Sudah satu minggu berlalu sejak Izuku pertama kali bertemu Eri di markas Shie Hassaikai. Waktu terasa berjalan lambat, sementara rasa sakit akibat eksperimen yang terus-menerus ia jalani mulai terasa akrab di tubuhnya. Sudah satu bulan penuh ia berada dalam cengkeraman Chisaki.

Ia duduk di sudut ruangan kecil itu, punggungnya bersandar pada dinding dingin. Matanya menatap langit-langit, pikirannya melayang pada teman-temannya. Apa mereka menyadari aku menghilang? Apakah mereka mencariku? Atau mungkin... mereka bahkan tidak peduli? Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengganggunya belakangan ini. Tapi ia cepat-cepat menggeleng, memaksa dirinya percaya.

Tidak. Mereka pasti akan datang. Mereka adalah para pahlawan. Cepat atau lambat, mereka akan menemukanku.

"Deku-nii ...," panggil suara kecil yang lembut

Izuku tersadar dari lamunannya dan segera menunduk. Eri berada di pangkuannya, tangan mungilnya menggenggam erat pergelangan tangan remaja itu. Wajahnya penuh keraguan.

"Apakah pahlawan benar-benar akan datang menyelamatkan kita?" tanya Eri, suaranya pelan, hampir seperti bisikan.

Izuku tersenyum kecil, meskipun ia tahu hatinya sendiri masih dipenuhi keraguan. "Ya, Eri-chan. Mereka akan datang."

Baru-baru ini, Chisaki tampak lebih longgar dalam pengawasannya. Ia kadang-kadang mengizinkan Izuku menemani Eri. Meski situasi itu hanya bagian dari permainan pikiran sang Yakuza, Izuku memanfaatkan momen tersebut untuk menggali informasi dari gadis kecil itu.

Eri pernah bercerita tentang hidupnya sebelum ini-tentang bagaimana ibunya meninggalkannya, bagaimana ayahnya "menghilang" setelah Quirk-nya muncul, dan bagaimana Chisaki menyebut Quirk-nya sebagai kutukan. Baginya, Quirk adalah ancaman, virus yang merusak manusia. Itu alasan ia melakukan eksperimen kejam ini, untuk menciptakan peluru yang mampu menghapus Quirk sepenuhnya.

"Deku-nii," panggil Eri lagi, membuat Izuku tersadar dari pikirannya. Gadis itu menatapnya dengan mata penuh harapan. "Bisakah kau ceritakan tentang para pahlawan?"

Izuku tersenyum kecil. "Tentu, Eri-chan."

Ia mulai menceritakan tentang All Might, idolanya. Mata Eri berbinar-binar saat mendengar cerita itu, seolah-olah ia bisa melupakan sejenak kengerian yang selalu mengintai. Namun, momen itu segera terputus saat pintu terbuka perlahan.

Keduanya tidak bereaksi. Izuku mengeratkan pelukannya pada Eri saat Chisaki melangkah masuk, ditemani Chrono di belakangnya. Setiap langkah yang terdengar seperti detik-detik yang tak pernah berakhir.

Lalu, sang Yakuza berjongkok di depan mereka. Keduanya menunggu saat-saat mereka dipaksa berpisah. Namun, tidak ada yang datang. Mereka menatap Chisaki dengan heran, ada sesuatu yang berbeda dari tatapan itu.

Kemudian, Chisaki mengangkat tangannya dan mengusap puncak kepala keduanya.

"Eksperimennya berhasil," kata akhirnya. Nadanya menyiratkan kebahagiaan. "Berkat kalian, aku berhasil membuat Peluru Penghapus Quirk yang sempurna."

Izuku membeku, menatap Chisaki dengan campuran kebingungan dan ketakutan. "Apa?" tanyanya pelan.

"Aku berhasil membuat peluru penghapus Quirk," jawab Chisaki. "Dengan peluru ini, aku akan mengubah dunia, tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi kekuatan yang membahayakan. Semua kembali normal sebagimana seharusnya, dan semua ini terjadi berkat kalian."

Izuku mengigit bibirnya, ia ingin menjawab tapi sebelum membuka mulutnya terjadi getaran di bawah tanah. Ruangan berguncang sesaat. Chisaki menghela napas, wajahnya yang menyiratkan kebahagiaan berganti cemberut.

"Mereka sudah ada di sini, ya?" gumam Chisaki dengan nada mencemooh. Tapi itu cukup untuk di dengar keduanya.

Mengabaikan keduanya, Chisaki melangkah keluar dan menutup pintu meninggalkan keduanya yang memandang bingung.

"Ada apa Deku-nii?" tanya Eri.

"Tunggu sebentar, Eri-chan." Izuku berdiri dan mendekati pintu, Eri dibelakangnya meremas pakaian pemuda itu. Izuku menempelkan telinganya ke pintu. Samar-samar terdengar bunyi gaduh seperti perkelahian.

