Soldier in Another World

Genre : Action, and Military.

Disclaimer

Naruto by Masashi Kishimoto.

Seishun Buta Yarou by Hajime Kamoshida

Main Charater :

Nishimura Naruto (Uzumaki Naruto).

Sakurajima Mai.

Rate : T

Warning : Banyak Typo harap maklum,

OOC,

Kemungkinan akan ada Romance.


- Chapter 1-

"Sepertinya begitu…"

Mendengar jawaban mengantung dari Mai, Naruto tak tau harus berbuat apa. Ia sedikit mengerti mengenai keadaan di dunia ini, Elemental Magical World, sesuai Namanya di dunia berhubungan dengan kekuatan magis atau sihir, serta energi utama dari sihir yang sering di sebut Mana merupakan bagian penting bagi kehidupan di Elemental Magical World. Energi sihir terbagi kedalam lima cabang elemen dari alam yaitu Air, Api, Angin, Tanah dan Petir. Yang dimana kelima elemen ini seperti permainan suit, jika sebuah elemen dapat mengalahkan elemen lainya namun juga bisa ditaklukan oleh elemen yang lain lagi.

Namun keadaan dalam dunia Elemental Magical World sedang tidak baik-baik saja, Dunia yang terbagi menjadi 5 Kerajaan Besar serta beberapa negara kecil ini, sedang terjadi perang dingin yang sangat sengit setelah berakhirnya perang dunia sihir beberapa tahun lalu. Hal ini mengakibatkan konflik berkepanjangan di beberapa negara kecil akibat kurangnya pengawasan dari Kerajaan besar.

Hal itu membuat Naruto frustasi, tidak di dunianya yang dulu, atau dunia yang sekarang sama-sama harus berhadapan dengan namanya perang. Saat masih pusing memikirkan apa yang pertama harus ia perbuat. Muncul sebuah layer hologram di depannya yang membuat Naruto kembali terkejut. Kemudian dia melihat kearah Mai dan terdapat layar yang sama di depan dokter wanita itu.

"Kau juga ada, Sakurajima-san." Tanya Naruto.

Mai mengangung dan menunjuk apa yang ada di depannya. "apa ini Nishimura-san?."

"Aku sendiri juga tidak tau."

Setelah itu di layar milik Naruto muncul tulisan.

Name : Nishimura Naruto

Affiliation : Japan

Status : Lieutenant Soilder

Level : 15

Magical Ability : Fire, Air, Water, Earth and Lighting.

Rank : C

Mana Capacity : Uncalculated/Unknow.

Special Ability : Summoning Pararell World.

Naruto mengangkat alisnya, dirinya tak mengerti apa yang dimaksud dari bar tulisan, ia tahu game dengan fitur seperti banyak dimainkan di dunia aslinya, tapi karena kesibukannya sebagai tentara militer, jujur Naruto tak pernah memainkannya satupun, sedangkan waktu ia sma, game-game seperti ini masih sedikit saja, ditambah pada waktu itu ia tinggal disalah satu prefektur yang jauh dari kota besar. ia pernah sekali memainkan game bertema tembak-menebak waktu masih jadi siswa sekolah militer, itu pun waktu libur dan bermain disekitar Tokyo.

Ia memiringkan kepala, semakin membuat pusing saja. Naruto kemudian menengok kearah Mai, dan dapat dilihat bahwa sang dokter muda itu juga sama bingungnya.

"apa yang tertulis disana Sakurajima-san." Naruto mendekat kearah Mai.

"Ini"

Di layar milik mai terlulis :

Name : Sakurajima Mai

Affiliation : Japan

Status : Doctor

Level : 11

Magic Ability : Fire, Water and Wind

Rank : C

Mana Capacity : Uncalculated/Unknow.

Special Ability : Healer, Medicine, and Doctor

Mata Naruto fokus pada salah satu point di layar milik Mai.

"Kapasitas mana tidak diketahui?" gumannya. kenapa kapasitas miliknya dan Mai sama-sama tidak terlulis, dirinya mengetahui bahwa mana adalah energi dari sihir itu sendiri, kapasitas setiap orang berbeda-beda tergantung pada Rank dan Usia dari pengguna itu sendiri. Apakah karena mereka berasal bukan dari dunia ini

Selanjutnya sebuah kotak bercahaya muncul diatas mereka, yang membuat mereka terkejut. Melalui bagian bawahnya, kotak itu menjatuhkan dua benda kemudian setelah itu mengeluarkan Cahaya yang menyilaukan dan akhirnya kotak tersebut hilang.

