"Kadang, orang yang paling membutuhkan pertolongan adalah mereka yang paling diam."

~•~

Suara langkah kaki terdengar di keheningan. Malam ini terasa dingin, paruh waktu yang dihabiskan sang permata zamrud dalam diamnya untuk mendamaikan diri ketika seluruh dunia menunjukkan padanya betapa bodoh dan tidak berharganya dirinya.

Seragam SMA UA miliknya berkibar tertiup angin karena tidak terkancing. Terpaan angin di kulit pucatnya seakan membelai kelesuan ekspresi yang di tanamkannya malam ini.

Secarik buku lusuh dan rusak di tangannya dengan secarik kertas tergenggam di tangannya.

Sampai langkahnya bertemu batas antara ketinggian barulah ia berhenti. Matanya yang kusam seakan cahaya yang membuatnya hidup sudah pergi terlampau hilang ditelan rasa bersalah.

Bersalah karena dilahirkan.

Bersalah karena mengasihani dirinya.

Bersalah karena berharap.

Dan bersalah karena tidak berguna.

Banyak hal yang ia ingin katakan, tapi siapa yang bersedia mendengarkan dirinya kecuali dirinya sendiri? Tidak ada gunanya.

Semua berawal dari rumor bahwa ada pengkhianat di UA. Seluruh sekolah mulai berspekulasi bahkan ada yang menyebabkan rumor yang tidak-tidak. Sampai, tidak tahu siapa yang menyebabkannya. Semua orang menuduh Midoriya Izuku-lah tersangka pengkhianatan.

Buktinya? Tentu saja. Buku catatan analisis pahlawannya yang di tuduhkan kepadanya. Padat dan jelas langsung keintinya. Tidak ada pembelaan, tidak ada penjelasan, karena saat penuduhan itu terlontar. Penyangkalan terbuahkan, dan keretakan terbentuk.

Kepercayaan runtuh. Kali ini, hancur berkeping-keping hingga tidak bisa di rekatkan kembali.

Ia hanya berkata, "Oh, kalau aku bilang ya, apa yang akan kalian lakukan?"

Ia masih memasang senyum merekah seakan tak bersalah mengungkapkan kejahatannya. Kejahatan yang tidak pernah dilakukannya.

Sejak saat itu, teman-teman tidak berbicara padanya, Kacchan, sang teman masa kecilnya hanya mendengus dan mengabaikannya. Izuku tahu kalau Kacchan tahu dia tidak bersalah, dan mungkin itu hanya dilakukan atas dasar bercanda dan keesokan harinya, ia akan tertawa lepas dan menebar tersenyum seperti biasa. Tapi nyatanya tidak.

Hidup tidak semudah itu berubah, ya kadang itu terjadi tapi bukan itu intinya.

Ia hanya lelah membela diri, biarkan semuanya kembali seperti sedia kala, hancurkan harapan itu menjadi debu dan injaklah sampai hancur lebur.

Semakin hari teman-teman menjauhinya bukan lagi mengabaikannya. Mereka hanya bersikap baik hanya karena formalitas. Para guru hanya memperlakukannya biasa saja. Bahkan All Might meminta penjelasan dan dilakukan Izuku hanyalah diam. Dan saat All Might meminta One For All padanya ia hanya tersenyum dan menyerahkannya dengan suka rela. Tidak ada rengekan, tidak tangisan, hanya lakukan apa yang seharusnya dilakukan sejak dulu.

Betapa bodohnya.

Ya, Izuku memang bodoh, tidak berguna, tidak berharga, seluruh hidupnya hanya didedikasikan untuk menunjukkan pada dunia siapa dia sebenarnya.

Dan di sinilah dia. Berdiri di antara batas hidup dan mati. Kesunyian yang menghadirkan penyambutan diam itu terus berdengung menyambut kedatangannya dengan lembut.

Bisikan godaan itu terus bermunculan. Mendesaknya untuk segera terjun bebas dan pergi di dunia di mana tidak ada lagi yang bisa menyakitinya.

Melompat lah dan bebaskan dirimu.

Sejenak ia menghirup napasnya dan memejamkan matanya. Buku usang dan kertas lusuh itu di letakkannya di atas sepatu merah khasnya. Sepatu yang menjadi identitas sebenarnya dari dirinya. Seorang Quirkless.

Ia teringat akan kata-kata Kacchan saat mereka berada di SMP tahun ketiga mereka, di mana saat itu hari di mana ia hampir menyerah dalam hidup sebelum All Might menjanjikan One For One padanya.

Berdoa saja kau punya Quirk di kehidupan selanjutnya dan melompat lah dari atap.

Dan dia melakukannya.

