Aku memuntahkan bunga itu untuk kesekian kalinya. Kali ini tulip merah. Aku menatap kosong bunga itu. Warnanya yang merah bercampur dengan bau darah, ini tidak bagus.
Aku dengan cepat membersihkan noda darah yang tersisa dan bergegas duduk dan bersandar di samping tempat tidur sembari menghela napas berat.
Aku terbatuk pelan, untung saja bukan sesi kedua. Sejak Minggu lalu, aku merasakan rasa sakit di dadaku dan kupikir itu hanyalah rasa sakit biasa, atau hanya kurang tidur. Memang sih aku begadang malam itu jadi tentu saja aku mengira itu adalah penyebabnya. Taunya bukan.
Penyakit Hanahaki. Itulah yang sedang dideritaku sekarang. Dan kalian tahu siapa yang aku sukai. Siapa lagi kalau bukan Kacc—ah aku mulai terbatuk hanya dengan memikirkannya.
Aku bersiap untuk ke ruang tamu asrama untuk makan malam. Karena aku tebak dalam waktu dekat Iida-kun atau lebih buruk Kacchan akan datang dan itu bukan pertanda yang baik buatku.
Tok tok tok
Nah, 'kan. Kubilang juga apa. Aku berdiri sembari mengibaskan debu dari pakaianku. Membuka pintu dan menemukan Todoroki-kun lah yang berada di depan pintu kamarku.
"Todoroki-kun, ada apa?" tanyanya.
Tidak biasanya Todoroki-kun yang mengetuk, yah walaupun kadang-kadang juga pernah. Aku hanya heran saja.
"Iida menyuruhku memanggilmu karena dia sedang memanggil yang lain," katanya datar.
Aku hanya mengangguk dan menutup pintu. Kami menuju ruang tamu dan terlihatlah pertengkaran khas dari geng Bakusquad di mana Kacchan seperti biasa di bully teman-teman sekelompoknya dan si pemimpin yang meledak-ledak melontarkan ancaman pembunuhan. Aku tersenyum saat melihatnya tanpa sadar rasa nyeri yang kurasa barusan berkurang hanya dengan memandang dirinya seorang.
Aku duduk bersebelahan dengan Todoroki-kun dan Iida-kun di sebelahku. Dan saat mataku menatap Kacchan yang ternyata berhadapan denganku, kami membeku. Aku degan cepat pulih dan menyapanya.
"Hai, Kacchan."
Kacchan hanya berdecak dan mengambil makanan miliknya yang terlihat merah. Berapa banyak cabai yang dia taruh di sana?!
Aku hanya menggeleng maklum dengan sifat Kacchan yang kontras dengan Quirk miliknya.
Setelah makan malam kami segera pergi ke kamar masing-masing. Namun, saat aku akan kembali ke kamarku, Kacchan menahanku di tangga sambil menyilangkan tangan.
"Ada apa, Kacchan?" tanya sambil mengangkat alis.
"Apa kau sakit?"
Aku menelan ludah gugup.
"A-Apa yang kau bicarakan, Kacchan? Aku sehat, kok!"
Kacchan hanya diam dan mendengus. Ia langsung pergi ke kamarnya sendiri meninggalkanku yang hanya menatapnya bengong.
"Kacchan aneh," gumamku.
Di kamarku aku langsung menghempaskan diriku tempat tidur dan menghadap dinding. Aku tidak menyangka Kacchan akan menyadarinya.
"Uhuk."
Aku berhasil menahan diri untuk tidak batuk saat di depan Kacchan. Rasa gatal di tenggorokanku sudah tak bisa di tahan hingga aku langsung lari ke kamar mandi dan kembali batuk dan memuntahkan kelopak bunga.
Kelopak bunga lavender.
"Ugh—uhuk!" Aku kembali batuk dan kembali memuntahkan kelopak bunga. Setelah membersihkan darah dan kelopak bunga yang tersisa aku langsung bersandar di samping kasurku dan mengambil inhaler di laci mejaku. Ku hirup benda itu sampai rasa sesak di dadaku berkurang.
Aku menghela napas lega saat rasa nyeri itu berkurang. Aku tidak tahu berapa lama ini akan terus berlanjut.
Apakah aku akan mati? Hanya karena cinta? Aku bahkan tidak tahu apa yang aku cintai dari si pirang meledak-ledak itu.
