Flashback on
Senja kembali menyatu dengan alam. Memberikan kesan tersendiri bagi orang-orang yang benar-benar mencintainya. Di saat seperti ini, senja memperoleh keindahan terbaiknya diantara gemerlap lautan yang disinari sinarnya, disertai matahari yang perlahan semakin pudar dan menenggelamkan dirinya diantara lautan.
Di jembatan yang menjadi penghubung antara ia dan lautan adalah hal paling dinantikannya sehabis pulang mengenyam pendidikan. Otaknya yang dipaksa bekerja dari pagi sampai sore membuatnya berpikir untuk mengistirahatkan otaknya dari tugas itu dengan berbaur dengan senja.
Iris zamrud itu menelusuri lautan yang berkilau di bawah cahaya matahari yang kian menyembunyikan bentuknya. Pemuda itu sangat merasakan nostalgia dan mulai memutar kenangan di dalam otaknya.
Tanpa sadar, kakinya terus naik ke atas pembatas jembatan, tanpa penyangga karena terlalu terpaku pada dunianya.
Tangannya terentang seiring dengan angin yang menerbangkan rambutnya yang terselip di bawah topi. Anak itu tidak takut dengan ketinggian di sana. Seakan-akan bisa terbang di udara.
Hadapi permasalahan,
Dan rintangan kehidupan,
Yang tak pernah ada habisnya,
Lirik lagu mengalir dari handset di telinganya dengan merentangkan tangannya menikmati embusan angin yang membelai kulitnya
Tak perlu menjadi yang terbaik,
Cukup lakukan yang terbaik bagi dirimu,
Tak perlu bandingkan dirimu dengan yang lain,
Setiap orang, jalannya berbeda.
Matanya terpejam, menikmati setiap nada yang berayun, masih merentangkan tangannya menikmati tiupan angin.
Tak mengapa merasakan sedih,
Menjalani hari-hari penuh beban ini,
Kau tidak sendiri,
Karena aku ada untukmu disini,
Genggam tanganku, kita lewati ini bersama.
Sc: Original Song- Kau Tak Sendiri by Andi Adinata
Tubuhnya oleng sejenak saat lirik itu mencapai akhir, tanpa perlawanan, ia membiarkan dirinya didorong angin, bersiap terjun bebas ke lautan luas.
Grep!
"Eh?"
Namun, tak ada air yang menyapu tubuhnya saat matanya masih setia menutup. Sepuluh detik berlalu, tapi tubuhnya tak menghantam permukaan air.
Karena penasaran, iris zamrud membuka kelopak matanya, dan yang pertama kali dilihatnya adalah wajah seseorang.
Siapa? Sepertinya bukan. Iris matanya berwarna crimson. Orang asing? Dan mengapa dia menyelamatkannya
"Apa kau sudah gila hah?!" Bentak pemuda itu.
"Huh, apanya?" tanya pemuda itu dengan polos.
Pemuda itu menepuk jidatnya,"kau baru saja akan terjun bebas jika aku tak menarikmu tadi!" Jawabnya masih dengan nada yang sama.
Lalu?" tanya pemuda itu, masih dengan kepolosannya.
"Lupakan."
"..."
Lima menit berlalu sejak kejadian itu. Tak jelas siapa yang salah. Tak berapa lama kemudian, pemuda itu membuka suara, "Apakah kau selalu datang ke sini setelah pulang sekolah?
Hening beberapa saat, pemuda asing itu masih menatap matahari yang pelan-pelan tenggelam
"Aku ... Ya begitulah," jawabnya. "Memangnya kenapa?"
"Aku hanya penasaran. Jarang sekali seorang pelajar datang kesini disaat-saat seperti ini ... Kupikir hanya aku saja."
Hening kembali.
"Oh ya namamu siapa? Mungkin kita bisa bertemu lagi atau berteman?"
"Namaku Izuku. Midoriya Izuku."
"Hah ... sudah kuduga. Yasudahlah, perkenalkan aku..."
Flashback off
Ku buka mataku yang terpejam entah berapa lama, saat kenangan itu menyambar ingatan yang entah bagaimana ku ingat. Aku sedang menikmati matahari terbit di jembatan yang terhubung ke laut. Matahari mulai menampakkan sinarnya dengan laut sebagai latar belakangnya.
Bayangan matahari bergelombang di atas laut yang mengalir membuat warnanya secerah matahari senja.
Aku termenung di atas jembatan, dengan membawa kursi rodaku mendekati pembatas.
Nostalgia membanjiri pikiranku saat dulu kakiku masih mampu menapaki jalan itu. Tersenyum sambil menaiki pembatas dan meneriaki lautan dan langitnya.
Mendengarkan lagu-lagu favorit dari handset ataupun ikut memainkan liriknya, kemudian, merenung. Seakan membawa kenangan yang telah pergi, aku kembali menangis, meratapi nasibku yang harus menggunakan kursi roda sebagai pengganti kedua kakiku yang telah lumpuh.
