Chapter 27
.
.
.
Rook Hunt sungguhan malu. Saat Leona akhirnya menyusul, lelaki itu secara insting mencari keberadaan istrinya, kemudian menangkap sosoknya yang sudah terbalut jaket tipis. Celana pendek itu masih dikenakan—memamerkan paha yang senantiasa menghantui pikiran Leona semenjak kejadian di lapangan memanah waktu itu, tapi bagian atasnya sudah lebih tertutup. Otak nakalnya berteriak kecewa, tapi dengan kesadaran penuh, langsung Leona bungkam menggunakan akal sehat.
Dia belum jadi milikmu seutuhnya, Leona Kingscholar! Di mana kehormatanmu?! seru akal sehatnya berulang kali, sampai ia mampu untuk kembali tenang. Entah karena curiga atau paham dengan kondisinya, Nello segera mengajak Leona untuk membangun tenda. Reeves dan Cesan sempat berdebat ribut ingin membantu, sampai Ibu Hunt memanggil mereka dan memberi mereka tugas yang lain.
"Kebiasaan sekali, mereka itu. Kalau ada Onee-san, pasti habis dikuliti." Leona langsung tahu kalau Nello berusaha mencairkan suasana dengan candaan itu. Namun, bukannya tertawa, ia justru bergidik takut saat Nova harus disebut.
Aku bisa ikut dikuliti kalau dia ada di sini dan melihat apa yang terjadi tadi, pikir Leona spontan. "... Omong-omong, Onee-san tidak ada."
"Ini belum jadwalnya pulang," Nello menjelaskan sambil mempersiapkan rangka tenda. "Dia selalu punya jadwal ketat kapan harus berkelana, kapan harus pulang. Perbandingannya selalu 4/4; empat bulan pergi, empat bulan di rumah. Ini baru masuk bulan ketiga dalam jadwal perjalanannya keluar."
"Tahun baru sekalipun?"
"Tahun baru sekalipun."
Rasa takutnya tadi, seketika digantikan rasa iri dengan privilege yang kakak iparnya itu punya. Dulu, saat masih di NRC, setiap masuk liburan panjang seperti sekarang, sudah jadi agenda rutin bagi keluarganya untuk menelepon tanpa henti—memintanya segera pulang. Tak peduli alasannya apa, Leona harus pulang. Sedangkan, lihat apa yang kakak ipar menyeramkannya itu rasakan. Tidak perlu pulang saat masa liburan dan keluarganya tidak ada yang memaksa. Oh, andai nasibnya dulu bisa seberuntung itu.
"Dia hanya kembali kalau dia rasa perlu," Nello meneruskan ceritanya. "Kemarin dia kembali ke Sunset Savanna, masuk rumah sebentar, mengambil alat gambar Rook, kemudian menemuimu dan keluargamu, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Seperti itulah kehidupannya."
"..." Kembali kalau dirasa perlu. Apa "perbincangan" dengan Leona kemarin itu ia rasa perlu? Oh, tidak. Bulu-bulu di sekitar lehernya berdiri lagi. "Sungguh ... wanita yang unik."
"That's Nova Hunt for you. Datang dan pergi sesuka hati." Di sela cerita dan pemasangan tenda yang mereka lakukan, Nello tersenyum. "Tapi itu yang sudah diimpi-impikannya sejak lama. Berkeliling dunia, bertemu banyak orang, menjalin relasi seluas mungkin, menulis blog dengan cerita-cerita baru. Bagiku yang nyaris mustahil untuk pergi ke tempat-tempat jauh, mendengar setiap kisah dan pengalaman yang dia bagikan setiap dia pulang, itu sudah cukup membuatku merasa bepergian dengannya. Aku senang melihat kakakku senang."
"..." Leona hanya diam mendengarkan. Dari caranya bercerita, sudah lebih dari cukup untuk membuat Leona paham kalau anak kedua keluarga Hunt ini sangat mengagumi kakak perempuannya.
"Rook juga begitu, sebenarnya."
"Eh?"