Mai dan Naruto yang kembali dikejutkan dengan dunia ini pun masih mencerna apa yang terjadi. Hingga mereka menemukan bahwa benda yang dijatuhkan oleh kotak tersebut.

"I Ini…" Mai menujuk kedua benda tersebut.

Terdapat dua benda yang sangat mereka kenali, Sebuah tas bahu sedang bewarna hitam dengan lambang palang merah kecil, tas itu biasa dibawah untuk prajurit medis dalam pertempuran. Sedangkan benda satunya sebuah senjata laras panjang, Naruto mengenali senjata itu karena sangat mirip dengan apa yang ada didunia sebelumnya. Senjata laras panjang tipe HK416 buatan Jerman yang biasa dipakai oleh kesatuan khusus JSDF yaitu Ranger. Saat Naruto mengangkat dan mengobservasi senjata itu muncul sebuah pesan yang bertuliskan.

HK416

Ammunition : Unlimited.

Naruto tak percaya dengan apa yang dilihatnya ia mencoba mengeluarkan magazine dari senjatanya, dan melihat bahwa magazine terisi penuh oleh peluru dengan, kemudian mencoba memasangnya kembali dan mengokang senjata tersebut. Ia beranjak menuju pinggir sungai dan membidik kearah aliran sungai.

DORR!

DORR!

Setelah menembak secara random ia segera memeriksa senjatanya. Senyuman segera terpatri diwajahnya. Ia merasa tembakannya sangat akurat seperti dunianya dulu. Kembali melepas magazine dan mengecek isinya, tanda ternyata pelurunya itu tidak berkurang satupun, masih utuh. Ia menyeringai senang namun kesenangannya harus terusik karena suara melengking dari wanita dibelakangnya, oh iya dia masuk dunia ini tidak sendirian.

"Apa yang kau lakukan, Nishimura."

Naruto mencoba menghindari tatapan Mai yang tajam, Naruto tahu Mai sangat benci dengan orang yang menembak hal yang seharusnya tidak ditembak.

"Hanya mengetas senjata ini saja Sakurajima-san." Naruto meringis mecoba mengalihkan pembicaraan ini." Apa yang kau dapat Sakurajima-san."

Mai sedikit mengurangi ketajaman matanya dan sedikit mendengus. "Cara yang bagus mengalihkan pembicaraan, Nishimura-san." Entah pujian atau apa yang Mai ucapkan. "Karena kau bertanya, Ini." Mai memperlihatkan tas bahu seukuran tas pekerja kantor bewarna hitam.

"Ini?" Naruto memiringkan kepalanya, meminta penjelasan kepada Mai.

"Coba pikirkan salah satu obat yang kau pernah tahu dan sulit didaptkan."

"Saffron?" Jawab Naruto adanya.

Mendengar jawaban dari Naruto, Mai sedikit terkejut, namun ia kembali tersenyum dan menrogoh isi tas nya. Ia mengeluarkan sebuah botol kaca dan menyerahkannya pada Naruto.

Naruto menerima botol itu dengan kebingungan, ia mencoba tulisan yang ada pada botol itu

"Saffron." Ia terkejut kemudian memandang kearah mai. "Sakurajima-san, Ini…."

"Tas ini bisa mengelurkan segala jenis obat, termasuk obat herbal yang sangat langka itu." Jelas Mai.

"Hebat sekali Sakurajima-san." Dirinya menantap kagum tas yang Mai gunakan. Sedangkan Mai yang merasa dirinya menjadi objek pujian Naruto, muncul semburat merah tipis dipipinya.

"Arigatou" Gumamnya lirih yang tidak dapat didengar oleh Naruto.

Author : Sepertinya terjadi sebuah salah paham saudara-saudara.

-Soldier in Another World-

Naruto mengemudikan mobil nya dengan sangat pelan, mereka memutuskan untuk mencoba berkeliling tempat yang baru saja ia mendarat. Jalan yang mereka lalu cukup lebar dengan kanan dan kiri banyak ditumbuhi pepohonan. Mengigatkan dirinya tentang jalur perdagangan antara Kyoto dan Kamakura pada Zaman Keshougunan Tokugawa, yang mereka pelajari semasa SMA.

Namun tetap terasa ada yang berbeda walaupun jalannya ini cukup lebar yang dapat mereka simpulkan bahwa ini ada jalan utama yang seharusnya dilewati banyak orang. Faktanya yang mereka temui adalah jalan berlumpur kering tanpa jejak roda kereta dengan beberapa pohon tumbang di pinggir jalan tersebut. Dalam benak Naruto ia bisa berspekulasi bahwa tak ada kereta yang melintasi jalan ini.

