kedua teman anehnya tertawakan.

"Renji, bisa bantu aku- APA ITU!? WAHAHAHAHHA," Rukia yang baru memasuki ruangan terlihat ikut tertawa terpingkal-pingkal.

"Oi! Apa yang kalian tertawakan!?" geram Ichigo yang mulai kesal mendengar tingkah kawan-kawannya.

"Aduh … aduh, ya ampun, Ichigo. Padahal cuman ketimpa guci keramik tapi sudah selengah ini. Ck,ck,ck menyedihkan!" ucap Uryu yang mengontrol tawanya sembari bertingkah sombong.

"Ishida benar, Ichigo! Ya, tapi anggap saja ini semua karma dari semua kelakuanmu selama ini kepada kami," tambah Renji.

"Betul itu, betul!" ucap Uryu bersemangat dengan mata yang tertutup pantulan kacamatanya.

"Karma!? Apa maksud kalian! Oi, ayo jelaskan! Rukia! Ada apa ini?!" ucapnya berbalik ke Rukia.

"Ahahaha, ya ampun, moodku jadi baik sekarang. Ya, kau juga akan tau setelah melihat dirimu sendiri. Kalau begitu, aku akan mengambil barangku di mobil dulu ya. Dah," ucap Rukia sembari meninggalkan ruangan.

Ichigo bertanya-tanya maksud Rukia. Dia pun melihat ke arah tubuhnya.

"Eh? EEHHHHH?!" Dia mendapati pakaiannya sudah diganti dengan pakaian maid Orihime lengkap dengan topi maidnya yang diikat simpul mati oleh Uryu.

"SIALAN KALIAN, RENJI, ISHIDA! KUBUNUH KALIAN!" api keluar dari mulut Ichigo yang sudah mengeluarkan aura merah yang pekat dan membara.

"AHAHAHA, kejar saja kami kalau bisa, Maidchigo!" ucap Renji yang melompat ke luar bersama Uryu.

Ichigo langsung melompat bak seekor cheetah yang mengejar mangsanya.

"Ano, Maidchigo-san bisakah kau membelikanku soda di toserba? Oh iya jangan lupa dengan keripik kentangku!" goda Uryu yang sedang berlari.

"Maidchigo-san tolong segera bersihkan pakaian dalamku juga ya! Sekalian juga bereskan kamarku! HAHAHAHA," tambah Renji yang tertawa puas setelah meledek Ichigo.

"OHH!? Jadi kalian mau 'dibereskan', ya!? KALAU ITU MAU KALIAN BERSIAPLAH DIBERESKAN!" ucap Ichigo yang seperti sudah akan meledak menahan amarahnya dengan urat nadi yang sudah membanjiri wajahnya.

Tiba-tiba dia melompat dengan kuat di lorong tempat mereka berlari.

"Oh iya, Maidchigo-san, tolong siapkan air mandiku juga ya! Ingat harus 87 derajat celcius!" ucap Uryu.

"Hahahah, bisa saja kau, Ishida!" balas Renji tertawa puas.

"Jangan lupa juga persiapkan baju gantiku yang harus baru disetrika saat aku keluar kamar mandi!" tambah Uryu.

"Hahaha … oke, masih masuk akal," ucap Renji yang sedikit kaget dengan jokes Uryu.

"Lalu, siapkan juga handukku dengan gambar tubuhku yang dicetak akurat secara anatomi!" ucap Uryu yang masih tersenyum mengeluarkan jokesnya.

"Ehmm, Ishida, aku rasa kau sudah..,"

"Tentunya, jangan lupa juga untuk memandikan ku dari ujung jempol kaki sampai-"

"OI STOP! Sudahlah cukup itu sudah tidak lucu! Itu malah lebih aneh! Gurauanmu lebih terdengar seperti ucapan menjijikan seorang yang cabul tahu!" ucap Renji menghentikan ucapan Uryu.

Uryu kaget karena Renji tidak merasa gurauannya lucu.

"Apa maksudmu, Renji!? Bukankah kita sedang meledek Ichigo dengan permintaan anehnya ke Inoue-san!?"

"Iya aku paham maksudmu! Cuma jangan kau sebutkan hal-hal seperti itu! Itu sama saja seperti kau yang minta ke si Ichigo!"

"APA!? Kau gila!? Ucapanku itu ibaratnya adalah ucapan Ichigo dan si Maidchigo itu ibaratnya Inoue-san! Justru keanehan permintaan Ichigo ke Inoue-san lah yang jadi poin humor gurauanku! Seakan-akan Ichigo bodoh itu yang ingin aneh-aneh ke Inoue-san! BUKAN AKU KE SI BODOH ITU!" ucap Uryu dengan lantang dan dengan mata yang tertutupi kaca frame kacamatanya.

"Aku mengerti kau bermaksud mengejek si bodoh Ichigo itu! Aku sungguh mengerti maksudmu! Tapi jangan kau yang mengucapkannya langsung ke si bodoh itu! ITU MENJIJIKAN APA LAGI KETIKA KAU YANG UCAPKAN KE SI BODOH ITU!" balas Renji.

"Sudah puas berdebat? 'Si bodoh' ingin bicara sebentar dengan kalian," tiba-tiba Ichigo dengan wajah hitam dan mata merah menyala sudah berada di belakang Renji dan Uryu yang tidak sadar dan masih berlari.

"Eh- TIIDAKKKKK!" Uryu berhasil ditangkap oleh Ichigo dan segera diringkus.

"ISHIDAAA! SIALAN! NAMAMU AKAN SELALU KUKENANG, OH, SAHABATKU!" ucap Renji yang sedikit menitiskan air mata.

