Selama ini musuhnya tergantung situasi dan kondisi. Tapi akhirnya sekarang. . .
Disclaimer : Masashi Kishimoto
1
Selama orang-orang dari pasukan koalisi dan Nagato sibuk tercengang. Naruto, Sasuke dan dan sebagian anggota pleton nya sedang sibuk menyiapkan diri untuk misi mereka.
Jika mereka punya waktu. Mereka benar-benar ingin hanya bersantai dan menikmati pemandangan dari udara. Mau bagaimana lagi? Mereka mungkin adalah orang pertama yang bisa terbang di udara. Teritori yang sejak bahkan sejarah belum ditulis hanya milik dari makhluk-makhluk yang punya sayap di punggungnya.
Tapi sekarang mereka juga bisa terbang. Dan bukan hanya itu. Mereka terbang di atas benda yang merek bantu buat sendiri. Mereka tidak terbang setelah mendapatkan kekuatan dari dewa untuk terbang, artifak ajaib, atau memintanya dari jin. Meski yang membangunnya secara penuh adalah penduduk Konoha dan pengungsi dari Kroufer, mereka masih punya andil di dalamnya. Dan hal itu membuat mereka juga ikut punya kebanggan tersendiri.
"Semua yang tidak sedang bekerja, berkumpul atau dengarkan radio kalian"
Kapal yang mereka tumpangi punya panjang 240m dengan 3 deck terpisah. Deck paling belakang berisi Naruto dan 20 anggota pletennonya yang sedang bersiap untuk terjun ke medan pertempuran. Secara literal.
Deck kedua yang posisinya di tengah berisi mesin diesel yang berfungsi sebagai generator untuk menggerakan 4 motor elektrik di empat sisi Kapal. Selain itu, tempat itu juga adalah tempat di mana antena utama radio serta satu-satunya senjata mereka berada. Semua benda-benda besar yang massanya paling berat sengaja diletakkan di sana untuk alasan keseimbangan.
Lalu dek yang paling depan berisi Sasuke, operator kontrol yang melakukan navigasi, lalu yang terakhir sebuah sirene mekanikal dan beberapa speaker besar.
"Aku paham kalau kalian semua masih ingin jalan-jalan, menikmati perjalanan kalian, dan mengagumi hasil usaha semua orang yang sedang kita naiki ini."
Naruto bisa paham sebab dia juga merasakan hal yang sama.
Benda yang sedang mereka naiki sekarang pada dasarnya adalah puncak dari perkembangan teknologi yang mereka miliki sampai saat ini.
Generator yang jadi jantung dari kapal udara itu adalah hasil dari usaha puluhan pandai besi yang bekerja siang malam untuk merealisasikan isi pikiran Sasuke. Keempat motor listrik yang menggerakan kapal udara mereka, baru bisa dibuat setelah belasan peneliti saling membenturkan kepala mereka untuk mendapatkan konfigurasi paling efisien.
Tubuh utama kapal udara yang mengangkat Deck mereka tercipta setelah Sasuke mengerahkan semua pria dan wanita di Aka untuk membangun rangka besinya serta menjahit kantong-kantong udara berlapis karetnya.
Lalu yang terakhir. Apa yang diisikan ke dalam kapal udara mereka adalah hidrogen. Gas berbahaya yang kalau tidak ditangani dengan sangat hati-hati. Salah sedikit saja, kapal udara mereka akan terbakar dan jatuh bersama orang-orangnya.
Memaksa desainnya harus puluhan kali direvisi setelah Sasuke berkali-kali melakukan test dan selalu menemukan ada yang salah. Pemuda itu sendiri sudah biasa jadi korban ledakan dari kesalahan-kesalahan itu. Jika dia tidak punya kekuatan spesial, dia sudah mati puluhan kali dalam sebulan ini saja.
"Tapi kita punya misi, dan misi ini bahkan jauh lebih penting dari benda ini!"
Anggota peleton Naruto, bahkan yang tidak ada di depannyapun mengangguk. Mereka merasa kecewa sebab hari ini adalah kesempatan pertama, dan kemungkinan juga kesempatan terakhir mereka untuk bisa terbang. Tapi mereka paham kalau apa yang harus mereka lakukan jauh lebih penting. Takdir koalisi, dan secara tidak langsung takdir negara mereka ada di tangan mereka.
"Sebelumnya akan kujelaskan lagi situasinya"
Mitokado Homura menculik Hinata dan Hanabi untuk memaksa Koalisi menerimanya sebagai anggota. Jika hal itu sampai berhasil maka integrasi koalisi akan runtuh. Dan organisasi itu akan ikut runtuh meninggalkan negara-negara yang melawan Konoha tidak lagi punya pemimpin.
Jika pasukan koalisi datang sampai duluan di kota Homura, maka Homura secara terpaksa harus diterima masuk. Tapi jika Nagato yang ingin memanfaatkan kematian saudaranya untuk memulai perang berhasil datang lebih dulu. Maka status quo antara koalisi dan Konoha akan hancur dan kedamaian rapuh yang mereka miliki akan langsung hilang.
Karena itulah, mereka yang adalah pasukan independen di bawah bendera Sasuke sebagai pengawal pribadi Hanabi harus sampai duluan dan menyelamatkan keduanya.
"Kita tidak punya waktu banyak"
Pasukan koalisi dan Nagato berada sekitar setengah jam dari Homura. Tapi dengan bantuan Shikamaru dia yakin bisa mengulur waktu setidaknya setengah jam lagi. Jadi. . .
"Kita harus menyelesaikan misi ini kurang dari satu jam sebab kita harus menyisakan hidrogen dan petrol untuk bagian akhir dari misi kita! Lalu untuk strateginya sendiri sederhana!"
Pertama, mereka akan membuat keributan dan mengagetkan semua orang di Homura. Dan ketika semua orang memberikan mereka perhatian, Naruto dan beberapa anggota squadnya akan turun dan menyelinap. Sebagai bantuan Sasuke juga akan ikut turun dengan terang-terangan untuk mengalihkan lebih banyak perhatian lain dari squadnya
"Apa kalian paham?"
"Paham!"
"Bagus, sekarang bersiap!"
"Siap!"
Setelah itu, Naruto dan semua anak buahnya mengambil dua tas besar dan memasangkannya pada tubuh mereka dengan erat. Setelah memastikan semuanya sudah aman, mereka membuka empat pintu besar lalu bersiap di ujung pintu bersiap untuk melompat.
"Sasuke, kau bisa mulai! Ganti!"
Bzztt. .
"Siap! Aku mulai"
Sasuke yang berada di deck paling depan mengubah sambungan micnya dari radio ke sebuah amplifier di sampingnya sambil memastikan jarak mereka dengan kota Homura. Setelah itu dia memberikan tanda pada anak buah Naruto yang jadi operator untuk menjaga kecepatannya serta sedikit merendahkan ketinggian mereka.
Lalu yang terakhir.
Bep. .
Dia menghidupkan micnya lalu bilang.
"Namaku adalah Sasuke Uchiha! Pengawal pribadi Hanabi Hyuuga! Tuan putri ketujuh kerajaan Konoha"
Sasuke berhenti bicara dan melihat ke bawah untuk memastikan kalau orang-orang di dalam kota itu mendengarnya. Dan begitu dia bisa melihat kalau mereka melihat ke atas, dia kembali berbicara.
"Aku datang untuk membawanya pulang! Mengambilnya dari pemimpin kalian, Mitokado Homura yang sudah menculiknya!"
Sasuke mengatakan semua kalimat itu dengan nada rendah dan pelan untuk memastikan kalau semua orang yang mendengarnya paham apa yang dia ucapkan. Tapi meski suaranya tenang, kau bisa dengan jelas merasakan kemarahan yang terselip di dalamnya.
"Mitokado Homura, segera kembalikan tuan putri Hinata dan Hanabi"
Jika kau tidak melawan dan mengembalikan mereka dengan patuh. Aku tidak akan melakukan apa-apa dan langsung pergi. Jika kau melawan, maka aku akan melawan balik.
Dan hal itu juga berlaku pada semua orang yang ada di Homura. Jika mereka membiarkanku, aku berjanji tidak akan melakukan apapun. Tapi kalau mereka menghalangiku, maka aku tidak akan ragu akan menghabisi kalian.
Jika mereka tidak ingin jadi korban. Akan lebih baik kalau semua orang pergi dari kota itu sampai dia selesai melakukan tugasnya.
"Aku akan ke tempatmu untuk menjemput mereka! Tolong buat keputusan yang bijak sebelum aku sampai!"
Sebab kalau sampai Sasuke tiba di tempat Mitokado dan orang tua itu masih belum memutuskan apapun, atau lebih buruknya. Masih mau melawan atau mencoba kabur maka. . . ..
"Aku akan menghancur leburkan kalian!"
Klik.
Sasuke membalik sebuah saklar di sampingnya. Setelah itu motor sirene mekanikal di luar deck yang sedang dia tempati mulai berputar. Awalnya putarannya lambat dan hanya membuat suara angin, tapi lama kelamaan putaran motor sirene itu bertambah cepat dan cepat sampai akhirnya benda itu memproduksi suara peringatan serangan udara yang biasa kau dengar di dalam dokumentasi perang dunia kedua.
Hanya saja, bagi orang yang tidak familiar dengan suara itu. Yang pada dasarnya semua orang kecuali Hanabi dan Sasuke. Suara itu lebih mirip dengan suara makhluk raksasa yang sedang meratap.
Di saat yang sama sirene itu terus berbunyi dengan frekuensi yang semakin tinggi. Senjata dari kapal udara itu juga mulai bergerak. Operator yang ada di deck tengah akhirnya menemukan target dan tinggal menunggu instruksi sebelum menembakan senjatanya ke darat.
"Jangan anggap aku hanya menggertak! Jika namamu bukan Mitokado Homura, aku sarankan agar kalian semua keluar dari kota sampai aku pulang."
Bsssst. . .
Sasuke kembali mengubah sambungan micnya ke radio dan bertanya. .
"Apa kau sudah mendapatkan targetnya?"
"Ya, ada sebuah tebing terjal di utara Homura yang kelihatan kosong"
"Kau sudah memeriksanya dengan teliti kan?"
Pemuda di seberang itu mengangkat teropongnya lalu bilang.
"Ya, aku sudah memastikan tidak ada orang di sana!"
"Bagus, luncurkan bomnya!"
"Siap!"
Dengan begitu, beberapa orang langsung menyiapkan diri.
Memastikan ulang lokasi yang mereka incar. Melakukan perhitungan balistik dan koreksi orientasi dari meriam yang jadi senjata utama mereka itu. Lalu memasukan amunisinya, yang bukan berbentuk bola dengan peledak di dalamnya. Melainkan sebuah bantalan metal dan juga sebuah tabung metal.
"Siap!"
Sasuke menarik nafas lalu dengan suara dingin bilang.
"Tembak!"
Yang langsung dikonfirmasi oleh operator senjata.
"Tembak!
Dengan begitu, ledakan dari meriam tadipun terdengar. Mendorong bantalan metal keluar dari mulutnya, yang juga mendorong tabung tadi untuk meluncur dalam kecepatan tinggi. Angin yang bertiup sempat membuat jalur balistik amunisinya sedikit berbelok, tapi secara umum arahnya masih masuk dalam sasaran.
Dan begitu amunisi itu menyentuh tanah di targetnya.
BOOOMMMM!
Ledakan besar langsung terjadi. Tapi tidak seperti ledakan dari tembakan meriam pada umumnya. Suara yang ditimbulkan sudah seperti ada seribu meriam yang ditembakan secara bersamaan. Selain itu, begitu gelombang kejut yang ditimbulkannya selesai merobohkan semua pohon yang dan menghancurkan bebatuan ada di sana.
BAAAMMMMMMMM!
Ledakan kedua terjadi, dan kali ini kehancuran itu disertai dengan raungan dari bola api raksasa yang membakar keseluruhan bagian dari 100m target yang mereka incar. Ledakan dan bola api itu bukan hanya menghancurkan apapun yang ada di dekatnya, tapi juga membakar semuanya jadi abu.
2
Bom yang mereka baru saja luncurkan adalah apa yang kau bisa sebut sebagai senjata Thermobaric. Tentu saja, dengan material yang terbatas Sasuke tidak bisa membuatnya sesuai dengan versi aslinya. Untuk bomnya yang sekarang, dia menggunakan hidrogen sisa dari kapal udaranya dan juga petrol sebagai bahan utamanya.
Dia menggunakan peledak konvesional sebagai pemicu untuk meledakan hidrogen yang dia simpan di dalam bom yang dia luncurkan tadi. Setelah hidrogen di dalamnya meledak, tempat lain di dalam benda itu yang berisi petrol juga akan ikut meledak dan menyebarkan semua isinya ke udara.
Dan begitu semua bahan bakar itu terkena percikan api.
Bammmmmmmm…
Ledakan dan bola apipun akan tercipta. Melahirkan sebuah gelombang kejut yang kuat dan bola api yang bisa menghancurkan semua yang ada di sekitarnya. Sebelum akhirnya tempat ledakan itu kehabisan oksigen dari api yang menyala dan menimbulkan kemunculan ruang vakum di lokasi yang sama.
Satu senjata itu sudah cukup untuk menghabisi seseorang beberapa kali dalam waktu satu detik.
Kalau kau bisa bertahan dari gelombang kejut yang ditimbulkannya. Kau akan tetap terbakar tanpa meninggalkan bekas oleh bola api raksasa yang mengikutinya. Dan kalau secara ajaib kau masih bisa selamat. Ruang vakum yang tercipta akan menghabisimu dengan meledakan paru-parumu.
Sasuke paham kalau senjata yang dibuatnya sudah berlebihan. Selain itu, jika sampai senjata itu jatuh ke tangan yang salah seperti senapannya. Korban yang akan jatuh akan jatuh di dalam perang akan meningkat drastis. Kau hanya bisa membunuh satu orang dengan satu peluru. Tapi dengan satu bomnya, seseorang bisa melumpuhkan ratusan bahkan ribuan orang dengan sekali serangan.
Tapi justru karena hal itulah dia membutuhkannya. Karena itulah dia ingin menunjukan kekuatan berlebihannya itu.
Dia ingin menyampaikan kepada semua yang melihat kalau dia sendiri sudah cukup untuk menghancur leburkan sebuah pasukan.
"Kelihatannya tahap ini berjalan lancar"
Bilang Naruto. Yang saat ini sedang terjun menuju pinggir kota Homura.
Naruto dan squadnya terjun bersamaan dengan ledakan dari bom yang mereka luncurkan untuk menghindari perhatian dari orang-orang yang ada di bawah. Setelah melakukan latihan intensif selama sebulan, Naruto dan kebanyakan dari anggota squadnya sudah bisa terjun dengan tenang. Dia bahkan sangat tenang sampai bisa memperhatikan reaksi orang-orang di bawah sana sambil mengendalikan arah jatuhnya.
Dan sesuai yang mereka duga. Reaksi yang dia bisa lihat pertama adalah. . . . .
Tidak ada.
Ketika kau dihadapkan pada sesuatu yang di luar nalar. Terkadang otak bahkan menolak untuk berpikir. Membuat pikiran yang melihat hal di luar nalar tadi berakhir hanya diisi oleh kekosongan.
Setelah itu. Begitu ketakutan terhadap apa yang baru saja terjadi mulai meresap. Semua orang mulai panik. Orang-orang yang berada di kota langsung berteriak dan berlari kesana-kemari, sedangkan prajurit Nagato dan Shikamaru menunjukkan kepanikannya dengan membuat barisan rapi mereke jadi berantakan.
"Bagus!"
Jika yang Sasuke inginkan hanyalah menyelamatkan Hanabi dan Hinata. Dia hanya perlu membuat alat transportasi masal yang mudah dibuat, memberikan mereka senjata baru, lalu mengajak semua orang pergi ke teritori Homura.
Tapi dia tidak melakukan hal sederhana itu dan malah memutuskan untuk membuat banyak benda rumit yang memakan bukan hanya waktu, tapi juga tenaga dan juga uang untuk diciptakan. Semua itu adalah demi membuat bukan hanya dia bisa menyelamatkan Hanabi, tapi mencegah kejadian itu untuk terulang lagi.
Dan metode yang dia pilih adalah, seperti yang sudah dia katakan sebelumnya. Dengan membuat semua orang takut padanya. Semua hal yang dia lakukan dan ciptakan dalam satu bulan ini adalah demi tujuan itu.
Sebab ada tiga hal sederhana yang ditakuti oleh semua makhluk hidup secara alami.
Pertama, hal yang jauh lebih besar darimu. Sesuatu yang sangat besar akan membuat seseorang yang melihatnya merasa kecil dan lemah.
Kedua, suara keras. Sesuatu yang mengingatkan kalau mereka hanyalah mangsa dari makhluk yang lebih besar dan kuat dari mereka.
Lalu yang ketiga. Api dan ledakan besar. Meski keduanya bisa membawa berkah, tapi api dan ledakan adalah sesuatu yang bisa dengan mudahnya membawa kehancuran.
Dan ketika ketiga hal itu digabungkan. Kau pada dasarnya bisa membuat takut semua orang.
". . . . ."
Tidak lama kemudian, Naruto dan squadnya berhasil mendarat di tanah dengan selamat. Dan begitu Sasuke memastikan mereka semua sudah berada di dalam posisinya. Akhirnya Sasukepun ikut menyiapkan diri. Hanya saja, tidak seperti yang lain dia tidak menyiapkan parasut.
