Jika kau bertanya-tanya, kenapa sepertinya sulit sekali untuk seorang Leona Kingscholar mengungkapkan perasaannya? Menyatakan cinta? Maka, kebetulan sekali, karena orangnya juga menanyakan hal yang sama. Persis.
Sifat seseorang saat sudah dewasa adalah hasil dari yang ia dapat selama jadi anak-anak. Jika coba dianalogikan seperti itu, maka alasannya mungkin dari kondisi lingkungan tumbuh besarnya sedari masa tersebut.
Leona tidak lahir dengan sifat yang ia miliki sekarang. Ia adalah anak yang tidak bisa diam, senang bicara, penuh rasa ingin tahu dan sedikit nakal. Ia hanya anak yang penuh energi, sama seperti anak-anak "pada umumnya." Akan tetapi, perlakuan dunia yang dirasa tidak adil padanya, selalu mengagungkan kakaknya dan mengabaikan dirinya, dan semakin buruk ketika ia dapat unique magic yang dianggap berbahaya, semua perlahan mengubahnya jadi seperti sekarang. Dan itu berakibat pada Leona yang semakin asing dengan sesuatu bernama "cinta."
Ia membenci lingkungannya? Iya. Ia membenci keluarganya? Iya juga. Ia membenci kehidupannya? Bisa jadi iya juga.
Tapi apa ia mencintai lingkungannya—negaranya? Ya. Mencintai keluarganya? Iya juga. Mencintai kehidupannya yang mulai menghasilkan banyak pengalaman dan kenangan tak terlupakan? Bisa jadi iya juga.
Hanya saja, karena ia tidak terbiasa dengan perasaan yang "membahagiakan" itu, yang selalu ia ungkap pada dunia hanya kebenciannya, bukan cintanya. Leona tidak tahu bagaimana caranya mengungkap cinta pada dunia dengan baik dan benar. Tak peduli sebesar apa rasa ingin tahunya, ia akan selalu gagal mengetahui yang satu ini.
Sebagian besar orang, terutama keluarga dan teman-teman terdekat, mungkin sudah terbiasa dengan sikapnya dan sedikit-sedikit bisa menangkap "sinyal cinta" yang tubuhnya pancarkan secara insting. Akan tetapi, tidak semua orang bisa menangkapnya dengan baik, dan tidak setiap saat pula sinyal itu memancar tanpa gangguan. Pada akhirnya semua kembali pada Leona sebagai pemegang kendali: apakah ia bisa bebas mengungkapkan "cintanya" pada dunia, atau tidak.
Dan itu yang menjadi tantangannya sekarang. Kalau Leona memang ingin Rook untuk selalu bersamanya, maka ia harus meyakinkan Rook bahwa ia "mencintainya." Namun, boro-boro meyakinkan Rook, ia meyakinkan dirinya sendiri saja belum bisa.
Di satu sisi ia ingin bersama Rook, tapi di sisi lain ia tidak tahu atas dasar apa Rook harus mau menemaninya. Keragu-raguan membingungkan ini yang akhirnya berujung Rook tidak ingin menyapanya sejak bangun tidur. "Kedekatan" yang terjadi di antara mereka kemarin malam bahkan tidak membuat keduanya merasa malu atau salah tingkah sedikit pun.
Aku harap dia tidak marah ...
"Here's your bow, Your Highness."
Leona bahkan sampai harus terjebak satu kelompok dengan kakak iparnya dalam kegiatan berburu pagi ini—atau subuh ini. Adiknya yang cantik itu lebih memilih si bungsu sebagai pasangan berburunya dibanding suaminya sendiri.
Setelah menatap dalam diam busur yang disodorkan, Leona menerima busur tersebut. Meski sudah melihatnya sejak mereka baru bersiap-siap setelah bangun tidur, rasanya agak sulit dipercaya karena Nello tampak "berbeda." Ia terlihat lebih berani, lebih seperti pemburu yang bisa diandalkan, bukan lagi hikkikomori menyedihkan tanpa masa depan.
Bahkan seorang macam Nello Hunt saja masih bisa mengungkapkan "cintanya" pada dunia (maksudnya bisa berekspresi dengan baik). Kenapa rasanya Leona seperti ditinggal dalam gelap sendirian?
Agak kesal karena pikirannya sendiri, Leona mendecakkan lidah. Nello menaikkan satu alis mendengar itu. "Hei, mood-mu dari bangun tidur sepertinya jelek terus. Mau nyemil sesuatu? Aku bawa beef jerky."
