Chapter sebelumnya adalah turning point. Chapter ini adalah awal dari arck baru.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
1
Begitu Hinata dan Hanabi kembali dari Homura dan semua orang mendengar kabar tentang penculikan yang menimpa keduanya. Tidak berlebihan jika dibilang kalau seluruh Konoha terguncang secara politik. Kejadian itu membuat semua orang sadar akan loophole dari perjanjian perdamaian di antara Konoha dan pasukan koalisi.
Karena itulah, Konoha bertindak cepat dengan langsung mengumumkan eksekusi Mitokado Homura dan seluruh keluarganya sebagai peringatan terhadap koloni-koloni mereka. Peringatan jika kalau mereka berani berkhianat, hukuman akan langsung datang tanpa peringatan.
Seluruh keluarga langsung Mitokado Homura akan dieksekusi sesuai dengan hukum Konoha. Dan ketika seseorang bilang "semua", dia sama sekali tidak bercanda. Orang tuanya, istrinya, orang tua istrinya, anaknya, cucunya, saudaranya, dan anak-anak saudaranya semuanya dipenggal tanpa pengadilan.
Shikamaru melemparkan protes lewat pasukan koalisi dengan alasan kalau mereka masih ingin mencari informasi tentang siapa backer mereka. Lalu Hanabi serta Hinata juga mencoba memberikan komplain kalau hukuman yang keluarga Homura terlalu berlebihan. Tapi meski begitu, perintah eksekusi itu tetap dijalankan dengan cepat, tegas, dan tanpa kompromi.
Suara mereka tenggelam dihantam oleh ombak yang dibawa perintah Yahiko, dan dukungan dari mayoritas bangsawan Konoha. Bahkan ayah Hanabi yang biasanya mendukungnya kali ini diam begitu saja.
Hal yang bisa dipahami mengingat dari pandangannya. Membiarkan keluarga Homura tetap hidup hanyalah cara menanamkan bibit masalah untuk berbunga di masa depan. Karena itulah, mereka perlu mengeksekusi seluruh keluarga Homura tanpa sisa.
Entah itu yang sudah tua, yang masih muda, laki-laki, perempuan bahkan anak kecilpun tidak ada yang boleh dibiarkan hidup. Dia tidak bisa membiarkan siapapun yang bisa menyimpan dendam untuk lolos.
Sebagai seorang anggota keluarga kerajaan, Hiashi sudah berkali-kali melihat rasa kasihan berbalik jadi pisau yang menusuk seseorang dari belakang. Dia sendiri sudah terlalu sering merasakan efek dari dendam yang menggerogoti seseorang.
Sebab sampai saat inipun. Racun masih sering menemukan cara untuk bersarang pada makanannya.
Dengan satu perintah itu. Keluarga Homurapun dihapus dari dunia.
Secara umum, Hanabi paham semua argumen yang dia dengar. Tapi entah itu logika ataupun perasaannya, tidak ada satupun yang setuju dengan hukuman kejam yang dunia ini anggap normal itu.
Hanabi tahu kalau perang yang keluarganya mulai sudah menimbulkan banyak kerusakan dan menjatuhkan banyak korban. Tapi secara langsung bertanggung jawab atas kematian. . . . bukan hanya satu atau dua orang. Tapi puluhan orang adalah pengalaman yang berbeda jauh.
Hanabi mungkin tidak kenal dengan orang-orang itu ataupun melihat prosesi eksekusi mereka secara langsung. Tapi mendengar kabar kalau bahkan anak kecilpun tidak lolos dari hukuman massal itu langsung membuat keadaan mental Hanabi runtuh. Dia tidak lagi kuat untuk menahan semua perasaan sedih, bersalah, penyesalan dan yang paling utama. Rasa takutnya, untuk tidak meluap.
Hanabi tidak bisa berhenti membayangkan kalau dia yang ada di posisi para anak kecil itu.
Bayangkan, kau adalah seorang anak kecil yang sedang asik bermain. Kemudian tiba-tiba seseorang yang tidak kau kenal menarikmu ke tempat di mana seluruh keluargamu berkumpul dengan kepala semua orang sudah berada di alat penggal.
Melihat mereka semua merasa ketakutan, kau berakhir ikut merasa sangat takut. Tapi ketika kau ingin lari, orang dibelakangmu mendorongmu dan meletakan lehermu di alat penggal yang sudah disiapkan untukmu. Layaknya binatang yang akan disembelih, orang itu menjagalmu untuk memastikan kau tidak bisa kabur.
Kau merasa takut, merasa sedih, dan kau menangis. Tapi tidak satupun orang yang melihat ke arahmu mau memperdulikan permintaan tolongmu.
Kau terus menangis dan menangis, melihat satu-persatu kepala keluargamu menggelinding ke tanah yang berlimang darah. Hal itu membuatmu menangis semakin keras dengan air mata yang semakin banyak sampai akhirnya.
Kau tidak bisa menangis lagi.
Sebab kali ini, kepalamulah yang menggelinding di tanah.
"Aaaaaaaaaaa. . . . ."
Hanabi bangun dari tidurnya dengan nafas tersengal dan keringat dingin yang mengucur dari tubuhnya.
"Tuan Putri, aku masuk"
"Masuk saja Miina"
"Terima kasih"
Dengan sigapnya, Miina langsung masuk ke dalam kamar tuannya dan melepaskan pakaian basah Hanabi sebelum membasuh tubuh gadis itu dengan kain basah hangat.
"Mimpi buruk Tuan Putri?"
"Ya, aku tidak tahu kenapa belakangan ini aku sering mendapat mimpi buruk lagi"
"Kukira trauma Tuan Putri sudah sembuh"
"Aku tidak yakin kalau aku akan bisa sembuh"
"Padahal sudah dua tahun sejak kejadian itu"
"Kau salah Miina, kejadian itu baru dua tahun yang lalu"
Ya, dua tahun sudah berlalu sejak Hanabi mendapatkan kabar eksekusi keluarga Homura. Kabar yang memberinya mimpi buruk selama beberapa minggu berturut-turut. Dan seperti yang dia bilang sendiri, sampai saat inipun kadang mimpi buruk itu masih suka datang.
Hanya saja, mimpi buruknya kali ini agak terasa lain.
Sejujurnya, kalau bukan karena bantuan orang-orang di sekitarnya. Keadaan mental Hanabi mungkin tidak akan pulih dan gadis itu sudah jadi setengah gila. Mentalnya sama sekali tidak siap untuk menanggung beban semacam itu.
Selain itu, mengingat kalau dia adalah bagian dari keluarga kerajaan. Rasa takut yang dia dapatkan dari mimpi-mimpi buruk itu sudah lebih dari cukup untuk membuat terror yang menginjaknya tidak mau pergi dari pikirannya.
Jika Konoha kalah dalam perang. Bukan tidak mungkin kalau nasib yang sama akan menimpanya, menimpa ayahnya, menimpa Ibunya dan semua saudaranya. Sebab di dunia ini, mereka adalah bagian dari keluarga jahat dari negara jahat yang semua orang benci.
Secara literal, ada jutaan orang yang punya dendam kesumat pada mereka.
"Tuan putri, jangan khawatir"
Setelah selesai membersihkan bagian atas tubuh Hanabi, Miina berpindah tempat ke depan nona mudanya. Kemudian, dia menggenggam erat kedua tangan Hanabi dan menatap gadis yang sedikit lebih tua di depannya itu langsung ke matanya sebelum akhirnya tersenyum dan bilang. . .
"Tinggal sedikit lagi Tuan Putri"
Mendengar hal itu, Hanabi membelalakan matanya.
"Kau benar"
Sejak hari itu, keinginan Hanabi untuk menghentikan perang jadi semakin solid. Dia tidak ingin lagi ada yang mati sia-sia, dia tidak ingin lagi jadi penyebab orang lain mati sia-sia. Dan yang paling penting, dia tidak ingin dirinya sendiri dan juga orang-orang yang dicintainya ikut mati sia-sia.