Tenda untuk para pria sudah selesai dibangun, kini Nello—masih dibantu Leona—mempersiapkan tenda kedua untuk para wanita. "Energinya dengan Nova Onee-san itu sama. Sejak Rook kecil, dia paling dekat dengan Onee-san. Jadi, bisa dibilang, apa yang disuka Onee-san kemudian disukai Rook juga. Dia berniat untuk ikut bepergian dengan Onee-san kalau sudah selesai dengan studi lanjutannya pasca lulus dari NRC. Tapi, karena sekarang dia sedang 'membantumu,' aku tidak tahu apa rencananya masih sama atau tidak."
"..."
Oh. Not again.
.
.
.
"Nee-chan, bisa berdiri di tengah?"
"Hah! Kenapa kau meminta Nee-chan begitu? Tidak mau sebelahan denganku?"
"Memangnya kau sendiri mau?"
"Tentu tidak."
"Ya sudah, diam saja."
"Cesan, lanjut potong sayurannya, dan Reeves, jangan lupa pada dagingnya." Rook menghela nafas, mencoba sabar ketika tiba-tiba diberi tugas untuk mengawasi si kembar. Benar, ini bukan lagi menyiapkan bahan barbeque—sesuai rencana awal mereka untuk acara berkemah, tapi lebih seperti jadi "penanggung jawab" agar tidak terjadi pertumpahan darah yang tak diinginkan.
Rook melirik tiga orang lainnya yang sibuk di pinggir sungai. Ibunya adalah pemancing handal, tapi tidak dengan sang ayah. Beliau baru akhir-akhir ini penasaran ingin mencoba memancing (setidaknya itu yang ia dengar dari ibunya). Setelah mencoba sekali seminggu lalu, setiap hari ada saja alasannya untuk pergi ke danau, sungai, hingga oasis untuk memancing. Ibu Hunt akan selalu mendampingi, sekalipun tidak ikut memancing. Alasannya jelas: supaya tidak ada kejadian tak mengenakkan menimpa alat pancingnya. Sementara Colette, entah mengapa memilih bersama orang tuanya ketimbang membantu Ruu Nee tersayang dalam menangani duo Reeves-Cesan yang hampir setiap saat selalu ada bahan untuk adu mulut.
Bahkan anak semanis Colette bisa lelah, ya. Bisa dipahami, batinnya. Meski begitu, Rook tak punya pilihan selain menerima nasib. Kasihan adiknya, semenjak ia pindah ke kediaman Kingscholar, tak ada lagi yang membantu menghalau si kembar setiap mereka bertengkar. Ibu dan ayahnya tidak bisa selamanya ada di rumah karena pekerjaan. Sementara Nello ... kemungkinan besar menolak membantu kalau tidak diminta (dengan paksaan).
"Nee-chan! Reeves sudah menusuk sayur dan dagingnya!"
"Ini biar cepat! Kalau aku fokus memotong daging doang tanpa menyicil menusuknya, kita bisa mati kelaparan!"
"Tapi semua harus dipotong dulu biar rapi!"
"Ah, cerewet!"
"Aku hanya mengatakan apa yang Kaa-san—"
"Reeves, kembali ke dagingmu, ya? Biar yang tusuk-menusuk, Nee-chan yang urus. Lalu, Cesan, terus potong sayurnya dan berikan pada Nee-chan." Rook memberi senyuman terbaiknya pada kedua adik laki-lakinya, hingga mereka mengerut dan menurut. "Terima kasih."
Tak ada lagi pembicaraan antar ketiganya selama sekitar satu menit, sampai Reeves mengepalai, "Nee-chan, apa Leona-san sering berlatih Magical Shift di rumahnya?"
"Huh?"
"Oh! Atau mungkin Catch the Tail? Dia sangat jago dan keren, aku jadi penasaran bagaimana caranya berlatih," imbuh Cesan yang jadi bersemangat.
"..." Rook hanya bisa diam dan mengedipkan matanya dua kali, sampai akhirnya tertawa ringan. "Kalian pikir dia serajin itu?"
"Memangnya tidak?" balas Reeves dan Cesan bersamaan, mengundang tawa Rook untuk lebih menggelegar.
