"Jadi ini dunia luar?" Naruto berdiri diatas penghalang ruang dan waktu, menatap sekeliling. Diatas sini Naruto tidak bisa banyak melihat, dia hanya bisa melihat pemandangan langit malam dan permukaan Kota Suo yang dipenuhi bangunan yang hancur.

Pada saat ini, Naruto berada di ketinggian lebih dari 10.000 kaki atau 3 kilometer lebih. Naruto terlihat tak mengalami masalah setelah melewati penghalang distorsi ruang dan waktu.

Jika itu orang lain, melewati penghalang ruang dan waktu akan menyebabkan mereka langsung menjadi abu karena percepatan waktu yang gila saat melewati penghalang.

"Seluruh Kota Suo benar-benar melambat. Tapi dengan ini rencana bisa di percepat. [Angra] pasti sudah yakin aku mati dan mulai maju sendiri untuk menangkap Mika. Bagaimanapun kekuatan Mika yang kuat pasti akan menarik perhatiannya."

Naruto mulai berlari diatas penghalang transparan. "Kalau tebakan kami semua benar, semua manusia ditangkap untuk semacam ritual. Mika dengan kekuatan yang kuat pasti merupakan pengorbanan yang bagus. Mika akan menarik perhatiannya untuk keluar dari persembunyian dan Asihira akan membantu Mika untuk mengulur waktu."

Khekk!

Dari kejauhan, burung merpati raksasa dengan mata merah dan bulu perakmengepakkanw sayapnya sehingga menyebabkan hempasan angin kuat disekelilingnya.

Naruto melihat ini, tapi terlihat tidak peduli. "Seharusnya di sini!" Naruto berhenti dan melihat kebawah yang menunjukkan stadion yang dipenuhi kabut abu-abu.

"Aku harus menemui Yuuka dan Serika. Aku harap mereka sudah menyusup dan tidak dalam bahaya. Lebih bagus kalau mereka berhasil menyelamatkan sandera atau bahkan mendapatkan senjata kuat tempat lahirnya [Angra]."

Burung merpati raksasa menukik dengan cepat kearah Naruto dari depan. Tapi sebelum meraih tubuh Naruto dengan sepasang kakinya, Naruto menerobos penghalang dengan mudah an jatuh kebawah.

Burung merpati itu langsung bermanuver menghindar agar tidak mengenai penghalang. Ekspresi burung merpati terlihat kebingungan, antara ingin mengikuti dan pergi. Terlihat bahwa burung merpati tidak ingin masuk kedalam penghalang.

Setelah berputar-putar beberapa saat, burung merpati akhirnya memilih menyerah dan terbang menjauh dengan perasaan yang enggan dan tidak puas.

...

Kota Suo, Medan Tempur Asihira

...

Psiu! Psiu! Psiu!

Tembakan energi berbagai elemen menyerang dari segala penjuru. Membuat Asihira memasang kuda-kuda [Iai] sekali lagi. Lingkaran imajiner terbentuk dalam persepsi Asihira yang diameternya sesuai dengan [Mai] miliknya.

(Mai adalah jarak jangkauan serangan seseorang dalam pertarungan pedang atau seni bela diri.)

"Huft."

Asihira menghela nafas dan mengeluarkan uap dari mulutnya. Menunjukkan berapa panasnya suhu di dalam tubuh akibat aktifitas yang ekstrim.

Aliran darah dipompa jantung dengan kecepatan tinggi, debarannya bahkan bisa terdengar oleh orang disampingnya. Otot miliknya menegang siap melancarkan serangan, dan syaraf serta kelima indra nya siap merespon setiap ancaman yang ada.

"[Sol Invictus]."

Dzink!

Dengan cepat Asihira menebas setiap serangan jarak jauh dan dengan ajaib semua serangan itu berubah menjadi percikan energi murni yang menyebar disekitar tubuhnya.

Selama sebuah objek masuk kedalam bidang miliknya, Asihira dapat segera mengetahuinya dan merespon dengan tebasan pedang beruntun yang cepat dan mengerikan.

Teknik ini layaknya matahari yang bersinar megah. Jika kau mendekat, kau akan terbakar menjadi abu dan kehilangan nyawamu.

"Tapi ada satu kelemahan."

Sosok hitam muncul dari atas gedung dan menatap kearah Asihira yang dengan luar bisa menangkis setiap serangan jarak jauh, mengubah mereka menjadi kumpulan cahaya energi yang indah.

"Dia terlalu fokusnya pada bidang [Mai] miliknya, membuatnya tidak bisa melihat dan mendengar lebih dari itu. Selain itu..."

Sosok hitam itu sedikit melayang di udara dan menghantamkan kedua telapak tangannya didepan dada. "Kau tidak bisa bergerak dari tempatmu!"

Dswoshh

Asap hitam menyebar dari kaki sosok hitam dan menyelimuti seluruh gedung. Gedung tempatnya tadi berpijak langsung pecah menjadi bongkahan puing-puing dan melesat kearah Asihira.

Dsink

"[Shunpo]." suara bisikan terdengar dibelakang sosok hitam, dia adalah Asihira!

Tebasan cepat membelah sosok hitam. Tapi sayangnya sosok hitam segera berubah menjadi kabut hitam yang menyebar di udara sebelum akhirnya menyatu kembali di jalanan beraspal.

Peluru energi menerjang kearah Asihira secara bertubi-tubi. Tapi Asihira dengan lihai menghindari semua serangan dengan menginjak udara dan melompat kearah sosok hitam, meninggalkan peluru energi yang meledak dibelakangnya.

"[Angra]! Kembalikan teman-temanku!"

Asihira meraung keras dan menebas ke arah sosok hitam yang ternyata adalah [Angra].

