Malam itu sama seperti malam-malam biasa bagi semua orang. Jalanan yang ramai oleh orang-orang yang sekedar bersenang-senang keluar rumahnya, atau pekerja yang pulang dan masih bekerja saat itu.

Seruan tawaran dari berbagai arah bagaikan nyanyian yang membawa perasaan nostalgia akan dirinya sendiri. Pada detik ini ia berhenti di tengah jalan, orang-orang hanya memandang sekilas sebelum kembali melanjutkan langkah mereka yang tertunda.

Conan Edogawa. Seorang bocah SD yang jenius berdiri di sana menatap rembulan yang bersinar terang di antara bintang-bintang.

Sapuan angin yang menyapa kulit pucatnya berdesir hingga mampu menghalangi pandangannya yang memaksanya menghalau angin dari balik mata safirnya yang terhalang lensa kacamata kebesarannya.

Mungkin buruk membiarkan seorang anak kecil berjalan-jalan sendirian di malam hari terutama malam sudah agak larut sekarang meskipun kota masih terus beroperasi.

Berbekal keinginannya sendiri untuk menyelinap di malam hari setelah memastikan Kogoro atau Ran tidur saat itu juga. Mungkin terdengar buruk jika dipikir-pikir membiarkan seorang anak kecil yang 'dewasa sebelum waktunya' keluar tanpa pengawasan.

Ya, meskipun dia bukanlah seorang anak kecil sungguhan. Dia adalah anak SMA, detektif sekolah yang terkenal dan umurnya 17 tahun sekarang. Siapapun tahu bahwa dia bisa menjaga dirinya sendiri dan meskipun agak diragukan dia tidak akan mengikuti orang asing mencurigakan di malam hari.

Berjalan memutuskan kemana arah pandang membawanya. Kaki mungilnya menyusuri undakan tangga di sebuah bangunan tak terpakai yang sudah lama tak di jamah. Dengan alasan 'angker' yang menambah kesan horor membuat siapapun bergidik dan enggan memasuki kawasan itu.

Namun, pengecualian bagi Edogawa satu ini. Karena ia mengandalkan logika, mana mungkin ia akan mempercayainya hal-hal itu begitu saja, karena sudah dipastikan hantu-hantu itu adalah manusia itu sendiri.

Saat ini Conan sedang memandangi pemandangan kota Beika, tempat tinggalnya dari ketinggian beberapa meter dari atap gedung terbengkalai.

Mata safir yang tersembunyi di balik kacamatanya terkadang bersinar di kegelapan. Conan mendongak hanya untuk melihat kerlap Kerlip bintang berjejer dengan bulan bersinar sempurna yang membuat seseorang sejenak terkagum dengan malam yang dingin ini.

Dia hanya ingin sendirian sekarang. Entah apa yang sedang dipikirkan anak jenius ini. Siapapun mengira dia adalah anak jenius dengan kepintaran diatas rata-rata anak umur tujuh tahun.

Dia yang terbiasa hidup dikelilingi oleh orang-orang dari kepolisian setempat dan orang-orang dewasa, dibandingkan bersama anak-anak seusianya. Jika dipikir-pikir bisa di bandingkan TKP seperti taman bermain baginya. Meskipun dia tidak bisa bebas melakukan tugasnya sebagai seorang detektif. Karena orang-orang cenderung meremehkan perkataan anak kecil sepertinya.

Agak mengesalkan saat pembelaanmu tak di indahkan oleh orang-orang hanya karena gagasan 'ucapan anak kecil tidak dapat di percayai' lalu bagaimana dengan gagasan 'anak-anak selalu berkata jujur?'

Angin berdesir menerbangkan rambutnya. Kacamatanya yang merosot ia tekan agar tidak terjatuh saat ia kembali dari perjalanannya.

Malam ini sangat damai, ia berharap lebih banyak kesendirian seperti ini sekarang berharap waktu akan memberinya lebih banyak lagi.

Sejenak ia terpaku pada pemandangan kota di bawahnya, tatapannya berubah kosong selama beberapa menit. Kemudian beberapa kenangan membanjirinya selama seperkian detik.

Di mana kenangan pertama merujuk pada hari di mana identitas sebagai Shinichi Kudo tergantikan oleh Conan Edogawa. Di mana orang-orang berpakaian hitam itu memaksanya meminum pil yang membuatnya menyusut, dan saat rasa sakit luar biasa terasa menghantam seluruh tubuhnya.

Saat kegelapan menelan dan tersadar sekali lagi, pemandangan di mana tubuh yang semula gagah digantikan oleh tubuh rapuh anak kecil.

Dimana ia berusaha berlari dengan kedua kaki dan pakaian yang terlalu besar dan hari dimana ia harus meyakinkan tetangganya, seorang penemu bernama Agasa Hiroshi bahwa ia adalah Shinichi Kudo.

