Pocus hocus troll la la

Hetalia punya Himaruya Hikadez

Cerita punya Kopi and Co

Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari karya transformatif ini.

Skip time setelah makan malam.

Aroma perpaduan kayu manis,butter, dan apel menyeruak dari arah dapur. Yekaterina kembali ke ruang makan dengan pie apel ditangan. " nggir, gak minggir, gak minggir tabrak." Senandung Yekaterina sambil jalan santai ke meja.

Ludwig dan Gilbert pun terngangga dengan kelakuan Yekaterina. Gilbert buru-buru turun kursi, memeluk Ludwig. "Papa! aku takut, mama aneh seperti kakak tetangga!"

Ludwig terkernyit sampai kedua alisnya hampir tertaut, Yekaterina nyengir kuda. Kelakuan ibu satu anak ini sungguh OOC. Ludwig jadi kepikiran tetangga yang mana? Oh bingo! Pasti teman si Nona Belgia itu.

XxXxXxX

Acara makan pie suprisly berjalan dengan tenang. Puji Tuhan! Meski dibumbui drama tidak penting. 'Sekarang tinggal memakan satu potong pie terakhir, setelah itu pergi tidur.' Pikir Ludwig sambil memasukan potongan pie ke mulutnya. Begitu Ludwig ingin tambah...

Tiga garpu menancap di potongan pie terakhir. Tiga bola mata beda warna itu saling memicing. Jika di gambar secara komikal, ada arus listrik diantara mereka. Saatnya menggibarkan bedera SPARTAAA! Orang bilang, suapan terakhir itu yang paling enak! Mamma mia! Adalah sebuah kehormatan memenangkan perang ini.

Klang, kling, klang, suara piring lawan garpu. "HURAA Aku menang! " Ujar Yekaterina kesenangan. Kemudian memakan pie hasil rampasannya dengan raut muka bling-bling, berseri-seri. Sedangkan yang kalah memasang raut muka sebal dengan aura ungu kekecewaan yang menguar di sekitar mereka. Oke keluarga Beilschmidt memang sengklek semua. Kagak ada yang bener sedari zaman kakek Germania sampai Kakek Friederick.

Pasca perang sparta- ahem. Setelah pihak kalah bisa move on dari mantan- coret, coret, coret. Setelah mereka move on dari rasa kecewa, Beilschmidt mulai membahas family plan untuk holiday musim ini.

Ting, ting, ting. Ludwig sang kepala keluarga memukul gelas dengan sendok untuk menarik atensi. Yekaterina dan Gilbert nampak identik menyimak sambil mengigiti apel utuh.

"Jadi Papa berhasil mengambil cuti musim ini. " Ucap Ludwig seraya melempar senyuman flirty andalannya yang membuat Yekaterina klepek-klepek padanya. Meski menurut Gilbert senyuman ayahnya itu mirip Eugene Fitzherbert. Jadi iyuh pake banget.

" Sehingga holiday tahun ini kita bisa pergi ke luar negeri. Yey, gimana menurut kalian? "

"Hmm Sepertinya berkunjung ke rumah adik ku, terdengar bagus... "

" Tidak, tidak, Mama! Tidak. Tante galak." Cegah Gilbert teringat dengan raut Tantenya yang mengintimidasi macam ratu salju. Jangan lupakan raut memelas Gilbert plus puppy no jutsu nya.

'Oh here we go again.' Batin Ludwig tentang kelakuan si anak bontot.

"Utu utu cayangku," Yekaterina memeluk anak bontotnya. " Tante Natalya aslinya sayang sama kamu. Om Jones juga. Ingat natal tahun lalu? " Mengembungkan pipi, manyun. Gilbert menjawab. " Om Alpret aja yang seru, tante...Tante Natalya seram. " Yekaterina menghela nafas. Gilbert dengan manyun " Boleh pergi ke rumah tante. Tapi, Gilbert mau sama Om Alpret aja. "

'Wah main favoritsm nih.' Batin pasangan itu. Ludwig memasang senyum simpati pada istrinya. Ya bagaimana mereka udah ada rencana berkunjung ke kediaman Natalya. Tapi biar lebih demotratis jadilah mereka mengelar musyawarah. Untunglah eksekusinya holiday ini ke rumah Natalya.

XxXxXxXxX

Skip time dua hari setelah musyawarah.

Ludwig memasuki ruang tamu, mencopot sepatu boot militernya. Memakai selop rumah, berjalan ke ruang laundry, menggantung mantel dan syalnya. Kali ini rumah benar-benar sepi ditinggal belanja oleh penghuni lain. Ludwig pun pergi mengambil semir sepatu.

