Memulai Kehidupan Baru

Disclaimer

NARUTO: Masashi Kishimoto

GENSHIN IMPACT: MIHOYO

PAIR:

GENRE:

SLICE OF LIFE, COMEDY

SINOPSIS:

RATE : M

START STORY


Waktu berkualitas, setiap orang memilikinya dan berbeda-beda dalam melakukannya. Termasuk Yae Miko sendiri. Baginya waktu berkualitas adalah menghabiskan waktu luangnya sambil membaca Light Novel dan menikmati Sake yang enak.

Seperti yang sedang ia lakukan sekarang, duduk bersandar di bawah pohon sakura yang rindang. Jari-jari tangannya yang mulus sesekali membalikkan lembar halaman dari buku yang belakangan ini menjadi sumber pundi Mora terbesarnya.

"Fufufufu~ Oh astagaaa. Bocah itu selalu saja melebihi ekspektasiku," Yae menyentuh pipinya yang terasa hangat ketika membaca bagian yang menampilkan adegan intim dengan sangat jelas.

Secangkir Sake ia habiskan dalam sekali tegukan sebelum kembali ke bukunya.

"Hmn~ Aku penasaran bagaimana dia bisa kepikiran membuat posisi intim yang seperti itu. Begitu brutal, begitu cabul, dan sangat merangsang."

Sang Guuji itu menjilati bibirnya yang basah akan Sake dengan cara yang terlihat sangat sensual. Merasa begitu tertarik untuk mencoba adegan yang ada di dalam buku

"Oh benar juga, sebentar lagi musim itu akan tiba," Yae menyeringai ketika pikirannya tertuju pada orang yang menulis buku ini. Sepertinya dia telah menemukan pejantan Kitsune yang cocok untukknya.

Bukan berarti dia menyukai Naruto atau apa saat ini, tapi semenjak kekacauan ratusan tahun lalu populasi Kitsune menjadi berkurang drastis, dan sangat jarang dijumpai. Sehingga selama ini ketika musim itu tiba yang bisa Yae lakukan hanyalah menahan hasratnya atau mengandalkan beberapa jari.

"hmn~ sepertinya aku harus meminta bantuannya ketika musimnya tiba," Yae terkikik penuh misteri. hanya dengan memikirkannya saja Yae bisa merasakan sedikit basah di bagian bawah. Lagipula sudah sifat alami Kitsune betina untuk tertarik pada pejantan yang lebih kuat auranya.

Yae lanjut membaca dan membiarkan buku tersebut memberikan rangsangan gairah yang lebih besar pada tubuh bagian bawahnya. Tangannya yang sudah tak memegang cangkir Sake lagi malah ia gunakan untuk memijat salah satu payudaranya dengan cara yang sangat sensual.

Beruntungnya, tak ada siapapun di sana sehingga tak ada yang melihat. Orang lain mungkin tak akan menyangka kalau seorang Guuji yang terhormat bisa melakukan hal seperti ini, terlebih lagi itu di luar ruangan.

Namun, kegiatan kecilnya itu harus terganggu ketika seekor burung mendarat di pangkuannya. Burung dengan warna yang sangat dia kenali. Ini adalah piaraan dari Sang penguasa Inazuma.

"Halo burung kecil, sepertinya kamu punya sesuatu untukku." Ujarnya ketika mengambil gulungan kecil surat yang terselip di kaki burung tersebut lalu membiarkannya kembali pada pemiliknya.

Setelah membaca isi surat dari Ei, Yae Miko menutup Light Novel tadi dan bangkit dari tempatnya. Ia lalu merentangkan kedua tangannya selebar mungkin untuk melakukan peregangan karena sudah duduk cukup lama untuk membaca buku.

"Ngghhh~ baiklah saatnya kembali bekerja."

Setelah bersiap-siap dan menempuh jarak yang cukup jauh ke Inazuma City, Yae Miko akhirnya tiba-tiba di Tenshukaku, tempat di mana sang Electro Archon duduk di singgasananya dan memerintah Inazuma.

"Kau yakin ini baik-baik saja?" suara Naruto dipenuhi keraguan. Naruto saat ini juga sedang bersama Yae. Sepertinya dia diminta untuk membawa beberapa barang kemari oleh si rubah betina.

"Kamu tahu, kan. Kalau Dia sama sekali tak mau melihat wajahku di sekitarnya?" orang yang dimaksud oleh Naruto tak lain adalah Raiden Ei. Masih segar dalam benaknya bagaimana Ei berniat memenggal kepalanya. Bukan Naruto takut atau apa, hanya saja Kalau kekuatannya saat ini sudah pulih, sih. Dirinya tak akan begitu khawatir tapi masalahnya saat ini kondisinya belum seperti ia pada masa jayanya.

Belum lagi semenjak saat itu setiap kali Ei datang ke sana, dirinya selalu dipandang layaknya sampah di mata sang Archon padahal ini semua jelas-jelas salah Yae.