"Tuan Sasuke!"
Seseorang membawakan peralatan khususnya.
"Terima kasih, bantu aku memasangkan semuanya"
"Siap!"
Posisi Sasuke masih adalah seorang warga sipil. Tapi sebagai pemimpin dari operasi mereka, semua anak buah Naruto juga memperlakukan pemuda itu seakan dia punya posisi yang lebih tinggi dari mereka.
Pertama, mereka memasangkan chainmail di atas pakaian pertamanya. Setelah itu mereka memasangkan satu persatu bagian dari baju zirah khususnya. Baju zirah yang tidak seperti baju zirah pada umumnya, sama sekali tidak memikirkan tentang mobilitas penggunanya. Lalu, begitu baju zirahnya selesai terpasang. Mereka juga mulai memasangkan benda-benda lain yang akan pemuda itu jadikan sebagai senjatanya.
Sebuah senapan jenis baru, puluhan kotak amunisi, sebuah tangki berisi petrol, pedang pendek, lalu pisau kecil dan yang terakhir. Flare gun.
Dengan semua perlengkapan itu, Sasuke tidak akan bisa bertempur dengan baik. Tidak, bukan hanya bertempur. Bergerak saja dia akan kesusahan. Hanya saja, dia memang tidak perlu bertempur dengan baik. Tugasnya adalah mengalihkan perhatian pasukan musuh, jadi yang jadi prioritas nomor satunya adalah ketahanan hidupnya. Asalkan dia bisa tetap hidup dan bergerak, hal itu sudah cukup.
"Tuan Sasuke, semuanya sudah siap! kau bisa berangkat kapan saja"
"Kalau begitu aku berangkat! setelah Naruto berhasil, langsung jalankan rencana yang terakhir!"
"Siap!"
Sasuke mengangguk lalu berjalan ke pintu keluar dari decknya. Dia melihat ke bawah dan memastikan target jatuhnya, lalu dengan santainya dia melompat turun. Dan. .
Bammmmm. . . . . . . . . .
Sasuke jatuh tepat di depan bagian dalam gerbang kota Homura. Sebab dia tidak menggunakan parasut, begitu tubuhnya menyentuh tanah. Area di mana dia jatuh langsung membuat suara ledakan dan gelombang kejut yang cukup kuat. Cukup kuat bahkan sampai membuat semua debu yang ada di sana berterbangan dan menghalangi pemandangan semua orang.
Beberapa saat kemudian, Sasuke berhasil membetulkan posisi berdirinya lalu dengan perlahan. Pemuda itu mulai berjalan menuju kastil Mitokado tepat di tengah kota.
Dan reaksi orang yang melihat hal itu?
"Apa yang harus kami lakukan, tuan Mitokdo?"
Mereka hanya bisa bertanya kepada tuan mereka. Dan hal itu bukan karena jendral pasukan Mitokado itu tidak kompeten. Sebagian besar prajuritnya memang tidak punya pendidikan militer formal, tapi jendralnya lain. Dia punya pendidikan dan juga pengalaman.
Hanya saja pendidikan dan pengalamannya sama sekali tidak ada gunanya saat ini.
Selain itu anggota pasukan Nagato dan Shikamaru juga memberikan reaksi yang sama. Sebab kau mau mencari di manapun, tidak ada manual yang bisa menunjukan apa yang harus mereka lakukan ketika mereka melihat semua hal yang baru saja terjadi.
Mitokado, Nagato, dan Shikamaru.
Mereka juga sebenarnya tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Tapi tentu saja tidak ada satupun dari mereka yang bisa mengatakan hal itu. Mereka adalah seorang pemimpin, jika mereka ikut panik maka nasib dari pasukan mereka akan habis.
Nagato dan Shikamaru memutuskan untuk menenangkan pasukannya dan menyuruh mereka untuk siap siaga. Dengan kata lain, mereka menyuruh semua anak buahnya untuk diam dan melihat lalu menunggu apa yang akan terjadi.
Sedangkan Mitokado?
"Selama Hinata dan Hanabi masih berada di kota ini, pelayan itu tidak akan bisa menyerang"
Kalau Sasuke jujur memang hanya ingin menyelamatkan tuan putrinya. Dia tidak akan berani mengarahkan senjatanya ke kastilnya. Sebab jika dia meluncurkannya, kedua sandera yang mereka ingin selamatkan juga pasti akan ikut mati.
"Tapi dengan adanya benda itu, kita tidak akan bisa mendapatkan bantuan"
"Ya. . ."
Mitokado mungkin belum bisa melihat keberadaan pasukan koalisi. Tapi dia yakin, kalau mereka sudah sampai pun. Mereka tidak akan berani bergerak sembarangan. Demonstrasi yang ditunjukan oleh Sasuke sudah sukses mengulur waktu untuk rencananya sendiri.
"Bagaimana kalau tuan Mitokado kabur bersama dua putri Konoha! aku bersedia mengalihkan perhatian mereka"
"Jangan bodoh, apa yang akan terjadi kalau mereka sadar jika tuan putri mereka sudah tidak ada di kota ini?"
Sasuke bisa memberikan perintah untuk menghancurkan kota itu. Dari Pengumuman yang diberikan oleh pemuda itu, Mitokado bisa merasakan kalau Sasuke juga tidak ingin membunuh. Tapi dia tidak sebodoh itu untuk mempercayai semua kata-kata musuhnya. Dia tidak ingin mencoba melihat apa yang akan terjadi kalau pemuda itu merasa terpojok.
"Aku melakukan semua ini demi Homura, apa gunanya aku selamat kalau Homura tidak ada lagi!?"
Jendral Mitokado membelalakan matanya lalu berlutut dan menunduk dalam.
"Maafkan aku tuan Mitokado"
"Sudahlah! kita tidak punya pilihan lain! tangkap Sasuke!"
Jika dia bisa menangkap Sasuke, maka semuanya akan baik-baik saja. Dengan pemuda itu ikut jadi sanderanya, sekuat apapun senjata yang dia miliki. Benda itu tidak akan bisa digunakan.
"Siap!"
3
Agar mereka bisa dengan mudah membaur. Naruto dan squadnya tidak ada yang mengenakan seragamnya. Sasuke sudah berhasil mengalihkan perhatian sebagian besar dari musuhnya. Tapi berhati-hati sama sekali tidak ada nilai minusnya. Dengan begitu, dia dan pasukannya berjalan sambil melawan arus penduduk Homura yang sedang panik untuk mengungsi keluar dari kota mereka.
Dan untuk lebih amannya lagi. Dia menyuruh agar pasukannya menyebar dan menjaga jarak dengan satu sama lain. Tapi, meski harusnya mereka hanya fokus dengan tugasnya. Mau tidak mau perhatian mereka juga ikut tertarik ke arah Sasuke. Mau tidak mau perhatian mereka harus terbagi jadi dua.
Pertama, sebab Sasuke berjalan sambil mengenakan baju zirah yang benar-benar mencolok. Lalu, yang kedua adalah. . . .
"Aku sekarang agak merasa kasihan pada mereka"
Anak buat Mitokado adalah musuh mereka. Tapi melihat orang-orang itu melawan Sasuke. Naruto hanya bisa merasa kasihan pada mereka. Sasuke mungkin tidak bisa bergerak cepat, dan sebab ukuran zirahnya yang besar dia juga mudah jadi sasaran serang seseorang. Hanya saja, serangan mereka sama sekali tidak ada gunanya di hadapan pemuda itu.
Dipanah tidak mempan.
Ditembak dengan senapan tidak ada pengaruhnya.
Dan bahkan. . .
BOOOOMMMM!
Tembakan meriam pun tidak mampu menghentikan laju pemuda itu. Asalkan Sasuke punya cukup persiapan, dia akan baik-baik saja meski yang jadi lawannya adalah kapal perang.
Melawan Sasuke di dalam baju zirahnya sudah hampir sama dengan melawan sebuah gunung.
Selain itu, jika kau berpikir kalau kau punya kesempatan kalau kau bisa melawannya dari jarak dekat. Kau salah besar. Mobilitas Sasuke yang buruk karena baju zirahnya yang berat tidak membuatnya jadi lemah dalam pertarungan jarak dekat. Sebab pemuda itu sekali lagi, sudah menyiapkan diri.
Sasuke bisa menggunakan senjatanya untuk menghalangi seseorang untuk mendekat. Misalkan cara itu gagal, dia masih memiliki flame thrower yang bisa digunakan pertahanan selanjutnya. Lalu jika dia masih gagal juga, selain pisau kecil dia juga memiliki banyak benda tajam di berbagai bagian dari baju zirahnya yang tersembunyi untuk menyerang musuh.
"Tapi aku tidak bisa membiarkannya terlalu lama jadi bulan-bulanan semua orang"
Saat ini mungkin Sasuke sedang mendominasi pertempuran. Tapi hal itu tidak akan berlangsung selamanya. Ketika staminanya sudah menipis dan persenjataannya kehabisan amunisi serta bahan bakar. Pasukan Mitokado akan bisa dengan mudah mengepung dan mengalahkannya dengan permainan angka.
Naruto sudah menyuruh Sasuke untuk meminta bantuan menggunakan flare gun-nya kalau Sasuke sudah merasa tidak kuat lagi. Tapi kalau bisa, Naruto ingin menyelesaikan misi mereka sebelum temannya itu perlu bantuan.
Dalam waktu sekitar dua puluh menit. Naruto dan squadnya akhirnya sampai di komplek kastil dimana Mitokado tinggal. Dan begitu sampai, mereka menemukan gerbangnya ditutup dengan rapat. Persis seperti yang sudah mereka duga.
Tapi mereka juga menemukan kalau gerbang itu sedang dipenuhi oleh pekerja kastil yang sedang berusaha untuk keluar. Ada Yang mencoba menaikinya, mendorongya, dan juga banyak yang memohon-mohon untuk diizinkan keluar kepada dua penjaganya. Dengan jumlah mereka yang sekitar lima puluhan, tempat itu benar-benar kelihatan kacau.
Melihat kekacauan itu, Naruto langsung tersenyum.
Naruto memberi tanda pada beberapa rekannya untuk mengikutinya. Setelah itu mereka pura-pura jadi penduduk biasa yang kebetulan lewat di sana saat ingin kabur. Dan begitu orang-orang itu melihat mereka, langsung saja. . .
"Tolong kami!"
Ada yang meminta tolong pada mereka.
Naruto berpura-pura berpikir dua kali sebelum akhirnya memutuskan untuk menolong mereka. Setelah itu dia bilang. . .
"Kalau kalian ingin keluar"
Dengan keras. Memastikan kalau semua orang bisa mendengarnya.
"Dorong saja gerbang itu bersamaan!"
Solusi yang Naruto berikan sangatlah sederhana. Gerbang kastil itu bukanlah pintu kuat besar layaknya gerbang yang ada di gerbang kota. Kastil itu fungsi utamanya adalah kantor administrasi. Jadi, gerbang metalnya dibuat dengan kemudahan akses sebagai prioritas utamanya. Dengan orang yang sebanyak itu mereka akan bisa dengan mudah merobohkan gerbang itu.
Kemungkinan besar, mereka tidak terpikir akan hal sederhana itu karena semua orang merasa panik dan hanya fokus pada keselamatan masing-masing. Tapi begitu mereka sadar kalau semua orang ada di dalam situasi yang sama. Menyatukan kekuatan adalah hal yang paling natural.
"Berhenti kalian semua!"
"Diam kau!"
Dua prajurit penjaga gerbang yang sedari tadi hanya menggunakan kata-kata untuk menggiring mereka kembali ke dalam kastil akhirnya mengeluarkan senjatanya. Tapi sebab mereka kalah jumlah, kerumunan di depan mereka langsung menelan keduanya dan melumpuhkan mereka. Setelah itu, semua orang mulai mendorong gerbang kastil itu secara bersamaan dan benar saja.
"Aaaaaa. . . "
Gerbang itu roboh dan semua orang bisa keluar.
"Ayo kita pergi!"
Naruto kembali berteriak, dan teriakannya jadi tanda untuk membludaknya semua orang dari dalam kastil. Bahkan orang-orang yang sebelumnya hanya melihat kerumunan itu dari jauh di dalam kastil ikut buru-buru keluar.
"Bagus, sekarang kita bisa fokus untuk melumpuhkan kastil ini"
Melihat kalau gerbang di depannya hanya dijaga dua orang. Bisa dipastikan kalau banyak anggpta pasukan mereka mungkin difokuskan untuk melawan Sasuke. Dengan kata lain, penjagaan kastil Mitokado sedang lemah-lemahnya.
Dengan cepat, Naruto dan semua squadnya menyelinap masuk ke dalam kastil dan mulai mengamankan tempat itu dengan melumpuhkan semua penjaga yang mereka temui di jalan sambil mencari hadiah mereka. Hanabi dan Hinata.
4
"Bajingan!"
Orang yang baru saja berteriak adalah Sabiru.
"Apa-apaan situasi ini?"
Pertama, ada kapal udara besar yang muncul di Homura dan sekarang sedang terbang di atas semua orang. Mengawasi pergerakan mereka dari ketinggian. Setelah itu dia melihat benda meluncurkan bom yang bisa menghancur leburkan kota itu sebagai tembakan peringatan. Lalu yang terakhir, ada petarung yang lajunya tidak bisa dihentikan sedang menuju ke tempatnya berada.
"Bagaimana semua ini bisa terjadi?"
Sabiru bergabung dengan pasukan Mitokado hanya untuk mendapatkan uang dan hidup yang mudah. Dan sebab dia tidak punya cukup prajurit, orang tua itu tidak repot-repot memilih-milih calon prajuritnya dan pada dasarnya mau menerima siapapun asal mereka mau bertarung untuknya. Mantan bandit, prajurit bayaran, mantan kriminal semuanya diterima asal kau punya sedikit kemampuan. Kau bahkan bisa mendapatkan posisi yang tinggi dengan relatif mudah.
Dan benar saja, Sabiru yang punya banyak pengalaman sebagai prajurit bayaran diberikan posisi yang lumayan tinggi sebagai pengawal pribadi Mitokado. Saat ini dia mungkin diberikan tugas untuk mengawal kedua gadis yang Mitokado culik, tapi posisi resminya adalah pengawal pribadi Mitokado bersama Takeshi dan beberapa rekannya yang lain.
Bayarannya sebagai pengawal pribadi orang tua itu sudah cukup tinggi. Selain itu, dengan posisinya dia juga bisa melakukan banyak hal lain untuk menghibur dirinya sendiri. Mulai dari hal kecil seperti makan dan minum gratis di dalam kota, memeras orang yang dia temui di jalan, meminta suap dari para pedagang yang ingin berbisnis dengan Mitokado, atau memaksa seorang wanita untuk jalan-jalan dengannya.
Dia berencana untuk menikmati hidup mudahnya di sana sampai dia bosan.
Tapi hari ini, semua rencananya itu sudah hancur total. Kedatangan Sasuke sudah membuat rencana masa depan cerahnya berubah jadi petaka. Bukan hanya dia harus membuang gaya hidup mudahnya itu, dia juga bisa saja mati hari ini. Oleh karena itulah. . .
"Tidak ada pilihan lain! Aku harus meninggalkan kota ini!"
Di mata Sabiru, Mitokado nasibnya sudah tamat. Lawan mereka mungkin hanya satu orang, atau sekelompok orang. Tapi dia sama sekali tidak bisa membayangkan kalau mereka bisa mengalahkan musuh mereka. Dan meski dia punya kepercayaan diri terhadap kemampuan bertempurnya, dia tidak yakin kalau dia bisa menang melawan Sasuke.
"Selain itu. . ."
Pemuda itu melihat ke atas.
"Kota ini sudah tidak punya harapan"
Sabiru kembali berjalan dengan cepat, tapi bukan ke pintu keluar. Dia memang sudah memutuskan untuk kabur dari kota itu. Tapi dia tidak bisa kabur begitu saja. Kaburnya sendiri cukup mudah, hanya saja kehidupannya akan tetap berlanjut setelah dia berhasil kabur. Karena itulah dia perlu membawa modal yang cukup untuk perjalanannya ke tempat baru. Tempat baru di mana dia tidak lagi mempunyai posisi untuk menikmati semua keuntungan yang dia miliki di Homura.
Biaya hidup dalam wilayah konflik berbeda jauh dari di negara damai. Karena sulitnya perdagangan, tidak jarang kalau harga-harga barang di tempat seperti itu melambung tinggi. Meski dia punya uang banyak, kalau dia tidak bisa cepat menemukan pekerjaan baru. Sabirupun bisa bangkrut. Dan betapa tidak beruntungnya dia, hampir semua daerah yang bisa dia capai di benua adalah daerah konflik.
Dengan kemampuannya, dia tentu saja bisa menjadi prajurit bayaran individu bagi pasukan pemberontak. Tapi banyak dari mereka tidak punya kapital yang mencukupi. Membuat bekerja pada mereka hanya memberinya pemasukan yang kecil.
Mitokado bisa menawarkan dia dan rekan-rekannya yang lain gaji besar adalah pengecualian.