Suasana dalam mobil juga tak kalah sunyinya dengan apa yang terjadi diluar, entah kenapa Naruto dan Mai tidak saling bicara. Tentu saja mereka tidak sedang bermusuhan, namun keduanya larut dengan dunianya masing-masing, entah apa yang mereka pikirkan yang jelas Naruto masih mempunyai kesadarannya untuk tetap fokus menyetir sedangkan Mai memandang keluar kaca mobil.

Sebuah pohon tumbang menutupi seluruh badan jalan membuat mau tak mau Naruto harus menghentikan mobilnya. Naruto dan Mai turun untuk melihat bagaimana kondisinya, pohon itu menutup sempurna jalan mereka, dan saat melihat pangkal pohon yang tumbang tersebut membuat raut wajah Naruto berubah. Yang membuat Mai terheran atas berubahan sikap Naruto.

"Ada apa Nishimura-san?." Tanya Mai, namun tak ada jawaban dari Naruto. secara tiba-tiba Naruto menarik Pistolnya dari sarung yang menempel di ikat pinggangnya. Kemudian menembak kearah Mai yang ada dibelakangnya.

DORR!

Mai terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, tubuhnya bergetar saat melihat Naruto. "Nishi~mura-san" Suaranya cukup pelan namun masih terdengar oleh Naruto.

Bugh

Kemudian Mai mendengar suara tubuh jatuh di belakangnya, dengan tubuh masih bergetar ia mencoba menengok kebelakang, dan mendapati seseorang bertubuh besar dengan pedang panjang di tanganya, tergeletak tak tak berdaya,

"Ini~ini~ini" tanyanya pada dirinya sendiri. Dalam benaknya hampir saja ia mati untuk kedua kalinya. Jika saja Naruto tak menyelamatkannya,

"Maafkan aku karena mengagetkanmu Sakurajima-san," Naruto masih siaga dengan pistol Minebea P9 itu, ia melihat sekeliling untuk mencari rekan dari orang yang ia tembak tadi, Matanya memincing ketika menyadari dua orang lagi bersembunyi dibalik semak-semak. Insting sebagai tentara yang telah di asah bertahun-tahun membuatnya mudah untuk mengenali keberadaan seseorang, dan setelah mengecek kembali hanya terdapat dua orang itu saja disekitar sini.

"Kalian" Teriak Naruto keras. "Kuberi dua pilihan, keluar dari sana, menyerahkan diri dan membawa teman kalian pergi, atau kalian akan bernasib seperti teman kalian."

Mai terkejut dengan teriakan Naruto, "Kalian?" berarti masih banyak orang seperti bandit itu, menmbayangkan saja membuat Mai merinding.

Naruto menatap dingin semak semak yang ada dihadapanya.

"Kuhitung sampai tiga." Tak ada jawaban dari sana.

"Satu"

"Dua" masih tak ada jawaban, Naruto meletakan jarinya pada pelatuknya.

"Ti…"

"KAMI MENYERAH!." Suara itu menghentikan jari Naruto bergerak lebih jauh.

Semak -semak yang dipandangi oleh Naruto bergoyang-goyang, dari sana muncul dua orang pria, kedua mengangkat tangan serta muka menunduk tanda menyerah. Kemudian kedua pria itu bersujud yang tentu saja mengejutkan Naruto dan Mai.

"Maafkan kami, tolong biarkan kami hidup." Mohon dari salah satu pria dengan suara yang lantang.

"Maafkan kami, kami tak bermaksud melukai kalian." Naruto yang masih menodongkan pistol menaikan alisnya.

"Tidak bermaksud melukai kami?" Naruto dan Mai saling pandang dengan tatapan bingung.

"itu benar, kami hanya bermaksud mengancam kalian dan menyuruh kalian pergi." Jelas Pria satunya lagi.

Naruto menaikan alisnya, "Bisa jelaskan padaku!." Perintah Naruto dingin membuat kedua pria itu merinding ketakutan.

"itu… begini…"

Kami berasal dari sebuah kota di daerah teluk yang berada tak jauh dari sini, bernama kota Nami. Saat ini kota Nami sedang mengalami krisis ekonomi, sejak 5 tahun lalu, seorang saudagar kaya datang ke kota kami yang bernama Gato. Namun itu adalah awal bencara di kota Nami, orang itu memanipulasi pemerintahan dan semua transportasi kapal, semua Masyarakat kami yang kebanyakan menjadi nelayan di sungai dan laut tak bisa karena mencari ikan karena Gato memonopoli wilayah kota kami, semakin lama nasib kami semakin jatuh. Kami berniat meminta bantuan ke Ibukota Kerajaan Kirigakure namun disana sedang terjadi gejolak politik, mereka tak bisa berbuat banyak, kami warga kota berniat meminta bantuan dari Kerajaan lain namun hal tersebut membutuhkan biaya, beberapa warga termasuk kami mulai pergi dari kota secara diam-diam, dengan harapan mendapatkan uang untuk dapat menyewa prajurit dan penyihir dari Kerajaan lain, namun kami yang sulit mendapatkan pekerjaan, akhirnya kami memilih jalan pintas, kami bermaksud untuk menghentikan gerobak milik Perusahaan Gato, namun kita melakukan kesalahan kepada kalian.

