ETERNAL MEMORY

Park Chanyeol X Byun Baekhyun

Yaoi As Always

Enjoy Reading, Guys!

.

Hujan salju lebat turun tanpa henti, menyelimuti jalanan dalam lapisan putih tebal. Udara terasa pekat, seolah-olah musim dingin telah mencuri setiap aroma dari dunia ini, termasuk harum pepohonan yang biasanya mengisi ruang kosong. Di dalam gerbong kereta yang sepi, derit roda besi yang bergerak di atas rel menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan.

Di salah satu sudut, seorang lelaki duduk membungkus tubuhnya dengan selimut abu-abu yang sudah kusut. Ia tampak seperti bayangan yang terselip di antara dinginnya udara dan temaram lampu kereta. Rambutnya sedikit acak-acakan, beberapa helaian jatuh menutupi dahinya. Jika diperhatikan lebih dekat, itu adalah Byun Baekhyun.

Ia duduk dengan punggung membungkuk, pandangannya kosong tertuju pada jendela yang dipenuhi embun dan serpihan salju di luarnya. Cahaya lampu jalan yang redup sesekali melintas, memantulkan bayangannya di kaca. Matanya yang biasanya memancarkan kehidupan kini terlihat meredup, seperti bara api yang hampir padam. Ia menghela napas panjang, namun udara dingin bahkan membuatnya terasa berat.

Musim ini benar-benar dingin, pikirnya. Dingin yang meresap jauh ke tulang, bahkan sampai ke hatinya. Seperti salju yang perlahan menutupi segalanya, rasa sepi itu pun terus menghimpitnya, menyelimuti setiap sudut jiwanya yang kosong.

Setelah hampir tiga jam lamanya kereta melaju, Baekhyun akhirnya tiba di tujuannya—sebuah kota kecil di selatan negeri ini. Saat ia melangkah keluar dari gerbong, hawa dingin menyergap, membawa serta aroma salju yang khas. Tatapannya kosong menelusuri stasiun kecil itu, hingga perlahan seulas senyum tipis muncul di wajahnya. Kenangan akan masa mudanya mulai bermunculan, seperti kilasan gambar yang tak diminta. Kota ini menyimpan momen-momen berharga dalam hidupnya—indah, penuh tawa, tetapi juga dihiasi kesedihan yang sulit diabaikan. Senyum di wajahnya memudar, tersapu oleh ekspresi datar yang kerap menjadi tameng bagi perasaannya.

"Ya! Byun Baekhyun!" Sebuah suara berat memecah lamunannya. Baekhyun menoleh, menemukan sosok sepupunya, Doh Kyungsoo, berdiri tak jauh darinya. Tubuh Kyungsoo dibungkus mantel tebal, tetapi buliran salju yang menempel di bahunya menunjukkan bahwa ia harus melawan badai untuk sampai ke sini.

Baekhyun mengangguk kecil, menerima kehadiran Kyungsoo tanpa kata. Tak butuh banyak bicara, keduanya segera berjalan menuju mobil yang diparkir tak jauh dari stasiun. Jalanan yang dilalui dipenuhi lapisan salju yang licin, diiringi suara lembut angin yang terus menderu di luar.

Dalam mobil, suasana terasa sunyi, hanya deru mesin yang mengisi ruang kosong di antara mereka. Baekhyun duduk diam di kursi penumpang, tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya melayang jauh. Kota kecil ini, meski tertutup salju, terasa tak berubah sejak terakhir kali ia melihatnya. Setiap sudutnya membawa kembali potongan-potongan masa lalu, menggugah perasaan rindu yang bercampur dengan nyeri.

Kyungsoo, yang sesekali melirik sepupunya, tak kuasa menahan pertanyaan yang mengganjal di pikirannya. "Kau yakin ingin menghabiskan waktumu di rumah itu?" tanyanya pelan, suaranya nyaris tersapu oleh suara pemanas mobil. "Kau tahu, banyak kenangan di sana. Mungkin itu hanya akan membuka kembali luka lama yang selama ini kau coba sembuhkan."

