"Hidup bukan soal apa

yang hilang, tapi bagaimana kita

bertahan dengan apa yang tersisa."

~Unknown~

~•~

08:00 Pagi - RS Musutafu

Lorong rumah sakit sunyi, hanya dipecahkan oleh langkah terburu-buru para perawat atau derit roda tempat tidur. Aroma desinfektan tajam memenuhi udara, menambah dinginnya suasana. Di salah satu sudut ruang tunggu, Aizawa Shota duduk dengan kepala bersandar di dinding, setengah terpejam.

Matanya terlihat lelah, dengan lingkaran hitam yang jelas menandakan kurang tidur. Di pangkuannya, sebuah map dokumen penuh laporan dan foto-foto kasus terbaru. Di sebelahnya, Detektif Tsukauchi memegang secangkir kopi, mengaduk perlahan mesi sudah dingin sejak tadi.

"Aku tidak ingat kapan terakhir kali kau tidur dengan benar, Eraser," kata Tsukauchi, menyeruput kopinya.

Aizawa hanya mendengus. "Patroli semalam memakan waktu lebih lama dari yang kuduga."

Dia teringat pertemuan awal mereka dengan remaja itu. Di tengah jalan raya gelap, tubuh anak tersebut tergeletak tanpa daya, pakaiannya kotor dan berlumuran darah. Tak ada identitas, tak ada jejak keluarga-hanya luka yang membekas di tubuhnya. Mereka berusaha sebisa mungkin mencari informasi yang berguna untuk mengidentifikasi identitas anak itu. Tapi sampai sekarang, penyelidikan masih belum membuahkan hasil yang semakin kecil kemungkinannya untuk menemukan keluarga anak itu.

Setelah diberitahu bahwa anak itu telah sadar. Aizawa menahan kantuk dan segera berangkat ke rumah sakit, berharap mendapat informasi yang bisa membuka tabir kasus ini. Ia mampir sebentar ke kantor polisi sebelum datang bersama dengan Detektif Tsukauchi ke rumah sakit.

Berkas yang di bawanya berisikan informasi yang di dapat tim Detektif Tsukauchi yang juga menangani kasusnya.

Beberapa hal masih belum diketahui jadi ia masih menunggu hasil penyelidikan mereka. Saat tiba di pintu ruang pasien bernomor 412, pintu terbuka. Keluarlah dokter dan perawat yang menurut Aizawa menangani remaja itu.

Saat pandangan mereka bertemu, sang dokter kemudian menyapanya.

"Oh, kalian pasti Pahlawan Profesional Eraser Head dan Detektif Tsukauchi," sapanya ramah.

"Benar," jawab Tsukauchi singkat. "Bagaimana keadaan anak itu, Dokter?"

"Keadaannya sudah membaik. Dia bisa menerima tamu sekarang. Apakah Anda ingin menanyakan sesuatu, Eraserhead-san, Detektif-san?" tanya dokter itu sebelum melanjutkan, " Namun, saya perlu memperingatkan, kondisinya cukup rumit. Dia kehilangan ingatan, dan dari pemeriksaan awal, kemungkinan besar bersifat permanen."

Aizawa mengerutkan kening. "Amnesia total?"

Dokter mengangguk. "Iya. Sebisa mungkin, jangan terlalu memaksanya mengingat sesuatu. Saya menyarankan pendekatan yang lebih lembut."

Setelah beberapa saat, mereka masuk ke kamar pasien.

~•~

Seorang remaja duduk di ranjang rumah sakit, jari-jarinya perlahan memainkan selang infus yang menusuk tangannya. Matanya kosong, tapi ada getaran samar di jemarinya, seolah pikirannya berusaha mencari pegangan di tengah kekacauan.

Tak lama, ia tersadar dari lamunannya, saat pintu kembali terbuka bersama dengan kedatangan orang baru. Dia adalah seorang pria berambut hitam panjang, syal di lehernya dan memakai pakaian hitam dan berwajah lelah. Bersama dengan seorang pria dengan dokter Yazuki berjalan kearahnya.

"Nak, aku membawa seseorang untuk bertemu denganmu," ucapnya.

Remaja itu memiringkan kepalanya, bingung. "Siapa, Dokter?"

"Kau mungkin memiliki pertanyaan tentang keadaanmu sekarang, 'kan?" tanya sang dokter lagi dan remaja itu mengangguk.

Kemudian pria itu mendekat dan sang dokter mulai memperkenalkan dirinya. "Nak, perkenalkan, yang di belakangku ini adalah seorang Pahlawan Profesional, Eraser Head. Dan ini adalah Detektif Tsukauchi Naomasa dari kepolisian. Mereka di sini, akan menanyakan beberapa hal kepadamu, jika kau siap?"