"Tidak, terima kasih." Leona mencoba menyibukkan diri dengan busur di tangan. Busur itu tidak perlu lagi disesuaikan karena sudah sangat prima, tapi ia melakukannya untuk menghabiskan waktu.
Yang benar saja. Berburu dengan kondisi batin berantakan bak ditiup angin puting beliung seperti sekarang ini bukan ide yang bagus. Anak panah yang ia lepaskan bisa menyasar siapa saja, bukan lagi apa saja. Namun kalau ia menyatakan mundur sekarang, rasanya jadi tidak enak dengan keluarga Hunt secara keseluruhan. Bangsawan sepertinya tidak boleh terlihat lemah dan tak berdaya di hadapan salah satu rakyatnya—apalagi yang punya pengaruh cukup besar di seluruh negeri.
Satu sentilan Leona tinggalkan di dahinya sendiri. Aksinya ini tentu menarik perhatian Nello karena terjadi secara tiba-tiba. Namun, tidak sampai sang kakak ipar bertanya, seseorang di bawah tampak mendekat dan melambai ke arah mereka yang sejak setengah jam lalu nangkring di atas pohon. "Nii-san, panahmu sudah cukup?" Itu Reeves, bersama Cesan yang ternyata mengekor di belakang.
Nello mengangkat tempat panahnya. "Lebih dari cukup." Ia kemudian menunjuk milik Leona. "Punya Leona juga cukup."
"Baiklah." Reeves bertukar pandang dengan Cesan sebentar, kemudian secara bersamaan mengangkat kedua tangan ke atas.
"SEMANGAT, LEONA-SAN!" ujar keduanya bersamaan dengan suara menggelegar. Di tengah hutan yang masih gelap begini, suara mereka sudah dipastikan terdengar sampai beberapa kilometer ke depan.
"Hei! Jangan tiba-tiba teriak begitu!"
"Kau sendiri teriak." Leona masih menahan kupingnya untuk tidak berdiri saat ia membalas, "Terima kasih, bocah kembar. Kembalilah ke pos kalian."
Secara mengejutkan, dikatai "kembar" oleh Leona tidak membuat baik Reeves maupun Cesan marah. Keduanya justru senang, saking senangnya sampai berlari sambil bergandengan tangan, kembali ke pos jaga mereka sendiri.
Nello memasang tampang jijik melihat adegan itu. "... Tunggu sebentar, berapa usia mereka? 17 dan 16, kan? Kenapa bergandengan tangan begitu?"
Setelah badmood yang melanda sejak bangun tidur, Leona akhirnya bisa tertawa. Tidak sempurna, tapi tampaknya semangatnya sudah kembali. "Mantra" yang diucapkan anak-anak itu ternyata cukup manjur.
Nello ikut tersenyum mengetahui kondisi timnya membaik. "Aturan perburuan ala keluarga Hunt simpel: siapa pun yang sudah dapat hewan buruan, maka kembali ke pos masing-masing dan menembakkan suar, sebagai tanda telah menyelesaikan misi. Siapa yang menembakkan suar pertama kali, maka tim itu juaranya."
"Dan meski sudah keduluan, tim lain harus tetap melanjutkan dan menyelesaikan misi. Kalah tidak menjadi alasan menghentikan menembakkan suar. Aku sudah paham, Onii-san." Leona melengkapi peraturan yang sebenarnya sudah dibacakan oleh kepala keluarga Hunt sebelum mereka menyebar ke titik-titik yang ditentukan sebagai pos.
Nello menganggukkan kepala, merasa puas. Melihat cahaya matahari yang sedikit demi sedikit muncul dari timur, ia langsung mengistirahatkan bendera tim dan penembak suar di pohon yang dahannya sedang mereka duduki saat ini. "Pohon adalah tempat favoritku untuk jadi pos sejak dulu karena tembakan suarnya bisa sangat tinggi—rasanya seperti pamer. Sepertinya tanganku yang dibuat menarik undiannya tadi sedang wangy." Kosakata asing yang, sialnya, kembali mengingatkan Leona pada lobak biru itu.
"Onii-san, kalau kau ternyata berteman dengan putra sulung Shroud, aku tidak akan kaget."
"Eh?"
"... Nevermind." Leona berdiri, menyampirkan tempat anak panah di pundak, sambil sekali lagi mengetes kekuatan busurnya. "Hewan apa yang mau kita buru tadi?"
