Izuku membuka matanya dan yang di lihatnya adalah langit-langit putih? Apa ini rumah sakit? Pikirnya. Baru saat itulah Izuku menyadari kondisinya. Ia duduk di kursi dengan tangan dan kaki terkunci erat, pakaiannya telah berganti menjadi gaun rumah sakit. Panik mulai menyerangnya. Ia mencoba mengaktifkan One For All, tapi tubuhnya tidak merespons. Quirk-nya mati.

Kenapa Quirk-ku tidak merespon? Apakah aku kehilangannya? Tidak. Berpikir positif, lagipula ... ini di mana?

Izuku masih mencoba melepaskan dirinya dari ikatan berharap Quirk-nya merespon. Tiba-tiba sebuah suara terdengar, nadanya terdengar geli.

"Tidak ada gunanya mencoba menggunakan Quirk-mu di sini."

Seketika, Izuku membeku. Jantungnya berdebar karena ia kenal pemilik suara itu. Izuku mendongak memandang pria itu. Overhaul berdiri di hadapannya.

"Chisaki," gumamnya dengan nada gemetar.

Chisaki berdecak. "Hah ... jangan panggil aku seperti itu, tapi aku akan membiarkannya kali ini."

Pikiran Izuku berputar-putar tentang bagaimana ia bisa berakhir di sini. Terakhir yang diingat adalah ayahnya menginginkannya pulang akhir pekan ini. Awalnya Izuku bingung dengan permintaan itu, apalagi dengan suara ramah yang sangat asing dari ayahnya itu.

Flashback

Izuku masih ingat betul ketika dia tiba di rumah ayahnya, tempat yang sudah lama tidak dia kunjungi. Saat mengetuk pintu, suara langkah kaki terdengar di dalam, dan tak lama pintu terbuka.

"Izuku!" seru ayahnya, wajahnya dipenuhi senyuman lebar yang ... terlalu tulus untuk seorang pria yang dulu sering memarahinya tanpa alasan.

"A-Ayah ..." Izuku menjawab pelan, perasaan aneh mulai menggelitik pikirannya.

"Ayo masuk. Sudah lama kita tidak mengobrol, kan?" Ayahnya menarik lengannya lembut ke dalam rumah.

Izuku menurut, meski tubuhnya terasa berat. Ada sesuatu yang salah.

Di ruang tamu, ayahnya menyuruh Izuku duduk di sofa. "Tunggu sebentar, Ayah buatkan teh. Kau pasti lelah."

"Ayah, aku ..."

"Tenang saja, ini tidak akan lama." Ayahnya menyela dengan nada terlalu ramah, menghilang ke dapur.

Izuku menatap sekeliling. Rumah ini tidak banyak berubah, tapi kenangan buruk mulai kembali menghantuinya. Dulu, setiap sudut ruangan ini adalah saksi bisu atas teriakan dan pukulan. Ia menggigil sedikit saat mengingatnya.

Tak lama kemudian, ayahnya kembali membawa dua cangkir teh. "Nah, ini teh favoritmu."

Izuku menerima cangkir itu, tangannya sedikit gemetar. "Terima kasih ...," gumamnya.

Ayahnya duduk di sofa seberang dan mulai berbicara dengan nada yang terlalu santai.

"Kau tahu, Izuku, aku sering memikirkanmu akhir-akhir ini. Rasanya bersalah karena kita tidak sering berbicara."

Izuku hanya diam, memutar cangkir di tangannya tanpa berniat meminumnya.

"Kau pasti sudah jadi pahlawan hebat sekarang, ya? Tapi ... bagaimana kabarmu? Apa kau merasa ... kesepian?"

Pertanyaan itu membuat Izuku mengangkat kepalanya, bingung. "Kenapa Ayah tiba-tiba menanyakan itu?"

Ayahnya tersenyum. "Ah, hanya ingin memastikan. Kadang kita harus meluruskan hubungan yang pernah salah, bukan?"

Izuku merasa jantungnya berdetak lebih cepat. "Ayah ... kenapa Ayah tiba-tiba seperti ini? Ini bukan sikap Ayah yang biasa."

Ayahnya terdiam sejenak, lalu mendekat ke arahnya. Wajahnya masih tersenyum, tapi ada sesuatu yang gelap di balik tatapan itu. "Izuku, kau tidak percaya pada Ayahmu sendiri?"

"A-aku ..." Izuku terhenti, matanya melebar saat ayahnya meletakkan tangan di bahunya. Tekanan dari genggaman itu membuatnya kaku.

"Sudahlah. Minumlah tehnya. Kau tidak ingin membuat Ayah kecewa, kan?"

Izuku menatap teh itu dengan perasaan ragu. "Aku tidak haus, Ayah ..."

