Sementara itu di UA.

Tiga hari berlalu, dan saat itu juga para guru maupun para pahlawan tidak berhenti mencari. Sejak diketahui Midoriya Izuku, murid tahun pertama kepahlawanan menghilang sejak saat itu juga semua orang khawatir.

Hal ini di mulai saat hari Senin, di mana Midoriya Izuku, murid yang sangat rajin berhadir itu tiba-tiba absen tanpa keterangan. Semua temannya tentu saja cemas. Awalnya Aizawa menghubungi kontak darurat yang tertera di dokumen siswa. Tapi sama sekali tidak ada jawaban.

Waktu berlalu hingga 2 hari kemudian di hari Rabu, kekhawatiran bertambah. Dengan itu Kepala Sekolah Nezu memerintahkan Aizawa untuk mengunjungi kediaman Midoriya. Tapi, saat sampai di sana, rumah itu kosong. Tidak ada seorang pun yang tinggal di sana. Rumah Midoriya bertempat terjauh dari hiruk pikuk orang jadi tentu saja tidak akan ada saksi mata yang melihatnya.

Tanpa hasil, Aizawa kembali ke sekolah dan memberitahukan temuannya pada Nezu. Teman-temannya juga tidak ada yang melihatnya. Terakhir kali, Uraraka berkata bahwa di akhir pekan Deku pernah menyampaikan padanya bahwa pemuda itu akan mampir ke rumahnya dan akan kembali hari Senin. Yang lainnya juga tidak mempunyai informasi yang berguna.

Dengan itu, Nezu dengan cepat menghubungi pihak kepolisian dengan bantuan Tsukauchi Naomasa untuk melakukan pencarian orang hilang namun saat ini tidak ada yang tahu di mana Midoriya Izuku berada.

"Ada informasi terbaru?" tanya Aizawa saat memasuki kantor kepolisian di mana Detektif Tsukauchi sedang duduk dimeja kerjanya.

"Tidak ada sama sekali, orang-orang yang kami tanyai juga tidak melihat Midoriya-kun selama ini. Beberapa orang terakhir kali melihat Midoriya-kun saat mereka memasuki kereta menuju Musutafu pada akhir pekan dan orang-orang yang biasanya berada di kereta yang sama dengannya juga mengonfirmasi hal itu benar, itulah terakhir kalinya mereka melihatnya," jelas Tsukauchi.

Aizawa memijat pelipisnya merasakan sakit kepalanya muncul lebih awal. Semua hal ini membuatnya frustasi. Belum lagi ia harus mencari informasi terkait Shie Hassaikai dan juga Trigger ditambah peluru penghapus Quirk. Dan sekarang dengan masalah muridnya yang menghilang tanpa jejak membuatnya ingin pensiun tapi ia tahu ia tidak bisa melakukan itu.

"Baiklah, kabari aku jika kau menemukan informasi lain," katanya sebelum pergi dari sana.

Kembali ke markas Shie Hassaikai

Tiga hari ini, Izuku seperti melakukan rutinitas berulang. Bangun, mandi, diseret ke lab, makan dan tidur. Tidur pun tidak banyak membantu dan kadang-kadang ia hanya menutup matanya atau hanya membukanya sama sekali.

Waktu berlalu dan ini sudah mendekati satu Minggu 2 hari ia di tawan di sini. Orang yang diperintahkan Overhaul untuk menjaganya juga tidak pernah lengah sama sekali. Meskipun penampilannya seperti orang yang mudah lengah, orang itu adalah orang yang sangat jeli dan memperhatikan sekitarnya seperti elang. Ketika ada pergerakan sedikit saja yang mencurigakan, orang itu akan langsung mengawasinya.

Satu hari lagi terlewat dan ia kembali diseret ke lab oleh anak buah Overhaul, didudukkan paksa di kursi kemudian dikekang agar tidak bisa kabur.

Sepeti biasa, akan ada luka baru yang terbentuk. Kadang Yakuza itu akan mengiris pergelangan tangannya, beralih ke betisnya atau bahkan Overhaul akan membaringkannya di ranjang dengan tangan terikat lalu menggunakan Quirk-nya untuk membongkar tubuhnya.

