Izuku membuka pintu apartemennya. Matanya yang sembab terlihat kentara. Ia menyeret tas kuning yang sudah usang ke dalam ruangan, memutar kenop pintu tanpa daya. Begitu masuk, ia, melempar tasnya ke sudut kamarnya, membiarkannya tergeletak.
Hari ini hari yang berat, sama seperti biasanya. Lagi-lagi Kacchan-teman masa kecilnya-membakarnya lagi, gakurannya hangus dan robek di beberapa tempat. Kepalanya sangat sakit akibat terbentur meja. Ia benar-benar lelah sekarang yang ia inginkan adalah ke kamarnya di mana ia aman dari dunia luar yang terus memojokkannya.
Izuku, dengan langkah gontai, berjalan menuju tempat tidurnya tanpa melepas gakurannya, tubuhnya yang tidak bisa lagi menahan beban kelelahan mental dan tenaganya ambruk di tempat tidur kusamnya. Anak SMP itu mengubur wajahnya ke bantal dan mulai terisak tanpa suara. Tangannya yang diperban mengepal kuat hingga darah menodai perban putih itu.
Lalu, ia mengubah posisinya menghadap dinding kamarnya, ia memegangi dadanya saat merasakan rasa sakit familiar yang sudah lama tidak dirasakannya. Bukan tidak pernah; sering malahan, hanya saja itu adalah jenis rasa sakit yang membuatnya sangat rapuh, hingga ke tingkat sudah tidak lagi berharga dan menghargai hidup sebagaimana tekadnya yang biasa.
Itu adalah jenis rasa sakit yang menyiksa, rasanya seperti tertusuk ribuan jarum yang tak mau meninggalkannya seakan mengharapkannya untuk berpikir ... Ya kau tidak berguna, kau hanya beban, kau hanya merepotkan orang-orang di sekitarmu, bahkan ibumu juga membencimu. Orang Quirkless sepertimu lebih baik mati saja, mati, mati mati-
Semakin dipikirkan, rasa sakit di dadanya kian bertambah, ia memejamkan matanya, mengangkat tangannya untuk menutup telinganya dari semua bisikan merendahkan itu.
"Ku ... mohon ... berhentilah, ini sangat menyakitkan ..." Ia bergumam lirih semakin meringkuk saat permintaan itu malah memuat suara-suara itu semakin keras di telinganya. Yang bisa ia lakukan hanyalah menangis dalam diam sembari terisak. Di saat seperti itu ia akan mengingat apa yang pernah di katakan teman masa kecilnya.
Berdoa saja kau punya Quirk di kehidupan selanjutnya dan melompatlah dari atap gedung.
Ia ingat Kacchan; teman masa kecilnya, mantan sahabatnya mengatakan kata-kata yang begitu pahit itu dan tidak bisa menahan diri untuk berpikir tentang betapa mudahnya mengatakan kematian.
'Bahkan All Might berpikir tidak ada menjadi pahlawan tanpa Quirk,' batinnya.
Sejak saat itu sang pahlawan bukan lagi idolanya.
Ia semakin meringkuk seperti bola saat pikiran-pikiran itu tidak mau hilang. Isakan itu dengan cepat berubah menjadi rintihan dan gumaman.
"Sakitsakitsakitsakitsakitsakitsakit!"
Dengan cepat sesuatu merayap di tenggorokannya, ia segera menutup mulutnya berlari ke wastafel dapur dan segera muntah. Tidak ada makanan yang keluar dari mulutnya, itu karena ia bahkan tidak sarapan tadi pagi.
Tangannya dengan gemetar memegang keran wastafel dan membasahi perban yang berdarah. Setelah perutnya kosong barulah rasa gatal di tenggorokannya berhenti. Napasnya terengah-engah dan air mata kembali mengancam akan keluar. Ia dengan cepat mematikan keran setelah membersihkan mulutnya. Ia kembali ke kamarnya, duduk di tempat tidur.
Tangisannya sudah mereda. Izuku terdiam, matanya menatap kosong lantai kamarnya meskipun pikirannya masih di penuhi suara-suara itu, ia tidak punya tenaga lagi untuk meratap.
Bangun dari tempat tidurnya. Ia segera menatap kamarnya yang lumayan rapi. Yah, rapi karena tidak ada yang harus dibersihkan. Kamarnya tidak memiliki hiasan poster maupun action figure All Might miliknya-lagipula ia juga tidak tahan melihatnya. Melihatnya meninggalkan rasa pahit di mulutnya. Alhasil semuanya dijual untuk memenuhi kebutuhannya dan membayar uang sewa.