Dan hari dimana ia menjadi bagian dari keluarga Mouri dengan Ran teman masa kecilnya dan ayah teman masa kecilnya. Di sana lah kehidupannya berubah drastis.

Bocah detektif itu memejamkan mata dan beringsut bersandar pada pembatas beton yang di pagari besi untuk kemudian menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.

Memori lama terulang bagaikan film yang terus berputar di benaknya. Ia merindukan kehidupan lamanya sebagai anak SMA. Selama ini, mungkin kehidupan sebagai anak berusia tujuh tahun terlihat menyenangkan.

Dia juga melewatkan beberapa bulan dari kehidupannya sebagai siswa SMA, kehidupan remaja yang hanya terjadi sekali. Orang-orang yang tidak tahan menginjakkan kakinya untuk melangkah di dunia orang dewasa kadang akan berpikir menjadi anak kecil sekali lagi dan kau akan terbebas dari beban orang dewasa tapi Conan menentang gagasan itu.

Lebih banyak tekanan yang di dapatnya jauh lebih banyak dari kehidupannya sebagai siswa SMA.

Dia yang harus menyembunyikan identitas asli di balik sosok Conan Edogawa dan bersembunyi dari orang-orang yang ingin membunuhnya demi orang-orang yang dia sayangi tetap aman.

Rasanya semua terasa salah.

Kemudian, suara langkah kaki malam itu terdengar samar. Conan tidak sadar akan kehadiran lain di sekitarnya karena pikirannya berkelana jauh pada masa lalu.

--/--

Puk

Terlonjak kaget oleh sentuhan di bahu yang tiba-tiba, refleks Conan menepis kasar tangan itu dan balas menatap tajam pada orang lain yang berjongkok di depannya.

"Takagi-keiji?!"

Sejenak orang yang dipanggil Takagi-keiji dengan nada kekanakan itu berkedip selama dua kali sebelum memunclkan senyum mengembang di wajahnya.

"Ah ... ya, apa yang kau lakukan di sini Conan-kun?" tanya Takagi.

Sambil mengusap matanya dia menjawab, "Um ... hanya menikmati angin malam?"

Pandangan mata Takagi sejenak melirik pemandangan kota sebelum kembali bertemu pandang dengan mata safir Conan.

"Kau tahu, angin malam itu tidak baik untuk kesehatan Conan-kun, lagipula bukannya anak-anak harusnya sudah tidur sekarang, dan apa yang kau lakukan di sini sendirian selain alasan itu?" sembur Takagi.

Selama beberapa saat mata safir itu enggan menatap mata sang detektif polisi sebelum berkata lagi.

"Eh, Takagi-keiji, apa yang kau lakukan di sini, bukankah kau juga harus pulang?" tanya Conan mencoba mengelak dari pertanyaan awal.

Sambil menghela nafas Takagi berkata, "Ini dan itu beda Conan-kun, aku baru saja pulang dari tempat kerjaku, dan itu wajar bagi orang dewasa sepertiku tapi tidak untukmu."

Sejenak, Takagi berdiri dan melangkah di sebelah Conan saat tangannya bersentuhan dengan pagar besi. Matanya memandang pemandangan kota Beika.

"Alasan aku ada di sini adalah, yah ... karena ini tempat biasa yang aku singgahi sepulang kerja, kau tahu ..."

Conan hanya menatap pria itu dengan mata safirnya, tidak menyangka detektif polisi itu mempunyai hal yang ia sukai seperti ini.

Memutuskan untuk bergabung dengannya Conan berdiri sejajar di samping Takagi dan melihat pemandangan kota sekali lagi.

"Conan-kun, sepertinya kau sedang banyak pikiran," tanya Takagi memecah keheningan.

Tiba-tiba suasana canggung terbentuk tanpa aba-aba, tanpa memberi kesempatan untuk membalas Takagi berkata lagi, "Kau tidak perlu berbohong padaku, ceritakan saja apa yang mengganggumu, aku selalu siap mendengarkan."

"Mau menceritakannya padaku?"

Terjadi keheningan, jawaban yang sudah Conan persiapkan urung tak terucap dan lebih memilih mengajukan pertanyaan.

"Takagi-san," panggil Conan.

Takagi berdehem.

"Menurutmu ... apakah normal bagi seorang anak untuk melihat begitu banyak kematian dalam hidupnya dari pada anak-anak seusianya?" tanya Conan. Meskipun pada dasarnya dia bukanlah anak sungguhan, Conan hanya ingin tahu pendapatnya saja. Tangannya mencengkram erat pagar besi lebih kuat.

