Saat pintu terbuka, Chisaki tampak berdiri di ambang pintu, dengan mata tajam yang menilai setiap sudut ruangan. Di belakangnya, anak buahnya ikut masuk. Chisaki melangkah masuk dan duduk di samping ranjang tempat dua penghuninya berbaring.
Chisaki dengan diam memperhatikan dua anak yang berada dalam genggamannya. Miliknya tengah tertidur sembari berpelukan di ranjang. Mereka terlihat nyenyak sekali hingga membuat pria itu ingin memberi mereka sedikit waktu bersama. Tapi misi tetap misi.
"Bangun," ucapnya dengan penekanan.
Itu saja, keduanya langsung membuka mata dan bangun dari tidurnya. Ekspresi damai tadi segera tergantikan dengan ketakutan murni dari keduanya. Izuku dengan cepat mengubah posisinya memeluk Eri dengan sikap protektif, meskipun takut ia berusaha membuat dirinya tampak tangguh di bawah tatapan intens sang Yakuza.
Chisaki berdiri, memberi isyarat pada anak buahnya untuk mendekat dan membawa Izuku pergi.
"Waktumu sudah habis, sekarang kita kembali," katanya dengan nada yang tidak mengindahkan protes dan perlawanan.
Eri menggenggam tangan Izuku dengan erat, matanya mulai berkaca-kaca. "Deku-nii ..."
Izuku berusaha tersenyum meskipun ada jejak keputusasaan di balik raut wajahnya. "Aku pergi dulu, Eri-chan ..., bisik Izuku.
Ketika Izuku diseret pergi, matanya tak lepas dari Eri, hingga pintu tertutup rapat meninggalkan gadis itu sendirian dalam kegelapan.
Izuku kembali ke ruang eksperimen yang suram. Ia dipaksa duduk. Seperti biasa, tangan dan kaki diikat erat sebagai pengamanan.
Chisaki berdiri dihadapannya, memperhatikan Izuku dengan tatapan yang sulit di baca. Kemudian, matanya beralih ke perban yang melilit tangan remaja itu. Ada sedikit rasa geli dalam diri Chisaki melihat hiasan yang di buat Izuku, bunga dan bentuk hewan yang tampak dibuat secara sembarangan. Namun, ia memilih untuk mengabaikan, lebih fokus pada apa yang akan dilakukan selanjutnya.
Chisaki mengangkat sebuah jarum, dan saat Izuku melihatnya, perasaan buruk langsung menjalar di sekujur tubuhnya. Iya tak tahu apa yang akan terjadi, tetapi nalurinya tahu bahwa ini adalah langkah yang lebih jauh dari eksperimen mereka.
"Ap-apa yang akan kau lakukan sekarang?" Izuku bertanya dengan suara bergetar, mencoba menunjukkan keteguhan meskipun jantungnya berdebar kencang.
Sang Yakuza hanya melirik tanpa minat, ia sudah terbiasa dengan sikap remaja itu. "Lihat saja nanti."
Salah satu anak buahnya menyuntikkan cairan aneh itu ke pergelangan tangannya. Seketika itu juga reaksinya terasa. Tubuhnya seperti terbakar dari dalam. Quirk-nya, One For All, meledak dalam dirinya, bergejolak tak terkendali. Persentase kekuatannya yang meningkat terlalu cepat untuk diimbangi oleh tubuhnya yang lemah, menyebabkan rasa sakit yang tak terbayangkan.
Izuku ingin berteriak. Namun tidak bisa. Setiap sarafnya terasa seperti terbakar, dan tubuhnya seolah kehilangan kendali. Matanya memancarkan cahaya hijau terang dan mulutnya terbuka tanpa bisa mengeluarkan suara. Dalam hitungan detik tubuhnya meledak. Darah menodai kursi dan lantai, organ tubuh dan tulang berserakan. Namun, Chisaki tidak terpengaruh oleh pemandangan di depannya. Ia hanya berdecak dan membuka sarung tangannya dan begitu saja, tubuh yang semula hancur itu disatukan kembali seolah tidak terjadi apa-apa.
