Chisaki menoleh mendapati seorang pahlawan bisa sampai begitu cepat ke tempat mereka.
Lemillion menatap Chisaki tajam, sedikit terengah-engah dan berkeringat. "Permisi ... apa aku boleh tanya beberapa pertanyaan?" katanya, nadanya tetap tegas meski napasnya belum sepenuhnya teratur.
Chisaki memiringkan kepala sedikit, tatapannya tetap tenang. "Kau seharusnya tidak bisa sampai sini secepat itu."
"Aku ambil jalan pintas," jawab Mirio.
"Aku di sini untuk menyelamatkan gadis i ... tu ..." Kalimatnya tertahan di ujung lidahnya karena matanya terbelalak dan terpaku pada seseorang di gendongan Chisaki.
'Siapa itu ...?' batinnya.
Saat ia menyadari siapa yang digendong oleh Chisaki, tubuhnya langsung membeku.
Itu Midoriya Izuku.
Anak itu tampak mengenakan gaun rumah sakit yang tipis, dengan perban melilit tubuhnya, termasuk tangan dan kakinya, namun tatapannya tidak pernah lepas dari Mirio.
Mirio mengepalkan tinjunya, mencoba menguasai diri. Midoriya Izuku, ia tahu berita di UA tentang kohai-nya itu. Tapi ia tidak menyangka remaja itu berada di bawah cengkeraman Shie Hassaikai?
Mirio segera menggeleng membuang pikiran itu. 'Tenang Lemillion, jangan memikirkan itu sekarang.' Izuku dan Eri harus diselamatkan.
Terlalu fokus pada pikirannya ia tersadar saat kedua Yakuza itu berbalik, ia hendak menggunakan Quirk-nya tapi baru selangkah keseimbangannya langsung goyah.
"Apa? Keseimbanganku ...," gumamnya, terkejut dengan tubuhnya yang terasa berat dan tidak stabil.
Tawa kasar terdengar dari atas. Mirio mendongak. Di sana berpegangan pada kerangka logam, Sakaki Deidoro, salah satu dari Delapan Perintah Kematian, dengan senyum mengejek meminum botol sake yang dipegangnya. Cairan alkohol mengalir di sekitarnya, meninggalkan genangan kecil di dekat kaki Mirio.
"Ah, jadi, bagaimana rasanya?" ejek Sakaki sambil terus meminum langsung dari botolnya. "Kau pikir bisa langsung menyerang bos kami? Jangan lupa, kau harus melewati kami dulu!"
Mirio mencoba mengabaikan ocehan itu, tetapi tubuhnya yang goyah membuat pergerakannya melambat. 'Sial ... ini pasti Quirk-nya. Dia bisa mempengaruhi keseimbanganku. Padahal mereka sudah ada di depanku ... bukan saatnya aku dikalahkan oleh orang seperti dia.'
Suara pistol mendesaknya untuk mengalihkan perhatiannya pada tembakkan. Mirio menghindar ke ke kiri sembari mengaktifkan Quirk-nya saat peluru melewatinya.
Dia adalah seorang pria dengan topeng burung mengenakan topi dan jubah hitam, Nemoto Shin.
Mirio mencoba mendekatinya, tetapi Nemoto dengan santai mengangkat senjatanya lagi. "Apa Quirk-mu?" tanyanya, mengaktifkan Quirk-nya secara bersamaan.
Mirio menunduk dengan tangan sebagai penyangga tanpa sadar menjawab pertanyaan itu.
"Penembusan. Saat aktif, aku bisa menembus apa pun!"
Menyadari tindakannya, ia langsung menutup mulutnya. 'Apa yang terjadi? Kenapa aku bicara sendiri?!'
Mirio berdiri terhuyung dan tangannya menopang diri di tembok. "Begitu, jadi kau bisa memaksaku bicara, ya? Tapi sepertinya kau bukan petarung garis depan."
