Midoriya Izuku tidak pernah benar-benar yakin bahwa ia bisa menjadi seorang pahlawan. Harapan yang ia genggam erat sejak kecil hanya cukup untuk menepis keraguan, tetapi tidak pernah benar-benar menghapusnya. Namun, hari ini-hari pertama patrolinya dengan Agensi Sir Nighteye-semuanya terasa lebih nyata daripada sebelumnya. Bahkan, ia hampir tidak percaya bahwa dirinya telah sampai sejauh ini, mendapatkan lisensi sementara dan bersiap menyelamatkan orang dengan senyuman.

Pagi ini, saat bersiap menuju agensi, pikirannya melayang ke hari ketika Aizawa-sensei dan All Might datang ke rumahnya untuk meminta izin tinggal di asrama UA. Reaksi ayahnya adalah sesuatu yang tidak akan pernah ia lupakan-wajah pria itu berubah masam, suaranya penuh amarah, meski akhirnya menandatangani surat itu dengan enggan. Hinaan yang dilemparkan sebagai selamat tinggal menjadi pengingat bagi Izuku bahwa rumahnya lebih mirip penjara daripada tempat perlindungan.

Bertahun-tahun hidup di bawah bayangan tangan kasar dan makian membuat Izuku terbiasa menyembunyikan luka, baik fisik maupun emosional. Tidak ada seorang pun di UA, bahkan Aizawa-sensei yang sangat jeli, yang mengetahui kebenarannya. Ia sudah ahli menutupi semuanya-bekas luka di tubuh, air mata yang terus ia tekan, dan kerinduan akan kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan.

Sembari duduk di taksi yang dipesan oleh All Might, pikiran Izuku melayang ke masa lalu. Ia mencoba mengalihkan rasa gugupnya dengan memikirkan tugas-tugas yang menantinya di agensi, tapi bayangan ayahnya terus menghantui.

Izuku menggenggam erat tas berisi kostum pahlawannya. Tangannya gemetar, tapi ia mencoba menenangkan dirinya dengan menarik napas dalam-dalam.

"Tidak apa-apa," ia bergumam pelan. "Aku pasti bisa."

~•~

"Siap di hari pertamamu, Deku?" kata Mirio sembari mengacungkan jempolnya yang bersarung tangan. Izuku bertanya-tanya bagaimana seseorang bisa tersenyum tulus seperti itu dengan betapa mudahnya sementara ia harus berjuang menahan perasaan iri karenanya.

"Ya!" sahut Izuku dengan suara yang bergetar sedikit, mencoba menutupi kegugupannya.

Tatapan tajam Sir Nighteye membuat Izuku kembali fokus. Pahlawan senior itu menjelaskan aturan patroli dengan nada tegas.

Sir Nighteye menjelaskan dengan tenang beberapa hal tentang patroli. "Ingat, kita hanya melihat-lihat. Segera kembali jika ada yang mencurigakan dan laporkan," katanya, menambahkan pesan terakhir yang menggetarkan Izuku, "Jangan mencoba menjadi pahlawan."

Dan sayangnya, ia tahu lebih baik bahwa apapun yang melibatkan dirinya tidak pernah selalu berjalan mulus.

Mereka berjalan-jalan di kota. Angin berdesir di kulitnya. Sesaat ia merasa lega karena bisa keluar dari agensi. Senyum mengembang dan anggukan di arahkan pada seniornya yang dengan ceria menjelaskan hal-hal tentang patrolinya.

Patroli hari pertamanya berjalan lebih baik daripada yang ia duga. Karena dia adalah magnet masalah mungkin hari ini ia akan dengan senang hati tersenyum mendengarkan nasihat-nasihat seniornya tanpa khawatir bertemu penjahat.

Sebagian pikirannya melayang pada bagaimana seandainya ayahnya pernah bersikap normal seperti orang tua pada umumnya. Itu akan sangat menyenangkan untuk di dengar jika seandainya ia bisa melupakan bayangan ayahnya muncul yang muncul dengan tatapan dingin, kata-kata tajam, dan rasa sakit yang tidak pernah benar-benar hilang.

Mereka hendak mengakhiri patroli tepat saat beberapa meter dari tempat sebuah mobil terbalik. Bau asap dan pelumas mobil yang terbakar menyengat udara, dan suara dengusan mesin yang mati terdengar samar-samar. Mirio-Lemillion bergegas menghampiri tempat kejadian dan menyuruh juniornya mengikutinya.

