"Hidup memberi kita pilihan: menghindar dari luka, atau tumbuh bersama karenanya."
~Unknown~
~•~
"Bagaimana menurutmu? Apa kau menyukainya?" tanya Rei.
"Um ... ya, aku menyukainya," jawabnya.
Rei menggenggam tangannya setinggi dada. Ekspresi lega yang dari nada suara dan raut wajahnya terlihat. "Baguslah, aku mungkin bukan yang terbaik dalam memberi nama," jawab Rei dengan nada lega.
Akira, itulah nama yang diberikan Rei padanya. Setelah salah satu perawat menyinggung hal itu, remaja itu benar-benar lupa tentang nama. Ia tidak tahu ingin menamai dirinya sendiri apa karena dia bahkan tidak mengingat namanya sendiri. Yah, sampai Rei-lah yang muncul dipikirannya dan setelah berdebat dengan pikirannya sendiri apakah ingin meminta bantuan atau tidak ia memberanikan diri untuk memintanya. Setidaknya tidak seburuk yang ia kira. Rei awalnya bingung dengan permintaan itu sebelum terkekeh dan dengan senang hati melakukannya.
Kebetulan, hari ini remaja itu sudah pulih sepenuhnya. Hanya perlu menginap satu hari lagi untuk memastikan ia benar-benar sembuh. Anak itu benar-benar hiperaktif, selalu tersenyum. Selama masa tinggalnya di rumah sakit, ia kebanyakan menemani pasien lain layaknya teman. Bermain-main dengan anak-anak, atau melakukan rutinitas biasanya yaitu pergi ke kamar Rei dan melakukan sesi belajar.
Bahasa Jepang anak itu sudah cukup fasih, entah teknik ajaran apa yang di ajarkan Rei. Hanya dalam 2 minggu anak itu tidak perlu lagi berbicara bahasa Inggris. Kadang-kadang saja dan kebanyakan ia akan memakai bahasa Jepang, itulah sebabnya ia bisa berinteraksi dengan pasien lain. Orang-orang mulai memanggilnya Aki-nii dari anak-anak dan Aki-chan dari orang dewasa.
Remaja itu sekarang sedang diajak bermain oleh sekumpulan pasien anak-anak yang mengerumuni remaja itu. Mereka bahkan menghiasi rambut remaja itu dengan jepit rambut kecil yang lucu. Yah ... karena kebanyakan anak-anak perempuanlah yang memonopolinya.
"Hei, Aki-nii tahu apa itu pesawat kertas?" tanya salah satu anak laki-laki dengan rambut pirang mendekatinya. Anak-anak perempuan pergi entah kemana setelah meninggalkan remaja itu sendirian.
Akira menggelengkan kepalanya. "Tidak ... mungkin?"
"Kalau begitu, ayo buat bersama!" Dengan itu, Akira hanya pasrah ditarik menghampiri pohon besar, tempat banyak kertas origami berbagai warna berserakan di bawahnya.
Akira duduk bersandar di pohon sementara anak itu yang bernama Miyano Kayura mengambil posisi tiarap sambil mulai membuat origami pesawat. Anak itu menjelaskan cara-caranya dan Akira mengamati sambil mengikuti Kayura. Hasilnya Kayura membuatnya dengan sempurna sedangkan Akira ... cukup bagus dengan beberapa penyesuaian lagi.
kayura hanya terkekeh sementara Akira hanya memerah karena malu lalu dengan bantuan Kayura, remaja itu membuatnya dengan baik. Mereka menerbangkannya bersama-sama. Akira senang Kayura terlihat bahagia bermain bersamanya. Lalu anak lain mulai menyeretnya lagi membuat Kayura cemberut.
"Giliran kami, Kayura memonopoli Aki-nii lagi ...! tuduh salah satu anak perempuan yang belum datang.
"Salah sendiri ninggalin Aki-nii," kata Kayura sambil bersembunyi di balik kaki remaja itu.
Akira hanya tersenyum sebelum menarik Kayura untuk bermain bersama yang lain.
"Sudah, sudah jangan bertengkar anak-anak, kalian bisa bermain dengan Aki-nii, Maira, bagaimana kalau ajak Kayura main juga sekalian?" usul Akira.
Mereka berpandangan beberapa saat hingga anak-anak itu mulai menyeret anak laki-laki itu hingga Kayura menjadi model dadakan. Kayura hanya menghela napas dan membiarkan dirinya dijadikan model anak gadis. Tanpa sadar mereka melupakan Akira yang sudah melepaskan hiasan rambut anak-anak itu kembali ke tempat duduknya dengan Rei yang sedari tadi menonton mereka.