Izuku memikirkan bagaimana gadis kecil seperti Eri bisa bertahan melewati ini setiap hari? Tubuhnya terkulai lemas, dada naik turun, ia tidak sanggup membuka matanya hingga tidak menyadari Chisaki kembali menyuntikan cairan aneh lain tapi ini berbeda. Saat cairan itu mengalir ke tubuhnya. Ada rasa sakit sesaat lalu semuanya terasa hampa. 'Ah ... sekarang aku mengerti. Jadi ini yang disebut Peluru Penghapus Quirk,' pikirnya.
Ia tidak tahu berapa lama ia sadar. Jika diingat dengan benar cairan yang mereka suntikan pertama kali itu benar-benar membuatnya linglung. Ia tidak bisa memproses apapun di sekitarnya. Kemudian, sebuah tangan mengangkat tubuhnya. Ia berusaha membuka matanya untuk melihat siapa yang mengangkatnya.
Itu adalah tangan kanan Chisaki, Chrono. Izuku menghela napas pasrah, remaja itu membuang muka. Melihat Izuku bertingkah seperti itu, Chrono hanya mengangkat bahu.
Sesampainya di "kamarnya", ruangan yang menyambutnya kini berbeda. Dinding-dinding yang dulu kosong dan suram kini dihiasi action figure All Might dalam berbagai pose. Tidak banyak, tapi cukup untuk memberi sedikit warna pada ruangan monoton itu. Selimut di tempat tidurnya terasa lembut saat bersentuhan dengan kulit. Sungguh berbeda dengan kondisi tubuhnya yang terasa hancur.
Chrono menurunkan Izuku perlahan ke atas ranjang, memposisikan tubuh remaja itu seperti orang tua yang menidurkan anaknya. Izuku terlalu lelah untuk melawan. Ia menatap sekilas ke arah Yakuza itu, lalu memalingkan wajah dengan sinis.
"Untuk apa semua ini?" gumam Izuku dengan suara serak. "Manipulasi agar aku tidak kabur? Itu tidak akan berhasil."
Chrono tidak menjawab. Ia hanya menatap Izuku dan melangkah keluar. Pintu tertutup dengan bunyi lembut, meninggalkan Izuku sendirian di ruangan yang kini terasa aneh baginya.
Sementara itu, di ruangan lain di markas Shie Hassaikai, rapat tengah berlangsung. Chisaki berdiri di depan peta besar yang menunjukkan jaringan distribusi Trigger dan peluru penghapus Quirk. Beberapa anak buahnya berdiri di sekitarnya, mendengarkan perintah dengan saksama.
"Kita sudah berhasil menguji cairan itu pada subjek utama," katanya. Suaranya dingin, tanpa emosi. "Sekarang, saatnya meningkatkan produksi."
"Bagaimana dengan bocah itu?" tanya salah satu anak buahnya.
Chisaki melirik sekilas. "Dia masih berguna. Pastikan dia tetap hidup. Jangan biarkan dia melukai dirinya sendiri."
Anak buah itu mengangguk, meski sedikit bingung dengan instruksi terakhir. Overhaul jarang memberi perhatian lebih pada seseorang, apalagi seorang tawanan.
Kembali ke kamar Izuku.
Ia tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu, tapi Izuku tetap terbaring di tempat tidurnya. Pikiran kosong. Hari ini benar-benar melelahkan mentalnya. Ia mencoba menggunakan Quirk-nya tapi tetap tidak ada apa-apa selain keheningan.
Tapi ada yang aneh. Rasanya ia mulai melupakan beberapa hal. Izuku tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di sini. Ia mulai melupakannya meskipun samar-samar masih mengingatnya.
