EVERYTHING

.

.

Warning: Mature Content

Tidak diperuntukkan untuk underage

Mobil Itachi berhenti di depan rumah yang nampak sepi itu. Ia turun dari mobilnya, dan membunyikan bel yang tertempel di samping pintu. Beberapa kali, namun nihil tak ada respon.

Inisiatif, Itachi meraih handphonenya dan terpampang balasan pesan dari Deidara atas pesannya yang mengatakan akan berkunjung. Namun sialnya, Deidara sedang berada di luar kota dengan kekasih barunya.

Itachi berjalan menuju mobilnya kembali, namun bahunya ditepuk dari belakang. Spontan Itachi menoleh. Belum sempat Itachi melihat siapa orang itu, dengan cepat pukulan mendarat di tengkuknya hingga membuat pria itu tak sadarkan diri.

Itachi dibopong oleh dua orang asing menuju mobil mereka, dan membawanya pergi.

"ugh…" Itachi merasakan pening di kepalanya. Matanya berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang ada di sekitarnya. Pria itu hendak menggerakkan tangannya namun gagal. Seketika ia tersadar jika tubuhnya dipaksa dalam posisi berdiri dengan kedua tangannya diborgol dan dikaitkan ke hook di atas kepalanya.

Ia melihat sekeliling. Tak ada siapapun.

Namun ia mendengar suara ketukan langkah kaki yang semakin mendekat, hingga daun pintu ruangan itu terbuka.

"S-sasori?!" Itachi melotot tak percaya bahwa orang itu berada di hadapannya.

"Yaa… ini aku.. Aku senang ternyata kau masih mengenalku, Uchiha Itachi." Seringaian sinis tergambar jelas di wajah mungil pria merah itu.

"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau membawaku kesini!" Itachi setengah berteriak tak sabaran. Seringaian itu semakin lebar di wajah lawan berbicaranya. Ia mendekat menuju Itachi yang terikat tak berdaya.

"Hohoho… bisakah kau tak usah berteriak? Aku tidak tuli." Sasori menarik kursi dan duduk tepat di hadapan pria Uchiha itu.

"Hm… darimana ya aku memulai?" Pria merah itu menyilangkan kedua tangannya di dada. Tatapannya benar-benar terlihat seperti sedang mengejek.

Akasuna Sasori. Teman semasa kuliah Itachi, yang dulu sangat dekat dengannya. Itachi bukanlah tipe orang yang dapat bergaul dengan semua orang. Namun pembawaan Sasori yang ceria dan selalu mendekatinya, membuat Itachi tak keberatan untuk berteman dengan Sasori.

Bertahun-tahun mereka bersahabat, Itachi menganggap Sasori sebagai keluarganya sendiri. Itachi sudah tak memiliki orang tua dan sanak saudara, ia benar-benar berjuang untuk hidup dan masa depannya. Bisa dibilang, Sasori juga merupakan saksi hidup perjuangannya.

Hingga Sasori membuat pengakuan, jika ia menganggap Itachi lebih dari sekedar sahabat. Sasori mencintai Itachi, teramat.

Pada awalnya, Itachi cukup terkejut dengan pengakuan sahabatnya itu. Itachi memberikan pengertian bahwa ia tak bisa menerima cinta Sasori. Itachi telah memiliki kekasih, dan bagaimanapun Itachi adalah seorang straight.

Hubungan persahabatan mereka tetap terjalin, meski setelah pengakuan cinta Sasori yang tertolak. Itachi juga bukan tipikal homophobic dan sebagainya. Hingga sampai di titik Itachi merasa tak mengenal siapa Sasori sahabatnya. Sasori dengan tega merencanakan kejahatan untuk menyakiti Conan, kekasihnya pada waktu itu.

Sasori mensabotase mobil Conan, dan membuat gadis itu kecelakaan. Beruntungnya Conan masih bisa selamat. Kasus kecelakaan tunggal itu tak diselidiki lebih jauh karena dianggap kelalaian berkendara dan kurangnya perhatian atas keamanan kendaraan.

Itachi mengetahui fakta dibalik kecelakaan Conan secara tidak sengaja.

Tanpa maksud melanggar privasi Sasori, Itachi mendengar dan juga melihat Sasori melakukan percakapan dan pembayaran 'jasa' dengan seseorang yang mencacati kabel rem milik kekasihnya.