"Kalian tidak akan percaya kalau sudah lihat sendiri." Jawaban kakaknya malah membuat si kembar saling pandang keheranan. "Tapi, yah, tidak bisa dipungkiri kalau dia memang sangat berbakat. Dia pantas mendapat kekaguman kalian. Setidaknya itu yang bisa kubagi."
Reeves memasang muka masam. "Tidak percaya. Mana mungkin orang seberbakat Leona-san malas berlatih." Ia langsung tahu maksud dari jawaban tak langsung yang kakaknya tadi beri. "Keberadaan orang berbakat tanpa latihan itu memang ada, tapi untuk orang yang selalu berapi-api setiap pertandingan, tidak mungkin malas latihan."
"Aku tidak ingin mengakuinya, tapi kali ini aku setuju dengan Reeves," timpal Cesan. Potongan sayurnya baru saja selesai. "Leona-san itu selalu terlihat keren di televisi. Leadership yang dia perlihatkan, kemudian caranya mengoper dan menangkap disk di pertandingan Magift ... semuanya mengagumkan! Itu tidak akan bisa didapatkan hanya dari bakat."
Rook tersenyum ramah. "Berapa usia kalian, sih?"
"Hah? Kenapa tiba-tiba?" Reeves menyodorkan piring dagingnya. Ia juga sudah selesai memotong. "... Tujuh belas."
"Aku enam belas."
"Tapi masih naif, ya."
"APA?!" keduanya berseru bersamaan, dan itu kembali memancing tawa Rook untuk kembali.
"Yah, namanya juga jiwa muda," lanjut Rook begitu selesai dengan tawanya. "Semuanya tidak salah, kok. Leona-kun masih akan latihan setiap mau ada pertandingan. Dia bukan tipe yang mengabaikan kewajiban seperti itu, apalagi dia ketua klubnya semasa sekolah. Hanya saja ... yah, bisa dibilang semua tidak seindah yang kalian bayangkan."
Mengabaikan tatapan kebingungan dua adiknya, Rook memasukkan potongan sayur dan daging ke tusukan besi sambil melayangkan pikirannya jauh dari tempat ia berpijak sekarang. Mengulang apa yang barusan mulutnya ucapkan, terdengar sangat tidak bisa dipercaya itu berasal dari Rook Hunt. Tidak biasanya ia terdengar realistis seperti itu. Kalau dirinya yang biasa, mungkin akan berusaha menyanjung-nyanjung Leona dan "meminta" adik-adiknya untuk terus memuji sang suami. Namun, hatinya tadi seakan tidak ingin "berbohong" untuk sesaat.
"Oh? Kalian sedikit lagi juga mau selesai?" Suara kakaknya menarik Rook kembali ke tanah pijakan. Saat ia berbalik untuk melihat orang yang bicara, pandangannya justru jatuh pada paras tampan suaminya. Mungkin itu yang disebut refleks.
"Ya, tinggal ditusuk saja, lalu kita siap." Kepalanya beralih sejenak pada tiga orang yang masih sibuk sendiri di pinggir sungai. "... Itu kalau mereka sudah selesai memburu para ikan," tambah Rook lagi.
"Mereka itu kenapa selalu ..." Nello menggelengkan kepala, suaranya terdengar lelah saat meneruskan, "Aku ke sana dan bantu mereka, kalau begitu. Leona, kau di sini saja, temani Rook."
"Wah!?"
"Akhirnya Leona-san?!"
Seketika Nello ingin menarik kembali ucapannya, tapi Rook memberi tatapan yang seolah mengatakan, "Tidak apa, ada aku." Akhirnya, dengan sedikit berat hati, Nello meninggalkan Leona pada Tim Rook untuk membantu—atau lebih tepatnya mempercepat—kegiatan orang tuanya yang masih senang main air.
Leona sedikit merapat ke Rook saat menyadari mata dua pasang mata berbinar menatapnya dari jarak dekat. "Mereka sungguhan menyukaiku," bisiknya, membuat Rook harus menahan gemetar.