Semua karena kecelakaan singkat yang merebut segalanya dariku. Meski begitu, kakakku memberiku semangat dan harapan hidup, meski takkan pernah mengembalikan apa yang hilang.
Aku hanya bisa memaksakan senyum palsu, meski tahu itu hanya senyum palsu yang memuakkan untuk dilihat.
Kutatap Matahari terbit, yang perlahan-lahan menyinari sekitarnya dengan malam yang semakin menipis, aku tersenyum seakan menyambut kedatangannya dalam diam.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajahku dengan lembut, seakan membelai kulitku. Aku masih tidak bergeming menatap matahari yang kian meninggi dari pandangan.
Kueratkan jaket yang ku kenakan bersamaan dengan seragamku untuk meminimalisir hawa dingin pagi ini.
Kaca mata google ku naikan agar tidak terjatuh hingga pemandangan terjelas ku peroleh.
Lama melamun, aku sadar seseorang datang. Ia mungkin tidak sadar ada seseorang di sampingnya karena fokusnya teralihkan pada layar ponselnya.
Menghela napas lelah, ia mengantongi ponselnya dan menatap matahari yang akan sepenuhnya muncul. Di pikirannya, berkecamuk berbagai macam perasaan nostalgia akan masa lalu.
Memang benar, selain hujan dan senja, mentari selalu membawa kenangan yang pergi untuk singgah barang sebentar.
Aku membentuk senyum tipis yang tulus dari hati terdalam ku. Aku bahagia sekarang, setidaknya sedikit beban terangkat. Setidaknya untuk hari ini.
Aku melirik ke samping dan menemukan orang asing yang masih terpaku pada pemandangan yang hanya menyisakan pemandangan laut biru.
Aku seketika gugup dibuatnya, padahal niatku hanya bersantai seorang diri agar bisa menenangkan pikiranku. Ku tenangkan diriku. Karena bukannya kali ini aku pernah melihat orang lain.
Aku menarik napas dan mengelus dadaku, keheningan datang dan digantikan dengan suara burung yangterbang melintasi lautan.
Aku gugup tapi aku memberanikan diriku untuk menyapanya, karena dia juga menoleh padaku saat sadar ada orang lain selain dirinya.
"Uh, hai?" kataku dengan ragu.
Aku meneguk ludahku dengan susah payah, benar-benar canggung saat aku merasakan tanganku gemetar dibuatnya. Dan selanjutnya aku memalingkan wajahku karena malu.
Orang itu hanya diam melihatku yang masih memalingkan wajahku, kemudian ia tersenyum tipis dan mensejajarkan dirinya padaku.
Menopang dagu, dia bertanya, "Apakah kau sering mampir ke sini?"
Dejavu. Entah kenapa, hal ini terasa familiar bagiku. Tapi, semua kenangan masa lalu itu selalu tersingkir oleh kenangan buruk yang masih membekas.
Mendengar suara yang menyapa indra pendengaranku membuatku refleks menoleh dan berkata dengan nada canggung, "y-ya? Um... aku sering malahan."
"Sendirian?"tanya orang itu.
Keheningan kembali mengawali kami sampai kembali tersingkirkan.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Tidak ada, hanya ingin bertanya saja," jawab orang itu singkat.
Hanya sahutan singkat yang mampu aku utarakan karena aku benar-benar tidak tahu bagaimana berinteraksi dengan seseorang. Kau tahu bagaimana rasanya? Ini sangat menyiksa.
Namun, kali ini, aku benar-benar bisa mengobrol begitu lancar seakan tidak pernah habis. Terkadang aku tertawa kecil untuk mencairkan suasana. Atau pun menanggapinya dengan wajar.
Aku tidak tahu, apakah perbedaan diantara kami akan membuat hubungan pertemanan yang baru terjalin ini sirna dalam sekejap, aku akan menunggu waktu itu nanti.
"Um, boleh aku tanya siapa namamu?" tanyaku. Aku belum tahu namanya siapa dan merasa perlu bertanya.
"Aku Hitoshi, Shinso Hitoshi,"jawabnya.
Sebelum aku bisa bertanya lebih lanjut, dia menyela, "Ah, tunggu dulu, bukankah kamu harus ke sekolah?"
Aku melirik alrojiku yang menunjukkan pukul 7:00, dan bergegas ingin pergi setelah berpamitan, tapi segera di hentikan olehnya.
"Tidak perlu tergesa-gesa, aku juga akan kesana. Kita searah."
"Uh, baiklah." Aku menurut.
Baru kali ini aku sadar dia juga memakai seragam sekolah yang sama dengan diriku. Aku mengangguk dan menunggunya.
Dia datang dan membuka jaketnya, membuatku bingung. Kebingungan itu sirna saat dia mengikatkannya di pinggang.
Aku tersenyum dan akhirnya,kami pergi, meninggalkan matahari yang sudah meninggi dengan dia yang membawa kursi rodaku.
Bersambung...
Ini adalah cerita lama yang saya terbitkan pada tahun 2023. Jadi daripada berdebu sekalian aja di publikasikan seadanya.
