When Fireworks Fade

Rate: T

Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto]

Genre: Romance, Friendship

Warning: Typo, gaje, masih jauh dari kata sempurna, OOC

Pairing: Uzumaki Naruto x Uchiha Satsuki

Jangan lupa Review, Follow, dan Favorite nya!

.

.

.

Konoha, seperti biasa, sibuk dengan persiapannya untuk festival tahunan. Festival tahun baru memang telah berlalu, tetapi tradisi desa yang unik membuat perayaan ini diperpanjang menjadi rangkaian acara hingga pertengahan bulan. Jalanan penuh dengan lampu lentera, aroma makanan dari stan-stan kecil menggoda siapa saja yang lewat, dan suara tawa anak-anak bercampur dengan irama musik tradisional yang menggema di udara.

Naruto berdiri di depan cermin kecil di apartemennya. Ia memandang bayangannya dengan ragu, sebelum akhirnya mengacak-acak rambutnya. "Apa aku harus lebih rapi? Tapi kalau terlalu rapi, malah keliatan aneh..." gumamnya.

Sejak resmi menjadi pacar Satsuki, Naruto merasa hidupnya sedikit berbeda. Dia bersemangat, tentu saja, tapi juga gugup setiap kali berada di dekat Satsuki. Rasanya seperti berjalan di atas tali, mencoba menyeimbangkan antara menjadi dirinya sendiri dan tidak terlalu ceroboh di depan gadis yang kini menjadi bagian penting dalam hidupnya.

"Baiklah, Naruto, tenang. Kamu ini Hokage masa depan. Ajak dia dengan santai, jangan seperti anak kecil," ia memberi semangat pada dirinya sendiri.

Saat itu, pintu diketuk keras. "Naruto! Berapa lama lagi kamu mau melamun di sana? Jangan bilang kamu mau telat lagi!" suara Sakura terdengar dari luar, membuat Naruto terkesiap.

"Ah, iya, iya! Aku keluar!" serunya sambil buru-buru menyambar jaket oranyenya. Saat membuka pintu, Sakura memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jadi, apa kau sudah bicara dengan Satsuki?" tanyanya, sambil melipat tangan.

Naruto hanya menggaruk kepala sambil tertawa canggung. "Hehe... belum sih. Tapi aku akan mengajaknya malam ini. Santai aja!"

Sakura menghela napas panjang. "Naruto, kalau kau terus menunda, jangan salahkan aku kalau dia malah lebih tertarik dengan orang lain."

Kata-kata itu membuat Naruto tersentak. Wajahnya serius seketika. "Satsuki tidak akan tertarik pada orang lain. Aku tahu itu," katanya dengan nada penuh keyakinan. "Aku hanya perlu cara yang tepat untuk mengajaknya."

Sakura menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil. "Baiklah. Semoga berhasil."

Naruto menutup pintu apartemennya, rasa gugup mulai merayap. Tapi, di balik itu semua, ada semangat dan tekad yang besar. Malam ini adalah awal dari sesuatu yang baru untuk mereka berdua, dan dia tidak akan menyia-nyiakannya.

Naruto menghabiskan pagi harinya dengan penuh kegelisahan. Dia memutar otak, memikirkan cara terbaik untuk mengajak Satsuki pergi ke festival. Tidak seperti Hinata yang pemalu atau Sakura yang lugas, Satsuki Uchiha adalah kombinasi sempurna dari keanggunan, dinginnya logika, dan sikap tsundere yang sulit diterka. Naruto tahu bahwa mengajak Satsuki sembarangan hanya akan membuatnya ditatap dengan pandangan dingin yang seringkali membuat bulu kuduknya berdiri.

"Naruto, kau serius mau mengajak Satsuki pergi ke festival?" tanya Ino ketika Naruto mampir ke toko bunga milik keluarganya untuk meminta saran.

"Yah, mau gimana lagi. Aku ingin membuktikkan perasaanku kepadanya," jawab Naruto sambil mengusap tengkuknya.

Ino menggeleng sambil tersenyum kecil. "Baiklah. Kalau aku jadi kau, aku akan memilih sesuatu yang sederhana tapi bermakna. Jangan terlalu mewah, nanti Satsuki justru curiga."

Naruto memiringkan kepala. "Curiga kenapa?"