Rook terbatuk sebelum bicara, "Reeves, Cesan, Leona-kun. Berkenan bantu aku menusuk sayuran dan dagingnya?"
Apabila ini kondisi biasa, Reeves dan Cesan pasti akan melancarkan protes karena merasa tugasnya sudah selesai. Namun, karena nama Leona ikut disebut, seketika keduanya bersemangat ingin membantu. Tak diragukan lagi, keduanya ingin terlihat "berguna" di mata sang pangeran.
"..." Tapi, tidak hanya si kembar yang tidak mengajukan tuntutan, Leona, secara mengejutkan, juga tutup mulut. Rook bahkan baru sadar kalau mata suaminya seolah berusaha menghindar darinya.
Apa ada sesuatu yang terjadi? Memang, keluarganya belum tahu menahu soal kedekatan keduanya yang makin lengket (tidak seperti lingkungan Kingscholar yang seperti sudah merasa itu adalah hal biasa dalam keseharian). Dan, tidak seperti yang dikhawatirkannya sebelum berangkat ke mari, Leona "dengan patuh" mematikan saklarnya dan tidak melancarkan macam-macam tindakan yang mampu mengundang pertanyaan. Namun, tentu saja, saklar itu tidak seharusnya sampai mematikan jalur komunikasi mereka.
Rook akhirnya melirik kakaknya yang masih sibuk membujuk orang tuanya—terutama sang ayah—untuk segera fokus pada kegiatan utama mereka—barbeque. Entah bagaimana ia langsung curiga ini ada kaitannya dengan si abang.
"Leona-san ternyata tidak takut kotor, ya."
"Kupikir bangsawan tidak terbiasa memasak."
Rasa penasarannya dibuang sesaat, dan perhatiannya kembali pada kelompok kecilnya. Entah sejak kapan, Reeves sudah berada di antaranya dan Leona, sementara Cesan berada di sisi lain dari Leona. Mereka berdua benar-benar mengapit sang pangeran supaya tidak bisa lagi lari.
Leona, mencoba tetap sabar dan santai, meneruskan kegiatan menusukkan sayur dan daging ke tusukan besi seraya menjawab, "Di sekolah kalian tidak ada pelajaran memasak, kah? NRC saja ada."
"Memangnya ada?" Kepala Reeves langsung menoleh ke arah kakaknya di samping.
Rook tersenyum. "Ada, tapi lebih seperti pekan memasak, bukan kelas memasak yang rutin dilakukan setiap berapa hari seminggu. Tujuannya hanya agar anak-anak bisa membuat makanannya sendiri, meskipun itu yang simpel."
"Itu kunci agar jadi mandiri," sambung Leona, menyelesaikan tusukannya yang ketiga. "Di rumah bagaimana? Kalian tidak masak?"
"Leona-kun, yakin tanya itu?"
Akhirnya Leona melihat Rook, walau sebatas lirikan tajam yang singkat. "Tidak jadi, kutarik ucapanku. Aku memang tidak berhak tanya itu di saat aku tidak pernah masak di rumah karena sudah ada banyak juru masak yang melayani."
Rook memutar bola matanya, mencoba bercanda dengan memberi kesan malas menanggapi. "Ya, ya. Terserah."
"Nee-chan ternyata tidak sopan pada pangeran sendiri, ya," tegur Cesan dengan nada tidak senang.
"Dia memang begitu. Biarkan saja, nanti juga cepat keriput." Bisikan Leona tentunya bisa didengar semua orang dalam kelompok. Rook langsung mengambil sepotong wortel mentah dan menjejalkannya ke mulut Leona. Ia kemudian melangkah pergi dengan kaki yang sedikit dihentak-hentak.
Reeves dan Cesan mulai berisik dengan perdebatan mereka sendiri tentang kenapa kakaknya bisa bertingkah seperti itu, sementara Rook menutup telinga dan fokus menyiapkan alat bakar tepat di belakang kelompok tersebut. Tak lama setelah berceloteh dan kegiatan menusuknya selesai, si kembar segera beralih membantu kakak perempuannya yang masih memasang wajah masam.