Oleh sebab itulah dia, Naruto, dan Sasuke berusaha berusaha semakin keras untuk mengembalikan perdamaian di Konoha dengan bantuan semua orang. Dan setelah dua setengah tahun berlalu, akhirnya usaha mereka mulai membuahkan hasil.
Seperti yang Miina katakan. Tinggal sedikit lagi dan dia akan punya cukup kekuatan untuk mempengaruhi kebijakan luar negeri Konoha secara masif.
"Terima kasih Miina, kau benar-benar pintar menghibur seseorang"
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya"
Kali ini giliran Hanabi yang tersenyum. Dan karena reflex, dia mencoba mengangkat tangannya untuk membelai kepala gadis kecil di depannya.
Tapi dia tidak berhasil melakukannya.
Dan kegagalan usahanya itu membuatnya sadar kalau gadis di depannya sudah bukan anak kecil lagi. Miina yang dulu sudah berubah jadi gadis manis yang bisa membuat laki-laki berpaling untuk melihatnya lagi dan lagi.
Wajahnya masih kelihatan polos, tapi kecantikannya sebagai seorang perempuan sudah mulai terlihat. Tubuhnya masih kecil, tapi tubuhnya juga sudah mulai menunjukan lekukan-lekukan indah. Pertumbuhannya bahkan lebih baik daripada Hanabi pada umur yang sama di masa lalu.
Penampilan Miina saat ini bisa dibandingkan dengan bunga yang akan merekah.
"Kau beruntung aku bukan laki-laki Miina"
"Kenapa?"
Miina memasang wajah bingung.
"Sebab kalau aku laki-laki"
Kali ini Hanabi menarik tubuh Miina padanya. Lalu dengan suara lirih, Hanabi bilang. . .
"Aku sudah mendorongmu ke ranjang"
Tepat di telinga gadis kecil di depannya.
Tidak butuh waktu lama untuk Miina memahami apa yang Hanabi maksud. Dan tidak butuh waktu lama juga untuk wajah Miina menjadi memerah.
Sebagai gadis muda yang ada dalam masa pubertasnya. Tentu saja Miina merasa penasaran dengan hal-hal yang berbau sex. Dan mendengar topik semacam itu dari gadis yang sudah jadi teman sekaligus bosnya itu membuatnya merasa sangat malu.
". . . . ."
"Eheheh. . . wajah itu! Kau baru membayangkan seseorang ya!"
"Ti. . . tidak!"
Tapi hal yang membuatnya paling malu adalah kenyataan kalau. Seperti yang Hanabi katakan, dia memang membayangkan wajah seseorang di dalam skenario itu. Skenario di mana tubuhnya didorong ke ranjang dan dia sama sekali tidak mencoba melawan.
"Siapa yang kau bayangkan?"
"Aku tidak membayangkan siapa-siapa!"
"Ok, baiklah kalau kau tidak mau memberi tahu. . ."
Dalam masalah umur mental, Hanabi jauh lebih dewasa dari Miina yang sekarang baru dua belas tahun. Karena itulah, dia paham bagaimana perasaan Miina sekarang. Dia sudah pernah ada dalam masa itu, dua kali malah. Jadi sebagai sosok yang lebih dewasa, logika Hanabi menyuruhnya untuk membuat Miina lebih malu.
Tapi. . .
"Bagaimana kalau aku menebak sendiri orangnya. . ."
"Tuan putri. . . ."
Tapi moodnya sekarang menyuruhnya untuk menjadi remaja yang ingin menggoda temannya. Saat ini, dia bukan sosok kakak ataupun Tuan Putri. Melainkan hanya seorang gadis biasa.
"Orang itu adalah Sas. . ."
"Aaaaaaaa!..."
Dengan panik, Miina menarik tangannya lalu membungkam mulut Hanabi. Tapi karena dia mendorong dengan kuat, dia berakhir mendorong gadis di depannya sampai jatuh ke kasur di belakangnya.
"Kalau Tuan Putri melanjutkannya, aku akan benar-benar marah"
"Ahahah. . . maaf, maaf, aku tidak akan mengatakannya"
Menebak siapa orang yang wajahnya muncul di dalam bayangan mesum Miina tidaklah sulit. Tidak banyak laki-laki yang cukup dekat dengannya sampai bisa jadi bahan imajinasi gadis itu. Hanabi tahu, Ibunya tahu, semua orang tahu. Mungkin, yang tidak tahu kalau semua orang tahu hanyalah Miina sendiri dan pemuda yang dia akan sebut namanya tadi.
"Tapi aku tidak menyangka kalau kau semesum ini"
"Tuan putriiii!..."
Kalau Hanabi terus menggoda Hanabi bisa jadi gadis itu akan menangis. Karena itulah dia memutuskan kalau kali ini dia akan benar-benar berhenti. Lalu, tepat saat Hanabi mengangkat tangan tanda menyerah. Tiba-tiba pintu kamarnya kembali terbuka, dan dari dari baliknya terdengar suara helaan nafas panjang yang diikuti oleh. . .
"Jadi, apa yang sedang kalian lakukan gadis-gadis mesum?"
Miina langsung berhenti bergelut dan memeriksa posisi mereka. Hanabi sedang terlentang di kasur tanpa pakaian bagian atasnya, sedangkan Miina sedang menindih Tuan Putrinya sambil memasang wajah malu yang membara.
Dilihat dari manapun, mereka sedang ada dalam posisi yang bisa memancing skandal.
"Ahahaha. . ."
"Maafkan aku"
Hanabi hanya tertawa sedangkan Miina langsung berdiri dan meminta maaf pada orang tua nona mudanya. Sebab yang datang adalah Ibu Hanabi, tidak ada kesempatan untuk kejadian tadi menjadi skandal. Tapi kedua masih merasa malu, terutama Miina yang merasa ketahuan sedang bermain-main di jam kerjanya.
"Aku buru-buru ke sini setelah mendengar pelayan bilang kalau Hanabi mengigau keras tapi yang kutemukan malah ini"
Sekali lagi, Ibu Hanabi menghela nafas. Tapi kali ini, helaan nafasnya itu adalah helaan nafas lega.
Sama seperti Miina, Kanna juga mengetahui kalau putrinya sedang diranda mimpi buruk dari pelayan yang melewati kamarnya dan mendengar gadis itu mengigau dan merintih ketakutan. Untungnya, begitu dia sampai Hanabi sudah kelihatan cerita. Tidak diragukan karena Miina berhasil menghibur putrinya.
"Terima kasih Miina"
"Aku tidak melakukan apa-apa Yang Mulia"
"Di saat seperti ini, kau harusnya bilang sama-sama"
"A. . .. Sama-sama Yang Mulia"
Kanna tersenyum lalu menutup pintu di belakangnya kemudi mendekati kedua gadis muda di depannya.
"Biar kubantu"
"Mama. . ."
"Hari ini kau akan pergi lagi kan? Biarkan aku membantumu"
Dengan begitu, Miina dan Kanna bersama membersihkan tubuh Hanabi, memilihkan pakaiannya, menata rambutnya dan memberinya make up.
Hanabi sendiri merasa kalau penampilannya terlalu berlebihan sebab rencananya hanya terdiri dari mengunjungi budak-budaknya dan melakukan pemeriksaan rutin untuk pabrik-pabrik di teritorinya. Dia tidak akan berangkat sampai malam harinya. Tapi paham kalau Ibunya ingin mencari waktu untuk bersamanya sebelum dia kembali pergi jauh, Hanabi pasrah saja jadi boneka Ibunya.
Setengah jam kemudian. Hanabi sudah berpenampilan layaknya Tuan Putri yang sedang menunggu pangeran berkuda putih untuk membawanya ke istana. Meski sekali lagi, dia hanya ingin berkeliling di teritorinya.