Saat Izuku baru saja berniat mengejar Mirio, sebuah tabrakan ringan menarik perhatiannya. Ia berbalik dan matanya bertemu dengan seorang gadis kecil yang terduduk. Ia berjongkok secara naluriah dan bertanya.

"Hai, gadis kecil, apa kau baik-baik saja?" tanyanya.

Hanya untuk merasakan pelukan gemetaran tangan mungil disertai isakan kecil yang tertahan dari gadis itu.

"Tolong ... aku ..." Bisikan itu begitu penuh ketakutan. Tanpa sadar, Izuku langsung memeluk gadis itu dengan penuh perhatian. Suatu tatapan yang sama yang dulu pernah ia rasakan di dalam dirinya sendiri, ketika ia merasa tak ada yang peduli padanya. "Tidak apa-apa, kau aman sekarang," ia berkata, berusaha memberikan rasa aman meskipun hatinya sendiri terasa cemas.

Namun, sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari gang gelap. Izuku mendongak, matanya bertemu dengan seorang pria bertopeng wabah yang mendekat perlahan. "Ah, Eri," kata pria itu dengan nada lembut yang justru terdengar mengancam. "Kau di sini rupanya. Kau tahu kau tidak seharusnya lari seperti itu."

Eri semakin erat menggenggam kostum Izuku, membuat pahlawan muda itu langsung waspada. "Siapa kau?" tanya Izuku sambil mencoba menjaga nada suaranya tetap tenang.

"Ayahnya," jawab pria itu singkat. "Anak-anak memang sering merepotkan, bukan?" Tatapan dingin pria itu membuat Izuku bergidik.

Pria itu mengulurkan tangan ke arah Eri. "Ayo pulang."

Eri tidak bergerak, tubuhnya justru semakin menempel pada Izuku. Melihat itu, Izuku menggigit bibirnya, mencoba memutuskan apa yang harus ia lakukan. Jika ia menyerahkan gadis ini, ia mungkin akan membahayakan hidupnya. Namun, jika ia menolak, ia tidak tahu apa yang pria itu mampu lakukan.

Tatapan pria itu menyipit. "Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, apa kau baru di sini?" Suaranya terdengar datar, tapi ada nada dingin yang membuat bulu kuduk sang pahlawan muda berdiri.

Izuku berdiri masih dengan Eri diperlukannya sambil menjaga dirinya tetap waspada dihadapan pria itu. "Aku sedang magang dengan seniorku."

Tatapan pria itu tetap sama. "Ah ... begitukah?" Ia masih menganalisis pahlawan muda itu dan tanpa disadari Izuku sendiri hingga matanya terpaku pada sesuatu. "Kalau begitu aku minta maaf atas masalah ini," katanya sambil berbalik di gang sebelum menoleh. "Ayo Eri kita pulang."

Saat itu Izuku benar-benar waspada dan mulai bergerak mundur masih menjaga percakapan tetap mengalir. "Dia benar-benar ketakutan, apa kau benar-benar orang tuanya?"

Sekarang ia benar-benar bersiap untuk kabur hanya menjaga jarak dari pria itu.

Orang itu menghela napas terdengar jengkel. "Pahlawan terlalu peka, ya ...? kata pria itu lagi. "Kenapa kau tidak mengikutiku saja dan aku akan menunjukkannya."

Mereka semakin berjalan masuk ke gang dengan Izuku yang berjalan masih menjaga jarak dari orang asing itu. "Anak-anak terkadang sangat sulit untuk di atur, kau tahu," katanya pelan, nada suaranya yang lembut justru menambah rasa dinginnya.

Pada saat itu, Izuku menyadari bahwa orang asing itu menarik sarung tangannya, Eri tersentak dan langsung melepaskan diri dari pelukan Izuku, tepat saat itu Lemillion muncul di gang.

Izuku hanya terdiam saat Eri kembali pada pria itu tanpa menyadari bahwa ia mengabaikan panggilan seniornya.

"Sudah selesai marahnya?" kata pria itu. Gadis itu hanya mengangguk. Tanpa sadar tangan Izuku mengepal saat mereka semakin menghilang dibalik gang gelap.

"Midoriya-kun? panggil Mirio sambil menepuk bahunya. Izuku tersadar dari lamunannya dan mendongak hanya untuk menemui wajah khawatir Seniornya. Mirio yang bingung karena juniornya tampak murung sambil memandang gang gelap itu.