"Babi, rusa, atau kijang. Pemula biasanya akan mengincar hewan-hewan ini karena tidak perlu effort lebih. Tapi aku ingin piton atau buaya kalau ketemu." Nello ikut berdiri, meregangkan sebagian otot tangannya yang agak kaku. Senyum di wajahnya berubah menjadi senyum penuh semangat berburu, mirip dengan yang dimiliki adik perempuannya. "Harus kuakui, aku tidak setara denan Kaa-san yang seorang pemburu terbaik di keluarga, atau bahkan Rook yang sekarang telah mengunggulinya. Tapi aku tetap percaya diri pada kemampuanku. Pernah duduk di punggung buaya untuk melumpuhkannya? Karena aku pernah dan aku ketagihan," ia mengakhiri kisah singkatnya dengan menjilat bibir.
Merinding sekujur badan. Leona merasakannya. Ya, ini merinding yang sama dengan yang pernah ia dapat setiap mendengar kisah perburuan Rook. Keluarga ini benar-benar bahaya luar dalam, bahkan untuk yang paling pendiam sekalipun.
"Kau tidak takut, kan, Yang Mulia?"
Panggilannya itu terdengar seperti ejekan. Leona mendengus. "Akan kupastikan kau tidak ditabok ekornya, atau buruknya kehilangan tangan di dalam rahangnya."
Nello tertawa lepas mendengar itu, sampai suara peluit panjang berbunyi beberapa kilometer di belakang mereka. Matahari sudah menampakkan diri. Ia mengulurkan tangan, bersiap untuk melompati pepohonan bersama adik ipar. "Alright, it's time. Ready, partner?"
Menerima uluran tangan yang disuguhkan, Leona mengangkat satu ujung bibirnya. "Anytime, partner."
.
.
.
Ular, huh. Kalau dipikir-pikir, sepertinya Leona tidak pernah sengaja ingin bertemu hewan melata itu, bahkan sampai ingin memburunya. Tak ada yang menyenangkan dari melawan hewan yang kaki saja tak punya, dan senjata mereka hanya gigitan, bisa, serta lilitan. Sekali saja terperangkap salah satu dari senjata itu, untuk membebaskan dan menyelamatkan diri repotnya bukan main. Luka di matanya seakan bukan apa-apa dibanding luka dari gigitan ular, apalagi yang berbisa.
Menyebalkan, dan lebih menyebalkan lagi ketika lengannya, akhirnya, dililit seekor ular hijau yang entah datang dari mana.
"Jangan dibuang dulu, Leona! Dia tidak akan sembarangan menggigit selama kau tidak mengancam nyawanya," pinta—atau perintah—Nello yang bahkan tidak memikirkan keselamatan adik iparnya sama sekali. "Teman online-ku ada yang ingin pelihara ular itu, jadi nanti mau kubawa pulang."
"... Terserah." Tangannya sudah kesemutan, kalau boleh jujur. Bukan karena lilitannya tidak kuat sama sekali (kemungkinan dia hinggap di lengan Leona karena sempat mengiranya sebagai ranting pohon), tapi karena Leona tidak bisa sembarangan bergerak. Sedikit saja gerakan yang dirasa mampu menghilangkan kenyamanan ular tersebut, maka dipastikan ia akan tergigit. Masalahnya ...
"... Si Hijau ini bukannya berbisa?"
"Iya, tapi tidak mengancam nyawa, kok."
"Tapi bisa buat orang dewasa masuk rumah sakit, kan?"
"Nyeri, bengkak, mual, pusing ... kurang lebih itu yang akan kau rasakan. Tidak perlu sampai ke rumah sakit, tapi kadang ada kasus harus ke rumah sakit. Yah, selama kau santai dan menganggap dirimu sendiri pohon, kau akan aman."
Orang gila. Minimal mereka bisa taruh Si Hijau di dalam kotak atau semacamnya, kan? Di manapun, asal jangan di lengan seorang pangeran. Leona mulai merasa kasihan pada nasib dirinya sendiri.
"Tapi, kalau kau memang takut tergigit," Saking cepatnya, Leona sampai tidak melihat kemunculan tangan besar Nello yang mana sekarang sudah setengah mencekik leher Si Hijau, memaksanya membuka mulut, lalu menempelkan sesuatu seperti bola berwarna putih ke tiap taring ular yang kini Leona lebih kasihani nasibnya, "akan kutumpulkan taringnya seperti ini. Digigit sekalipun, bisanya tidak akan masuk ke aliran darahmu." Nello memberi senyum penuh arti, membuat Leona yakin kalau ia dan Si Hijau sekarang berada di kubu yang sama.