"Karena itulah, aku berbeda dari bidak-bidak lain yang bisa di buang. Di Delapan Perintah Kematian hanya, akulah satu-satunya yang diizinkan untuk mengetahui ambisinya Tuan Muda," kata Nemoto dengan nada membanggakan.
Peluru lainnya ditembakkan, tetapi Mirio kembali mengaktifkan Quirk-nya untuk menghindarinya.
"Visi besar?" Mirio mendengus. "Apa hebatnya visi kalau kalian tega menggunakan anak-anak untuk mencapainya? Itu bukan visi, itu kejahatan!"
Sebelum Nemoto membalas, tanpa pikir panjang Mirio mengaktifkan Quirk-nya dan menghilang di tembok. Ia langsung melesat ke setiap tembok dan mendekati Sakaki dan memukulnya lalu menyerang Nemoto dari bawah meninju rahangnya hingga tersungkur.
Sakaki terkejut dengan seberapa jauh Mirio bisa bergerak di bahwa pengaruh Quirk-nya.
Mirio meluncur ke lantai. "Selama ini aku sudah terbiasa merasakan sesuatu yang lebih buruk dari mabuk," jawab Mirio dengan ekspresi tegas.
Ia melancarkan serangan berikutnya dengan setengah tubuh yang tenggelam di lantai. Kedua Yakuza itu yang masih terlempar di udara di tinju dengan keras.
Meskipun begitu, Mirio tidak berhenti sampai di sana. Ia langsung mengejar Chisaki. Saat semakin dekat, ia meluncur ke lantai tepat saat Chisaki menoleh, lalu muncul di belakang Chisaki.
"Chisaki!" Ia melayangkan tinju yang berhasil di hindari sang Yakuza. Secepat itu merebut Izuku dalam gendongan Chisaki.
Mirio kembali mengarahkan tendangan pada Chrono, mengaktifkan Quirk-nya agar Eri tidak mengenainya dan menonaktifkannya tepat mengenai wajah bertopeng itu. Eri yang terlepas di ambil sementara Izuku di letakkan di punggungnya saat Izuku langsung mengalungkan tangannya ke leher Mirio.
"Mirio-senpai ...?" bisik Izuku.
Sedangkan Eri yang berada di gendongan Mirio berkaca-kaca. Ekspresinya menyiratkan kelegaan sekaligus ketakutan.
"Pahlawan ...? Kau datang untuk menyelamatkan kami?" tanya Eri penuh harap.
Mirio menatap Eri sembari memberikan senyum menyakinkan. Anggukan pelan diberikan. "Ya ... kali ini kalian aman," jawabnya.
Eri langsung menyembunyikan wajahnya di dada Mirio. Mirio menatap Chisaki waspada, Izuku yang berada dipunggungnya mulai bicara.
"Hati-hati, Senpai. Quirk orang itu bisa membongkar dan menyatukan apa pun," bisik Izuku. Mirio mengangguk, matanya tak lepas dari Chisaki yang tengah mengusap wajahnya dari serangan Mirio barusan.
"Sepertinya kalian terlalu cepat berpikir ini berakhir baik, Izuku, Eri. Pada akhirnya pemberontakan yang kalian lakukan akan sia-sia." Matanya menatap Izuku tajam.
"Aku penasaran, jika aku mengatakan ini apakah kau masih ingin menyelamatkannya, Pahlawan?" tanya Chisaki nadanya masih mengandung ancaman.
Izuku membelalak tanpa sadar, ia mengerti apa yang dimaksud, Chisaki. Izuku semakin menyembunyikan wajahnya di leher Mirio berusaha menenangkan detak jantungnya.
Mirio masih mempertahankan wajah tegasnya meskipun ia cukup khawatir dengan apa yang akan di katakan Chisaki saat merasakan remaja di punggungnya gelisah.
"Kalau begitu tak perlu di dengarkan!" kata Mirio pada keduanya.
Kata-kata itu belum cukup untuk menenangkan ketakutan yang merayap di hati Izuku saat Chisaki kembali berbicara.