"Fufufufu~ aku hanya meminta kamu untuk membawa barang-barangku, jadi kamu hanya perlu menunggu di sini sampai aku kembali dari urusanku di Tenshukaku, " Yae mengambil beberapa perkamen yang sejak tadi dibawah oleh Naruto.

"Memangnya ada urusan apa, sih. Sampai kamu menyuruhku membawa setumpuk perkamen ini?"

Naruto agak sedikit penasaran. Setelah menghabiskan beberapa bulan tinggal di kuil, ia jadi tahu kalau Yae adalah orang yang lebih suka menghabiskan waktunya di kuil atau mengurusi rumah penerbitan. Kalaupun ingin bertemu Ei, biasanya Shogun sendiri yang datang ke kuil.

"Nanti akan ku jelaskan padamu setelah urusannya selesai. Sekarang kamu tunggu saja aku di sini dan jangan berkeliaran. Aku yang repot jika kamu sampai tersesat atau membuat masalah dan mungkin Ei akan menjadi semakin kesal padamu."

Naruto cemberut, ia selalu merasa jengkel jika Yae memperlakukannya seperti anak kecil.

"Meh, kurasa dia akan senang jika itu terjadi. Shogun akan punya alasan yang bagus untuk memenggal kepalaku." Lagian siapa juga yang mau berbuat masalah di tempat seperti ini? Tempat di mana ada banyak penjaga dan tinggalnya Shogun sendiri. Meskipun terkadang gegabah, dia cukup sadar diri dengan kondisi kekuatannya saat ini.

"Fufufuf~ anak pintar. Sekarang, duduk yang manis di sini dan jangan kemana-mana," Yae langsung pergi dari sana tanpa memperdulikan kekesalan Naruto yang merasa diperlakukan seperti anak-anak lagi.

Naruto hanya menghela nafas dan duduk di sana karena tak mendengar pritesn. Bahkan jika Yae dengarpun gadis rubah itu tetap tak akan peduli dan akan semakin senang menggodanya. Jadi sekarang, Naruto hanya bisa diam di sini dan menunggu saja sampai Yae kembali.

30 menit berlalu dan Naruto sudah mulai merasa mati bosan. Yah, pada dasarnya dia memang bukan orang yang bisa duduk diam terlalu lama, sih.

"Duh, memangnya urusan seperti apa, sih. Sampai harus lama seperti ini?" gumam Naruto, padahal ini bahkan belum sejam.

Ditambah dia juga merasa risih karena prajurit yang berjaga di sana terus mengawasinya dengan tatapan yang mengintimidasi. Mungkin jika bukan karena ia datang bersama Yae pasti para prajurit itu sudah meringkusnya.

Naruto berpikir sejenak, apa yang bisa ia lakukan untuk mengusir rasa bosannya sambil menunggu Yae pulang. Secara kebetulan matanya melihat ada sebuah koran di dekat tempat ia duduk.

"huh, sudahlah. Dari pada duduk diam sambil dipelototi sama para prajurit itu. Siapa tahu juga, kan. Aku bisa dapat referensi." Pada akhirnya Naruto memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan membaca koran.

Beberapa halaman ia buka, dan beritanya hampir semua sangat membosankan dan tak begitu berarti. Sampai suatu judul artikel yang ditulis dengan font yang tebal menarik perhatiannnya

Steambird Exclusive:

"Lumine, Sang Traveler Legendaris, Mengakhiri Perang Ribuan Tahun di Natlan!"

Artikel dari berita yang dicetak cukup panjang karena memuat sepak terjang dari orang yang bernama Lumine tersebut. Akan tetapi, beritanya sangat membuat Naruto tertarik. Terutama setelah apa yang orang ini lakukan di beberapa negara.

"Hee~ Aku baru tahu ada orang seperti dia di dunia ini."

Naruto memperhatikan gambar gadis tersebut. Harus diakui gadis itu memang cantik. Ia juga memperhatikan dengan cermat dan memperhitungkan ukuran BWH gadis itu.

"Sepertinya aku dapat referensi yang bagus, nih." Gumam Naruto sambil tersenyum.

Kebetulan memang dia sedang berencana membuat karakter baru dalam novelnya, tapi dia kehabisan referensi dan tak menemukan model yang cocok. Meskipun di sekitarnya ada Yae dan Ei, menggunakan mereka berdua sebagai model hanya akan membuatnya dalam masalah. Jangankan model, pakai namanya aja udah bikin dia hampir mati.

Lagipula menggunakan gadis bernama Lumine ini sebagai referensi pasti akan minimi resiko dan tak akan ada orang yang sadar apalagi sampai bertemu langsung sama orangnya. Nggak mungkin juga seorang pahlawan hebat membaca bukunya dan langsung sadar bahwa dia menjadi bagian dari adegan dewasa, kan? ...Iya, kan?

Setelah mencatat beberapa hal yang menurutnya penting sebagai referensi, Naruto membuka lagi halaman berikutnya. Kali ini dia menemukan bagian yang berisi kumpulan cerita pendek di situ.