"Para pahlawan sialan!"

Itu saja. Izuku mematung di depan pintu yang tertutup rapat. Bunyi pertempuran dari luar semakin jelas. Suara dentuman, ledakan, dan teriakan bercampur menjadi satu. Jantungnya berdegup kencang-bukan hanya karena rasa takut, tetapi juga harapan. Ia menggigit bibirnya, mencoba memikirkan kemungkinan.

"Eri-chan," gumamnya sambil berlutut, menyamakan tinggi mereka. Ia menggenggam tangan kecil gadis itu, merasakan jemari mungilnya yang dingin. "Mungkin ... mungkin para pahlawan sudah datang. Kita harus bersiap."

Mata Eri membulat. "T-tapi, apakah mereka tahu kita ada di sini?"

Izuku terdiam. Eri benar-tidak ada yang tahu ia berada di sini. Tidak ada yang tahu ia ditangkap oleh Shie Hassaikai, apalagi menjadi bagian dari eksperimen Chisaki.

Namun, ia tidak ingin membuat Eri semakin takut. Ia tersenyum, meski senyumnya terasa rapuh. "Mereka pasti akan menemukanku ... dan dirimu. Kita harus percaya."

Pintu mendadak bergetar keras. Kedua anak itu terlonjak, Eri semakin merapatkan tubuhnya ke Izuku. Suara-suara di luar pintu semakin kacau. Izuku menempelkan telinganya ke pintu, mencoba mendengar lebih jelas.

"Cari Eri! Fokus padanya!" Itu suara seseorang yang tidak asing-Fat Gum! Izuku terkejut. Jika Fat Gum di sini, berarti agensi lain juga terlibat. Namun, masih tidak ada yang menyebut namanya. Tidak ada yang mencarinya.

Izuku menelan ludah. Ia harus bertindak sendiri.

"Eri-chan, kita harus keluar dari sini sekarang," ucapnya tegas, meski di dalam hati ia tahu itu bukan tugas mudah. Eri mengangguk pelan, meski wajahnya masih dipenuhi rasa takut.

Tanpa pikir panjang, Izuku mendekai pintu. Ia menempelkan telinganya ke pintu, mencoba mendengar lebih jelas. Suara langkah kaki dan benturan terdengar mendekat. Jika ia menunggu lebih lama, mereka akan ditemukan.

Izuku menarik napas panjang dan membuka pintu perlahan. Pintunya tidak dikunci. Koridor di luar gelap, diterangi hanya oleh lampu berkedip yang sepertinya rusak akibat pertempuran. Ia meraih tangan Eri dan mulai melangkah dengan hati-hati, memastikan setiap langkahnya tidak mengeluarkan suara.

Namun, mereka tidak jauh berjalan ketika suara familiar terdengar dari ujung koridor.

"Aku tahu kalian mencoba kabur," Chisaki berucap dari ujung koridor, diikuti oleh Chrono.

Izuku membeku. Chisaki berdiri di sana, wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya dingin. Di belakangnya, tangan kanannya, Chrono mengikuti.

"Sudah kukatakan sebelumnya, kau tidak bisa pergi ke mana pun, Izuku, Eri," ucap Chisaki.

Izuku langsung menarik Eri ke belakang tubuhnya. Tapi sebelum ia sempat bergerak lebih jauh, Chrono menembakkan Quirk-nya dan mengenai kaki Izuku yang terluka, membuatnya jatuh tersungkur.

"Deku-nii!" teriak Eri, memeluknya erat.

Di tengah itu, mereka tidak sadar kalau Chisaki dan Chrono sudah ada di depan mereka. Eri langsung di gendong Chrono sedangkan Izuku yang merasakan efek Quirk Chrono mulai melambat, ia di angkat Chisaki tanpa daya. Izuku diposisikan gaya pengantin Chisaki tanpa bisa bergerak. Izuku berusaha melawan, tapi efek Quirk Chrono membuat gerakannya melambat hingga ia tak mampu melawan sama sekali.

Dalam gendongan Chisaki, Izuku hanya bisa menggertakkan giginya. Ia bertemu pandang dengan Eri. Gadis itu berkaca-kaca di pelukan Chrono.

"Kita harus atur rencana pelarian segera," ucap Chisaki saat mereka mulai berjalan.

"Le ... lepaskan, Eri-chan ...." Izuku mencoba melepaskan diri dari Chisaki tapi setiap gerakannya benar-benar lambat.

Chisaki tidak memedulikan permintaan itu dan mulai berjalan pergi. Namun, suara yang tiba-tiba menggema di lorong membuat mereka semua berhenti.

"Tunggu sebentar!"

Suara yang di kenalnya membuat Izuku membeku.

'Mirio-senpai ...?'

Bersambung ...