Remaja itu menatap keduanya sejenak sebelum mengangguk pelan."Ya, tidak apa-apa," jawab remaja itu.

Dokter berdeham sebelum berkata, "Jika aku menawarkan diri sebagai penerjemah percakapan kita mungkin akan memakan waktu terlalu lama, jadi aku akan menggunakan Quirk-ku saja, apa boleh Detektif-san?"

"Ya, boleh," jawab Detektif Tsukauchi.

"Oke, tunggu sebentar," balasnya.

Setelah itu, sang dokter menyatukan kedua telapak tangannya dan cahaya hijau keluar dari sana tapi tidak membutakan yang lain dan menyebar ke seluruh ruangan sebelum meredup.

"Oke, jadi bagaimana semuanya, apa berhasil?" tanya sang dokter memastikan.

Anggukan serempak menjawab.

Remaja itu, tidak bisa menahan diri untuk tidak takjub dengan hasilnya. Dia mengerti apa yang dikatakan orang-orang di depannya seolah-olah bahasa itu adalah bahasa ibunya. Sang dokter menjelaskan bahwa Quirk-nya bisa membuat orang lain mengerti bahasa apapun dengan efek sampingnya membuatnya mampu memahami bahasa lain lebih cepat hanya dengan mendengarnya pertama kali.

Dokter Yazuki, mencoba menjelaskan sesuatu terlebih dahulu. "Seperti yang saya katakan sebelumnya, anak ini mengalami amnesia total. Saya sarankan untuk tidak memaksanya mengingat apa pun. Semua harus dilakukan secara perlahan."

Aizawa melirik ke arah Tsukauchi, seolah meminta isyarat untuk melanjutkan. Setelah detektif itu mengangguk, dia mulai berbicara.

Remaja itu hanya melamun, sampai dikejutkan dengan pernyataan sang detektif.

"Baiklah, Nak. Kami akan menanyakan beberapa pertanyaan kepadamu, oke?"

"Oke," jawab remaja itu.

"Kami hanya ingin tahu," kata Tsukauchi, memulai dengan hati-hati, "apakah kau ingat sesuatu-apa pun. Nama, tempat, atau bahkan perasaan tertentu?"

Remaja itu menunduk, berpikir keras, sebelum menggeleng. "Tidak."

"Bagaimana dengan keluargamu? Apa kau ingat salah satu dari mereka, siapa saja, mungkin teman-temanmu sebelumnya?"

Butuh beberapa detik untuk menjawab itu, "Tidak, Pak," jawabnya.

"Bagaimana dengan Quirk, apa kau tahu apa Quirk-mu?"

Remaja itu tampak bingung. "Aku bahkan tidak tahu apa itu Quirk."

Dokter Yazuki menawarkan diri untuk menjawab pertanyaan itu. "Quirk adalah kekuatan bawaan yang muncul saat seseorang berusia 4 tahun, misalnya Quirk seperti milikku, Nak," jelas sang dokter.

"Oh ... begitu, ya," jawab remaja itu. Remaja itu berpikir beberapa saat. "Maaf tapi aku juga tidak tahu apa Quirk-ku."

Semua jawaban hanya berujung pada satu hal: "Tidak." Ruangan terasa berat dengan keheningan. Remaja itu tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa cemas dengan reaksi yang didapatkan. Ia merasa telah salah bicara tapi ketakutan itu segera sirna saat melihat sang dokter tersenyum menyakinkan seolah-olah ia tahu kekhawatiran remaja itu.

Keheningan mendominasi ruangan sampai remaja itu memberanikan diri untuk bertanya karena Detektif Tsukauchi sepertinya masih belum bertanya hal lain.

"Detektif-san?" panggilnya yang membuat sang detektif mendongak memberi perhatian penuh.

"Ya, ada apa, Nak?" tanyanya.

"Um ... aku ingin ... bertanya. Hal ini membuatku penasaran, bagaimana ... aku bisa ... berakhir di sini?" tanya remaja itu.

Dokter dan Detektif bertukar pandang selama beberapa saat sebelum memberi isyarat pada sang pahlawan untuk menjelaskan.

Melihat isyarat itu sang pahlawan yang tadinya halnya menonton maju dan memperkenalkan diri. "Kau mungkin sudah tahu namaku dari dokter, tapi aku akan memperkenalkan diri. Aku adalah seorang Pahlawan Profesional. Nama pahlawanku Eraser Head. Akulah yang menemukanmu pertama kali. Saat aku berpatroli, aku menemukanmu di tengah jalan dengan kondisi yang memprihatinkan, jadi aku menelepon ambulans dan membawamu kerumah sakit," jelas sang pahlawan.