"Ayo, Izuku," nada suaranya berubah lebih dingin, lebih memaksa. "Kau tidak ingin menyakiti perasaan Ayah, kan?"

Dengan enggan, Izuku mengangkat cangkir dan mengambil tegukan kecil. Rasanya aneh, pahit, dan sedikit logam. Saat dia hendak meletakkan cangkirnya, ayahnya tiba-tiba mendekat dan memeluknya erat.

"Izuku ...," bisiknya, nada suara berubah menjadi sesuatu yang asing, hampir menyeramkan.

"A-Ayah ... apa yang kau lakukan?" Izuku mencoba mendorongnya, tapi kekuatannya mulai melemah. Matanya berat, pikirannya kabur. Ayahnya berbisik pelan di telinganya.

"Maaf, Nak. Kau terlalu banyak merepotkan."

Sebelum Izuku bisa memproses kata-kata itu, kegelapan menyelimutinya.

Izuku tersadar dari lamunannya saat Chisaki kembali berbicara.

"Ngomong-ngomong, apa kau tahu kenapa kau ada di sini, Deku?"

Izuku tidak menjawab, dia hanya diam sembari menatap tanah. Chisaki hanya menghela napas tidak mengeluh dengan kurangnya responnya.

Chisaki menarik troli yang berisi berbagai macam pisau yang digunakan untuk medis. Sesuatu menggelitik firasat Izuku saat ia menatap deretan pisau itu, rasa takutnya mulai terlihat saat Chisaki mulai mengangkat satu pisau ke udara seperti memeriksa ketajamannya.

Dengan suara bergetar, Izuku memaksakan diri untuk bertanya meskipun rasa takutnya kian bertambah. "Apa yang kau inginkan dariku?" tanyanya hampir seperti bisikan. Meskipun begitu, Chisaki mendengar dengan jelas pertanyaan itu.

"Kau tahu, kata orang, jika kau mendapat emas maka kau harus memungutnya, kalau tidak orang lain yang akan melakukannya."

Izuku mengernyit heran dengan pernyataan Chisaki yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan.

"Karena itu, aku membuat kesepakatan dengan ayahmu."

Saat kata ayah diucapkan. Izuku langsung gemetar. Hal itu malah memunculkan kilas balik saat-saat terburuk di mana ayahnya selalu menyalahkannya dan memukulnya hanya untuk melampiaskan kekesalannya.

Meskipun begitu, Izuku masih mendengar jelas kata-kata selanjutnya yang di ucapkan sang Yakuza.

"Jadi kami sepakat, untuk ... menjualmu padaku dengan begitu, Ayahmu tidak perlu berurusan lagi denganmu."

Chisaki kembali berbicara. "Lagipula ... aku tertarik padamu. Sejak pertemuan pertama kita, aku mulai menyelidiki kehidupanmu. Dan kau tahu hal menarik apa yang aku temukan?"

Chisaki berjalan memutar hingga berhenti di belakang kursi. Lalu sang Yakuza membungkuk agar wajahnya mendekati telinga remaja itu dan berbisik. "Kau seorang Quirkless, bukan?"

Dengan itu, Izuku panik dan mencoba melepaskan dirinya dari pengikat tapi itu tidak membuat perbedaan saat perlawanan itu tidak memberikan dampak.

Bagaimana dia bisa tahu? Tidak ada yang tahu dirinya Quirkless. Dan lebih ngerinya lagi, ayahnya sendiri ... menjualnya? Izuku terdiam, hatinya remuk. Ia tahu hubungan dengan ayahnya tidak pernah baik, tetapi ini... ini terlalu jauh.

Ia tidak tahu apakah harus senang karena bisa bebas dari penyiksaan ayahnya atau meratapi nasibnya karena harus ditawan seperti ini. Izuku tahu apa yang akan Chisaki lakukan. Dengan terikat di ruangan ini bersama dengan banyaknya alat-alat medis, entah apa yang akan diperbuat Chisaki padanya.

Air mata mengaburkan pandangannya. Saat ia menyerah untuk melawan karena tidak ada gunanya melepaskan diri, bahkan One For All tidak merespon berapa kali pun Izuku memanggil.

Chisaki tidak terpengaruh dan mulai menurunkan pisau itu ke pergelangan tangan si rambut hijau. Dengan itu, gelombang panas dari pisau yang mengiris daging membuat remaja itu memejamkan matanya, tidak, jangan menangis, bertahanlah, jangan biarkan orang itu melihat bertapa rapuhnya dirimu. Kau harus tetap kuat.

"Kau tidak perlu menahannya, karena itu hal yang wajar." Ia mendengar Chisaki berbicara tapi ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan berusaha menahan panas logam yang masih mengiris dagingnya.

Kalau dipikir-pikir, ini mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan panas lava yang di lemparkan ayahnya padanya. Tapi tetap saja, mengerikan melihat dagingmu diiris-iris seperti itu.