Tentu Itachi marah besar. Sama halnya Sasori mencoba menghilangkan nyawa seseorang karena obsesinya. Awalnya Itachi akan melaporkan hal ini kepada polisi, namun Sasori adalah sahabatnya yang juga sangat ia perdulikan. Lagipula, Itachi juga tak memiliki bukti konkret jika Sasori adalah pelakunya.

Itachi mulai membuat jarak dengan Sasori, bahkan begitu juga dengan Conan. Itachi tak ingin siapapun terluka karenanya. Biarlah Conan beranggapan jika dirinya adalah laki-laki brengsek yang memutuskan hubungan dan menghilang begitu saja. Yang terpenting Conan aman karena tak terhubung apapun dengannya.

Sasori terus berusaha untuk meminta maaf dan mencoba berbaikan, namun Itachi tak bisa. Ia ingin sementara waktu menjauh dari siapapun, termasuk Sasori. Dan Itachi pun tak tahu sampai kapan.

Hingga ia mendengar kabar jika Sasori pindah dan meneruskan Studinya di Amerika, negara asal Ibunya.

Sasori meninggalkan sepucuk surat untuk Itachi, permohonan maaf sekaligus kalimat perpisahan.

Pemuda Uchiha itu mencoba melupakan kejadian sebelumnya, dan fokus untuk menata masa depannya.

"Sebenarnya aku kembali ke Jepang minggu lalu. Ada hal yang harus kuurus disini. Namun nyatanya setelah bertahun-tahun, negara ini masih saja mengingatkanku denganmu." Sasori berdiri dari posisinya. Mendekati kawan lama sekaligus seseorang yang masih ia cintai itu.

Itachi tak menyahut. Tatapannya penuh antisipasi dengan seseorang yang dulu pernah menjadi sahabatnya itu. Itachi menganggap Sasori tak ubahnya hanya seorang psikopat gila. Terbukti apa yang sudah dia lakukan pada Conan dan dirinya saat ini.

Warning: BL scene

"Hei.. hei.. Berhenti memelototiku seperti itu." Sasori tertawa. Rasanya menyenangkan bertemu dengan Itachi dalam kondisi yang seperti ini, tidak berdaya.

"Kau tahu… dirimu yang seperti ini terlihat berlipat kali lebih seksi dari biasanya." Sasori mendekatkan wajahnya, hendak mencium Itachi. Namun dengan cepat Itachi memalingkan wajahnya.

Sasori menyeringai.

"Kau… sangat menggemaskan Itachi." Sasori meraih leher Itachi. Mencekiknya dengan erat..

"Ukh… uhuk… lep.. lepash.." Nafas Itachi tercekat. Dadanya mulai terasa sesak. Ah, apa dia akan mati sekarang? Setidaknya, biarlah ia melihat wajah Ino untuk yang terakhir kali. Sungguh ironi. Ia yang mendorong Ino menjauh, namun Itachi sudah sangat merindukan Ino saat ini.

Dadanya terasa semakin sakit, entah karena Sasori yang tengah mencekiknya ataukah rasa sakit karena merindukan Ino.

"Gah.. hah.. hah.. hah.. uhuk.. uhuk.. dasar.. bajingan!" Sasori melepaskan cengkramannya di leher Itachi. Dengan rakus Itachi menghirup udara sebanyak-banyaknya mengisi paru-parunya yang benar-benar hampir kosong.

"Aku tak akan membunuhmu secepat ini, Itachi. Bagaimanapun dari dulu hingga sekarang, rasa ingin memilikimu tidaklah berubah. Atau bahkan semakin besar." Sasori melingkarkan lengannya ke tubuh Itachi, memeluknya. Ia sangat menyukai ini, begitu hangat.

"Jangan sentuh aku, atau kau akan tahu akibatnya!" Itachi mencoba memberontak, namun ikatan pada tangannya menjadi penghalang.

"Sial!" Sasori melepaskan pelukannya. Ia mencengkram rahang Itachi dan memagut bibir Itachi paksa. Dengan marah, Itachi menggigit bibir Sasori hingga terasa bau anyir darah di sela-sela pagutan itu.

"Ack! Kau!" Sasori menyeka leleran darah yang keluar dari bibir bawahnya karena ulah Itachi. Oh, mungkin bisa dibilang Itachi salah langkah. Sasori adalah seorang sadomasochism. Tindakan Itachi yang seperti ini malah membuat hasratnya semakin memuncak.

