IZUKU POV
Aku sudah tidak ingat kapan hidupku menapaki jalan berduri. Yang aku tahu, sejak aku di diagnosis Quirkless pada umur 4 tahun. Segalanya berubah.
Ibuku tak pernah lagi tersenyum atau pun melihat ke arahku. Ayahku yang biasanya selalu mengangkatku ke udara setiap kali aku menunggu di depan pintu hanya melewatiku seolah aku tidak pernah ada di sana sejak awal.
Aku pernah melihat ibu dan ayah di kamar mereka, berpelukan sembari menangis dalam diam. Mereka tidak tahu aku memperhatikan dari celah pintu yang sedikit terbuka. Saat itu, aku belum mengerti kenapa mereka menangis. Tapi sekarang, aku tahu.
Mereka menangisi anak yang mereka anggap "cacat." Mereka menangisi mimpi-mimpi mereka tentangku yang hancur berantakan karena aku terlahir tanpa Quirk. Aku adalah "kegagalan" yang tak bisa mereka banggakan, dan perlahan-lahan, mereka berhenti mencoba menyembunyikan rasa kecewa itu dariku.
Di sekolah, situasinya tak jauh berbeda. Aku hanyalah objek cemoohan. Anak-anak seusiaku, yang dengan bangga memamerkan Quirk mereka, selalu menemukan alasan untuk menjadikanku bahan lelucon. "Deku si tak berguna," "Deku tanpa masa depan," begitulah mereka memanggilku. Aku mencoba tersenyum di depan mereka, berpura-pura kuat, tetapi di dalam hatiku, aku merasa hancur.
Sejak ibu meninggal, ayahku menjadi orang yang sangat berbeda. Aku menjadi pelampiasan kemarahannya terhadap semua hal. Berawal dari tarikan telinga atau dikunci di gudang berdebu, berlanjut menjadi main tangan. Tamparan adalah hal yang tidak pernah absen setiap hari.
Saat aku menginjak SMP, ayahku memulai menggunakan metode lain untuk setiap kesalahan yang kuperbuat. Ia akan menggunakan Quirk-nya padaku tanpa peduli rasa sakit apa yang datang padaku, melontarkan hinaan yang tiada habisnya sampai telingaku tuli dan membuatku melayaninya layaknya pembantu.
Dan hari ketika ayahku menyerahkanku pada Kai—nama itu masih aneh dilidahku, kupikir duri itu akhirnya hilang namun nyatanya tidak demikian. Bodohnya aku berpikir bisa bebas begitu saja.
Kadang aku berpikir, kesalahan apa yang telah kuperbuat. Aku bahkan tidak tahu apakah aku layak diselamatkan.
Tapi sekarang, di sini, di tengah pertempuran ini, saat aku melihat Mirio-senpai berdiri di depanku dan Eri, terluka, berdarah, tetapi tetap tersenyum... aku mulai meragukan semua yang pernah orang katakan padaku.
'Aku harus melindunginya.' Pikiran itu terus mengiang dalam benakku. Aku bangkit dengan mata yang memancarkan tekad yang membara.
'Selama ini ... aku selalu berpikir aku tidak pantas di selamatkan. Tapi ... aku ingin menyelamatkan orang-orang dengan senyuman seperti yang selalu aku impikan. Jika aku tidak bisa menjaga diriku sendiri, bagaimana aku bisa menjadi pahlawan? Pahlawan menyelamatkan. Aku ingin orang-orang merasa tenang hanya dengan kehadiranku, bukan mencemaskanku. Karena itu ...'
"Sudah cukup!" Aku mendengar suaraku sendiri, tetapi rasanya itu bukan aku. Itu adalah suara yang terpendam jauh di dalam diriku, yang selama ini terkubur oleh rasa takut dan keputusasaan. Mirio-senpai menoleh padaku, sedikit terkejut, tapi aku tidak peduli.
Aku melewati Mirio-senpai yang menatapku cemas. Eri-chan menatapku khawatir tapi aku hanya tersenyum padanya. "Daijoubu Eri-chan, percayalah padaku," bisikku padanya.
Eri-chan menatapku berkaca-kaca dan memelukku erat, aku bahkan tidak sadar efek Quirk Chrono sudah hilang. Aku berdiri tepat di depan Mirio-senpai, Kai menatapku geli, tapi aku takkan gentar. Aku sudah cukup menderita selama ini, hanya menerima semua yang mereka lemparkan padaku, kali ini, aku ingin berubah.
Aku teringat pada percakapanku dengan Mirio-senpai tempo hari.
"Kamu ingin menjadi pahlawan seperti apa?"
Listrik yang familiar mengalir di tubuhku. Aku menatap tajam Overhaul sembari mengeratkan pelukanku pada Eri.
"Aku ingin cukup kuat, agar tak ada lagi yang mengkhawatirkanku. Agar selalu bisa menang, agar bisa selalu menyelamatkan orang-orang."
Ini pertama kalinya, One For All meresponku. Dengan panggilanku, bukan dengan rasa sakit yang mencabik-cabikku, tapi dengan kelembutan yang menyelimutiku seolah melindungiku. Aku mengubah posisi Eri-chan di punggungku. Dengan jubah merah milik Mirio-senpai aku melilitkannya.
Dengan itu, aku segera melompat dan pertarungan kami dimulai.
POV END
Izuku yang telah mengalahkan Overhaul, dengan 100% kekuatannya di tambah dengan bantuan Quirk Eri kini tergeletak di tanah dengan Eri di punggungnya, di mana kekuatan gadis itu yang lepas di tengah pertarungan menjadi tak terkendali.
Namun, Izuku hanya memeluk Eri dan mencoba menenangkannya meskipun dirinya merasakan rasa sakit karena di tarik dari dalam. Ketika Quirk Eri padam, Izuku lega hal itu sudah berakhir. Staminanya tidak cukup untuk membuatnya tetap terjaga. Ia menutup matanya dan membiarkan kegelapan menelannya.
Bersambung ...
Catatan:
Mohon maaf pendek, soalnya aku gak tau motong adegannya di mana. Jadi mutuskan buat di isi sama sudut pandang Izuku. Adegan pertarungan di atas langsung ku potong aja karena kalian pasti pada udah tau gimana pertarungannya, kan? Kita samakan saja dengan yang ada di anime.