"Itu yang bisa kami ceritakan.."

"Tapi.. percayalah ini kali pertama kita melakukan hal ini."

Pandangan Naruto melunak, "Baiklah aku percaya dengan kalian," kemudian Naruto menyimpan kembali pistolnya.

"Sakurajima-san, bisa kau periksa pria yang satu lagi, aku hanya menembak di bagian yang tidak vital seharusnya hanya membuat dia pingsan. Kau bisa menjadikan dia bahan obyek percobaan sihir penyembuhan mu."

"Baiklah." Mai berbalik menuju mobil dan mengambil tas bahu ajaibnya.

Note : Tas Bahu yang diberikan kami-sama mulai sekarang disebut Tas dokter. Biar lebih mudah disebutkan.

"bolehkah aku bertanya?." Naruto yang masih menatap salah satu orang yang berbicara, pada saat yang sama Mai datang dan langsung "beraksi" kepada orang yang pingsan. Walaupun Naruto diam saja tetapi memberikan isyarat "boleh" dengan raut wajahnya.

"Apakah kalian Penyihir?" Naruto terdiam sesaat dan kemudian melirik Mai yang kebetulan sedang mengalirkan energi sihir bewarna hijau, ia sendiri bingung mau menjawab apa, jika bukan penyihir, bagaimana menjelaskan ini, namun jika penyihir, dia sendiri belum mahir mengunakannya.

"anggap saja kami seorang pengembara." Jawab Naruto seadanya keduam menenggok kearah Mai yang Tengah mengobati. Sedangkan orang yang bertanya kini menjadi diam. Hingga suara mai mengalihkan perhatian mereka.

"Nishimura-san!" panggil Mai, melihat rekannya sudah bergerak, kedua orang yang menjadi bandit itu pun kemudian menghampiri orang yang pingsan. Mai segera mundur untuk membereskan peralatanya. Naruto segera menghampiri Mai.

"Torazo!" Teriak kedua orang itu.

Dengan lemah orang besar bernama Torazo itu berusaha bangkit "Itaro, Hasobu" panggilnya lemah.

"tenanglah Torazo." Itaro berusaha menenangkan rekannya.

"untuk sekarang kau harus istirahat dulu" Hasobu ikut menimpali.

Torazo masih berusaha bangkit "bagaimana dua orang tadi?" Tanya Torazo.

Itaro dan Hasobu saling pandang, sesaat kemudian Hasobu menjawab "Kita gagal" jawabnya lembut.

Torazo terkejut namun bisa menerima keadaan "begitukah?, tak apa, Ayo coba lain kali."

"tak akan kubiarkan kau melakukan itu."

Padaa saat Torazo tengah bersemangat tiba-tiba suara mengintrupsi, membuat Torazo terkejut. Ia menenggok ke sumber suara dan mendapati dua orang pria dan wanita. Walaupun samar-samar, tapi Torazu mampu mengingat mereka. Mereka adalah orang yang akan ia serang tadi.

"aku sudah mengampuni kalian dan membuat kalian berjanji agar tak melakukan itu lagi." Naruto berjalan dengan santai berjalan membawa sebuah bungkusan.

Torazo yang masih belum mengerti keadaan berusahan bertanya ke rekan-rekannya. Namun keduanya hanya menunduk, sampai Hasobu berbicara, "biar kujelaskan nanti,." Dan Torazo pun memilih diam.

"makanlah ini." Naruto meletakan bungkusan yang ia bawa di dekat Itaro dan membukanya, terdapat tiga pasang roti besar dan air mineral dalam botol plastik. "Aku tahu kalian lapar, jangan banyak tanya dan habiskan itu," Naruto dengan nada santai berbicara, "tenang saja itu tidak beracun." Tambahnya santai.

Ketiga orang itu dengan ragu-ragu megambil roti dan air mereka masing-masing. Dengan lahap mereka memakan roti dan berusaha membuka botol plastik air minum itu, semula mereka kesulitan membuka tutupnya, namun akhirnya dapat dibuka dengan bantuan Naruto.