Saat ia berjalan kembali ke agensi bersama Mirio, suara tawa seniornya terdengar jauh. Izuku tidak bisa menghilangkan bayangan wajah Eri yang ketakutan. Di dadanya ada perasaan berat, seperti ia telah gagal melindungi seseorang yang membutuhkan.

~•~

Waktu itu, rapat di adakan di agensi Sir Nighteye. Teman-temannya yang juga bergabung dengan agensi seperti Kirishima dengan Fatgum, Big Three dan Uraraka dan Tsuyu bersama Ryukyu.

Mereka sedang membahas tentang sebuah organisasi Yakuza bernama Shie Hassaikai yang dipimpin oleh seorang Tuan Muda bernama Chisaki Kai. Mereka di curiga membuat peluru Trigger di mana di temukan saat magang Red Riot. Ada juga peluru penghapus Quirk yang di dapatkan dari pertarungan Suneater.

Setelah di teliti ternyata obat itu mengandung darah manusia. Seketika suasana rapat menjadi berat. Tidak ada yang berani melontarkan pendapat. Izuku, yang telah diam selama rapat di tegur Eraser Head karena melihat ekspresi tegang di wajah muridnya.

"Midoriya, ada apa?" tanya Eraser Head.

Izuku yang masih tegang mendongak, seperti mendapat tekad yang tak tergoyahkan. Mirio di sampingnya menyemangati.

Izuku tak bisa lagi menahan diri. Ia mengangkat tangan dan berdiri, meski suaranya bergetar. "Aku ... aku bertemu seorang gadis kecil saat patroli. Namanya Eri. Dia bersama seorang pria yang menyebut dirinya ayahnya, tapi ... dia sangat ketakutan. Aku yakin dia bukan ayahnya. Aku-aku yakin dia adalah korban."

"Kenapa kau tidak melaporkan ini sebelumnya?" tanya Eraserhead tajam, alisnya sedikit terangkat.

Izuku menunduk, merasa bersalah. "Aku... aku tidak yakin saat itu. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, dan aku pikir akan lebih baik jika aku melaporkannya di sini."

"Midoriya, apa kau yakin pria itu adalah anggota Shie Hassaikai?" tanya Sir Nighteye, tatapannya tajam.

Izuku menggigit bibirnya, mengingat kembali wajah pria bertopeng wabah itu. "Aku yakin, orang itu adalah Chisaki Kai."

Lalu dengan itu, Izuku juga menceritakan kemungkinan seorang gadis itulah yang mereka gunakan sebagai objek penelitian.

Suasana rapat kembali terasa berat dua kali lipat. Seketika orang-orang mengkritik, sebenarnya hanya. Rock Lock menyuarakan ketidaksetujuannya untuk melibatkan anak-anak dalam investigasi. Ada perasaan aneh di dada Izuku saat mendengar ocehan sang pahlawan dan tidak bisa menahan diri untuk semakin menyalahkan dirinya sendiri. Di sisi lain, Mirio di sebelahnya juga berekspresi sama, penyesalannya adalah tidak ada di sana untuk gadis itu dan juga untuk kohai-nya yang harus menghadapi pria itu sendirian.

Selama perjalanan kembali ke UA, semua murid kembali dengan perasaan berat di hati mereka.

~•~

Chisaki sangat marah. Para pahlawan selalu menghalangi jalannya, bahkan hampir merebut Eri darinya.

"Masukkan dia ke kamarnya," perintahnya pada bawahannya. Bawahannya segera membungkuk dan membawa Eri dalam gendongannya lalu pergi dari sana.

Saat tiba diruang kerjanya. Chisaki mendudukan dirinya di kursi. Namun, pikirannya tidak berhenti sampai di sana. Ia mengingat sesuatu. Anak itu. Menarik perhatiannya. Bukan tanpa alasan. Terutama sepatu merah yang di kenalnya. Chisaki, yang sangat mendambakan masyarakat tanpa Quirk pasti tidak asing dengan sepatu merah itu. Sepatu yang menandakan seseorang Quirkless.

Dengan segera, ia memeriksa latar belakang anak itu. Hasilnya jelas: Namanya Midoriya Izuku dan dia terdaftar sebagai Quirkless selama 14 tahun hidupnya.