"Bagaimana harimu?" sapanya.
Ia mengangkat bahu. "Seperti biasa? Anak-anak memang sangat hiperaktif, ya?"
Rei hanya terkekeh. "Kau benar."
Lima belas menit dihabiskan untuk mengobrol sampai anak-anak kembali bertengkar hingga Akira harus turun tangan melerainya. Alhasil Akira kembali terseret dalam permainan anak-anak.
Rei yang menonton hanya tersenyum. Melihat anak-anak itu bermain, wanita itu kembali menatap sendu. Kemudian, ia mengambil sesuatu dari saku bajunya. Itu adalah foto anak-anaknya. Di foto itu mereka terlihat bahagia, sangat bahagia hingga kejadian bertahun-tahun lalu tidak pernah terjadi.
Melamun, ia tidak sadar kalau ada yang mendekatinya. Orang itu duduk disebelahnya dan melirik foto yang di pandang wanita itu.
"Apa itu foto anak-anakmu, Rei-san?" tanya dokter Yazuki.
Rei hanya mengiyakan. "Ya. Aku merindukan mereka."
Lalu Rei membalik fotonya, itu foto baru, yaitu foto Akira yang sedang memeluk Rei. Di foto itu, senyumnya terlihat tulus, dalam beberapa tahun ini, ia lupa kapan ia pernah tersenyum setulus itu.
"Aku ... tahu perasaan itu, kau adalah wanita yang kuat, Rei-san. Jangan menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi. Bagaimana pun juga aku juga pernah menjadi seorang ibu," kata dokter Yazuki.
Rei hanya diam.
"Rei-san, apa aku boleh meminta satu hal?" tanyanya.
Rei memandang sang dokter. "Permintaan apa, dokter?"
"Ini mungkin permintaan yang aneh untuk seorang dokter sepertiku, tapi ... aku meminta ini karena aku tahu hanya kau yang bisa melakukannya."
~•~
01:00 Siang - RS Musutafu
Hari itu, rumah sakit kedatangan tamu, siapa lagi kalau bukan Detektif Tsukauchi dan Aizawa Shōta alias Eraser Head. Mereka datang untuk membahas hak asuh wali anak itu. Terus terang, sang detektif belum menemukan satu pun orang yang cocok untuk menjadi wali anak itu, kalaupun ada, hanya membuatnya mencurigakan. Karena, setiap kali ada yang menawarkan diri untuk menjaga anak itu, Quirk-nya akan mendeteksi kebohongan itu.
Setelah melewati meja resepsionis, sang detektif dan pahlawan berjalan menuju kamar inap anak itu mereka bertemu dengan Dokter Yazuki.
"Oh, Detektif Tsukauchi dan Eraser Head, selamat siang" sapanya.
"Selamat siang," jawab keduanya.
"Jadi, bagaimana kondisinya?" tanya Detektif.
"Kami sudah memutuskan bahwa anak itu harus segera keluar dari rumah sakit dan kembali ke kehidupan normalnya. Tapi, kita harus menentukan siapa yang akan mengawasi dan menjadi walinya. Kita tak bisa membiarkan anak ini sendirian."
Aizawa yang berdiri di samping Tsukauchi menatap dokter Yazuki dengan tatapan serius. "Dan siapa yang bersedia menjadi wali bagi anak itu?" tanyanya, suara dalam dan sedikit berat.
"Sebenarnya, ada seseorang yang bersedia merawat anak itu," sela dokter Yazuki. "Dia juga ingin mengadopsinya."
Detektif Tsukauchi sempat terkejut tapi segera pulih. "Benarkah? Siapa, dokter?"
"Bisakah Anda menerima Todoroki Rei sebagai walinya?" tanyanya.
Detektif Tsukauchi dan Eraser Head saling berpandangan. Ekspresi mereka terkejut sebelum berubah menjadi serius.
"Todoroki Rei?" tanya Tsukauchi dengan nada ragu. "Dia adalah pasien di sini, kan? Apakah dia memiliki kondisi yang memungkinkan untuk mengasuh anak itu?"
Dokter Yazuki mengangguk. "Kesehatan fisiknya baik, dan secara emosional, dia memiliki koneksi yang sangat kuat dengan anak itu. Selama dua minggu terakhir, Rei-san yang paling banyak menghabiskan waktu dengannya. Mereka sudah seperti keluarga."