Ia juga jadi terbiasa dengan rasa sakit, ruang eksperimen, tubuhnya yang berulang kali dibongkar dan dikembalikan, disuntikan berbagai macam cairan aneh. Izuku heran ia masih bertahan sampai sekarang.
Mendadak ia memikirkan sesuatu. Turun dari ranjangnya, remaja itu mulai menjelajahi ruangan. Kamarnya bukan lagi empat dinding membosankan, mereka lebih hidup dan tampak seperti kamar pada umumnya. Action figure All Might, poster bahkan buku tulis tersedia di sana. Ia melangkah tapi bukan untuk mengambilnya. Ia mendekati laci dan mengambil sesuatu.
Itu tersembunyi tapi tetap ada di sana. Jarum kecil yang tidak tampak berbahaya itu diambilnya dari laci yang penuh buku dan alat tulis. Benda itu ia dapatkan dari ruang eksperimen. Tentu saja tanpa sepengetahuan mereka.
Izuku duduk di tepi ranjang menatap benda selama beberapa saat. Ia mengulurkan tangannya, pergelangan tangannya dihiasi perban yang tidak pernah lepas, jarum itu ia posisikan di tengah pergelangan tangannya.
Ada perasaan ragu saat ia logam itu bersentuhan tapi ia menyingkirkannya dan mulai menggores pergelangan tangannya, sedikit demi sedikit hingga darah menetes dari pergelangan tangannya. Ia semakin mempercepat sayatan dengan mengirisnya semakin cepat, air mata mulai membasahi pipinya.
Ini adalah bentuk penanganan lama yang dulu ia mulai saat di buli. Waktu ia masih seorang Quirkless. Rasanya sakit? Tentu saja. Namun, dengan itu ia bisa melupakan sedikit saja rasa sakit lain yang ia tanggung. Ini tidak ada apa-apanya. Setidaknya, itu adalah rasa sakit yang ia ciptakan sendiri-sesuatu yang bisa ia kendalikan. Bukan Overhaul bukan siapapun.
Setelah puas, ia menatap tangan yang masih meneteskan lebih banyak darah, jarum yang digenggamannya hilang entah kemana. Dalam gelapnya keheningan itu, pintu terbuka dan terlihatlah Chisaki menatapnya dengan mata sedikit terbelalak.
Sang Yakuza masuk meletakkan nampan yang dibawanya ke meja kecil dan berlutut mengangkat tangan yang berdarah itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya. Anehnya, nadanya terlihat sedikit lebih lembut namun Izuku tidak punya kesadaran untuk menyadarinya.
Ia menarik tangannya dari genggaman sang Yakuza namun cengkeramannya lebih kuat. "Untuk apa kau peduli? Aku bebas menyakiti diriku sendiri, kau juga menjadikanku subjek eksperimenmu pada akhirnya itu tetap menyakitiku, itu tidak akan membuat perbedaan, bukan?" bisiknya sambil memalingkan muka.
Chisaki menarik dagu remaja itu hingga mata mereka bertemu. Chisaki bisa melihat bahkan dari kegelapan ini mata Izuku berkaca-kaca. "Aku tahu apa yang coba kau lakukan, jangan menyakiti dirimu sendiri, kau hanya membuang waktu semua orang," katanya.
Izuku hanya memalingkan wajahnya. "Aneh sekali, aku tidak tahu kau bisa bersikap perhatian pada orang yang kau sakiti," jawabnya.
Chisaki mendesah kemudian mengambil sesuatu dari laci yang dibuka remaja itu. Itu sebuah perban dan beberapa antiseptik.
"Mungkin, tapi jangan salah paham. Ini bukan bentuk kasih sayang atau kelembutan dariku. Lagipula ... aku membutuhkanmu untuk tetap hidup, setidaknya sekarang," sahut Chisaki.
Izuku tidak menjawab. Hanya keheningan yang menemani mereka hingga Chisaki menyelesaikan pekerjaannya.