"Izuku, aku tahu kau sedang berpikir, "jika mereka tahu aku seorang Quirkless ... apakah mereka akan meninggalkan ... ku, benar, 'kan?"
Izuku tersentak dan mendongak menatap Chisaki yang masih belum selesai bicara. "Kamu tidak lupa bukan ... apa yang membawamu ke sini?"
Mirio terkejut menatap Izuku yang terpaku pada Chisaki. Ia bisa melihat ekspresi tegang di wajah remaja itu.
Perkataan Chisaki memunculkan kilas balik yang tidak menyenangkan baginya. Izuku terdiam kaku sementara Chisaki tidak berhenti sampai di situ.
"Kalau kamu lupa, biar kuingatkan, Izuku. Ayahmu sudah menyerahkan dirimu padaku, karena apa? Kamu hanyalah beban di matanya. Kamu tidak berharga baginya. Kamu tahu lebih baik bagaimana masyarakat yang rusak ini memperlakukan anak malang sepertimu. Jadi untuk apa berharap pada pahlawan? Pada akhirnya mereka akan meninggalkanmu begitu saja, seperti yang dilakukan Ayahmu." Chisaki terus menghujam Izuku dengan ucapannya mencoba memanipulasi ketakutannya. Izuku menunduk, gemetar. Mirio bisa merasakan ketegangan tumbuh dalam diri remaja di punggungnya.
Chisaki beralih menatap Eri yang gemetar. "Dan Eri, aku selalu bilang padamu, 'kan? Gara-gara keegoisanmu, aku jadi harus mengotori tanganku.
Setiap yang kamu lakukan itu bisa membunuh orang lain. Kamu itu keberadaan yang dikutuk." Hal itu membuat Eri semakin terintimidasi oleh perkataan Chisaki.
"Cukup! Aku tidak peduli apa yang kau katakan. Aku akan melindungi mereka. Itu tugasku sebagai pahlawan!" kata Mirio.
Chisaki menunduk. "Ah ... begitu. Jika kau masih bersikeras menyelamatkan mereka ...," Chisaki melepas sarung tangannya. "Maka matilah."
Mata Mirio terbelalak saat serangan tiba-tiba hampir mengenainya. Mirio teringat dengan perkataan Izuku barusan.
Ia segera waspada saat serangan lain mendekat. Mengangkat Eri tinggi-tinggi sementara menjaga Izuku agar tidak terkena.
Sambil mengaktifkan Quirk-nya, Mirio menghindari setiap serangan susulan yang mengenainya. Berkat Quirk-nya, ia tidak terluka.
"Tapi dia ... sama sekali tidak peduli dengan anak-anak ini!" kata Mirio.
"Yah, aku takkan kerepotan meskipun mereka rusak . Kalau langsung kuperbaiki mereka bisa hidup kembali. Meskipun mereka tak memiliki bentuk lagi, aku bisa memperbaikinya seperti semula. Seharusnya mereka sudah mengetahuinya. Terutama kamu, Izuku."
Izuku hanya diam. Sementara Mirio merasakan kemarahan membara di dalam dirinya ketika mendengar ucapan Chisaki yang mengatakan hal seperti itu seolah sedang membicarakan cuaca.
Chisaki melancarkan serangan susulan menciptakan tembok-tembok yang menjulang menghalangi jalan keluar sembari melancarkan serangan dari segala arah.
"Kalau salah satu dari mereka terluka, apa yang akan kaulakukan? Dalam kondisi seperti ini, hanya aku yang bisa menyembuhkannya, lho."
Setelah serangan berhenti, Mirio meluncur ke tanah sepelan mungkin.
"Sudah kututup jalur kaburmu. Kalau kau memegang mereka, kau tak bisa lari dengan Quirk penembusanmu. Apa kau mau bertarung denganku, Pahlawan?"
'Tadi aku ingin membuatnya pingsan, tapi apa keseimbanganku goyah, ya?' batinnya. 'Apakah efek Quirk pemabuk itu masih belum hilang?'
