"Tidak apa-apa menjadi berbeda.

Dunia membutuhkan lebih

banyak orang yang berani

menjadi diri mereka sendiri."

~Unknown~

~•~

Jadi ... bagaimana menurutmu?" tanya Eraser Head.

Setelah mengunjungi remaja itu, keduanya yang kini sudah berada di depan rumah sakit sedang mendiskusikannya tentang ke mana anak itu akan tinggal segera setelah dipulangkan.

Detektif menghela napas. "Eraser, kau tahu bagaimana masyarakat memperlakukan Quirkless. Sistem pengasuhan tidak akan memberi anak itu tempat yang layak," kata Detektif Tsukauchi.

Aizawa terdiam. Tangan kirinya dimasukkan ke saku kostum pahlawannya, dia tahu apa yang di maksud sang detektif.

"Ditambah lagi, dia bahkan tidak tahu apa-apa tentang dunia tempatnya tinggal," tambahnya.

Sesaat hening, kemudian Detektif Tsukauchi menatap Eraser Head dan sebuah ide muncul dibenaknya. Ia segera menatap sang pahlawan dan Aizawa memandang Detektif itu dengan terheran-heran.

"Saranku begini saja. Bagaimana kalau kau saja yang merawat anak itu?" tanyanya. Dan sebelum ia bisa membantah sang detektif melanjutkan. "Lagipula, kau punya lisensi pengasuhan darurat, 'kan?" kata Tsukauchi dengan tegas namun tetap simpatik. Tatapannya lurus ke arah Aizawa, penuh keyakinan.

"Aku tahu aku memilikinya, tapi aku bahkan tidak tahu bagaimana merawat seorang anak apalagi ... remaja," bantah Aizawa.

"Kau meremehkan dirimu sendiri Eraser, bukankah kau seorang guru? Kalau kau bisa menangani kelas penuh anak bermasalah, satu anak tidak akan terlalu sulit."

Dengan memijit pelipisnya sudah merasakan ia tidak akan lepas dari ini.

'Yah ... aku juga tidak bisa menyangkanya.'

"Tsukauchi ..." Aizawa memijat pelipisnya. "Kau tidak akan memberiku pilihan lain, bukan?"

Tsukauchi menggeleng ringan sambil tersenyum kecil. "Dengar," lanjut Tsukauchi, "Aku akan mencari alternatif. Tapi jika tidak ada, kau yang terbaik untuk anak itu."

Aizawa terdiam, memandang jalanan di depan rumah sakit sambil merenung. Napasnya terdengar berat sebelum akhirnya bergumam, "Baiklah ... aku akan mencoba memikirkannya."

"Terima kasih, Eraser," balas Tsukauchi sambil menepuk pundaknya sebelum pergi.

~•~

Keesokan harinya ...

08.30 pagi – RS Musutafu

Di kamar pasien, remaja yang amnesia itu sedang membaca buku yang berjudul "Kosa Kata Bahasa Jepang-Inggris untuk Pemula". Dengan waktunya di ruma sakit, ia habiskan untuk mempelajar bahasa Jepang mulai dari dasar-dasarnya.

Dengan bosan ia meletakkan buku itu di meja kecil disampingnya yang disediakan rumah sakit untuk menaruh buku-buku itu. Ia menghela napas bosan sembari menatap langit biru cerah dibalik kaca jendela rumah sakit.

'Membosankan,' batinnya.

Ia mendengar suara klik pintu yang dibuka segera menoleh dan mendapati seorang pria berambut hitam yang dikenalnya. Kalau tidak salah namanya Eraser Head seingatnya. Wajahnya yang lelah dan kantung mata tebalnya membuat remaja itu khawatir dengan jadwal tidur pria itu. Pikiran itu segera sirna saat Eraser Head berbicara.

"Aku di minta Dokter yang merawatmu untuk memeriksamu siapa tahu kau butuh sesuatu," ujarnya. Suaranya yang berat dan netral namun lembut itu membuat remaja itu tidak takut berada didekat pria itu meskipun mereka hanya bertemu sekali waktu interogasinya kemarin lalu.

Lagipula, dialah yang menyelamatkan dan menemukannya. Ia tidak mungkin bersikap tidak sopan pada orang yang menyelamatkannya bukan?

"Hei, Nak, kau mendengarku?" panggil pria itu.

Remaja itu segera tergagap. "Tidak apa-apa, tidak ada yang kubutuhkan untuk saat ini."

Eraser Head hanya bersenandung.

Mereka berada dalam keheningan yang menenangkan hingga remaja itu meminta sesuatu.

"Tuan?" panggilnya. Pria itu yang dipanggil langsung menoleh memberi perhatian penuh dan itu memberi tanda bagi remaja itu untuk melanjutkan. "Bisakah aku jalan-jalan di taman rumah sakit sebentar?"

"Kau yakin ingin jalan-jalan ke taman?" tanya pria itu.