"Dan sekarang, kita harus temukan si cantik sanca kembang itu." Selesai mengurus Leona dan ularnya, Nello kembali meniti jejak di tanah, mencari buruannya yang masih belum memunculkan diri.
Sudah lebih rileks, Leona ikut berjongkok di samping Nello yang terus mengelus bekas bergelombang di atas tanah yang tidak terlalu basah. "Sepanjang pengetahuanku, sanca kembang—dan piton secara keseluruhan—itu nokturnal."
"Betul."
"Lalu kenapa kau mencarinya? Kita bisa cari hewan lain, buaya yang punggungnya kau naiki itu misalnya." Ada sedikit ledekan di akhir, karena Leona merasa skeptis tentang kebenaran cerita Nello yang menunggangi punggung buaya.
"Karena kebetulan aku melihat jejaknya," jawab Nello santai. "Tadi aku bilang 'piton atau buaya,' yang berarti manapun di antara dua itu. Dan karena aku melihat jejak ini, aku ingin mengejarnya. Dia tidak terlalu jauh dari sini, harusnya."
Leona tidak membalas. Ia memperhatikan kegiatan Nello mengumpulkan beberapa rontokan kulit bermotif sanca kembang. "Ganti kulit, huh."
"Ya, kemungkinannya." Nello akhirnya berdiri, memasukkan plastik berisi rontokan kulit itu ke kantung ranselnya. "Ganti kulit dan sekarang matahari sedang tampil di atas panggung. Semakin yakin Si Cantik itu tidur siang di sekitar sini."
Omong-omong soal tidur siang, Leona mulai mengantuk. Ponsel ia keluarkan dari saku, menangkap deretan angka yang menunjuk pukul sebelas siang. Padahal rasanya belum lama mereka menanti fajar menyingsing, sekarang sudah hampir tengah hari.
"Sudah lapar?" Nello menyodorkan bungkusan beef jerky yang ia makan sejak tadi pagi. "Makan ini dulu sambil kita cari tempat istirahat."
"... Aku mengantuk, bukan lapar."
Kruuuk
"..."
"Makan saja." Akhirnya Leona menerima bungkusan itu, mulai memasukkan lembar demi lembar dendeng daging sapi yang kaya akan bumbu ke dalam mulut. "Beruntunglah kau satu tim denganku dan tidak dengan Kaa-san. Dia tidak akan membawa bekal sepertiku. Yang dia lakukan adalah berburu hewan terlebih dahulu, kemudian memasaknya di tempat. Katanya daging segar itu paling enak."
Leona sudah tidak merespons. Lembaran daging itu terlalu menggoyang lidah, perlahan tapi pasti menumpulkan indera pendengarannya.
Tapi Nello tidak memikirkannya dan mulai menyibukkan diri dengan tikar lipat yang ia simpan dalam ransel yang dibawa. Sebuah tempat tanpa lumpur dan hanya ada sedikit rumput pendek. Ini tempat yang cocok untuk "piknik."
"Sini, kita makan dulu." Nello mengeluarkan dua kotak makan siang dari ransel yang sama. Leona menyelesaikan kegiatannya—bungkusan di tangan sudah kosong melompong. Pangeran singa itu ikut duduk di atas tikar, berhadapan dengan Nello yang tengah menyantap makan siangnya.
"Seberapa yakin kau dengan keberadaan sanca kembang itu?"
Pertanyaan tiba-tiba Leona menghentikan kegiatan mengunyah Nello selama beberapa detik. "Hmm, mungkin 70 persen—kurang lebih."
"Ada di mana dia?"
"Yang pasti tidak terlalu jauh dari sini." Nello menunjuk gelombang di atas tanah yang tidak terlalu kelihatan, serta sebatang pohon besar yang sudah ambruk dalam waktu yang dipastikan lama, tak jauh dari tempat mereka duduk. "Tidak ada hujan selama dua hari belakangan ini—sampai hari ini, jadi jejak yang dihasilkan Si Cantik tidak terlalu kelihatan. Akan tetapi, ada bahan-bahan pendukung yang bisa dijadikan 'rumah darurat' olehnya untuk istirahat di siang hari. Apalagi dia ada kemungkinan sedang ganti kulit." Nello menelan suapan terakhirnya, lalu meneruskan, "Jangan lupakan tanduk kijang yang kita temukan tiga sampai empat kilometer sebelum ini. Kondisi tanduknya masih terlalu 'muda' dan tidak seharusnya lepas dalam waktu dekat. Tapi karena ada tanduk itu di sana, aku merasa Si Cantik habis makan. Kalau dia habis makan, ditambah sedang ganti kulit, area ini—mau tak mau—akan jadi tempat persinggahannya sampai dia siap untuk kembali menyusuri hutan."