Baekhyun tak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, matanya tetap menatap ke depan, seolah berusaha menemukan kekuatan dalam keheningan. "Justru itu sebabnya aku kembali," jawabnya akhirnya, suaranya rendah namun tegas. "Dokterku bilang, melupakan bukan jalan yang tepat. Aku harus belajar menerima semuanya."

Kyungsoo terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Doktermu benar," katanya dengan nada lembut. "Mungkin ini cara terbaik agar kau bisa menemukan kedamaian."

Baekhyun tersenyum kecil, tapi kali ini senyuman itu penuh dengan kerinduan yang menyakitkan. "Aku merindukannya," ujarnya lirih, nyaris seperti bisikan yang hanya didengar oleh dirinya sendiri.

Kata-kata itu menggantung di udara, membawa beban yang sulit dijelaskan. Kyungsoo menoleh, menatap Baekhyun dengan sorot penuh simpati, namun memilih untuk tidak menambah apa-apa. Hanya suara roda yang menggilas salju dan embusan udara dingin dari luar yang menemani perjalanan mereka menuju rumah tua itu.

Tak lama, mobil itu berhenti di depan sebuah rumah tua di pinggir kota. Rumah itu terlihat seolah melawan waktu—dinding kayunya kusam namun masih berdiri kokoh, atapnya dipenuhi lapisan salju yang tebal. Lampu kecil di serambi memancarkan cahaya hangat, tapi tidak mampu mengusir kesan sunyi yang menyelimuti tempat itu.

Baekhyun membuka pintu mobil perlahan, suara deritnya memecah keheningan malam. Ia berdiri sejenak di depan rumah itu, menatapnya dengan campuran rasa takut dan kerinduan. Setiap sudut rumah ini menyimpan cerita, pikirnya. Cerita yang dulu ia coba lupakan, tapi kini ia kembali untuk menghadapinya.

Kyungsoo keluar dari mobil, berdiri di samping Baekhyun. "Kalau kau butuh sesuatu, atau… hanya ingin bicara, kau tahu di mana mencariku," ujarnya pelan.

Baekhyun menoleh padanya, memberikan senyuman kecil—senyuman yang dipaksakan namun penuh rasa terima kasih. "Aku tahu. Terima kasih, Kyungsoo."

Kyungsoo mengangguk, memberi satu tepukan pelan di bahu Baekhyun sebelum kembali ke mobil. Sesaat kemudian, suara mesin mobilnya perlahan menghilang, meninggalkan Baekhyun sendirian di depan rumah itu.

Baekhyun menarik napas dalam-dalam, udara dingin menusuk paru-parunya. Ia melangkah ke pintu, menggenggam kenopnya yang dingin. Saat pintu terbuka, aroma khas rumah tua menyambutnya—campuran kayu lapuk, debu, dan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Ia melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup di belakangnya. Di tengah ruangan yang remang-remang, ingatan masa lalu mulai datang, satu per satu, seperti film lama yang diputar ulang.

Dengan suara bergetar, ia berbisik pada dirinya sendiri, "Aku pulang."

.

.

.

Baekhyun segera memulai membersihkan kamar yang akan menjadi tempat tinggalnya untuk malam ini. Tangannya sigap menyapu debu yang mengendap di setiap sudut, mengganti lampu tua yang redup, dan merapikan perabotan yang terlihat kusam dimakan waktu. Tak butuh waktu lama, kamar yang awalnya terasa dingin dan menyeramkan kini mulai terasa lebih hangat, lebih pantas untuk dihuni.

Setelah semuanya selesai, Baekhyun duduk di ujung kasur, membiarkan dirinya tenggelam dalam keheningan. Pandangannya terpaku pada figura foto yang tergantung di dinding. Foto itu memperlihatkan dirinya dan seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya. Pelupuk matanya memanas, dadanya terasa berat, seakan-akan kenangan di foto itu kembali hidup, menyayat perlahan. Namun, ia menahan air mata yang hampir tumpah, memilih untuk menutup matanya dengan harapan rasa sakit itu akan hilang.

Ketika ia mulai merasa sedikit tenang, suara ketukan di pintu memecah keheningan. Suara berat yang terengah-engah terdengar di balik pintu, "Kau kembali? Kenapa tidak memberitahuku lebih dulu?"