Ino memutar matanya. "Ya ampun, Naruto. Satsuki itu bukan tipe orang yang suka perhatian berlebihan. Kalau kau tiba-tiba menjadi sangat romantis, dia mungkin akan merasa kau menyembunyikan sesuatu. Cukup buat dia nyaman, dan biarkan dia menikmati suasana."

Naruto mengangguk pelan. Saran itu masuk akal, tapi tetap saja ia merasa ini bukan tugas yang mudah. "Jadi aku hanya perlu mengajak dia jalan santai di festival. Begitu?"

Ino menepuk bahunya. "Kadang hal sederhana bisa jadi yang paling berkesan. Dan jangan lupa—bersikaplah natural. Jangan mencoba jadi orang lain."

Setelah meninggalkan toko bunga, Naruto mencoba mendapatkan saran dari Sai dan Shikamaru, meskipun hasilnya membuatnya semakin bingung.

"Kalau aku jadi kau, aku akan mengajaknya membuat seni bersama," kata Sai dengan senyuman kaku.

"Naruto, kalau kau ingin hidupmu mudah, jangan libatkan aku," ucap Shikamaru sambil menguap. "Tapi, kalau kau benar-benar butuh, pastikan kau punya rencana cadangan. Kau tahu sendiri, Uchiha bukan tipe yang mudah diajak kompromi."

Setelah menerima berbagai saran, Naruto akhirnya memutuskan untuk menuruti kata hatinya. Festival itu sendiri sudah cukup spesial, dan ia tahu bahwa Satsuki bukan tipe orang yang akan tertarik pada hal-hal besar dan mewah. Ia memutuskan untuk mengajaknya dengan cara yang sederhana tapi tulus.

Sore harinya, Naruto mempersiapkan diri. Ia memastikan penampilannya cukup rapi dan membawa uang untuk berjaga-jaga. "Oke, Naruto. Ini hanya festival. Jangan terlalu serius, jangan ceroboh. Kamu pasti bisa!" katanya pada bayangannya di cermin.

Dengan tekad baru, ia melangkah keluar, menuju tempat di mana ia yakin bisa menemukan Satsuki: lapangan latihan.

.

.

.

Naruto berdiri di tepi lapangan latihan dan di hadapannya, Satsuki tengah berlatih dengan tenang, setiap gerakan kunainya tajam dan presisi. Matahari yang mulai condong ke barat memantulkan cahaya lembut di rambut hitamnya, membuat Naruto sejenak terdiam. Entah kenapa, melihat Satsuki seperti ini membuat keberaniannya perlahan-lahan menghilang. Namun, ia tahu, jika ia tidak melakukannya sekarang, ia tidak akan pernah bisa.

"Oke, Naruto, santai. Ini hanya Satsuki. Kamu bisa melakukannya. Jangan ceroboh, fokus," gumamnya pada diri sendiri.

Mengambil napas panjang, Naruto melangkah mendekat. Suara kakinya di atas rerumputan membuat Satsuki berhenti bergerak dan menoleh. Tatapan matanya yang dingin langsung membuat Naruto merasa seperti ditelanjangi.

"Naruto?" tanyanya, dengan nada datar. "Ada apa?"

Naruto langsung menggaruk kepalanya, seperti kebiasaannya saat gugup. "Ah, eh, tidak ada apa-apa. Maksudku, ada sesuatu yang ingin aku bilang..."

Satsuki menyilangkan tangan, ekspresinya tidak berubah. "Kalau tidak penting, jangan buang waktuku. Aku sedang berlatih."

"Ini penting!" seru Naruto cepat-cepat. Tapi suara kerasnya malah membuat Satsuki menaikkan satu alis. Naruto langsung menurunkan nada bicaranya, merasa malu. "Maksudku, aku ingin... mengajakmu pergi ke festival malam ini."

Hening. Satsuki memandangnya seperti sedang menilai apakah ia serius atau hanya main-main.

"Festival?" ulang Satsuki. "Dan kenapa aku harus pergi?"

Naruto tertegun, merasa seperti baru saja dilempar pertanyaan ujian yang sulit. Ia mencoba berpikir cepat.

"Yah, karena… karena…" Naruto tergagap, sebelum akhirnya memutuskan untuk jujur. "Kita belum pernah benar-benar pergi bersama sejak… ya tahu, sejak kita mulai pacaran. Kupikir ini kesempatan yang bagus buat kita… menghabiskan waktu bersama?"