Slash

[Angra] berubah menjadi kabut sebelum terkena tebasan dan menghindar jauh.

"Kau bukan apa apa selain manusia rendahan! Jaga sikapmu didepan makhluk tertinggi."

Asihira melakukan [Shunpo, teknik ledakan kecepatan sesaat, untuk sekali lagi mendekati [Angra]. Tapi muncul kabut abu-abu disekeliling [Angra] yang berubah menjadi 2 monster.

Monster itu terlihat berbentuk patung manusia berarmor dengan tubuh dipenuhi kilauan logam. Salah satu monster menyilangkan tangannya.

Dang!

Suara benturan logam terdengar dari benturan Totsuka dan tangan Red Beast berbentuk manusia itu.

Swosh

Red Beast yang lain melompat dan memukul kearah Asihira. Tapi Asihira melompat mundur menyebabkan aspal tempatnya tadi berpijak hancur berkeping-keping terkena pukulan Red Beast.

Asihira, yang kakinya baru menyentuh tanah setelah melompat mundur, kembali melesat kedepan dengan kecepatan ditangannya terlihat mengeluarkan bayangan cahaya petir biru, membuat Asihira seolah memiliki jet dibelakangnya.

"Gila!"

Sementara itu, [Angra] terlihat terkejut karena Red Beast yang tadi tangannya berbenturan dengan Totsuka berubah menjadi batu sebelum akhirnya retak dan tersebar menjadi abu.

[Angra] yang merasakan krisis segera terbang ke udara dan mengangkat tangannya ke udara dengan posisi menunjuk langit.

Gelombang energi menyebar dari [Angra]. Membuat setiap Red Beast, yang menembakkan energi berbagai elemen sambil bersembunyi, berubah menjadi kumpulan bola energi yang melayang dibelakang [Angra].

Slash Slash Slash

3 tebasan energi petir-api melesat kearah [Angra, mencoba mengganggunya. Sayangnya Red Beast humanoid yang tersisa melindunginya dan membuat serangan Asihira tidak mengenai [Angra].

'Gawat!'

Mata Asihira menyimpit ketika melihat kejadian ini dan bersiap melakukan shunpo.

"Terima ini, manusia!"

Tapi [Angra] mendahului Asihira dan melontarkan setiap bola energi kearah Asihira.

Bola energi melesat dengan cepat dengan suara seperti senapan mesin. Tapi Asihira yang sudah mengalami [Awakening] lebih cepat!

Asihira yang melihat serangan beruntun datang dengan intensitas tidak main-main ingin melakukan [Shunpo] sekali lagi.

"Berhenti!"

Tangan [Angra] yang bebas membentuk segel unik. Ledakan energi besar muncul dari [Angra] sebagai pusatnya dengan diameter 100 meter.

"Ugh." Asihira yang berada dalam jangkauan langsung merasakan tubuhnya kaku sesaat. Membuat Asihira kehilangan kesempatan menghindar dan dihujani bola energi.

Duarr!

Ledakan beruntung terjadi ditempat Asihira. Meruntuhkan beberapa bangunan di sekitarnya.

Dzinkkk

Suara dengungan terdengar ketika bola energi yang melayang dibelakang [Angra] berkumpul diujung jari dan dipadatkan secara ekstrim.

"Kamu memang tidak terduga. Aku harus menyia-nyiakan banyak sekali energi untuk ini."

Gumam [Angra] sambil membidik tempat Asihira dan akhirnya menembakkan energi yang terkumpul diujung jarinya.

Duaarrr

Ledakan besar terjadi. Meratakan belasan gedung.

...

Mika mendengar ledakan besar dan asap serta api yang membumbung tinggi. Tanah bergetar hebat dan retakan muncul di kaca bangunan sekitar.

"Hmmp, sudah dimulai ya." gumam Mika sambil menatap api ledakan yang membumbung tinggi di kejauhan. Mika terlihat tidak menghampiri asal ledakan dan juga tidak khawatir karena dia sendiri saat ini sedang dibungkus dalam kepompong abu-abu.

"Tidak anggun sama sekali. Aku merasa seperti tempura aneh berwarna abu-abu."

Swushh

Sosok hytam [Angra] tiba didepan Mika yang memasang wajah bosan dan mengantuk.

"Manusia aneh. Kedua temanmu sudah kalah dan ini reaksimu? Benar-benar makhluk aneh rendahan."

Mika yang mendengar perkataan [Angra] mencibir."Kata-kata yang keluar dari makhluk yang bergantung dari manusia untuk lebih kuat."

[Angra] yang mendengarnya tidak marah dan hanya tertawa keras. Kedua tangannya direntangkan dan kepalanya menatap kelangit dengan tawa yang keluar dari mulutnya. Bayangan hitam yang terlihat menyelimutinya menghilang, menunjukkan wajah yang familiar bagi siswa dan siswi SMA Suo.

Muka yang melihat itu menyempitkan matanya.'Ritualnya sudah selesai? Tidak mungkin. Dia terlalu lemah. Apa yang terjadi? Tapi apapun yang terjadi, sepertinya semua sandera seharusnya sudah mati.'

[Angra] menghentikan tawanya dan mendekati Mika dan berkata. "Suatu kehormatan bagi makhluk rendahan seperti kalian untuk menjadi sumber kekuatanku."

[Angra] mengelus pipi Mika dan meneguk ludahnya seolah melihat makanan yang lezat. "Dengan menelanmu, aku akan bisa tumbuh lebih kuat lagi."

Mika terlihat jijik dengan sentuhan itu, tapi tetap menenangkan dirinya. Matanya melihat [Angra] dengan pandangan yang dingin.