Tubuh Itachi terhuyung, begitu dengan kuat Sasori melayangkan pukulan ke pipi kanannya. Sudut bibirnya terasa perih, ia dapat merasakan sensasi asin di mulutnya.

"Agh…" Tak puas dengan satu pukulan, Sasori melayangkan tinjunya tepat di perut Itachi. Sial, kalau-kalau ia tak terikat, Itachi tak akan menahan diri untuk menghajar mantan temannya itu.

"Bagaimana? Apa kau menikmatinya? Terima kasih karena kau membuat semuanya semakin menarik, Itachi." Sasori berlutut di hadapan Itachi yang hampir kehilangan kesadarannya. Perutnya terasa mual, lengannya mati rasa karena kebas harus menahan berat tubuhnya.

Ia dapat dengan jelas melihat Sasori mulai melucuti celananya. Suaranya seakan tertahan di tenggorokannya. Sungguh ia tak akan berbaik hati lagi pada seseorang yang sedang melecehkannya di bawah sana.

"Harusnya aku melakukan ini padamu sejak dulu, Itachi. Sial! Berapa banyak jalang yang sudah melakukan ini padamu?" Kata-kata umpatan yang siap ia lontarkan tertelan kembali. Pandangannya semakin samar. Itachi merasa bersyukur kesadarannya semakin hilang. Setidaknya itu lebih baik daripada dilecehkan saat kesadaran penuh, pikirnya. Hingga semua menggelap. Itachi pingsan.

——

"Thanks, Honey. Aku akan langsung pulang. Kau beristirahatlah." Deidara melambaikan tangannya kepada kekasihnya setelah liburan menyenangkan mereka.

Setelah memastikan kekasihnya pulang dengan selamat, Deidara mengecek handphonenya kembali. Sudah tiga hari sejak Itachi mengatakan akan berkunjung, dan selepas itu tak ada balasan apapun dari pria Uchiha itu. Deidara juga beberapa kali meneleponnya, namun nihil, tidak ada jawaban dan baru-baru ini handphonenya mati.

Seharusnya Deidara pulang 3 hari lagi, namun ia mengubah rencananya karena jujur ia juga takut jika sesuatu terjadi pada sahabatnya.

"Sial kau Itachi! Kau harus membayar karna mengganggu liburanku." Deidara menjalankan mobilnya menuju rumah Itachi untuk mengecek keadaan sahabatnya itu.

Sesampainya di rumah Itachi, Deidara melihat mobil merah asing yang terparkir disana. Dengan bergegas, Deidara turun dari mobilnya dan mendekati seseorang yang tampak duduk meringkuk di teras rumah milik Uchiha itu.

"Ah maaf. Kau…" Deidara menepuk kecil pundak wanita pirang yang nampaknya tertidur.

"Ah.. Ita-… ah iya?" Ino merapikan rambutnya yang berantakan dan berdiri dari posisinya.

"Apa kau Yamanaka Ino?" Tentu saja Itachi telah menceritakan semuanya pada Deidara.

"Benar… anda…" Ino menyipitkan mata ragu harus bersikap bagaimana di depan orang asing yang nampaknya juga mengenal Itachi itu.

"Oh, aku Deidara, sahabat Itachi." Deidara mengulurkan tangannya, mereka berjabat tangan.

Deidara mempersilakan Ino untuk duduk kembali dan berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Jadi, semalam kau tidur disini?" Menilik keadaan Ino yang sepagi ini sudah berada di rumah Itachi, tentu siapapun bisa menebak jika gadis itu memang bermalam di teras rumah itu. Apalagi terlihat rumah Itachi memang sepi.

Ino menggangguk mengiyakan.

"Sebenarnya sejak 3 hari yang lalu, saya selalu datang, namun Itachi tidak ada. Makanya, semalam saya berniat menunggunya, kalau-kalau dia pulang." Ino menjelaskan.

Deidara merasa ada yang sesuatu yang terjadi dengan sahabatnya itu. Setahunya, Itachi akan selalu menginap di rumahnya jika ia ada masalah atau merasa suntuk.

Dan kebetulannya lagi, saat Itachi berniat datang, ia tak ada di rumah. Deidara mengacak rambutnya kesal. Kemana Itachi, dan bagaimana kabarnya ia pun tak tahu. Jujur rasa cemasnya kian menjadi.

"Jadi, Ino. Itachi memang berencana untuk ke rumahku beberapa waktu yang lalu. Dan aku sedang berada di luar kota. Tapi setelah itu, dia tak menghubungiku lagi. Bahkan sekarang handphonenya mati."