"Sudah kuduga, anak gadisku memang cantik"
Kanna memeluk anak gadisnya dengan gemas. Tapi berhubung anak gadisnya itu sudah cukup besar. Mereka berakhir terlihat bukan seperti Ibu dan anak melainkan saudara yang umurnya sedikit jauh.
Miina yang melihat hal itu tersenyum, tidak sadar kalau kedua anak dan Ibu itu sekarang mengalihkan perhatian mereka pada dirinya.
"Sekarang giliranmu Miina"
"Ha?"
"Sesekali kau juga perlu berdandan Miina, kau tidak mau Sasuke direbut orang lain kan?"
"Haaa?. . . Ke-ke-kenapa tiba-tiba Yang Mulia membahas Sasuke?"
Kanna melihat ke arah anaknya dengan tatapan "apa dia serius" yang hanya bisa dijawab dengan anggukan oleh Hanabi. Setelah beberapa saat menatap dalam diam, mereka kembali mengangguk lalu. .
"Hanabi, pegang dia!"
"Maafkan aku Miina"
Dengan sigap, Hanabi menangkap pelayan pribadi kecilnya dari belakang. Lalu sebab Hanabi adalah pemegang kekuatan spesial. Dia memiliki kekuatan fisik yang setara dengan pria dewasa pada umumnya. Membuat Miina pada akhirnya tidak bisa melawan dan hanya pasrah menjadi boneka Kanna yang kedua.
"Dengarkan aku Miina, kau memang cantik! Tapi kau tidak bisa hanya membiarkannya begitu saja"
Kecantikan adalah anugerah, tapi anugerah itu akan jadi hal percuma kalau kau tidak merawatnya. Kau harus mengasah dan memolesnya. Sebab kalau tidak, cuma masalah waktu saja kau akan kehilangan anugerah itu.
"Di sekitar Sasuke ada banyak gadis cantik lain, dan mereka semua berusaha keras untuk menarik perhatian anak itu! Kau tidak boleh kalah dari mereka"
Kalau ada dua gadis yang sama-sama cantiknya, tentu saja seseorang yang berusaha untuk membuat penampilannya lebih menonjollah yang akan lebih menarik perhatian. Dan jika seseorang sudah berhasil menarik perhatian dari orang yang mereka suka, dia sudah satu langkah di depan semua pesaingnya.
Pada saat itu, yang dia perlu lakukan selanjutnya hanyalah menjaga jaraknya dan mempertahankan kemenangannya dengan terus mengalihkan pandangan targetnya pada dirinya sendiri.
"Selain itu, kalau kau tidak berubah! Dia akan terus menganggapmu sebagai anak kecil"
Sambung Hanabi.
Sebagai teman masa kecil Sasuke yang sudah tahu banyak tentang pemuda itu sampai bahkan ke rahasia-rahasia besarnya. Hanabi paham kalau Miina tidak agresif, Sasuke tidak akan berhenti melihat temannya itu tidak lebih dari anak perempuan kecil yang dia ingin selalu manjakan.
"Tapi umur kami . . ."
"Jangan kalah sebelum bertempur Miina! Umurku dan Naruto juga beda jauh"
"Aku dan Hiashi lebih jauh lagi, dan kami tidak ragu untuk menikah"
Hanabi dan Naruto punya jarak umur enam tahun. Lalu Kanna dan suaminya sendiri punya jarak umur tujuh tahun. Dunia ini bukanlah dunia lama Hanabi, di sini tidak ada stigma buruk tentang hubungan antara dua pasangan yang jarak umurnya lumayan jauh. Malah sebaliknya, di dalam era di mana harapan hidup seseorang hanya tiga puluh sampai empat puluh tahun. Menikah muda adalah hal yang normal, bukan pengecualian.
Sebab Kanna dan Hanabi tidak bekerja fisik di ladang dan harus menguras tenaga setiap harinya serta akses mereka terhadap alat kebersihan dan juga obat-obatan. Mereke mungkin bisa hidup lebih lama dari rata-rata penduduk dunia ini. Tapi secara umum, begitu kau sudah mencapai umur lima belas atau dua puluh. Kau sudah menghabiskan setengah jatah umurmu.
"Me-me-me-menikah?. . . .."
Miina ingin menutup wajahnya, tapi sebab badan sekaligus lengannya dipeluk erat dari belakang oleh Hanabi. Dia tidak bisa melakukannya. Membuatnya hanya bisa menggeliat layaknya ulat.
"Mama. . . kejauhan! Jangan bicara kejauhan dulu!"
"Ahahahaha. . . ."
Kanna mulai melucuti seragam Miina satu persatu. Membersihkan badan gadis yang sedang merasa malu itu secara menyeluruh sambil menggosok-gosokan berbagai cairan hasil resep keluarga kerajaan ke kulit muda mulus anak perempuan di depannya itu. Setelah itu, Hanabi mencari pakaian lamanya yang masih kelihatan muat untuk Miina kenakan.
Badan Miina sedikit lebih tinggi dan berisi daripada Hanabi di umurnya yang sama dulu. Jadi pakaiannya tidak ada yang benar-benar pas. Tapi hal itu bukanlah masalah besar, malah sebaliknya. Hal itu membuat figur feminim Miina jadi lebih menonjol.
Kontur dadanya yang mulai tumbuh kelihatan indah. Lekukan di pinggul yang menyambung sampai pahanya kelihatan menggoda. Perut ratanya kelihatan sexy. Entah dipandang dari depan, belakang, kanan ataupun kiri penampilan Miina kelihatan menarik.
Terutama jika kau adalah laki-laki.
Semua bagian dari penampilannya berteriak "gadis muda". Bukannya anak perempuan kecil.
"Lalu yang terakhir adalah ini"
Kanna menata rambut Miina dan menghiasinya dengan aksesoris berbentuk bunga.
"Kau benar-benar manis Miina"
Miina berbalik dan menghadap ke cermin lalu memutar tubuhnya beberapa kali seakan mencoba memastikan kalau gadis yang ada di dalam cermin adalah bayangan dirinya. Setelah puas melihat penampilannya lagi dan lagi, dia tersenyum lalu bilang. . .
"Terima kasih"
Pada Kanna dan Hanabi.
2
"Mulai hari ini, kalian adalah orang bebas"
Sepuluh tahun sudah berlalu sejak Hanabi membeli budak-budaknya. Banyak dari mereka yang sudah memiliki cukup harta untuk membeli kebebasannya. Tapi sampai saat ini, hanya beberapa yang memutuskan untuk melakukan hal itu. Membebaskan diri dari ikatan perbudakan.
Karena itulah hari ini, tepat sepuluh tahun setelah dia membawa mereka ke teritorinya. Hanabi akhirnya memutuskan untuk menuntaskan beban yang selama ini dia anggap sebagai hutang. Memberikan budaknya kebebasan.
"Aku mohon pertimbangkan keputusan Tuan Putri"
"Salah Hachidai! kau yang harusnya mempertimbangkan permintaanmu!"
Normalnya, seorang budak yang diberi janji sebuah kebebasan akan merasa senang. Tapi ekspresi yang ditunjukkan Hachidai dan banyak budaknya yang lain malah kebingungan, kekhawatiran dan juga ketakutan.
"Hachidai! kalian semua juga! berhenti hanya memikirkan dirimu sendiri!"
Di Konoha. Seorang budak tidak memiliki hak asasi manusia. Kehidupan damai mereka sebagai budak adalah pengecualian, bukannya hal yang umum. Di luar sana tidak banyak orang yang bisa dan mau memperlakukan budaknya seperti Hanabi.
"Apa kau mau anakmu tumbuh jadi seorang budak!"
Status budak bukanlah sesuatu yang kau sandang sendiri. Jika kau punya anak, maka anakmu secara otomatis juga adalah seorang budak.