"Awalnya kami sudah menyiapkan banyak rencana agar kamu tidak kabur. Tapi sepertinya rencana kami sia-sia. Kamu sendiri yang datang dan menggali kuburanmu."

Setalah perkataan Mika jatuh, sebuah katana menembus jantung [Angra] dari belakang dan membuat wajah Mika terkena semprotan darah berwarna merah cerah.

"Ghaakhh! Khalian-hoek!" [Angra] memuntahkan banyak darah dari mulutnya dan menatap ke katana yang menembus dadanya dari belakang dengan pandangan tak percaya.

Bagaimana bisa? Seharusnya dia sudah mati terkena serangannya!

Hembusan nafas panas menerpa telinga [Angra, itu adalah nafas Asihira yang matanya telah berubah menjadi Ungu dengan bagian putihnya menjadi warna crimson yang menakutkan.

Asihira berbisik pelan disamping telinga [Angra] yang ketakutan karena merasakan kekuatannya mulai tersegel oleh Totsuka yang menusuk dirinya. Dengan vitalitas nya, luka ini tidak menjadi masalah. Hanya saja kekuatan penyegelan Totsuka yang membuatnya ketakutan.

"Kami mencoba memancingmu dengan informasi palsu dan akting agar kami bisa melenyapkanmu dengan bersih serta menyelamatkan teman-temanku. Tapi sepertinya itu tidak perlu lagi sekarang."

Asihira menarik Totsuka dan seketika [Angra] berubah menjadi kabut hitam dan ingin melarikan diri. Tapi dengan Asihira sebagai pusatnya, bayangan crimson muncul dan menutupi area sekitar.

[Domain : Kōtenjin no Ryōiki]

...

Lingkungan sekitar segera berubah drastis, puing-puing dan bangunan menghilang digantikan padang rumput dengan sebuah kuil merah berdiri megah bertuliskan [Amaterasu] di plakat yang tergantung.

Asihira berdiri di depan Tori, gerbang kuil, dengan kedua tangan bertumpu pada [Totsuka] yang tertancap di lempengan batu lantai kuil. Disampingnya, Mika terlihat menatap ke sekitar dengan pandangan takjub.

"Domain yang keren. Seperti di film {Dukun Sukruntul}!"

Asihira menutup telinga terhadap ucapan Mika dan menatap kearah depan, dimana [Angra] melayang sambil memegang dadanya. Luka [Totsuka] terlihat diselimuti kekuatan penyegelan yang kuat dan terus membuat kekuatan kehidupan [Angra] menguap.

[Angra] menatap kearah Asihira dan Mika dengan pandangan marah. Dia sudah memikirkan berbagai kemungkinan akan serangan mereka, tapi masih salah.

Jika semuanya berjalan lancar, dia akan menggunakan kemampuan [Pelahap] dari wadahnya untuk menelan gadis pink dan gadis pedang didepannya. Ini akan membuatnya bisa berevolusi lebih jauh, tapi tampaknya tidak demikian.

Kekuatan mereka sangat menakutkan, jauh melebihi perkiraannya.

'Ini sulit, seharusnya aku bisa mendapatkan tubuh sempurna!' pikir [Angra] kesal.

Deg!

[Angra] tiba-tiba merasakan penghalang yang dibuatnya hancur. Pada saat yang bersamaan dia bisa merasakan aura manusia, yang dia lempar ke penghalang ruang-waktu, berdiri diatas stadion yang dijadikannya sebagai markas.

Sudah jelas, semuanya tidak berjalan lancar sesuai pikirannya.

Ini membuat sifat rasional yang dipertahankan hancur.

Bagaimanapun dia sejatinya adalah makhluk dengan pemikiran sederhana. Hanya karena beberapa kebetulan dia bisa berpikir dan bertindak layaknya manusia atau makhluk cerdas.

"Kalian benar-benar,AARRGGHHHH!"

[Angra] meraung dan tubuh manusia yang dia jadikan wadahnya meledak menjadi serpihan daging menjijikkan, mengeluarkan kabut hitam yang merupakan wujud sejati [Angra].

Mika menatap kejadian ini tanpa merasakan apapun dan bahkan merasa bahwa ini adalah tontonan yang menarik.

"Tubuh yang dijadikan wadah adalah guru Suito kan? Guru seni budaya." Tanya Mika sambil mengingat sosok guru seni budaya. Dia tidak bisa melupakan sosok guru muda Suito yang menatapnya jijik setiap kali bertemu karena Mika sering menunggu Naruto pulang sekolah.

"Benar. Sepertinya dia sudah melakukan ritualnya." Jawab Asihira dengan suara yang tenang dan netral. Seolah apa yang dia katakan tidak berarti sama sekali.

"Apa yang terjadi denganmu? Kau berubah hanya dalam beberapa menit berpisah. Kau tidak sedih teman-temannu mati?"

Mika menatap Asihira dengan pandangan bertanya tanpa memperdulikan wujud [Angra] yang mulai berubah perlahan.

Asihira yang mendengar pertanyaan Mika terdiam sejenak. "Kematian adalah hal yang biasa di masa sulit seperti ini. Terkadang kematian adalah berkah bagi orang lemah seperti mereka." Jawab Asihira dengan tanpa ampun dan membuat Mika sedikit terkejut.

Mika jelas melihat dan menyaksikan sendiri betapa putus asa nya Asihira sebelumnya karena merasa kehilangan teman-temannya dan betapa Asihira ingin menyelamatkan teman-temannya ketika mendengar bahwa ada kemungkinan mereka masih hidup.

Tapi sekarang, Asihira terlihat begitu acuh dan tenang seolah membicarakan orang asing yang tidak ada hubungan dengan dirinya.