"Eh, apaan nih?" dia bergumam sambil membaca salah satunya. Wajahnya langsung berubah datar. "Cerita macam apa ini? Klise sekali, gampang ditebak," katanya sambil menggeleng pelan.

Naruto membalik halaman lagi, sampai matanya tertuju pada sebuah kolom iklan kecil di pojok halaman.

"Lomba Menulis Cerita Romantis! Hadiah Utama: Karyamu Akan Diterbitkan dan hadiah menarik lainnya!"

Dia mendengus kecil. "Lomba nulis cerita romantis?" gumamnya, alis terangkat. Matanya menyusuri detailnya—tenggat waktu, aturan jumlah kata, dan janji penerbitan untuk pemenang.

Dia mengusap dagunya, berpikir sejenak. "Sepertinya lumayan untuk ngisi waktu…"

Sebenernya tadi dia diberitahukan oleh Yae bahwa dirinya akan mendapatkan hari libur untuk beberapa saat, dan mungkin bulan ini bukunya tak akan terbit Karena katanya Inazuma akan punya agenda besar.

"Romantis, ya? agak ragu, sih" katanya sambil tersenyum kecil. Meskipun ragu karena selama ini lebih sering menulis buku porno, "Ah, coba aja dulu. Iseng-iseng dari pada nganggur juga."

"Iseng-iseng soal apa?"

Naruto terkejut setelah mendengar suara Yae yang tiba-tiba muncul di belakangnya.

"Oh Yae-Sama. Urusannya sudah selesai?"

"Yah, begitulah. Kamu tak membuat masalah selama aku pergi, kan?" tanya Yae dengan tatapan penuh selidik...yang sebenarnya lebih ke iseng, sih.

"Hei aku ini bukan anak kecil yang akan membuat onar saat tak diawasi." Naruto cemberut.

"Fufufu~ jangan marah, kan aku hanya sedang menjalankan tugasku untuk mengawasi mu." Ujar Yae yang langsung berjalan meninggalkan Tenshukaku.

Bohong, Naruto tahu itu kalau Yae hanya senang menggodanya saja. Namun, ia hanya bisa pasrah saja dan mengikuti wanita itu pergi.

"Ngomong-ngomong, Yae-Sama. Memangnya bakalan ada agenda apa di Inazuma Sampai kamu tiba-tiba meliburkan kegiatan penerbitan?"

Naruto agak penasaran karena setahu Naruto soal Yae, dibalik topengnya sebagai Miko yang bermartabat dan dihormati oleh masyarakat, Yae itu orang yang sangat kompetitif dalam bisnisnya dan suka mengejar Mora. Melihatnya meliburkan staff dan penulis rasanya agak aneh.

"Hmm yah~ ada beberapa alasan sebenarnya tapi salah satunya aku sedang mempersiapkan proyek untuk agenda nanti dan Novelmu akan terlibat di dalamnya nanti," Naruto menaikan satu alisnya. Tak begitu mengerti dengan ucapan Yae jadi dia hanya 'Oh' saja.

"Lagipula aku tak sepenuhnya meliburkan staff, hanya memindahkan mereka untuk mempersiapkan beberapa hal untuk nanti. Dan jika kamu ingin tahu agenda besar apa untuk Inazuma nanti, sini biar aku jelaskan dari awal."

Sepanjang perjalanan, Yae mulai menceritakan semua kejadian yang terjadi sebelum Naruto datang. Mulai dari dekrit Shokaku, dimana Inazuma Menutup diri mereka dari dunia luar sehingga sedikit tertinggal dalam beberapa hal. Lalu ada peristiwa perburuan Vision yang memantik nyalanya api pemberontak dari pulau Watatsumi.

Naruto diam mendengarkan cerita Yae, dia sama sekali tak menyangka kalau tempat indah seperti Inazuma pernah mengalami kisah kelam seperti itu. Ia mempertanyakan apa yang di dalam pikiran sang Shogun kala itu sehingga membuat kebijakan yang membuat rakyatnya jatuh dalam perang saudara.

Namun, ia bersyukur setidaknya itu sudah berlalu dan Inazuma akan menatap zaman baru untuk masa depan yang lebih baik.

"Jadi begitulah, maka dari itu kita akan mengadakan festival pembukaan Inazuma secara resmi dan mengundang Bangsa lain untuk datang dan menjalin hubungan kerja sama yang erat." Jelas Yae.

"Heeh~ sepertinya akan sangat ramai, ya. Jika melibatkan negara lain,"

"Bisa dibilang seperti itu. Oleh karena aku berencana untuk meraup untung pada saat itu. Dan kamu, sumber uang kecilku, akan menjadi bagian dari itu," jelas Yae dengan seringai liciknya yang khas.

Ah Naruto tahu itu, sudah pasti wanita serakah ini sedang memikirkan tentang keuntungan yang bisa dia dapat nanti dan dia pasti akan disuruh bekerja keras. Sebagai penulis kontrak dari Yae Publishing House ia tahu Yae tak akan memberinya libur begitu saja.