"Ah, begitukah? Apa Deidara-san tahu tempat lain yang biasanya Itachi kunjungi?" Ino pun sama frustasinya dengan Deidara, sebab wanita cantik itu juga tak bisa menghubungi Itachi sama sekali.

Deidara menggeleng. Jujur, sebagai sahabat dekat Itachi, Deidara juga tak tahu. Itachi tak memiliki kebiasaan menghilang seperti ini.

"Sebaiknya kau pulang dulu, Ino. Aku akan berusaha mencari keberadaan bajingan itu. Oh, sebaiknya kita bertukar nomor." Deidara memberikan handphonenya pada Ino, bermaksud agar gadis itu memberikan nomornya.

Setelah memastikan Ino pulang, Deidara memacu mobilnya untuk pulang terlebih dahulu. Siapa tahu jika Itachi masih di sana. Gila memang, tapi siapa tahu sahabatnya itu memang sedang tak waras.

Begitu sampai, Deidara sedikit lega karena mendapati mobil Itachi masih disana. Deidara bergegas menghampiri mobil itu namun nihil. Tak ada Itachi di dalamnya.

"Itachi?" Deidara menyusuri halaman rumahnya, namun juga tak ada keberadaan sahabatnya itu.

"Shit! Sepertinya memang ada yang tidak beres." Deidara berpikiran untuk mengecek cctv yang terpasang di halaman rumahnya. Siapa tahu ada petunjuk.

Dan benar saja, terlihat jelas jika dua orang dengan topeng membawa Itachi yang tak sadarkan diri. Benar adanya, memang terjadi sesuatu pada Itachi.

Dengan cepat, Deidara menuju ke tempat ahli IT yang biasanya ia sewa. Dari apa yang terlihat, Itachi masih membawa handphonenya. Setidaknya itu bisa digunakan untuk melacak keberadaannya.

"Handphonenya non-aktif. Jadi satu-satunya cara, menunggu sampai diaktifkan dan sinyalnya bisa terbaca." Shino menjelaskan.

"Apa tak ada cara lain?" ucap Deidara tak sabaran.

"Oh mungkin aku bisa mencoba mentrack mobil yang membawanya pergi dari setiap cctv di jalan yang mereka lalui."

"Lakukan! Lakukan secepatnya." Deidara antusias.

"Tapi itu artinya, aku harus menyadap cctv itu dulu, dan yah kau tahu mencarinya tak akan mudah karena aku harus mengecek satu per satu."

"Yang terpenting lakukan dulu apa yang kau bisa dasar bajingan. Aku akan membayar berapapun yang kau mau!" Deidara naik pitam. Orang ini benar-benar…

"Hehe.. baiklah.. Aku akan berusaha semaksimal mungkin. Aku akan menghubungimu nanti jika ada yang kutemukan."

"Baiklah. Kuserahkan urusan ini padamu, Shino." Deidara menepuk pundak Shino, meletakkan kepercayaan penuh pada pria berkacamata itu.

Deidara memutuskan untuk memberitahu Ino semua yang terjadi. Bagaimanapun, gadis itu sama khawatirnya dengan keadaan Itachi.

Tak menunggu lama, teleponnya berdering.

"Lalu.. apa yang harus kita lakukan.. hiks.. hiks." Begitu membaca pesan yang dikirimkan Deidara, Ino semakin tak tenang.

"Ino, dengar. Saat ini aku sedang mengusahakan yang kubisa untuk menemukan Itachi. Kau cukup tunggu saja kabar dariku, oke? Aku janji akan membawanya pulang." Deidara tahu benar apa yang dirasakan gadis muda itu. Nampaknya, gadis itu benar-benar tulus mencintai Itachi. Dan apa yang terjadi diantara mereka sebelumnya, hanyalah salah paham.

Sementara itu, di tempat Itachi berada.

Sudah beberapa hari sejak dirinya ditawan oleh Sasori. Tak ada yang bisa ia lakukan. Memang ikatan di tangannya sudah terlepas. Namun, Sasori memasangkan rantai panjang di kaki kanannya yang hanya bisa Itachi gunakan dlaam lingkup kamar itu saja.

Nampaknya memang Sasori memang tak ada di kediamannya saat ini. Sasori sempat mengatakan padanya akan pergi untuk mengurus sesuatu dan sebelum semuanya selesai, ia tak akan pulang. Persetan dengan semua itu, Itachi tak peduli. Justru itu sedikit lebih melegakan, ketimbang pria itu ada di dekatnya.