Budak-budaknya mungkin banyak yang sudah merasa aman dan nyaman berada di bawah naungannya. Saking nyamannya mereka lupa kalau semua hal itu bisa mereka dapatkan hanya karena mereka itu beruntung. Mereka tidak mau pergi dari bawah payung Tuan Putri yang sekarang berumur lima belas tahun itu.
"Bagaimana kalau tiba-tiba aku mati?"
Sudah hampir tiga tahun sejak Hanabi kembali ke Konoha. Dan selama itu pula sudah berkali-kali dia merasa kalau nyawanya ada dalam bahaya. Mulai dari hampir dibunuh pembunuh bayaran, diserang oleh prajurit Gatsu, diancam oleh kakaknya sendiri dan diculik oleh pemberontak. Dia sudah berkali-kali merasa melihat perjalanan kehidupannya berkedip di depan matanya.
Ditambah lagi sekarang keadaan ayahnya sudah semakin buruk. Bisa dijamin kalau bahaya yang dihadapinya akan jadi lebih banyak. Meski dia sendiri sudah mundur dari perebutan tahta, dia adalah supporter penting dari kakak perempuan pertamanya Hinata yang ingin jadi ratu. Bisa dijamin kalau orang yang ingin dia hilang dari muka bumi akan bertambah semakin bertambah.
"Dan jika aku tidak ada, jangan berharap kalau Sasuke atau Ibuku akan mengurus kalian!"
Jika sampai Sasuke kehilangan Hanabi, Pemuda itu tidak akan punya waktu untuk mengurus nasib siapapun. Sebab dia akan sibuk menyusun rencana untuk balas dendam dan menghancurkan siapapun yang bertanggung jawab.
Dan Ibunya? dia akan terlalu sedih bahkan untuk mengurus teritori dan rakyatnya.
"Bayangkan kalau kalian berakhir jadi budak orang yang jahat? Sudah saatnya kalian berhenti bergantung padaku! Berhenti menggantungkan nasib kalian pada orang lain!"
Jika kau beruntung mungkin saja kau bisa dapat tuan yang sama baiknya dengan Hanabi. Tapi seperti yang sudah disebutkan tadi, mereka mendapatkan tuan sebaik Hanabi adalah keajaiban. Dan keajaiban sudah terkenal tidak suka datang dua kali.
"Tuan putri. . . maafkan aku"
Hachidai menundukan kepalanya lalu minta maaf.
Dia merasa malu.
"Sudah saatnya aku membalas kebaikan Tuan Putri"
"Ha?. . . ."
Dia sudah terlalu banyak menerima bantuan dari Hanabi. Yang menyelamatkannya dari hukuman setara hukuman mati adalah dia, yang memberitnya tempat untuk pulang adalah dia, yang memberinya pekerjaan, kehidupan yang nyaman, dan masa depan. Semuanya adalah gadis muda di depannya. Bagaimana setelah semua itu dia masih berani bertingkah manja dan minta terus dikasihani?
Sudah saatnya dia membalas balik semua perbuatan baik Tuan Putrinya.
"Saudara-saudaraku!"
Hachidai berdiri tegak lalu menghadap rekan-rekan sesama budaknya.
"Sudah saatnya kita berhenti meminta belas kasihan Tuan Putri! sudah saatnya kita berhenti merepotkan penyelamat kita! sudah saatnya Kita berhenti menganggap bantuannya adalah sesuatu yang normal! Sudah saatnya kita membalas budi!"
Awalnya kata-kata Hachidai agak susah dicerna oleh rekan-rekannya. Tapi semakin mereka mendengarnya, semakin mereka sadar dengan apa yang coba pria paruh baya itu katakan. Dan mereka setuju dengan apa yang pria itu katakan.
Sudah saatnya mereka berhenti jadi beban untuk Hanabi.
Mereka melihat ke arah satu sama lain yang kemudian diikuti anggukan-anggukan kepahaman.
"Terima kasih Tuan Putri! kami akan mendedikasikan kebebasan yang kau berikan untukmu!"
"Tunggu dulu! sepertinya ada yang salah di sini!"
Hanabi memberikan budak-budaknya kebebasan adalah supaya mereka bisa menggunakannya untuk dirinya sendiri. Untuk melakukan apa yang mereka mau, untuk mengejar mimpi mereka. Tapi kenapa ujung-ujungnya mereka malah balik melemparkan kehidupannya demi dirinya lagi?
"Tenang saja Tuan Putri, kesetiaan kami masih hanya untukmu!"
"Hachidai, kau tidak sengaja mengompori semua orang kan?"
"Aku tidak paham apa yang Tuan Putri maksud"
Hanabi menatap Hachidai dengan tajam. Tapi pria itu hanya tersenyum.
"Hahh . . . sudahlah, pastikan saja kalau ada yang ingin pergi kau tidak menghalanginya"
"Tentu saja"
Sekali lagi, Hanabi melihat budaknya satu-persatu. Setelah itu di bilang.
"Kalian bisa mengurus lanjutannya dengan Miina, sekarang bubar"
Degan begitupun, semua budaknya bubar. Lalu Miina yang sedari tadi menjaga jarak langsung mendekati Hanabi.
"Kerja bagus Tuan Putri"
Mereka berdua berjalan bersama seakan tidak ada perbedaan strata sosial di antara keduanya. Bahkan sebab sekarang Miina berpenampilan layaknya anak dari bangsawan kaya, orang yang tidak tahu tidak akan mengira kalau mereka adalah sepasang tuan dan budaknya.
Setidaknya sampai beberapa menit yang lalu. Sebab saat ini, Miina sudah bukan lagi budak siapapun. Saat ini, dia secara resmi sudah jadi rekan kerja Hanabi dan juga teman dekatnya.
"Aku tidak yakin. ."
Dia ingin agar budak-budaknya bebas, tapi pada akhirnya mereka tetap akan mengikutinya. Jadi apa hal itu bisa disebut kerja bagus?
"Tuan putri sudah memberikan kebebasan, dan mereka sudah memilih jalannya! kurasa tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi"
Malah kalau semua orang yang dibebaskan Hanabi benar-benar memilih pergi. Maka mereka sendirilah yang akan repot. Sebagai orang-orang yang sudah bersama Hanabi dan Sasuke dari awal. Mereka melihat langsung bagaimana teritori mereka tumbuh dari desa kecil yang tidak memiliki apa-apa menjadi kota yang sudah jadi pusat industri area di sekitarnya.
Dengan kata lain, mereka tahu hampir semua hal tentang tertitori dan segala rahasia-rahasianya. Rahasia yang bisa dibawa pergi lalu dijual ke musuh atau saingan mereka. Menurut Miina, hasil keputusan semua orang adalah hal yang bagus. Untuk mereka dan teritori secara keseluruhan.
Dia harus berterima kasih ada pamannya nanti.
"Daripada itu, akan lebih baik kalau Tuan Putri beristirahat! kau harus melakukan kunjungan ke pabrik nanti siang dan bersiap untuk melakukan perjalanan nanti malam"
"Baiklah, terima kasih"
"Tuan putri juga sudah tidak perlu pura-pura baik-baik saja, di sini hanya ada kau dan aku"
Hanabi melihat ke kanan dan kirinya, kemudian. Setelah memastikan tidak ada orang lain. Dia memegang perut bagian bawahnya lalu. . .
"Ugh. . . ."
Mengerang dengan suara kasihan.
"Mari kuantar ke kemar"
"Terima kasih"
Dengan pelan, Miina mengantar Hanabi ke kamarnya. Dan begitu Tuan Putrinya sudah di dalam, gadis kecil itu langsung menyiapkan obat untuk nona mudanya minum. Semua hal itu dia lakukan dengan cekatan dan efisien.
Hal itu sudah jadi tugasnya selama hampir tiga tahun. Malah aneh kalau dia tidak bisa menyiapkan semua itu dengan cepat.