Izuku di tuntun di tepi ranjang, remaja itu menurut. Chisaki mengambil nampan yang ia bawa dan menyerahkan ke remaja itu. Itu katsudon, makanan kesukaannya.
"Makan," perintahnya.
Izuku mengambilnya dengan tangan gemetar, sementara Chisaki duduk di kursi berhadapan dengannya. Izuku memakannya perlahan-lahan hingga habis.
Waktu berlalu, Izuku terbaring di ranjang. Ia tidak menyadari bahwa tubuhnya begitu lelah, rasanya dihantam benda berat. Ia memejamkan matanya berusaha untuk tertidur tapi kantuk tidak kunjung datang.
Sekarang setelah pikirannya sedikit lebih waras ia mengingat beberapa hal. Tentang kebiasaanya dulu yang sudah lama ia hilangkan. Luka yang ia kikis sendiri masih berdenyut meskipun sudah diperban. Ia merasa bodoh melakukan hal itu. Dalam hati ia meminta maaf padahal ia ingin bertahan setidaknya untuk Eri.
Remaja itu menoleh saat tidak mendengar suara pintu tertutup, keningnya mengerut mendapati pemimpin Yakuza itu masih duduk di kursinya tidak berniat pergi.
Biasanya setelah bicara atau mampir sebentar untuk makan atau menyeretnya ke lab orang itu akan segera pergi. Namun, kali ini pria itu tidak bergeming. Ia hanya duduk di sana dengan tenang sembari melipat kedua tangannya.
Izuku memalingkan wajahnya berusaha untuk mengabaikannya tapi suasana canggung mulai menyelimuti ruangan. Ia memejamkan matanya untuk tidur tapi sulit mengabaikan kehadiran lain di ruangan itu.
"Kenapa kau masih di sini?" tanyanya akhirnya. Suaranya nyaris seperti bisikan.
Chisaki menatapnya. "Mengawasimu, tentu saja."
Izuku menggertakkan giginya mendengar kata-kata itu. "Aku tidak butuh diawasi, aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Jelas kau membutuhkannya, dan kau bahkan tidak bisa menjaga dirimu sendiri," balas Chisaki dengan nada tajam.
Izuku memutuskan untuk tidak menjawab. Ia menarik selimut lebih erat ke tubuhnya, berharap Chisaki akan bosan dan pergi.
"Ini tidak perlu," gumam Izuku pelan, meskipun ia tahu Chisaki tidak akan mendengarkan.
"Tidur," perintahnya dengan nada yang tidak bisa ditolak.
Setelah beberapa menit berlalu, keheningan kembali memenuhi ruangan, ia mendengar suara langkah menuju pintu yang dibuka. Cahaya dari luar masuk ke dalam sebelum ditutup menyisakan kegelapan. Izuku menoleh mendapati hanya tersisa dirinya seorang. Izuku akhirnya menutup matanya membiarkan dirinya tenggelam dalam mimpi.
--/--
Suasana di Kelas 1-A terasa canggung dan suram. Sudah tiga minggu berlalu sejak Midoriya Izuku dinyatakan hilang. Mereka selalu melirik kursi kosong yang berada tepat di belakang Bakugo dengan ekspresi sedih.
Ketika Aizawa-sensei masuk, keheningan semakin terasa. "Kita mulai," ucapnya dengan nada datar, tetapi raut wajahnya menunjukkan lebih dari sekadar kelelahan fisik. Matanya yang biasanya tajam kini menyiratkan keprihatinan yang dalam, meskipun ia berusaha menyembunyikannya di balik sikap dinginnya.
Kirishima, yang tidak bisa lagi menahan dirinya, mengangkat tangan dengan ragu. "Sensei ..." suaranya terdengar penuh harapan, tetapi juga takut pada jawaban yang mungkin ia terima. "Ada kabar tentang Midoriya?"
Aizawa menghela napas panjang, lalu menggeleng perlahan. "Tidak sekarang, Kirishima."