Proses itu membuatnya lebih mengerikan dan membuatnya mual. Bagaimana tubuhnya dibongkar dan dibuat ulang berkali-kali sangat membebani dirinya.

Mendadak ia berpikir apakah penyiksaan ayahnya tidak ada apa-apanya dibandingkan ini.

Sudah 2 Minggu sejak saat itu. Rutinitas yang dijalaninya tidak berubah. Dan sejak saat itu, Izuku percaya para pahlawan akan datang dan menyelamatkannya, yang bisa dilakukannya adalah menunggu sembari menghafal rute yang ia lalui saat anak buah Overhaul membawanya. Lagipula, mereka tidak menutup matanya.

Saat teringat akan Eri, Izuku ingin mencoba meminta pada Overhaul untuk menemuinya. Semoga saja berhasil.

Waktu itu, setelah mengambil darahnya yang sudah ke berapa kalinya, Izuku yang hanya diam selama ini berbicara.

"Kai," panggilnya. Sejak kemarin pemimpin Yakuza itu ingin sekali dipanggil dengan nama depan. Izuku heran dengan permintaan itu. Tapi hanya mengangguk dan menuruti apa yang dimintanya. Ia tidak ingin kejadian terakhir kali terjadi. Saat ia menolak perintah orang itu, Overhaul marah dan menghukumnya.

Jenis hukuman yang disarankan oleh mantan ayahnya, itulah yang dikatakan Overhaul. Tentu saja berhasil, anak itu menangis dan memohon untuk berhenti dan akan melakukan apapun asalkan menghentikan hukumannya. Overhaul hanya memeluknya dengan sayang tapi hal itu malah membuat remaja itu menangis lebih keras.

Kembali ke masa sekarang, Overhaul hanya bersenandung tanda mendengarkan yang memberi isyarat bagi Izuku untuk melanjutkan.

"Bisakah aku bertemu Eri sekarang?" tanyanya.

Overhaul mengehentikan apa yang dikerjakannya dan menatap Izuku dengan intens yang membuat remaja itu gugup tetapi ia berusaha untuk membuat wajahnya terlihat menyedihkan.

Setelah 5 menit kontes menatap itupun berakhir dengan Overhaul yang menghela napas dan memanggil salah satu anak buahnya. Nemoto, begitulah Overhaul memanggilnya. Quirk-nya memungkinkannya untuk memaksa orang lain mengungkapkan rahasia mereka. Saat Quirk itu di gunakan padanya. Izuku takut bahwa One For All akan terungkap tapi ia langsung menutup mulutnya saat pada bagian di mana dia memang seorang Quirkless. Meskipun lega karena informasi tentang One For All masih terkunci, konfirmasi yang menyatakan dirinya Quirkless juga tidak memberinya keuntungan. Hal itu malah membuat Overhaul tidak membiarkannya lepas dengan mudah.

"Nemoto," panggilnya.

"Ada apa Tuan?"

"Antar anak ini ke kamar Eri," perintahnya.

Tanpa banyak tanya, Izuku langsung diseret keluar lab ditemani oleh anggota lain yang memperkenalkan dirinya sebagai Rappa.

Saat tiba di pintu kamar Eri, yah ... jika kau bisa menyebutnya kamar dibuka oleh salah satu dari mereka. Izuku langsung di dorong ke dalam hingga membuatnya sempat terhuyung.

"Bersenang-senanglah." Itulah hal yang didengarnya sebelum pintu tertutup.

Izuku mengedarkan pandangannya dan bertemu dengan Eri yang tengah duduk di ranjangnya dengan ekspresi ketakutan. Dengan tenang dan tersenyum Izuku mendekat dengan perlahan agar tidak membuat gadis itu takut tapi hal itu malah membuat gadis itu mundur menekan dirinya ke dinding.

"Hai, Eri-chan?" panggil Izuku dengan lembut masih mempertahankan senyumannya walaupun hatinya nyeri melihat gadis itu menjauh darinya.

"M-Mereka menyakitimu juga?" tanya gadis itu dengan suara bergetar.