Rasanya seperti terbang bebas. Semua rasa sakit itu sirna dan seakan jiwanya yang rapuh telah menemukan sebuah kenyamanan yang selama ini ia inginkan. Sampai dunianya menjadi gelap ketika tubuhnya menghantam tanah dengan keras.

Akhirnya kedamaian.

~•~

Aizawa Shota bukanlah orang yang emosional. Dia adalah orang yang tabah dan netral. Dalam pekerjaannya sebagai guru, ia selalu tegas dan tidak membiarkan sesuatu seperti pilih kasih menghentikannya mengajarkan murid-muridnya.

Ia adalah orang yang mengedepankan penilaian logis dan tidak akan membiarkan sesuatu seperti emosi menghalangi pekerjaan. Ia selalu menghindari memeriksa dokumen siswa untuk menghindari pilih kasih di hari pertama. Tapi dalam beberapa hari ini, sulit tidak merasakannya saat seseorang—bukan sembarang orang—itu adalah muridnya sendiri menderita seorang diri.

Midoriya Izuku. Dia adalah anak yang ceria, selalu tersenyum, cengeng, gugup. Awalnya, Aizawa mengira anak itu adalah anak yang manja karena bagaimana seorang remaja sepertinya tidak memiliki kendali yang lebih baik dari remaja seusianya. Bukankah mereka telah memiliki Quirk selama 10 tahun. Saat pertama kali melihatnya, ia sudah merasakan pontensi anak itu nol. Namun saat tes penilaian Quirk, anak itu mampu mencegah dirinya terluka, yah meski jarinya terluka setidaknya anak itu masih bisa bergerak dan Aizawa merasa terkesan dengan penilaian anak itu dalam menggunakan Quirk-nya.

Setelah Insiden Kamino, Hizashi menyatakan bahwa ada pengkhianat di sekolah itu dengan cepat berubah menjadi rumor. Entah siapa yang menyebarkannya ia tidak tahu. Ketika itu setiap orang mulai saling mencurigai. Hingga rumor lain muncul dan Midoriya-lah yang dituduh pada akhirnya.

Aizawa sempat bingung dengan sikap anak itu yang bahkan tidak membantah saat di tuduh sebagai pengkhianat dan mengatakan hal yang malah memperkuat tuduhan itu. Sejak saat itu, anak itu jarang—tidak pernah lagi berkumpul bersama teman-teman sekelompoknya. Teman-temannya juga tidak ada yang berniat menyapanya. Hingga waktu berlalu dan anak itu semakin terasing dari semua orang. Mereka memperlakukannya seakan tidak pernah ada.

Aizawa ingin setidaknya menemui anak itu dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja tapi dia selalu tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu saat ia harus mengikuti rapat yang diadakan Nezu.

Para guru hanya mendiamkan keadaan itu. Di rapat mereka sepakat untuk mengawasi anak itu karena belum ada bukti yang menyiratkan bahwa anak itulah pelakunya.

Aizawa sendiri tidak percaya sedetikpun kalau anak itu adalah pengkhianat. Waktu itu jam istirahat saat hanya tersisa dirinya dan anak itu. Aizawa mendekati remaja itu yang hanya tidur di mejanya.

"Midoriya," panggilnya.

Midoriya hanya bergumam dan mengusap matanya. Menatap langsung ke mata Aizawa.

"Ada apa, Aizawa-sensei? Apa kau butuh sesuatu?"

Sesaat sang pahlawan mengamati ekspresi wajah anak itu. Caranya bersikap sangat berbuah drastis. Terasa jauh dan sang pahlawan tahu anak itu seperti memasang penghalang tak terlihat di antara mereka.

"Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku ada di sini untukmu tidak perduli bagaimana pendapat semua orang tentangmu, kau bisa datang kepadaku jika kau butuh bantuan, aku akan selalu siap," ujarnya dengan wajah datar khasnya.

Midoriya hanya tersenyum. "Akan kuingat."

Itulah kata-kata terakhir yang diingatnya hingga sekarang.

Di asrama 1-A, Aizawa sedang mengunjungi asrama untuk memeriksa keadaan para siswa siapa tahu ada yang berkeliaran di tengah malam begini. Dengan cangkir di tangan ia meletakkannya di meja dapur sembari memeriksa kamar muridnya satu persatu.

Semuanya aman kecuali ... Kamar Midoriya.

Aizawa menarik napas dan membuka pintu perlahan berharap anak itu masih berada di tempat tidur tapi,

Kosong.

Sang pahlawan langsung membuka pintu dan berlari masuk melihat apakah anak itu berada di sudut kamar lain atau di kamar mandi tapi tetap tidak ada. Tas sekolahnya tergeletak di ranjangnya. Tidak ada hal mencurigakan di sana. Hingga ia mendapat notifikasi dari ponselnya di bagian CCTV di mana robot penjaga menemukan seorang siswa berkeliaran di atap sekolah ia langsung berlari keluar asrama dan memacu langkahnya ke sekolah. Berkat syal miliknya yang masih di kenalannya ia beruntung bisa berayun di pohon-pohon tinggi untuk mempercepat lanjutnya menuju atap.