"Ahhh. . . . Aku benar-benar bersyukur memilikimu sebagai asisten Miina"
"Tuan putri berlebihan"
"Sama sekali tidak, kalau kau tidak aku sudah tidak tahu jadi apa"
Populasi umum Aka sudah bertambah banyak, Tapi dalam urusan pemerintahan, banyak hal masih bergantung pada Hanabi, Sasuke, dan Ibunya. Dengan kata lain, dalam masalah personil eksekutif. Mereka masih kekurangan orang.
Sebagian besar penduduk Aka tidak punya pendidikan yang cukup. Dan meski mereka punya banyak orang pintarpun. Ada banyak hal yang tidak bisa diserahkan pada orang luar karena sifatnya yang rahasia. Oleh sebab itulah kehadiran Miina yang bisa punya banyak skill sangat berharga bukan cuma untuk Hanabi. Tapi untuk teritorinya.
"Hanya kau yang bisa kuandalkan"
Meskipun, hal yang saat ini Hanabi maksud tidak ada hubungannya dengan tugas Miina sebagai asistennya.
Dia hanya bersyukur karena Miina adalah anak perempuan yang seumuran dengannya.
Kenapa?
Karena hanya Miina yang bisa dia ajak bicara tentang rasa sakit haidnya. Ya, Hanabi tidak sedang terkena penyakit mematikan ataupun terluka karena luka fisik dari seseorang. Dia sedang merasakan apa yang biasa kau sebut sakit haid.
Sejak sarapan tadi pagi, Miina melihat nona mudanya sering memegangi perut bagian bawahnya sambil memasang wajah tidak nyaman. Hal itu membuatnya sadar kalau "saat itu" sudah datang pada Hanabi.
"Nona Hanabi . . . apa aku boleh tanya sesuatu?"
Dengan ragu, Miina bertanya menggunakan suara kecil.
"Apa . . . apa aku juga akan sakit seperti nona Hanabi nanti?"
Belum lama sejak Miina menginjak usia ke dua belas tahun. Pada umurnya, haid bisa datang secara literal kapan saja. Malah bisa dibilang ajaib sampai saat ini dia mendapat gilirannya, melihat pertumbuhan fisiknya. Dan setelah melihat Hanabi yang setiap bulannya merasa kesakitan akibat hal itu. Miina tiba-tiba jadi merasa takut.
"Jangan khawatir, normalnya rasa sakit yang kau rasakan tidak separah ini"
Hanabi yakin kalau rasa sakit yang dialaminya adalah pengecualian, bukan hal yang normal. Ibunya sendiri tidak punya masalah sepertinya. Hanya sebagian kecil wanita yang punya rasa sakit berlebihan setiap bulannya.
Hanya saja, dalam kasus Hanabi. Dia punya hipotesis lain.
Dari dulu Hanabi sudah merasa kalau dia punya kelainan. Warna mata dan pertumbuhannya yang kurang jelas menunjukkan akan hal itu. Dan setelah melihat kalau semua saudaranya punya satu atau dua kelainan, dia yakin kalau ada masalah dengan keturunannya.
Mungkin di masa lalu, di keluarga mereka ada yang punya keturunan dengan anggota keluarga yang terlalu dekat. Menjadikan anak mereka punya kelainan genetik. Kelainan genetik yang kini muncul pada Hanabi.
Kalau dipikir-pikir, ayahnya harusnya masih ada di usia yang produktif. Tapi sekarang dia malah sudah sakit-sakitan layaknya kakek tua. Melihat hal itu, Hanabi jadi berpikir. Kalau dia tidak punya kekuatan spesial, mungkin saja dia sendiri akan tumbuh jadi gadis lemah yang sakit-sakitan.
"Apa kau yakin?"
"Aku yakin. . . lihat saja wanita yang lain! kau tidak pernah melihat ada wanita lain kesakitan setiap bulannya kan?"
Kapan-kapan dia ingin tanya apa saudara-saudaranya yang lain juga ada yang punya kondisi kesehatan spesial atau tidak.
"Tapi bisa saja mereka pura-pura tidak sakit seperti Tuan Putri"
"Tidak, tidak! kalau kau masih tidak yakin tanya saja pada Ibumu!"
"Kalau aku bisa tanya Ibu aku tidak akan tanya Tuan Putri"
"Ahahaha. . . tanya teman-temanmu"
"Aku tidak punya teman. . . kecuali Tuan Putri"
Sekarang ada banyak gadis-gadis seumurannya yang tinggal di Aka. Tapi sama seperti Hanabi di sekolah dulu, kebanyakan dari mereka memutuskan untuk menjaga jarak dengan Miina. Tentu saja bukan karena merendahkan gadis itu seperti kasus Hanabi di sekolah bangsawan. Tapi sebaliknya.
Banyak yang melihat Miina sebagai orang yang punya posisi lebih tinggi. Dan kalau kau melihat posisinya yang sudah seperti tangan kiri Hanabi, penilaian yang tidak bisa dibilang jauh dari kenyataan. Oleh sebab itulah, anak-anak seumurannya lebih sering memperlakukannya layaknya bangsawan yang jadi atasan mereka.
"Ack . . . ."
Hanabi yang sama-sama tidak punya teman seumuran merasa baru saja terkena serangan tidak langsung.
"Sudahlah! aku yakin kalau kau baik-baik saja! kalaupun tidak, aku akan gantian mengurusmu"
'"Aku tidak bisa meminta Tuan Putri melakukan hal seperti itu"
"Kalau begitu aku akan menyuruh Sasuke menggantikanku"
"Aku akan mati malu duluan"
"Ahahahaha. . . ."
"Tuan putri, hal itu tidak lucu"
"Maaf, maaf. . . mari kita pikirkan yang nanti untuk nanti!"
"Um. . ."
"Ahhh. . . Penampilanku jadi berantakan"
"Aku yakin Yang Mulia akan dengan senang hati membantu lagi nanti"
"Kau benar"
Miina mengangguk lalu pamit pergi agar Hanabi bisa beristirahat. Setelah itu dia langsung berjalan keluar sambil memeriksa catatannya. Dan didalamnya terdapat rencana perjalanan Hanabi hari ini. Perjalanan untuk merealisasikan tujuan mereka mengakhiri perang.
"Permisi Tuan Putri"
3
Mengakhiri perang adalah sesuatu yang semua orang ingin lakukan. Tapi semua orang punya angan-angan yang berbeda tentang bagaimana cara merealisasikannya.
Yahiko berpikir kalau kedamaian permanen hanya bisa dicapai dengan kekuasaan total. Dengan kata lain, mengalahkan semua orang sampai tidak ada yang bisa melawanmu. Sedangkan perdamaian yang pasukan koalisi bayangkan adalah situasi di mana semua negara yang terlibat dalam konflik menyerah dan menerima peta baru yang mereka buat.
Sedangkan perdamaian yang Hanabi dan Hinata bayangkan adalah ketika kekuasaan di sebuah tempat stabil sampai mereka tidak bisa atau tidak merasa perlu untuk membuat konflik.
Selama tiga tahun ini, hal itulah yang coba Hinata dan Hanabi lakukan.
Mereka mencoba merealisasikan perdamaian dengan menstabilkan situasi internal Konoha.
Setelah turun ke dalam kalangan rakyat biasa. Hinata sadar kalau sebagian besar orang hanya ingin bertahan hidup. Tidak ada yang berperang karena setia dan cinta pada Konoha atau penguasanya.
Dan pandangan itu bukan hanya milik rakyat jelata saja. Tapi juga para bangsawanannya. Meski ada yang benar-benar percaya dengan visi dari raja sebelumnya. Sebagian besar tidak segila itu sampai benar-benar percaya dengan doktrin superioritas yang mereka gunakan untuk menjajah tetangganya.
Kebanyakan dari mereka hanya berpartisipasi karena mereka melihat kesempatan untuk menambah harta dan kekuasaan masing-masing. Dengan kata lain, ujung-ujungnya mereka berperang karena uang.