"..." Leona meneruskan makan siangnya—hanya mengiyakan penjelasan Nello melalui sorot mata, sampai ia menyadari gundukan daun kering di belakang Nello seperti bergerak sedikit. "Um ... Onii-san?" Ia refleks berdiri, membiarkan Nello tetap diam di tempatnya dengan ekspresi penuh tanda tanya. "Belakangmu ... coba cek belakangmu."
Nello menengok dari balik punggungnya. Sejak tadi ia tahu kalau ada gundukan itu di sana, tapi tidak melihat apa yang Leona lihat. "Apa? Aku tidak lihat apa pun."
"Dan kau sebut dirimu pemburu?!" Berusaha agar tidak panik, Leona menyiapkan magical pen yang akan selalu ada di kantung pakaian atau tas yang ia bawa setiap kali keluar. Mungkin karena merasakan denyut nadi inangnya yang semakin cepat, Si Hijau perlahan naik ke pundak dan sedikit ke leher, seolah bersembunyi.
"..." Nello tidak lagi merespons. Matanya tidak lepas dari gundukan tenang itu, hingga tiba-tiba seluruh daunnya jatuh, memperlihatkan motif mencolok yang sejak tadi ia dambakan. "DI SANA KAU RUPANYA!"
BRUK
Tiba-tiba saja Nello menjatuhkan tubuh ke atas motif tersebut, berharap memeluk—atau mungkin dipeluk—sebuah tubuh besar panjang yang lembut dan licin. Tapi bukan tubuh lembut dan licin, justru rasa sakit akibat terjerembab ke tanah yang ia dapat. Ular itu berhasil kabur.
"Kembali ke sini, ma jolie! Biarkan aku memelukmu!" Nello mengejar makhluk licin itu entah ke mana, meninggalkan Leona yang menganga heran.
"... Kita harus kejar mereka, Hijau." Seolah setuju, Hijau menggoyang-goyang ujung ekornya. Dan melesat lah Leona, mengikuti bau Nello bercampur tanah yang masih tidak terlalu jauh.
Benar saja, kurang dari 500 meter dari tempat piknik mereka, Leona melihat Nello yang kaki kanannya sudah terlilit. "Leona! Tembakkan panah ke tubuhnya!"
"Hah?!"
"Cepat!" Nello terus berusaha merenggangkan lilitan ular itu pada kakinya. "Barang-barangku tertinggal semua di sana! Aku tidak ada barang pisau lipat pun! Cuma kau yang bisa menyelamatkanku!"
"Memangnya kau pikir aku bawa?!" Leona merentangkan kedua tangency yang kosong. Peralatan mereka ditinggal begitu saja di tempat terakhir. Karena sudah mendesak, ia akhirnya mengeluarkan magical pen miliknya dan menuai protes dari Nello. "Ini masalah hidup dan mati! Siapa peduli dengan peraturan berburu?!" balasnya lagi.
"Ke mana semangat berburumu?!"
"Aku tidak mau mendengarnya dari orang yang langsung lompat ke tubuh ular dan masih menyebut dirinya pemburu!" Segera Leona menyiapkan sihirnya dan membentuk bilah serupa pisau yang cukup banyak dan terbuat dari es. "Ini akan sedikit dingin, tapi tidak akan membuatmu membeku."
Nello kembali melancarkan protes. Lilitan ular itu perlahan naik dan berhasil menutupi setengah tubuhnya. Dengan keadaan seperti ini, sudah seharusnya ia melemas sebagaimana mangsa-mangsa ular piton di luar sana. Akan tetapi, secara ajaib, kekuatannya masih sangat besar sampai masih bisa meneriaki Leona bodoh atau semacamnya.
Kalau kau bukan kakak dari istriku, sudah kupastikan kau masuk penjara. Leona membuang candaan itu sesaat dan bersiap menghantam tubuh piton tersebut dengan pisau-pisau es yang ia buat. Sampai ...
Whoosh
... terjadi sesuatu yang tak terduga. Dua buah anak panah tiba-tiba muncul, menusuk tepat di sekitar kepala dan leher ular tersebut. Tubuh besarnya mulai menggeliat kesakitan dan perlahan melepaskan diri dari Nello. Kakak iparnya selamat, tapi bukan Leona yang menyelamatkannya.
