DISCLAIMER: Spy x Family © Tatsuya Endo. Kupu-Kupu yang Lucu © Ibu Sud. Tidak ada keuntungan komersial sepeser pun yang saya dapatkan dari fic ini.

Catatan Author: Setelah baca chapter 111, entah kenapa jadi teringat sama lagu anak-anak yang satu ini. Dalam fic ini, saya akan menuliskan tentang apa yang terjadi dalam mimpi Anya di chapter tersebut, hanya disesuaikan dengan apa yang terjadi dalam 'Authenticating the Forgers'. Lebih tepatnya, saya membayangkan bahwa Anya dan ibu kandungnya sempat sakit dan dirawat di Rumah Sakit bersama-sama beberapa hari sebelum Melinda dan Damian mengunjungi mereka di Covenia.

Summary: Saat Alfred diberi tugas menghafal sebuah lagu yang dipelajarinya di TK, lirik lagu tersebut mengingatkan Anya akan apa yang terjadi padanya dan Amanda saat ia masih berumur dua tahun.


.

Kakak dan Kupu-Kupu

.


"Tugas menyanyi?"

"Iya, kak. Aku dan teman-teman yang lain disuruh menghafal lagu yang nanti akan kami pentaskan di resital," jelas Alfred saat Anya bertanya padanya tentang catatan yang sedang dibacanya. "Kata-katanya banyak sekali."

Sore itu, Keluarga Authen sedang berkumpul di ruang santai dan membicarakan tentang kegiatan Alfred di sekolahnya pagi tadi. Ini adalah tahun terakhir Alfred bersekolah di TK, sebelum anak itu menyiapkan diri untuk ikut ujian masuk Eden College tahun depan.

"Kalau tidak salah, gurumu bilang ke Papa kalau lagu itu berasal dari Tenggara jauh sana," sahut Loid. "Apa lagunya bagus?"

Alfred mengangguk dengan semangat sebelum menjawab pertanyaan sang ayah. "Iya! Ceritanya tentang kupu-kupu yang terbang bebas ke mana saja."

"Eh?"

"Kalau kita juga bisa terbang ke langit seperti kupu-kupu, kita bisa saja pulang dari Rumah Sakit hari ini, ya?"

"Alfred, Kakak boleh lihat catatanmu enggak?" tanya Anya tiba-tiba. "Kakak jadi penasaran sama lirik lagunya."

"Oh, boleh kak, silakan." Alfred menyodorkan buku catatannya kepada kakak perempuannya itu. "Tapi jangan lama-lama ya? Aku masih perlu menghafal liriknya sedikit lagi."

"Loh, tadi kamu bilang kata-katanya banyak? Kenapa sekarang kamu malah bilang begitu?"

"Memang banyak sih kak, tapi aku sudah hafal lirik awalnya, tinggal beberapa bagian di akhir lagu saja yang agak susah kuhafal."

"Begitu ya? Hebat juga," komentar Anya sambil menerima buku catatan adiknya itu. 'Benar-benar anak Ayah,' tambahnya dalam hati. Gadis remaja itu pun membuka halaman terakhir yang ditulis oleh sang adik. 'Tulisannya pun rapi banget kayak Ayah, padahal masih TK.'

Anya pun mulai membaca lirik lagu itu dalam hati.

'Kupu-kupu yang lucu. Ke mana engkau terbang. Hilir mudik mencari. Bunga-bunga yang kembang.'

Seketika, setiap lirik yang dibacanya membuatnya teringat masa lalu yang pernah ia lupakan, saat ia dan ibu kandungnya sempat dirawat di sebuah Rumah Sakit di Covenia.

.

.

Saat itu, mereka baru saja sembuh dari flu, tetapi di hari itu, mereka harus menjalani beberapa tes terlebih dahulu sebelum akhirnya diperbolehkan pulang keesokan harinya.

Untuk menghibur putri kecilnya yang sudah bosan berada di Rumah Sakit, Amanda mengajak Anya untuk berjalan-jalan sebentar di taman Rumah Sakit, di mana mereka melihat seekor kupu-kupu yang terbang menjauh, melewati gerbang Rumah Sakit itu dengan anggun.