Sementara Pahlawan itu sedang berpikir, Chisaki dan Chrono berbicara. "Bodoh, incarlah tangan yang menggendong Eri," Chisaki berkata pelan.
"Tak kusangka dia bisa menggunakan Quirk-nya seakurat itu," balas Chrono. "Dia pasti berlatih keras untuk itu, ya.
'Hancurkan batu runcingnya untuk menutupi pandangannya,' batin Chisaki sambil melancarkan serangannya.
'Kalau dia menembakkan pistol, berarti batu runcingnya takkan menyerangku!' Mirio berpikir sambil menunduk.
"Maaf, ya." Mirio tersenyum sebentar lalu menghilang di bawah lantai meninggalkan Izuku dan Eri dalam balutan jubah merahnya.
'Aku memang tak bisa melihat wajahnya, tapi dilihat dari tugasnya. Kemungkinan dia adalah asisten dari bos muda itu, Chrono,' pikir Mirio. 'Quirk-nya ada di dalam daftar, aku tidak boleh terkena serangannya!'
Tepat saat serangan ditembakkan, Mirio muncul mengubah posisi Izuku dan Eri melindungi kedua dari tembakkan dengan jubahnya sebagai pelindung.
Chrono berpikir jubah itu digunakan agar ia kesulitan menembaknya.
"Kukira jubah pahlawan itu hanya untuk membuatnya terlihat keren."
Chisaki tersentak saat menyadari Mirio menghilang dan memperingatkan Chrono tepat ketika Mirio muncul di bawahnya hampir mengenainya, jika saja Chrono terlambat bereaksi.
Pistol yang di pegang Chrono terlepas, Chrono yang tersungkur meminta maaf pada atasannya. Chisaki yang melihat itu mengakui bahwa Pahlawan muda itu kuat.
'Tapi, dia menjatuhkan mereka,' batinnya sembari melihat Izuku yang memeluk Eri dalam jubah merah itu.
'Kalau aku merusaknya, maka mereka takkan bertahan!' batinnya sambil meletakkan tangannya di semen hendak melancarkan serangan lainnya. Tapi sebelum ia bisa melakukan itu, Mirio muncul di belakangnya.
"Pasti itu yang kau pikirkan, bukan?! teriak Mirio saat pukulannya mengenai sang Yakuza. "Seorang pahlawan menggunakan jubahnya, agar bisa melindungi anak-anak yang sedang terluka dan menderita!"
Ketika Chrono bangkit ingin meraih pistol yang tergeletak, Mirio segera mengalihkan serangannya dan menendang Chrono. Ia mengingat pelajaran yang diajarkan mentornya.
'Chisaki! Dia sangat lincah, tak kusangka dia menjadi seorang Yakuza! Kau menang kuat. Tapi ...' Mengaktifkan Quirk-nya Mirio menghilang ke lantai dan muncul di depan Chisaki.
" ... aku ... lebih kuat!" Dan memukul Chisaki.
Ia mengingat keinginannya melindungi gadis dan kohai-nya dan ia takkan membiarkan Chisaki menyentuh mereka lagi.
"Kau kalah, Chisaki!"
Chisaki yang mendengar nama yang Mirio sebut padanya mulai marah dan berteriak untuk tidak menyebutkannya karena ia sudah membuang nama itu.
Nemoto yang dikira sudah pingsan memanggil Chisaki.
"Nemoto tembak!" Chisaki berteriak sembari melempar wadah berisi peluru penghapus Quirk.
Nemoto dengan cepat mengambil pistol milik Chrono yang tergeletak di depannya, mengambil peluru penghapus Quirk. Saat-saat itu, ia mengingat kilas balik.
"Ikutlah denganku. Aku akan merasa lebih tenang jika kau berada di sisiku."
Kembali ke masa sekarang. Nemoto mengarahkan pistol siap menembak.
'Itulah perasaannya yang sesungguhnya. Tuan membutuhkan diriku. Aku harus mengorbankan nyawaku ... dan berada di sisinya.'