Baekhyun menoleh perlahan, dan di sana berdiri sosok yang begitu akrab baginya—Park Chanyeol. Lelaki itu masih sama seperti yang ia ingat, sama seperti sosok yang tergambar dalam foto itu. Chanyeol berdiri di ambang pintu dengan jaket tebal yang membungkus tubuhnya, basah oleh salju yang mencair. Namun, seolah melupakan kondisi dirinya sendiri, Chanyeol melangkah masuk tanpa ragu dan berdiri di hadapan Baekhyun.

"Kau bilang kau akan melupakanku, bahwa kau tidak akan pernah kembali," ucap Chanyeol, suaranya meninggi namun mengandung getaran. "Kenapa kau di sini? Kau tahu, aku hampir gila saat kau pergi begitu saja tanpa sepatah kata!" Wajahnya penuh ekspresi, bibirnya sedikit maju dengan pipi menggembung, membuatnya terlihat seperti sedang mengomel dengan cara yang lucu.

Baekhyun tak bisa menahan tawa kecil yang keluar begitu saja dari bibirnya. Tawa itu meluncur lembut, menghapus sejenak kekakuan di antara mereka. Chanyeol, yang awalnya terkejut melihat reaksi Baekhyun, tiba-tiba tersenyum lebar. Tanpa pikir panjang, ia langsung memeluk Baekhyun erat, membuat mereka berdua terjatuh di atas kasur.

"Kau terlihat sangat menggemaskan saat tertawa seperti itu," ujar Chanyeol dengan suara yang penuh kehangatan. "Jangan pernah bersedih lagi, Baekhyun. Aku ada di sini. Aku selalu ada untukmu."

Baekhyun terdiam dalam pelukan itu, sebelum akhirnya berbisik pelan, "Maaf..." Suaranya begitu kecil, hampir tenggelam di antara detak jantung mereka yang saling bersahutan. Ia meraih jaket Chanyeol yang basah dan dingin. "Jaketmu basah... sebaiknya kau ganti dulu. Aku kedinginan kalau terus memelukmu seperti ini."

Chanyeol tertawa kecil, melepaskan pelukannya dengan enggan. "Kau benar." Dengan cepat, ia melepas jaketnya dan melemparkannya ke sudut kamar sebelum kembali memeluk Baekhyun, kali ini dengan kehangatan yang lebih nyata.

"Aku merindukanmu," bisik Chanyeol, suaranya nyaris seperti doa yang tulus.

Baekhyun menutup matanya sejenak, membiarkan dirinya tenggelam dalam momen itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kehangatan itu terasa nyata.

"Apa kau lapar?" Chanyeol tiba-tiba bertanya, sedikit berbisik di telinga Baekhyun. Sayangnya, Baekhyun sama sekali tidak membalasnya, lelaki itu hanya memeluknya semakin erat dan erat. "Jika kau lapar, aku akan membuatkan sesuatu. Bagaimana jika aku membuat pancake favoritmu? Ah… atau kita memasak ramen saja?"

Kepala Baekhyun menggeleng, ia semakin menenggelamkan dirinya di pelukan Chanyeol. Menghirup aroma lelaki itu dalam-dalam dan tersenyum kecil. "Lebih baik aku kelaparan daripada aku kehilanganmu."

Tak tahu harus membalas apa, Chanyeol hanya tertawa geli dan menatap sosok yang memeluknya itu dengan tatapan tak percaya, "Kau pikir aku akan kemana, huh? Aku hanya ke dapur! Tidak sepertimu yang meninggalkanku ke Seoul."

Hampir sejam lamanya mereka berpelukan, Baekhyun tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menghadapkannya ke arah Chanyeol. Matanya menatap lekat-lekat sosok pria yang tak dilihatnya selama tiga tahun ini. Ia tak menyangka hatinya yang nyeri langsung terobati saat melihat sosok pria yang paling ia cintai di hadapannya.