Dengan suara bergetar, Izuku berkata sembari menahan sakit ditangannya.

"Apa yang kau lakukan padaku?" tanyanya hampir berbisik.

Chisaki hanya bersenandung seolah tidak terpengaruh dengan apa yang ia lakukan. "Kau tahu, aku selalu bermimpi menciptakan dunia di mana Quirk tidak pernah ada, dan karena kau adalah individu yang duluan suci sebelum sesuatu seperti Quirk itu menodaimu."

Caranya menekankan kata menodai itu membuat bulu kuduk remaja itu berdiri sesaat.

"Maka dari itu, dengan bantuan mu, aku yakin aku akan berhasil membuat peluru penghapus Quirk," jelasnya mengakhiri.

Setelah di rasa cukup, Chisaki meletakkan pisau yang bernoda darah itu dan mulai mengambil botol kecil. Ia mengambil suntikan dan mulai mengambil darah dari daging yang teriris itu.

Izuku hanya menatap kosong pada tangannya yang mulai meneteskan darah kelantai. Rasa sakitnya tak tertahankan. Di tengah-tengah itu, Izuku tersentak ketika teringat perban yang membalut tangan Eri. Peluru penghapus Quirk? Apakah orang ini juga memperlakukan Eri seperti ini?! Itu benar-benar keterlaluan.

Kesedihan di matanya segera digantikan oleh kemarahan membara saat ia menatap Chisaki yang hanya mengangkat alisnya kearahnya.

"Apa kau juga melakukan ini pada, Er?!" teriaknya.

Tidak ada jawaban. Chisaki hanya diam dan kembali mengarahkan benda tajam lain ke pergelangan tangannya yang sudah berdarah dan mengirisnya kembali. Seketika ringisan lolos dari bibir pemuda itu.

Chisaki tidak terpengaruh, ia hanya melanjutkan pekerjaan dalam diam.

"Ya." Meski terlambat, Izuku tahu itu adalah jawabannya.

"Bajingan, apa kau tidak merasa bersalah melakukan hal ini pada anak-anak?!" umpatnya. Disela-sela rasa sakit. Chisaki tidak menjawab. Jadi, daripada melawan Izuku hanya diam menerima perlakuan terhadapnya.

Mereka berdiam dalam keheningan. Ketika Chisaki menyelesaikan pekerjaan apapun yang ia lakukan. Orang itu hanya pergi meninggalkan Izuku sendirian dengan tangan yang masih meneteskan lebih banyak darah.

Saat itulah Izuku mulai menangis, ia ingin melepas ikatan ini setidaknya untuk menahan luka di tangan kirinya tapi berapa kali pun ia mencoba itu tidak ada gunanya. Darah yang mengalir dari tangannya juga tak kunjung berhenti.

Ia tidak tahu berapa lama ia termenung. Ia sudah lelah menangis dan hanya menatap kosong ke lantai.

--/--

Tak lama kemudian, Chisaki kembali, berdiri dengan tenang, ia tidak mengenakan jaketnya. Sebaiknya ia mengenakan jas putih panjang dengan masker medis. Sarung tangan lateks membungkus tangannya, dan di hadapannya terletak nampan berisi alat-alat medis yang mengkilap.

"Aku kagum kau masih sadar," katanya dingin. "Sekarang biarkan aku mengobatimu. Tubuhmu butuh perhatian khusus, Deku."

Izuku mencoba melawan ikatan di tangannya, tapi Chisaki hanya melirik santai. "Jangan mencoba hal bodoh. Tubuhmu sudah terlalu lemah. Biarkan aku bekerja."

Tanpa menunggu jawaban, Chisaki mendekatkan alat medis ke luka di lengan Izuku. Luka itu panjang dan dalam, darahnya masih segar meski sudah beberapa waktu berlalu.

"Kau beruntung aku tidak membiarkanmu mati begitu saja," ucap Chisaki sambil menyuntikkan cairan ke lengan Izuku. Sensasi dingin langsung menjalar, membuatnya menggertakkan gigi.

"Apa ... yang kau lakukan padaku?" tanya Izuku, napasnya berat.

"Obat penghilang rasa sakit," jawab Chisaki singkat. "Meski aku yakin kau akan tetap merasakannya."

Ia mengambil kain steril, membersihkan luka dengan gerakan yang hampir terlalu hati-hati. Namun, ekspresinya tetap datar, seperti dokter yang menangani pasien biasa.

Ketika Chisaki mulai menjahit luka di lengan Izuku, rasa sakit itu muncul kembali. Jarum menusuk kulitnya perlahan, dan darah segar menetes ke lantai. Izuku mengepalkan tangan, menahan rasa sakit tanpa bisa melawan.