Satsuki menghela napas pelan, matanya tetap mengamati Naruto. "Aku tidak tertarik pada keramaian. Lagipula, festival seperti itu tidak ada yang spesial," katanya datar, lalu kembali memungut kunainya.

"Eh? Tunggu dulu!" Naruto hampir panik. "Ini bukan soal festivalnya! Aku hanya ingin… ya kau tahu, menghabiskan waktu bersama denganmu. Aku janji tidak akan membuatmu malu. Kita bisa jalan-jalan santai, makan sesuatu, terus…"

Satsuki tidak merespon, hanya memasukkan kunai ke dalam tas kecilnya. Naruto merasa waktu semakin mendesaknya, jadi ia mencoba pendekatan lain.

"Kamu suka dango, kan? Aku dengar ada stan dango yang baru buka di festival tahun ini. Katanya enak. Kita bisa coba bareng," katanya dengan senyum lebar, mencoba mengurangi ketegangan.

Satsuki berhenti sejenak, menatapnya lagi. Kali ini, Naruto merasa seperti ada sedikit rasa penasaran di matanya, meski hanya sekejap. Tapi kemudian, ia kembali berjalan menjauh, membuat Naruto hampir menyerah.

"Oke, kalau bukan dango, bagaimana jika aku traktir apa pun yang kamu mau? Aku janji tidak akan pelit! Pokoknya, apapun yang kamu inginkan," tambah Naruto, berusaha keras.

Langkah Satsuki terhenti. Ia berbalik perlahan, menatap Naruto dengan tatapan tajam yang membuatnya sedikit gemetar. "Kau terlihat seperti sedang sangat putus asa, Naruto."

Naruto langsung terdiam, wajahnya memerah. "A-Aku tidak putus asa! Aku hanya… aku hanya ingin waktu yang bersamamu, itu saja. Apa itu salah?"

Satsuki menatapnya lama tanpa berkata apa-apa. Naruto mulai merasa bahwa usahanya sia-sia, sampai akhirnya ia mendengar sesuatu yang tidak ia duga.

"Baiklah," kata Satsuki singkat.

Naruto terpaku. "Hah? Serius?"

Satsuki memutar matanya. "Apa kau ingin aku berubah pikiran?"

"Tidak, tidak! Aku serius, aku akan menjemputmu malam ini!" seru Naruto antusias.

Satsuki berjalan mendekatinya, berhenti tepat di depannya. "Kalau kau benar-benar ingin aku pergi, pastikan kau tidak membuatku menyesal. Jangan terlambat, dan pastikan kau berpakaian rapi. Aku tidak mau terlihat aneh karena pacarku tidak tahu cara berpakaian."

Naruto langsung mengangguk cepat. "Aku janji! Aku akan datang tepat waktu, dan aku akan pakai baju terbaik yang aku punya!"

Tanpa berkata apa-apa lagi, Satsuki berbalik dan pergi meninggalkan lapangan. Naruto hanya bisa berdiri di tempat, merasa lega sekaligus gugup. Saat Satsuki menghilang dari pandangan, ia langsung mengangkat tangannya ke udara.

"Yatta! Berhasil!" serunya, sebelum menyadari bahwa beberapa penduduk desa sedang menatapnya aneh. Ia hanya tertawa kecil dan bergegas pergi. Kini, ia harus mempersiapkan segalanya agar malam ini sempurna.

.

.

.

Naruto berdiri di depan cermin kecil di kamarnya, mematut dirinya dengan sedikit canggung. Ia mengenakan yukata biru gelap dengan pola sederhana yang dipinjam dari Iruka, mengingat ia sendiri tidak punya pakaian tradisional yang layak. Rambut pirangnya, meski sulit diatur, akhirnya tertahan rapi setelah beberapa percobaan. Tapi, meski penampilannya cukup rapi, kegelisahannya masih terasa jelas.

"Santai, Naruto. Ini hanya festival biasa. Kamu tidak perlu terlalu tegang," gumamnya pada bayangannya di cermin. Namun, hatinya berdebar kencang. Ini bukan sekadar festival biasa. Ini adalah kencan pertamanya dengan Satsuki, gadis yang selama ini selalu membuatnya bekerja keras untuk sekadar mendapatkan perhatian.

Setelah menarik napas dalam beberapa kali, ia melangkah keluar dari apartemennya. Jalanan Konoha mulai dipenuhi lampu lentera berwarna-warni, memberi suasana hangat dan meriah. Ia melangkah dengan cepat menuju distrik Uchiha, tempat di mana ia akan menjemput Satsuki.