Tanpa ia sadari, air mata Baekhyun mengalir deras di pipinya. Tangannya bergerak ke arah Chanyeol. Merasakan setiap inci wajahnya yang hampir saja ia lupakan. Jari jarinya yang lentik itu menyusuri setiap bagian wajah Chanyeol, dari alis, kelopak mata, hidung, pipi hingga yang terakhir bibirnya.

Saat Baekhyun menyentuh bibir penuh milik lelaki di hadapannya, tiba-tiba bibir itu bergerak. "Sampai kapan kau mau mengagumi wajah pahatan dewa milikku?" tanyanya dengan nada yang penuh godaan.

Chanyeol mulai bergerak menggenggam tangan Baekhyun dan mencium tangan itu dengan lembut. Membuat air mata Baekhyun turun kembali. Melihat Baekhyun yang menangis, Chanyeol dengan panik beralih menghapus air mata lelaki itu. "Hei, apa kau kesakitan? Atau apa? Kenapa kau menangis?"

"Tidak, aku hanya—" Baekhyun tercekat sejenak, tak mungkin ia menceritakan kegelisahannya. Ia pun segera mengganti topik lainnya. Tubuhnya makin mendekat ke arah Chanyeol, wajahnya ia dekatkan dengan lelaki yang lebih tinggi kurang dari lima inci. "Aku hanya ingin menciummu," setelah mengatakan itu, Baekhyun memberikan kecupan hangat di bibir Chanyeol.

Chanyeol terkejut sejenak, kemudian ia membalas Baekhyun dengan menghujani pria mungil itu dengan ribuan ciuman darinya. "Kenapa tidak bilang dari tadi? Jika tahu kau mau, aku akan melakukannya."

"Melakukan apa?" Tanya Baekhyun dengan wajah yang ia buat sepolos mungkin.

"Tentu saja ini," Chanyeol menangkup pipi Baekhyun dan membawa wajahnya mendekat perlahan ke bibirnya. Ciuman panas pun hadir di antara mereka. Baekhyun merasakan dengan jelas bibir milik Chanyeol bergerak di depan bibirnya. Seolah meledakkan rasa rindu di hatinya yang ia simpan hampir 3 tahun ini.

Hampir dua menit lamanya mereka berciuman. Chanyeol berniat untuk melepaskannya karena nafasnya sudah terengah. Namun, tepat saat Chanyeol melepasnya, Baekhyun menarik tengkuk Chanyeol lagi dan menciumnya dengan panas.

Benar, ledakkan kerinduan dari dalam hati Baekhyun untuk pria ini sudah tak terbendung lagi. Pada sela-sela ciuman mereka, Baekhyun membawa tangan Chanyeol ke arah dadanya. Berharap lelaki itu mau melanjutkan senyumannya lebih jauh.

Melihat gerak-gerik Baekhyun yang secara implisit ingin membawa sentuhan itu lebih jauh, membuat Chanyeol mulai mengubah posisi mereka dari yang sebelumnya saling bersebelahan dengan posisi duduk dan Baekhyun berada di pangkuannya. "Jangan menyesal jika aku akan memakanmu malam ini," bisik Chanyeol di telinga Baekhyun yang kemudian dilanjutkan dengan melahap leher putih milik lelaki yang lebih mungil itu.

Secara kasar, Chanyeol membuka piyama yang Baekhyun kenakan hingga beberapa kancingnya lepas. Ia letakkan Baekhyun secara perlahan di bawahnya. Kemudian, bibirnya pun menyusuri lapisan kulit Baekhyun dengan perlahan yang membuat Baekhyun menggeram penuh kenikmatan dan menjambak rambut Chanyeol dengan jarinya yang lentik.

Bibir Chanyeol sampai di puting Baekhyun dan mulai mengecup dan menggigitnya dengan lembut. Membuat Baekhyun mulai mendesah penuh kenikmatan saat lidah Chanyeol menyentuhnya dan menghisapnya secara sensual. Ruangan yang semula kosong dan sepi itu sangat terasa panas saat ini.

Semakin lama, bibir Chanyeol pun bergerak ke arah bagian bawah Baekhyun. Melepaskan celana yang dipakai Baekhyun dengan cepat kemudian menciumi pinggang ramping miliknya. Bibirnya kemudian mendekat ke arah penis milik sang lelaki yang lebih mungil. Mengecupnya pelan dan kemudian melahapnya.