Mendengar itu, Kirishima menundukkan kepala, dan suasana semakin sunyi. Yaoyorozu mencoba membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya mengurungkannya. Sementara itu, Todoroki memalingkan wajahnya ke jendela, menatap kosong ke luar seperti mencari sesuatu yang tidak ada di sana.
Ketegangan tidak berkurang bahkan saat waktu istirahat tiba. Beberapa siswa tetap duduk di tempat mereka, hanya berbicara dengan suara pelan, sementara yang lain mencoba mengalihkan perhatian dengan kegiatan kecil, meski gagal sepenuhnya.
Iida, sebagai ketua kelas, mencoba menjaga semangat dengan mengajak teman-temannya untuk tetap fokus. "Kita tidak boleh menyerah. Midoriya adalah teman kita, dan aku yakin dia tidak akan menyerah pada dirinya sendiri. Kita harus tetap percaya dan mendukung penyelidikan!"
Namun, ucapan itu terasa hampa, terutama bagi Bakugo, yang akhirnya bangkit dengan kasar dari kursinya. "Tutup mulutmu, mata empat. Kalau kau tidak bisa melakukan apa-apa, berhenti sok tahu." Nadanya penuh kemarahan, tapi bukan teriakan seperti biasanya. Ia meninggalkan kelas tanpa menunggu tanggapan.
"Bakugo-kun ...," gumam Uraraka pelan, menatap punggung Bakugo yang menghilang di koridor.
Asui yang melihat si rambut pirang itu mendekati Uraraka. "Sejak Midoriya-chan menghilang dia jadi pendiam, kero."
"Kau benar, Tsu-chan, aku harap Deku-kun baik-baik saja," katanya.
Mereka memutar arah menuju kafetaria.
Aizawa segera keluar dari kelas menuju ruang guru. Sang pahlawan segera pergi ke kantor Nezu setelah mengetuk. Pintu terbuka dan terlihatlah Kepala Sekolah Nezu duduk di sofa dengan laptop di tangannya.
Aizawa merosot di sofa berseberangan hingga mereka berhadapan.
"Aku tidak tahu lagi harus apa," katanya akhirnya.
"Tidak apa-apa Shōta-kun. Istirahatkan dirimu, jangan terlalu memaksakan diri," sahutnya.
Kepala sekolah itu menyodorkan secangkir kopi yang di terima sang pahlawan dengan mudah.
"Jangan khawatir, 'kan tentang kelas, aku bersedia meluangkan waktu untuk menggantikanmu selama penyelidikanmu."
"Maaf."
"Tidak apa-apa, mereka juga murid-muridku," jawabnya.
Kembali ke kelas setelah istirahat, Aizawa masuk dengan ekspresi yang lebih tegas dari biasanya, memecah keheningan kelas.
"Aku tahu kalian khawatir tentang Midoriya," katanya tanpa basa-basi, "tapi sampai kami menemukan apa yang sebenarnya terjadi, fokuslah pada pelatihan kalian. Dia tidak akan ingin kalian membuang waktu dengan bersedih."
Para siswa hanya mengangguk, meskipun tidak ada yang benar-benar puas dengan jawaban tersebut.
--/--
Ting!
Di asrama 3-A, waktu tengah malam bunyi notifikasi membangunkan sosok yang tengah bergumul di selimutnya. Si pemilik ponsel mengambil benda pipih yang masih tersambung ke pengisi daya dengan gerakan lesu.
Ia mengintip layar di balik selimut dan langsung membulatkan matanya saat melihat pesan yang tertera di layar.
Ia terduduk dan membaca pengumuman dari agensinya tentang tanggal penyerbuan. Si rambut pirang menganggukkan kepalanya paham dengan instruksi. Sorot matanya berubah menjadi tekad. Kali ini mereka akan berhasil dan dengan begitu gadis itu tidak perlu lagi menderita.
Tapi sepertinya, mereka melupakan satu hal.
Bersambung ...