Hati Izuku merasa teriris saat melihat air mata menetes dari gadis itu. "Apa ini karena aku ...?"

Izuku tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia mendekat dan memeluk gadis itu erat. Awalnya Eri tersentak, tetapi kemudian ia membenamkan wajahnya ke dada Izuku, menangis lebih keras.

"Bukan salahmu. Aku janji, ini bukan karenamu," bisik Izuku sambil membelai rambut Eri dengan lembut.

Eri hanya terus menangis sesenggukan mungkin karena rasa bersalah karena dirinya seseorang juga menderita. Izuku dengan cepat membantah hal itu.

Saat mereka berdua melepas pelukannya. Izuku menggenggam tangan mungil Eri dan berbicara dengan penuh keyakinan.

"Eri-chan, aku janji padamu, para pahlawan pasti akan datang dan kita akan keluar dari sini dengan begitu tidak akan ada yang bisa menyakiti kita lagi."

Gadis itu yang sudah berhenti menangis itu walau sedikit terisak bertanya, "bahkan Overhaul?"

"Ya, bahkan Overhaul," katanya dengan mata yang memancarkan tekad.

Setelah tangisan Eri mereda, Izuku mencoba mengalihkan perhatiannya. Ia mencari-cari sesuatu yang bisa dilakukan hingga akhirnya menemukan setumpuk kertas dan pensil.

"Ayo, kita menggambar," katanya dengan senyum tipis.

Eri menatapnya bingung, tetapi tidak menolak. Mereka mulai menggambar di lantai, menciptakan sketsa sederhana. Izuku menggambar para pahlawan-All Might, Present Mic , bahkan Eraser Head. Ia menceritakan kehebatan masing-masing pahlawan dengan nada yang penuh antusias.

Mata Eri berbinar-binar mendengarnya meskipun senyuman tidak pernah muncul di wajahnya.

Mereka melanjutkan dengan ide Izuku untuk membuat gambar di perban ditangan mereka agar membuat Eri sedikit melupakan hal-hal yang terjadi di lab itu.

Mereka menggambar kupu-kupu yang diajari Izuku simbol hati dan bunga. Hanya Izuku yang kadang-kadang tertawa saat melihat Eri yang tengah kesusahan dengan bentuk yang cukup rumit, Izuku perhatikan Eri tidak tersenyum sama sekali.

"Eri-chan?"

"Hm?"

"Apa kau tahu apa bagaimana caranya tersenyum?" tanyanya dengan lembut.

Eri hanya memiringkan kepalanya terlihat bingung.

"Bagaimana caranya?"

"Begini ...," Izuku mempraktikannya senyumnya. Hanya senyumnya yang biasa. Eri yang memandangnya mencoba menarik sudut bibirnya tapi tidak ada yang berhasil.

Air mata mulai muncul di pelupuk matanya. "A-Aku tidak bisa!"

Izuku tersentak saat Eri tiba-tiba berteriak sepeti itu dan mencoba menenangkannya dengan cepat.

"Tidak apa-apa, Eri-chan, kita coba lain waktu," katanya menyemangatinya. Izuku mendudukan Eri di pangkuannya setelah menghapus air mata dari wajah gadis itu.

Mereka hanya diam seperti itu. Izuku hanya memeluk gadis itu sembari membenamkan wajahnya di puncak kepala gadis itu. Eri mulai mengutak-atik perban ditangannya dan juga Izuku sembari membandingkan gambar yang sudah mereka gambar.

Entah berapa lama mereka tetap seperti itu dari dalam pelukan itu, mereka merasakan perasaan akrab, perasaan hangat bahwa mereka tidak berjuang sendirian.

Sesaat kelopak mata Eri mulai menutup tapi sebelum itu, kesadarannya hilang sepenuhnya. Untuk pertama kalinya, ia mendapatkan tidur yang damai.

Ketika Eri akhirnya tertidur di pelukan Izuku, pemuda itu memandang wajah gadis itu yang damai. Dalam hati, ia bersumpah bahwa ia akan menemukan cara untuk melarikan diri bersama gadis kecil ini. Para pahlawan akan datang. Ia hanya perlu bertahan sedikit lebih lama.

Bersambung ...