"Si Cantik ini punyaku."
Dan si cantik yang melepaskan anak panah itu punya Leona.
Tunggu. Apa yang barusan ia pikirkan?
"Woi! Itu ularku! Kau datang dari mana?!"
Rook, orang yang melepaskan anak panah dan menjatuhkan diri tepat di samping Nello yang masih terduduk di atas tanah, dengan cepat dan santai menahan tubuh ular itu, kemudian memotong kepala si sanca kembang dalam satu gerakan. Sebagian darahnya mengenai kakaknya sendiri. "Tidak bisa digeret dulu menjauh dariku atau apa gitu?!"
"Kenapa marah-marah begitu, sih?" Rook mengeluarkan botol air dari tas yang digendongnya, membersihkan dengan asal celana dan sebagian baju kakaknya yang berubah merah. "Jangan lupa langsung dicuci kalau sudah sampai rumah. Takutnya membekas."
"Akan kutuntut ganti rugi!"
"Hah." Rook tidak peduli dan memasang senyum kemenangan. Senyumnya sangat lebar, menyilaukan, dan terasa tulus.
Deg, deg, deg ...
Leona menekan dada kirinya. Jantungnya berdetak sangat kencang, hampir seperti ingin pindah tempat. Tidak mungkin karena "adrenalin" saat ia hendak menyelamatkan Nello, kan?
"Ruu Nee! Kau di mana?!"
Rook mengangkat sebagian mayat ularnya ke udara, bermaksud memberitahu Colette lokasinya. "Lihat apa yang Ruu Nee dapatkan! Kita bisa menang, Colette!"
Tubuh kecil si bungsu muncul dari balik semak, kemudian melompat kegirangan melihat hasil buruan sang kakak. "Waaah, sanca kembang! Ruu Nee hebat!"
"Hellooo? Itu punyaku." Masih tetap duduk di tempatnya karena belum bisa bangun, Nello menunjuk-nunjuk dadanya saat Colette sudah memberinya perhatian. "Nello Nii yang melacaknya, menemukannya, dililit olehnya. Ular itu punyaku, tapi Ruu Nee mengambilnya."
"Kan, tidak melanggar peraturan?" Rook membela diri. "Tidak peduli ini incaranmu dari awal, kalau yang menembakkan panah adalah aku, tetap aku yang dapat."
Tidak salah, tapi secara etika, bukankah itu tidak benar? Ingin rasanya Nello membalas begitu, tapi akhirnya ia menyerah. "Ya sudah, terserah. Ambil saja sebanyak yang kau mau. Aku bosan dengan ular."
Rook berlutut dan memberi kakaknya satu pelukan erat. "Maaf, Nii-san. Aku dan Colette sudah sepakat untuk mengerjaimu. Kami mengikutimu dari saat kau melacak jejak ularnya."
"..." Nello menghadiahi adiknya satu sentilan dahsyat di kening. "Lihat saja di acara berburu berikutnya. Kubuat kau menangis di hadapan Onee-san."
"Mau ngadu ke Onee-san?" Sambil mengelus keningnya yang nyeri, Rook menggembungkan pipi tidak senang. "Tapi Onee-san pasti akan membelaku."
Nello tidak lagi membalas. Ia menyerah sepenuhnya, dan hanya bisa meratapi nasib. "Semoga masih ada babi tersisa untukku." Keluhan menyedihkannya itu memancing Colette untuk memeluknya juga, yang mana langsung diterima Nello dengan senang hati. Adiknya yang paling kecil tidak salah. Nello menolak kenyataan bahwa ia bersekongkol dengan Rook untuk mengerjainya.
"Ayo, Colette. Kita harus kembali ke pos." Rook menggandeng Colette begitu ia selesai membersihkan dan mengikat ular tangkapannya supaya mudah dibawa. Mata hijaunya mengerling, bertubrukan dengan Leona yang sejak kehadirannya tadi masih terus memperhatikan. "Kami duluan, Leona-kun. Sampai bertemu di vila."
"... Hm." Leona mengantar kepergian dua gadis itu dengan matanya. Debaran di dada kirinya masih sangat mengganggu, sampai telinganya bergerak-gerak karena seperti bisa mendengar suara gaduhnya.
"Adikku cantik, ya."
"Iya." Sedetik kemudian Leona sadar akan pertanyaan "menjebak" Nello. Wajahnya sontak memerah, memancing Nello untuk memberinya tatapan serba tahu andalannya.
