Hari ini adalah hari lain di Gensokyo, dan anak laki-laki itu selesai menjual obat-obatan untuk orang-orang di desa. Adik perempuannya sudah di luar sana mengantarkan beberapa untuk orang-orang di ujung lain desa. Dia memulai menutup tokonya ketika dia menyadari seorang pria tua berjalan ke arah tokonya. Dia menunjukkan sisi 'sopan'nya. "Mohon maaf, tokonya sudah tutup…"
"Aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu secara pribadi." Sebuah aksen Rusia memotong pembicaraan anak itu. "Aku memilih hanya kata-kata dan tidak menyangkut dengan kekerasan fisik. Apakah tidak apa-apa denganmu?"
Dia telah melihat pria itu beberapa kali di desa. Mereka belum berinteraksi satu sama lain, tapi dia tahu orang tua itu melihat sekilas ke tokonya beberapa kali ketika dia lewat. Tidak tahu mengapa, mengingat dia tidak melakukan kesalahan apapun… tapi dengan ancaman dalam kata-katanya, anak itu tidak punya pilihan apapun selain mengambil jalan damai.
Dia membuka kunci pintunya, mengundang orang itu masuk. "Tunggu beberapa saat selagi aku membereskan tokonya."
"Santai saja, aku sedang tidak terburu-buru."
Anak itu melihat pria tua itu mengagumi rumahnya di saat dia mengatur barang-barang yang ada di rak. Sejauh ini dia tidak menunjukkan apapun yang membuat dia curiga, jadi sisi optimis dia berkata bahwa pria itu hanya ingin mengobrol. Namun, ada beberapa momen dimana dia melihat pria tua itu sedang berjalan dengan para tentara, jadi dia tidak kalau mereka teman atau tidak.
Setelah selesai, di kembali ke dalam dan memberi isyarat kepada pria itu untuk mengikutinya ke ruang utama, di mana sebuah set teh sudah siap. Mereka berdua duduk dan anak itu menuangkan teh sesuai aturan kedermawanan tuan rumah.
"Aku rasa inilah saatnya kita memperkenalkan diri kita. Namun, aku harus dengan kasar menanyakan nama kamu terlebih dahulu." Pria tua itu menatap anak itu dengan raut muka bersalah.
"…namaku Hiro." Anak itu menjawab, yang mana membuat pria tua itu tertawa kecil. "Apa yang lucu?"
"Ah, aku minta maaf. Hanya… ironis, itu saja."
Kalau itu tidak membunyikan alarm di dalam kepalanya, tapi sekarang bunyi.
"Ngomong-ngomong, karena aku sudah tahu namamu, aku akan memberi tahu namaku. Aku Viktor Reznov, seorang teman lamanya Alex Mason. Dan… kami percaya bahwa kamu… bermusuhan dengannya di masa lalu."
"…dan mengapa kamu percaya?" Dia lalu mencoba untuk merencanakan jalan keluar dari rumahnya sendiri kalau sesuatu menjadi kacau. Dia tidak ingin terlibat dengan apa yang telah dia perbuat di masa lampau, dan hanya ingin hidup dengan damai.
"Tentara mengenali bahaya jika mereka melihatnya, tuan Hiro. Kamu terus-terusan memandang teman aku adalah sesuatu yang harus diingat." Pria tua itu lalu menyeruput teh dari cangkirnya. "Teh yang enak. Darimana ini berasal, dan bolehkah aku diberi rekomendasi merek yang bagus?"
"…aku baru saja membelinya dari toko grosir terdekat." Dia mencoba untuk mencari celah kesalahan dari pria tua itu sehingga dia bisa langsung bertindak, tapi sejauh ini masih belum memungkinkan.
"Berarti setelah ini aku harus memarahi anak-anak itu karena sudah bikin teh yang tidak enak." Viktor tertawa, setengah mengabaikan tatapan yang dia terima. Suara dia langsung berubah serius. "Woods sebenarnya ingin membunuh kamu, dan aku yakin Mason juga tidak nyaman berbicara dengan yang bertanggung jawab atas kematiannya, jadi lebih aku yang berbicara dengan kamu."
"…apa mau kamu?"
"Hanya beberapa konfirmasi. Kita tidak ingin ada perkelahian di sini, jadi kamu berhenti membuat rencana untuk kabur."
"…kenapa aku harus percaya denganmu?"
"Woods sudah membuat rencana B jika pembicaraan kita tidak berjalan mulus. Dan kamu tahu seberapa brutal pria itu, berdasarkan masa lalu kamu dan ceritanya Mason."
"…aku membuat diriku sendiri jadi target, ya kan?"
"Sampai kami yakin kalau kamu berbuat yang tidak baik." Pria itu lalu mengambil cangkir tehnya dan tersenyum, menenangkan suasana sedikit. "Dan langkah pertama yang bagus adalah kamu tidak meracuni tehnya."