Saat sampai di depan gerbang besar keluarga Uchiha, Naruto berhenti sejenak untuk mengatur napasnya. Bahkan hanya berdiri di depan gerbang ini saja sudah cukup membuatnya merasa kecil. Gerbang itu tampak kokoh dan megah, seperti mencerminkan reputasi keluarga Uchiha yang terpandang. Dengan ragu, ia mengetuk pintu kayu besar itu.

Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Satsuki yang berdiri dengan anggun di baliknya. Naruto terpaku sejenak, matanya membelalak sedikit. Satsuki mengenakan yukata hitam dengan hiasan bunga ungu di bagian bawahnya. Rambutnya yang biasanya tergerai kini disanggul sederhana, dengan beberapa helai rambut yang dibiarkan jatuh di sekitar wajahnya. Wajahnya yang dingin tetap terlihat memukau di bawah cahaya lentera.

"Kau datang tepat waktu. Lumayan," komentar Satsuki dengan nada datar, meski ada sedikit senyum di sudut bibirnya.

Naruto menggaruk tengkuknya, merasa gugup. "Hehe, tentu saja. Aku kan sudah janji."

Satsuki mengamati penampilannya sejenak, lalu mengangguk kecil. "Setidaknya kau tahu cara berpakaian yang layak."

Naruto hanya tertawa kecil, tidak ingin merespon lebih dari itu. Satsuki menutup pintu di belakangnya, lalu melangkah keluar. Bersama-sama, mereka mulai berjalan menuju festival yang diadakan di pusat desa.

Di sepanjang jalan, Naruto mencoba mencairkan suasana. "Jadi, Satsuki, apa kau pernah pergi ke festival seperti ini sebelumnya?" tanyanya, mencoba membuka percakapan.

"Beberapa kali," jawab Satsuki singkat. "Tapi biasanya aku hanya pergi sebentar, lalu pulang."

"Kenapa? Apa kau tidak suka festival?" tanya Naruto, penasaran.

Satsuki menoleh padanya, matanya memandang lurus ke dalam matanya. "Aku hanya tidak suka keramaian yang berlebihan. Terlalu bising."

Naruto tersenyum kecil. "Kalau begitu, aku pastikan kita tidak perlu terlalu lama di tempat yang ramai. Kita bisa pilih stan-stan yang ?"

Satsuki tidak langsung menjawab, tapi ekspresinya melunak sedikit. "Terserah. Aku ikut saja."

Naruto mengangguk, merasa lega. Meskipun percakapan mereka sederhana, setidaknya Satsuki tidak terlihat menyesal menerima ajakannya. Ia bertekad untuk membuat malam ini menyenangkan bagi mereka berdua.

Ketika mereka akhirnya sampai di area festival, suasananya sudah sangat meriah. Lentera berwarna-warni menggantung di sepanjang jalan, sementara suara tawa dan obrolan memenuhi udara. Aroma makanan khas festival seperti takoyaki dan taiyaki menyapa hidung mereka, membuat Naruto langsung merasa lapar.

"Kau mau mencoba sesuatu?" tanya Naruto sambil menunjuk ke arah deretan stan makanan.

Satsuki mengamati sekeliling dengan tenang. "Kau yang memutuskan. Aku tidak keberatan."

"Baiklah!" Naruto segera mengarahkan langkah mereka ke salah satu stan takoyaki. "Stan ini katanya terkenal enak. Kita coba, ya?"

Mereka memesan satu porsi dan membawanya ke area yang sedikit lebih sepi untuk duduk. Naruto dengan antusias mulai makan, sementara Satsuki memakan dengan tenang, sesekali melirik ke arah keramaian di sekitar mereka.

"Bagaimana? Enak, kan?" tanya Naruto dengan mulut penuh.

"Lumayan," jawab Satsuki singkat, meski Naruto melihat sedikit kilauan puas di matanya.

Setelah makan, mereka melanjutkan menjelajahi festival, mencoba beberapa permainan seperti menembak dan menangkap ikan. Meski awalnya Satsuki terlihat enggan, lambat laun ia mulai menikmati suasana. Naruto bahkan berhasil membuatnya tersenyum kecil ketika ia secara tidak sengaja menjatuhkan salah satu hadiah permainan ke kolam ikan.