Akan tetapi Naruto tersenyum tipis. Apapun itu, ia tetap merasa tertarik, dan juga penasaran akan seperti apa orang-orang dari bangsa lain karena semenjak datang ke sini dia hanya melihat sekitaran Inazuma saja.

Pada waktu berikutnya, selama sisa perjalanan pulang keduanya hanya melakukan obrolan ringan dan terkadang Yae memberi tahu Naruto tentang bagaimana rencananya untuk nanti untuk meraup keuntungan pada saat Festival pembukaan Inazuma.

Beberapa hari kemudian

Naruto duduk di ruangannya dengan sekumpulan kertas dan pena di depannya, tapi semua kertas itu masih bersih tanpa coretan sedikit pun.

"Hmm~ Aku harus menulis cerita yang seperti apa, ya?"

Kepala Naruto bersandar pada tangannya sementara yang lain memutar pena tanpa tujuan yang jelas. Dia sepertinya masih bingung dengan apa yang ingin ia kirimkan untuk lomba itu. Mau menulis jenis yang seperti biasanya sudah pasti bukan ide yang bagus dan melanggar aturan lomba.

"Ah benar juga! Aku bisa menggunakan itu."

Naruto seketika bersemangat seolah baru saja mendapatkan inspirasi yang bagus. Sebenarnya, baru saja ia teringat ketika ia diberi barang-barang milik ayahnya ketika mengetahui kalau dia adalah anak Hokage keempat.

Di antara benda-benda itu, dia menemukan sebuah buku yang berisi kerangka novel yang ditulis oleh ayahnya. Terlihat belum setengah jadi, tapi premisnya terasa menarik. Tinggal improve sedikit dan dan melanjutkan sesuai ide yang ada di kepalanya.

Hmm, sepertinya Shinobi yang belajar dengan Jiraiya selalu mengembangkan bakat untuk menulis buku dengan sendirinya. Atau mungkin karena dia terkadang dijadikan pembaca beta oleh Jiraiya dan bisa saja ayahnya dulu mengalami hal yang sama.

Tanpa membuang waktu lagi, Naruto segera keluar kamarnya dan mencari Yae Miko. Seperti biasa, di jam seperti ini Naruto bisa menemukan rubah licik itu duduk menikmati Sake di bawah pohon Sakura.

"Yae-Sama!"

"Hmm, ada apa?" Yae tak menoleh saat menjawab. Matanya begitu fokus pada buku yang sedang ia baca.

"Ne~ apa kamu punya sesuatu yang bisa membantuku untuk tahu tentang kehidupan bangsa lain?"

"Ara~ tiba-tiba sekali kamu minta hal yang seperti itu. Apa kamu bersemangat karena festival-nya?"

"A-aahaha yah begitulah."

"Kalau begitu, kurasa di gudang belakang aku punya buku tentang kebudayaan 7 bangsa di Teyvat. Cari saja sendiri di sana,"

"Haii~ terima kasih,"

Yae melirik sedikit ketika Naruto akhirnya pergi dari sana dan tersenyum sebelum kembali melanjutkan aktivitas luangnya. Ia tahu raut wajah itu, raut wajah dari seorang penulis yang baru saja mendapatkan sebuah inspirasi yang luar biasa untuk karya mereka.

"Anak itu memang sumber uang kesayanganku,"

.

.

.

.

Fontaine, Seminggu kemudian.

Di sebuah ruangan yang memiliki desain mewah, duduk seorang gadis berambut biru yang ditutupi topi. Pakaian sebiru lautan yang yang terlihat sangat mahal seolah mencerminkan statusnya sebagai seorang yang terpandang.

Dia duduk sambil menopang kepalanya saat tangannya memegang manuskrip yang sedang ia baca dengan tatapan bosan bahkan sesekali ia menguap. Sesaat kemudian, gadis itu menghela nafas seolah merasa kecewa dengan apa yang ia baca.

"Duh, apa-apaan semua peserta lomba ini?" dia menggerutu dengan alis berkerut sambil mengambil satu lagi manuskrip tapi belum lama membaca, kertas itu langsung disingkirkan.

"Mereka sama sekali kurang kreatif, ceritanya membosankan, ada yang melenceng dari tema. Bahkan ini lagi, jelas-jelas menjiplak adegan dari buku lama dan hanya mengubah nama saja!"

Dia menghela nafas berat sambil melihat tumpukan kiriman karya peserta lomba yang telah dia nilai sebelumnya.

"Bukan ini yang aku harapkan saat menerima undangan dari Steambird sebagai juri lomba...yang kudapat hanyalah seluruh tumpukan obat tidur dalam bentuk kertas ini."

Sebagai seorang yang sangat mencintai Opera dan drama, Furina sangat menghargai yang namanya emosi dan ekspresi mendalam dalam sebuah kisah. Jadi ia sangat bersemangat diundang menjadi juri dengan bayaran yang lumayan meskipun Mora bukanlah masalah baginya tapi karena ia juga kebanyakan nganggur belakangan ini jadi ia terima saja untuk mengurangi kebosanan.

Tapi apa, yang dia dapatkan di sini hanyalah setumpukan cerita tak bermutu dan membosankan.