Sejak 2 Minggu yang lalu, ibunya memberinya surat tentang harus menyusun suaminya keluar negeri. Tidak ada uang saku, tidak ada ucapan selamat tinggal hanya tulisan singkat yang terkesan dingin, seakan-akan ia tidak mau repot-repot untuk membuat surat. Izuku tahu ibunya sudah lelah meladeninya-si bocah Quirkless yang hanya memberinya beban. Pada akhirnya, itulah terakhir kalinya ia mendengar ibunya dan sampai sekarang tidak pernah.
Tidak perlu orang jenius untuk berasumsi bahwa ia ditelantarkan. Rasa lapar mengalihkannya dari lamunannya, menghela napas, Izuku beranjak dari tempat tidur, melepas gakurannya, mandi dan berganti ke pakaian santai, celana hitam selutut dan kaus putih polos.
Langkahnya lunglai saat ia kembali ke dapur, membuka lemari dan menemukannya kosong. Ia menghela napas dan menutupnya kembali. Kembali ke kamarnya ia mengambil sesuatu dari lemari pakaian. Sebuah amplop berisi uang terakhirnya. Setelah ini ia harus mencari pekerjaan jika ingin bertahan hidup. Ia mengantonginya di jaket hitam yang baru ia tarik dari gantungan baju dan berjalan keluar rumah.
Waktu telah menunjukkan jam 8 malam, tempat tinggalnya termasuk tempat yang cukup tersembunyi dari luar sehingga perlu masuk beberapa gang untuk mencapai jalan kota.
Ketika tiba di sebuah minimarket terdekat ia segera mengambil bahan-bahan yang cukup murah, apapun yang penting murah dan mengenyangkan. Setelah membayar kasir ia memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati dunia luar yang damai tanpa harus berurusan dengan hinaan dan penindasan yang terjadi saat di sekolah.
Ketika sampai di sebuah cafe, ia segera masuk dan duduk di salah satu meja disudut di mana privasi lebih didapatkannya. Tak lama seorang pelayan datang dan menanyakan pesanannya.
"Kopi hitam biasa," jawabnya.
"Baik, pesanan Anda akan tiba dalam beberapa menit."
Setelah kepergian si pelayan, Izuku melamun sembari memandangi dunia luar. Orang-orang berlalu lalang, mengobrol. Benar-benar kedamaian yang menenangkan, kalau saja ia bisa menikmati hidup seperti mereka. Tapi ... lupakan saja.
Tak lama kemudian, pelayan datang membawa pesanan dan kembali melanjutkan tugasnya.
"Ini pesanannya, Tuan," kata si pelayan.
"Terima kasih."
Ia menyesapnya dan merasakan cairan hangat melewati tenggorokannya dan membuat otaknya tenang. Tak lama, perhatiannya tertuju pada TV yang menayangkan berita terbaru.
Berita hari ini, setelah sekian lama lolos dari kejaran pahlawan dan polisi, seorang vingilate bernama Silver berhasil di tangkap oleh seorang pahlawan bawah tanah. Identitas sang vingilate diketahui adalah seorang pria berusia 31 tahun, nama asli Yori Dango, Quirk-nya adalah Void Grip memungkinkan penggunanya untuk menghilangkan wujud benda yang dipegang tanpa mengubah bentuk atau beratnya-
Ia tidak terlalu tertarik dengan berita itu dan kembali menyeruput kopinya tapi obrolan orang-orang mulai membicarakan berita itu menarik perhatiannya.
"Hah ... kau tahu, aku kenal dia, aku pernah diselamatkan olehnya. Dia adalah satu-satunya vingilate yang bertahan dari kejaran pahlawan hampir satu tahun, lho. Aku terkesan," katanya.
"Kau benar, meskipun dia seorang vingilate, dia melakukan pekerjaan lebih baik dari para pahlawan hingga Komisi Pahlawan merasa terancam dengannya," kata laki-laki satunya.
Kemudian, laki-laki itu memandang rekannya yang memandang kopi ditangannya dengan ekspresi wajah mengerut.
"Ada apa, Atsuro?"
Ia bersenandung dan menatap sang rekan. "Tidak apa-apa, aku hanya penasaran. Menurutmu ..." Rekannya meletakkan gelasnya tanpa melepasnya. Ia mendekatkan wajahnya sambil tersenyum. "Berapa lama waktu yang dibuatkan untuk vingilate lain muncul?"
Rekannya mengerutkan kening. "Mana mungkin aku tahu tapi ... jika ada, aku juga penasaran seperti apa dia," katanya.
Kemudian, percakapan apapun diabaikan karena kopi yang diminumnya sudah habis. Jam juga menunjukkan pukul sepuluh malam. Dengan itu Izuku memacu langkahnya meninggalkan cafe dan kembali ke apartemennya sembari memikirkan percakapan orang-orang itu.
Catatan :
Aku hanya menulis apa yang aku pikirkan. Jadi yah ... ini hasilnya. Lagipula aku juga bingung mau ngasih judul apa.