Malam itu berjalan lebih lancar dari yang Naruto bayangkan. Ia tahu bahwa ini hanyalah awal, tapi melihat Satsuki lebih rileks di sisinya membuatnya merasa bahwa semua usahanya tidak sia-sia.

Malam semakin larut, namun suasana festival tetap hidup, dipenuhi dengan tawa, musik, dan kegembiraan. Kembang api yang terus meledak di langit malam memberi warna-warni yang cerah, sementara keramaian di sekitar mereka semakin jauh saat Naruto dan Satsuki mencari tempat yang lebih tenang. Langkah mereka terasa sepi meskipun di sekelilingnya masih ramai, seolah dunia hanya milik mereka berdua saat mereka berjalan di bawah cahaya rembulan yang memancar lembut.

Naruto menatap Satsuki dengan pandangan serius, mencoba mencari kata-kata yang tepat. Seperti biasa, kata-kata seringkali sulit keluar dari mulutnya ketika ia merasa benar-benar ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Satsuki, dengan wajah datar dan tatapan tajam yang selalu ia tunjukkan, hanya berjalan dengan langkah tenang di sampingnya. Namun, ada kehangatan yang terlihat di matanya yang jarang ia tunjukkan, sebuah sinyal bahwa ia tidak benar-benar acuh tak acuh terhadap apa yang sedang terjadi di sekitarnya.

Mereka akhirnya menemukan sebuah tempat yang cukup jauh dari kerumunan, di sebuah taman kecil yang terletak di tepi sungai yang memantulkan cahaya kembang api. Di sana, di bawah langit yang penuh dengan ledakan warna-warni, keduanya duduk berdekatan di sebuah bangku kayu yang sudah usang. Kembang api yang meledak di langit memberikan iluminasi indah di sekitar mereka, seolah dunia ini adalah panggung yang hanya untuk mereka.

Naruto menatap Satsuki sejenak, perasaan dalam dirinya semakin kuat. Ia tahu betul betapa jarangnya ia bisa berada di sampingnya dalam suasana seperti ini, jauh dari rutinitas sehari-hari yang penuh dengan tugas dan tanggung jawab. Inilah saat yang tepat untuk mengungkapkan apa yang sudah lama ia simpan dalam hatinya.

"Satsuki," suara Naruto terdengar agak canggung, namun ada keteguhan di dalamnya. "Aku… aku hanya ingin bilang… aku benar-benar menghargaimu. Maksudku, aku tahu kita sering bertengkar, aku sering mengganggumu, tapi… kau adalah orang yang paling penting bagiku."

Satsuki menoleh sedikit ke arahnya, namun tetap menjaga ekspresi datarnya. Ia tahu Naruto tidak pernah berbicara seperti ini tanpa alasan yang kuat. Dalam pikirannya, ia mungkin tahu betapa dalamnya perasaan Naruto, meskipun ia jarang mengungkapkannya dengan kata-kata. Satsuki bukanlah orang yang mudah terbuka atau menunjukkan sisi lembutnya, tapi ada sesuatu dalam kata-kata Naruto yang membuat hatinya sedikit lebih hangat.

"Apa kau serius?" Satsuki bertanya dengan nada datar, meskipun ada sedikit kelucuan di balik kata-katanya. "Kau dan kata-kata manismu…"

Naruto terkekeh pelan, merasakan ketegangan di dalam dirinya sedikit mereda. "Iya, aku serius, Satsuki. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku hanya… ingin kau tahu kalau aku akan selalu ada untukmu. Bahkan kalau kita harus menghadapi apa pun, aku akan ada di sini."

Satsuki terdiam beberapa saat, matanya tidak lagi menatap langit penuh kembang api, melainkan menatap Naruto dengan intens. Ada sesuatu yang berbeda di matanya kali ini. Mungkin, meskipun dia jarang mengungkapkan perasaan, Satsuki bisa merasakan betapa tulusnya pernyataan itu. Di balik sikap dinginnya, ada satu bagian dari dirinya yang selama ini mencoba disembunyikan—perasaan yang ia pendam terlalu lama. Perasaan yang sebenarnya ingin ia akui, namun terlalu takut untuk diperlihatkan.

"Aku juga… senang bisa bersamamu, Naruto," akhirnya Satsuki mengungkapkan dengan suara lembut yang hampir tidak terdengar, namun cukup untuk membuat hati Naruto berdebar lebih kencang. "Kau… membuat banyak hal lebih mudah, meskipun seringkali membuatku frustrasi."