Baekhyun yang dari tadi menahan desahannya, kini mulai mengerang penuh kenikmatan. Jarinya kembali menarik rambut Chanyeol saat lelaki itu mulai memberikan sentuhan sensual di lubang anal miliknya. Lidahnya dengan sensual mengecap bagian itu dan membasahinya sebagai pengganti lube yang lupa ia siapkan sebelumnya. Seketika, gelapnya malam dipenuhi dengan desahan Baekhyun yang tanpa henti.

Belum sempat Baekhyun mencapai titik kenikmatannya, Chanyeol berhenti. Ia kemudian melepaskan kaos yang ia pakai hingga menunjukkan bagian dadanya yang terlihat kekar. Ia juga menurunkan zipper celana jeansnya dan mengeluarkan penisnya yang terlihat sudah tegang sedari tadi karena terlihat cairan precum di sana.

Baekhyun terkesima, jari-jarinya yang indah itu mengarah memegang penis besar dan berurat milik lelaki yang lebih besar dan menatap Chanyeol dengan tatapan sangat menggoda, "I want this buddy," bisik Baekhyun lirih yang membuat Chanyeol semakin ingin memasukkan miliknya ke dalam lubang Baekhyun.

Perlahan tapi pasti, penis itu masuk dengan pas ke dalam lubang itu. Memberikan sensasi luar biasa bagi Baekhyun, sakit namun terasa nikmat. Terutama saat lelaki yang lebih besar mulai bergerak dan menenggelamkan makin dalam penis itu ke dalam tubuh Baekhyun hingga mencapai prostat miliknya. Tubuh dari dua insan itu menyatu hingga membuat keduanya mencapai titik kenikmatan yang tak terelakkan.

Kepuasan bersenggama itu ada. Chanyeol pun membaringkan dirinya di samping Baekhyun, lalu tanpa ragu menarik lelaki yang lebih kecil itu ke dalam pelukannya. Keheningan yang hangat menyelimuti mereka, tetapi dalam kehangatan itu, ada ketakutan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Chanyeol mengusap punggung Baekhyun dengan lembut, lalu berbisik pelan, suaranya penuh kasih, "Aku tahu kau lelah... tidurlah."

Namun, Baekhyun menggeleng perlahan. Suaranya hampir tak terdengar saat ia berkata, "Bagaimana jika... esok hari kau pergi?"

Chanyeol terdiam, mengerutkan kening, bingung dengan pertanyaan yang begitu tiba-tiba. "Pergi? Ke mana? Bukankah kau bilang tahun ini, setelah kau kembali dari Seoul, kita akan meresmikan pernikahan kita?" katanya dengan nada bercanda, meski hatinya mulai resah. Baekhyun bertingkah tak seperti biasanya bagi Chanyeol.

Tapi kali ini, mata Baekhyun memanas. Air matanya kembali jatuh, deras tanpa henti. Ia menutupi wajahnya dengan tangan, berusaha keras untuk menahan suara tangisannya, namun usahanya sia-sia. "Bagaimana... jika pernikahan itu tak pernah ada?" bisiknya lirih, suaranya bergetar di antara isakan.

Chanyeol menatapnya dengan kaget. Kebingungan memenuhi wajahnya, ketakutan mulai menjalari pikirannya. "Maksudmu? Kau akan meninggalkanku?" tanyanya dengan nada penuh rasa sakit. "Ya! Byun Baekhyun! Apa yang kau bicarakan? Apa kau menemukan orang lain di Seoul?"

Baekhyun menggeleng lemah. Perlahan, ia menurunkan tangannya, memperlihatkan wajah yang basah oleh air mata. Tatapannya begitu dalam, begitu putus asa, seakan-akan ia sedang mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya. "Bagaimana jika... kau meninggalkanku?" suaranya pecah, dan tangisnya kembali memuncak. "Bagaimana jika kau pergi... meninggalkan dunia ini?"