Sebagai tanggapan remaja itu hanya mengangguk mengerti.

~•~

Setelah berpamitan dan kedua orang dewasa itu meninggalkan kamarnya, Dokter Yazuki kembali berbicara.

"Bagaimana perasaanmu, Nak? Tadi kau terlihat tegang sekali."

"Jujur saja, itu benar-benar menegangkan."

"Yah, setelah interogasi ini, kau mungkin memerlukan istirahat sebentar, aku akan kembali lagi untuk melakukan beberapa tes padamu, oke Shounen-kun?"

"Shounen-kun?" ulang remaja itu sambil memiringkan kepalanya.

"Hm ..., itu dalam Bahasa Jepang artinya anak muda, karena kau tidak mengingat namamu aku akan memanggilmu seperti itu untuk saat ini, apa tidak apa-apa?" tanyanya dan dijawab dengan anggukan setuju.

"Tidak apa-apa."

"Oke, kalau begitu silakan istirahat, sayang dan aku akan kembali setelah beberapa jam," kata sang dokter sambil merebahkan anak itu.

Remaja itu menutup matanya dan membiarkan dirinya hanyut dalam kantuk. Sedangkan dokter Yazuki segera keluar setelah menyelimuti remaja itu membiarkannya tertidur.

~•~

10:00 Pagi - RS Musutafu

Beberapa jam kemudian dokter Yazuki kembali seperti yang di janjikan dan mulai melakukan beberapa tes kepadanya. Seperti mentes seberapa jauh pengetahuan yang ia mengerti. Dan sejauh ini, cukup baik.

Saat ditanya, remaja itu juga tidak ingat apapun dari masa SMP. Dokter Yazuki juga melakukan tes rontgen pada kakinya untuk mengetahui apakah dia memang memiliki Quirk atau tidak. Dan yang mengejutkan itu memang ada. Dokter tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap hasil itu sebelum mendesah lelah.

Remaja itu, yang bingung dengan reaksinya bertanya dengan waspada, "Ada apa dokter?"

"Shounen-kun ... maafkan aku, mungkin ini adalah berita buruk untukmu ...," ucap sang dokter.

"Ada apa?" tanyanya.

Dokter menyerahkan hasil rotgen itu, remaja itu menatap kertas itu masih dengan bingung mewarnai raut wajahnya.

"Memangnya ... ada apa dokter? Aku mempunyai sendi jari kaki tambahan, apa itu berita buruknya?" tanya remaja itu.

"Yah ... itu tergantung kau menanggapinya, Nak."

Dokter Yazuki, kembali duduk di bangku kerjanya sambil merenung menatap remaja yang duduk manis di ranjang itu.

'Yah ... itu masuk akal, dia pada dasarnya menderita amnesia, tentu saja dia tidak tahu tentang nasib anak-anak Quirkless di dunia ini, ngomong-ngomong tentang statistik, semakin kupikirkan semakin kesal aku jadinya, kasihan sekali anak itu,' batin sang dokter.

'Ya Tuhan aku tidak suka ini!'

Dokter Yazuki menenangkan diri dengan melakukan tarikan napas sebelum kembali berbicara pada anak yang masih memandang kertas itu dengan kebingungan.

Ia berdiri dan menjajarkan dirinya dengan remaja itu.

"Shounen-kun, ada ... sesuatu yang ingin ku beritahu padamu," katanya.

Perhatian remaja itu sepenuhnya tertuju padanya. Melihat perhatian penuh yang diberikan sang dokter melanjutkan.

"Di dunia ini, 80 % penduduknya memiliki Quirk yang terwujud pada usia 4 tahun."

"Ya, kau pernah menjelaskannya padaku, 'kan dokter tentang Quirk-mu?"

Dokter mengangguk, "Yah, contoh sederhana seperti milikku, ada juga Quirk seperti Eraser Head yang bisa menghapus Quirk orang lain dan Detektif Tsukauchi yang memiliki Quirk Detektor Kebohongan."

"Kau lihat, cara umum untuk mengetahui seseorang memiliki Quirk atau tidak adalah memeriksa apakah mereka mempunyai sendi jari kaki tambahan atau tidak, dan di sini, kau memilikinya. Tapi ... yah itu masih diperdebatkan sebenarnya, jadi kita belum tahu pasti."