"Yah, apapun itu. Aku senang kamu tidak sedih lagi. Naruto tidak akan senang melihatmu bersedih." Ucap Mika dengan santai dan tanpa disadari Mika, tangan Asihira memegang [Totsuka] dengan lebih erat.

Di depan, [Angra] terlihat mulai memadatkan tubuhnya yang tadinya berupa kabut hitam.

"Arrgggg! Sialan! Kalian bahkan menemukan [Athares]!" suara raungan [Angra] terdengar disertai ledakan energi yang menyebar kesegala arah. Sayangnya ledakan energi dahsyat itu hanya mampu menggoyangkan rumput seperti angin sepoi-sepoi.

"Ya, sepertinya Serika dan Yuuka berhasil."ucap Asihira dengan ringan dan mencabut [Totsuka]. Pakaian sekolahnya tiba-tiba berubah menjadi pakaian Miko dan rambutnya terikat seperti ekor kuda. Membuatnya terlihat heroik dan cantik secara bersamaan.

Mika yang melihat ini segera keluar dari kurungan nya dengan mudah dan menarik keluar [Aurelith] dari belahan dadanya(?).

"Dia banyak bicara. Sepertinya dia mencoba terhubung kembali dengan senjatanya dulu. Tapi sekarang terlambat. Tapi sepertinya ini tidak terlihat menguntungkan bagi kita."

Mika mengayunkan pedangnya sedikit dan dibelakangnya muncul bayangan 12 pasang sayap seputih salju yang mengepak dan mengangkat tubuhnya ke udara.

Swusshhh

Ledakan energi berhenti dan menampakkan [Angra] yang wujudnya berubah menjadi gurita raksasa.

Tubuhnya hytam legam dengan kilauan logam. Di dahinya terdapat ribuan mata kecil yang terbuka dan tertutup dalam waktu yang berbeda-beda. Benar-benar bisa membuat orang dengan phobia khusus pingsan hingga kejang-kejang hanya dengan melihatnya.

Asihira dan Mika: "Dia menjadi lebih jelek."

...

Sink Sink Sink

Beberapa lingkaran Rune muncul di bawah Naruto. Saat tubuhnya melewati lingkaran tersebut, kecepatan jatuhnya perlahan menurun hingga akhirnya Naruto menginjakkan kaki di atas stadion dengan selamat dan tanpa masalah.

Swushh

Angin kencang menerpa di atas stadion, menggoyangkan rambut Naruto. Bulan darah melayang tinggi di langit, tak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Naruto mengerutkan kening saat merasakan sesuatu yang ganjil.

"Celestial Weapon ini tidak bisa aku gunakan lagi. Gawat." Naruto bergumam sambil merasakan kondisi roda rune yang melayang di belakang kepalanya.

Kekuatan [Penguatan] miliknya memungkinkan untuk mengendalikan dan mengambil alih segalanya. Tapi efek sampingnya juga keterlaluan. Bahkan senjata yang dibuat dari mayat [Celestial Pantheon] rusak jika terlalu lama digunakan melalui [Penguatan].

Hanya ada beberapa senjata yang tidak rusak karena kekuatan Naruto: delapan [Decagramation]. Namun, saat ini [Binah] sedang berada di stadion, dan sisanya belum bisa dipanggil karena kekuatan Naruto tidak mencukupi.

"Sekarang aku hanya bisa menyerahkannya pada Serika untuk pemurnian." Naruto menyalurkan energi murni ke dalam [Celestial Weapon, yakni roda rune yang melayang di belakangnya.

Sambil menunggu proses pengisian selesai, Naruto yang kini berdiri di atap stadion menatap ke bawah, melihat pelindung yang menyelimuti seluruh stadion dengan tatapan termenung, memikirkan sesuatu.

Duaarrrr

Angin kencang menerpa Naruto dari belakang, disertai suara ledakan yang menggema keras. Naruto menoleh ke arah sumber ledakan, melihat asap dan api membubung di kejauhan.

"Sudah dimulai."

Naruto menyipitkan matanya, merasakan lonjakan energi mengerikan dari pusat ledakan. Energi itu khas Totsuka, hanya bisa dirasakan oleh Naruto dan pemilik pedang tersebut.

Naruto mengingat kembali cerita Arona. Pedang itu dulu milik seseorang yang dekat dengannya, namun Arona selalu menolak memberi tahu siapa orang itu atau hubungan mereka.

Saat menyerahkan Totsuka kepada Asihira, Naruto tidak terlalu memikirkan alasan khusus. Dia hanya merasa pedang itu cocok untuk Asihira. Namun, sekarang dia mulai merasa ada alasan lain di baliknya.

"Kekuatannya meningkat secara tidak normal hanya dengan senjata itu. Mungkinkah dia juga bereinkarnasi?"

Naruto menghela napas panjang dan mengalihkan pandangannya. Roda rune di belakangnya kehilangan kilau cemerlangnya, berubah menjadi mahkota kristal biru-merah yang bertengger di kepalanya.

"Apapun itu, ayo selesaikan ini."

Naruto mengepalkan tangan kanannya dan melompat ke atas. Dengan gaya jatuh akibat gravitasi, dia menghantam pelindung stadion dengan pukulannya, menghancurkannya dengan mudah menjadi serpihan kecil.

Deg!

Bersamaan dengan itu, jantung Naruto berhenti berdetak sesaat.

Naruto mendarat dengan mulus di lapangan stadion setelah berhasil menghancurkan penghalang. Matanya menatap kearah bangunan segi delapan berwarna hitam yang berdiri ditengah stadion.

"Mereka semua mati." Bisik Naruto dengan pandangan yang rumit sebelum menghela nafas. Naruto berlari kearah bangunan itu dan masuk kedalamnya dengan mulus. Tanpa ada jebakan atau apapun.