Naruto tersenyum lebar, hampir tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja keluar dari bibir Satsuki. Meskipun pernyataannya terdengar agak dingin, Naruto tahu bahwa itu adalah bentuk kehangatan yang sangat jarang ia lihat dari Satsuki. Dia merasa seperti mendapat hadiah yang lebih berharga dari semua kembang api yang meledak di langit malam ini.

Tanpa sadar, jari-jemari Naruto meraih tangan Satsuki yang terletak di sampingnya. Gerakan itu terasa pelan dan ragu, namun niatnya sangat jelas. Dia ingin menyentuhnya, ingin mengukuhkan hubungan ini lebih jauh lagi. Tapi sebelum ia bisa merasakan apa-apa, Satsuki menoleh dengan ekspresi terkejut, namun tidak menarik tangannya.

Naruto merasa seolah dunia berhenti sejenak. Rasa canggung itu menyelimuti mereka berdua, namun ada juga perasaan yang membuat dada Naruto semakin sesak. Tangan mereka saling menyentuh, dan itu cukup untuk membuat hatinya berdegup kencang. Dia menunggu, menunggu apakah Satsuki akan menarik tangannya kembali atau membiarkannya seperti itu.

Satsuki tidak menarik tangannya.

Itulah yang membuat Naruto terkejut. Dia menatap Satsuki, yang masih tidak menunjukkan banyak ekspresi, namun matanya yang tajam itu menunjukkan sesuatu yang tak terungkapkan. Sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata-kata yang bisa dia ucapkan.

"Jangan bilang apa-apa," kata Satsuki dengan suara lembut yang tak biasanya. "Ini… cukup."

Naruto merasa hatinya melambung mendengar kata-kata itu. Dia menggenggam tangan Satsuki dengan lebih erat, seolah ingin memastikan bahwa momen ini bukanlah mimpi. Kembang api di langit terus meledak, tetapi bagi Naruto, dunia seakan berputar di sekitar momen ini—di sekitar tangan mereka yang saling menggenggam, di tengah kegembiraan festival yang tetap terasa jauh, jauh sekali.

Dalam keheningan yang mengikutinya, Naruto tahu satu hal pasti: Momen ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang akan mereka jalani bersama, meskipun tantangan dan rintangan mungkin akan terus menghadang di depan mereka. Tapi selama mereka saling memiliki, Naruto yakin bahwa tidak ada yang tak bisa mereka hadapi bersama.

Mereka duduk di sana, di bawah langit yang dipenuhi kembang api, saling berbagi keheningan yang nyaman, sementara dunia terus bergerak di sekitar mereka, seperti dua bintang yang akhirnya menemukan jalannya.

.

.

.

Setelah kembang api terakhir meledak di langit, meninggalkan kilauan warna-warni yang perlahan memudar, suasana festival yang riuh mulai mereda. Kerumunan orang mulai bergerak pulang, meninggalkan suara riuh yang perlahan menghilang. Di sisi yang lebih sepi, Naruto dan Satsuki berjalan bersama, langkah mereka berdampingan namun tidak terburu-buru. Hanya ada suara langkah kaki mereka di atas jalanan yang tenang, serta desah angin malam yang membawa aroma segar.

Meski malam semakin larut, dan meskipun banyak kata yang tidak terucap, keduanya merasakan kehangatan yang berbeda di antara mereka. Sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kata-kata. Tidak ada keperluan untuk membicarakan hal-hal besar, karena dalam keheningan yang ada, mereka tahu bahwa mereka sudah saling mengerti.

Naruto menatap Satsuki sesekali, mencoba merasakan setiap detik bersama gadis yang selalu terlihat dingin dan sulit didekati. Namun malam ini, ada sisi lain dari dirinya yang terbuka. Di balik ekspresi datarnya, ia merasakan sesuatu yang berbeda—sesuatu yang lebih lembut, lebih manusiawi. Naruto merasa seolah mereka telah melangkah satu langkah lebih dekat, meski perasaan itu sulit dijelaskan.

Satsuki berjalan dengan tenang, menjaga jarak, namun tidak ada rasa canggung yang mengganggu mereka. Di sisi lain, Naruto merasa sedikit kikuk, terutama setelah perasaan yang begitu dalam ia ungkapkan tadi. Namun, ia juga merasa lega. Seperti ada bagian dari dirinya yang selama ini terpendam, kini bisa bernapas lebih leluasa. Tidak perlu banyak kata. Kehadiran satu sama lain sudah cukup untuk mengungkapkan banyak hal.