Ia lalu mengambil satu naskah lagi, dan membacanya dengan ekspresi datar. Kisahnya tentang bangsawan yang jatuh cinta sama pelayan. Sangat klise, belum lagi dialognya sangat kaku dan kurang penggambaran emosional dan mudah ditebak endingnya. Dia bahkan langsung melanggar ke ending dan rupanya benar. Dia tahu bakal seperti apa endingnya. Dan tebakannya benar.

Furina muak, hampir semua kiriman peserta lomba ini adalah bentuk penghinaan pada seni yang digelutinya. Tidak ada satupun yang bisa memenuhi ekspektasi-nya.

"Jika ini lomba membuatku tertidur, aku yakin pasti sulit menentukan siapa pemenangnya."

Furina lalu menyeruput cangkir kopinya agar bisa bertahan dari rasa ngantuk ini. Lihat! Orang-orang ini bahkan berhasil merubah kebiasaan minumnya yang biasanya teh menjadi kopi hitam pahit!

"Baiklah, Furina," dia bergumam pada dirinya sendiri, mengangkat naskah berikutnya sekaligus itu juga yang terakhir . "Kau sudah berjanji, jadi hadapi saja. Mungkin yang satu ini tidak akan membuatku kecewa... semoga saja. [Tenggelamnya Kapal Seiremaru] huh?"

Ia membaca nama yang tertera di sana, "Minato? Hmm, terdengar sangat Inazuma,"

Furina melanjutkan membaca naskah itu dengan malas, membolak-balik halaman seperti rutinitas yang membosankan. Namun, semakin jauh ia membaca, sesuatu mulai berubah...Dia bisa merasakan emosi yang kuat dari cerita dalam naskah tersebut.

Ia membacanya dengan pelan dan dan tanpa sadar sudah terhanyut oleh susunan kata-kata dan diksi yang menyusun peristiwa di dalam naskah seolah dia sendiri yang mengalaminya.

Sesaat kemudian, Furina merasakan sesuatu yang aneh di sudut matanya. Dia mengusapnya dengan cepat, berpikir kalau itu hanya lelah saja karena terlalu lama membaca.

Namun, ketika ia membaca tentang sepasang kekasih yang harus terpisah karena perbedaan status hanya karena si pria adalah orang dari mondstadt sedangkan si gadis adalah bangsawan Inazuma sehingga si pria menjadi sakit keras dan hampir mati karena larut dalam kesedihannya. Furina mendapati setetes air jatuh di atas halaman naskah itu

Furina tertegun sebentar, tangannya menyentuh pipinya yang basah, "Eh, aku... menangis?"

Dia menutup naskah itu setelah selesai membacanya. Isinya tidak terlalu panjang tapi penulisnya mampu menyampaikan emosi mendalam pada orang yang membacanya. Dan ending dari naskah dibuat sangat menggantung seolah memang masih ada lanjutannya.

"Ini yang aku cari-cari! Penuh tragedi dan kisah cinta yang pilu!" ujar Furina bersemangat meski air matanya masih membasahi pipi, "kurasa aku sudah punya pilihan untuk pemenangnya."

Akhirnya edisi selanjutnya dari surat kabar Steambird rilis dan di sana diumumkan siapa saja pemenang lomba. Dan khusus juara pertama, dicetak pula penggalan singkat dari naskah-nya agar memancing rasa orang-orang ketika Steambird merlilis buku ini nantinya.

Jelas mereka ingin naskah ini diterbitkan melalui perusahaan mereka, bahkan pihak Steambird sudah mengirim surat bersama hadiahnya untuk menawarkan jalan agar naskah ini menjadi sebuah buku di bawah naungan mereka.

Namun, yang tidak mereka sadari bahwa orang yang mengirim naskah itu sebenarnya adalah penulis kontrak dari rumah penerbit lain yang bisa dibilang saingan mereka dalam hal penjualan buku.

.

.

.

.

Inazuma, Grand Shrine Narukami

"Mengesankan, kamu bisa membuat novel tunggal sebagus ini hanya dalam seminggu," Yae memuji Naruto ketika ia selesai membaca bagian terakhir dari naskah lengkap milik Naruto.

Yae tersenyum ketika melihat reaksi senang dari Naruto. Dia tahu anak ini memang berbakat, tapi tak menyangka sampai bisa membuat novel sebagus ini dalam waktu singkat.

" Jadi, kapan rencananya novel ini akan dirilis?" Naruto menunjukkan antusiasme yang besar. Ia sudah tak sabar ingin melihat sejauh apa novelnya bisa laku di pasaran. Apakah akan selalu yang sebelumnya atau orang-orang lebih suka novel dewasa-nya.

Yae mendengus geli melihat antusiasme itu, "Sabar dulu, bocah. Masih ada beberapa hal lagi yang perlu kita lakukan dengan naskah ini, termasuk dengan rencana penerbitan-nya."

"Ah benar juga hehehe. Maafkan aku." Naruto menggaruk kepalanya karena malu sudah terlihat terlalu semangat.