Dia tidak tahu bagaimana caranya, tapi sepertinya Mitokado mempunyai sekutu yang mau mengambil alih beban biaya operasi mereka. Dari apa yang dia dengar, sekutu itulah yang meminta mereka menculik Hanabi dan memberikan gadis kecil itu pada mereka. Membuat Mitokado yang berencana hanya menculik 1 orang berakhir menculik 2 orang.
Secara fisik dia bisa pergi ke Konoha, tapi dia bukan orang asli Konoha. Dia tidak ingin diperlakukan seperti sampah. Karena itulah, pilihannya hanya tinggal satu. Pergi ke negara anggota koalisi dan mencari pekerjaan yang aman sampai dia menemukan kesempatan lain untuk bisa mencari untung besar.
"Aku akan mulai dari sini. . ."
Dengan begitu, Sabiru mulai menggeledah ruangan-ruangan dari pekerja di tempat kastil tempatnya bekerja itu. Dia mencari benda-benda berharga yang mungkin tertinggal disaat pemiliknya pergi buru-buru.
Tentu saja dia tidak bisa menggeledah semua ruangan yang ada di sana. Jumlah mereka terlalu banyak. Dia hanya memfokuskan pencariannya pada kamar-kamar pekerja yang punya jabatan yang agak tinggi di dalam kastil.
Dan hasilnya?
Seperti yang sudah dia duga. Dia tidak bisa menemukan banyak benda yang bisa dibawa dengan mudah karena ukurannya yang terlalu besar. Yang berhasil dia jarah hanyalah senjata cadangan dan hanya beberapa koin emas saja. Sepertinya semua orang yang mencoba kabur tidak sepanik yang Sabiru kira sampai mereka lupa membawa benda-benda berharga mereka.
"Tidak ada pilihan lain"
Mitokado tentu saja adalah orang yang pasti punya banyak harta. Tapi harta orang itu disimpan lemari besi yang dijaga ketat. Jadi Sabiru tidak bahkan tidak menganggapnya sebagai target. Karena itulah, dia buru-buru pergi menuju tempat di mana targetnya yang selanjutnya berada.
Hinata dan Hanabi.
Dia memeriksa keadaan dan menemukan kalau untuk suatu alasan. Takeshi yang juga ditugaskan untuk mengawal keduanya sedang tidak ada di tempat. Kemungkinan pria itu, yang adalah bonafit orang Homura lebih mementingkan keselamatan Mitokado daripada kedua sanderanya.
"Atau mungkin dia hanya bodoh?"
Mitokado mungkin adalah target yang sedang dikejar oleh Sasuke. Tapi pemuda itu sudah secara terang-terangan bilang kalau dia ingin menyelamatkan Hanabi dan Hinata. Dengan kata lain, sama sekali tidak terlalu jauh kalau kalau akan ada orang menyusup ke kastil untuk membebaskan keduanya.
Meninggalkan keduanya disaat seperti ini adalah tindakan yang bodoh.
Sebagai orang yang ingin memanfaatkan keadaan, Sabiru hanya bisa berterima kasih pada Takeshi. Merasa aman, Sabiru langsung masuk ke ruangan Hinata dan Hanabi tanpa mengetuk pintu.
"Permisi tuan putri, aku perlu menggeledah kamarmu"
Begitu masuk, Sabiru menemukan kalau Hinata dan Hanabi baru saja selesai berganti pakaian. Hanabi sudah membuang kain rombeng yang jadi pakaian kerjanya dan mengenakan pakaian lamanya. Sedangkan Hinata sendiri memutuskan untuk tidak mengenakan pakaian penuh renda yang biasa dia kenakan keluar dan memilih untuk menggunakan pakaian salah satu pelayan di kastil itu yang lebih sederhana.
"Ahh. . . jadi kalian sudah bersiap?"
". . ."
Hinata mendorong Hanabi ke belakang tubuhnya dan memasang pose melindungi.
"Jangan khawatir, aku tidak ingin mengganggu kalian"
Kalau mereka adalah gadis biasa, mungkin Sabiru akan tergoda untuk membawa salah satu dari mereka. Tapi sayangnya, keduanya hanyalah beban yang akan membuat bukan hanya niatnya untuk kabur akan susah. Tapi juga akan menjadikannya target utama siapapun yang sedang datang untuk menyelamatkan mereka. Dan tentu saja, Sabiru tidak ingin mengambil resiko itu.
"Apa aku bisa memegang kata-katamu?"
Tanya Hinata.
"Aku tidak bohong, hanya saja kalau kalian ingin kabur! Tinggalkan harta kalian di sini"
Jika Takeshi yang ada di sana, mungkin pria paruh bayah itu akan mencoba untuk menghalangi keduanya yang ingin kabur. Dia adalah anak buah setiap Mitokado, kepentingan pemimpinnya adalah kepentingannya sendiri. Tapi Sabiru punya prioritas lain. Dan prioritas utamanya adalah tentu saja kepentingannya sendiri.
Dia hanya butuh benda berharga milik kedua gadis itu. Dia tidak peduli kalau mereka ingin kabur.
". . . ."
Hinata dan Hanabi melihat pada satu sama lain, setelah itu keduanya mengangguk.
"Baiklah. . "
Jawab Hinata.
"Terima kasih atas kerjasamanya"
Begitu keduanya mendengar ultimatum yang diberikan oleh Sasuke. Keduanya langsung tahu kalau sudah saatnya seseorang untuk menjemput mereka. Oleh sebab itulah, mereka langsung memutuskan untuk menyiapkan diri.
Kedatangan Sabiru sempat membuat mereka panik. Tapi kalau pria itu hanya menginginkan harta benda mereka. Keduanya tidak keberatan mengorbankannya agar mereka bisa selamat. Pengorbanan mereka itu adalah harga yang murah untuk dibayar dibandingkan keselamatan mereka.
Dengan izin pemiliknya, Sabiru mulai menggeledah ruangan itu. Tapi. . .
"Tidak ada apa-apa di sini. . ."
Tentu saja di dalamnya ada banyak benda, terutama pakaian. Dan juga sebuah mahkota yang sengaja Mitokado tinggalkan agar dia bisa menunjukan kalau Hinata adalah benar-benar seorang tuan putri. Tapi Sabiru tidak menyangka kalau isi lemari yang sedang dia geledah tidak terlalu berharga.
"Kau ingat kalau kami itu diculik kan?"
Jawab Hinata.
Tentu saja mereka tidak membawa banyak barang bersama mereka. Yang mereka bawa ke kamar mereka hanyalah benda-benda yang mereka perlukan sehari-hari. Sedangkan uang maupun benda lain yang mereka simpan di kereta kuda masing-masing kemungkinan sudah disita oleh Mitokado.
"Kalau begitu. . . ."
Sabiru mengalihkan pandangannya dari lemari kosong kedua tuan putri itu kepada yang bersangkutan. Setelah itu dia mulai memeriksa penampilan kedua gadis yang ada di depannya. Mulai dari kepala sampai kaki.
"Kau benar-benar serakah"
Mahkota yang Sabiru dapatkan saja harusnya sudah cukup untuk membuatnya hidup mewah selama berbulan-bulan kalau pemuda itu menjualnya. Benda itu secara literal adalah sebuah harta karun yang diberikan hanya pada orang-orang terpilih. Jadi entah itu material ataupun desainnya, semuanya punya nilai yang sangat tinggi.
"Kalau kau bisa dapat banyak, kenapa puas dengan yang sedikit?"
". . . ."
Sebab Hinata tidak punya pilihan lain, dia hanya bisa menurut dan mulai melepaskan semua perhiasan yang dikenakannya. Dua antingnya, kalung yang ada di lehernya, cincin di jarinya lalu pin serta gelang yang baru selesai dia lepaskan saat berganti pakaian.
"Aku tidak serakah tuan putri, aku orang normal"
Sudah jadi rahasia umum kalau orang miskin pasti ingin jadi kaya. Dan orang yang sudah kaya akan ingin jadi lebih kaya. Lalu orang yang sudah sangat kaya pun, masih akan ingin untuk jadi lebih dan lebih kaya lagi. Jika orang normal saja punya pikiran seperti itu, apalagi Sabiru yang sudah jelas bajingan.
"Kalau bicara tentang keserakahan, bukankah kau lebih serakah tuan putri?"
"Aku membutuhkan mereka untuk melakukan pekerjaanku"
Sebagai seorang wanita, tentu saja Hinata menyukai perhiasan yang berkilau. Hanya saja dalam kasus ini, sebagian besar perhiasan yang dia kenakan dia miliki untuk keperluan pekerjaannya sebagai seorang tuan putri. Bukan untuk kesenangannya sendiri.
Seseorang yang punya kedudukan tinggi sepertinya tidak bisa berpenampilan terlalu sederhana. Memamerkan kecantikan dan hartanya juga adalah bagian dari pekerjaannya.
"Begitukah? Pantas saja kau menyerahkan mereka dengan mudah"
Ya, sebab semua perhiasan itu hanya Hinata anggap sebagai alat kerja. Dia sama sekali tidak memiliki ikatan dengannya. Membuatnya tidak merasa terlalu kehilangan setelah dipaksa untuk memberikannya pada Sabiru.
"Terima kasih tuan putri"
Begitu Sabiru selesai mengumpulkan semua perhiasan Hinata. Dia berjalan menyodorkan kantong kainnya kepada Hanabi yang masih berada di belakang tubuh Hinata.
"Aku hanya punya ini"
Selama di Konoha, Hanabi juga mengenakan beberapa perhiasan di tubuhnya. Tapi setelah dia memutuskan untuk jadi supporter Hinata, gadis itu berpikir kalau dia tidak perlu lagi mengenakan mereka sebab pekerjaannya lebih fokus di balik layar. Membuat saat ini, dia tidak mengenakan banyak perhiasan. Hiasan yang paling mencolok dari Hanabi hanyalah dua pita di rambutnya.
Baginya, pita yang ada di rambutnya memang berharga. Tapi nilai dari pitanya adalah lebih ke arah nilai emosional bukannya finansial. Jadi dia yakin kalau Sabiru juga tidak akan menginginkannya. Karena itulah dia mengambil sebuah cincin dari kantong bajunya.
". . . ."
Sabiru menerima barang pemberian Hanabi dan memeriksanya. Benda itu adalah sebuah cincin baja mulus yang punya desain rumit. Desainnya kelihatan indah, jadi harganya pasti tidak murah mengingat seberapa sulitnya benda itu dibuat. Tapi materialnya membuat nilai benda itu sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan perhiasan yang dia dapatkan dari Hinata.
"Kau juga seorang tuan putri kan? Bocah"
"Aku hanya anak selir"
Kalau nilai dari barang yang Sabiru ambil dilihat dari kegunaanya. Barang yang nilainya paling tinggi kemungkinan besar adalah cincin yang baru saja Hanabi berikan. Sebab cincin itu adalah cincin keanggotaannya dalam pasukan cadang. Jika kau menunjukan benda itu pada orang yang tepat, kau bisa menggerakan ribuan orang dari koalisi untuk menuruti permintaanmu.
Berdasarkan informasi dari Naruto, ada orang yang melacak keberadaan cincin itu. Jadi, mereka bisa merebutnya kembali dengan mudah asalkan dia bisa memberitahukan apa yang terjadi pada Naruto.
"Hmm. . . ."
Sabiru mengalihkan pandangannya ke wajah Hanabi. Setelah itu dia memperhatikan ekspresi gadis itu dengan seksama. Sabiru melakukan hal itu cukup lama sampai Hanabi mulai merasa tidak nyaman dengan observasi pemuda itu.
"A-apa? . . ."
"Tidak ada apa-apa"
Jawab Sabiru.
"Ka-kalau begitu cepat pergi sini!"
Hinata kembali maju dan menghalangi Sabiru.
"Diam!"
Hanabi mundur dari tempatnya secara reflex.
"Kau yang harus pergi! kau ingin kabur kan? tu-an pu-tri?"
Setelah itu Sabiru mendorong Hinata dan menyuruhnya menjauh dari Hanabi. Hal yang Hinata coba lawan. Tapi Hanabi memberi tanda agar kakaknya tidak melawan dan menurut saja. Meninggalkan Hanabi berhadapan satu lawan satu dengan Sabiru.
"Tolong jangan bohong padaku bocah"
Hanabi mencoba bertingkah bodoh tapi Sabiru dengan mudah melihat celah di topeng si gadis kecil. Sabiru tidak menyangka kalau gertakan kosongnya bisa seefektif itu. Membuat pemuda itu tersenyum lebar.
". . . ."
Hanabi juga menyadari kalau dia baru saja melakukan sebuah kesalahan besar. Oleh sebab itulah, secara reflek dia langsung mencoba mundur dari tempatnya. Hanya saja, kali ini telapak tangan Sabiru langsung bergerak dan meraih dada Hanabi.
"Benda apa ini haaaaaahh! . . . ?"
Atau lebih tepatnya, meraih benda yang Hanabi sembunyikan di balik bajunya. Benda yang dia sangat ingin sembunyikan dari Sabiru karena bagi gadis itu, benda itu tidak ternilai harganya. Dan benda itu adalah. . .
"Cincin lagi hah. . ."
Cincin hadiah dari Naruto.
Menyadari apa yang terjadi. Wajah Hanabi langsung dipenuhi ekspresi terkejut dan panik.
"Bocah bodoh!"
Tangan Sabiru yang lain mulai menarik kalung itu dari leher si gadis kecil.
"Ja-jangan. . . ."
Prioritas Hanabi adalah menyelamatkan dirinya sendiri. Dan agar dia bisa selamat. Harusnya dia rela memberikan sangat banyak hal termasuk cincin dari Naruto itu. Jika dia bisa selamat dengan hanya memberikan cincinnya, dialah pemenangnya. Hanabi juga yakin kalau Naruto tidak marah padanya sudah mengorbankan cincin pemberiannya itu untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Selain itu, cincin itu juga tidak sangat mahal sampai Naruto tidak bisa membeli penggantinya lagi.
Logikanya menyuruhnya untuk memberikan cincin itu pada Sabiru.
Kepercayaannya pada Naruto meyakinkan dirinya kalau merelakan cincin itu adalah keputusan yang tepat.
Dan ingatannya bisa memastikan kalau mencari penggantinya adalah sesuatu yang mudah.
Tapi perasaannya?
"KEMBALIKAAANN!"
Sama sekali tidak mengizinkannya untuk melepaskannya.
Hanabi menyerobot tangan Sabiru lalu menggenggamnya dengan seerat yang dia bisa dan menolak untuk melepaskannya.
5
"Lepaskan bocah bodoh!"
"Kembalikan cincinku!"
"Kubilang lepaskaannn!"
Sabiru menarik tubuh Hanabi dengan kasar. Gadis itu tidak melepaskannya.
Dia mendorongnya dengan kuat, gadis itu masih belum mau melepaskan tangannya.
Sabiru mencoba menghempaskan tubuh Hanabi. Gadis itu masih juga menempel dengan erat di tangan kananya.
Yang tidak mengherankan sebab dia punya pengetahuan khusus yang membiarkannya untuk mengunci telapak tangan Sabiru dengan tangannya sendiri.
Tubuh Amelia yang ringan membuatnya bisa dengan mudah diayunkan kesana-kemari. Tapi meski badannya diayunkan ke kanan, kiri, atas dan bawah Sabiru sama sekali tidak merasa kalau gadis itu melonggarkan genggamannya di tangan pemuda itu.
"Sudah cukup!"
Kalau bisa, Sabiru tidak ingin memperlakukan Hanabi terlalu kasar sampai meninggalkan luka. Tapi gadis itu sudah kelihatan jelas tidak punya keinginan untuk menyerahkan cincinnya. Dan sayangnya, dia tidak punya waktu untuk dibuang-buang. Entah itu Takeshi atau penyusup dari luar, mereka bisa datang kapan saja.
"Haaa!"
Merasa tidak punya pilihan. Akhirnya Sabiru memutuskan untuk mendorong tubuh Hanabi ke lantai dan membantingnya dengan keras. Dia dijatuhkan dengan sangat keras sampai. .
"Aghh. . ."
Udara di paru-paru gadis itu dipaksa keluar dengan tiba-tiba.
"Kau masih mau lagi hah?"
Tubuhnya terasa sakit, punggungnya terasa sakit, dan dadanya terasa seperti akan remuk. Tapi meski begitu, Hanabi masih tidak mau melepaskan tangan pemuda itu.
"Ke-kembalikan!"
"Kau tidak tahu kapan harus menyerah hah!?"
Sabiru mengangkat tangannya, yang juga ikut mengangkat tubuh Hanabi yang masih memegangnya. Setelah itu dia memutar badannya dan. . . .
Brag!
Pemuda itu melemparkan tubuh Hanabi ke tembok yang ada di belakangnya dan menabrakkan kepala gadis itu ke tembok yang sama.
". . . "
Dengan kerasnya kepala Hanabi menabrak tembok di depannya. Dia langsung mengalirkan bukan hanya air mata, tapi juga darah dari kening dan hidungnya yang terluka. Kau bahkan bisa melihat kulit di keningnya mengelupas karena gesekan dan tekanan dari tabrakannya tadi ke benda keras itu.
"Jangan membuat dirimu sendiri susah!"
Jika kamu menyerahkan cincinmu, maka kau akan berhenti merasa sakit!
Sederhana!
". . . ."