Sejenak sang detektif polisi terdiam sebelum menarik sudut bibirnya dan berkata, "mungkin ... bagiku itu tidak normal. Cenderung anak-anak tidak di perbolehkan mendekati TKP ataupun mayat karena di khawatirkan mempengaruhi mental mereka, tapi menurutku—"

Menjeda ucapannya, Takagi berjongkok menyamakan tingginya dengan Conan, memegang kedua bahunya dan melanjutkan, "Aku percaya kau berbeda, kau lebih dewasa anak-anak seusiamu. Bukan itu saja... kau juga anak yang jenius di bandingkan rata-rata anak usia tujuh tahunan." Yah ... aku sempat berpikir bahwa kau... sebenarnya orang dewasa dengan pertumbuhan yang lambat karena ini kadang tidak masuk akal.

Setelah ungkapan panjang lebar dari seorang Takagi Wataru, sang detektif berdiri dan berkata, "Ayo kita pulang, aku khawatir Ran-san akan cemas jika dia tahu kau masih berkeliaran tanpa pengawasan."

Memilih mengangguk, Takagi mengulurkan tangan menyuruh Conan menggandeng tangannya dan disambut sebagai persetujuan. Conan tidak menolak karena Ran juga sering melakukannya padanya supaya dia tidak hilang tiba-tiba.

Mereka berjalan menuruni undakan tangga dan menyusuri jalanan yang lumayan sepi, Takagi melirk jam arlojinya yang menujukkan pukul 23:45 hampir tengah malam. Dalam perjalanan, keheningan kontras dengan malam yang dingin. Sejenak, lamunan detik berlalu membawa Takagi pada saat mereka berada dalam insiden pengeboman di lift hari itu. Anak di sampingnya ini, merupakan sosok yang menjadi harapan terakhir bagi nyawa mereka. Saat itu, segalanya melambat dan di tengah itu satu pertanyaan terlontar begitu saja dari mulutnya.

"Siapa kau sebenarnya?"

Pertanyaan itu terngiang-ngiang bersamaan dengan jawaban yang pada akhirnya hanya meninggalkan misteri lain yang tak terpecahkan.

"Aku akan memberi tahumu ... di kehidupan selanjutnya!"

Takagi bersumpah melihat sorot mata yang tajam dan bersinar di balik kacamatanya yang terlalu besar itu nyatanya tidak cocok untuk wajah kekanakan yang selalu di perlihatkannya.Nada suaranya juga berubah menjadi terdengar lebih dewasa, menurutnya.

Seketika lamunan buyar saat merasakan tangan di genggamannya, ia menoleh ke bawah hanya untuk melihat langkah linglung Conan yang berusaha mempertahankan kesadarannya di tengah langkahnya.

Karena merasa kasihan, Takagi berinisiatif untuk mengangkatnya. Tanpa perlawanan, kaki mungil itu terangkat daritanah dan menggantung di bawah tangan yang lebih kokoh.

Tanpa aba-aba kepalanya bersandar ke bahu sang detektif polisi sembari mencari kenyamanan dalam dekapan Takagi. Telapak tangan yang bebas mengelus rambut halusnya sambil turun ke punggungnya. Kesadaran perlahan semakin menipis bersamaan dengan suara terakhir yang di tangkap indranya.

"Tidurlah Conan-kun."

--/--

Takagi menghela nafas lega saat anak di pelukannya benar-benar tertidur. Cukup mengejutkan beberapa saat yang lalu kantuk tidak mengancam kesadaran anak itu sampai begitu tiba-tiba.

Bersandar pada bahunya, ia mengeluarkan setiap hembusan nafas teratur. Dari semua teori dan pemikirannya tentang Conan, kadang kala sikap wajar seorang anak kecil muncul dan itulah yang membuat Takagi berpikir itu hanya teori tak berdasar.

Tapi, pemikiran lain selalu muncul lagi berusaha menepis pendapatnya tentang Conan, dengan pemikiran 'ya, dia hanya berakting atau dia adalah orang dewasa yang menyamar' mungkin anak itu lebih dari kelihatannya.

Menghela nafas, ya ampun sudah berapa kali dia melalukannya. Takagi berusaha mengalihkan semua fantasi yang di bangunnya untuk memberi isyarat bahwa ada hal yang lebih penting saat ini, yaitu anak di pelukannya ini. Dia sudah benar-benar pingsan seakan tidak perduli pada dunia.

Tak lama dari kejauhan, muncullah sebuah bangunan familiar dengan tulisan di kaca yang bertuliskan "Kantor Detektif Mouri".

Ia mempercepat langkahnya sedikit tapi masih tetap meminimalkan kecepatannya agar tak menganggu tidur Conan. Tak berapa lama, pintu terbuka di kejauhan memperlihatkan Kogoro yang terlihat masih mengantuk terbukti dari tangan yang menghalangi kuapnya keluar dengan kemeja putih yang biasa di pakainya bersama dengan jas biru tuanya.