"Kemarilah," Yae lalu tersenyum licik. Ia tahu senyuman itu, senyuman yang sedang merencanakan bagaimana caranya agar bisa mendapatkan keuntungan yang banyak.

Naruto melakukan apa yang diperintahkan dan duduk di sebelah Yae. Sang Guuji itu terlihat mendekatkan bibirnya ke telinga Naruto dan membisikkan sesuatu.

Ekspresi Naruto berubah menjadi agak ragu-ragu setelah mendengar rencana Yae barusan. "Kamu yakin cara seperti itu akan berhasil?"

"Fufufu~ jangan remehkan aku, bocah. Kamu pikir sudah berapa lama aku menjalankan bisnis seperti ini, hmm? Tapi untuk ini aku juga perlu kerja keras extra darimu~"

Naruto hanya bisa menghela nafas saja. Ujung-ujungnya dia disuruh bekerja lebih keras lagi sama wanita rubah licik ini. Namun, mau bagaimana lagi, dia memutuskan untuk menaruh kepercayaannya pada rencana ini saja. Lagipula, bukunya juga laku karena pemasaran dari Yae sebelumnya.

.

.

.

.

Liyue, Jade Chamber

Sang Tianquan dari Liyue Qixing, Ningguang. Kini terlihat lebih sibuk dari biasanya, mata dan tangannya sibuk mengurusi tumpukan perkamen yang ada di mejanya. Tak hanya dia beberapa orang di sana yang bertugas sebagai asistennya juga terlihat mondar-mandir untuk membawakan dokumen serta membantu sebisa mungkin.

"Ganyu, apa kamu sudah mengecek ulang seluruh dokumen yang kita perlukan? Ingat, jangan sampai ada kesalahan. Sebisa mungkin hubungan perdagangan dengan Inazuma harus kita amankan dengan baik."

"Sudah kulakukan, Nona Ningguang. Semua sudah kucek ulang dan disortir dengan benar. Anda tinggal membawanya saat kita berangkat nanti." Jawab Ganyu.

Ningguang mengangguk puas dengan hasil kerja sang Adepti. Dalam urusan seperti Administrasi Ganyu memang bisa sangat diandalkan. "Baiklah, kerja bagus. Kamu boleh libur beberapa hari sampai nanti kita berangkat ke Inazuma."

"Eh, anda yakin tak apa-apa saya mendapatkan libur?"

Ningguang hanya tersenyum. Dia tahu kalau Ganyu itu sangat berdedikasi pada pekerjaan fana seperti ini meski ia seorang Adepti.

"Ya tidak apa. Kamu bisa serahkan sisanya padaku. Lagipula, aku akan sangat membutuhkan kamu untuk nanti. Jadi istirahatlah. Bersantailah atau kau bisa membaca buku porno mu lagi." Ucap Ningguang dengan seringai menggoda.

Wajah Ganyu memerah karena kebiasaan barunya di singgung oleh atasannya, "Ku-Kumohon jangan katakan itu di sini. Ada banyak orang yang bisa dengar nanti! ...Aku permisi"

Tanpa berkata apa-apa lagi Ganyu langsung keluar dari ruang kerja Ningguang setelah membungkuk hormat. Sang Tianquan hanya terkekeh geli melihat reaksi Ganyu barusan.

Setelah memastikan bahwa Ganyu sudah pergi, Ningguang lalu memanggil asisten-nya yang lain, "Baishi, ada hal penting yang harus aku kerjakan di sini. Jangan ganggu aku dan jangan biarkan siapapun masuk ke sini."

"Saya paham, Nona." Ucapnya sebelum pergi dari sana

Setelah Baishi pergi, Ningguang buru-buru menutup pintu Kantor dan menguncinya. Ia lalu menekan satu sisi timbangan yang ada di mejanya. Rupanya itu adalah sebuah mekanisme untuk membuka soket rahasia yang ada di tengah meja.

Isinya bukanlah sebuah catatan penting apalagi dokumen negara. Tidak. Itu hanyalah sebuah novel ringan, tapi bukan sembarang novel ringan. Itu adalah [Petualangan sang ninja jenius]- buku yang ditulis oleh Naruto – Artinya, Ningguang juga sebenarnya adalah pembaca dari buku porno itu.

Tapi mana mau dia mengakuinya? Tidak mungkin seorang Tianquan yang terhormat mau membaca buku seperti ini meskipun bukunya populer. Setidaknya itulah Image yang ingin dia jaga di depan orang, termasuk di depan Ganyu sekalipun. Meskipun dia lebih tertarik ke kisah petualangan-nya, sih. Alih-alih cerita dewasa. Tapi siapa bilang dia tak boleh menikmati sedikit hasratnya?

"Saatnya kembali menjadi seorang Ningguang, hanya Ningguang dan bukannya seorang Tianquan." Ia bersenandung saat membuat dirinya senyaman mungkin. Yah, bagaimanapun juga dia tetaplah manusia yang membutuhkan hiburan di luar status-nya sebagai seorang pemimpin.

