"Rasa takut akan sirna ketika ada tangan yang menggenggam erat dan berkata, 'Aku di sini untukmu.'"

~Unknown~

~•~

Setelah hari itu, baik Rei maupun remaja itu mulai terbiasa untuk saling mengunjungi kamar masing-masing, hal itu hampir menjadi rutinitas bagi keduanya. Kebanyakan, remaja itu datang untuk meminta Rei mengajarinya bahasa Jepang atau sekadar karena bosan, dan ia merasa beruntung Rei tidak pernah mempermasalahkannya.

"Rei-san," panggil remaja itu, berdiri di depan pintu kamar Rei dengan buku catatan di tangan. "Bisa bantu aku belajar bahasa Jepang?"

Rei menoleh dari buku yang sedang dibacanya, tersenyum kecil. "Kau memang tak pernah bosan, ya? Masuk saja."

Remaja itu melangkah masuk dengan langkah santai. "Yah, daripada hanya berbaring di kamar tanpa melakukan apa-apa, aku lebih baik belajar sesuatu. Lagipula, kalau kau yang mengajar, semuanya terasa mudah dimengerti."

Rei terkekeh, menutup bukunya. "Ah, pandai sekali memuji. Ayo, tunjukkan bagian mana yang belum kau pahami."

Setelah pelajaran selesai, mereka sering mengobrol tentang hal-hal lain—dari topik ringan hingga hanya berdiam dalam keheningan. Hari-hari berlalu dengan hal yang hampir sama, tanpa disadari hubungan keduanya semakin erat.

"Sepertinya ... memanggilmu 'Kaa-san' lebih cocok, ya?" katanya setengah bercanda.

Rei terdiam, senyumnya memudar. Matanya terlihat sedikit jauh, seperti tengah memikirkan sesuatu yang menyakitkan.

"Ah, maaf. Aku bercanda saja. Aku tidak bermaksud—"

"Tidak apa-apa," potong Rei, suaranya pelan. Ia menarik napas panjang, lalu meletakkan tangannya di kepala si rambut cokelat. "Kalau itu membuatmu nyaman, aku tidak keberatan kalau kau memanggilku Kaa-san, Sayang. Lagipula, selama ini, aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri."

"Benarkah? Tidak apa-apa jika tidak, aku tidak mau membuatmu tidak nyaman hanya agar aku—"

Tanpa sadar, air mata menggenang di pelupuk mata si remaja. Wanita itu segera menatapnya khawatir

"Ada apa, Sayang?" tanyanya lembut.

Ia menggeleng,"T-Tidak apa-apa, aku hanya ... sangat bahagia ... Kaa-san," katanya sambil tersenyum.

Rei seketika ikut berkaca-kaca, mereka kemudian tertawa kecil, remaja itu memeluk Rei. Awalnya Rei terkejut tapi segera pulih dan memeluknya juga.

Tak terasa satu Minggu sudah terlewati, remaja itu hampir sembuh dan ia bisa berjalan-jalan tanpa harus memakai kursi roda, hanya tinggal perban yang masih setia membungkus kepalanya.

Remaja itu juga makin mahir berbicara dalam bahasa Jepang aksennya juga sempurna meskipun ia belum mengerti beberapa kata. Ajaran Rei benar-benar sangat mudah diikuti dan kadang-kadang mereka juga mempelajari materi lain seperti materi pelajaran umum yang diajarkan disekolah untuk anak seusianya.

Lalu 2 Minggu kemudian terlewati, remaja itu sudah hampir pulih sepenuhnya. Hanya sisa kepalanya yang diperban karena hanya di sanalah luka yang terparah di alaminya.

Remaja itu awalnya ragu memanggilnya Kaa-san dengan bebas, ia masih takut wanita itu yang sudah ia anggap ibunya sendiri merasa risih dan tidak nyaman hingga wanita itu mengetahui kegelisahannya, Rei segera mengingatkan remaja itu untuk tidak ragu memanggilnya jika itu membuatnya nyaman. Awalnya remaja itu tampak bimbang sebelum mengangguk.

Semuanya berjalan baik hingga akhir pekan itu, tapi kemudian pada malam itu ...

Di rumah sakit, pada suara malam damai yang tenang. Sesosok misterius berjalan di lorong rumah sakit. Langkah kaki bergema di lantai dingin, ia menyenandungkan sebuah melodi di tengah sunyinya malam. Kemudian langkahnya terhenti di depan salah satu pintu kamar inap.

Dengan perlahan, ia memutar kenop pintu, yang mengeluarkan suara berdecit. Setelah pintu terbuka, sosok misterius itu masuk dan mengitari tempat tidur remaja yang tertidur dengan nyenyak. Ia berhenti hanya untuk memandangi wajah yang damai itu.

"Nyenyak sekali tidurnya," gumam sosok itu, Suaranya rendah. Ia mengulurkan tangan pucatnya ke arah wajah anak itu, jarinya menyentuh ringan dagu remaja itu sebelum beralih ke leher.

Satu tangan tetap diam di tempat. Lalu tanpa peringatan, sosok itu mengeratkan cengkeramannya, remaja itu yang tersadar itu membuka matanya dan dikejutkan oleh mata merah yang menatapnya dengan dingin. Ia mencoba melepaskan tangan itu dan berusaha berteriak hanya untuk dibungkam oleh tangan yang lain.

"Sssttt ... diam dan terima saja, ya?