Tidak langsung bergabung, Leona tampak diam dengan dirinya sendiri di dekat meja. Pikirannya seperti melayang ke suatu tempat, sampai tidak sadar Rook tengah memperhatikannya sembari menyalakan arang. Tadi mereka sudah bisa bercanda lagi, tapi sekarang Leona seolah kembali terganggu akan sesuatu.
Ada apa sebenarnya?
.
.
.
"ASTAGA! Ikannya masih sisa!"
"Makanya tadi kubilang jangan mancing banyak-banyak, kan? Sekarang kau bahkan tidak habis seekor—satenya juga masih banyak." Ibu Hunt memukul-mukul paha suaminya yang merebahkan tubuh begitu saja di atas tanah. "Bangun! Jangan beri contoh tidak baik di depan anak-anakmu."
"Aku tidak akan mengikuti Tou-san, Kaa-san. Aku tahu itu tidak baik." Orang-orang kompak mengeluarkan suara pfft mendengar ucapan polos Colette.
Ayah Hunt berguling ke samping kanan, memunggungi istrinya dan lebih memilih memperhatikan menantunya yang berusaha menghabiskan birnya sambil menahan tawa. "Tidur setelah makan hasil buruan itu yang terbaik. Kan, Leona-kun?" Ia meminta validasinya, melipat tangan untuk menopang kepalanya sendiri. "Singa kalau sudah kenyang biasanya malas-malasan. Aku juga suka malas-malasan setelah makan."
"Kau mulai melantur, Tou-san." Nello akhirnya ikut menegur. Ia yang duduk di sisi lain Leona entah kenapa merasa terganggu dengan tingkah sang ayah. "Mending susul Cesan dan Reeves sana, mandi bareng atau apa kek. Kau kalau sudah mabuk sungguh menyebalkan."
"Namanya juga ayahmu," timpal sang ibu, sedikit ketus. "Sayang, mandi bareng sama aku, mau?" Kata-kata itu akhirnya keluar dengan penekanan di kata sayang, menandakan helaian tisu telah mengambil wujud atas kesabarannya.
Bimbang antara takut dan senang, kepala keluarga Hunt yang sebentar lagi kalah sepenuhnya pada efek alkohol akhirnya bangkit. Tubuhnya nyaris limbung akibat gerakan bangunnya yang agak terburu-buru. Sementara itu, masih dengan santai, sang istri menyangganya untuk berdiri, lalu mulai berjalan perlahan sambil memeluk pinggang sang suami agar tidak benar-benar jatuh.
"Kalau Cesan dan Reeves sudah selesai, sebagian dari kalian gantian mandi, ya," pesan Ibu Hunt sebelum melanjutkan perjalanan ke vila. Meskipun mereka berkemah di pinggir sungai, tidak langsung berarti semua kegiatan akan dilakukan di sungai. Untuk menjaga area kemah dari serangan hewan liar atau hal lain yang tak diinginkan, semua sepakat untuk bergiliran mandi.
Dengan si kembar Reeves-Cesan yang belum kembali, lalu orang tua Hunt yang baru saja menyusul, kini tersisa Rook, Leona, Nello dan Colette, duduk anteng di tempat masing-masing tanpa beranjak.
Leona, sudah sempat lupa pada percakapannya dengan Nello sore tadi (kekuatan alkohol dan daya mengobrol ayah mertua memang tiada tanding), kembali mengingatnya setelah tak ada kebisingan di sekeliling. Belum lagi gerakan tukar pandang yang beberapa kali terjadi saat Rook tertangkap basah sedang memperhatikannya.
"Tapi, karena sekarang dia sedang 'membantumu,' aku tidak tahu apa rencananya masih sama atau tidak."
Tidak seharusnya Leona memikirkan ini lagi karena apa pun yang terjadi, itu sudah atas keputusan dan persetujuan kedua belah pihak. Keberadaannya di sini yang teramat diterima oleh keluarga Rook, juga menjadi bukti kalau semuanya baik-baik saja. Akan tetapi, masih ada rasa bersalah setiap kali Leona diingatkan pada masa depan Rook.