.

.

.

.

.

Mondstadt, Headquarters of the Knights of Favonius

Jean, sang pejabat sementara Grandmaster dari ordo kesatria favonius, tampak sedang melamunkan sesuai. Raut wajahnya mengatakan seolah dia cemas terhadap sesuatu yang mengganggunya.

"Ada apa? Dari tadi wajahmu nampak cemberut. Sedang memikirkan sesuatu?" tanya seorang wanita dewasa berambut pirang madu yang sedang duduk di sofa sambil menikmati teh dan membaca buku.

Jean menghela nafasnya sejenak, lalu duduk sofa juga, "Ini tentang Barbara. Belakangan ini dia agak berbeda."

Lisa mendengarkan Jean, meski tatapan matanya sejak tadi tertuju pada buku yang ia baca. Jika diperhatikan dengan seksama, wajahnya sedikit merona ketika membaca buku itu.

"Ada apa dengan saudarimu?"

"Yah belakangan ini dia tampak sedih dan murung tanpa. Alasan. Setiap kali kutanya, dia selalu mengatakan tak ada apa-apa. Tapi beberapa Biarawati di Katedral menceritakan kalau dia terkadang menangis saat berdoa dan mereka juga tak tahu mengapa."

Jelas ada banyak sekali kekhawatiran dalam benak Jean saat ini. Setahunya, adiknya itu adalah seorang yang sangat ceria. Bahkan meskipun tugasnya sangat banyak, Barbara akan menjalani semuanya dengan hati yang bahagia. Namun, melihatnya dalam kondisi seperti ini jelas membuat dirinya sebagai seorang kakak menjadi khawatir.

Lisa menutup bukunya dan menoleh pada Jean. Ia sepemikiran sama si Grandmaster, sulit percaya kalau Barbara bisa seperti itu. Apa ada hal yang mengganggu si Idol Mondstadt itu?

"Kamu sudah coba aja dia bicara?"

Jean mengangguk dengan perasaan lelah, "Sudah, tapi seperti yang kukatakan. Dia sama sekali tidak mau mengatakan apapun dan langsung pergi."

Dia tahu hubungan dirinya dengan adiknya itu terkadang canggung, tapi Barbara yang biasanya sama sekali tak seperti itu jika ia ajak bicara, "Apa yang harus kulakukan, Lisa?"

"Oh my dear, maafkan aku. Tapi sepertinya aku juga tak bisa membantu jika sudah seperti ini," Lisa berpikir sejenak, "Hmm~ mungkin ada. Bagaimana jika kamu mengajaknya untuk pergi ke Inazuma juga dalam perjalanan kali ini?"

"Mengajaknya?"

"Ya! Anggap saja memberinya liburan dan mengganti suasana sebentar. Aku yakin belakangan ini dia juga tertekan sama tugas-tugasnya di sini. Belum lagi para penggemarnya itu cukup mengganggu jika boleh aku jujur. Mungkin Barbara hanya frustasi saja. Kamu tahu dia kadang tak ingin merepotkan orang lain jadinya membebankan dirinya." Jelas lisa.

Jean berpikir sejenak, ia merasa ucapan Lisa ada benarnya. Belakangan ini dia melihat Barbara sudah bekerja keras. Baik sebagai Diakones ataupun Idol yang menghibur warga. Rasanya tak adil jika tak memberinya libur sejenak.

"Kurasa kamu benar. Aku akan membicarakan ini dengannya nanti." Ujar Jean sambil tersenyum. Ia merasa agak lega sedikit setelah merasa bisa menemukan solusi kecil untuk membantu adiknya.

Sementara itu di kamarnya, Barbara sedang berlutut di depan jendala kamarnya yang menghadap ke Cider Lake. Berharap angin yang lewat di depannya menyampaikan doanya yang tulus pada Archon Anemo.

"Oh Barbatos!... Maafkanlah hambamu ini, maafkanlah aku yang telah jatuh dalam kemerosotan. Aku tahu ini semua salah, tapi buku-buku itu terus menggodaku untuk kembali membaca mereka!"

Di sampingnya ada beberapa buku dengan tulisan [Petualangan Sang Ninja Jenius]. buku yang sejak awal sudah ia bersumpah tak akan pernah ia sentuh lagi. Namun, nyatanya buku itu ia miliki dari Volume hingga yang terbaru. Ia entah bagaimana selalu membelinya sambil menyamarkan identitasnya.

Barbara menangis ketika mengingat bagaimana perbuatannya beberapa saat yang lalu sambil membaca buku itu, bagaimana pun jika rasanya tak pantas untuk dilakukan oleh orang seperti dirinya.

FLASHBACK

Berbaring tengkurap dengan kaki dan lutut yang ditekuk, Barbara menopang tubuhnya kepalanya dia sandarkan di bantal sementara bokongnya diangkat ke udara. Roknya sudah ditarik ke atas pinggang, membuat pantatnya yang mungil namun berisi terlihat pada dunia dan memudahkan Barbara untuk menyelipkan jari-jarinya di antara pahanya.