Dengan tangan gemetar ia mengarahkannya pada Mirio. Berpikir keras ke mana harus menembak, waktu di depannya berjalan lambat. Ia berpikir tentang bagaimana caranya agar Pahlawan muda itu tidak bisa menggunakan Quirk-nya.
Ia hanya mempunyai satu peluru di tangan. Lalu teringat pada anak-anak yang dilindungi Mirio. Matanya yang masih tergenang air mata, melirik dan langsung mengarahkan pistolnya pada Izuku dan Eri.
Izuku yang melihat itu memeluk Eri melindunginya. Mirio yang melihat itu langsung menghampiri Eri dan Izuku.
Waktu berjalan lambat, pikiran Mirio tertuju pada bagaimana perasaan Eri. Berada di tangan Chisaki dan terus menerus menerima apa yang Chisaki lemparkan tanpa bisa meminta bantuan. Ia juga memikirkan Izuku. Kohai-nya yang selalu tersenyum, yang sangat ingin menyelamatkan orang lain padahal dirinya sendiri menderita dan hanya ingin diselamatkan. Ia tidak menyadari bahwa senyum yang ia lihat dari remaja itu adalah kepalsuan yang menghancurkannya.
'Aku takkan pernah membuat kalian bersedih lagi. Aku takkan pernah membiarkan kalian menderita lagi, dan ...'
Kalian tidak perlu menunggu lagi, karena-'
Izuku dan Eri merasakan tubuh lain membekap mereka mendongak dan bertemu pandang dengan Mirio yang tersenyum. Izuku terbelalak, seketika itu juga matanya berkaca-kaca.
Peluru itu mengenai bahu Mirio.
Chisaki perlahan bangkit sambil terhuyung. "Manusia ... diberkahi dengan Quirk, dan hal itu membuat mereka bisa bermimpi."
Bermimpi kalau mereka bisa menjadi orang hebat. Justru menjadi penyakit dalam pikiran kalian. Lucu sekali. Berkat aksi nekatmu, semua yang kau perjuangkan ... menjadi sia-sia!"
Chisaki mengangkat tangannya menyentuh semen bersiap melancarkan serangannya.
Tapi itu tertunda karena Chrono yang pingsan di lempar ke arahnya. Menyingkirkan Chrono ke samping, Mirio langsung menyerang dengan melayangkan tinjunya pada pergelangan tangan Chisaki.
'Semua yang aku perjuangkan selama ini, tidaklah sia-sia.'
"Karena aku masihlah seorang Lemillion!" Mirip berteriak sembari melayangkan tinjunya pada Chisaki.
Chisaki hendak meraih Mirio hingga sarung tangannya hancur oleh Quirk-nya sendiri tapi dihindari dengan mudah oleh Mirio. Sementara itu Nemoto yang tergeletak menatap tak percaya pada pertarungan itu.
'Harusnya bocah yang sudah kehilangan Quirk yang membuatnya terlihat tak terkalahkan itu, yang harusnya terpancing untuk membuat Eri-san dan Izuku-san tak terluka sedikitpun itu. Tapi ...'
Nemoto mengepalkan tangannya menatap tak percaya. 'Apa-apaan orang ini!'
Pertarungan keduanya berlangsung dengan Chisaki yang tanpa ampun menyerang dengan menciptakan batu runcing yang terus menargetkan Mirio. Mirio mencoba mendekati Chisaki meski terkena luka goresan di beberapa tempat.
Saat batu runcing itu hampir mengenai Izuku dan Eri yang tidak sempat mengelak, Mirio menjadi tameng bagi keduanya menyebabkan dirinya tekena serangan yang mengenai betis dan perut sebelah kanannya.
Eri melihat itu mulai meneteskan air mata, sedangkan Izuku terbelalak.
Hanya ada keheningan di antara mereka sampai sebuah suara menghancurkan keheningan itu.
"Sudah cukup!"
Bersambung ...