"Tidak perlu panik begitu." Pegal di tubuhnya sudah berkurang, Nello akhirnya bisa berdiri. Ia membersihkan sisa darah yang akan meninggalkan bau amis sampai beberapa waktu ke depan menggunakan sihir, lalu meneruskan ucapannya, "Onee-san pernah menyinggungnya sedikit padaku, dan setelah aku melihatnya sendiri dari kemarin, barulah aku sadar yang dikatakan Onee-san benar. Aku tidak akan sekeras dirinya dan aku akan tetap mendukung kalian seratus persen. Tapi mungkin pesanku kurang lebih sama dengannya; aku titip adikku padamu dan tolong jaga dia."
"..." Tiba-tiba terjebak di tengah obrolan serius setelah semua kegaduhan yang terjadi, sempat membuat Leona bingung harus bereaksi bagaimana. Namun, karena ucapan positif Nello, ada perasaan lega yang sanggup meredakan debaran dadanya sedikit. Sang pangeran kedua agak membungkukkan badan ketika berkata, "Terima kasih restunya, Onii-san. Aku akan menjaganya."
Meski mungkin masih butuh waktu untuk merealisasikan semuanya, setidaknya aku sudah dapat satu restu, sambung Leona dalam pikirannya.
Nello tersenyum puas. "Baik, sekarang kembali ke permasalahan kita." Kepalanya mendongak, memperhatikan pergerakan matahari yang sudah sejajar dengan mereka. "Kau kembali ke pos, Leona. Biar aku saja yang cari babinya. Nanti saat kau melihatku kembali, kau bisa langsung melepas suarnya."
"Tunggu."
"Apa?"
"Hewannya bisa apa saja, kan?"
Nello memiringkan kepala, bingung dengan pertanyaan yang terlalu obvious itu. "Secara teknis, sih, begitu ...?"
Leona mengarahkan tangan kanannya ke belakang leher. Seolah paham, Hijau langsung melilitkan tubuh kecilnya di sana. "Kita punya Hijau," terang Leona yang langsung dibalas teriakan semangat Nello.
"CEPAT! Kita harus kembali ke pos!"
.
.
.
DOR!
Suar merah melesat tinggi ke langit. Warna merah, berarti tim Nello-Leona. Tak berselang lama, suar biru melesat dengan agak lesu. Disusul kuning, kemudian hijau. Acara berburu keluarga Hunt akhirnya selesai.
Semua orang telah kembali ke depan vila, tempat pertama mereka berkumpul di pagi buta sebelum acara dimulai. Hasil buruan tiap kelompok dikumpulkan di tengah-tengah, tapi tidak dengan Tim Merah dan ular hijau pohon kecilnya yang tetap bersantai di tangan Leona.
"Astaga, juara satunya ternyata hanya membawa ular hijau." Reeves—diekori Cesan—menghampiri Leona. Tak satupun dari mereka berani menyentuh Hijau karena tahu dia berbisa. "Tapi kenapa bisa jinak begini? Bahkan rusa yang kami tangkap hampir menyundul Cesan tepat di pantat."
"Dia mau menyundulmu, bukan aku!" Cesan sontak berkelak.
"Mungkin karena dia tertarik pada Leona-kun?" Ayah Hunt menimpali, ikut bergerumul di sekitar Leona. Sama dengan dua putra termudanya, ia tidak berani menyentuh Hijau. "Ini pencapaian tak biasa. Memburu hewan kecil yang cukup berbahaya seperti ular hijau ini tak kalah sulitnya. Belum lagi ularnya yang mendadak jinak. Sungguh, ini sungguh tak biasa."
Nello sejak tadi hanya diam, mendengarkan setiap pujian kepada timnya—atau tepatnya kepada Leona—dengan bangga. Setelah merasa hidungnya cukup maju, ia pun berujar sambil melirik Rook yang sudah bermuka masam, "Jadi, bagaimana dengan hadiahnya? Juara dua sudah siap dengar yang kami, si juara satu, inginkan?"
Peraturan lainnya ketika sudah menang adalah: juara satu berhak meminta apa pun dari juara dua. Hadiah ini hanya untuk seru-seruan, sedangkan hadiah utama (biasanya disediakan kepala keluarga) sudah ada dan siap dibuka kapan saja oleh sang juara.