Mungkin karena itu adalah dia.
Aku segera menjatuhkan diriku di tempat tidur sembari menghela napas membawa inhaler di tanganku dan kembali menghirupnya. Tanpa sadar, aku tertidur hingga pagi menyingsing.
~•~
Pagi menyingsing. Sinar mentari pagi menyelinap di antara celah gorden yang tertutup. Aku membuka mataku saat alarm All Might milikku berbunyi.
Aku merubah posisiku menjadi duduk di tepi ranjang dalam keadaan lesu. Mengusap mataku yang masih luar biasa mengantuknya. Aku berjalan ke balkon dan menarik gorden hingga terbuka. Mentari pagi yang mengintip dari pepohonan terlihat membawa nostalgia. Aku menghirup angin pagi yang menyegarkan otakku dan bersiap memakai baju olahragaku. Setelah mencuci muka dan sikat gigi, aku langsung ke luar asrama untuk joging sebentar.
Di sela-sela joging ku, aku menghirup udara sebanyak yang keperluan untuk menyegarkan diriku, karena alasan kemarin aku butuh refreshing.
Terlalu sibuk dengan diriku sendiri aku tidak menyangka akan bertemu Kacchan. Si pirang meledak-ledak itu menatapku dengan wajah cemberut khasnya dan aku berniat putar balik ingin kembali ke asrama.
"Deku," panggil Kacchan.
Aku hanya tersenyum canggung.
"Hai, Kacchan," sapaku.
"Ada yang ingin aku bicarakan," ujar Kacchan.
Dan begitulah aku terjebak dengannya sekarang. Kami hanya berjalan-jalan seperti biasa saja, tidak ada lari pagi karena itu sudah pupus saat kami bertemu.
"Aku ingin meminta saranmu ... tentang sesuatu," kata Kacchan memulai.
Aku terdiam dan membiarkan Kacchan melanjutkan, jika aku menunjukkan reaksi terkejutnya atas apa yang dia minta, sudah dipastikan dia akan meledakkan ku saat itu juga. Lebih baik cari aman.
Jarang-jarang Kacchan bisa bersikap seperti ini, meminta saran, percayakan kau? Sejak pertengkaran di Ground Beta kami menganggap diri sendiri rival. Memang sikap Kacchan yang dulu masih ada tapi aku senang Kacchan-ku kembali dan bukan seorang anak yang dipenuhi ego dan rasa superioritas yang sombong.
"Uraraka itu, dia ... apa kau tau makanan kesukaannya?" tanya Kacchan sambil mengelus belakang lehernya. Dia terlihat malu?
"Kenapa kau menanyakan itu?" tanyaku.
"Ayolah, jawab saja, bodoh!"
Aku langsung tersedak karena responnya yang kasar dan menyilangkan tanganku dan mengapit daguku.
"Hm ... dari yang ku dengar dari Tsu-chan Uraraka-san sangat menyukai kue cokelat," jelasku. Aku memandang teman masa kecilku. "Kenapa kau bertanya?"
"Tidak ada, aku pergi dulu." Dengan itu aku dibuat kembali heran dengan tingkahnya. Dia kembali ke asrama terlebih dahulu. Aku diam di tempat memikirkan apa yang bisa membuat Kacchan seperti itu. Aku bersumpah aku melihatnya tersenyum sebentar sebelum kembali memasang wajah khasnya.
Mendadak nyeri di dadaku kembali terasa, aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa firasat buruk. Semoga bukan yang kupikirkan.
~•~
Hari ini adalah akhir pekan, hari Minggu dan kami tidak mempunyai sekolah tapi itu di isi dengan PR yang menganggur menunggu untuk di kerjakan.
Sebagian siswa yang notabenya adalah malas, mereka mengeluh apalagi hari ini udara sangat panas.
Iida-kun sang perwakilan kelas yang rajin dan disiplin dengan senang hati menceramahi teman-temannya sembari memotong udara. Tengah hari ini kami sedang bersantai di ruang rekreasi. Semua siswa 1-A saat ini sedang menonton film. Aku mengedarkan kan pandanganku pada jam yang sudah menunjukkan pukul 1 siang. Saat melihat setiap siswa, aku bingung karena tidak biasanya Kacchan hilang dan juga Uraraka-san.