Tok.. tok..

"Tuan. Saya membawakan makan siang anda." Seseorang dari balik pintunya bersuara. Yang tak lain adalah suruhan sekaligus pelayan yang mengurus keperluannya selama disini, Nagato.

Cklek… Nagato dengan teliti menutup kembali pintu kamar Itachi dan menguncinya. Kalau-kalau Itachi kabur.

Nagato meletakkan nampan berisi satu set makanan lengkap di meja nakas. Dilihatnya, Itachi tidur memunggunginya. Ia meletakkan bingkisan paper bag bertuliskan brand ternama di kursi terdekat. Tak ingin mengganggu 'tamu' dari tuannya, Nagato bergegas keluar.

Setelah Nagato keluar, Itachi memeriksa sekeliling. Ia turun dari ranjang dengan rantai panjang yang masih senantiasa berada di kakinya.

Itachi menghampiri makanan yang disiapkan oleh Nagato. Ia tak butuh drama untuk jijik tak memakan makanan yang disediakan. Bagaimanapun ia harus tetap hidup. Sembari memikirkan bagaimana caranya untuk kabur. Itachi sama sekali tak berencana untuk hidup bersama psikopat itu selamanya.

Dilihatnya paperbag yang ditinggalkan oleh Nagato di kursinya. Sebuah kemeja berwarna biru cerah, keluaran dari brand mode paris yang terkenal. Itachi mendecih. Memasukkan kembali pemberian Sasori itu, tak berminat. Lagipula untuk apa Sasori memberikannya barang-barang mewah, selagi dirinya terkurung disini.

Itachi yakin, saat iki Deidara pasti sedang berusaha untuk menemukannya. Sayangnya, Itachi tak bisa menemukan handphonenya. Tentu Sasori bukan orang bodoh yang meninggalkan tawanannya dengan ponsel.

Piringnya bersih. Makanannya habis tak bersisa. Tiba-tiba tetesan air jatuh di atas piringnya.

"Hah? Apa ini? Apa aku berkeringat?" Tidak. Itachi sadar jika itu adalah air matanya. Sialan. Kenapa ia jadi cengeng seperti ini?

"Ino… Ino…" Itachi menggumamkan nama orang yang sangat ia cintai dan rindukan saat ini. Apa dia bisa bertemu dengan gadis itu lagi? Apa Ino baik-baik saja tanpanya?

Tidak. Itachi tak ingin berpisah dengan Ino. Hati dan pikirannya hanya ada gadis itu. Biarlah jika memang Tuhan masih mengijinkannya untuk bebas dari sini, Itachi akan melepas Anko demi Ino. Sungguh.

Tak peduli jika memang pada akhirnya Ino masih menjadikannya barang taruhan. Ia rela. Sungguh. Asal Itachi bisa hidup bersama dengan Ino. Memulai hidup baru, dan melupakan masa lalu.

Itachi selalu menyangkal adanya Tuhan, tapi sekali ini saja ia berharap siapapun di atas sana mendengarkan pengharapannya sekali ini.

Ring.. ring.. ring..

"Halo Shino?"

"Deidara.. aku menemukannya! Aku menemukan rute mobil yang membawa Itachi. Mereka menuju Suna!"

To be continue….

———

Halo.. Chimmi05 disini..

Wah.. akhirnya aku bisa update chapter lanjutan dar story ini.

Sebenarnya, aku sudah mempersiapkan beberapa chapter dari Everything, tapi device yang kugunakan rusak, dan semua data untuk update di ff ku tak bisa diselamatkan. Jadi aku malas untuk menulis lagi. Tapi ketika aku melihat komentar yang masih mengharapkan cerita ini masih berlanjut, sedikit banyak memacuku untuk mulai menulis lagi.

Maaf jika storylinenya menjadi cringe dan pilihan kata yang kugunakan kurang menarik. Jujur saja, lama tidak menulis, membuatku jadi sedikit 'bingung' dan 'kaku' untuk membuat kalimat per kalimat. Hehe.. gomen…

Semoga aku bisa menamatkan cerita ini, secara perlahan tentunya.

Aku akan mengerjakannya di sela-sela waktuku libur bekerja.

Oh iya, tolong berikan komentar dan saran setelah membaca cerita abal-abalku ini. Sedikit banyak kalimat yang readers tinggalkan, sangat berarti bagiku.. Arogatouu…