Si rambut cokelat mengangguk pelan. "Ya, hanya sebentar mencari angin segar," jawabnya.

Aizawa terdiam sesaat sebelum menghela napas. "Baiklah, beritahu aku jika kau ingin kembali."

"Terima kasih, Tuan."

Pria itu mengambil kursi roda yang ada dipojok dinding dan segera membawa kursi roda disamping ranjang dengan sedikit bantuan, remaja itu akhirnya di dudukkan di sana.

Di lorong rumah sakit ...

Suara langkah kaki bergema di lorong rumah sakit yang panjang. Staf dan orang-orang berlalu-lalang, membawa obrolan samar-samar yang bercampur dengan bunyi roda troli perawat. Udara di lorong terasa dingin, dipenuhi aroma tajam disinfektan yang khas.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan sesaat. Bisikan lirih dari beberapa perawat yang melintas menyusup ke telinganya.

"Mukosei," gumam salah satu dari mereka.

Hati remaja itu mencelos. Kata sederhana itu terasa seperti beban berat yang menekan dadanya. Ia menunduk, mencoba menjaga wajahnya tetap netral sambil memaksakan senyum. Tangannya mencengkeram buku di pangkuannya erat-erat, seolah itu adalah satu-satunya jangkar di tengah lautan emosinya.

"Jangan dengarkan mereka," suara berat Aizawa terdengar tenang dan mantap, memecah lamunannya.

Ia menoleh perlahan, mendapati tatapan penuh pengertian dari pria itu. Ia menggigit bibirnya, berusaha untuk tidak terlalu cemas. "Tapi ... mereka benar, bukan? Aku tidak seperti mereka."

Aizawa berhenti mendorong kursi roda, berlutut di depannya. Tatapan pria itu serius, langsung menusuk. "Tidak ada yang salah menjadi dirimu sendiri. Yang salah adalah mereka yang berpikir itu masalah."

Remaja itu tertegun, kata-kata Aizawa menyentuh sesuatu di dalam dirinya yang sulit dijelaskan. Dengan anggukan kecil, remaja itu memaksa dirinya fokus kembali, menatap ke depan saat mereka melewati pintu kaca saat Aizawa kembali mendorong kursi rodanya.

Ketika kursi roda berbelok menuju pintu kaca otomatis, suasana perlahan berubah. Angin pagi menyambutnya dengan lembut, menyapu ujung rambut cokelatnya yang tergerai. Aroma rumput basah dan bunga-bunga yang bermekaran memenuhi paru-parunya, membawa perasaan lega yang pelan-pelan menghapus ketegangan di bahunya. Meski jejak bisikan itu masih melekat di pikirannya, keindahan taman membuatnya merasa sedikit lebih ringan. Untuk sesaat, ia bisa menikmati dunia yang tampak lebih damai di bawah sinar matahari pagi.

"Aku akan meninggalkanmu di sini, apa kau baik-baik saja ditinggal sendirian?" tanya pria itu. Remaja itu hanya mengangguk sebagai balasan. Dan disinilah ia, sendirian di tengah-tengah taman. Ia segera menggerakkan kursi rodanya. Sejujurnya, ia agak penasaran bagaimana rasanya berjalan dirumput taman yang terlihat lembut itu. Ia sampai di kursi taman dengan pohon besar di sampingnya.

Ia menatap orang-orang yang berkumpul di setiap sudut taman. Keluarga pasien dan seorang teman bercanda tawa dibawah matahari pagi mengikatnya dalam nostalgia tanpa sadar. Di bukanya buku yang masih dipangkuannya itu dan membuka setiap lembar kertas tipis dengan lembut.

Saat sedang membaca di taman, seorang anak kecil mendekatinya. "Kakak, kenapa duduk di kursi itu?" tanyanya polos.

Remaja itu terkejut dengan kedatangan anak kecil itu langsung kelabakan karena tidak mengerti dengan ucapan anak itu.

"Ah ... um ..."

Anak itu memiringkan kepala, matanya penuh rasa ingin tahu. "Kakak punya Quirk apa?"

Remaja itu hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Sebelum ia sempat berkata apa-apa, ibunya datang dan segera menarik anak itu pergi, menatap remaja itu dengan pandangan waspada.

"Maaf," ucap ibunya singkat sebelum berlalu, meninggalkan remaja itu terdiam dengan perasaan yang campur aduk.

"Ini memalukan," gumamnya dalam bahasa Inggris.

Saat itulah seorang wanita mendekatinya.

Wanita itu memiliki rambut putih dan mata berwarna abu-abu dengan gaun rumah sakit. Mungkin pasien lain.

"Apa aku boleh duduk di sini?" tanya wanita itu dalam bahasa Jepang.

"Eh ... ya?" jawabnya dalam bahasa Inggris.

Kemudian, pengenalan muncul di wajah wanita itu. "Oh, maaf boleh kutanya, apa aku boleh duduk di sini?"