"…langsung ke poinnya."
"Baiklah, kalau itu maumu." Menaruh cangkir tehnya, Viktor berlanjut. "Hal pertama yang harus dikonfirmasi: Bagaimana kamu bisa ada di sini? Dan bagaimana aku harus memanggil kamu untuk sekarang? Hiro… atau Raul Menendez?"
"Untuk dosa-dosa aku, pakai yang kedua. Tapi untuk sekarang, panggil aku dengan nama aku sekarang. Untuk pertanyaanmu yang sebelumnya… seseorang memberikan aku kesempatan kedua."
"… apakah itu 'dia'?"
"Sepertinya begitu."
"Hmmm… itu akan membuat rumit situasi." Si tentara tua menggosok dagunya. "Apakah dia ada mengatakan sesuatu… yang tidak biasa?"
"…disamping dari dia tahu aku dan masih memberikan aku kesempatan kedua?"
"…kedengarannya seperti dia orang yang sama yang bertanggung jawab atas kita masih hidup. Baiklah, selanjutnya: Apa cerita kamu, Menendez? Mengapa kamu secara khusus berurusan dengan Woods dan Mason dan rekan-rekannya juga?"
"Mereka perlu mengerti penderitaan yang aku alami. Aku tidak keberatan kalau aku dibunuh dengan orang-orangku, kita tahu apa yang akan terjadi kepada kita. Tapi adik aku… hanya dia satu-satunya yang aku punya, dan mereka mengambil dia dari aku. Dan kamu tidak melihat apa yang orang-orang Amerika telah perbuat dibalik aksi-aksi 'heroik' yang dipropagandakan." 'Anak' itu berbicara tanpa ragu. Dia tidak menyesali apa yang dia perbuat, walaupun dia tahu itu buruk.
"Aku paham. Dan aku tidak menuduh kamu. Akan selalu ada orang-orang buruk di tengah keramaian. Tidak ada bedanya dengan Rusia." Viktor mengigit bibirnya, masih marah dengan Dragovich. "Setidaknya kamu tidak tahu tentang Nova Six."
"Senjata kimia, kan? Aku tahu itu, tapi itu bukan tujuan aku."
"Kalau begitu anak-anak Amerika itu beruntung. Bagaimana sekarang, tuan Hiro? Apa rencana-rencana kamu?"
"Hanya menjual obat-obatan, secara legal. Dan hidup damai dengan adik aku."
"…oh aku mengerti, adik kamu juga sama seperti kamu?" Kali ini Viktor memberikan 'anak' itu senyuman yang berarti. "Jadi, apa yang kamu ingin lakukan sekarang adalah menghabiskan waktu kamu di kehidupan baru dengan keluarga tersayang… aku berharap kamu punya pasar 'gelao' seperti di kehidupan kamu sebelumnya."
"Tidak ada alasan. Youkai-youkai di sini sudah merepotkan dari awal, dan politik di sini tidak seburuk sehingga tidak terlibat di pasar gelap lagi."
"Well… sepertinya kita tidak perlu…"
"Kita ada tamu, kakak?" Mereka berdua berbalik ke arah pintu melihat si saudari muda masuk ke dalam dengan sebuah tas di tangannya. "Tuan Kirisame bilang obatnya bekerja dengan baik."
"Ah, itu berita yang bagus." Anak laki-laki itu menjawab. "Bisakah kamu ke sini sebentar?" Gadis itu mengangguk dan menaruh tasnya di pojokan yang aman sebelum bergabung di meja. "Adik, ini Viktor Reznov, teman seseorang… dari masa lalu kita. Viktor, ini adik aku."
"Salam kenal nona muda." Pria tua itu tersenyum selagi dia memandang gadis itu ke atas dan ke bawah yang terlihat sedikit malu setelah mendengar 'masa lalu kita'. "Jangan khawatir, kami tidak mencoba menyakitimu. Kami hanya ingin tahu siapa kamu dulunya, itu saja."
"…dan jika kamu sudah mendapatkan semua jawaban yang dibutuhkan, tolong tinggalkan kami."
"Oh, aku punya pertanyaan lain." Ketegangan telah menurun ke titik aman selagi pria itu bertanya. "Apakah kamu tahu di mana mencari bensin dan oli di dunia ini."
"Itu… tidak, aku tidak tahu." Hiru menjawab dengan jujur, merasa bahwa dia dan adiknya tidak harus lari dari 'bahaya'.
"Sial, aku harap kita tidak mengubahnya jadi rongsokan." Viktor berkata pada dirinya, lalu berdiri dan menunduk. "Terima kasih telah memberi waktu kepada pria tua ini, dan maafkan aku telah menakutimu seperti tadi, mister Hiro."