Kata-kata itu menghantam Chanyeol seperti badai. Ia mematung, tak mampu berkata apa-apa. Tapi melihat Baekhyun yang menangis begitu hancur, tubuhnya bergerak dengan sendirinya. Ia memeluk Baekhyun lebih erat, lebih hangat, seakan-akan ingin memastikan lelaki itu tidak akan pernah merasa dingin lagi. Dengan lembut, ia menunduk, mencium kening Baekhyun, membiarkan bibirnya menempel di sana lebih lama dari biasanya, seolah ingin menyampaikan seluruh perasaannya lewat kehangatan itu.

Namun, tangisan Baekhyun tidak kunjung mereda. Chanyeol menutup matanya sejenak, mengumpulkan seluruh kekuatan yang ia miliki, lalu berbisik di telinga Baekhyun dengan suara yang begitu lembut, nyaris seperti doa, "Kalau kau setakut itu aku akan hilang... dengarkan aku baik-baik. Aku tidak hanya ada di depan matamu. Aku ada di hatimu, Baekhyun." Ia menggerakkan tangannya, perlahan meletakkannya di dada Baekhyun. "Aku ada di sini. Bahkan jika suatu hari kau lupa seperti apa wajahku, atau bagaimana suaraku terdengar, aku tetap ada di dalam hatimu."

Baekhyun mengangkat wajahnya, matanya yang sembab menatap Chanyeol dengan penuh keraguan. "Bagaimana aku bisa tahu kau ada di sana? Bagaimana aku bisa merasakannya?" tanyanya dengan suara yang nyaris patah.

Chanyeol tersenyum kecil, senyuman yang menyakitkan, tapi penuh keikhlasan. "Kau akan tahu karena hatimu akan merasa hangat, akan merasa bahagia. Aku ingin kau mengingatku sebagai seseorang yang membawa kebahagiaan, bukan luka. Jika aku tak lagi ada di sisimu, Baekhyun, maka berbahagialah. Karena kebahagiaanmu adalah bukti bahwa aku masih hidup di dalam hatimu."

Air mata Baekhyun mengalir lebih deras. Tangisannya menjadi lebih sunyi, tetapi setiap isakannya memecahkan hati Chanyeol. Chanyeol menyentuh pipi Baekhyun, ibu jarinya menghapus air mata yang tak henti-hentinya jatuh. "Aku ingin kehadiranku jadi alasan kau tersenyum, bukan menangis. Dan kalau suatu hari aku pergi... berjanjilah padaku, kau akan hidup dengan bahagia."

Kata-kata itu membuat Baekhyun tak mampu lagi berkata-kata. Ia hanya menatap Chanyeol dengan penuh perasaan yang bercampur aduk. Lalu Chanyeol mendekatkan wajahnya, menyandarkan dahinya pada dahi Baekhyun, dan berbisik sekali lagi, "Aku mencintaimu kapan pun, di mana pun. Bahkan saat dunia memisahkan kita."

Kata-kata itu seperti mantra. Perlahan, tangisan Baekhyun mereda. Dadanya masih terasa sesak, tetapi ada sesuatu yang hangat menyelimuti hatinya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, ia merasa beban yang menghimpitnya mulai menghilang. Ia membiarkan matanya terpejam, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan Chanyeol, hingga akhirnya ia jatuh tertidur dengan napas yang tenang.

Dan malam itu, di antara dinginnya salju, kehangatan cinta Chanyeol menjadi satu-satunya yang menjaga Baekhyun tetap utuh.

.

.

.

Pagi itu, mata Baekhyun perlahan terbuka. Cahaya matahari musim dingin yang lembut menembus tirai, menyinari kamar yang terasa begitu akrab, namun dingin. Ia menatap langit-langit dengan tatapan kosong, lalu memutar tubuhnya ke sisi ranjang. Kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya lipatan seprai yang rapi dan dingin.

Ia menatap dirinya sendiri. Piyama hangat yang membalut tubuhnya terasa aneh. Semalam, Baekhyun tahu pasti ia tidak mengenakan sehelai pun pakaian. Ingatan samar-samar tentang pelukan hangat dan suara yang penuh cinta mengusik pikirannya. Namun kini, kenyataan menyergapnya dengan keheningan yang menusuk.