"Tahan sedikit lagi. Kau kuat, bukan? Pahlawan Deku seharusnya tahan dengan rasa sakit kecil seperti ini," ejek Chisaki sambil melanjutkan pekerjaannya.

Izuku menatapnya dengan mata penuh amarah. "Kau pikir ini bentuk bantuan? Kau hanya mempermainkanku!"

Chisaki tertawa kecil. "Kau salah paham. Aku hanya menjaga tubuhmu tetap hidup untuk tujuanku. Kau aset penting dalam rencanaku, jadi aku tak bisa membiarkanmu mati begitu saja."

Setelah selesai dengan luka di lengan, Chisaki memeriksa luka lain di tubuh Izuku. Bahunya lebam parah, dan ada sayatan panjang di sisi pinggangnya. Ia mulai bekerja dengan hati-hati, membersihkan darah kering sebelum membalut luka dengan perban tebal.

Izuku merasakan setiap sentuhan, setiap tekanan yang membuatnya meringis. Napasnya terengah-engah, keringat dingin mengalir di pelipisnya.

"Tubuhmu sangat rusak, tapi juga sangat menarik," ujar Chisaki sambil memeriksa bekas luka lain di punggung Izuku. Kebanyakan bekas luka bakar. "Kau telah melalui banyak hal, ya? Tapi itu hanya membuatmu lebih berharga bagiku."

"Apa maksudmu?!" Izuku memaksakan suara meski tubuhnya gemetar.

Chisaki tidak menjawab. Ia hanya menyelesaikan pengobatan dengan tenang, membalut luka terakhir sebelum akhirnya mundur satu langkah.

Chisaki melepas sarung tangannya lalu membuangnya ke tempat sampah medis. Ia menatap Izuku yang terbaring lemah dengan senyum kecil.

"Aku sudah selesai untuk hari ini. Istirahatlah Deku."

Dengan itu gelombang kantuk kembali terasa ia tidak punya tenaga lagi untuk melawan dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan.

--/--

Izuku membuka matanya perlahan, kali ini bukan langit-langit putih yang menyambutnya. Sebaliknya, ia melihat dinding-dinding abu-abu kasar tanpa jendela.

Ia terduduk di ranjang kecil dengan seprai kusut. Seluruh tubuhnya terasa kaku, terutama lengan kirinya yang masih terbalut perban tebal. Sisa-sisa rasa sakit dari luka-lukanya masih terasa, denyutnya seolah mengingatkan bahwa ia benar-benar hidup dalam mimpi buruk ini.

Izuku menggerakkan tangan perlahan, mencoba menyentuh perbannya. Darah mengering di sekitar kain itu, tapi setidaknya luka-lukanya sudah dijahit. Ia tidak tahu apakah harus bersyukur atau merasa semakin muak dengan perhatian aneh Chisaki.

Ketika ia menurunkan kakinya ke lantai dingin, tubuhnya gemetar. Ruangan ini tidak besar, tidak ada jendela atau hiasan apa pun-hanya empat dinding abu-abu polos dan satu pintu logam besar di salah satu sisinya.

Izuku berjalan pelan ke arah pintu, mencoba membuka atau setidaknya mengintip ke luar. Namun, pintu itu terkunci rapat. Ia menempelkan telinganya, berharap mendengar suara dari luar, tapi yang ada hanya keheningan.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat. Izuku segera melompat kembali ke tempat tidur, berpura-pura tertidur. Pintu logam terbuka dengan bunyi berderit pelan, dan suara langkah itu berhenti di dekat ranjangnya.

Chisaki berdiri di sana, mengenakan mantel hitam panjang dan topeng wabah khasnya. Dengan perlahan, ia duduk di tepi ranjang, membelakangi Izuku yang masih berpura-pura terlelap.

pria itu mengangkat tangannya dan menyentuh pipinya.

"Kau milikku sekarang," bisik Chisaki, suaranya nyaris terdengar lembut.

Izuku menahan diri untuk tidak mengernyit mendengar bisikan itu. Kedengarannya seperti mimpi buruk.

Tak lama, Chisaki berdiri dari tempat tidur, berjalan ke pintu melangkah keluar lalu menutupnya dengan perlahan meninggalkan bunyi berdecit.

Izuku menoleh dan menghela napas saat hanya dirinyalah yang tersisa di ruangan itu. Ia menatap langit-langit kemudian menoleh ke arah perban di lengannya yang mulai bernoda merah. Luka itu berdenyut, seperti menertawakan kelemahannya. Tapi lebih dari rasa sakit fisik, Izuku merasa hatinya hancur.

Menutup matanya, mencoba mengumpulkan kekuatan. Tapi dalam kegelapan matanya, ia hanya melihat bayangan Chisaki dan ayahnya. Dua sosok yang kini menguasai hidupnya, menghancurkannya perlahan.

"Aku harus keluar dari sini."

Bersambung ...