Sayangnya, atau beruntungnya? Tidak semua orang yang berinvestasi dalam perang bisa mendapatkan profit dari usahanya. Ada yang pengeluarannya sangat banyak sampai profit yang mereka dapatkan tidak bisa membayar investasi mereka. Ada yang daerah jajahannya tidak menghasilkan apa-apa dan malah hanya menambah pekerjaan. Ada juga yang pasukannya dikalahkan dan harus kembali dengan kerugian dan tangan kosong.
Orang-orang tidak beruntung inilah yang jadi sasaran Hinata. Jika dia bisa membujuk mereka untuk menghentikan konflik. Maka api perang yang sekarang masih membara bisa dia perlambat dan pelan-pelan dibunuh. Membuat perdamaian permanen bisa dicapai dengan lebih mudah.
Di sinilah kerja sama antara Hinata dan Hanabi dibutuhkan.
Hinata dengan kharisma, koneksi dan kekuatan politiknya akan mencoba memancing para bangsawan yang sudah tidak ingin berperang ke kubunya. Setelah itu dia akan menjanjikan pengembangan teritori dan potensi profit bagi yang bisa mendapatkan kepercayaannya.
Caranya?
Semua janji monetari dan pengembangan ekonomi darinya akan jatuh ke tangan Hanabi untuk direalisasikan.
Asal kau berseda mendantangani perjanjian dengan Hinata. Mereka akan mendapatkan bantuan pengembangan ekonomi dari Hanabi. Dan bantuan itu bukan hanya berupa uang. Tapi segalanya.
Pengembangan produk dan industri, pembangunan infrastruktur, dan juga pelatihan. Sebagian besar bebannya akan ditanggung Hanabi dan timnya. Dia bersedia menanggung resiko Finansial asalkan Hinata bisa memperkuat posisinya.
Demi tujuan mereka untuk menghentikan perang secepat yang mereka bisa.
Plot mereka sudah berjalan selama hampir tiga tahun. Dan selama waktu itu Hanabi sudah berhasil membangkitkan ekonomi dari belasan teritori Konoha. Membuat posisinya sebagai pebisnis dan posisi Hinata sebagai calon ratu Konoha semakin kuat setiap harinya.
Selain itu, stabilitas regional dari setiap teritori yang dia berhasilkan kembangkan ekonominya juga menjadi solid. Dalam tiga tahun ini, tidak pernah ada lagi kabar tentang perang atau konflik yang melibatkan kekerasan pada bagian barat daya Konoha di mana sebagian anggota kubu Hinata berada.
Tentu dalam tiga tahun itu tidak semuanya berjalan lancar. Tidak satu atau dua kali seseorang memutuskan untuk mencoba menusuknya dari belakang dan melanggar perjanjian mereka. Tapi kewaspadaan atas hal itulah alasan kenapa mereka selalu membuat perjanjian hitam di atas putih.
Asalkan kau punya justifikasi yang kuat. Hinata bisa meminta pasukan kerajaan untuk bertindak.
Selain masalah politik. Masalah ekonomi juga tidak jarang menimpa usaha mereka. Hal yang tidak mengherankan mengingat Hanabi mengambil terlalu banyak resiko. Jika perusahaannya tidak berkali-kali di bailout oleh asosiasi dan aliansi. Entah sudah berapa kali dia sudah bangkrut.
Atas hal itu. Dia benar-benar berterima kasih pada Genno, Barret, Arbe dan juga ayahnya. Tanpa mereka usahanya dan Hinata tidak akan berjalan kemana-mana.
Hanya saja.
Seberapa keraspun usaha mereka, seberapa banyakpun pertolongan yang mereka dapat, dan sebanyak apapun support yang mereka berikan. Tidak mungkin mereka bisa menyatukan semua bangsawan di Konoha di bawah bendera Hinata.
Tapi kalau setidaknya dua puluh persen saja dari total bangsawan di negara itu bisa ditarik ke kubu mereka. Maka mereka pada dasarnya sudah menang. Di saat itu, mereka bisa benar-benar menghentikan konflik yang sudah berjalan selama satu dekade itu
"Demi semua itu aku juga harus berusaha keras"
Secara umum, Miina tidak terlibat dalam proyek besar itu. Tapi secara praktis, keberadaannya punya andil besar terhadap keberhasilan usaha-usaha Hanabi dan Hinata. Sebab keberadaannyalah yang membuat Hanabi bisa fokus dan tenang meninggalkan teritorinya.
Hanabi harus selalu berhasil dalam usahanya menaikkan kekuatan ekonomi sebuah teritori. Sebab keberhasilannya adalah satu-satunya metrik yang akan membuat semua orang paham kalau mengikuti Hinata adalah pilihan yang paling benar, yang paling tepat.
"Nona Amlie benar-benar hebat"
Miina menutup catatannya.
"Padahal umur kami tidak berbeda jauh."
Tapi Hanabi sudah mengambil tanggung jawab yang secara literal punya pengaruh terhadap perdamaian dunia. Miina tidak bisa membayangkan seberapa berat beban yang Hanabi pikul sebab selama ini tanggung jawab yang dititipkan kepadanya hanya sebagian kecilnya saja.
Jika Miina ada pada posisi Hanabi. Dia yakin kalau dia akan memilih untuk kabur saja.
"Tapi aku tidak akan kabur sekarang"
Sebab dia tidak ada dalam posis Hanabi. Dan dia punya terlalu banyak hutang budi terhadap gadis itu. Dia tidak bisa pergi begitu saja. Malah sebaliknya, dia akan mencoba melakukan apapun untuk mengurangi beban Hanabi.
Dalam hal ini, dia tidak berbeda jauh dari paman, ayah dan budak-budak Hanabi yang lain.
"Saatnya mencari Sasuke"
Jika Miina adalah tangan kiri yang membantu Hanabi di dalam teritorinya. Sasuke adalah tangan kanan yang Hanabi andalkan untuk memproyeksikan kekuatannya keluar.
Sasuke adalah pusat dari setiap rencana yang Hanabi buat. Karena itulah dia perlu mengkonfirmasi beberapa hal sebelum mereka berangkat.
"Tch. . . ."
Setelah berjalan-jalan selama beberapa menit. Akhirnya Miina menemukan Sasuke. Tapi begitu melihat apa yang sedang terjadi, Miina malah merasa kesal. Sangat kesal sampai dia menceplakkan mulutnya.
Kenapa?
"Sasuke, aku perlu bicara denganmu"
Karena saat ini. Sasuke sedang dikerumuni oleh pelayan-pelayan muda yang kelihatan jelas sedang meminta perhatiannya. Dan ketika Miina bilang muda, yang dia maksud bukan wanita muda. Tapi gadis muda.
Sebab gadis-gadis, atau mungkin. Lebih pantas kalau disebut anak-anak perempuan yang sedang mengerumuni Sasuke punya umur antara sepuluh sampai empat belas tahun.
Pemandangan yang jarang kau temui di tempat bangsawan lain.
"Maaf semuanya, aku ada urusan lain"
Ucapan Sasuke disambung dengan bukan jawaban profesional melainkan suara-suara manja seperti "eee. . " dan permohonan agar Sasuke tidak pergi. Kelakukan yang sangat jauh dari profesionalisme dan harusnya tidak ditunjukkan pada tuan mereka.
"Berhenti mengganggunya! Kembali ke pekerjaan kalian!"
Melihat anak-anak perempuan itu tidak mau pergi. Miina memutuskan untuk menaikan suaranya. Dan sekedar untuk membuat perintahnya kedengaran lebih tegas, dia juga. . . .
"Atau kalian sudah bosan bekerja di sini?"
Menambahkan sedikit ancaman di dalamnya. Dan benar saja. Kata-katanya kali ini berhasil membuat semua pelayan itu langsung meminta maaf, menunduk, dan meminta izin untuk kembali ke pekerjaannya.