Aku berdiri dan memberitahu Todoroki-kun kalau aku izin ke kamar mandi. Todoroki-kun hanya mengangguk dan aku segera berlari memasuki kamar mandi. Setelah selesai mengurus urusan pribadi aku segera ke wastafel untuk mencuci tanganku.
Aku segera kembali ke ruang rekreasi untuk menonton film bersama teman-teman. Senyumku mengembang saat aku menyenandungkan lagu kesukaanku. Tepat saat kakiku menginjakkan ruang rekreasi pintu asrama terbuka dengan Kacchan dan Uraraka-san senyumku memudar.
Mereka terlihat habis dari kencan walau kenyataan bukan seperti itu. Uraraka-san terlihat lelah dan Kacchan bahkan dengan santainya menopangnya agar tidak terjatuh.
"Oh, Uraraka-kun dan Bakugo-kun, selamat datang kembali," sambut Iida. Seketika atensi semua orang beralih ke dua orang yang memasuki ruang rekreasi.
Seperti biasa, sang ratu gosip, Ashido-san melompati sofa dan mulai menggoda dua orang berbeda gender itu.
"Ara-ara~ apakah kalian habis berkencan?"
Seketika wajah Uraraka-san memerah dan langsung melepaskan diri dari pegangan Kacchan.
"Ti ... tidak benar, aku bertemu Bakugo-kun dari habis berbelanja. Jadi bukan seperti itu!" bantahnya masih salah tingkah dengan pertanyaan barusan.
Ashido kemudian beralih ke Bakugo hanya untuk di teriakkan dengan responnya yang khas.
"Menanyakan hal itu lagi, ku bunuh kau."
Alhasil, gadis itu hanya menggerutu dan kembali ke tempat duduknya. Namun, ia dengan cepat pulih dan melontarkan godaan lain yang membuat Kacchan naik pitam dan mengejarnya mengelilingi ruang rekreasi. Jadilah kekacauan yang baru di mulai sedangkan Uraraka yang telah dikerumuni para gadis dipaksa menceritakan perjalanan "kencan" dengan si pirang pemarah hanya bisa tergagap dan memerah menutupi wajahnya.
Mendadak sesuatu menggelitik tenggorokanku, aku langsung lari ke kamarku dan mengunci pintunya. Begitu saja, aku kembali terbatuk. Aku terduduk bersandar di pintu sambil menahan perasaan sesak di dadaku yang kian merayap.
Semakin kupikirkan semakin menjadi jadinya. Aku mengambil inhaler yang tergeletak di tempat tidur dan langsung menghirupnya tapi tidak cukup. Alhasil, yang bisa kulakukan adalah membiarkan batuk itu terus berlanjut dan membuatku memuntahkan beberapa kelopak bunga lily ungu.
Aku mengerutkan kening. Semakin lama bunga yang kumuntahkan semakin banyak, padahal baru seminggu.
Tiba-tiba ada yang mengetuk. Sontak aku langsung menuju kamar mandi dan membersihkan sisa noda darah ada. Aku berusaha bersikap biasa saja karena rasa gatal di tenggorokanku masih terasa dan aku tidak ingin ada yang tahu.
"Deku-kun?"
Wah, Uraraka-san toh.
"Se—uhuk sebentar," kataku disela batukku.
Aku cepat-cepat membuka pintu dan terlihatlah Uraraka-san yang seperti biasa cantik dengan senyum menawannya.
"Ada apa, Uraraka-san? tanyaku.
Uraraka-san yang ingin mengatakan sesuatu terjeda, wajahnya berubah khawatir. "Anu, Deku-kun ... apa kau sakit?"
"Tidak?"
"Tapi, wajahmu kelihatan pucat, apa aku perlu panggilkan Aizawa-sensei atau ke Recovery Girl?"
"Tidak apa-apa, kok. Aku hanya batuk saja, katakan pada teman-teman kalau aku tidak bisa bergabung dengan mereka, aku akan istirahat," kataku.
"Tunggu Deku-kun—"
Dengan itu aku tidak sempat mendengarkan perkataan apa yang ingin dikatakan Uraraka-san karena aku terlanjur panik dan kembali menjatuhkan diriku kelantai.
Untung saja ini hanya nyeri di dada tapi itu tetap saja menyakitkan. Diluar pintu aku bisa mendengar ada yang datang. Tapi aku terlalu mempermasalahkan perasaanku dan keinginanku untuk memikirkan penyakit ini di banding siapa yang ada di balik pintu. Kelihatannya seperti banyak langkah kaki.