Beberapa menit dia melihat seseorang di atap gedung sekolah mengenakan seragam UA merentangkan tangannya seolah siap terjun.

'Ah sial, jangan seperti ini, Nak!'

Aizawa menahan napas saat tubuh itu terjun bebas hanya beberapa jengkal dari syalnya tertarik oleh gravitasi tanpa beban. Sesaat pikiran sang pahlawan kosong. Ia mendarat di atap di mana hanya tersisa sepatu dan sebuah buku dengan kertas. Hal klasik yang sering ia temui saat patroli tengah malamnya.

Padahal ini hari liburnya. Sang pahlawan mendekati pesan terakhir yang ditinggalkan anak itu dan membukanya.

Untuk Semua Orang,

Terima kasih untuk semua waktu yang telah kita habiskan bersama. Aku tidak bisa mengungkapkan betapa berharganya setiap momen itu, meski aku tahu mungkin itu tidak terasa berarti untuk kalian. Aku bersyukur telah diberi kesempatan oleh dunia ini untuk merasakan apa artinya menjadi seperti orang normal, walau hanya sesaat. Meski tak lama, aku tetap menghargainya.

Maafkan aku jika aku pernah merepotkan kalian.

Maafkan aku jika aku pernah menyakiti perasaan kalian.

Maafkan aku jika aku tak pernah bisa menjadi teman yang baik untuk kalian.

Sejujurnya, aku tidak ingin menulis surat perpisahan ini. Tapi di saat yang sama, aku juga tidak ingin merasa dikasihi jika salah satu dari kalian membaca ini dan merasa bersalah. Jadi, jangan repot-repot.

Aku sudah lelah berada di pojokan, lelah bertahan di dunia yang terus menekan dan menuntut lebih dari yang bisa aku beri. Aku sudah lelah berjuang untuk membela diriku sendiri, yang pada akhirnya hanya membuatku semakin terperosok.

Katakanlah apa saja tentangku.

Katakanlah aku pecundang.

Katakanlah aku orang bodoh, tidak berguna, penjahat, atau pengkhianat.

Apa pun yang kalian pilih, itu tidak akan mengubah apa pun.

Aku hanyalah seorang Deku yang tidak bisa melakukan apa-apa.

Seorang Quirkless yang lemah, cengeng, yang selalu merasa tertinggal.

Jadi selamat tinggal. Mulai sekarang, aku akan pergi dan meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Dengan begitu, dunia kalian tidak akan ternoda oleh orang sepertiku.

Ini tidak ada gunanya lagi. Hanya itu saja.

Midoriya Izuku

Aizawa memandang sepatu merah itu hingga ia tersentak saat mengerti apa maksudnya.

Sepatu merah, Quirkless, Deku.

Pantas saja anak itu selalu bersikap seperti itu. Sang pahlawan kadang bertanya-tanya apa yang menyebabkan anak itu mudah menangis, pemalu dan sebagainya.

Sebagai pahlawan bawah tanah. Eraser Head adalah pahlawan yang akrab dengan hal ini. Ia sering menemui kasus remaja sekolah bunuh diri dan kebanyakan mereka adalah seorang Quirkless.

Berusaha menahan air mata yang akan tumpah, sang pahlawan mengambil sepatu itu turun ke tanah.

Sosok muridnya, kini terbaring dengan mata kusam tanpa kehidupan. Darah menggenang di tanah menodai seragam anak laki-laki itu. Tubuh anak itu terpelintir dalam posisi yang tidak wajar dan Aizawa berjongkok. Dengan hati-hati mengangkat kepala anak itu dan membaringkannya ke pangkuannya. Ia menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah anak itu.

Suhu tubuh anak itu mulai mendingin, sebuah kenyataan bahwa ia sudah pergi dari dunia. Sesaat sang pahlawan membiarkan pertahanan runtuh dan air mata membanjiri pipinya. Sang pahlawan merengkuh tubuh tak bernyawa muridnya ke pelukan dan menangis dalam diam.

Sudah lama sejak kematian Oboro, ia kembali merasa kehilangan.

Catatan :

Ini adalah One-Short yang ditulis dengan spontan ya, mohon maaf atas kurangnya feel dalam cerita ini. Saya menulis ini untuk meningkatkan tulisan karena saya masih pemula. Kritik dan saran di terima. Jangan lupa di vote kalau suka dan berkomentar lah. Sekian, saya Chii-chan pamit undur diri.