Di ambang pintu, Ran masih dengan piyama terlihat cemas saat berbicara. Saat jarak semakin dekat, Takagi melambai membuat atensi keduanya teralihkan padanya.

"Takagi-keiji ...," gumam Kogoro.

Ran pun mengalihkan perhatiannya pada sosok di pelukan Takagi.

"Conan-kun!"

"...Aku hanya ingin mengantar Conan-kun pulang." Melirik Ran, Takagi kembali berucap, "Ran kemarilah, bawa Conan-kun ke dalam."

Ran mengangguk tanpa banyak tanya dan memindahkan Conan ke perlukannya segera setelahnya berterima kasih. Memasuki rumahnya dan membaringkannya Conan di futon di kamar ayahnya.

Selagi mengurus Conan, Takagi dan Kogoro berbicara sebentar mengenai Conan tentu saja.

"Bisa jelaskan padaku kenapa bocah nakal itu bisa ada padamu Takagi-san? tanya Kogoro curiga sambil tangan terlipat dan menyipitkan matanya. Dengan keringat yang turun di pelipis kanannya Takagi memberi isyarat tangan.

"Tolong jangan mencoba menuduhku yang menghasut Conan-kun untuk keluar malam-malam Mouri-san," ujar Takagi.

"Kalau begitu, apa yang dia lakukan menyelinap di tengah malam seperti itu?"

"Aku tidak tahu pastinya. Aku ... hanya sedang berjalan-jalan sendirian dan mampir ke sebuah gedung terbengkalai—" seketika ucapannya terjeda bersamaan dengan respon cepat dari Kogoro.

"Gedung terbengkalai? Untuk apa kau repot-repot ke sana ...?"

"Yah... tidak ada salahnya, 'kan mencari tempat yang bisa meringankan beban pikiran?"

"Oh ...," kata Kogoro. "Tapi serius, apa yang di lakukan anak itu di sana?"

"Aku tidak tahu pastinya," mengapit dagunya dan melipat tangan kanannya sebagai penumpu tangan kirinya sambil menatap tanah, Takagi melanjutkan, "aku bertemu dengannya di atap. Dia hanya duduk bersandar pada pagar sambil meringkuk ke lututnya, kupikir dia tertidur di sana. Saat aku mendekat dan memegang bahunya, dia langsung menepis kasar, aku sempat terkejut untuk beberapa saat, tapi melihat wajahnya dia terlihat sedang memikirkan sesuatu."

Mendengar itu, Kogoro terdiam sambil melipat kedua tangannya dan bergumam," apa ... memang begitu?"

Takagi hanya mengangguk, saat itu juga Takagi melirik alrojinya dan pamit undur diri karena malam sudah terlalu larut sekarang.

Takagi mulai berbalik meninggalkan Kogoro, tapi terhenti saat ia melupakan sesuatu untuk di sampaikan. Untung saja, Kogoro masih di sana dan memanggilnya.

"Mouri-san, aku lupa mengatakan sesuatu. Mungkin Conan-kun mempunyai semacam masalah yang tidak bisa dia ceritakan pada siapapun, aku khawatir jika dia terlalu memendamnya itu akan mempengaruhi mentalnya jika dibiarkan. Aku sarankan kau membicarakannya jika punya waktu, itupun jika dia mau."

Setelah berkata demikian, Takagi berbalik dan menghilang secepat kilat dari jalanan. Kogoro hanya menghela nafas dan memasuki rumahnya, ia menuju kamarnya hanya untuk di cegat oleh putrinya.

"Ayah, apa Takagi-keiji sudah pulang?" tanya Ran dan di balas anggukan oleh ayahnya.

"Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku, Ayah juga dan jangan coba-coba minum!"

"Ha'i ha'i aku tahu itu, tidak perlu kau ingatkan."

Sebelum memasuki kamarnya Ran bertanya lagi, "Ayah, apa yang kalian bicarakan tadi?"

"Tidak ada, hanya masalah bocah itu saja, cepatlah tidur, jam tidurmu terpotong sudah, besok kau harus sekolah," ujarnya sambil mengibaskan tangan.

"Um ... selamat malam Ayah."

"Ya," jawabnya.

Setelah mendengar balasan Ayahnya Ran langsung menutup pintu.

Sesampainya di kamarnya, Kogoro berhenti tepat di depan futon Conan dan berjongkok mengamatinya. Bajunya sudah di ganti dengan piyama dan kacamatanya tergeletak di nakas tempat tidurnya.

Sebelum beranjak ke ranjangnya, ia sempat mengelus kepala anak dan bergumam pelan, "Dasar bocah merepotkan."

END