"Kau adalah pahlawan

dalam ceritamu sendiri,

meski sekarang ceritanya baru dimulai."

~Unknown~

~•~

Saat pertama kali tersadar, yang di rasakannya adalah gesekan antara kain lembut yang membukus tubuhnya. Selama beberapa saat, ia terbuai kenyamanan tempat tidur. Seperti memeluk kenangan samar yang terasa familiar. Namun, perasaan itu segera tergantikan oleh rasa sakit yang menghantam tubuhnya saat ia merubah posisinya.

Refleks, matanya mencoba terbuka. Tetapi cahaya terang menyilaukan indra penglihatannya, secepat mungkin menutupnya kembali sembari membiarkan tangannya mengusap kelopak matanya secara autopilot.

Kemudian, ia juga menyadari ada sesuatu yang menusuk lembut kulit tangannya. Perlahan, ia membuka matanya. Disambut oleh pemandangan langit-langit putih bersih dan asing.

Tatapannya turun ke tangan yang terasa aneh tadi. Sebuah jarum infus terpasang di pembuluh nadi, dihubungkan ke kantung cairan yang menggantung tak jauh dari tempat tidurnya. Ia mengernyit, mencoba memahami situasinya. Jemarinya perlahan menyentuh wajah, namun pergerakannya terhalang oleh sesuatu yang menutup hidung dan mulutnya. Masker oksigen? Pikirannya bekerja keras mengolah informasi, ingatannya sangat-sangat kabur dan yang diingatnya hanyalah ... tunggu, kenapa dia tidak ingat apa yang terjadi?

Dengan kesadaran penuh, ia segera memposisikan dirinya,(baca: mencoba) duduk dan segera menyesalinya karena sekujur tubuhnya berdenyut sakit.

Tanpa sadar meringis dengan sedikit perjuangan, ia berhasil setengah duduk, punggung bersandar pada bantal, sambil melepas masker oksigen dengan kasar.

Ia memaksakan napasnya agar teratur, lalu mulai mengamati ruangan di sekitarnya. Masker oksigen tergeletak di samping, diabaikan begitu saja.

Masker oksigen, infus, ruangan putih, bau disinfektan, apa lagi ... agh! Apa lagi! Hm ...

Ia memperhatikan monitor jantung di sudut ruangan, menyuarakan bunyi 'bip bip' monoton.

Mo .. monitor jantung? bau obat-obatan yang membuatku ingin muntah ... rumah sakit ...?

"Rumah ... sakit, ya?" gumamnya nyaris tak terdengar.

Ia menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya. Pikiran tentang bagaimana ia bisa sampai di sini terus menghantui, tetapi yang lebih mengganggu adalah pertanyaan lain yang mendadak muncul di kepalanya. Siapa aku?

Lamunannya terhenti ketika suara pintu berderit pelan. Pandangannya beralih ke arah dua sosok yang masuk ke dalam ruangan. Seorang wanita paruh baya dengan rambut hitam yang diikat kuncir kuda mengenakan jas putih, sementara di sampingnya, seorang wanita lebih muda dengan rambut pirang sebahu dan kacamata merah muda berbalut seragam perawat

Mereka sedang berbicara pelan, tetapi suara mereka cukup samar untuk membuatnya bingung. Saat pandangan mereka bertemu, langkah keduanya terhenti. Si perawat tampak terkejut sejenak sebelum tersenyum ramah

"Ah, kau sudah bangun," ujar wanita berjubah putih itu. Suaranya lembut dan menenangkan, seperti suara ibu yang berbicara kepada anaknya. "Aku Dokter Yazuki, senang melihatmu bangun. Bagaimana rasanya sekarang?"

Nada lembutnya meredakan sedikit ketegangan yang dirasakan remaja itu. Jika bukan karena suara menenangkan wanita itu remaja itu mungkin tidak akan menjawab, apalagi karena bahasa yang digunakan wanita itu terdengar asing baginya. Jadi, dengan keberanian yang ia kumpulkan, remaja itu menjawab dengan hati-hati.

"Maaf ... saya ... tidak mengerti," jawab remaja itu dalam bahasa Melayu.

Ruangan mendadak hening. Pandangan si dokter dan perawat bertemu, sebelum Dokter Yazuki tersenyum kecil.

"Oh, tidak apa-apa, Nak. Kebetulan aku bisa memahami bahasamu. Kau ingin bicara sesuatu?" balas sang dokter dengan bahasa yang sama.

Remaja itu terkejut. Ia tidak menyangka wanita itu akan memahami bahasanya. Ia terdiam beberapa saat sebelum berbicara

"Kalau begitu, aku baik-baik saja, dokter," jawabnya.

Percakapan singkat pun terjadi, dimulai dari pertanyaan sederhana seperti rasa sakit yang dirasakan hingga bagaimana ia tidur. Ketegangan yang tadi terasa berat mulai mencair perlahan seiring percakapan berlangsung

~•~

Saat pernyataan terakhir ditanyakan, Dokter Yazuki meninjau jawaban remaja itu dengan saksama, lalu menghela napas pelan.

Melihat reaksi sang dokter, remaja itu penasaran, ia bertanya dengan nada hati-hati.

"Ada apa dokter?" tanya remaja itu dengan nada cemas.

"Nak, aku hanya ingin bertanya satu hal lagi ... apa kau masih ingat namamu?" tanya dokter itu dengan hati-hati, seolah takut menyakiti perasaan lawan bicaranya.

"Remaja itu tertegun. Matanya membelalak kecil, seolah-olah pertanyaan itu menamparnya. "Nama?" gumamnya pelan.

Kata 'nama' berulang-ulang bergema dalam pikirannya, menyisakan kekosongan.

Tiba-tiba ia tersentak dan langsung memegang kepalanya tangannya reflek memegangi kepala yang dibalut perban. Rasa nyeri menusuk membuatnya meringis dan melontarkan teriakan kecil.

Melihat reaksi itu, sang dokter segera menghentikan mencoba mencegahnya memaksa ingat lebih jauh.

"Nak, jangan dipaksa. Lepaskan tanganmu dulu... Nah, begitu," ujar dokter itu sambil dengan lembut menurunkan tangannya dari kepala remaja itu."

Melihat remaja itu yang sudah tenang, sang dokter mengehela napas.

Keheningan itu tak berlangsung lama sebelum remaja itu, dengan suara lemah, akhirnya berbicara.

"Sepertinya ... aku tidak ingat namaku, dokter ...," ucap remaja itu.

~•~

Catatan:

Kurevisi lagi. Mungkin nanti bakal direvisi ulang.