Jantung remaja itu berdetak semakin cepat dan tangannya berusaha mencapai tangan yang menekan lehernya. Remaja itu mencoba berteriak tapi tangan yang membekap mulutnya semakin tidak membiarkanbya bersuara. Mata merah darah itu menatapnya dingin, sosok itulah hanya diam dan tangan dilehernya semakin menekan hingga ia tersedak. Remaja itu sangat panik hingga cara yang bisa dilakukannya adalah mencengkram tangan yang mencekiknya dan berusaha sekuat tenaga melepasnya. Tapi itu sia-sia, dia bahkan tidak bergeming.

Lalu tiba-tiba, dengan sisa tenaganya, ia menedangnya hingga sosok itu terjatuh ke lantai. Tanpa melihat keadaannya, remaja itu lansung menyerbu pintu dengan gemetar dan melesat keluar kamar. Lorong-lorong terasa seperti labirin tanpa ujung. Langkahnya tergesa-gesa, matanya mencari sosok perawat atau siapa saja.

Langkah kaki lain bergema di belakangnya, lambat, teratur, dan penuh ancaman.

Lalu saat ia menoleh mendapati sosok itu diujung lorong, menatapnya dengan mata merahnya. Kali ini, tudung sudah tersingkap. Rambut putih dengan garis hitam kebalikan dari rambutnya. Tapi tunggu dulu ...

"Tidak mungkin," bisiknya.

Remaja itu mundur masih terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sosok itu, memiliki penampilan yang persis seperti dirinya. Hanya saja, warna rambutnya adalah kebalikan dari dirinya sendiri, matanya yang berwarna Hazel tergantikan dengan merah darah, dan juga ekspresi wajah menyeramkan itu sangat berkebalikan dengan dirinya. Rasanya seperti melihat kebalikanmu yang pada dasarnya memang seperti itu.

Ketika ia berkedip, ia sangat terkejut saat doppelganger-nya sudah berada di depannya. Untuk sesaat ia tidak bisa bernapas, keberadaannya sangat mengancam dan kepalanya terus menyuruhnya lari menjauh darinya. Lalu waktu melambat.

Saat ia sadar, sosok itu menatapnya dengan seringai menyeramkan, ia baru sadar saat tangan sosok itu terangkat dan mendorongnya.

Gravitasi menarik tubuhnya begitu cepat hingga ia tidak sempat memproses apa yang terjadi sebelum tubuhnya terlempar dari lantai lima rumah sakit.

Yang ia ingat hanyalah mata merah itu dan bunyi memuakkan saat tubuhnya menghantam tanah.

~•~

Hangat.

Itulah yang dirasakannya setelah kegelapan menelan. Rasanya seperti pelukan hangat familiar yang menenangkan. Ia rasa, dirinya pernah merasakan kehangatan itu tapi tidak mengingat kapan, di mana dan siapa.

Lalu, suara-suara bisikan feminim menyelinap di pendengarannya. Suara itu sama. Menenangkan membuatnya merasa aman. Tanpa sadar air mata menetes dan mendarat di pipinya. Saat itu, matanya terbuka dan disambut oleh mata abu-abu dan wajah khawatir yang di kenalnya. Wanita itu menghapus air mata dipipinya.Melihat wanita itu bibirnya bergetar. Ia tanda sadar mengatakannya.

"Ka ... Kaa-san?" bisiknya dengan suara bergetar.

"Iya, Sayang? Apa kau bermimpi buruk?" jawab Rei, yang tampak cemas.

Remaja itu mengangguk, tubuhnya masih gemetar. Ia meringkuk dalam pelukan Rei, merasakan kenyamanan yang luar biasa. "Aku bermimpi buruk, Kaa-san. Seseorang... seseorang yang mirip denganku..." suaranya serak dan hampir tidak terdengar.

"Tidak apa-apa, Sayang. Itu hanya mimpi, sekarang kau aman," sahut Rei, mengusap rambut remaja itu dengan lembut. "Aku akan selalu ada di sini."

Remaja itu meringkuk lebih erat, lalu berbisik, "Jangan tinggalkan aku ..."

Rei tersenyum, tetap mengelus rambut remaja itu. "Aku tidak akan pergi ke mana-mana."

Mereka tetap seperti itu sampai Rei merasakan beban tubuh remaja diperlukannya tertidur dan tersenyum saat menatap wajah damai. Rei membaringkannya dengan hati-hati.

Wanita berambut salju itu menarik kursi dan duduk ditepi ranjang. Ia tidak bisa meninggalkannya sendirian, tidak ketika remaja itu telah melalui mimpi buruknya. Naluri ibunya tidak mengijinkannya. Rei menyingkirkan helaian rambut yang menghalanginya wajah remaja itu tanpa mengusik tidurnya.

Untuk sesaat, ia bernostalgia, tentang anak-anaknya. Entah kenapa remaja ini mengingatkannya pada anak-anak terutama anak bungsunya.

Ia menatap jendela rumah sakit, terlihat samg surya sudah mulai menampakkan sinarnya mengintip di balik kaca tembus dinding. Alhasil, Rei tertidur di tepi ranjang.

Di luar kamar, dokter Yazuki masuk perlahan, berniat memeriksa kondisi pasien. Namun, saat melihat momen hangat tersebut, ia memilih untuk menundanya dan meninggalkan keduanya dalam kedamaian. Dengan senyuman lembut, ia keluar dari ruangan, membiarkan mereka tertidur bersama.

Bersambung ...

Catatan :

Aku merasa bab ini gak terlalu bagus. Aku sudah berusaha membuatnya cukup bagus. Tapi apalah daya, imajinasiku tak seluas samudra (﹏).