"Aku mengerti. Jadi ... bagaimana dengan sisanya, yang tidak memiliki Quirk?" tanya remaja itu.

"Itulah yang ingin aku bicarakan, Shounen-kun. Di luar sana, orang-orang Quirkless tidak diperlakukan baik dimasyarakat kita," jelasnya.

"Kebanyakan dari mereka di tindas, dikucilkan dan lebih buruk lagi ... bunuh diri," jelas sang dokter hingga kau bisa melihat ia menatap kosong saat menggumamkan bagian terakhir.

Penjelasan terakhir itu mengejutkan remaja itu.

"Apakah ... seburuk itu?"

"Dan ya, jadi aku harap ... kau tetap kuat, oke? Jika ada yang mengatakan apapun padamu, abaikan saja mereka. Aku minta maaf jika aku tidak bisa melakukan apapun untuk itu jika sesuatu terjadi ..."

Sang dokter mulai terisak, remaja itu segera menggenggam tangan sang dokter hingga membuat sang dokter tersadar.

"Kenapa kau memberitahuku semua ini, dokter?"

"Tidak apa-apa, aku hanya teringat dengan mendiang putraku, dia anak baik dan manis, semua orang menyukainya, sayangnya karena tidak memiliki Quirk, dia dijauhi semua orang. Teman-temannya menindasnya saat mengetahui statusnya yang seorang Quirkless hingga suatu hari dia tidak tahan dengan semua itu dan memilih mengakhiri hidupnya."

Sang dokter bahkan tidak sadar ia sudah berada di perlukan remaja itu. Remaja itu mengusap-usap punggung sang dokter sembari mendengarkan ceritanya dalam diam.

Saat tersadar, Dokter Yazuki mengusap air matanya dan memaksakan senyum. "Maaf, Nak. Aku tidak seharusnya membebanimu dengan cerita ini." Tapi remaja itu menggeleng. "Tidak apa-apa, Dok. Aku senang kau mempercayaiku.

Aku memang tidak tahu apa-apa tentang dunia ini, katanya pelan. "Tapi aku berjanji padamu, bahwa aku akan bertahan." Dia tersenyum.

"Semoga berhasil, Shounen-kun."

Setelah itu, seolah-olah tidak terjadi apa-apa beberapa saat lalu, sang dokter tersenyum, terlalu lebar untuk bisa dipercaya, atau mungkin itu hanya aktingnya. Mereka segera melanjutkan tes yang tertunda selama sesi curhatan.

Saat dites, yang mengejutkan, ternyata remaja itu fasih berbahasa Inggris, sampai-sampai dokter mengira itu adalah bahasa ibunya tapi segera dibantah oleh remaja itu.

Setelah semua tes di lakukan. Dokter minta diri untuk pergi karena harus mengurus sesuatu yang berhubungan dengan remaja itu. Remaja itu hanya mengiyakan. Dan di sinilah ia. Sendirian dengan sinar matahari yang merembes di kaca jendela rumah sakit. Angin berhembus mengenai kulit remaja itu.

~•~

Sementara itu ...

Detektif Tsukauchi dan Eraser Head sedang berjalan dikoridor rumah sakit. Keduanya merenungnya hal berbeda satu sama lain. Detektif Tsukauchi sedang meninjau kembali berkas ditangannya.

Sedangkan Eraser Head sedang berpikir tentang sesuatu. 'Aku penasaran siapa anak itu. Bagaimana dia bisa berada dalam kondisi seperti itu? Dan juga penyebab amnesia itu terlihat mencurigakan bagiku, belum lagi dia terlihat lebih muda dari kelihatannya.'

"Jadi bagaimana Detektif Tsukauchi, apa ada informasi terbaru?" tanya Eraser Head.

"Tidak, ngomong-ngomong Dokter Yazuki memberitahuku beberapa hal. Oh dan anak itu juga bisa berbicara bahasa Inggris, jadi akan mudah berkomunikasi dengannya nanti." Kemudian Detektif Tsukauchi menyodorkan berkas yang dibaca beberapa saat lalu.

Dan Eraser Head, baca ini," ujarnya. Eraser Head yang tidak banyak tanya langsung membacanya bagian yang ditunjuk sang detektif itu.

Eraser Head mulai merasakan sakit kepala mulai muncul.

"Ini akan menjadi masalah, bukan?"

Catatan :

Oke, setelah berpikir berulang-ulang kali aku mempertimbangkan hal ini. Kurasa aku dengan enggannya akan membiarkan bab ini terbit dengan kekurangannya karena aku kehabisan ide untuk membuatnya lebih baik. Itu saja.