Naruto berhenti berlari saat berada didalam dan melihat bahwa ruangan didalam bangunan ini sangat besar. Melebihi stadion itu sendiri.

Setiap jarak 5 meter terdapat pilar batu hitam yang ditulis dengan rune yang terbuat dari darah manusia. Di lantai juga terdapat alur kecil yang berlumuran darah. Naruto bisa merasakan energi kehidupan yang pernah mengalir di sepanjang alur ini.

{Mereka sudah mati Master. Sebaiknya master membantu Mika dan Asihira. Mereka berdua akan dalam masalah jika melawan [Angra] dalam wujud makhluk hidup.}

Suara Arona terdengar di kepala Naruto dan dibalas Naruto dengan penolakan. "Jangan meremehkan mereka. Lagipula kau pernah berkata Asihira berhubungan dengan diriku dimasa lalu bukan?"

Arona yang mendengarnya terdiam dan berhenti berbicara lagi. Dia terlihat bersalah karena tidak memberitahu detail siapa sebenarnya Asihira. Jelas kepercayaan Naruto kepada Arona menurun karena ini.

"Dia tidak akan selemah itu. Lebih baik kita mencari orang yang selamat walau kemungkinannya kecil. Bagaimanapun aku sudah bilang padanya untuk menyelamatkan yang lain."

Naruto terus berjalan hingga akhirnya menghentikan langkah kakinya ketika melihat sebuah area terbuka dengan sebuah Altar raksasa dengan pilar batu berbentuk balok mengelilinginya.

Ditengah altar terdapat kolam besar darah yang mengering dan terlihat aneh serta menakutkan. Pada bagian tengah kolam terdapat sebuah pecahan kaca berbentuk segi delapan yang memancarkan aura unik.

Di sisi altar yang berlawanan dari Naruto, terdapat singgasana batu raksasa dengan tabung berisi berbagai organ monster.

Naruto melangkah perlahan memasuki area altar. Setiap jarak lima meter, pilar batu hitam berdiri tegak, masing-masing dipenuhi rune bercahaya merah yang tampak ditulis menggunakan darah. Lantai di sekeliling altar memiliki alur kecil yang juga dilumuri darah, memancarkan sisa-sisa energi kehidupan.

"Semua ini untuk ritual..." gumam Naruto pelan, tatapannya tajam namun penuh kesedihan.

{Master, semua orang di sini sudah mati. Mereka digunakan sebagai bahan ritual. Anda harus membantu Mika dan Asihira. Mereka dalam bahaya melawan [Angra] dalam wujud barunya.}

Suara Arona terdengar dalam benaknya. Namun, Naruto menggeleng pelan.

"Jangan remehkan mereka. Aku percaya pada kemampuan mereka," jawab Naruto tenang. "Selain itu, kau pernah berkata bahwa Asihira mungkin berhubungan denganku di masa lalu, bukan?"

Arona terdiam. Ada rasa bersalah dalam diamnya, namun dia memilih untuk tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Naruto melanjutkan, "Dia tidak akan kalah. Lagipula, tugasku sekarang adalah memastikan tidak ada manusia yang selamat tertinggal di sini."

Naruto berjalan lebih dalam, hingga akhirnya berhenti di hadapan altar besar yang dikelilingi delapan pilar batu berbentuk balok. Kolam darah yang mengering terletak di tengah altar, memancarkan aura mengerikan. Di pusat kolam, sebuah pecahan kaca berbentuk segi delapan bersinar dengan energi unik yang memancarkan distorsi ruang dan waktu.

Naruto mendongak, matanya memindai area sekitar. Tidak ada tanda kehidupan. Kecuali di pilar batu.

{Master, benda di tengah altar itu... itu sumber distorsi ruang-waktu!} seru Arona, suaranya terdengar tegas.

Naruto mengangguk ringan, menunjukkan bahwa dia memahami situasi. Tangannya menyentuh salah satu pilar batu, rune biru menyebar dari tangannya, mengalir ke seluruh permukaan balok seperti aliran listrik.

"Terdapat delapan pilar, semuanya dilindungi medan energi khusus. Sepertinya mereka mencoba memurnikan pecahan ini agar bisa digunakan sebagai bagian dari tubuh utama [Angra]. Apa pendapatmu, Arona?"

Arona menjawab dengan nada penuh keyakinan, {Melihat altar ini dan jejak energi yang tersisa, dugaan kita sebelumnya benar. [Angra] berusaha melepaskan diri dari senjata asalnya dengan menciptakan tubuh baru melalui pengorbanan manusia. Tapi... ada yang janggal. Energi sisa di sini belum cukup untuk menyelesaikan ritual itu. Namun, ritual ini sudah berhasil.}

"Jadi, bagaimana menurutmu?" Naruto bertanya lagi sambil memeriksa pilar lainnya. Tangan kanannya menyentuh permukaan pilar, dan rune biru kembali mengalir hingga menutupi seluruh balok batu.

Arona menjawab setelah jeda singkat, {Berdasarkan analisis rune dan fakta bahwa pecahan ini menyebabkan distorsi ruang-waktu, kemungkinan besar [Angra] telah menemukan cara untuk memanfaatkan pecahan senjata tersebut. Namun, pecahan ini terlalu kuat untuk langsung diserap.}

Naruto menyahut, "Benar. Dia membutuhkan tubuh sementara yang memiliki kemampuan khusus untuk melahap energi sebesar ini."

{Jika tubuh itu diperkuat hingga batas tertentu, [Angra] bisa menyatu dengan pecahan senjata menggunakan kemampuan [Devour]. Setelah menyerapnya, dia akan mendapatkan tubuh sejati, kekuatan ruang-waktu, serta kemampuan [Devour] yang lebih kuat.}

"Rencana yang mengerikan jika berhasil." Naruto menghancurkan pilar kedua dengan satu tepukan ringan, membuatnya berubah menjadi butiran debu. Dari atas, sebuah tubuh ringkih jatuh dan diterima oleh Naruto dengan lembut.