Pencariannya berlanjut hingga akhirnya, sampailah ia di siaran Festival Olahraga UA Tahun Pertama. Chisaki mengira anak itu memang tidak punya Quirk karena dari ronde pertama sampai babak Pertempuran Kavaleri, anak itu tidak menggunakan Quirk sama sekali tidak seperti peserta lainnya. Namun, saat ronde ketiga di mulai.

"Menarik," gumamnya hampir tanpa sadar.

Anak itu bertarung dengan seorang siswa dari studi umum. Awalnya, alur pertandingan dikuasai oleh anak studi umum itu tapi saat Midoriya akan keluar batas ia tiba-tiba berhenti. Setelah itu, mereka sepertinya saling dorong mendorong-perlawanan putus asa untuk mencapai babak final. Akhirnya, Midoriya-lah yang menenangkannya.

Chisaki melewatkan beberapa pertandingan sebelum fokus pada pertarungannya dengan Todoroki Shoto. Di sinilah hal menarik terjadi. Midoriya memiliki Quirk yang sangat kuat, tetapi ia jelas tidak memiliki kendali penuh atasnya.

"Dia tidak terbiasa dengan Quirk-nya," pikir Chisaki. Matanya menyipit.

Hal itu menimbulkan pertanyaan di benaknya. Bagaimana mungkin seseorang yang lahir tanpa Quirk tiba-tiba memiliki Quirk yang begitu kuat?

Mengingat Insiden Kamino, di mana raja dunia bawah di tangkap yang ternyata memiliki Quirk yang dapat di transfer pada orang lain. Chisaki berpendapat bahwa anak itu diberi Quirk.

Rasa penasaran berubah menjadi obsesi. Chisaki menghabiskan berjam-jam di ruangannya, mencari tahu lebih banyak tentang anak itu. Hasilnya membawanya pada informasi tentang keluarga Midoriya. Semuanya menjadi lebih menarik karena ibu anak itu sudah meninggal dan yang tersisa adalah ayahnya. Lagipula, ayahnya tidak mempunyai catatan baik di identitas sipilnya.

Midoriya Hisashi adalah nama yang terkenal di dunia bawah. Aroma tembakau dan alkohol hampir bisa ia bayangkan, melekat pada reputasi pria itu. Pedagang pasar gelap, penjahat kelas kakap, dan salah satu penguasa kecil di dunia kriminal dengan nama samaran Dragon.

Dengan demikian, sang Yakuza berdiri dari kursinya dan berjalan di lorong bawah tanah. "Atur pertemuan dengan Midoriya Hisashi. Aku ingin tahu sejauh mana bocah itu bisa kugunakan."

~•~

7 hari kemudian.

Tujuh hari kemudian, di ruang bawah tanah yang biasa digunakan untuk pertemuan penting, Chisaki akhirnya bertemu dengan Midoriya Hisashi. Seorang pria dengan reputasi yang menyaingi beberapa pemimpin dunia bawah lainnya. Keduanya duduk saling berhadapan, suasana ruangan dipenuhi dengan ketegangan. Pria itu menatap tajam ke arah Chisaki.

"Jadi," Hisashi membuka pembicaraan dengan nada malas, sembari meniupkan asap rokoknya. Asap itu membentuk lingkaran di udara, bergoyang sebentar sebelum menghilang di bawah cahaya lampu redup. "Apa yang kau inginkan dariku, Overhaul?"

Chisaki mengatupkan kedua tangannya bertumpu pada kedua pahanya di atas dagu.

"Baru-baru ini ... aku bertemu dengan anakmu," ujarnya memulai. Hisashi mengangkat alisnya heran.

"Anak tak berguna itu?" Hisashi tertawa mengejek. "Apa yang menarik dari anak itu hingga dia menarik perhatianmu?"

Chisaki tidak terpengaruh oleh sikap sinis Hisashi. "Bukan soal dia berguna atau tidak," jawabnya dengan nada dingin. "Aku hanya menemukan sesuatu yang ... menarik."

Hisashi menyandarkan punggungnya ke kursi, menunggu Chisaki melanjutkan. "Kalau begitu, langsung saja ke intinya. Penawaran macam apa yang kau punya?" tanyanya, nadanya terdengar malas tetapi matanya tetap waspada.

Chisaki menatap pria itu. "Aku yakin, setelah mendengar penawaranku, kau akan mengerti mengapa aku tertarik pada anakmu."

Bersambung ...