"Terima kasih Miina"
"Sama-sama, tapi kau harus lebih tegas! Kalau tidak mereka akan terus melunjak"
Ada beberapa alasan kenapa mereka menerima anak yang semuda itu untuk bekerja sebagai pelayan di sana.
Mereka kekurangan orang. Meski ada banyak wanita di Aka, kebanyakan dari mereka tidak punya pendidikan yang cukup untuk bekerja di sebagai pelayan dan dengan beberapa pengecualian lebih memilih bekerja di pabrik yang tugasnya lebih mudah dan sederhana.
Kedua anak-anak yang masih muda lebih muda dididik sehingga masalah pendidikan bisa dipikirkan belakangan. Selain itu mereka juga lebih murah daripada pelayan yang sudah punya pengalaman. Perusahaan Hanabi punya banyak uang, tapi jika mereka bisa berhemat. Mereka akan berhemat.
Lalu yang terakhir. . .
"Ahahah. . . jangan berlebihan"
Sasuke.
"Jangan meremehkan anak perempuan! Mereka itu licik"
Adalah Sasuke itu sendiri.
Pemuda itu adalah seseorang yang punya hobi memanjakan anak kecil. Sesuatu yang normalnya jadi hobi orang-orang yang lebih tua. Tapi sebab Sasuke adalah . . Sasuke. Hobi itu jadi sedikit bermasalah.
Ketika yang jadi targetnya adalah Hanabi, semua orang menganggapnya biasa saja. Setiap penduduk yang tinggal di Aka sudah paham kalau Sasuke menganggap kalau Hanabi adalah adik perempuannya.
Dan jika yang jadi target perhatiannya adalah anak laki-laki. Paling jauh mereka akan ingin jadi muridnya.
Tapi ketika yang jadi bahan perhatian nya adalah anak perempuan lain. Situasinya jadi sedikit lebih rumit. Tidak jarang hal ini membuat siapapun yang jadi target perhatiannya salah paham. Banyak dari mereka yang berpikir kalau Sasuke menyukai mereka, dan kalau tidak merekalah yang berakhir menyukai pemuda yang lebih dewasa itu. Sesuatu yang Miina sendiri merasa familiar.
Hal itu mendorong banyak dari mereka untuk menjadi pelayan dengan tujuan untuk mendekati Sasuke. Yang kemudian membuat orang yang tidak paham dengan situasinya mengira kalau untuk mendekati Sasuke yang pamor, kekuasaan, serta hartanya sedang naik daun, kau bisa mengirim putrimu untuk merebut hatinya dan menjalin koneksi dengan si pemuda.
"Tolong hati-hati saat berbicara dengan mereka! Jangan sekalipun memberi janji apapun pada mereka! Serius maupun bercanda! Remeh atau tidak!"
Karena hal itulah Miina selalu mengingatkan Sasuke untuk tidak menjanjikan apapun pada para pelayan-pelayan muda itu. Sudah jadi rahasia umum kalau secara mental, anak perempuan lebih cepat dewasa. Jika Sasuke memberikan janji pada mereka, bukan tidak mungkin kalau gadis-gadis muda itu akan menganggap janji itu sesuatu yang serius meski Sasuke sendiri hanya bercanda.
Dan yang lebih berbahayanya lagi. Jika orang tua mereka licik, bisa-bisa janji itu akan jadi senjata bagi orang lain untuk melakukan hal yang lebih serius.
"Aku paham, aku paham! Jangan marah begitu"
"Aku tidak marah!"
"Tentu saja kau tidak marah. . "
Dilihat dari manapun, jelas kalau Miina sedang marah. Tapi kemarahannya adalah karena dia peduli dengan Sasuke. Ketika kau melihat hal semacam itu, bukannya marah. Sasuke malah merasa senang.
Rasa senang yang dirasakannya sudah persisi seperti seorang kakek yang diberi perhatian oleh cucunya.
Oleh sebab itulah. Dengan mulusnya, Sasuke mulai membelai kepala Miina.
"Terima kasih.. "
"Um. . ."
"Jangan cemberut, nanti wajahmu jadi tidak imut lagi"
Sasuke ingin mencubit pipi Miina seperti dia biasa mencubit pipi Hanabi. Tapi ketika dia melihat gadis di depannya lebih dekat, dia menyadari kalau penampilan Miina lain dari biasanya.
Normalnya, Miina selalu mengenakan seragam pelayan sama dengan rekan-rekannya yang lain. Tapi kali ini, dia mengenakan baju semi formal yang dia rasa familiar.
"Apa kau punya acara spesial hari ini, tumben kau berdandan?"
Sama seperti Hanabi dan Naruto, Miina juga termasuk teman masa kecilnya. Keduanya bukanlah orang asing terhadap satu sama lain. Dan Sasuke tahu kalau Miina itu termasuk gadis pemalu, jadi dia tidak biasa sengaja menarik perhatian pada dirinya sendiri. Malah sebaliknya, dia lebih sering membaur ke latar belakang agar bisa fokus pada pekerjaannya.
"Jangan bilang kau punya rencana. . . kencan?"
Berdasarkan pengalamannya entah itu dari hidupnya sekarang atau yang sebelumnya lagi. Ketika seorang gadis tiba-tiba peduli dengan penampilannya, hal itu adalah tanda kalau mereka menemukan laki-laki yang mereka sukai. Hal itu terjadi pada putrinya di kehidupannya yang sebelumnya, dan hal itu juga terjadi pada Hanabi saat dia sadar dia menyukai Naruto.
Penampilan Miina saat ini sudah seperti gadis yang ingin kelihatan cantik di depan laki-laki yang dia suka sebelum pergi jalan-jalan seharian.
"Ka-kau salah, Yang Mulia menjadikanku bonekanya tadi pagi"
"Ahhh. . . jadi begitu"
Meski kesalah pahamannya sudah terselesaikan, Sasuke tetap menghentikan niatnya untuk menyentuh gadis di depannya. Dia menyadari seberapa banyak gadis di depannya sudah bertumbuh. Sasuke tidak lagi bisa memperlakukannya layaknya anak kecil.
Sasuke menurunkan tangannya dari kepala gadis itu. Sebagai mantan pria tua yang bahkan sudah punya anak gadis sendiri. Dia paham kalau pada umurnya, anak perempuan seumuran Miina sudah mulai merasa risih dipegang-pegang oleh lawan jenis. Meski secara mental Sasuke mungkin sudah tua, tapi secara fisik dia adalah seorang pemuda.
Kalau yang di hadapannya adalah adalah Hanabi, dia tidak akan ragu untuk terus membelai kepalanya. Tapi untuk anak lain, dia perlu berpikir banyak sebelum melakukannya. Contohnya tadi, meski dia kerumuni oleh banyak gadis muda. Tidak sekalipun dia mencoba menyentuh mereka sembarangan.
Sampai beberapa saat yang lalu, Miina adalah pengecualian sebab dia adalah bagian dari teman masa kecil Sasuke.
"Kau benar-benar manis Miina"
Miina agak kecewa Sasuke berhenti mengelus kepalanya, tapi di saat yang sama. Dia juga merasa senang sebab hal itu adalah tanda kalau Sasuke mengakui jika dia sudah bukan anak kecil lagi.
"Terima kasih. . ."
Dan dengan begitu, Miinapun lupa kalau dia sedang marah.
"Istri pertama memang lain daripada yang lain"
Atau begitulah yang akan terjadi kalau seseorang tidak datang dan kembali menyulut api kemarahan si gadis muda.
"Sasuke, tolong setujui permohonanku untuk memecat orang ini!"
"Ahahaha. . . Aku membutuhkannya, jadi tidak!"
"Hahhh. . ."
Miina menghela nafas dan melihat ke arah pemuda yang sedang berjalan menghampiri mereka. Namanya adalah Amaashi, asisten teknis Sasuke yang datang dari Iwa setelah mendengar apa yang Sasuke buat untuk menyelamatkan Hanabi.