Hanabi tidak bisa menjawab lagi. Sebab kali ini bahkan untuk membukanya saja dia sudah merasa kesulitan. Jika dia kehilangan konsentrasi sedikit saja, bisa saja dia akan kehilangan kesadarannya. Tapi meski dalam keadaan yang sudah seperti itu. Keinginannya untuk mempertahankan cincin-nya sama sekali tidak meredup sedikitpun.
"Aku paham!"
Sabiru yang melihat reaksi gadis itu akhirnya paham. Gadis itu tidak takut padanya, gadis itu tidak takut dengan ancamannya, dan keteguhan hati gadis itu tidak akan tergoyahkan oleh kekerasan yang dia lemparkan padanya.
Dan Sabiru sama sekali tidak menyukai hal itu.
"Berhenti!"
Hinata yang sedari tadi sibuk terkejut dengan apa yang terjadi sampai kepalanya blank akhirnya sadar. Dan begitu sadar dia langsung memegang lengan bebas Sabiru yang sudah siap untuk diayunkan ke tubuh adik perempuannya.
"Berhenti! Kau sudah dapat banyak kan!? Kau tidak perlu mengambil cincinnya juga!"
Hinata mengingat betapa bahagianya Hanabi saat dia menceritakan bagaimana dia mendapatkan cincin itu. Senyum gadis itu saat memegang benda kecil itu sudah cukup untuk memberi tahu seberapa pentingnya cincin di kalung adik perempuannya. Tidak seperti semua perhiasannya, cincin yang diberikan Naruto pada Hanabi adalah sesuatu yang benar-benar penting dan berharga.
"Diam kau!"
Tangan Sabiru sudah berhasil Hinata genggam dengan erat. Tapi kekuatannya sama sekali tidak cukup untuk menahan laju dari tinjuan-tinjuan pemuda itu yang terus dilancarkan ke tubuh kecil Hanabi. Hanya saja usahanya tidak sia-sia, sebab momentum dari serangan Sabiru menjadi berkurang banyak. Membuat Hanabi punya waktu untuk menggunakan tangan dan kakinya untuk melindungi tubuhnya sambil perlahan-lahan memanggil kesadarannya secara penuh.
Sepertinya, semua emosi yang ditunjukan oleh Hanabi berhasil memancing emosi Sabiru ikut muncul ke permukaan. Membuat pada akhirnya, diapun ikut bertindak berdasarkan emosinya.
Sabiru memang kuat, tapi dia adalah tipe orang yang hanya akan bertarung kalau dia tahu musuhnya lebih lemah. Jika seseorang yang harus dia hadapi lebih kuat darinya, dia tidak akan ragu untuk kabur dan meminta ampun kalau perlu. Dia selalu melakukan hal itu, dan punya rencana untuk terus melakukan hal itu di masa depan.
Sebab hal itu adalah hal yang logis.
Begitulah caranya merasionalkan semua keputusannya setiap kali dia kabur dari tanggung jawabnya.
Hanya saja di dalam hatinya dia tahu. Dia kabur hanya karena dia merasa ketakutan. Karena itulah dia selalu memilih musuh yang lebih lemah darinya. Dan ketika dia mendapatkan targetnya, dia selalu mencoba membuat mereka menyerah dan mengaku kalah. Sebab melihat mereka menyerah pada keadaan membuatnya bisa meyakinkan dirinya sendiri kalau di masa lalu.
Dia memang tidak bisa berbuat apa-apa saat dihadapkan dengan kekuatan yang lebih besar dari miliknya.
Tapi sayangnya kegigihan Hanabi membuatnya mulai meragukan dirinya sendiri. Mulai meragukan keputusannya sendiri. Dan mulai meragukan jalan hidup yang sudah diambilnya sendiri. Dan yang lebih buruknya adalah.
Semangat pantang menyerah gadis itu memaksanya harus mengingat masa lalunya dan mulai membayangkan. . .
Kalau saja dulu dia lebih berani. . . . apa mungkin saudaranya masih bisa hidup?
Kalau saja dulu dia lebih berani. . . . apakah gadis yang disukainya masih bisa berada bersamanya?
Lalu kalau saja dia sedikit lebih berani. . . apa mungkin dia bisa menyelamatkan teman terbaiknya?
Semua pertanyaan-pertanyaan itu membuat rasa bersalah, rasa berdosa, dan semua penyesalannya yang dia simpan dalam-dalam meluap keluar. Membuat hatinya merasa sangat sakit dan menderita.
Dan dia sama sekali tidak menyukai semua hal itu.
"Haaaa!"
Karena itulah!
Dia harus membuat gadis kecil itu menyerah, kehilangan harapan dan hanya bisa memohon ampun padanya. Sebab dengan begitu, dia bisa membuktikan kalau dialah yang benar. Kalau dunialah yang salah dan bukannya dirinya. Kalau bukannya dia yang terlalu pengecut, tapi dunialah yang terlalu kejam. Kalau dia adalah korban, dan bukanlah penyebab dari semua penderitaan yang terjadi di sekitarnya.
"Berhenti menggangguku!"
Sabiru menstabilkan kuda-kudanya. Setelah itu dia menarik kedua tangannya dan mendekatkannya ke badannya. Membuat kedua bersaudara yang sedang memegang tangannya ikut terbawa ke arahnya. Dengan mudahnya, Sabiru mengalahkan perlawanan dari kedua gadis itu murni hanya menggunakan kekuatan fisiknya. Bahkan gabungan dari berat tubuh mereka tidak bisa menghentikan pemuda itu.
Dan begitu kedua tangannya sudah berada di posisi yang dia mau. Dia memutar badannya lalu memfokuskan sebagian besar kekuatannya pada tangan yang Hinata pegang lalu mencoba melemparkan kedua gadis itu dari tubuhnya.
"Gaaahhhh. . ."
Hanabi yang kesadarannya mulai pulih sudah bersiap untuk mengeratkan kunciannya pada lengan Sabiru. Tapi seperti yang kau duga. Hinata yang bahkan sama sekali tidak tahu apa-apa tentang bela diri, tubuhnya langsung terlempar dengan mudahnya. Dan sebab Sabiru sengaja mengarahkan lengannya ke bawah saat dia melakukan lemparan. Hinata berakhir tersungkur pada lantai di bawahnya.
"Aku tidak punya urusan denganmu!"
Sabiru mengangkat tangannya yang sudah bebas lalu.
"Aghhh. . . ."
Langsung menggunakannya untuk menghantam perut Hinata dengan keras. Membuat gadis itu langsung kehilangan kesadaran.
Tapi tunggu dulu! Bukannya ada yang aneh di sini? Kalau Hinata yang lebih dewasa dan lebih kuat saja bisa dilumpuhkan dengan satu serangan. Bagaimana bisa Hanabi yang lebih muda dan juga lebih lemah masih sadar?. Dalam masalah keseriusan. Siksaan yang Sabiru berikan pada tubuh Hanabi bahkan lebih banyak daripada serangannya pada Hinata.
Tapi bagaimana bisa Hanabi bukan hanya masih bertahan menempel pada pemuda itu tapi juga masih bisa melawan. Dan tidak hanya itu sekarang dia bahkan. . .
"Sekarang tinggal giliran. . aahhkkk. . . ."
Berhasil mengambil kesempatan dari kelengahan Sabiru setelah dia melumpuhkan Hinata lalu membalas balik dengan memelintir lengan pemuda itu.
"Jangan meremehkanku!"
Hanabi mengubah posisi tubuhnya dengan cepat lalu memberikan kuncian lain pada pergelangan dan siku pemuda itu.
"Kau. . ."
Menyadari apa yang Hanabi sedang coba lakukan. Sabiru langsung menggunakan tangannya yang bebas untuk kembali menyerang gadis itu. Hanya saja, karena posisinya yang sulit serangannya sama sekali tidak membuahkan hasil. Dan jika dia memaksa untuk menggerakan tangannya yang sedang Hanabi kunci, dia bisa berakhir membuatnya terpelintir lebih jauh.
"Bajingan! Bagaimana bocah sepertimu aaaaghhh. . . .!"
Menggunakan seluruh berat dari tubuh kecilnya. Hanabi terus mencoba mendorong tangan kanan Sabiru untuk melewati batas kemampuan sendinya. Dengan kata lain, apa yang sedang gadis kecil muda itu lakukan adalah mematahkan tangan Sabiru.
"Mu-Mungkin kau tidak tahu! Tapi aagh...a-ku adalah tamatan sekolah militer!"
Ya. Perbedaan terbesar antara Hanabi dan Hinata selain umur adalah fakta kalau Hanabi juga adalah seorang prajurit dan juga memiliki kemampuan spesial. Tidak seperti Hinata yang belajar dengan asumsi kalau dia akan selalu dilindungi. Hanabi belajar di sekolahnya dengan asumsi kalau dia juga akan ikut dikirim ke garis depan.
Sebagai seorang sandera politik. Tentu saja Hanabi tidak pernah serius dituntut untuk melakukan tugasnya sebagai seorang murid militer di Yamato. Tapi sayangnya, atau beruntungnya. Gadis itu bukanlah seseorang yang bisa tidak serius saat sudah memiliki tujuan.
Tujuannya untuk menyusul lalu membantu Naruto membuatnya selalu serius dalam mengikuti semua pelajaran yang diterimanya. Tentu saja, pelajaran-pelajaran itu juga termasuk menyangkut bela diri. Dan di dalam pelajaran bela dirinya. Dia diberitahukan banyak bagaimana cara untuk jatuh dengan aman, cara melindungi kepalamu dan menghindari kehilangan kesadaran, dan cara untuk melindungi semua bagian vitalnya serta bagaimana cara mengatasi musuh yang lebih besar.
Dia juga sudah belajar tentang seberapa anehnya tubuh manusia. Mereka bisa menerima siksaan seberat apapun tapi, asal organ vital mereka aman. Seseorang bisa tetap bertahan hidup. Tapi di saat yang sama. Satu pukulan bisa menghabisi seseorang kalau mendarat di tempat yang salah.
Selain itu, kemampuan spesialnya yang masih belum dia tahu juga memberikan tambahan terhadap kekuatan dan ketahanan fisiknya.
Karena semua pengetahuan dan bakat alaminya itulah Hanabi masih bisa bertahan sampai sekarang dan bahkan melawan balik.
"Bajingan!"
Sabiru kembali mencoba memukul Hanabi. Tapi gadis itu selalu berhasil melindungi tubuhnya dengan membungkukan badannya, atau menggunakan kakinya, atau menghindari serangan yang datang sebisanya. Lalu kalau dia tidak bisa menangkis atau menghindar, dia akan membiarkan serangan pemuda itu untuk mendarat di tempat yang gadis itu anggap tidak terlalu fatal.
Dia tentu saja merasa sakit. Tapi gadis itu sudah tidak ada dalam posisi di mana dia bisa menyerah dan mengajak Sabiru bernegosiasi. Hanabi sendiri bisa melihat dengan jelas kalau pemuda itu ingin menggilas mentalnya sampai hancur. Di antara mereka sudah tidak ada lagi jalan damai.
"Aagghhh. . .. ."
Frustasi serangannya tidak efektif. Sabiru mengganti target serangannya ke arah kepala Hanabi. Tapi untungnya gadis itu masih bisa menghindari serangan pemuda itu dengan relatif mudah. Terima kasih pada posisinya yang lebih menguntungkan yaitu tepat di belakang tubuh pemuda itu.
"Ugh. . ."
Tapi posisi menguntungkannya itu tidak akan bertahan lama. Kalau Sabiru memutuskan untuk menabrakan dirinya ke tembok atau menjatuhkan diri. Maka habislah sudah perlawanan Hanabi. Tidak punya pilihan lain, Hanabi memutuskan untuk menuntaskan serangan baliknya dengan. . .
"Aaaaaaa!"
Hanabi mengeratakan kuncian tangannya pada tangan Sabiru. Lalu dia sedikit melompat dan menjatuhkan diri sambil sedikit memutar badannya. Dengan begitu. Hanabi bisa memanfaatkan momentum gerakannya, gravitasi dan juga berat badannya untuk mengungkit pergelangan dan juga siku tangan Sabiru.
Dan benar saja. .
"Graaaahhhh!"
Tangan Sabiru akhirnya patah. Membuat jari-jarinya tidak lagi punya tenaga untuk memegang cincinnya. Menjatuhkan benda itu ke lantai.
". . . ."
Hanabi buru-buru mengambil cincinnya dan menggenggamnya dengan erat.
Badannya terasa sakit, kepalanya sakit, dan pikirannya terasa lesu dan berat. Tapi hatinya, dipenuhi dengan kebahagiaan yang terasa seperti akan meluap.
Sayangnya, kebahagiaan itu membuatnya melupakan sebuah hal fundamental dari sebuah pertarungan. Dan hal itu adalah kenyataan kalau seseorang selalu paling lengah ketika dia sudah merasa menang.
6
"Aku akan membunuhmu!"
Tangan kanan Sabiru mungkin patah. Tapi bagian tubuhnya yang lain masih baik baik saja. Karena itulah. Setelah dijatuhkan oleh Hanabi, dia bisa langsung bangun dan menendang gadis itu dengan keras tepat di dadanya.
Gawat!
Adalah kata yang langsung terlintas di kepalanya gadis kecil itu. Hanabi sama sekali tidak siap untuk menerima serangan tadi. Membuatnya gagal untuk melindungi dirinya dan memaksanya harus menerima kekuatan dari serangan Sabiru secara penuh. Hal yang pada akhirnya membuat tubuhnya tidak bisa dia gerakkan lagi. Hanabi mungkin belum kehilangan kesadaran. Tapi pada dasarnya dia sudah berhasil dilumpuhkan.
"Hahahhkkk . . . . . ."
Sepertinya, tubuhnya memutuskan untuk menyerah lebih dahulu daripada mentalnya.
Saat ini yang dia bisa lakukan hanyalah tergeletak di lantai dan menunggu nasibnya. Kalau bisa dia ingin berteriak dan meminta tolong, tapi dia tidak bisa mengeluarkan suaranya. Bahkan bernafas saja sudah terasa sakit.
Di sisi lain.
Sabiru memasang wajah serius sambil mengeluarkan pedangnya dan mendekati Hanabi yang masih tersungkur di lantai. Tangan kanannya yang menggantung dengan lemas terasa sakit setiap kali dia menggerakkan tubuhnya. Tapi adrenalinnya membantu Sabiru menahan semua rasa sakit itu demi tujuannya.
Dan tujuannya adalah. . .
"Mati kau!"
Melenyapkan Hanabi.
". . . ."
Hanabi sendiri tidak ingin jadi korban pelampiasan kemarahan pria itu begitu saja. Tapi sayangnya, yang sekarang dia bisa lakukan hanyalah menggeliat di lantai. Dan begitu si pemuda sudah tepat berada di depannya. Tanpa ragu Sabiru langsung mengayunkan pedangnya. . .
Klank. . .
"APA YANG KAU LAKUKAAAANNN!"
Seseorang dengan dramatisnya datang menyelamatkan Hanabi. Orang itu bukan Naruto ataupun Sasuke yang ingin mengajaknya pulang. Melainkan Takeshi yang ingin membawanya ke Mitokado untuk dijadikan sandera. Tapi untuk saat ini Hanabi tidak bisa pilih-pilih dan hanya perlu bersyukur.
"Jangan menggangguku Takeshi!"
"Apa kau sudah gila Sabiru?"
Sebab hanya orang gila saja yang punya pikiran untuk membunuh sandera mereka di situasi mereka yang terpojok. Sandra hanya ada gunanya kalau mereka masih hidup, kalau mereka mati sama saja mereka tidak punya apa-apa.
"Ya! Aku sudah gila! Karena itulah menyingkir dari hadapanku kalau kau tidak ingin mati!"
Mendengar jawaban itu, Takeshi langsung mengubah posisi tubuhnya dan menyiapkan kuda-kudanya.
". . . ."
Awalnya Takeshi meninggalkan Hinata dan Hanabi untuk memeriksa apa yang sedang terjadi di luar. Tapi begitu dia melihat ledakan besar yang dibuat oleh kapal udara di atas mereka serta turunnya seseorang di gerbang. Dia langsung buru-buru menemui Mitokado meminta instruksi lanjutan.
Sekali lagi, dia mungkin diberi tugas untuk mengawal kedua tuan putri yang jadi sandera mereka. Tapi posisi originalnya adalah pengawal pribadi Mitokado sama seperti Sabiru. Jadi dalam pikirannya, keselamatan tuannya masih jadi hal nomor satu.
Perjalanannya sempat terhalang oleh orang-orang yang panik ingin segera kabur dari kastil. Tapi pada akhirnya dia berhasil menemui dengan Mitokado yang sedang membuat strategi untuk menghadapi musuh mereka. Dia sendiri mencoba menawarkan diri untuk membantu, hanya saja Mitokado langsung menyuruhnya segera kembali ke tempat Hinata.
"Aku tidak menyangka kau bahkan lebih bodoh dari yang kukira"
Pertama dia disuruh untuk membawa mereka ke hadapan Mitokado untuk dijadikan sandera dan bahan negosiasi dengan musuh mereka. Lalu yang kedua, dia ingin agar dia menjauhkan kedua tuan putri itu dari Sabiru.
Mitokado membutuhkan pemuda itu, karena itulah dia bisa mentolerir kelakuannya selama ini. Tapi dia sendiri tidak pernah percaya sepenuhnya pada orang, yang dia sendiri anggap sudah seperti bandit itu. Oleh karena itulah, dia tidak ingin meninggalkan satu-satunya senjata politiknya hanya bersama Sabiru. Dia tidak ingin kalau di saat-saat terakhir pemuda itu mengkhianatinya lalu menyerahkan Hanabi dan Hinata pada musuh mereka.