Ini sudah jam 2 siang. Aku tidak sadar kalau aku sudah satu jam bergumul di sini. Langkah kaki di balik pintu juga sudah menghilang menjadi keheningan. Aku menghela napas lega dan merosot ke pintu. Masih ada satu jam waktu yang tersisa. Aku segera menuju meja belajar dan sekalian membereskan PR yang belum ku selesaikan.
~•~
Aku membuka mataku, merentangkan tanganku dan melihat jam weker yang ternyata menunjukkan jam empat. Ugh, sepertinya aku ketiduran. Saat aku merubah posisiku, seketika kakiku maupun tanganku langsung kesemutan. Aku mencoba berdiri tapi sedikit saja bergerak sudah berefek buruk. Rasa geli seperti ditusuk jarum itu benar-benar meresahkan.
Dengan enggan aku menunggu hingga lima menit untuk meredakan sedikit saja kesemutan itu. Lima menit berlalu aku sudah bisa berjalan meskipun masih tersisa sedikit seperti tertusuk jarum.
Aku membuka pintu kamarku dan mengintip hingga dirasa aman untuk melangkah keluar kamar. Aku memasuki dapur dan segera melakukan apa yang harus kulakukan. Yaitu membuat teh, untuk diriku sendiri.
Saat selesai, aku menuju sofa dan menghirup aroma teh yang dicampur dengan jahe, seketika gatal di tenggorokanku berkurang hingga aku bernapas lega. Syukurlah.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekelilingku dan bertanya-tanya ke mana perginya semua orang. Aku menonton TV sebentar dan dengan cepat bosan dengan acara TV yang tidak ada seru-serunya.
Saat mematikan TV, tiba-tiba saja aku mendengar suara gaduh dari halaman belakang. Aku segera pergi dan mengintip dari jendela untuk memastikan ada apakah gerangan yang menyebalkan keributan itu.
Terdengar ucapan seperti, ayo lakukan, dan katakanlah, berulang-ulang. Saat mengintip di balik kaca jendela aku melihat semua teman-temanku, tak ketinggalan kelompok Bakugo dan kelompokku. Lalu ...
Deg
Di sana, berdiri dengan keromantisannya yang pasti membuat para jomblo iri adalah Kacchan yang sedang memegang sebuket bunga dan apakah itu kue cokelat?! Dan Uraraka-san yang tersipu sembari menutupi wajahnya karena malu.
Sebuah pengakuan.
"Uraraka Ocacho, apa kau mau jadi pacarku?"
Jderr
Bagai tersambar petir aku langsung membeku. Pikiranku kosong. Aku hanya diam saat Uraraka-san mengangguk. Mereka tampak bahagia. Kacchan dengan cepat memeluknya dan Uraraka-san balas memeluknya. Itu seperti lamaran pernikahan.
Teman-teman pada menyoraki mereka. Ada yang memberikan semangat dan ada yang menangis bahagia, memberikan selamat dan sebagainya.
Aku hanya terdiam menatap kebahagian bersinar di depan mataku. Tanpa sadar air mata menetes. Aku menunduk.
"Uhuk ... uhuk—"
Begitu saja, aku langsung merasakan nyeri yang sudah familiar menyelinap kembali, kali ini rasanya 3 kali lipat lebih menyakitkan. Aku dengan cepat membungkam mulutku untuk mengurangi efeknya namun malah memperparah keadaannya.
Sudah tiga kali aku kambuh hari ini, apakah ada yang lebih parah dari ini?
"Uhuk—"
Dan yang satu ini bunga lain. Satu bunga peony merah utuh yang belum mekar. Aku tidak punya waktu untuk mempedulikan maknanya saat batuk lain menyusul.
Rasanya sangat menyakitkan. Rasa sesak di dadaku membuatku tidak bisa bernapas dengan baik. Disela-sela hal itu aku menangis, merutuki perasaanku yang bodoh.
Kenapa aku harus jatuh cinta padanya jika ini membuatku menderita? Aku bahkan tidak menyadari seseorang mendekat hingga orang itu memanggilku.
"Midoriya?" panggilnya.
Suara berat dan lelah itu sangat kukenal, aku mendongak bertatapan dengan wajah khawatir guru wali kelasku. Beliau tidak bertanya. Ia hanya menghela napas seolah sudah lelah dengan semuanya dan merogoh sakunya. Menelepon seseorang.