Saat itu juga, ia menyadari semuanya hanyalah mimpi.

Mimpi pertama setelah tiga tahun penuh kehampaan. Tiga tahun sejak Chanyeol pergi—hilang tanpa jejak dalam kecelakaan pesawat. Pesawat yang seharusnya membawanya kembali ke Korea, membawa kabar baik setelah ia menyelesaikan semua dokumen pernikahan mereka di Amerika. Namun yang kembali hanyalah berita duka, tanpa jasad, tanpa kesempatan terakhir untuk berpamitan.

Baekhyun terdiam di tempatnya, menatap figura foto yang terpajang di meja kecil di samping ranjang. Foto itu menangkap momen kebahagiaan mereka—senyuman Chanyeol yang cerah di sisinya, tangan mereka saling menggenggam seolah tak ada yang bisa memisahkan mereka. Tapi nyatanya, dunia punya cara lain untuk memisahkan cinta mereka.

Ia berdiri mendekati dan meraih foto itu dengan tangan bergetar, menatapnya dalam keheningan yang panjang. Lalu, tanpa sadar, tangannya bergerak menyentuh dadanya. Ada sesuatu yang hangat dan asing, seolah-olah suara Chanyeol yang ia dengar dalam mimpi masih bergema di dalamnya. Dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia berbisik, "Apa kau benar ada di sini, Park Chanyeol? Di hatiku?"

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyelimuti dirinya. Namun, perlahan, sebuah senyuman kecil muncul di wajahnya, pertama kali setelah bertahun-tahun lamanya. "Aku mengerti sekarang," katanya lirih. "Kau ingin aku berbahagia. Kau ingin aku mengingatmu sebagai kenangan terindah, bukan luka."

Ia mengembuskan napas panjang, seolah-olah melepaskan beban yang telah lama menghimpit hatinya. Lalu, dengan langkah mantap, ia beranjak dari tempat tidur. Ia membuka kopernya dan meraih ponselnya, menekan nama yang sudah begitu akrab baginya.

"Kyungsoo," katanya, suaranya terdengar lebih hidup dari sebelumnya. "Antar aku ke stasiun nanti siang."

"Apa?" Kyungsoo di seberang telepon terdengar bingung. "Secepat itu? Kau baru semalam menginap di sana."

Baekhyun tersenyum kecil, meski Kyungsoo tidak bisa melihatnya. "Tapi aku sudah mendapatkan apa yang kucari," jawabnya dengan tenang. "Chanyeol sudah memberiku jawaban. Dia ingin aku melanjutkan hidup... dan berbahagia."

Kyungsoo terdiam sesaat, sebelum akhirnya menjawab, "Baiklah. Aku akan menjemputmu nanti."

Setelah panggilan berakhir, Baekhyun kembali menatap foto di tangannya. Kali ini, tatapannya penuh dengan kehangatan. Ia menyentuh wajah Chanyeol dalam foto itu dengan lembut, seolah sedang berpamitan untuk terakhir kalinya.

"Terima kasih, Chanyeol," bisiknya, "karena tetap bersamaku, meski hanya dalam kenangan. Aku akan bahagia... untuk kita berdua."

Dan saat Baekhyun melangkah keluar kamar itu, ada cahaya baru dalam dirinya—sebuah keikhlasan yang perlahan mengisi hatinya, membawa cinta Chanyeol yang abadi bersamanya.

.

.

.

END

Hi, guys! Long time no see wkwkwk

Akhirnya aku nulis lagi setelah gak nulis fanfiksi bertahun-tahun lamanya. Kalau boleh jujur, cerita ini aku persembahin buat Kaz yang udah encourage aku buat nulis lagi wkwk aku gak nyangka, ada yang nungguin aku nulis Chanbaek lagi. Makasih banyak ya, Kaz :))

Maaf banget dateng-dateng langsung bawa angst. Sumpah, ide cerita tuh banyak tapi yang sampai akhir jarang banget. Jadi, hope u like it ya, guys!

Aku gak tahu kapan lagi aku bakalan update, tapi aku tetap ada di kapal Chanbaek ini, walau dunia memisahkan mereka eak /j