Dalam masalah kepribadian, pemuda berumur delapan belas tahun itu sama sekali tidak cocok dengan Miina yang serius. Tapi dalam masalah teknik, hanya dia yang bisa menyaingi Sasuke. Ketika Sasuke bilang dia membutuhkan pemuda itu, dia serius. Apalagi ketika sekarang dia tidak lagi bisa fokus pada pekerjaan lapangannya.
"Apa semuanya sudah siap?"
"Semua operator kereta dan personilnya sudah siap berangkat"
"Bagaimana dengan keamanan?"
"Prajurit Gatsu sudah berada di gerbang, tapi sayangnya kita masih perlu berhenti di tengah perjalanan nanti untuk resupply"
Sebab mereka membawa banyak orang, mereka tidak bisa membawa cukup supply untuk semua orang. Belum lagi motor listrik yang mereka andalkan untuk menarik kereta mereka juga tidak begitu efisien mereka hanya membawa empat gerbong. Lalu yang terakhir, sebab generator dari kereta yang mereka buat belum optimal, banyak tempat yang tersedia harus dipakai untuk menyimpan bahan bakar.
"Di mana kita harus berhenti?"
"Sugi"
"Sedikit lagi sampai ke Ishi huh"
Sasuke berpikir selama beberapa saat sambil menutup matanya. Dan begitu dia membuka matanya, dia langsung memutuskan untuk. . .
"Aku tidak ingin berhenti di Sugi, kalau perlu kita bisa mengurangi personil dalam perjalanan ini"
"Apa kau yakin?"
Tanya Amaashi.
Berkat bantuan politik dan finansial Yahiko yang ingin memudahkan logistik pasukannya, mereka punya izin untuk membangun rel di Sugi bahkan sampai Ishi. Tapi secara politik. Tempat itu masih belum kondusif. Pertempuran antara pasukan Konoha dan pemberontak masih sering terjadi. Kalau bisa dia tidak ingin mengambil resiko berhenti di sana, sebab bisa saja mereka terseret dalam pertempuran.
"Kalau masalah resiko Ishi juga sama-sama besar resikonya"
Bilang Amaashi.
Ishi adalah provinsi Konoha yang langsung bersentuhan dengan dua perbatasan bermasalah. Satu dengan negara lain, dan dua. Dengan provinsi Tanzaku. Secara umum keduanya bukanlah musuh sebab Ishi sendiri hanya mengambil sedikit teritori tetangganya, dan Tanzaku adalah bagian dari Konoha.
Tapi sudah jadi rahasia umum kalau negara tetangga mereka aktif dalam membantu pemberontak melawan Konoha. Sedangkan Tanzaku sendiri terkenal tidak punya hubungan baik dengan bangsawan dan juga keluarga kerajaan. Fakta kalau Tanzaku tidak ikut menyerang saat pasukan koalisi mengepung Konoha bisa dibilang adalah keajaiban.
Dan masalah terbesar dari sebuah keajaiban adalah, kau tidak tahu apakah dia akan datang lagi atau tidak.
"Selain itu, bukankah Ishi adalah provinsi lawan kalian dalam merebut tahta? Apa kau yakin kalau ini bukan jebakan?"
Ya, Ishi adalah provinsi dari salah satu istri Hiashi. Lebih spesifiknya, istrinya yang ketiga, Inori Ishi. Selain pernikahannya dengan Kanna, pada dasarnya semua hubungannya dengan istrinya yang lain punya agenda politik di dalamnya.
Perasaan mereka yang sebenarnya tentu saja tidak ada yang tahu. Tapi semua orang tahu kalau fungsi utama pernikahan pertamanya adalah untuk menguatkan posisinya militernya. Lalu pernikahan keduanya adalah untuk mengamankan dukungan dari para bangsawan sentral, sedangkan pernikahan ketiganya punya tujuan menunjukkan bahwa Hiashi peduli pada bangsawan di perbatasan.
Dalam pertemuan terakhir mereka di istana, Kedua anak Inori yaitu Sasori dan Sumire masih tidak ada yang menyatakan mengundurkan diri dari perebutan tahta. Jadi, bukan tidak mungkin kalau mereka mengundang Hanabi ke sana punya maksud terselubung.
Tapi.
"Apapun rencana mereka, mau tidak mau kita harus tetap pergi ke sana"
Sebab kepala keluarga Ishi sudah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Hinata, mau tidak mau Hanabi harus melakukan tugasnya. Kalau memang mereka punya niat buruk, mereka sudah bersiap. Semua prajurit yang mereka bawa adalah persiapan untuk hal itu.
Tapi kalau mereka benar-benar ingin berpindah haluan, maka hal itu akan jadi bantuan yang sangat besar bagi rencana mereka. Usaha mereka kali ini dibilang adalah misi dengan resiko tinggi tapi dengan hadiah besar.
". . . . . ."
Di saat Sasuke sedang berbicara dengan penuh keyakinan. Tiba-tiba dia merasakan ada yang menarik lengan bajunya. Kau tidak perlu menebak siapa yang melakukan hal itu, sebab di sana hanya ada Miina yang sedang memasang wajah cemas.
"Jangan khawatir Miina, aku akan baik-baik sa. . ."
Secara reflex, Sasuke kembali ingin membelai rambut gadis muda di depannya. Tapi di saat-saat terakhir, dia berhasil menghentikan dirinya. Hanya saja, tetap berakhir bergerak menuju si gadis.
Sebab. . .
"Miina.. . "
Gadis itu menangkap telapak tangan Sasuke lalu meletakkannya bukan diatas kepalanya. Melainkan di pipinya.
". . . ."
Merasa kalau dia sudah mendapatkan izin untuk menyentuhnya. Sasuke mulai membelai pipi Miina dengan lembut layaknya ayah yang mencoba menghibur anaknya yang ketakutan. Dia tidak ingin memperlakukan Miina seperti anak kecil, tapi kalau gadis kecil di depannya menunjukan wajah seperti itu. Dia harus bertingkah bagaimana lagi?
"Kau tahu kalau aku itu kuat kan?"
"Um. . ."
Miina mengangguk kecil.
Tangan Sasuke hampir dua kali lebih besar dari tangannya, beberapa level lebih kasar dari tangannya, dan entah berapa kali lipat lebih kuat dari miliknya. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali tangan itu sudah membantu, melindungi, dan menghiburnya. Jadi, Miina tahu kalau tangan itu sangat bisa diandalkan.
Tapi tetap saja, kalau kau khawatir. Kau tetap saja khawatir.
"Pastikan kau pulang dengan selamat"
Tentu saja.
Selama Sasuke dan Miina sibuk di dalam dunianya sendiri, Amaashi yang sangat merasa jadi roda ketika bingung harus memberikan reaksi seperti apa. Seberapapun tidak seriusnya pemuda itu, dia tahu cara membaca suasana dan menentukan kapan dia harus tutup mulut.
Melihat Miina yang bertingkah layaknya istri yang mengantar suaminya untuk perang itu, sebenarnya dia sangat ingin berteriak "meledak saja kalian". Tapi dia berhasil menahan diri dan memutuskan untuk menyingkir dan memberi keduanya waktu sampai keduanya sadar kalau apa yang sedang mereka lakukan itu membuat semua orang merasa malu.
Tidak butuh waktu lama untuk atmosfir di antara mereka untuk melelah. Dan begitu sadar dengan apa yang baru saja dia perbuat, Miina langsung kabur dengan wajah merah sambil memegangi dadanya. Sebab jantungnya berdetak sangat kencang seakan organnya itu ingin melompat dari dalam dadanya.
Sorenya, Kanna kembali mendandani Hanabi sampai ke bulan. Lalu begitu malam tiba, akhirnya merekapun pergi menuju Ishi.
Terima kasih yang sudah datang.