"Tidak… masalah." Si mantan teroris ingin berkata tidak, tapi mengingat percakapan tadi berjalan lancer dari yang dia harapkan… "Jika salah satu dari kalian ada yang sakit, kita bisa menjual beberapa obat-obatan untuk menyembuhkan."
"Kayak tentara mudah sakit saja." Viktor tertawa riang. "Tapi terima kasih atas tawarannya. Dan uh… jangan mengulang apa yang kamu perbuat dulu, oke? Sebaliknya Mason dan Woods mungkin akan datang kepadamu."
"Kamu tidak perlu mengingatkan aku."
"Selamat malam, kalian berdua." Dan dengan itu, si tentara Rusia memberi hormat ke mereka berdua dan pergi meninggalkan rumah itu.
Gadis itu mengintip dari pintu untuk melihat jika pria itu sudah cukup jauh, lalu berbalik dan bertanya kepada kakaknya dengan khawatir. "Kakak, dia siapa? Darimana dia tahu…"
"Dia mungkin sama seperti kita." Hiro/Menendez menjawab. "Kalau kita diberikan kehidupan kedua, mereka dihidupkan kembali. Oleh orang yang sama, kalau tidak salah."
"Lalu… apa yang kita lakukan sekarang?"
"Tidak ada. Kita tidak salah, jadi tidak ada alasan mereka mencari kita kecuali mereka mau membeli obat."
"Aku harap kakak benar."
"Adik dia juga?" Mason dengan terkejut bertanya setelah mendengarkan ringkasan percakapannya Viktor. "Jadi tidak hanya Raul Menendez tapi adiknya juga yang diberi kesempatan untuk hidup lagi?"
"Aku pikir itu hal yang bagus." Jackson menganalisa situasinya. "Woods tidak sengaja membunuh adiknya, jadi dia membunuh kalian bertiga termasuk Hudson karena urusan pribadi. Perkelahian dia dengan Amerika, yah, sebagian salah kita. Sekarang dia tidak harus berkelahi dengan orang jahat di antara kita, dan dia punya adiknya, jadi saling menguntungkan?"
"Kita akan lihat." Woods masih kesal karena dia tidak punya alasan untuk memukul Menendez yang 'baru' ini, tapi dia mengerti kenapa. "Dan tidak ada oli atau bensin?"
"Mereka menjual obat-obatan, jadi masuk akal kalau mereka tidak di mana bisa dicari. Terutama di dunia ini." Griggs membalas. "Walaupun begitu… kita mungkin harus mempertaruhkan dunia ini."
"Mempertaruhkannya?" Vasquez tidak suka mendengar itu. "Apa kamu punya petunjuk di mana mereka berada?"
"Well... kita butuh, eh, menggali lubang untuk mendapatkan oli, ya kan? Dan ADA lokasi di bawah kaki kita…"
"Oh tidak, jangan terowongan…" Woods dan Mason mengerang, punya BANYAK kenangan buruk saat di 'Nam.
"Hey itu… yah, itu lebih buruk dari yang kamu kira." Griggs dengan malu menggaruk-garuk kepalanya.
"Lebih buruk? Bagaimana bisa lebih buruk?" Woods memandang balik, berpikir apa yang lebih buruk dari terowongan.
"Eh… apa kamu ingat Oni kecil yang di Kuil Hakurei?"
"Oni apa?" Trio dari Black Ops bertanya dengan bingung, belum pernah bertemu secara pribadi.
"Uh, yang punya tanduk seperti badak?"
"Suika punya dua tanduk, dan mereka lebih seperti tanduk kambing." Vasquex mengkoreksi. "Tapi yah, kita jarang melihat dia. Apa kamu pernah mengobrol dengan dia?"
"Mengejutkannya mudah. Beri dia alcohol dan dia bicara. Ngomong-ngomong, dia ternyata seseorang dengan kekuatan di Gensokyo. Dan, yah, dia berasal dari Kota Tua yang mana berposisi di bawah tanah."
"Seluruh kota… sebenarnya, mengingat bahwa Youkai menghindari manusia, mungkin itu kasusnya." Jackson bisa mengerti kenapa.
"Itu bukan bagian yang buruk. Kota Tua itu ada di Neraka Tua."
"…Apa?"
"Percayalah, aku juga kaget ketika mendengar itu." Griggs mengerti kenapa semua orang memandangnya dengan tidak percaya. "Itu pilihan yang dipertimbangkan, tapi kita tidak ingin melihat Neraka lagi, kan?"
"Pastinya." Mason mengomel lagi. "Apakah orang-orang Gugus Tugas sudah bisa terbang sendiri?"
"Belum. Mereka sudah mencoba, tapi kelihatannya sangat susah."