"Uh ... silahkan," jawabnya.

"Terima kasih," sahut wanita itu sambil duduk di kursi. Saat ia duduk, remaja itu tersadar bahwa wanita itu membawa sebuah buku jurnal dan pulpen tinta biru.

"Kau kelihatan baru di sini," ucap wanita itu dengan nada lembut. "Sedang belajar sesuatu?"

Si rambut cokelat menoleh perlahan, lalu mengangguk. "Bahasa Jepang," jawabnya pelan. Suaranya hampir tenggelam di antara desir angin.

Wanita itu memiringkan kepala, senyumnya tetap hangat. "Ah, sulit ya? Tapi kau sudah memulai, dan itu hal yang hebat. Ngomong-ngomong kenapa bahasa Jepang?"

Remaja itu terdiam sejenak. Ia tidak tahu harus berkata apa. Namun, ada sesuatu dari cara wanita itu berbicara yang membuatnya merasa ... nyaman.

"Entahlah, sepertinya aku harus melakukannya setidaknya ... untuk bertahan di sini."

Wanita itu tersenyum. "Bertahan ya? Kau tahu ... terkadang bertahan itu lebih sulit daripada yang kita bayangkan. Tapi aku yakin kau akan melakukannya dengan baik."

Remaja itu mengerutkan dahi, rasanya seperti ada makna tersembunyi dibalik kata-kata itu tapi ia tidak tahu apa itu.

Ia tiba-tiba menjadi gugup. Tentu saja, ia bahkan tidak tahu apa-apa dengan dunia ini. Hanya diberitahu tentang Quirk dan berapa populasi yang memilikinya dan ia termasuk kelompok minoritas yang mana sangat langka. Dengan mengalihkan perhatiannya dengan memfokuskan pikirannya untuk menghafal setiap kosa-kata yang dilewatinya. Tanpa sadar ia menggumamkan setiap suku kata yang terlintas dibenaknya.

Saat sibuk bergelayut dengan batinnya. Wanita itu menegur, "Kau baik-baik saja, Sayang?" Dengan raut wajah khawatir.

Ia menggeleng. "Em ... tidak apa-apa, aku hanya sedang ... berpikir."

Wanita itu mengangguk paham masih tersenyum lembut. "Apa kau butuh bantuan, aku bisa menawarkan diri?"

Si rambut cokelat merenung sejenak. "Boleh, kalau tidak merepotkan?"

Setelah itu mereka mengobrol dan membahas materi itu. Wanita itu setelah diketahui bernama Rei mengajarkannya semampunya, memang ia bukan ahlinya dalam hal mengajar, tapi senang rasanya melakukan ini untuk seseorang. Remaja itu juga kini di dudukkan di kursi berdampingan. Membuka lembar demi lembar buku. Saat ada beberapa kalimat atau kata yang tidak begitu dimengertinya, ia akan bertanya dan Rei akan dengan senang hati menjelaskannya.

~•~

Jadi ... apakah seperti ini?"

"Ya, benar. Apa kau mengerti semua yang aku jelaskan tadi?" tanya Rei.

Remaja itu mengangguk. "Ya! Sangat membantu, aku benar-benar mengerti sekarang, terima kasih Rei-san," balasnya.

Ia tersenyum kecil. "Sama-sama."

Setelah menguji pemahamannya mereka meregangkan tubuh dari pekerjaannya karena bertahan selama beberapa saat dengan posisi yang sama.

"Hah ... aku tidak menyangka ini akan sangat mudah, sekali lagi terima kasih."

"Ya, tidak perlu. Aku juga senang kau mengerti dengan cara mengajarku yang agak kacau," katanya sembari merapikan buku-buku yang digunakan.

"Tidak, cara mengajarimu benar-benar sangat mudah dipahami."

"Kalau begitu, senang mendengarnya."

Tak lama kemudian Aizawa muncul memberitahu bahwa ia akan segera kembali ke kamar inapnya. Keduanya segera berpamitan.

"Aku akan mampir ke ruanganmu kapan-kapan Rei-san," katanya sambil tersenyum.

Rei hanya tersenyum sembari melambaikan tangan saat keduanya semakin menjauh. Saat pemuda itu sudah hilang dari pandangannya, Rei menghela napas lega. Senyum lembut tersinggung saat mengingat interaksi itu.

Tak lama kemudian, seorang perawat datang untuk mengantarnya ke kamarnya sendiri. Ia hanya mengangguk dan membiarkan sang perawat menuntunnya. Saat merenung, ia terpikir tentang sesuatu tapi dengan cepat menepisnya dan memilih untuk memikirkannya lain waktu.

Bersambung ...

Catatan :

Aku sangat frustasi saat menulis ini. Sangat sulit untuk mencari ide dan inspirasi. Jadi maafkan aku jika bab ini sangat membosankan atau sederhananya jelek. Aku sudah mencapai fase bodoamat;)