"Sayangnya, itu tidak akan berhasil," gumamnya pelan, seraya menatap tubuh manusia yang lemah di pelukannya.

Naruto menurunkan tubuh tersebut dengan hati-hati ke lantai, menuangkan setetes cairan kehidupan dari telapak tangannya ke mulut orang itu.

Bersamaan dengan itu, pecahan di tengah altar mulai bergetar hebat dan sebuah ledakan kekuatan waktu menyebar dari pecahan itu.

Setiap hal yang dilewati kekuatan waktu langsung mengalami percepatan waktu. Membuat setiap benda 'menua' dengan kecepatan yang menakutkan. Tapi Naruto dengan santai menghalangi ledakan kekuatan waktu itu dengan tubuhnya sehingga tubuh ringkih yang dia lindungi tidak terkena dampak apapun.

Kekuatan waktu menghantam tubuhnya dan membuat waktu Naruto dipercepat, mengurangi umurnya secara instan. Tapi sayangnya hal itu tidak berpengaruh apapun pada Naruto yang memiliki umur yang tak terbatas.

"Sayang sekali gerusan kekuatan waktu ini tidak bisa mempercepat pemulihan kekuatanku."

{Master. Indeks kepadatan Dimensi meningkat. Area Kota Suo melebar. Kepadatan materi juga meningkat drastis. Ada indikasi kota Suo akan berubah menjadi dunia cabang.}

"Dimengerti. Bagaimana efeknya bagi dunia luar?"

{Memulai deduksi ulang. Mengumpulkan informasi yang ada. Penyaringan.}

Di dunia bawah sadar Naruto, Arona berdiri tegak dengan berbagai panel transparan berjumlah ratusan disekelilingnya. Matanya bersinar redup dan terlihat pantulan berbagai simbol aneh melintas di pupilnya.

{Mulai penghitungan. Estimasi waktu 2 jam.}

Setelah itu, Arona diam dan tidak mengatakan apapun, tapi setiap layar transparan disekelilingnya selalu berubah. Terkadang bertambah, berkurang, dan tentunya setiap tampilan selalu berubah setiap saat dengan kecepatan gila.

Arona memproses data dan mulai melakukan penghitungan yang membuatnya tidak bisa dihubungi mulai sekarang.

Naruto yang merasakan keadaan Arona tak bisa berkata-kata. Jika selama itu, setidaknya beritahu dia dulu. Sekarang Arona masih sangat dibutuhkan.

"Apakah harus diinterupsi?" pikir Naruto sebentar sebelum akhirnya dia membuang pikirannya. 'Tubuh' Arona sekarang tidak cukup kuat, jika dia melakukan interupsi saat perhitungan data skala besar ini, dampaknya akan buruk.

"Sudahlah. Sekarang tinggal mencari Yuuka dan yang lain."

Naruto menatap kearah sekitar dan melihat dampak ledakan kekuatan waktu. Tanah terlihat menjadi lapuk, setiap pilar dipenuhi retakan dan Rune yang tadinya berkilau hancur. Ruang mulai bergetar pelan dan menyusut.

Sebelumnya ruangan ini lebih luas dari lapangan sepak bola karena dukungan kekuatan pecahan, tapi sekarang ruang mulai kembali normal.

Naruto menggendong tubuh ringkih yang sekarang lebih berisi karena telah disembuhkan dengan cairan kehidupan. Tubuh yang awalnya terlihat seperti tengkorak dengan kulit sekarang menunjukkan wujud aslinya.

Dia adalah Wali Kelas Naruto, [Nanagami Rin].

Naruto berbalik dan menatap kearah pecahan yang melayang di udara dengan aura mengerikan mengelilinginya. Kekuatan ruang dan waktu saling terjalin menjadi pelindungnya.

Naruto menatap ini dengan penuh arti. Mata peraknya bersinar dengan redup, jalinan Rune mulai muncul di depan mata Naruto yang berwarna perak, membuat penglihatannya lebih menakutkan.

"Hampir tidak bisa mencapai [Sha Naqba Imuru]. Tapi ini cukup." Gumam Naruto sambil berjalan menuju pecahan dengan menggendong Rin di pundaknya.

"Astagah sensei. Kenapa pundakmu tidak pegal dengan benda sebesar itu menggantung."

Serika dan Yuuka

Serika dan Yuuka berdiri termenung di atas sebuah platform bundar. Yuuka tampak bermain-main dengan sebuah sabit raksasa berwarna emas-biru, mengayunkannya dengan gerakan yang terlatih seolah sudah berlatih bertahun-tahun.

Di bawah platform, [Binah] menatap sekeliling dalam wujud raksasanya. Di atas kepala [Binah, seorang gadis mungil berusia 18 tahun juga mengawasi situasi.

"Berhentilah bermain-main! Itu senjata [Angra]!" Serika menatap Yuuka dengan wajah penuh amarah.

Jika sesuai rencana, Yuuka, Serika, dan [Binah] akan mencari sumber kekuatan [Angra] dan mengamankan senjata itu. Sementara itu, Naruto, Mika, dan Asihira akan memancing [Angra]. Jika memungkinkan, mereka juga berencana menyelamatkan para sandera yang ditangkap [Angra].

Namun, rencana itu terasa tak masuk akal sekarang.

Senjata yang dicari, mereka temukan tergeletak begitu saja di bawah stadion tanpa penjagaan. Tak ada jebakan atau mekanisme apapun untuk mencegah senjata itu diambil.