"Ya, ini Aizawa, aku butuh bantuan mu, Chiyo-san, ya tolong, maaf merepotkan."
Aizawa-sensei mematikan teleponnya dan menopangku untuk berdiri. Aku masih merasa sesak napas dan tidak protes saat Aizawa-sensei menuntunku.
"Apa kau punya sesuatu yang bisa meredakan sesak napas mu?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk dan merogoh inhaler dari sakuku dan memberikannya. Aku duduk di sofa dan Aizawa-sensei berjongkok di depanku mengarahkan inhaler itu ke mulutku. Beberapa menit kemudian rasa sesak itu berkurang.
Sensei menyuruhku untuk membersihkan noda darah yang ada di baju dan tanganku yang masih menggenggam bunga yang ku muntahkan. Aku hanya mengangguk dan pergi.
Kami pun pergi ke sekolah langsung memasuki UKS dengan Recovery Girl yang sudah siaga.
Aku dibaringkan di ranjang dan diperiksa, aku tidak tahu apa yang dilakukan Recovery Girl aku memilih diam dan membiarkan beliau memeriksaku.
"Bagaimana keadaannya?"
"Aku tidak tahu banyak tentang penyakit ini, terus terang saja Shota-kun. Kau harus membawanya ke rumah sakit untuk lebih jelasnya.
Tapi, dari apa yang aku lihat, penyakit anak itu terlihat cukup parah. Sudah mulai memasuki stadium 2. Kalau tidak ditangani itu akan berdampak buruk baginya," jelas Recovery Girl.
"Aku akan meresepkan beberapa obat pereda nyeri untuk mengurangi efeknya walaupun tidak banyak membantu," tambahnya.
"Terima kasih, akan kulakukan, maaf merepotkanmu."
"Tidak apa-apa, sudah tugasku."
Dengan itu kami kembali ke asrama. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Jadi hampir 2 jam kami berada di UA. Aizawa-sensei sempat menyarankan ku untuk libur besok tapi aku menolak dengan alasan tidak ingin tertinggal. Merasa tidak ada gunanya berdebat beliau hanya bisa menghela napas lelah dan pergi setelah memberikan beberapa ceramah singkat tentang menjaga diri.
Saat aku membuka pintu asrama, aku di kejutkan oleh Iida yang berada di depan pintu.
"Midoriya-kun, ke mana saja kau selama ini, kami mencarimu tadi," kata Iida-kun.
"Ah, aku ada urusan dengan Aizawa-sensei karena beliau memanggilku untuk mematikan sesuatu, maaf karena tidak mengabari," jelasku.
"Begitu, ya? Kalau begitu aku akan mengabari semua orang, mereka khawatir karena kau menghilang selama setengah hari ini," katanya lagi sembari memasuki ruang rekreasi.
Di ruang rekreasi teman-teman sudah berkumpul hanya saja dengan banyaknya siswa yang mengerumuni dua sejoli yang baru jadian. Uraraka dan Kacchan saling berhadapan.
Saat Uraraka-san yang tersipu karena terus digoda teman perempuannya ia menoleh dan menatapku. Aku hanya tersenyum dan memberi isyarat diam. Namun itu tidak ada gunanya saat Kacchan dengan lantang memanggilku.
"Deku." Seketika seluruh atensi di arahkan padaku. Kelompok Bakugo langsung berseru dan menarikku ke sofa. Mereka bercerita tentang kejadian apa yang terjadi pada siang tadi karena aku tidak ikut dalam acara pengakuan Bakugo.
Aku hanya mengangguk-angguk, sesekali tertawa kecil saat mereka bercerita tentang kejahilan apa yang dibuat teman-teman. Sejenak aku melupakan penyakit ini dan membiarkan diriku bersenang-senang. Setidaknya untuk saat ini.
Bersambung ...
Catatan :
Ini adalah cerita yang ditulis dengan spontan ya, mohon maaf atas kurangnya feel dalam cerita ini. Kekurangannya mungkin ada. Saya menulis ini untuk meningkatkan tulisan karena saya masih pemula. Kritik dan saran di terima. Sekian, saya Chii-chan pamit undur diri.
Kalian mau lanjut atau sampai sini aja? Kalau lanjut silakan berkomentar.