Sayang sekali, ternyata Sabiru lebih gila dari yang mereka kira. Siapa yang mengira kalau pemuda itu malah mencoba membunuh Hanabi.
"Jangan meremehkanku ksatria kampungan!"
Sabiru langsung maju dan menyerang Takeshi dengan sabetan dari arah kirinya. Takeshi sendiri langsung menangkisnya dengan pedangnya sendiri, tapi begitu tangkisannya terhubung. Sabiru langsung menghubungkan gerakannya pada serangan selanjutnya. Memanfaatkan momentumnya, dia memutar badannya lalu sebelum Takeshi sempat bereaksi. Pemuda itu langsung menendang kepala pria paruh baya di depannya.
"Ugh. . ."
Takeshi tidak ingin mengakuinya. Tapi apa yang Sabiru katakan tadi memang benar. Dia memang hanyalah seorang ksatria hanya dia tidak punya pengalaman, dia juga tidak punya pendidikan dan dia hanya mendapatkan posisinya karena tidak ada orang lain lagi.
Tapi. . .
"Kau juga jangan meremehkanku!"
Dengan bersusah payah, Takeshi mencoba mengimbangi gerakan Sabiru. Dia tidak bisa membiarkan pemuda itu melakukan apa yang dia mau. Dan untuk merealisasikan niatnya itu, dia sama sekali tidak ragu untuk melakukan apapun. Jika dia harus mati untuk bisa melindungi Hanabi, maka dia akan bersedia mati dengan senang hati.
"Seberapa besar kau dibayar si tua bangka itu memangnya?"
"Aku tidak melakukan semua ini demi uang!"
Posisinya memang memberinya kehidupan yang lebih mudah. Tapi Takeshi sama sekali tidak bisa disebut kaya. Dia bekerja kepada Mitokado adalah demi tujuan mereka membebaskan Homura dan rakyatnya dari tirani Konoha. Dia tidak lagi ingin ada orang lain yang harus menanggung nasib yang sama dengannya. Dia tidak ingin lagi ada orang yang harus kehilangan istrinya, putrinya, atau siapapun yang mereka sayangi.
Sama sepertinya.
Dan kali ini
". . . ."
Takeshi melihat ke arah Hanabi yang masih terkapar di lantai.
"Dan aku ingin melindunginya!"
Takeshi ingin akhirnya bisa melindungi seseorang. Bukan hanya jadi pecundang yang hanya bisa melihat ketika istrinya dibunuh dan anak perempuannya dibawa oleh seseorang. Hanabi dan putrinya sama sekali tidak mirip. Tapi kalau dia bisa memanggil keberanian untuk melindungi gadis itu.
Mungkin saja.
Mungkin saja dia akan punya kekuatan untuk akhirnya bisa membuang jiwa pecundangnya dan jadi lebih berani di masa depan.
"Kalian semuaaaaaaa!"
Sama seperti saat melihat Hanabi yang lemah tidak mau menyerah. Melihat Takeshi ingin berubah dan berani mengambil langkah maju sepertinya juga punya efek yang sama buruknya terhadap keadaan mental Sabiru. Dia sama sekali tidak bisa menerima fakta kalau di tempat itu. Dia merasa kalau dialah pecundang yang paling besar.
"Aku akan membunuh kalian semua!"
Sabiru kembali meyabetkan pedangnya. Kali ini lebih keras, lebih kuat, dan lebih cepat dari sebelumnya. Tapi sebab secara fisik Takeshi lebih kuat, pria paruh baya itu masih bisa bertahan. Sayangnya, kemampuan fisiknya tidak akan cukup untuk menghadapi serangan gencar Sabiru dalam waktu lama.
Meski keadaan mentalnya tidak stabil, pengalamannya sama sekali tidak mengkhianatinya. Dengan mudahnya, Sabiru mengubah caranya menyerang musuhnya. Sebab dia tidak bisa mengalahkan Takeshi dengan cara ortodoks. Pemuda itu mulai cara untuk mengganggu keseimbangan pria di depannya.
Dan setelah berkali-kali mencoba akhirnya.
"Agh. . ."
Sabiru mencoba mengincar pergelangan tangan Takeshi. Sebagai reaksinya, Takeshi mencoba menurunkan tangannya. Hanya saja, dari bawah kaki Sabiru langsung bergerak dan menendang balik kedua tangan si pria paruh baya. Membuat sabetan pedang Sabiru, berhasil terhubung ke telapak tangan musuhnya.
Plank. . .
Pedang Takeshi terjatuh, lalu dengan cepat Sabiru menurunkan kakinya, maju lalu menabrak tubuh Takeshi dengan keras sebelum akhirnya kembali menyapu kaki pria itu. Membuatnya langsung terjatuh ke lantai.
Dan begitu musuhnya sudah terbaring di lantai. Sabiru kembali mengangkat kakinya dan. . .
"Berhenti!"
Brak. . .
Sabiru menginjak kepala Takeshi.
"Menggangguku!"
Brak. .
Setelah itu, dia melakukannya lagi.
"Orang tua!"
Brak.
Dan lagi!.
Dan lagi!
Dan lagi!
Dan lagi!
"Diam di situ!"
Begitu Sabiru selesai. Wajah dan kepala bagian belakang Takeshi sudah bersimbah darah. Yang beruntungnya, atau sayangnya? Masih belum cukup untuk membunuh pria itu. Sebab kalau dia masih hidup, sekali lagi dia harus dipaksa untuk melihat seseorang di depannya mati tanpa bisa melakukan apa-apa.
". . . ."
Takeshi mencoba menggerakkan tubuhnya. Tapi meski tubuhnya tidak terluka, kepalanya sudah menerima terlalu banyak siksaan sampai otaknya seakan lupa bagaimana cara memberi perintah pada tubuhnya.
Sepertinya, kali inipun dia akan gagal melindungi seseorang.
"Ini adalah akibat kau melawanku!"
Sabiru yang sudah ada di depan Hanabi mengangkat pedangnya lalu. . . .
7
"Mitokado Homura, diam di tempat dan menyerahlah!"
"Aku menolak!"
Dengan mudah, squad Naruto bisa melumpuhkan pasukan Mitokado yang kebanyakan hanyalah mantan petani. Ketika mereka diserang oleh Konoha. Kebanyakan prajurit profesional mereka sudah gugur. Menyisakan prajurit yang masih muda dan prajurit konskrip sebagai mayoritasnya.
Beberapa prajurit profesional yang masih tersisa Mitokado bagi dua menjadi tim yang menyerang Sasuke dan beberapa yang mengawalnya. Tapi sayangnya. Begitu tim yang Naruto pimpin sudah sampai di tempatnya. Mitokado sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
Meski dia dikelilingi tembok prajurit profesional. Naruto sudah mengepung mereka dengan pasukannya sendiri yang kesemuannya dibekali dengan senapan. Jika dia mau, Naruto bisa membunuh Mitokado dan semua anak buahnya saat itu juga.
Tapi dia tidak melakukannya. Sebab dia memutuskan kalau Mitokado lebih berharga saat dia hidup daripada mati.
"Tuan Mitokado, kau tahu kalau kau sudah kalah kan?"
"Hm. . . kenapa memangnya?"
Ya. Mitokado tahu kalau dia sudah kalah. Konoha tidak akan membantunya, pasukan koalisi tidak akan menolongnya, dan sekutunya bahkan mungkin tidak tahu kalau rencananya sudah hancur total.
"Aku menyerahpun semua orang akan tetap mati kan?"
Naruto memang tidak ingin membunuh Mitokado. Tapi meski dia mengampuni orang tua itu. Dia tidak tahu apa yang akan Konoha dan koalisi lakukan padanya. Tindakan kriminalnya terlalu besar untuk dibiarkan begitu saja. Kemungkinan besar, Mitokado dan anak buahnya akan mendapatkan hukuman mati.
Tapi dia ingin mendapatkan informasi sebelum hal itu terjadi.
"Daripada mati jadi kriminal, aku lebih memilih mati jadi pejuang!"
Teriakan Mitokado langsung disahut oleh anak buahnya. Sebab tidak seperti Sabiru, mereka punya kesetiaan terhadap Mitokado. Jadi, jika tuan mereka ingin mati maka merekapun tidak akan takut untuk mengikutinya.
"Aku tidak punya waktu untuk melayani kalian!"
Semua pengawal Mitokado mengluarkan senjatanya dan bersiap untuk menyerang Naruto dan squadnya.
"Lumpuhkan mereka!"
Dengan perintah itu. Squad Naruto langsung menembak Mitokado dan pengawalnya. Lalu, setelah mereka tersungkur dengan luka pada paha dan pundak mereka.
"Ba-bagaimana bisa?"
Senapan angin terlalu mahal untuk Mitokado bisa persenjatakan pada semua pasukannya. Tapi dia sudah mempersiapkan pasukannya untuk menghadapinya dengan memberikan mereka baju zirah yang cukup kuat untuk menghadang peluru dari senjata itu. Jadi kenyataan kalau pengawalnya bisa dengan mudah dilumpuhkan dengan senapan yang mereka bawa membuatnya bukan hanya kaget tapi takut.
"Kau menantang musuh yang salah tuan Mitokado!"
Hampir semua senjata angin yang saat ini diproduksi adalah senjata yang dibuat berdasarkan prototype yang dicuri dari Sasuke bertahun-tahun yang lalu. Dan yang namanya prototype pada dasarnya adalah sesuatu yang belum selesai dikembangkan. Dengan kata lain, senjata yang ada di peredaran adalah ciptaan yang masih belum sempurna.
Dan senjata yang mereka bawa bukanlah senapan yang ada di pasar umum. Melainkan senjata yang dibuat berdasarkan desain yang sudah Sasuke revisi. Membuatnya memiliki kekuatan yang lebih besar.
"Aaa. . . . ."
Melihat semua orang di sekitarnya terluka dan tidak berdaya. Akhirnya Mitokadopun menerima kenyataan kalau semua usahanya memang sudah sia-sia. Dan bukan hanya itu saja, tapi semua keyakinannya ketika membuat rencana pembebasannya hanya berakhir menjadi penyesalan.
Membunuh orang-orang tidak bersalah, melakukan bisnis ilegal, lalu menelantarkan nasib rakyatnya dan membiarkan anak buahnya berbuat seenaknya pada mereka. Dia bisa melakukan semua itu dengan justifikasi kalau kebebasan Homura yang dia perjuangkan membutuhkan pengorbanan.
Tapi ketika semua pengorbanan yang sudah dia buat itu tidak berhasil membuahkan hasil apapun. Yang tersisa hanyalah serentetan keputusan buruk yang bukan hanya mempengaruhinya tapi juga orang-orang di sekitarnya dan juga rakyatnya.
Orang-orang yang dia bilang ingin dia bebaskan.
". . . "
Mitokado tidak terluka, tapi akhirnya diapun ikut tersungkur ke lantai setelah kakinya tiba-tiba terasa lemas.
"Kau bisa menyesali keputusanmu nanti! Skarang aku perlu kau pergi dari kastil ini!"
Naruto mengambil flare gun lalu bergerak ke beranda yang Mitokado gunakan untuk mengawasi pergerakan Sasuke tadi. Setelah itu dia mengarahkan tangannya ke langit dan. . .
Fuiiiizz. . Bam. . .
Naruto membalik badannya lalu melihat ke dua pemimpin squadnya. Chojuro dan Shin.
"Chojuro! Kau kawal Mitokado ke lokasi aman dan bawa semua orang yang masih hidup keluar dari tempat ini!"
Bagi Naruto dan Sasuke. Semua orang yang bekerja pada Mitokado punya dosa yang sama. Mereka sama-sama membantu Mitokado untuk menculik Hanabi dan mengancam perdamaian. Tapi mereka juga tahu kalau tidak semua orang bisa mereka sebut sebagai penjahat. Merekapun hanya ingin bertahan hidup.
"Siap!"
Jawab Chojuro.
"Bagus, ambil beberapa prajurit Shin untuk membantumu! Sisanya ikut denganku!"
"Siap!"
Sahut Shin setelah memilih beberapa anak buahnya untuk pergi bersama Naruto dan dirinya.
"Sekarang tinggal mencari Hanabi"
Naruto kembali masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Mitokado.
"Di mana Hanabi?"
". . ."
Mitokado tidak menjawab. Dan hal itu langsung membuat Naruto menghela nafas.
"Hah. . . kau sadar kalau melawan sudah tidak ada gunanya kan?"
Situasi Mitokado sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Posisinya sudah ada dalam checkmate. Menolak bekerjasama dengan Naruto di akhir permainan seperti ini sama sekali tidak ada gunanya. Tapi di saat yang sama dia juga tidak punya alasan untuk menolongnya. Kejahatannya tidak ada dalam level di mana kau bisa meminta keringanan kalau kau bekerjasama dengan orang yang menangkapmu.
"Kau benar-benar keras kepala"
"Hah. . . . memangnya kenapa? Kau mau membunuhku? Aku tidak peduli! Dan tentu saja kau tidak akan berani melakukan yang lebih kan!"
Setelah melihat semua hal yang terjadi. Mitokado yakin kalau bukan hanya Naruto dan Sasuke tidak mau mengambil resiko dengan menyerang kastilnya dengan senjata besar mereka. Keduanya juga tidak akan berani benar-benar menghancurkan kotanya untuk mengancamnya. Jika mereka bisa melakukannya, mereka pasti sudah melakukannya.
Kenyataan kalau mereka rela menggunakan strategi yang berbelit-belit menunjukan kalau tidak sepertinya. Mereka masih belum rela mengorbankan semuanya untuk tujuan mereka.
"Hmm. . . ."
Naruto tidak suka dengan kenyataan kalau Mitokado menemukan kelemahan mereka. Tapi jika seseorang berpikir sedikit saja, hal itu adalah sesuatu yang dengan mudah ditebak. Dan jika semua orang bisa mengetahui hal itu. Tentu saja Naruto juga pasti tahu akan hal yang sama. Dengan kata lain, dia sudah bersiap kalau-kalau seseorang mencoba mengeksploitasi kelemahannya.
Bahkan untuk memastikan kalau semua orang yang melihat serangan mereka ikut mengambil kesimpulan yang sama. Dia dan Sasuke sudah menyiapkan sesuatu untuk menunjukan kalau mereka tidak main-main nanti.
"Baiklah kalau begitu"
Dan berdasarkan observasinya. Mitokado juga punya sebuah kelemahan besar yang bisa dengan mudah dia eksploitasi.
"Kalau kau bekerjasama, aku akan memastikan semua pengawalmu punya kesempatan hidup bebas lagi"
Kelemahan itu adalah fakta kalau semua hal yang Mitokado lakukan. Orang tua itu lakukan demi rakyat dan orang-orang terdekatnya. Dengan informasi itu, Naruto tahu kalau dia punya bahan untuk melakukan negosiasi. Dia tahu kalau dia sudah berbuat licik, tapi menjadi licik adalah kewajiban bagi seorang strategist.
Dan benar saja, mendengar tawaran itu. Mata Mitokado langsung terbuka lebar.
"Bagaimana?"
Mitokado menatap Naruto dengan pandangan tajam lalu bilang. .
"Apa kau benar-benar bisa melakukannya?"
"Aku bisa melakukannya!"
Dengan yakin Naruto menjawab pertanyaan orang tua tadi.
Naruto bisa menggunakan kekuasaannya sebagai anggota pasukan cadangan untuk membebaskan beberapa orang dari hukuman mereka. Sebab bukan hanya dia dan Sasuke sudah memberikan pasukan koalisi bayaran yang lebih dari cukup, kemenangan mereka di Homura juga akan memastikan kalau tidak akan ada orang lain yang akan sembarangan mencoba metode yang Mitokado gunakan lagi di masa depan.
Kalau mereka hanya perlu membayar semua itu dengan melepaskan beberapa orang ke alam liar. Mereka masih mendapatkan diskon yang sangat besar.
". . . ."
Mitokado masih ragu. Yang tentu saja normal mengingat dia tidak tahu siapa Naruto. Mereka baru bertemu, dia tidak tahu apakah pemuda itu bisa dipercaya atau tidak, apakah dia punya posisi yang cukup tinggi untuk membuat keputusan semacam itu.
"Jangan berpikir terlalu lama! Kau tidak punya pilihan kecuali mempercayaiku!"
"Ugh. . ."
Mitokado tidak punya asuransi Naruto akan memegang janjinya. Tapi seperti yang sudah pemuda itu katakan. Dia tidak punya pilihan.
"Baiklah!"
Mendengar jawaban itu, semua pengawalnya langsung berteriak.
"Tuan Mitokado!"
"Kau tidak perlu. . "
"Kami akan mengikuti. . ."
Tapi semua teriakan-teriakan mereka langsung dihentikan oleh teriakan Mitokado yang tidak kalah kerasnya.
"Diam kalian semua!"
Mitokado sudah terlalu banyak mengambil keputusan yang salah. Dan kesalahan-kesalahan itu sudah membuat kehidupan semua orang jadi lebih buruk. Hanya saja, meski dosanya tidak bisa dimaafkan. Setidaknya dia ingin memberikan kesempatan pada para pengawal setianya untuk bisa memulai hidup baru.