Nello masih terus membusungkan dada. Rasa pegal dan sakit yang masih sesekali dirasa tubuhnya seketika terlupakan setelah melihat betapa tidak senangnya Rook dengan hasil yang di luar dugaan ini. Karena adiknya tak kunjung merespons, Nello mencolek Leona, memberi kode untuk ikrarkan hadiah yang ia inginkan dari si juara dua—dari Rook.
"Kenapa jadi aku?" mulut Leona bergerak membentuk pertanyaan itu, yang mana sangat tidak memuaskan Nello. Sudah diberi kesempatan, malah tidak mau.
Akhirnya Nello memutuskan, "Aku tidak minta yang sulit-sulit, hanya ingin dicium di pipi oleh juara dua."
"...!?"
"...?!" Wajah Leona berubah horor. "Onii-san?! Apa yang kau pikirkan?!" Bisikannya tak lagi dihiraukan. Kakak iparnya yang satu ini tak kalah gila dengan kakaknya yang sedang entah-ada-di-mana-dia-sekarang! Dasar saudara gila!
Semua orang entah bagaimana tampak bersemangat. Ayah Hunt dengan antusias berseru-seru, sementara Ibu Hunt mati-matian menahan senyum. Reeves dengan ekspresi bingung dan wajah memerah, sedangkan Cesan seperti masih belum memproses apa yang sedang terjadi.
"Cium pipi Nello Nii?" Colette mendahului Rook, berhambur ke pelukan Nello yang menerimanya dengan sukacita.
"Iya, Colette! Cium pipi Nello Nii dan Leo Nii aja, kok." Segala macam arti berkumpul di senyum lebar Nello. "Aku nggak mungkin minta yang aneh-aneh dari adik manis kesayangan Nello Nii. Cium pipi sudah biasa kita lakukan, ya, kan?"
Colette meraih pipi sang kakak, menempelkan bibir kecilnya di sana. "Sayang Nello Nii."
"Sayang Colette juga!" Nello mengarahkan Colette ke Leona yang masih diam mematung di tempatnya. "Sekarang Leo Nii."
Leona mendekatkan pipinya pada Colette, dan satu kecupan berhasil mendarat dengan aman. "Sayang Leo Nii."
Tak kuasa menahan gemas, Leona mencubit pipi gadis kecil yang cukup berisi itu. "Kau yakin kau sudah kelas empat? Rasanya masih terlalu kecil untuk kelas setinggi itu."
"Aku hanya berlagak seperti anak kecil karena orang-orang di sini selalu menganggapku anak kecil." Oh, betapa sulitnya menjadi anak bontot kesayangan keluarga. "Tapi aku senang disayang-sayang terus, jadi aku tidak masalah."
"Karena Nello Nii akan sedih kalau harus melihat Colette tumbuh dewasa." Keluhan memelas Nello hanya dibalas Colette dengan cubitan bercanda di kedua pipinya. "Rook! Cepat cium aku sebelum pipiku dilepas malaikat kecil ini!"
Rook, masih kurang senang dengan apa-pun-rencana-kakaknya, maju mendekati tempat kejadian perkara. Colette langsung membebaskan pipi malang itu, membiarkan Nello membungkuk sedikit untuk menerima kecupan adik perempuannya yang lebih besar. "Kau hari ini menyebalkan, Nii-san," bisik gadis pemburu itu lemah.
Nello hanya tersenyum lebar. Ia kemudian menyingkir, seolah meninggalkan Leona dan Rook untuk berdua saja di tempat itu. "Terima kasih, adikku yang cantiiik." Sebelah matanya berkedip jahil, menunggu adegan mendebarkan itu untuk terjadi.
Terlihat sekali dari wajahnya kalau Rook hanya ingin ini cepat selesai. Setelah menarik nafas panjang satu kali, ia bergegas menarik tangan Leona, dan dengan cepat menyapukan bibirnya ke pipi kemerahan sang suami yang ternyata sudah panas. Tanpa berkata-kata, Rook langsung putar balik, berusaha menyibukkan diri dengan buruan timnya—ditemani sang ibunda yang masih terus menahan tawa.
Semua orang kembali sibuk dengan hasil buruan masing-masing, di mana sebenarnya mereka merasa malu atas apa yang barusan terjadi. Nello, sudah melepaskan Colette dari tangannya, kembali ke samping Leona dan menyenggolnya pelan. "No need to thank me, brother."
"..." Leona tidak lagi meladeni candaan Nello. Ia menundukkan kepala, mengelus pipinya yang tadi mendapat kecupan kilat itu. Tak pernah ia merasa sebahagia ini sepanjang hidupnya.
.
.
.
Next: Chapter 30