"OI! RENJI SIALAN! TOLONG AKU!" teriak Ishida yang menangis ketika tangannya sedang dikunci oleh Ichigo dengan wajah menakutkannya dan aura hitam yang kuat.

"Oh, aku bahkan masih bisa mendengar suaranya. Sampai berjumpa di alam sana, kawan," Renji mengusap air matanya dan segera berlari menuju pintu.

Dia melompat keluar dan disambut oleh cahaya matahari yang cerah di atas langit yang biru.

"Oh, Ishida, sahabatku. Bila nanti masanya tiba, kita pasti akan kembali tertawa dan mengingat masa-masa ini dan-"

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Renji merasakan hantaman keras secara slow motion saat tubuh Uryu yang sudah babak belur melayang ke arahnya.

BUAK!

Hantaman itu membuat Renji dan juga Uryu terhempas ke tembok halaman rumah di depannya.

"Oh betapa indahnya persahabatan. Lihat kan? 'Sahabatmu' berhasil menyusulmu. Sekarang, kapan kalian akan mulai mengingat masa-masa ini!?" ucap Ichigo yang sedang tersenyum tetapi dengan tatapan yang mengintimidasi. Wajahnya menunjukkan siluet semacam topeng tengkorak, tentunya, masih dalam pakaian maid.

"Hiihh, I-ichigo tenang dulu … I-ini … I-ni ide Ishida! Aku bersumpah! Aku hanya memotret saja!" ucap Renji ketakutan.

"Huhuhu, i-itu benar akulah yang dapat ide setelah menemukan pakaian maid Inoue-san di ruang tengah," ucap Uryu ketakutan.

"Sudah, sudah, tenang saja. Tidak peduli siapa yang punya ide atau siapa yang memotret, kalian akan mendapat ganjaran yang setimpal karena sudah main-main denganku," ucap Ichigo yang kini tengah meregangkan tangannya dan bersiap meninju mereka berdua. Wajah Ichigo terlihat begitu tidak sabar untuk menghantam wajah kedua orang itu.

"Baiklah rasakan ini-"

PRIITTT

"Okay, break sejenak!" ucap Rukia setelah meniupkan pluit. Dia mendekat sembari membawa tasnya.

"Ru-Rukia … kau memang bidadari penyelamat-" ucapan Renji terpotong saat tas milik Rukia mendarat di wajah Renji.

"Baiklah, terserah kau Renji. Jadi, bawakan tasku oke?"

Renji hanya mengacungkan jempol saat wajahnya masih tertimpa tas.

"Baiklah, sebelum kalian orang-orang bodoh saling mematahkan tulang dan tidak bisa diajak bicara, ada dua orang yang menanyakan Kurosaki Ichigo dan tempat kediaman Ishida," ucap Rukia.

Ichigo dan Uryu saling melihat heran.

"Siapa?" tanya mereka berdua.

"Coba saja kalian tanyakan kepada mereka berdua," Rukia menunjuk dua orang yang ia maksud.

Perlahan, dua orang itu berjalan mendekat Ichigo dan kawan-kawannya. Terlihat siluet satu orang tinggi dan satu orang bertubuh besar.

"Yo! Kurosaki Ichigo!" ucap Stark bersama Yami yang tangannya sedang diperban dengan kain yang mengalung ke lehernya untuk menopang tangannya.

"Ka-kalian …" Ichigo terlihat kaget dalam baju maidnya.

"Tidak mungkin … " Uryu juga ikut tercengang.

"Hmmph hmmph … " gunam Renji.

"Akhirnya kami bisa menemukan kalian juga setelah-"

"Maaf, kalian siapa ya?" ucap Ichigo dan Uryu beserta Renji yang hanya bergunam.

"Eh? EEEHHHHHHHHHH?!" Stark seketika menganga mendengar ucapan ketiga orang itu.

-BERSAMBUNG-

HALLO GUYS! Hosh .. hosh, aduh, akhirnya saya bisa lolos dari kejaran Ikkaku. Sialan memang si botak itu. Okay, jadi begini … Ehehehe saya mau mengucapkan maaf sebesar-besarnya karena baru update lagi setelah (menelan ludah) 2 tahun tidak update lagi meskipun di pengumuman sebelumnya saya sudah berjanji untuk melanjutkan tulisan hehehe. Tapi, HEI! SAYA SUDAH KEMBALI! Jadi semoga chapter ini bisa menjadi penebusan dalam menepati saya untuk janji saya sebelumnya hehehe.

Memang menulis FF ini adalah sebuah passion bagi saya dan saya memang senang ketika menulis FF 'DEAR MAID!' ini sehingga saya akan selalu senang untuk menciptakan chapter dan chapter, Woohooo #DEARMAIDTILLSEASONFIVE ! Jadi, saya minta maaf lagi karena baru bergerak mengerjakan projek ini. Jujur saya juga tidak menyangka akan menulis kembali FF ini karena kerasnya ombak kehidupan (dan kemalasan). Sebelumnya saya ingin, shout out kepada Jsmine Lucas yang menjadi salah satu pembaca yang memotivasi saya melanjutkan FF ini (THANK YOU SO MUCH FOR READING THIS FAR-FROM PERFECT BLEACH FICTION! I APPRECIATE IT A LOT).

Maka dari itu, saya akan mencoba sebisa saya untuk terus menyuguhkan pembaca dengan cerita dari fict DEAR MAID! ini sampai mencapai bagian akhir cerita ini #DEARMAIDTILLSEASONFIVE . Baiklah mungkin itu dulu dari saya, semoga kalian semua sehat selalu dan sekarang saya harus kabur lagi dari Ikkaku karena sekarang dia sedang hilang kendali dengan Ryumon Hozukimaru-nya! See you!