"Bagus!"
Naruto tersenyum, dan Mitokadopun akhirnya memberitahukan lokasi Hanabi. Membuatnya bisa dengan cepat menemukan gadis itu tanpa harus menggeledah semua tempat di kompleks kastil besar itu.
Sementara Naruto sedang buru-buru menuju ke tempat Hanabi. Di sisi lain, Sasuke yang melihat tanda dari teman masa kecilnya itu akhirnya memutuskan untuk berhenti bergerak. Jika Mitokado sudah berhasil dibekukan, dia tidak perlu lagi bekerja sebagai pengalih perhatian. Dia tinggal perlu menunggu satu tanda lagi dan misi merekapun akan selesai.
Dia melihat ke sekitarnya lalu berteriak
"Mitokado sudah jatuh! Kalau kalian menyerah aku berjanji tidak akan menyerang!"
Dengan keras kepada semua musuhnya yang sedang mengepungnya dari berbagai arah.
Kabar itu tentu saja tidak bisa mereka terima begitu saja kebenarannya. Hanya saja, mereka sendiri sudah punya firasat kalau memang hal itulah yang terjadi. Ketika mereka menghadapi Sasuke mereka mulai menyadari kalau pemuda itu tidak pernah fokus untuk mengalahkan mereka melainkan mementingkan untuk mengulur waktu pertempuran mereka selama mungkin.
Jika apa yang pemuda itu katakan memang benar. Semua orang akhirnya bisa memahami apa yang sedang terjadi.
". . . ."
Sasuke kembali melihat ke sekitarnya dan memeriksa reaksi dari semua orang. Dia ingin memastikan kalau semua orang yang ada di sekitarnya paham dengan implikasi dari apa yang dia katakan. Jika mereka tidak menunjukan tanda kalau mereka paham, Sasuke berniat dengan terang-terangan bilang kalau mereka sudah 'boleh kabur'.
"Hmm. . . ."
Dia melihat beberapa orang mulai mundur dan meninggalkan posnya, tapi dia juga melihat lebih banyak orang yang hanya melihat satu sama lain lalu tersenyum dengan tidak jelas pada satu sama lain. Dan Sasuke tidak menyukai hal itu sama sekali. Wajah yang dia lihat adalah wajah dari orang-orang yang sudah menyerah untuk hidup.
Kemungkinan yang dengan mudah pergi adalah prajurit bayaran, menyisakan hanya orang-orang asli Homura.
"Jangan membuang nyawa kalian! Pikirkan juga nasib orang-orang yang dekat dengan kalian semua!"
Ketika seseorang mati, bukan hanya kehidupan mereka saja yang terpengaruh. Tapi juga kehidupan orang lain di sekitar mereka. Terutama orang-orang terdekat mereka.
"Ahahaha. . ."
Hanya saja, kata-kata Sasuke hanya disambut beberapa tawa kosong.
"Orang lain siapa?"
Tanya satu orang.
"Kalau aku punya orang seperti itu aku tidak akan ada di sini! Melawan monster sepertimu!"
Lalu teriak orang lain.
Setelah itu, orang-orang lainpun mulai ikut mulai ikut berbicara kalau mereka sudah tidak punya orang tua untuk pulang, tidak punya keluarga untuk dilindungi atau saudara yang mereka ingin bantu. Mereka bahkan tidak punya harta untuk dijaga. Mereka tidak punya apa-apa.
Karena semua itulah mereka jadi tentara sukarela untuk Mitokado. Karena itulah mereka tidak takut untuk menghadapi Sasuke. Karena itulah mereka tidak peduli kalau Mitokado ditangkap dan rencana mereka gagal. Dan karena itulah juga! mereka tidak takut untuk menghadapi masa depan yang pada dasarnya hitam kelam.
Sebab. .
"Aku paham, jadi kalian ingin mati hah"
Mereka tidak ingin lagi melanjutkan kehidupan mereka yang mereka anggap sudah tidak ada lagi nilainya.
"Kalau begitu. ."
Klank. . klank. . klank
Sasuke mulai melepaskan satu-persatu bagian dari baju zirahnya. Dia sudah tidak membutuhkannya lagi, dan sekarang staminanya sudah berkurang banyak. Benda itu hanya akan mengganggunya. Selain itu, sebab bahan bakar flame throwernya serta semua amunisi dan gas senjatanya juga sudah habis. Dia hanya bisa melakukan pertarungan jarak dekat.
Untungnya lawannya juga dalam keadaan yang sama. Sama seperti dirinya, musuhnya juga kebanyakan sudah kehabisan amunisi dan panah untuk dilemparkan kepadanya. Saat ini, kedua pihak hanya bisa mengandalkan senjata jarak dekat dan tubuh mereka sendiri.
Sasuke mengambil pedang pendeknya dan menghunuskannya ke depan lalu bilang.
"MAJU KALIAN SEMUA!"
Sasuke tidak ingin ada yang mengganggu perjalanannya, dan musuhnya ingin segera beristirahat di alam selanjutnya. Dengan kata lain, keinginan mereka sudah satu arah. Jadi, jika dia menghabisi semua orang itu. Semua orang untung. Semua orang mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Dengan begitu, semua orang maju dan mulai menyerang Sasuke. Tapi tidak seperti dalam cerita superhero, mereka tidak menyerang satu persatu. Mereka mengepung pemuda itu lalu menyerangnya dari berbagai arah dalam satu waktu.
Ketika Sasuke memutuskan untuk menghabisi semua lawannya. Di saat yang sama Naruto juga baru sama memutuskan untuk menghabisi seseorang. Sebab begitu dia dan squadnya sampai di ruangan di mana Hanabi berada.
". . . ."
Dia menemukan pemandangan Hinata yang tergeletak tidak sadarkan diri. Seorang prajurit yang kepalanya penuh darah tersungkur di lantai. Setelah itu dia juga melihat Hanabi yang kelihatan terluka parah sampai tidak bisa bergerak tidak jauh dari prajurit tadi. Lalu yang terakhir dia menemukan seorang prajurit lain yang dengan wajah layaknya orang yang dirasuki setan sedang bersiap untuk menyerang kekasihnya.
"BUNUH DIA!"
Melihat apa yang sedang terjadi. Tidak heran Naruto langsung memberikan perintah semua squadnya untuk membunuh seseorang. Dalam sekejap, semua prajuritnya langsung menyiapkan senjata mereka dan menembak mati Sabiru.
Dan dengan begitu, cerita pemuda itu sudah tamat.
8
"Maafkan aku Hanabi"
Begitu Sabiru jatuh ke lantai, Naruto langsung mengangkat tubuh Hanabi dan memeluknya dengan erat. Melihat gadis itu terluka dan tidak berdaya bahkan membuatnya sempat hampir ingin menangis saat mengutarakan permintaan maafnya. Jika di sekitarnya tidak ada orang lain kemungkinan besar air matanya akan keluar begitu saja. Sebab melihat orang yang kau cintai terluka terasa lebih sakit daripada kalau kau terluka sendiri.
". . . . . ."
Setelah wajah Naruto yang dipenuhi dengan rasa bersalah, penyesalan, kesedihan dan entah emosi macam apa saja. Hanabi mencoba balas memeluk pemuda itu, tapi tubuhnya masih tidak bisa digerakan. Mulutnya tidak bisa gunakan untuk bilang kalau dia "tidak apa-apa". Tangannya tidak bisa dia gunakan untuk menepuk punggung kekasihnya itu dan memberitahukan kalau semuanya "sudah baik-baik" saja. Dan tubuhnya yang sudah seperti boneka yang talinya putus, tidak bisa digunakan untuk menunjukan kalau Naruto "sudah berhasil menyelamatkannya"
Menyadari kalau dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk Naruto. Kali ini ganti Hanabi yang merasa ingin menangis. Tapi tidak seperti pemuda yang sedang memeluknya, dia tidak peduli dengan keberadaan semua orang dan membiarkan air matanya mengalir dan membasahi pipinya, wajahnya, lalu pakaian di dada pemuda itu yang sedang menempel ke wajahnya.
". . . ."
Naruto melihat ke dadanya di mana kepala Hanabi berada dan menemukan gadis itu sedang menangis dalam diam. Pemandangan yang sama sekali tidak ingin dia lihat.
"Shin, bawa Hin. . . tuan putri Hinata keluar! Misi kita sudah selesai!"
"Siap!"
Mereka tidak waktu banyak. Naruto bahkan tidak punya waktu untuk menyalahkan dirinya sendiri, berandai-andai tentang apa saja yang bisa dia lakukan di masa lalu agar Hanabi tidak diculik. Dia harus menelan semua rasa penyesalan, bersalah, dan juga kesedihannya untuk saat ini. Sebab saat ini, mereka harus segera keluar dari Homura.
Naruto memeluk tubuh Hanabi lebih erat untuk sesaat. Lalu dia berdiri dan menggendong gadis kecil itu di depan tubuhnya bersiap untuk segera pergi. Chojuro mengikuti apa yang dilakukan Naruto dengan gerakan canggung.
"Kenapa Shin? Apa kau terluka"
Karena Hinata tidak sadarkan diri, Shin tidak punya pilihan lain kecuali ikut menggendong tuan putri itu dengan cara yang sama seperti Naruto menggendong Hanabi. Tapi tidak seperti Hanabi dan Naruto yang punya hubungan sangat dekat. Shin dan dan Hinata tidak punya ikatan yang sama. Bukan hanya mereka adalah orang asing terhadap satu sama lain. Hinata adalah seperti panggilannya. . .
Seorang tuan putri.
Seseorang yang pangkatnya jauh di atasnya. Seseorang yang tidak merasa pantas untuk dia sentuh.
"A.. . aku tidak apa-apa"
"Kalau begitu cepat bergerak!"
"Ba-baik"
Tapi daripada pangkat dan pikiran tentang pantas atau tidak pantasnya Shin menyentuh seorang tuan putri. Hal paling besar yang membuatnya merasa canggung dan gugup hanyalah kenyataan sederhana kalau Hinata adalah seorang gadis cantik. Dan ketika dia diperintahkan untuk menggendongnya. Pemuda itu tidak bisa menghindar untuk menyadari seberapa cantiknya gadis itu, seberapa lembutnya tubuh tuan putri itu, dan seberapa wanginya rambut dan badan kakak perempuan Hanabi itu.
Sebagai seorang pemuda sehat yang bahkan belum berumur dua puluh tahun. Shin tidak bisa tidak memikirkan hal yang aneh-aneh saat dia memegang tubuh Hinata.
"Yang lain! Tetap waspada"
Pasukan Mitokado mungkin sudah dilumpuhkan. Tapi sejak awal yang paling mereka waspadai bukanlah pasukan orang tua itu. Mengingat kalau dia juga tidak ingin agar sanderanya mati. Mereka tidak mau ada orang Nagato yang mungkin menyelinap dan mencoba membunuh Hinata dan Hanabi. Oleh sebab itulah, sampai mereka bertemu dan berkumpul dengan keseluruhan kelompok mereka dan berhasil mengungsi ke tengah camp pasukan koalisi. Semua orang masih perlu waspada.
"Baiklah, ayo kita per. . ."
Tiba-tiba, Naruto merasakan kalau tangannya ditarik oleh Hanabi. Ditarik mungkin sedikit melebih-lebihkan mengingat apa yang dia rasakan lebih tepat disebut sentuhan. Tapi yang jelas, dia merasakan Hanabi menginginkan perhatiannya.
"Ada apa?"
" . . . ."
Hanabi mencoba menggerakan kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke sebuah tempat. Dan di tempat itu adalah tubuh Takeshi.
"Aku paham"
Naruto bisa melihat kalau pria itu masih hidup, tapi dengan lukanya yang kelihatan sangat parah. Naruto berpikir kalau hanya menunggu waktu saja sampai Takeshi mati dengan sendirinya. Membuatnya hanya jadi beban kalau mereka harus membawanya. Dan baginya yang tidak ingin membuang-buang waktu, menyelamatkan Takeshi kedengaran seperti hal yang sia-sia.
Hanya saja, kalau Hanabi ingin menyelamatkan pria itu. Maka dia akan coba melakukannya.
"Bawa orang itu juga"
"Siap!"
Dengan begitu mereka merekapun akhirnya pergi meninggalkan kota itu setelah sekali lagi meluncurkan flare ke udara untuk memberi tahu Sasuke jika mereka sudah berhasil mengamankan Hanabi. Sekitar setengah jam kemudian, Sasuke balas meluncurkan flarenya memberitahukan kalau dia juga sudah ada di tempat yang aman.
Dengan begitu, bagian akhir dari misi mereka pun dimulai.
Kapal udara yang mereka bawa mulai menggerakan senjatanya,mengacungkan muzzlenya tepat ke kastil dan. . .
BAAMMMMMMMM
Meluncurkan amunisinya pada bangunan yang menjadi simbol dari negara kota itu. Menghancurkannya sampai kau tidak bisa mengenalinya lagi. Mengirimkan sinyal pada semua orang yang melihat. Kalau siapapun yang berani mencoba melakukan hal yang sama seperti Mitokado akan mendapatkan nasib yang sama juga dengannya.
Dan pesan itu, bisa sangat mudah ditangkap oleh Nagato dan Shikamaru yang hanya bisa melihat apa yang sedang terjadi dari jauh. Membuat dalam waktu yang sama, keduanya berpikir kalau Sasuke memiliki kekuatan yang terlalu besar untuk dimiliki oleh satu orang.
Siapapun yang bisa menarik Sasuke ke pihaknya akan bisa mengubah situasi perang. Kali ini, dua orang itu memberikan reaksi yang berbeda. Nagato harus menghela nafas sedangkan Shikamaru?
"Aku menang!"
Tersenyum dengan lebar.
Naruto tidak hanya meminta Shikamaru datang untuk jadi saksi dan mengawasi pasukan Nagato agar pangeran itu tidak bisa mengganggu misi rekannya. Dia juga ke sana untuk memberikan tempat berlindung terhadap Sasuke dan Hanabi. Dengan kata lain dalam hal membuat koneksi, Shikamaru satu langkah lebih jauh daripada Nagato.
"Shinku, kita akan mundur"
"Siap!"
Dengan banyaknya hal tidak terduga yang terjadi, Denis sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Karena itulah dia langsung menurut saja ketika perintah dari Shikamaru datang.
Bersama dengan kapal udara Sasuke yang mulai bergerak menjauh dari Homura dan menghilang di balik bukit. Pasukan koalisi akhirnya mundur dan perlahan-lahan menjauh dari lokasi pasukan Nagato berada. Mereka perlu menjemput Hanabi dan Naruto serta menenangkan penduduk Homura yang mencoba kabur.
Melihat kalau calon musuhnya sudah mundur, Nagato dan strateginya akhirnya bisa relax. Dan begitu tubuh serta pikirannya relax. . . .
"Ahahahahahahahah. . .hahahaha. . . . .hahahahaha. . ."
Nagato mulai tertawa.
"Pa-pangeran. . . ."
"Perintahkan seluruh untuk bersiap pulang, urusan kita sudah selesa di sinii!"
"Tapi tuan putri Hanabi dan Hinata masih. . . ."
"Hey Inabi, kau adalah strategistku kan?"
"Benar yang mulia"
"Kalau begitu, dalam urusan perang harusnya kau lebih baik dariku kan?"
"Tugasku adalah meringankan beban yang mulia"
"Kalau begitu beri tahu aku. . . . bagaimana kau akan mengalahkan pelayan adikku itu? sekarang!"
Biasanya, ketika tuannya meminta bantuan, dia akan dengan senang hati memberikan petunjuk, nasehat, atau panduan padanya. Sebab alasannya berada di medan perang bersama pangeran adalah hal itu. Menjadi seseorang yang pendapatnya bisa dijadikan petunjuk untuk memutuskan sesuatu.
Tapi kali ini, yang bisa dia lakukan hanyalah menunduk. Melihat ke tanah, dan. . . .
". . . . . . "
Tidak mengatakan apapun.
"Tepat sekali."
Sama seperti Nagato, Inabi tidak bisa memikirkan solusi apapun. Dan sama seperti Nagato, strategisnya juga tidak bisa berkata apa-apa saat ditugaskan untuk menjatuhkan Sasuke dan benteng terbangnya.
Benda itu terlalu tinggi untuk ditembak dengan senapan atau meriam dan tentu saja tidak ada orang yang bisa memanjatnya. Dengan kata lain, mereka tidak bisa melakukan apa-apa terhadap benda itu. Tapi sebaliknya, Sasuke bisa menghabisi mereka dari jarak jauh dengan mudah. Dan bahkan tanpa harus membahayakan diri.
"Jangan memasang wajah seperti itu!"
Mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Dan satu-satunya hal yang harus mereka lakukan adalah menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Sebab jika mereka tidak mengakui hal itu, mereka sendiri yang akan merasa frustasi, marah dan yang terakhir. Takut.
"Aku sudah tahu kalau dia itu spesial, tapi aku tidak menyangka kalau dia se-sepesial ini"
Perbedaan umur antara Sasuke dan Nagato hanya empat tahun. Jadi, ketika dia bersekolah di akademi. Mereka punya waktu untuk berada di satu tempat selama dua tahun dari enam tahun pendidikan umum.