"Aku pikir kita herus istirahat sekarang. Akan ada hari panjang besok." Woods mengusulkan, yang mana semuanya setuju. "Dan aku butuh mengingat rencana-rencana di belakang kepalaku atau aku mungkin akan meninju dia saat kita bertemu."
"Argh… kepalaku…" Di sebuah gang, seorang pria paruh baya bangun dengan sakit kepala yang para. Memegang kepalanya lewat topi di kepalanya, penglihatan dia mulai kembali dan dia mencoba untuk mengidentifikasi di mana dia sekarang. Bahkan dengan rasa sakitnya hilang dan matanya sudah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, dia tidak mengenali di mana dia sekarang. "Di mana aku sekarang? Bukannya aku…" Dia lalu terkejut saat ingatan terakhirnya kembali, dan dia mulai melihat tanah di sekitarnya untuk mencari kalau ada senjata di dekatnya. Untungnya, dia melihat sebuah G36C dengan Red Dot Sight dan sebuah USP .45, jadi dia mengambil semua dan memeriksa tempat peluru… "Tidak ada peluru… sialan." Dia lalu memeriksa tubuhnya, hanya menemukan beberapa peralatan pendukung dan sebuah pisau taktis sebagai satu-satunya senjata mematikan, tidak ada tempat pelru sama sekali. "Sial, berarti aku telanjang sekarang, huh?"
Membawa senapan serbu di pundaknya dan menaruh pistolnya ke dalam sarung kosongnya, pria itu berjalan keluar dari gang secara perlahan dan melihat ke arah jalan luas, untuk melihat sesuatu yang dia pikir itu musathil. Bola api biru melayang hampir di semua tempat, dan orang-orang yang dia lihat mendominasi dia dalam hal ukuran. Dia melihat ada beberapa yang ukurannya kecil, tapi yang lain mengejutkan dia. Dan bahkan, orang-orang ini punya sosok manusia tapi antara punya tanduk atau bagian Binatang seperti sepasang telinga dan ekor. Struktur di sekitar dia terlihat ketimuran bagi dia, dan ketika dia memejamkan matanya sambil melihat ke atas, dia bersumpah dia bisa melihat semacam atap tanah di atas kepalanya.
Dia lalu menyadari huruf-huruf yang ada di beberapa bangunan semacam huruf-huruf Asia Timur, dan beberapa warga melihat dia dan berbicara dengan lainnya dalam aksen Asia. Mengenali itu, dia buru-buru kembali ke dalam gang gelap untuk menghindari perhatian yang tidak perlu. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, dia tidak pernah belajar Bahasa Asia, jadi bagaimana dia bisa mengerti…
"Halo yang di sana!" Secara naluri, dia mengarahkan senjatanya ke sumber suara, hanya melihat seorang gadis 'muda' sedang mabuk sambil membawa sebuah kendi. "Tuan tentara! Senang melihat di Neraka! Apa kamu menemukan sesuatu di sini?"
"…ini tidak terlihat seperti Neraka bagiku."
"Ah, benar, Neraka yang lain ada di sebelah sana~" Gadis itu minum dari kendinya sambil menunjuk jarinya ke sebelah kirinya. Melihat pria itu masih bingung, dia mengusap bibirnya dengan lengannya yang lain dan bertanya. "Apa kamu baru saja menemukan diri kamu di sini?"
"Well… sepertinya. Tempat apa ini?" Tentara itu bertanya sambil memegang senapannya erat-erat. Walaupun dia tidak melihat niat jahat dari gadis itu, lebih baik dia Bersiap-siap.
"Ini Neraka Lama! Belum pernah mendengar… ah, kamu Orang Luar~"
"…Orang Luar?"
Tidak mendengar pertanyaan yang diulang, gadis itu memperkenalkan dirinya. "Aku Suika! Manusia jarang ada di bawa sini! Mari aku antarkan kamu kembali ke atas!"
"Dan mengapa aku harus mempercayai kamu?"
"Apa kamu tempat tujuan?" Alih-alih menjawab pertanyaan, si gadis oni bertanya balik ke dia.
Dan dia benar. Hal terakhir yang dia ingat saat bangun adalah peluru Desert Eagle ke kepala, dan dia sudah ada di sini. Jadi dia bisa ada DI MANA saja sekarang.
"…cukup adil. Tunjukkan jalannya."
"Oke!"
Gadis itu berjalan menjauh seperti pemabuk dan dia mengikuti dia keluar dari gang sambil menaruh pistolnya. Dia mulai menerima tatapan dari orang lain, tapi dia memutuskan untuk tidak memperdulikannya. Lagipula…
"Ngomong-ngomong, siapa namamu?"
"Ah, aku lupa memberitahumu, huh? Namaku…"