Detektif Tsukauchi dan Aizawa terdiam, memikirkan kemungkinan ini. "Apakah Todoroki-san tahu tentang hal ini?" tanya Tsukauchi, matanya tidak lepas dari dokter Yazuki.
Dokter Yazuki hanya mengangguk dengan keyakinan yang tampak di wajahnya. "Ya, dia tahu dan siap untuk itu."
Tsukauchi menghela napas panjang, pandangannya turun ke lantai sebelum kembali ke Dokter Yazuki. "Ini bukan keputusan kecil. Jika sesuatu terjadi pada anak itu, tanggung jawabnya ada di kita."
Aizawa berdiri dengan tangan terlipat, sorot matanya tajam. "Kita tidak bicara tentang siapa yang punya waktu lebih banyak. Kita bicara tentang masa depan anak ini. Apakah Todoroki-san bisa memberikan jaminan itu?"
Dokter Yazuki menatap dokumen di tangannya, lalu senyum kecil. "Aku tidak bisa menjamin hal itu. Tapi, aku tetap ingin mempercayainya, aku tidak punya hal apapun lagi untuk dikatakan," jawabnya.
"Jadi? Bagaimana keputusan Anda, Detektif-san?" tanyanya sambil memandang Tsukauchi.
Setelah apa yang sepeti selamanya. Detektif angkat bicara. "Baiklah, kami akan mempertimbangkannya."
Sebelum mereka bubar, Dokter Yazuki mengingatkan satu hal. "Oh, dan Detektif-san?"
Detektif Tsukauchi menoleh sedangkan Aizawa yang sudah cukup jauh berhenti untuk mendengarkan. "Nama anak itu adalah Akira sekarang. Hanya itu yang ingin aku sampaikan," katanya sebelum pergi.
Kedua pria berbeda profesi itu pun mengingat nya dalam hati kemudian pergi dari rumah sakit untuk mengurus sisanya.
~•~
Di mobil yang dikendarai Tsukauchi karena mereka akan pergi ke kantor polisi mengurus dokumen, Eraser Head dan Detektif Tsukauchi terdiam.
Aizawa mendesah pelan, matanya menyipit seolah menimbang semua kemungkinan buruk. "Aku tidak yakin ini ide bagus."
Tsukauchi menoleh padanya. "Kau tidak setuju?"
"Bukan itu," jawabnya singkat, suaranya rendah.
"Aku hanya berpikir, kalau Todoroki-san gagal, ini bisa jadi masalah. Tapi … kupikir dia sudah melakukan banyak hal untuk anak itu. Mungkin, dia memang yang dibutuhkan."
Tsukauchi mengangguk pelan, melirik Aizawa dengan sedikit senyum. "Itu artinya kita sepakat?"
Aizawa mendesah. "Kita beri mereka kesempatan. Tapi aku tidak akan berhenti memantau."
"Aku tidak pernah membayangkan kalau kau akan seperti ini pada anak-anak Aizawa," kata Tsukauchi.
Aizawa mengangkat alisnya ke arah pria yang sedang mengemudi itu. "Bukankah itu wajar?"
Tsukauchi hanya tertawa kecil. "Ya, aku tahu. Ngomong-ngomong ... siapa nama anak itu tadi?" tanya Tsukauchi mengalihkan pembicaraannya.
Aizawa membuka dokumen yang tergeletak di sampingnya. "Akira, tidak buruk," katanya.
"Rei-san yang memberinya nama?" tanya Tsukauchi.
"Ya, itulah yang kudengar," jawab Aizawa.
Aizawa menutup dokumen itu dan kembali menaruhnya dengan hati-hati sebelum teringat sesuatu. "Ngomong-ngomong, apa kau tidak perlu menanyai Todoroki-san? Seperti yang lain?"
"Hm ... tidak perlu," jawabnya singkat.
"Kenapa?"
"Karena aku pernah bertemu dengannya."
Aizawa hanya menatap Tsukauchi yang wajahnya memantulkan senyum mengembang. Kemudian menghela napas berat. Keheninganlah yang menemani mereka hingga sampai ke tujuan.
05:00 Sore - RS Musutafu
Tak lama setelah itu, Detektif Tsukauchi dan Aizawa Shota tiba di ruang utama rumah sakit, membawa kabar penting yang sudah mereka bicarakan. Tsukauchi membuka pintu dengan langkah berat, dan Aizawa, dengan wajah serius, ikut masuk ke dalam ruangan.
Di sana Dokter Yazuki dan seorang wanita berambut putih panjang menunggu.