Mengingat Sasuke adalah putra dari orang paling penting di Konoha. Nagatopun tidak ragu untuk berinteraksi dengannya dengan niat untuk melihat apakah anak itu punya punya bakat atau tidak. Apakah anak itu bisa dimanfaatkan atau tidak. Dan apakah anak itu pantas untuk jadi anak buahnya atau tidak.
Dan benar saja. Seperti yang sudah dia duga bukan hanya dia punya magic. Anak itu juga punya kemampuan bertarung yang tinggi. Itupun bukan hanya dibanding dengan teman-teman seumurannya, tapi juga murid-murid yang lebih tua.
Dengan semua kualitas itu, Sasuke bukan hanya sudah lulus seleksi pribadi Nagato. Tapi juga sudah mengokohkan posisinya sebagai orang penting di sisinya. Keturunan, bakat dan skill. Dia memiliki semuanya.
"Kalau saja aku lebih serius merekrutnya, mungkin saja kita tidak akan ada dalam situasi seperti ini"
Sama seperti dengan Inabi. Tidak butuh waktu lama untuk Nagato mencoba merekrut Sasuke menjadi anak buahnya. Tapi dia melakukan sebuah kesalahan besar besar dalam prosesnya melakukan hal itu. Dia mencoba menawarkan harta, tahta, dan kekuasaan sambil mencoba mendorong patriotismenya pada anak laki-laki itu. Sayangnya, Sasuke sama sekali tidak tertarik dengan semua hal itu. Membuatnya malah berakhir menjauhi Nagato.
Nagato tentu saja bisa memaksa Sasuke dengan kekuasaannya. Tapi melihat reaksi anak itu, Nagatopun kehilangan minat terhadap Sasuke. Dia berpikir, orang yang tidak punya ambisi tidak akan bisa berguna baginya. Seberapapun besar bakat yang mereka miliki.
Oleh sebab itulah, ketika Sasuke memutuskan untuk keluar sekolah, kehilangan hak waris dari keluarganya, lalu pergi ke kampung terpencil dengan adik perempuannya. Dia mengira kalau keputusannya untuk tidak mengejar pemuda itu adalah sesuatu yang benar.
Tidak disangka kalau keputusan itu akan balik mengigitnya sekarang.
Peringatan yang diberikan Sasuke dengan meledakkan kastil Mitokado mungkin ditujukan untuk semua orang. Tapi sudah jelas kalau target utama peringatan itu adalah dirinya. Orang yang ingin menyingkirkan tuannya.
"Kalau dia ada di pihakku! Orang lainlah yang akan menerima kemarahannya"
Tapi sayang sebab dia adalah musuh dari tuan putri pemuda itu dan malah sekarang jadi target kemarahannya.
"Sudahlah, aku tidak punya waktu untuk menyesali keputusan bodohku"
"Yang mulia . . ."
Inabi memasang wajah menyesal karena sudah tidak berguna bagi tuannya.
"Sudah kubilang jangan memasang wajah seperti itu"
Kali ini dia memang sudah kalah. Misinya gagal total, ekspedisinya sia-sia, dan rencananya tidak berhasil maju kemana-mana. Tapi dia sama sekali tidak punya niat untuk menyerah. Saat ini mungkin mereka tidak bisa menghadapi Sasuke, tapi orang yang pintar bukan hanya dia saja. Orang yang kuat bukan hanya dia saja. Dan orang yang punya pikiran diluar nalar pasti bukan hanya dia saja.
Konoha punya penduduk lebih dari enam puluh juta. Di antara mereka pasti ada yang bisa menandingi Sasuke. Dan meskipun Nagato tidak bisa menemukan orang yang sehebat Sasuke. Dia masih bisa mengumpulkan orang yang bisa menandinginya sebagai sebuah kelompok.
"Yang mulia, apa aku perlu menyingkirkannya?"
Atau dia juga bisa membunuhnya secara diam-diam.
"Jangan repot-repot!"
Jika Nagato ingin membunuh Sasuke, dia yakin kalau pada akhirnya dia akan berhasil. Meski Sasuke bisa membela dirinya sendiri, jika dia terus mengirimkan pembunuh bayaran tanpa henti ke pemuda itu. Sekuat apapun dia, pada akhirnya pasti Sasuke akan lengah dan seseorang pada akhirnya akan berhasil membunuhnya.
Selain itu dia juga bisa menggunakan cara lain seperti racun, jebakan, atau cara-cara licik lainnya untuk mengakhiri kehidupan pemuda itu.
Tapi. . .
"Menjadikannya musuh itu bodoh"
Mungkin Nagato bisa membunuh Sasuke. Tapi apa yang harus jadi bayarannya? Dengan kemampuannya bukan tidak mungkin sebelum dia berhasil membunuh pemuda itu. Sasuke sudah membuat benda gila lain dan menghancurkan bukan hanya kastil utama Konoha, tapi juga seluruh isi dari Ibu kota di mana dia berada.
"Aku sudah pernah memojokkannya, dan dia adalah tipe orang yang akan melakukan tindakan ekstrim saat sudah terpojok"
Jika Sasuke adalah orang biasa tindakan ekstrimnya akan terbatas. Tapi dengan Sasuke sebagai subjeknya, Nagato bahkan tidak tahu batas pemuda itu.
"Selain itu, dia masih berguna untuk kita"
Dengan adanya Sasuke. Tidak ada orang yang akan berani sembarangan menyerang teritori di mana dia berada. Entah itu kelompok bandit, pasukan pemberontak, ataupun negara lain. Setelah mengetahui apa yang bisa Sasuke lakukan, mereka akan berpikir ribuan kali sebelum memutuskan untuk menyerang perbatasan di mana dia tinggal.
Dengan adanya pemuda itu, dia juga bisa mengalihkan sebagian pasukannya ke tempat lain untuk membantunya menstabilkan situasi di area lain.
"Lalu yang terakhir, menjinakannya itu mudah"
Yang perlu Nagato lakukan hanyalah tidak menyentuh Hanabi. Asalkan dia tidak mengganggu sarang lebah itu. Dia akan baik-baik saja.
"Tapi yang mulia, kita tidak tahu apa yang Hinata pikirkan"
Hinata adalah musuh Nagato, dan Hanabi adalah sekutu Hinata. Sedangkan Sasuke sendiri adalah anak buah Hanabi. Jadi, meski pemuda itu tidak punya alasanpun. Jika Hinata berpikir untuk melenyapkan Nagato, secara teori dia bisa memerintahkan Sasuke untuk melakukannya.
"Kau mungkin tidak tahu! Hinata tidak akan pernah berpikir untuk membunuhku"
Orang-orang di fraksi Hinata mungkin punya pikiran untuk menyingkirkannya. Tapi Hinata sendiri tidak akan pernah berpikir untuk membunuh saudaranya sendiri. Dia kenal baik dengan kepribadian adik perempuannya itu. Dan kalau yang jadi musuhnya hanyalah para bangsawan di bawah gadis itu, dia sama sekali tidak perlu khawatir.
Jaringan mata-matanya di dalam lingkaran sosial para bangsawan tidak ada tandingannya.
"Hinata, Hanabi, dan Sasuke mungkin berbahaya"
Tapi kalau kau bisa menggunakan kekuatan mereka dengan baik. Mereka adalah aset besar. Sama seperti racun yang kalau digunakan dengan hati-hati bisa menjadi sebuah obat. Reputasi bersih Hinata, kemampuan manajemen Hanabi, dan inovasi yang diciptakan Sasuke. Semua hal itu adalah apa yang Konoha butuhkan untuk bisa keluar dari krisisnya.
Ketiga orang itu adalah lawan politiknya, tapi pada akhirnya mereka semua tetaplah penduduk Konoha. Nagato yakin kalau mereka setidaknya tidak akan membuat keputusan yang membahayakan negaranya sendiri.
"Apa kau paham Inabi?"
"Aku paham yang mulia"
"Bagus"
Nagato mengangguk.
"Jangan berpikir bertindak di belakangku"
Tapi dia tidak lupa untuk memberikan peringatan kepada strategisnya. Inabi punya kesetiaan yang terlalu besar padanya, jadi bukan tidak mungkin kalau dia akan melakukan sesuatu di belakangnya dengan pembenaran kalau apa yang dia rencanakan adalah demi dirinya.
"Tentu saja"
9
Akhir tahun adalah waktu yang spesial bagi Hanabi. Sebab akhir tahun adalah waktu di mana dia lahir ke dunia. Jadi, meski ulang tahunnya tidak pernah dirayakan dengan besar. Setiap akhir tahun datang, dia selalu merasa bahagia. Setiap akhir tahun datang, dia bisa menghabiskan waktunya bersama dengan orang yang dia cintai tanpa harus memikirkan belajar, pekerjaan, atau tanggung jawabnya yang lain.
Dia berpikir kalau hal itu akan bisa berlangsung selamanya. Kalau setiap tahun, dia akan bisa menikmati ulang tahunnya bersama dengan seseorang. Dengan ibunya, dengan Sasuke, atau dengan Naruto. Entah dengan siapapun dia menghabiskan waktu ulang tahunnya. Dia akan merasa bahagia.
Tapi sayangnya, tahun ini. Di hari ulang tahunnya yang ketiga belas. Dia menghabiskan waktunya untuk merasa takut, sakit, dan sedih.
". . ."
Hal pertama yang Hanabi lihat ketika dia membuka matanya adalah atap yang dia tidak kenal. Tentu saja dia sedang tidak berada di dalam rumah sakit mengingat ruangan di mana dia berada hanyalah sebuah kamar kecil dengan tembok yang sudah kelihatan berumur. Dia tidak tahu rumah siapa yang sedang dia tumpangi, tapi dia berterima kasih pada orang itu.
"Hm. . . ."
Lalu yang kedua adalah pandangan Naruto yang sedang tertidur dalam posisi duduk dengan tubuh bagian atasnya terbaring di sampingnya. Sebuah kasur keras yang kapas di dalamnya sudah terpampat sangat padat.
Kemudian yang ketiga adalah udara dingin khas akhir tahun yang mulai membuatnya hanya ingin tetap di kasur dan bersembunyi di balik selimut tebal.
Dan yang terakhir adalah….
"Ugh. . ."
Rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Dia sudah bisa bergerak tapi badannya masih terasa sakit. Dan benar, saja ketika dia menyikap lengan bajunya bagian kanannya. Dia menemukan luka memar yang bisa kelihatan dengan jelas. Tapi daripada luka-luka luar semacam itu. Dia lebih khawatir tentang luka dalam yang tidak bisa dilihat. Seseorang benar-benar harus memeriksa tubuhnya secara penuh saat dia sudah sampai di rumah.
" . . . Hanabi?"
"Ah. . . maafkan aku . . ."
Setelah Naruto bangun dari tidurnya. Dia baru sadar kalau tangan kanannya sedang pemuda itu genggam dengan erat. Sepertinya gerakannya berhasil membuat pemuda cukup tidak nyaman sampai dia bangun dari tidurnya. Karena itulah, secara reflex Hanabi langsung meminta maaf.
"Tidak, harusnya aku yang meminta maaf"
Tanpa melepaskan tangan gadis itu, Naruto mulai mengangkat badannya dan menegakkan posisi duduknya. Setelah itu, dengan menggunakan tangan kanannya yang bebas, pemuda itu mulai membelai rambut Hanabi. Tapi tidak seperti biasanya, kali ini Naruto tidak tersenyum saat melakukan kegiatan itu.
Bukan karena rambut panjang Hanabi tidak lagi lembut dan terasa kasar karena kurang perawatan. Bukan karena kecantikan gadis itu memudar setelah tidak bisa merawat dirinya selama hampir sebulan penuh. Dan tentu saja bukan karena perasaan Naruto terhadap teman masa kecilnya itu mulai luntur.
Tapi karena. . .
"Maafkan aku. . . . . maafkan aku Hanabi"
Ketika dia memindahkan telapak tangannya ke kening gadis itu dan menyingkap rambut di sekitarnya. Dia bisa melihat ada sebuah bekas luka besar di sana. Luka yang membuat ada beberapa senti dari keningnya memiliki bagian kulit yang terkelupas. Sebuah luka yang kemungkinan besar tidak akan bisa hilang seumur hidup kekasihnya itu.
Hal itulah yang membuat Naruto bukannya tersenyum, malah kelihatan ingin menangis saat membelai kepala dari gadis yang dia cintai. Bukan hanya luka itu akan meninggalkan bekas yang harus Hanabi bawa sampai mati, luka itu juga mengingatkan kalau dia sudah gagal melindunginya.
"Naru... to"
Hanabi ingin menghibur pemuda itu, tapi dia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Dia bisa bilang kalau Naruto sudah berhasil menyelamatkannya dan hal itu adalah yang paling penting. Tapi dia tahu, pemuda itu tidak akan bisa melupakan penyesalannya yang gagal melindunginya. Selain itu Hanabi sendiri tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri dan bilang kalau dia tidak apa-apa, dia tidak bisa berpikir kalau pengalamannya itu tidak buruk, dan dia juga tidak bisa menganggap kalau semuanya sudah baik-baik saja.
Hanabi memutuskan untuk menarik tubuh pemuda itu lalu menempatkan tubuhnya sendiri di dada pemuda itu. Lalu, dia menggunakan tangan kirinya untuk memeluk pemuda itu dengan seerat yang dia bisa.
"Hanabi?. . . . ."
Naruto mencoba melihat wajah gadis itu yang baru saja Hanabi kuburkan di dadanya. Tapi sebelum usahanya berhasil, dia mendengar suara tangis kecil.
"Narutooo. . .hiks. . ."
Hanabi ingin menghibur Naruto. Tapi saat ini, dia sendiri butuh seseorang untuk menghiburnya.
Sebab kenyataannya adalah, tidak ada yang baik-baik saja dari dirinya. Entah itu mental maupun fisiknya, keduanya sudah terluka parah.
"Maafkan aku Naruto. . . ."
Dia tidak bisa mengurangi beban pemuda itu dan malah hanya bisa menambah bebannya dengan bertingkah lemah dan terluka seperti itu. Tapi sekali lagi, saat ini dia benar-benar merasa lemah, terluka, dan takut sampai sampai dia tidak bisa memikirkan apa-apa lagi kecuali tiga hal itu.
"Maafka. . . . Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. . . . "
Semua perasaan itu akhirnya meluap dan Hanabi tidak lagi bisa menahan diri. Gadis itu menangis dengan keras layaknya anak kecil yang orang tuanya baru meninggal. Tangisannya bahkan cukup keras sampai prajurit dan pengawal yang ada di balik pintu kamar itu bisa mendengarnya dengan jelas.
"Hanabi. . ."
Naruto membelalakan matanya. Setelah itu dia melepaskan tangan Hanabi lalu balas memeluk gadis itu dengan erat seakan dia tidak ingin melepaskannya lagi. Dia ingin membuat Hanabi merasa yakin kalau pemuda itu akan selalu ada untuknya.
". . . "
Kali ini Naruto yang tidak tahu harus berkata apa-apa. Dia merasa malu sudah bertingkah seakan dia adalah korban utama dari keadaan mereka sekarang. Dia mungkin terluka secara mental, tapi Hanabilah yang benar-benar terluka. Hanya saja dalam kasusnya, gadis itu bukan hanya terluka secara mental tapi juga secara fisik.
Hanabi memang punya latihan bela diri. Tapi dia bukanlah benar-benar seorang prajurit. Dia hanyalah seorang gadis kecil lemah.
Seorang gadis kecil yang baru saja diculik.
Seorang gadis kecil yang baru saja ditaruh dalam tempat di mana semua orang pada dasarnya adalah musuhnya.
Dan seorang gadis kecil yang baru saja hampir mati. Lagi.
Bagaimana Naruto bisa bertingkah seakan dia adalah korban di depan korban yang sebenarnya?
"Aaaaaaaaaaa. . .hiks. . . aku benar-benar takut"
Dia takut pada pekerja-pekerja di kastil yang selalu mencoba membuat kehidupannya sulit. Dia takut Mitokado akan menjualnya. Dia takut dibuang ke tempat yang sangat jauh. Dia takut Sabiru akan melecehkannya. Dan dia sangat takut kalau seseorang akan datang membunuhnya.
Selama di Homura, tidak pernah ada hari dia tidak merasa takut. Dia mungkin tidak menunjukan ketakutannya pada siapapun, bahkan pada Hinata. Tapi dia hanya pura-pura baik-baik saja. Tidak ada hari di mana dia bisa tidur dengan tenang.
"Naruto. . .hiks. . .Narutoooo. . . ."
Bukan hanya takut, tapi Hanabi juga merasa sakit dan terluka.
Fisiknya sudah jelas, dia secara literal sudah dihajar sampai babak belur oleh Sabiru. Tapi secara mental dia juga tidak kalah sakit dan terlukanya.
Hampir semua orang di sana merendahkannya, hampir semua orang ingin memanfaatkannya, dan bahkan beberapa orang hanya ingin agar dia mati saja. Sebagai anak dari raja Konoha, dia sudah biasa dibenci oleh orang lain bahkan sejak dia berada di Yamato. Tidak, sejak di akademi di Konohapun, dia sudah biasa dibenci orang lain.
Tapi kebencian orang-orang yang ada di Homura lain.
"Waaaaa. . . . ."
Tidak jarang pegawai kastil menolak memberikan jatah makanannya. Seseorang mencoba mencuri atau meminta barang-barang sudah jadi hal biasa. Sering rekan kerjanya mengobrak-abrik pekerjaannya sambil menertawainya. Dan lebih sering lagi seseorang akan berkumpul, mengepungnya, menghinanya dan mengasarinya untuk bersenang-senang.
