Konohagakure

Desa yang damai dipenuhi penduduk yang ramah tamah dan shinobi-shinobi yang henat. Banyak legenda shinobi yang tercipta dari desa ini.

Tapi tidak untuk Natuto Uzumaki Namikaze. Bagi bocah pirang jabrik dengan mata biru dan tanda kumis kucing dipipinya. Tiduran santai menatap awan-awan di langit.

Sejak umur 3 tahun naruto mulai menyadari perbedaan perlakuan para penduduk kepada dirinya dengan saudara kembarnya.

Ya,dia mempunyai saudara kembar laki-laki dan perempuan.

Sebuah keajaiban ibunya bisa melahirkan bayi kembar 3 dan selamat setelah kyuubi dikeluarkan dari tubuhnya.

Sebenarnya naruto sudah mengetahui alasan mengapa para penduduk dan kedua orangtuanya memperlakukannya berbeda dengan adik-adiknya.

"haaah..." helanya malas.

Setiap teringat dengan semua itu selalu meninggalkan kepahitan dan rasa sakit didadanya.

Dan juga,ingin rasanya naruto marah dan membenci penduduk desa dan keluarganya. Akan tetapi setelah membaca begitu banyak scroll dan buku di perpustakaan pribadi ayah dan ibunya dan juga setelah melakukan latihan chakra control membantunya menjernihkan kepalanya. Ditambah ketika naruto mendengar ayah dan ibunya berunding dengan Jiraiya ayah Godfather nya. Mempermudah untuk menghilangkan kebencian dan amarahnya.


Flashback.

"Jiraiya-sensei ada kabar apa sampai harus selarut ini"

Naruto kecil yg terbangun karena ingin pipis berhenti sejenak untuk melihat ayah dan ibunya menyambut Jiraiya.

"Minato... aku mendapatkan ramalan tentang masa depan dunia dari Ogama Sennin"

" Apakah Ramalannya berubah jiraiya sensei ?"

"Iya, minato... Entah mengapa ramalannya berubah dratis dari ramalan yang dulu aku ceritakan padamu"

"apa isi ramalannya sensei ?"

"Dua bocah yang tersegel didalam tubuhnya pecahan inti dari pohon suci,

Yang terlahir dari 2 kesatria hebat.

yang akan membawa kedamaian atau kehancuran Didunia".

"Apa menurut pervy sage dua bocah itu menma dan mito ?"

" Sudah pasti mereka berdua kushina.

jadi, kita harus mulai mempersiapkan mereka berdua untuk masa depan".

"tapi mereka masih 2 tahun.."

"bagaimana kalau kita tunggu sampai mereka berusia 3 tahun kushina-chan"

"baiklah... tapi... bagaimana dengan naruto ?"

"hmmmm... kita akan melatihnya ketika sudah masuk akademi bagaimana?"

"Baiklah minato-kun."

"Tak usah khawatir khusina aku juga akan membantu melatih kedua bocah itu.

Dan aku akan meminta Tsunade untuk turut ikut andil melatih mereka"

Naruto kecil yang mendangar semuanya merasakan sakit didadanya.

Dengan lemas naruto berjalan kembali kekamar, berharap semua akan baik-baik saja.

Flashback End.


Harapan tinggalah harapan saja, sejak saat itu hubungannya denga orangtua dan adiknya mulai merenggang, sampai-sampai mereka melupakan anak bungsunya.

Bahkan ketika naruta meminta untuk dilatih bersama kedua adiknya, orangtuanya seolah benar-benar lupa jika dia ada.

Beruntung ibunya dulu pernah mengajarinya membaca dan menulis.

Bermodal kecemburuan dan kebencian naruto mulai diam-diam masuk keruang kerja ayahnya dan kekamar orangtuanya.

Untuk mulai berlatih sendiri dari scroll.

Seiring berjalannya waktu, naruto mulai menyalin gulungan-gulungan milik ayah dan ibunya.

"Ah Sudahlah... tak ada gunanya memikirkan hal itu lagi" Ucapnya seraya bangung melihat langit sudah mulai sore.

"Biarlah mereka yang menjadi pahlawan.

sungguh tugas yang merepotkan."

Sedikit merenggangkan tubuhnya seraya mengamati sekitar untuk memastikan apakah masih ada penguntitnya.

"Sudah Aman.."

Seketika naruto menghilang.

Seakan dia tak pernah disana.