"Todoroki Rei?"
Rei mengangguk dengan wajah serius.
"Baiklah, Rei-san, Kami telah memutuskan untuk mengizinkan Anda menjadi wali bagi Akira dan tentang adopsinya ..." Tsukauchi mulai berbicara dengan suara yang lebih rendah dan lebih tegas. "
"Setelah pertimbangan matang, kami percaya Anda adalah orang yang tepat."
"Terima kasih." Rei mengucapkannya dengan suara yang hampir tak terdengar, tetapi matanya berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Kelembutan di dalam hatinya terasa semakin menguat ketika mendengar kata-kata itu.
Aizawa yang sejak tadi hanya diam, akhirnya membuka mulut. "Kami juga akan membantu dalam prosesnya ," katanya, suaranya yang khas dan dalam memberi rasa yakin pada Rei.
"Bisakah kau menjadi wali untuk Shounen-kun?" tanya Dokter Yazuki.
Rei yang memandang foto Akira terkejut sembari memandang Dokter Yazuki. "Kenapa?" tanyanya.
"Aku hanya memintamu, Rei-san. Aku tidak akan memaksamu. Hanya saja ... menurutku, kau adalah orang yang tepat untuk merawat anak itu," jawabnya lembut.
"Lagipula, kau sudah dia anggap seperti ibunya sendiri," tambahnya.
Rei hanya terpaku menatap foto digenggamannya. Wanita itu memejamkan matanya, menghela napas. "Kau tahu, Dokter. Aku juga pernah memikirkan ini, bahkan sering. Setiap malam, aku berpikir apakah aku pantas menyandang gelar ibu?" katanya lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri. Sedangkan Dokter Yazuki masih diam memberi tanda bagi Rei untuk melanjutkan.
"Saat aku melihat seorang anak sendirian, aku pikir dia hanyalah pasien lain yang bisa aku ajak bicara dan bantu kemudian kami akan pergi dan melanjutkan hidup satu sama lain." Suaranya lembut seiring tiupan angin yang membelai rambunya. Suara tawa anak-anak yang bermain terdengar dilatar belakang.
"Namun, hingga saat ini. Dia telah masuk dan menjadi bagian dari hidupku. Aku telah dipanggil Ibu olehnya hingga itu melekat padanya dan aku bahkan memberinya nama. Akira, itulah nama yang aku berikan padanya.
Sejujurnya, aku masih merasa takut. Aku tak yakin pantas menyandang gelar itu. Ingatan tentang bagaimana aku sampai di tahap ini masih kuingat dengan jelas.
Suaranya seperti perenungan. Ingatan tentang bagaimana ia menyakiti anak bungsunya dan kehidupan rumah tangganya yang berantakan terbayang dibenaknya. Namun, suara Dokter Yazuki membuyarkan lamunannya.
"Aku tahu bagaimana ini terasa sulit bagimu. Ketika bayangan masa lalu, yang membuatmu merasa sulit menerima apa yang pantas kau dapatkan, aku tidak bisa membantumu tentang itu.
Tapi, Rei-san. Apa kau tahu? Dulu, saat aku masih bertugas sebagai dokter di tempatmu dulu, aku tahu kau tidak seperti yang kau bayangkan. Aku merasakan kelembutan hatimu dan tekadmu yang hanya bisa kulihat pada sikap seorang ibu. Aku tidak mengatakan ini untuk menguatkan argumenku. Itulah yang membuat hatiku tergerak untuk mengeluarkanmu dari sana. Dan aku yakin kau akan merawat anak itu dengan baik."
Angin lembut menyapu kulit mereka. Keheningan nyaman itu terbentuk hingga Rei memecah keheningan.
"Aku ... bersedia," jawabnya.
Dokter Yazuki yang terkejut menatap Rei dengan mata berbinar-binar. "Benarkah?"
"Ya. Aku akan mengadopsinya." Ia menarik napas panjang lalu tersenyum. " Sebenarnya, aku sudah memutuskan ini sejak lama," katanya lagi.
"Kalau begitu, aku akan mengurus sisanya untukmu. Terima kasih, Rei-san."
Dokter Yazuki berdiri dan pergi dari sana dengan senyum bahagia di wajahnya. Sedangkan Rei yang masih terdiam di kursinya kembali menatap foto itu lalu memandang Akira yang tersenyum melambai padanya.
Sorot matanya memandang sendu pada ingatan yang tiba-tiba terbayang dibenaknya. "Semoga saja ini keputusan yang tepat."
Bersambung ...