Bersamaan dengan selesainya pekerjaan menyemir sepatu, " Vatiii!" Seorang anak hiper aktif bersiap meloncat ke pelukan Ludwig. "OW Ow jangan tanganku penuh!" Klontang! semir dan sepatu jatuh ke tanah. Ludwig berhasil menangkap anaknya yang barusan terbang. Anaknya kini nyengir kuda. Mukanya polos ngeselin, tapi menurut Ludwig terlalu gemoy untuk di tabok. "Anak nakal, bajumu jadi cemong..." Ucap Ludwig yang dihadiahi cengiran yang makin melebar. "Kamu ini anak Papa bukan sih? Perasaan waktu kecil engga senakal ini. "

" Anaknya mama lah! Papa kan fosil karbonnya kakek Germania. " ucapnya kemudian tertawa.

"Heee anak nakal! " Kemudian ia menoel hidung anaknya sehingga berwarna hitam. Anaknya tertawa ngekek. " Siapa yang bilang?" Lanjut Ludwig. " (Masih ketawa) Katanya Om Mattias gitu. " Jawab Gilbert polos. 'Anjir, nakalnya mirip si Mamet' batin Ludwig nista.

Sebuah kepala bersurai keperakan nonggol dari pintu. Itu Yekaterina yang barusan pulang. Ia penasaran dengan bunyi gaduh. Melihat keakraban suami dan anaknya, Yekaterina tertawa kecil kemudian menghilang di balik pintu.

XxXxXxX

"HURAAA NAIK KERETA API WUSS! WUSS!" Ucap seorang bocil kegirangan.

" Kita punya tiket kereta api. " Yekaterina menyibakan tiket. " Tiga tiket kereta api. "

"UWOO kapan pergi, ayo, ayo!"

" Kita berangkat sore ini. Jadi siang ini kita packing. "

XxXxXxXxX

Rumah Natalya bukanlah rumah mewah. Hanya sebuah rumah biasa dengan halaman yang dipenuhi bunga narsiscus di musim semi. Angin utara masih bertiup ketika Beilschmidts datang. Musim semi masih jauh tertidur di bawah pilar es.

Udara dingin menyambut kedatangan mereka ke Russia. Beruntunglah suhu kali ini berada di atas nol derajat sehingga tidak terlalu dingin meskipun masih sulit berjalan akibat tumpukan salju.

Kedatangan mereka udah disambut dengan hangat oleh Natalya dan suaminya, Alfred. Kemudian mereka di persilakan masuk ke dalam rumah. Seperti biasa terjadilah reuni kecil, setelahnya Natalya mengantarkan Beilschmidts ke ruangan tempat mereka dapat beristirahat.

"Om Alpfreee, sini sini"

"Oom Alpfree. "

Yekaterina, Natalya dan Ludwig menoleh ke sumber kegaduhan. Di sana, bocil itu berkeliaran di koridor. Tanpa sadar pasutri itu menghela napas.

Belum juga sehari, si bontot berulah lagi. Entah kenapa si bontot Beilschmidt ini lengket dengan pamannya melebihi sama tantenya. Pernah Yekaterina kepo mewawancarai anaknya, dan ia dibuat melonggo dengan jawaban anaknya.

XxXxXxX

"Hee kamu engga capek habis dari Jerman ke sini?" Tanya Alfred yang kala itu menemukan seorang bocah kecil sedang berjongkok di dekat tangga.

Si bocil mulai menghitung jarinya. "Enggak tadi aku dah tidur, satu, dua, tiga, empat kali. " si bocil memamerkan empat jarinya ke muka Alfred sambil nyengir sampai giginya kelihatan.

(Mengelus kepala Gilbert) " Itumah kamu, kiddo. Tu (mengerakan dagu) papa capek. " Ujar Alfred.

Gilbert awalnya men-pout-kan bibir. Kemudian menoleh. Terdengar suara halus orang sedang ketawa-ketiwi. Gilbert makin manyun, geleng-geleng kepala.

Alfred tersenyum. Alfred mengelus kepala bocil itu, kali ini sampai surai perak itu acak-acakan. "Tidur dulu sono, kiddo. " Gilbert manyun. " Aku bukan bocil, Om! Gilgil udah becal! Gilgil engga tidul sore. " habis bilang itu Gilbert menguap lebar.

Alfred tertawa kecil. "Sure, kiddo. Sure." Kemudian menggendong keponakannya.

To be continue

XxXxXxXxX

Eugene Fitzherbert = tokoh cowok di film rapunzel (tangled )

narsiscus = daffodil. Memang mekar di musim dingin sampe musim semi. Salah satu bunga yang mekar pertama kali di tengah iklim keras musim winter.