Tatapannya penuh akan nafsu saat melihat pada halaman yang menjelaskan bagaimana adegan intim itu sedang berlangsung. Pinggulnya bergoyang pelan ke depan dan ke belakang saat jarinya mulia aktif menggesek Klitorisnya.

Berbaring tengkurap dengan kaki ditekuk dan lutut ditekuk di bawahnya, Barbara menopang tubuhnya agar bisa membaca dengan cahaya redup. Jubahnya diikatkan di pinggangnya, sehingga memudahkannya untuk menyelipkan jari-jarinya di antara pahanya sekali lagi.

Matanya menatap tajam ke halaman-halaman buku saat ia membaca, pinggulnya bergoyang pelan ke depan dan ke belakang saat ia membuat dirinya menjadi gila. Terengah-engah dan terengah-engah menandakan setiap kalimat, pipinya memerah saat ia melahap kata-kata yang memalukan itu.

Ia membayangkan bagaimana MC dalam buku itu mencengkram pinggulnya dan mulai meniduri nya dengan kasar. Pikirannya penuh dengan gambaran yang jelas saat jarinya terus meluncur dengan mulus di selangkangannya yang basah, bukti akan hasratnya.

"Ah~ ...ah~ ya~ Harder, Daddy!" ia merengek lirih, mengigit bibirnya lebih keras saat ia semakin tenggelam dalam sensasi itu.

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya, sepertinya ia sudah tenggelam dalam hayalannya dengan mendambakan hukuman dan 'pemaksaan'.

"Hukum aku, Daddy... Tolong, hukum aku! Hmphh! Ahhn~" Barbara berteriak putus asa, membayangkan bagaimana ia didominasi, "Aku sudah melakukan hal buruk!

Jari-jarinya mulai bergerak lebih cepat, Barbara berniat untuk mendorong dirinya melewati batas klimaks. Punggungnya melengkung tajam saat ia jatuh dalam kenikmatan dan merasakan pelepasan yang keluar melalui celah di antar kedua pahanya. Kakinya gemetaran.

"Ahhn~ Daddy!" ia terengah-engah dengan wajahnyang bahagia ketika gelombang kenikmatan menerpa dirinya.

Barbara lalu menjatuhkan dirinya dan berbaring telentang di atas kasurnya. Nafasnya masih terengah-engah akibat pelepasan barusan. Ia melihat tangannya, yang basah akan cairan lengket dan berbau, bukti akan nafsu yang menguasainya barusan.

"Aku melakukannya lagi...aku melakukannya lagi!"

Barbara menangis ketika menyadari kalau telah melakukan hal yang sama lagi. Ia menangis dan merasa berdosa, padahal dia sudah berjanji pada Barbatos kalau dirinya akan berhenti. Namun apa? Hal ini selalu terjadi terus. Dan yang membuat dirinya merasa semakin buruk ialah, dia merasa ini tak cukup. Tubuhnya seolah mendambakan sensasi yang nyata, sensasi sentuhan kasar yang dirasakan oleh karakter wanita di dalam buku.

Barbara sesenggukan ketika memikirkan sudah Sudah berapa kali dia mengkhianati janjinya pada Barbatos? Akankah Barbatos memaafkannya?

"Apa sebaiknya aku berhenti menjadi Biarawati saja, ya?"

Preview

"Ini semua salahmu! Ini semua gara-gara buku sialanmu!" Barbara mengeluarkan amarahnya. Cengkramannya pada leher Naruto sangat kuat. Bahkan membuat mantan Shinobi itu kesusahan bernafas.

"No-Nona, tenanglah! Mari kita bicarakan ini baik-baik. Kita sajar baru bertemu di acara ini!" Naruto tak mengerti apa yang terjadi. Gadis ini tiba-tiba menerjangnya mencekik lehernya di lantai dengan emosi yang meluap-luap. Memangnya apa salah dia dan bukunya!?

"Kamu menghancurkan hidupku! " Barbara menampar wajah Naruto dengan keras, dan terus menggunakan kata yang sama secara berulang.

"Ini salahmu...Hiks...Ini salahmu...Hiks" Naruto jadi makin bingung. Sekarang gadis itu malah menangis di dadanya.

"Apa yang kamu lakukan kali ini, Yae-sama?" gumamnya.

To be continued

. [Plesetan dari buku TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK karya Buya Hamka. Kalian berpikir film-nya bagus? Coba baca bukunya] Ini hanya saya gunakan sebagai pembuka Event di Inazuma nantinya.

Saya lupa kalau ada Lantern rite. Sigh

Di bab kali ini saya ingin mengonfirmasi tentang beberapa pertanyaan terkait siapa traveler nya di sini. Di saya menggunakan Lumine. Yah, meskipun saya user Aether.

Untuk romansa? Saya rasa masih sulit dan terlalu cepat untuk dilaksanakan saat ini. Mungkin sekarang hanya sebatas interaksi biasa.

Dan juga maaf untuk tulisan yang berantakan di bab kali ini. Saya agak terburu-buru sebenarnya