"Mama, kupu-kupunya terbang ke mana?"

"Pasti lagi cari bunga. Sayangnya, di taman ini bunganya sedikit sekali, jadi kupu-kupu itu cari tempat yang lebih banyak bunganya."

"Oh."

.

'Berayun-ayun. Pada tangkai yang lemah. Tidakkah sayapmu merasa lelah?'

"Kalau dia capek, kira-kira dia balik ke sini enggak ya?"

"Mama enggak tahu, tapi kayaknya sih dia enggak bakalan balik lagi deh."

.

'Kupu-kupu yang elok. Bolehkah saya serta? Mencium bunga-bunga. Yang semerbak baunya.'

"Kok dia cari bunga enggak ajak kita?"

"Kita kan enggak bisa terbang, Anna, jadi enggak mungkin bisa ikut dia."

"Kenapa dia suka bunga?"

"Karena baunya enak, sayang. Harum seperti parfum."

.

'Sambil bersenda. Semua kau hampiri. Bolehkah kuturut bersama pergi?'

"Mama, besok kita cari dia yuk, biar bisa lihat bunga yang harum juga."

"Anna, besok kita pulang ke rumah, bukan ke taman bunga."

Melihat wajah serius putri kecilnya, akhirnya Amanda menghela napas dan berkata, "Baiklah, mudah-mudahan saja kupu-kupunya mampir ke taman bunga di rumah kita, ya?"

Gadis itu mengangguk dengan penuh semangat sebelum akhirnya memeluk erat ibunya. Mereka lalu kembali ke kamar mereka di Rumah Sakit tersebut.

.

.

"Kak, balikin buku catatanku dong."

"…"

"Kak?"

"…"

"Kakak?"

"…"

Menyadari apa yang mungkin diingat oleh putri kandungnya, Amanda berkata kepada Alfred. "Tante rasa, Kakak terpesona melihat lirik lagunya."

"Tapi kan kubilang aku masih harus hafal liriknya sedikit lagi," protes Alfred.

"Oh, maaf ya, Alfred. Ini," ujar Anya yang tersadar dari lamunannya sambil mengembalikan buku catatan itu kepada sang adik. "Liriknya terlalu bagus. Kakak jadi melamun."

"Jadi, Kakak juga setuju kalau lagunya bagus, kan?"

"Iya, Alfred. Lagunya bagus sekali," jawab Anya sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Gurumu hebat juga, bisa memilih lagu yang sebagus ini."

Loid mengecek waktu yang tertera di jam dinding sebelum berkata, "Kurasa sebaiknya aku menyiapkan makan malam sekarang. Alfred, kamu mau bantu Papa?"

"Iya!"

Mereka pun bergegas menuju ruang dapur yang menyatu dengan ruang makan, kecuali Amanda yang masih ingin membicarakan sesuatu dengan Anya di ruang santai.

"Kelihatannya, kamu ingat sesuatu waktu baca lirik lagu di buku catatan Alfred," ujarnya kepada putrinya itu. "Pasti, waktu terakhir kali kita sakit flu dan dirawat di Rumah Sakit, kan?"

"Mama mengingatnya?" Anya langsung balik bertanya, "Jadi benar, kalau ada kejadian seperti itu? Kita pernah melihat kupu-kupu terbang menjauh dari taman Rumah Sakit?"

"Tentu saja, Anya." Amanda terkikik. "Memangnya kenapa? Apa kamu pernah memimpikannya juga? Seperti waktu kamu bermimpi tentang kunjungannya Tante Melinda dan Damian ke rumah kita dulu?"

"Iya. Kalau tidak salah, itu hari terakhir libur sekolah semester pertama deh."

"Oh ya? Jadi… liburan semester pertamamu diawali dan diakhiri dengan mimpi tentang kenangan masa lalumu ya?"

"Kelihatannya begitu." Anya tersenyum. Akhirnya mereka menghampiri yang lainnya untuk menyiapkan makan malam.