Yang lebih aneh lagi, mereka menemukan seorang gadis asing yang duduk di samping senjata, tampak sedang melamun. Pada awalnya, mereka mengira gadis itu adalah musuh, hingga gadis tersebut bertanya tentang adiknya.

Setelah berbicara sebentar, mereka mengetahui gadis itu bernama Igusa Haruka, yang sedang mencari "adik"-nya. Dia menunggu di stadion ini karena seseorang memberitahunya bahwa adiknya akan datang ke sini.

Haruka bahkan bersedia menghancurkan kekuatannya sendiri untuk membuktikan bahwa dia bukan ancaman. Yuuka dan Serika, yang ketakutan melihat kesungguhannya, langsung menghentikan tindakannya. Namun, mereka tetap waspada terhadap niat sebenarnya dari Haruka.

Akhirnya, mereka sepakat membiarkan Haruka menemani mereka, dengan syarat dia harus selalu berada di dekat [Binah].

Yuuka menghentikan gerakan sabit itu dan menghentakkannya ke tanah. "Maaf. Hanya saja aku merasa cocok dengan senjata ini. Selain itu..."

Dia tak melanjutkan kata-katanya, menyalurkan energi ke dalam Scythe. Cahaya emas terpancar dari senjata itu, disertai suara samar seperti nyanyian yang lembut di telinga.

Di kepalanya, Yuuka mendengar sebuah nama: Athares.

"Senjata ini telah dimurnikan. Tidak ada jejak siapapun di dalamnya."

Serika yang melihat tingkah laku Yuuka mengerutkan dahi. Meski Yuuka yakin senjata itu aman, Serika merasa Yuuka terlalu gegabah dan ceroboh dalam menghadapi benda berbahaya seperti itu.

...

Ruang bawah tanah terbentang luas di bawah stadion. Dengan tinggi ruangan mencapai 5 meter dan di tumpu oleh pilar batu yang entah berapa jumlahnya.

Pada bagian tengah, terdapat sebuah batu besar dengan tinggi 2 meter dan permukaan datar selebar 5 meter. Dimana diatasnya terdapat 2 orang gadis yang sedang saling berhadapan dan bersitegang.

"Turunkan senjata itu dan berikan kepada [Binah]. Kalau tidak aku akan membuatmu menyesalinya!"

Serika melotot kearah Yuuka dan membuat Yuuka terlihat kesal. Yuuka terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi pada akhirnya tidak mengatakan apapun dan menancapkan gagang senjata ke tanah.

Serika yang melihat itu menghela nafas lega dan mengaktifkan segel yang diberikan Naruto. Segel Rune berbentuk ular di pergelangan tangan kanannya bersinar dan membuat [Binah] menoleh kearah Serika.

[Binah] segera bergerak dan membuka mulutnya untuk menelan senjata itu. Hal ini membuat Haruka yang ada diatas kepala [Binah] kaget karena gerakannya yang tiba-tiba dan memaksanya melompat turun karena keseimbangannya goyah.

Sreettt

Dang!

Yuuka tiba-tiba mengambil senjata itu. Matanya berubah menjadi emas dan menebas [Binah] sambil meloncat mundur, jatuh dari altar menuju kebawah.

Percikan api menyebar ketika senjata itu mengenai [Binah] tanpa menimbulkan goresan sedikitpun.

"Yuuka!"

Serika yang melihat itu berteriak keras dan menggerakkan giginya. Sementara itu, [Binah] terlihat bingung sesaat karena diserang oleh orang yang Naruto suruh untuk dilindungi.

Tapi itu tidak lama karena Serika segera memberikan perintah lewat segel untuk menangkap Yuuka. [Binah] membuka mulutnya dan menelan Serika.

"Apa yang terjadi?!"

Sementara itu, Haruka terlihat kebingungan dengan kejadian yang begitu tiba-tiba. Sebelum bisa mencerna kejadian yang baru saja terjadi, [Binah] bergerak dengan cepat mengejar Yuuka. Membuat Haruka yang melihatnya langsung merubah ekspresinya dan mengejar [Binah].

"Tunggu aku!" Haruka berteriak dan dari bawah kakinya energi terkonsentrasi dan dikompres sebelum akhirnya meledak, menghasilkan gaya dorong yang cukup kuat untuk mendorong tubuh Haruka kedepan.

Swosshh

Haruka melakukan lompatan depan besar dengan ledakan itu dan terus mengulanginya untuk mengejar [Binah].

"Sudah ku duga. Ada yang aneh setelah Yuuka memegang senjata itu."

Serika terlihat berada di sebuah ruangan gelap dengan deretan layar hologram di depannya yang menampilkan berbagai data dan gambar yang dilihat oleh [Binah].

Dalam pandangannya, Yuuka terlihat membuat jalur kristal biru di tanah dan berseluncur dengan cepat. Sesekali Yuuka mengetukkan senjata itu ke tanah, membuat beberapa rintangan dan serangan dari kristal untuk menghentikan pengejaran [Binah].

Pecahan tajam kristal muncul dari tanah dan langit-langit ruang bawah tanah dan menghantam [Binah]. Tapi sayangnya [Binah] sama sekali tidak tergores dan tidak pula menurun kecepatannya, dipermukaan tubuh [Binah] terlihat perisai energi kuning transparan ang melindunginya dari segala serangan yang datang.

Di belakang [Binah, Haruka terlihat kualahan mengejar keduanya.

"Apa yang terjadi? Perasaan ruangan ini tidak seluas itu!" ucap Haruka karena pengejaran berkecepatan tinggi ini seharusnya membuat keduanya sudah sampai ujung, tapi nyatanya ujungnya tak terlihat sampai sekarang.