Ketika mereka mendekati persimpangan jalan yang memisahkan arah pulang mereka, Naruto merasa ada yang belum selesai. Meskipun mereka sudah cukup lama berjalan bersama, ia merasa ada yang kurang jika ia tidak mengantar Satsuki pulang.

"Satsuki," kata Naruto dengan suara yang sedikit lebih lembut, "Aku... akan mengantarmu sampai rumah, ya?"

Satsuki menoleh ke arah Naruto dengan ekspresi yang tidak banyak berubah, namun ada sedikit kejutan di matanya. Ia jarang menerima perhatian semacam itu, terutama dari Naruto yang selalu tampak ceroboh. Namun, ada sesuatu dalam tatapan Naruto yang membuatnya merasa agak berbeda malam ini.

"Apa kau tidak keberatan?" tanya Satsuki dengan nada yang hampir terdengar seperti ragu, meskipun suaranya tetap terdengar datar.

"Tidak sama sekali!" jawab Naruto cepat, dengan senyuman lebar. "Aku kan kekasihmu, Satsuki. Itu hal yang wajar, kan?"

Satsuki tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya sedikit mengangguk, dan bersama-sama mereka melanjutkan langkah. Meskipun jarak antara mereka semakin dekat, ada kenyamanan dalam kebersamaan mereka yang tidak perlu diucapkan. Langkah mereka seirama, dan di bawah langit malam yang semakin sepi, suasana terasa tenang, meskipun berbagai perasaan terus bergulir di dalam diri mereka.

Ketika mereka sampai di depan rumah Satsuki, Naruto berhenti sejenak. Melihat rumah besar yang terletak di ujung jalan, ia merasa bahwa ini adalah titik di mana mereka harus berpisah, meskipun rasanya aneh. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu terasa tersangkut di tenggorokannya.

Satsuki menatap rumahnya, lalu berbalik ke arah Naruto. "Terima kasih sudah mengantarku," katanya dengan suara yang tetap dingin, namun ada sedikit kehangatan yang tersirat dalam nada suaranya. "Tapi kau tidak perlu repot-repot."

Naruto mengangguk, meskipun sedikit terkejut dengan cara Satsuki mengungkapkannya. "Aku senang bisa mengantarmu, Satsuki. Semoga kau tidur nyenyak," jawab Naruto, berusaha menunjukkan bahwa ia tidak merasa canggung meskipun mereka baru saja berbagi momen yang sangat berharga.

Satsuki menatapnya untuk beberapa detik, dan untuk pertama kalinya malam ini, ekspresinya sedikit melunak. Ia melihat Naruto dengan mata yang lebih lembut, meskipun masih ada ketegangan di wajahnya. "Tidurlah yang nyenyak juga, Naruto. Besok masih ada banyak hal yang harus kita lakukan."

Naruto tersenyum lebih lebar lagi, meskipun sedikit kikuk. "Kau benar, besok kita masih punya banyak waktu, kan?" Katanya, meskipun tahu bahwa malam ini adalah lebih dari sekadar pertemuan biasa.

Satsuki tidak menjawab lagi. Dengan langkah ringan, ia berbalik dan mulai berjalan menuju pintu rumahnya, tetapi sebelum masuk, ia berhenti sejenak dan menoleh kembali ke arah Naruto.

"Jangan lupa... aku senang apa yang kau lakukan hari ini," kata Satsuki dengan lembut, suaranya hampir berbisik.

Naruto terdiam beberapa detik, mencoba mencerna kata-kata itu. Lalu, senyumnya semakin lebar. "Aku juga, Satsuki," jawabnya, merasa lebih ringan. "Aku juga."

Dengan itu, Satsuki membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Naruto yang masih berdiri di luar. Meskipun malam sudah sangat larut, hati Naruto terasa lebih hangat dari sebelumnya. Sebelum ia berbalik dan melangkah pulang, ia menatap langit yang penuh bintang, berpikir bahwa malam ini adalah awal yang baik—awal yang penuh dengan harapan baru, dan, mungkin, awal dari sesuatu yang lebih besar yang akan mereka hadapi bersama.

END or TBC?

...

Alhamdulillah chapter 2, sebenarnya rencana awal mau bikin nih fanfic jadi one shot lo.. malah keterusan wwkwkwwkw
Enjoy! Feedbacknya pliss