Gadis itu punya kehidupannya sendiri. Ada banyak mimpi yang menagih untuk dicapai dan kesempatan yang silih berganti minta dijajal. Rook Hunt pasti sudah mengikuti ujian masuk suatu perguruan tinggi, berteriak bahagia ketika diterima, belajar ilmu-ilmu baru di kelas, jalan-jalan bersama teman-teman baru, bersiap menghadapi kelulusan, kemudian memikirkan apa yang ingin dilakukan berikutnya sambil keliling dunia bersama kakak tercinta.
Itu yang sudah pasti terjadi kalau dia tidak menikah dengan Leona. Menikah hanya untuk membayar "utang" pada mendiang Ratu Sunset Savanna. Buruknya lagi, menikah dengan laki-laki yang bahkan masih tidak yakin akan perasaannya sendiri.
Leona hampir melupakan kenyataan itu semenjak ia meyakinkan diri untuk mencoba serius dengan Rook. Dengan memikirkan tujuannya ini, mungkin terdengar baik karena ia akhirnya akan punya jawaban dan keputusan ke depannya mau apa. Meski demikian, bukankah itu lebih seperti Leona yang terlalu fokus pada dirinya sendiri? Katakanlah ia mulai menyukai Rook, makanya ia memutuskan untuk mencoba serius. Tapi bukannya itu malah tidak memikirkan perasaan Rook?
Apa yang dia inginkan? Apa yang dia rasakan terhadap Leona? Yakin Rook tidak masalah dengan hubungan yang tiba-tiba ini? Bagaimana kalau dia mendambakan kebebasan? Bukankah memang itu rencana awalnya?
Ini semua hanya kontrak yang bersifat sementara dan Rook Hunt berhak mendapatkan kebebasannya kembali.
Sial. Leona memeluk kedua kakinya, membenamkan wajah menyedihkannya di sana. Efek alkohol mulai terasa kian kuat, memenuhi kepalanya dengan pemikiran-pemikiran aneh nan menyebalkan.
"Leona-kun."
Telinga berbulu itu bergerak. Suara kesukaannya memanggil, melambungkan apa pun itu yang ada di dalam dadanya sekarang. Apa ini masih efek alkohol? Well, apa peduli Leona? Mau itu alkohol atau bukan, yang jelas adalah ia suka ketika namanya dipanggil dengan suara itu.
"Leona-kun, kau baik-baik saja?" tanya Rook begitu Leona mengangkat kepalanya. Kedua pipinya berwarna kemerahan. "Tou-san kalau minum memang kuat banget dan suka mengajak siapa pun yang menarik perhatiannya untuk ikut minum. Tapi kupikir kau tidak lemah dengan alkohol?" Rook mencubit ujung telinga Leona—hanya sebentar karena masih ada kakak dan adiknya di dekat mereka. "Yang memarahiku dan melarangku minum kau sendiri, jadi kupikir kau tidak mungkin selemah diriku."
"... Sudah ceramahnya?" Akhirnya sang pangeran bersuara. Namun di detik berikutnya, ia kembali diam. Ada suara purr lemah terdengar dari celah bibirnya yang terbuka kecil.
"Makanya tadi kubilang untuk tidak meladeni Tou-san." Nello menghampiri pasangan tersebut dan duduk di dekat mereka. Colette dengan anteng mengambil duduk di pangkuan sang abang. "Dia itu orang gila tukang minum. Aku saja kapok."
Rook tertawa. "Padahal Nello Nii-san itu termasuk kuat, ya. Kau selalu bisa mengimbangi Tou-san."
"Yah, surprisingly ..." Nello menggelengkan kepala. "Antara sudah 'bakat' atau justru karena 'training' yang dilakukan Tou-san tiap bonus gajinya cair. Mentang-mentang cuma aku yang bisa diajak minum di rumah."
"Tou-san suka mengoceh aneh kalau sudah mabuk." Colette kembali dengan komentar polosnya yang terdengar dewasa. Mata cerah gadis itu bertemu cahaya lemah Leona yang semakin redup. "Leo Nii bagaimana? Suka mengoceh aneh juga?"