...

Naruto melayang di udara dengan pecahan senjata ruang-waktu didepannya. Kedua tangannya terlihat direntangkan seolah akan memeluk pecahan senjata itu. Di pundaknya, Rin terlihat masih tak sadarkan diri dengan tubuh yang tanpa busana.

"Jadi begitu ya. Aku mengerti sekarang. Semuanya hanyalah permainan. Menjengkelkan!"

Mata perak Naruto tertutup perlahan dan dari kehampaan yang gelap, suatu kekuatan menakutkan turun dan menerpa mata perak yang tertutup. Rune hitam tercoreng dengan perlahan dan menutup mata serta sebagian wajah Naruto.

Naruto yang merasakan ini terlihat sedikit tidak puas, tapi terlihat tidak memiliki kekhawatiran akan hal yang terjadi pada salah satu matanya itu.

"Sedikit lebih pendek dari yang aku perkirakan. Tapi tak masalah, sekarang aku hanya harus menyesuaikannya dan mengakhiri ini. Masih ada hal yang aneh menunggu."

Gumam Naruto sambil mengingat peringatan Arona tentang kepadatan materi yang meningkat drastis.

Swoosshhh

Energi ruang dan waktu disekitar pecahan senjata bergejolak hebat dan mencoba menghempaskan Naruto. Tapi Naruto seperti gunung yang tidak bisa dipindahkan, tetap melayang ditempatnya dan tidak bergeser sedikitpun.

"Hmmm, pertempurannya baru saja dimulai." Naruto menyimpitkan satu matanya yang masih tersisa ketika menerima pesan darurat dari [Binah]. Pikirannya bergerak cepat menerima informasi dan menggabungkannya dengan apa yang baru dia dapatkan tadi.

"Sekarang sudah jelas. Apa yang terjadi sebenarnya."

Mahkota di atas kepala Naruto melayang dan kembali berubah menjadi roda Rune. Kekuatan ruang dan waktu yang ada disekitarnya mulai diambil alih oleh Naruto dan dirubah menjadi portal yang langsung dimasukkin oleh roda Rune.

Bersamaan dengan itu, pecahan senjata lolos dari kungkungan Naruto dan menghilang menembus batas ruang menuju tempat yang lain. Naruto yang melihatnya tidak terlihat khawatir karena ini memang akan terjadi karena dia melonggarkan kekangannya untuk membuat portal tadi.

"Huft, harus improvisasi lagi." Naruto menghela nafas karena harus melakukan perencanaan ulang. Berita dari [Binah] membuatnya harus merencanakan ulang apa yang tadi dia pikirkan.

"Ya, sudahlah. Sekarang kita mulai dari yang paling awal dan penting. Pertama-tama kita buatkan dulu Rin-sensei pakaian. Jangan sampai dia berpikir yang tidak-tidak saat bangun."

Naruto turun dan mengangkat Rin diudara menggunakan energinya. Wajah Naruto yang melihat pemandangan indah ini agak memerah dan batuk pelan.

"Ekhm! Fokus! Anggap hanya gambar 2d."

Sambil terus mengucapkan hal itu di hatinya untuk mengurangi rasa malu dan bersalah, Naruto mengeluarkan baju dan kain yang dia 'pinjam' saat perjalanan mencari lokasi [Angra].

Jangan tanya mengapa. Bagaimanapun baju sangat dibutuhkan di saat kiamat sekarang, jadi Naruto sengaja mengambil beberapa saat lewat dan menyimpannya di dalam 'tubuh' Arona.

Naruto berkeringat jatuh. "Tidak ada yang pas. Astagah! Sensei, semua lemakmu terkonsentrasi di dua tempat ini kah? Bagaimana kamu melakukannya?"

Naruto mengeluh dan mau tak mau menggunakan kemampuan [Penguatan] miliknya untuk merekonstruksi pakaian yang ada dan mengubahnya sehingga pas dipakai oleh Rin.

"Nah, selesai. Sekarang materi di sini lebih stabil. Seharusnya aku bisa membuka [Kekosongan yang Tidak Bisa Dipahami] sesaat untuk mempercepat pemulihanku."

Naruto menurunkan Rin dan memunculkan pelindung energi untuk melindunginya.

Naruto yang melihat Rin diselimuti pelindung menghela nafas lega dan berjalan menjauh sedikit. Setelah merasa cukup, Naruto mengangkat tangan kanannya keatas dan seketika sebuah 'lubang' hitam muncul diatasnya dengan ukuran lubang jarum.

Lubang ini menembus berbagai realitas dan dimensi, langsung terhubung dengan [Kehampaan yang Tidak Bisa Dipahami, tempat dimana eksistensi dan non eksistensi tidak berarti, tempat dimana multiverse hanyalah butiran pasir tak berarti.

Energi agung turun dari lubang itu dan masuk kedalam tubuh Naruto. Di kedalaman ruang jiwa Naruto, jiwa raksasa berdiri megah dikelilingi kehampaan tak berujung. Dibelakang jiwa raksasa itu terlihat bola crimson yang menyala redup. Terlihat sangat tidak mencolok.

TBC

Gak tahu mau ngomong apa hehehe. Hal yang bisa saya lakukan hanya lah meminta maaf sebesar-besarnya. Lama banget tidak update, padahal pernah bilang bakal sering saat akhir tahun.

Tapi begitulah, sibuk didunia nyata.

Pokoknya saya sangat mengapresiasi kalian yang masih bersedia membaca cerita membingungkan saya ini.

Chapter depan akan menjadi pertempuran besar dan penjelasan dari semua kebingungan dan teka teki yang ada di chapter sebelumnya.

Itu saja dari saya, mau grind di Aether Gazer dulu.

Jaaaa