Semua kenangan itu membuatnya ingin berteriak "SUDAH CUKUP" lalu menangis sekeras yang dia mungkin.
"Aaaaaa. . .aaaaaaa"
Dan benar saja, gadis itu menangis dengan semakin keras. Orang-orang itu sudah tidak ada bersamanya, tapi luka yang mereka buat masih ada dan masih terasa sakit. Karena itulah, dalam suara tangisnya tersisip seluruh emosinya. Emosi seperti rasa takut, sakit, dan kepedihan. Lalu yang terakhir.
Keinginan untuk menyerah.
Ya.
Saat ini, Hanabi merasa kalau dia sudah berada dalam titik keputusasaannya di mana yang dia ingin lakukan hanyalah menyerah dan kabur dari keadaan.
Jika saat itu juga Naruto mengajaknya untuk kabur bersamanya ke negara lain dan meninggalkan semuanya. Gadis itu akan dengan mudahnya setuju. Dia akan dengan mudahnya melupakan keluarganya, kewajibannya, dan tanggung jawabnya hanya untuk melarikan diri.
Kenapa?
Karena selama perang masih berlangsung. Kejadian yang seperti ini mungkin akan terjadi lagi dan lagi. Kali ini dia beruntung masih bisa selamat. Tapi bagaimana kalau di masa depan keberuntungannya habis?
Tiga kali hampir mati dibunuh seseorang sudah lebih dari cukup baginya. Dia tidak ingin mengalami hal itu lagi.
Dia ingin menyerah.
Dia ingin berhenti.
Dia ingin kabur.
Tapi. . .
Tapi kalau dia menyerah. . . bagaimana dengan Naruto?
"Aaaaaaa. . . ."
Air matanya mengalir deras.
"Aaaaaa. . .hiks. . maafkan aku Naruto. . . . aku. . . aku"
Terlalu lemah.
Bukan hanya tubuhnya sangat lemah sampai dia tidak bisa membela dirinya sendiri. Tapi tekadnya juga sangat lemah sampai di dengan mudahnya berpikir untuk menyerah untuk memperjuangkan masa depan yang mereka impikan.
"Tidak apa-apa Hanabi"
Jika Hanabi benar-benar menyerah, Amelia tahu kalau Naruto tidak akan berhenti memperjuangkan janji mereka. Janji mereka untuk menghentikan perang dan mendapatkan restu dari semua orang. Pemuda itu tidak akan berhenti memperjuangkan masa depan yang lebih baik untuknya.
Karena itulah. . .
"Aaaaaa. . . . . ."
Karena itulah Hanabi tidak bisa mengucapkannya. Dia tidak bisa mengatakan kalau dia menyerah dengan mulutnya. Sebab jika dia mengatakannya, sama saja dengan Hanabi bilang kalau dia ingin meninggalkan Naruto berjuang sendiri.
"Aaaaaaaaaaaaa. . . . . . ."
Membuat Hanabi pada akhirnya hanya bisa menangis.
Tangisan yang terus berlanjut sampai gadis itu akhirnya kelelahan dan tertidur di pelukan Naruto.
Hanya saja, meski tangisan Hanabi sudah lama berhenti. Efeknya masih terasa sampai sore pagi datang. Semua orang bisa merasa kalau suasana di tempat itu sudah berubah jadi sedikit muram.
Bagaimana tidak?
Keputusasaan Hanabi yang terselip di dalam tangisannya sangat kuat dan sangat jelas sampai semua orang yang mendengarnya bisa ikut merasakan emosi gadi kecil itu. Dan ketika kau terpapar kepada emosi yang sekuat itu, kau tidak punya pilihan kecuali ikut merasakan hal yang sama.
Mendengar suara tangisan gadis itu membuat semua orang sekali lagi sadar. Kalau perang adalah sesuatu yang sangat-sangat-sangat buruk.
Tidak ada yang namanya kemuliaan, kebanggan, ataupun kepahlawanan di dalamnya. Yang ada hanyalah kehancuran, kekacauan, dan kesedihan. Dalam sebuah perang, yang menang hanyalah para petinggi yang tidak bertarung di dalamnya. Sedangkan semua orang yang berpartisipasi di lapangan hanya berakhir jadi korban.
Jika dilihat dari kasus ini. Mitokado mungkin adalah seorang kriminal. Tapi diapun juga adalah seorang korban perang. Bersama dengan Sabiru, para pengikut setianya dan rakyatnya. Dan tentu sja, mereka sebagai pasukan koalisi juga adalah korban perang.
Realisasi itu membuat semua orang paham, jika mereka tidak ingin jadi korban selanjutnya. Jika mereka tidak ingin keluarga mereka jadi korban, dan jika ingin kehidupan mereka ikut dipenuhi penderitaan.
Perang harus cepat diakhiri.
Sore harinya.
Sasuke, Shikamaru, dan Naruto mengadakan pertemuan rahasia. Sesuatu yang akhirnya berhasil mereka lakukan setelah menyuruh hampir semua prajurit dalam pasukannya untuk pulang.
Dengan alasan dia tidak butuh banyak orang serta pasukan besar hanya akan memprovokasi Konoha. Shikamaru memutuskan untuk hanya membawa sekelompok kecil dari pasukannya untuk mengawal Hanabi dan Hinata pulang.
Karena hal itu jugalah mereka bisa beristirahat di jalan dan meminjam rumah warga umum untuk Hinata dan Hanabi ketika mereka perlu beristirahat.
Setelah semua orang siap, akhirnya Shikamaru membuka pembicaraan dengan.
"Ada banyak topik yang ingin kubicarakan, tapi aku harus membawa topik ini dulu! Naruto, jaga jarak dengan Hanabi"
"Ahahaha. . . maafkan aku!"
Peringatan ini datang dari sesuatu yang terjadi beberapa jam yang lalu. Ketika Shikamarun dan Sasuke datang untuk menjemput Naruto dan memeriksa keadaan Hanabi yang katanya sudah bangun. Mereka menemukan kalau gadis itu masih menempel seperti koala pada Naruto.
Hal itu membuat semua orang yang melihatnya langsung sadar kalau ada hubungan spesial antara Hanabi dan Naruto.
"Kau beruntung yang melihatnya aku dan anak buahku"
Shikamaru bisa dengan mudah memerintahkan anak buahnya yang melihat hal itu untuk tutup mulut dan melupakannya. Tapi kalau yang melihatnya adalah orang lain. Tinggal menunggu waktu saja sampa ada rumor tentang hubungan Naruto dan Hanabi menyebar.
Jika sampai hal itu terjadi. Bukan hanya integrasi Naruto akan dipertanyakan dan pemuda itu dipulangkan. Seseorang juga bisa menggunakan hal itu untuk mencemarkan reputasi Hanabi. Membuat usaha Hinata untuk menang perebutan tahta akan semakin sulit.
"Aku berjanji hanya akan melakukannya di tempat sepi"
Dia sengaja tidak mengunci pintu agar tidak ada yang curiga dengannya. Naruto tidak mau ada yang berpikir kalau dia melakukan hal yang tidak-tidak pada putri tidur yang sedang dia tunggui. Tapi sepertinya keputusannya berhasil memberinya masalah yang lain.
"Bagus, aku harap tidak ada orang lain yang tahu tentang hal ini"
"Ahahahah. . . ."
"Apa-apaan tawamu itu. . .? jawab aku"
Tapi daripada menjawab. Naruto malah mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Aku bisa menjawab pertanyaan itu"
Merasa kalau Naruto tidak akan menjawab, Sasuke memutuskan angkat bicara.
"Di Aka, dia melamar Hanabi di depan banyak orang"
Hal itu membuat hubungan antara Hanabi dan Naruto menjadi sebuah rahasia umum. Kalau ada sesuatu yang bisa disebut anugerah. Hal itu adalah fakta kalau tidak ada orang yang tahu kalau Naruto adalah prajurit dari negara lain.
"Hah. . . ."
Shikamaru menghela nafas panjang.
Dan hal itu membuat Naruto merasa lega Sasuke tidak tahu kalau dia sudah membongkar rahasianya di depan salah satu petinggi Konoha. Selain itu berdasarkan obrolannya dengan Hanabi di Sukuba, sepertinya ayahnya. Dengan kata lain raja Konoha juga sudah tahu tentang hubungannya dengan putrinya itu.
"Su. . . sudahlah, sekarang ganti topik"
Naruto segera buru-buru mengalihkan arah pembicaraan.
"Bagaimana denganmu Sasuke? Apa semua terakhir kita sudah beres?"
"Tidak perlu khawatir!"
Sasuke tidak ingin mengulangi kesalahannya di masa lalu dengan meninggalkan benda ciptaannya untuk disalahgunakan orang lain. Karena itulah, dalam misi penyelamatan Hanabi. Dia juga menambahkan beberapa rencana lain di dalamnya. Dan rencana itu adalah pemusnahan kapal udara, mesin, serta senjata-senjata barunya setelah mereka berhasil menyelamatkan anak perempuan yang sudah pemuda itu anggap sebagai adiknya.
Ketika kapal udaranya pergi dan menghilang di balik bukti. Operatornya tidak sedang mencoba kabur, melainkan mencari tempat untuk menjatuhkan kapal udara mereka. Dan sebab mereka perlu bahan bakar dan hidrogen untuk melakukan penghancuran total benda besar itu. Mereka tidak bisa terbang terlalu lama setelah misi penyelamatan berakhir.
Hal itulah yang membuat semua orang harus buru-buru pada waktu itu.
Sasuke sendiri ikut turun tangan untuk memastikan semua penemuannya benar-benar hancur dan tidak bisa direkayasa ulang oleh siapapun.
"Hah. . . ."
Shikamaru kembali menghela nafas. Di satu sisi dia senang sebab dengan dihancurkannya semua benda ciptaan Sasuke, dia tidak perlu khawatir musuh mereka membuat kapal udara serta senjata baru versi mereka sendiri. Tapi di sisi lain, dia merasa kecewa sebab dia juga tidak bisa mendapatkan hal yang sama.
"Ok, ganti topik lagi"
Naruto mengalihkan pandangannya ke Shikamaru yang diikuti Sasuke.
"Aku sudah menyisir jalur perjalanan Hanabi dan seperti yang kalian duga, aku menemukan tanda sabotase"
Sama seperti dalam kasus penculikan Hinata. Shikamaru juga menemukan tanda kalau ada pengawal gadis itu yang berkhianat. Mereka menemukan beberapa mayat pengawalanya, tapi jumlah mereka tidak sesuai dengan informasi yang Naruto berikan. Ditambah di sana tidak ada tanda-tanda pertempuran dan serangan bandit, Shikamaru bisa memastikan kalau yang membunuh para penjaga itu adalah rekan mereka sendiri.
"Pertanyaannya adalah, siapa tuan mereka?"
Sasuke dan Naruto sudah membicarakan tentang hal itu dan mencoret nama Nagato dari daftar pelakunya. Kesimpulan yang Shikamaru juga setujui. Kalau pangeran pertama adalah penalaran pertama Konoha, Hanabi dan Hinata pasti sudah mati.
"Tapi tidak mungkin juga Mitokado pelakunya"
Pertama, dia bukan orang Konoha. Jadi hampir tidak mungkin dia punya koneksi yang sedalam itu sampai bisa menggerakan pengawal pribadi keluarga kerajaan. Meskipun mereka pernah bertemu dan para pengawal itu merasa simpati pada si orang tua, tidak mungkin mereka akan mau mengambil resiko yang sebesar itu hanya demi orang yang baru mereka kenal.
"Jika mereka mau melakukan pekerjaan untuk Mitokado, aku yakin kalau mereka tidak melakukannya demi orang itu tapi untuk tuan mereka yang sesungguhnya"
Tebakan Shikamaru membuat Sasuke menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Hmmm. . . . . jadi kau mau bilang kalau dalang dari semua ini adalah orang Konoha?"
Shikamaru dan Naruto menangguk lalu melihat satu sama lain. Tidak lama kemudian, Shikamaru mendongakan kepalanya memberi tanda agar Naruto meneruskan pembicaraannya.
"Aku tidak tahu siapa orang itu, tapi yang jelas pertama! Dia punya pengaruh yang sangat besar"
Sebagai seorang pengawal keluarga kerajaan, tentu saja mereka tidak bisa dipilih sembarangan. Selain kemampuan, mereka juga harus punya koneksi dan keturunan yang tepat untuk diberi izin bisa jadi orang yang terdekat dengan anggota keluarga kerajaan. Jika kau bisa memberi perintah pada orang-orang itu, orang yang bersangkutan juga harus punya kekuasaan atau pemilik loyalitas yang sangat kuat atas mereka.
Dan untuk mempunyai hal itu kau pertama harus jadi orang Konoha.
"Kedua, dia pasti orang yang sangat kaya"
Homura adalah sebuah negara kota yang kecil. Kegiatan ekonominya sama sekali tidak bisa dibilang berkembang. Selain itu, setelah dikuasai oleh Konoha. Bukan hanya ekonominya tidak berkembang malah keadaan ekonominya jadi mundur mengingat mereka hanya jadi bahan eksploitasi.
Jadi ketika Naruto menemukan kalau mereka bisa memberikan prajurit mereka persenjataan yang tidak terlalu buruk dan juga mampu menyewa prajurit bayaran. Pemuda itu langsung merasa ada yang aneh. Meski Mitokado menggunakan semua harta simpanannya termasuk yang dia dapatkan dari tindakan ilegal, dia tidak akan bisa memelihara pasukannya dalam waktu lama. Mereka perlu makan, tempat tinggal, dan akomodasi lainnya.
Dari mana dia mendapatkan uang untuk membayar semua biaya itu?
Jawabannya adalah seseorang mensponsorinya dari belakang.
"Lalu yang ketiga, siapapun sponsor ini! Dia sama sekali tidak ingin perang segera berakhir"
Naruto menunjukan tiga jarinya.
"Maksudmu?
Tanya Sasuke.
"Aku yakin kalau kalian sadar hal yang seperti ini tidak hanya terjadi di Homura"
Sebab Naruto dan Shikamaru sudah melihatnya sendiri. Kalau sesuatu yang mirip sudah terjadi berkali-kali. Kejadian dimana bandit, pasukan pemberontak, atau negara tidak yang miskin tiba-tiba memiliki dana untuk meluncurkan sebuah serangan besar-besaran.
Hal itu terjadi ketika Naruto dan Hanabi pertama datang ke garis depan dan malah diserang balik oleh pasukan pemberontak.
Hal itu terjadi lagi ketika benteng di mana mereka mengungsi kembali diserang oleh pasukan pemberontak lain.
Kemudian hal yang sama kembali terjadi ketika Naruto sedang melakukan tugasnya sebagai pengawal pasukan supply.
Terlalu optimis kalau kau menganggap semua itu hanya sekedar kebetulan. Dan terlalu optimis kalau kau menganggap semua hal itu tidak ada hubungannya dengan satu sama lain. Kesimpulan paling normal ada bos besar yang jadi biang keladi dari semua yang terjadi.
"Hmm..."
Sasuke kembali berpikir keras. Sebagai satu-satunya orang Konoha yang hadir di dalam itu dia punya pengetahuan yang lebih dalam tentang negara itu dibandingkan dengan dua pemuda di depannya. Dan sebagai seorang mantan bangsawan, dia punya pengetahuan tentang lingkaran pemerintahan Konoha lebih jauh dari keduanya.
"Kalau kuingat-ingat, pengawal utama Hinata adalah Baji"
Dia bukan bagian dari empat keluarga utama yang membangun Konoha dari nol sebab teritorinya baru masuk lima puluh tahun yang lalu. Tapi dalam masalah harta, orang itu tidak kalah kayanya dari Genno. Dan masalah ketahanan pangan, dia juga tidak punya tandingan. Membuatnya hampir punya monopoli terhadap ketersediaan bahan pangan di Konoha.
Dan seperti semua monopoli, hal itu memberinya akses terhadap keuntungan perdagangan dan juga pengaruh politik yang tidak ada batasnya.
Lalu, sebab orang itu punya reputasi sebagai pemimpin yang baik. Orang-orang di bawahnya terkenal punya loyalitas yang sangat tinggi. Saking besarnya loyalitas mereka, jika orang itu menyuruh mereka untuk melompat dari tebing. Anak buahnya hanya akan bertanya tebing mana yang harus mereka datangi.
"Gubernur dari teritori terbesar di Konoha, Janto dari Tanzaku dan juga ayah dari Baji"
Pertemuan itu berakhir dengan semua orang setuju kalau Jant adalah tersangka utama dari semua masalah yang mereka alami.
Sasuke akan memeriksa latar belakang dari semua pengawal yang berkhianat, Shikamaru siap mengerahkan anak buahnya dan teman-temannya dari pasukan cadangan untuk memeriksa perjalanan logistik musuh mereka. Dan Naruto akan memprioritaskan mencari informasi di dalam medan perang.
Dengan rencana masa depan mereka sudah jelas. Perjalanan merekapun kembali dimulai. Lalu, dalam dua minggu mereka semua sampai di Aka.
Setelah hampir setengah tahun jauh dari rumah.
Akhirnya Hanabi pulang ke rumahnya.
Bisa dibilang chapter ini adalah turning point. Next, timeskip.