"... Grrr." Sang pangeran hanya menjawab dengan suara purr lemah. Kepalanya mulai membayangkan kalau Colette ini cerminan masa kecil dari Rook. Lucunya, ia membatin.
Rook kembali mencubit ujung telinganya, yang mana memancing Colette untuk melakukan hal yang sama. Gadis kecil itu justru memberi elusan menyenangkan seperti yang sering Rook lakukan.
"Grrr ... rrruf ..." Suara purr semakin jelas, hampir membuat Rook berteriak karena gemas.
"..." Sementara Nello hanya bisa diam dengan tatapan serba tahu melihat adegan di hadapannya, hingga tak sampai semenit kemudian, suara gaduh yang biasa duo Reeves-Cesan ciptakan terdengar dari dalam hutan. "Mereka sudah kembali." Nello mengangkat Colette dalam gendongannya, lalu meraih tas mandi yang sudah berisi peralatan mandi milik keduanya. "Colette mandi sama Nello Nii dulu, ya? Ruu Nee harus menemani Leo Nii yang mabuk."
Tatapan serba tahu itu akhirnya disadari Rook, membuat gadis itu harus terbatuk jaim untuk menolak rasa malu yang hampir datang. "... Ah, besok gantian sama aku. Ya, Colette?"
Colette melihat Rook, kemudian Nello, kemudian kembali ke Rook dan akhirnya mengangguk. "Oke." Tangan kecilnya melambai, menyerahkan diri sepenuhnya di tangan sang abang. Baru berapa langkah berjalan, Reeves dan Cesan memunculkan batang hidungnya. Mereka tampak bicara sesaat dengan Nello, lalu berlari menghampiri Leona dan Rook.
"Leona-san! Kau baik saja?!"
"Ada yang dibutuhkan?! Air mungkin?!"
"Atau justru ingin titip pukulan di punggung Tou-san?!"
"Cesan, kalau kau sampai begitu, aku yang pukul kau," tegur Rook dengan muka yang dibuat serius. Keduanya langsung diam, memberi Rook kesempatan untuk bicara, "Reeves, kau ambilkan airnya. Jangan yang terlalu dingin—ingat, ya, jangan terlalu dingin. Lalu Cesan, kau ambilkan tasku dan Leona-kun. Kau tahu, kan, yang mana? Bawa dua-duanya."
Karena masing-masing sudah dapat "tugas penting," tak ada lagi perdebatan di antara keduanya. Langsung mereka jalani tugas-tugas itu, sementara Rook bernafas lega karena akhirnya ia bisa berdua saja dengan Leona—walau sebentar.
Tanpa pikir panjang, Rook memanfaatkan waktu mereka yang mepet dan memberi Leona elusan lembut di sekitar dagu, lalu turun sedikit ke leher. Suara purr menggemaskan itu kembali terdengar, dan Rook harus mati-matian menahan teriakannya.
"Rook ... rrr ..."
"Ya?" Rook akhirnya menjauhkan tangan ketika bayangan Reeves mulai terlihat. "Pusing, kah? Atau mual?"
"..." Kepala pangeran itu menggeleng lemah, sebelum terantuk pelan ke depan. Wajahnya menyamping supaya ia bisa melihat Rook dan pipinya yang memerah tipis. Ia diam, tidak bicara lagi, terus memperhatikan Rook yang pupilnya kembali menarik perhatian.
Oh, ya. Pupilnya bisa membesar.
Mereka terus berpandangan dalam diam, sampai Reeves kembali ke tempat mereka dengan sebotol air yang Rook minta. Rook memutus tatapannya dengan Leona—berganti ke adik laki-lakinya untuk menerima air, dan saat itulah Leona menyadarinya.
Pupil Rook tidak membesar saat melihat Reeves.
Gadis pemburu itu membukakan botol airnya, menyerahkan pada Leona yang masih diam. Dan saat itu pula lah, Leona menyadari hal lainnya.
Pupil Rook membesar saat melihatnya.
"..."
"Leona-kun?"
"..."
Memangnya bisa begitu?
.
.
.
Next: Chapter 28