"cepat habiskan, setelah itu tuntun kami menuju Kota Nami" titah Naruto.

Membuat mereka terkejut, Naruto yang paham maksud ekspresi merekapun kembali bersuara.

"Bukankah Kota kalian memperlukan bantuan?"

-Sakurajima Istri gue-

Angka 20. Ya angka 20 lah yang sekarang ditunjuk oleh jarum speedometer mobil land cruiser miliknya, dengan perbandingan mesin 4164cc dan kekukatan 204 horse power serta berjalan di jalanan rata, membuat kecepatan stabil di angka rendah terasa hal yang membosankan. Namun ini harus dilakukan karena mereka harus menyetabilkan kecepatan mobil dengan kereta pedati berisi 3 orang Nami yang coba mereka ikuti. Ya ketiga warga Nami yang semula hendak merampok pasangan tentara dan dokter ini, justru merasa terbantu dengan kehadiran "pasangan" ini. Kini mereka berjalan beriringan dengan kereta pedati yang mereka dapatakan entah darimana berada di posisi depan.

Walaupun kereta pedati berusaha melaju melebihi biasanya, namun berbeda dengan Naruto yang kini bosan menatap kereta pedati yang ada didepanya. Ia memegang roda kemudi dengan satu tangan sedangkan satunya lagi bersandar di pintu menahan kepalanyanya. Sedangkan Mai hanya merebahkan diri di kursi tegak itu sedangkan pandangan menatap kearah depan, ia sama jenuhnya dengan Naruto. Selain itu pemandangan sekitarnya hanya pepopohan yang tak terlalu lebat.

Kedua kendaraan beda masa itu akhirnya menjumpai sebuah pemukiman warga walaupun masih terlihat jauh, pemandangan yang semula hutan kayu kini berubah jadi pemandangan perarian teluk yang cukup luas lengkap dengan pohon bakau di tepi pantai tersebut. Pemandangan ini juga mengusir rasa bosan yang dirasakan penghuni mobil, Naruto membuka kaca jendela di kedua sisi dan merasakan hempasan angin yang sangat menyegarkan. Mai terkagum dengan mata berbinar, sudah hampir rasanya bertugas 6 bulan lebih tak merasakan suasana seperti Jepang. Sedangkan Naruto dari kursi pengemudi melihat bahwa di di ujung teluk itu terdapat sebuah jembatan yang belum selesai dibangun, itu sangat jauh dan naruto tak bisa melihat dengan jelas.

"apakah itu milik perusahaan monopoli itu?" pikirnya dalam hati. Dalam benaknya ia berfikir apakah kesaksian Itaro dan Hasobu itu benar, atau kedua orang ini hanya tak mau adanya perusahaan dagang besar di wilayahnya. Entahlah ia masih mencoba perfikir positif.

Dengan perlahan mereka disambut sebuah gerbang dengan pagar kayu, tertulis Kota Nami pada gerbang tersebut. Begitu masuk, Naruto dan Mai dikejutkan dengan pemandangan kota yang sangat diluar dari perkiraan mereka. Dimana daerah pemukiman di dominasi dengan rumah kayu sederhana, dalam pikiran mereka ini bukanlah kota namun sebuah desa, namun mereka teringat kembali bahwa ini bukan dunia yang mereka kenal, jadi mereka diam saja.

Setelah berjalan beberapa menit akhirnya kereta pedati itu berhenti didekat sebuah rumah ditepi sungai. Ketiga orang itupun turun tampak ketiga tengah berbincang sejenak. Waktu ini digunakan Naruto dan Mai untuk bersiap, dimana Naruto mengenakan rompi dan helm tempur hijau gelap, ia tak lagi mengenakan seragam UN Piecekeeper sejak masuk dunia ini, kini Naruto mengenakan seragam standar JGSDF, dengan perbedaan badge UN biru di lengan kanannya, serta badge bendera Jepang dilengan Kanan. Naruto mengambil senjata HK416 sebagai jaga-jaga. Sedangkan Mai terlihat mempersiapkan tas dokternya, ia masih sama seperti sebelum masuk dunia ini ia mengunakan blouse pink dengan paduan celana panjang longgar berwarna hitam serta mengenakan jas putih kesayangangannya.

Mai dan Naruto keluar dari mobil secara bersamaan kemudian Hasobu memberi kode kepada mereka untuk segera mengikuti, Itaro dan Torazo mendekat ke pintu rumah tersebut.

Itaro mengetuk pintu.

"Tazuna-san." Panggil Itaro dari luar.

Setelah itu seorang wanita berambut hitam panjang membuka pintu tersebut.

"ah, Nami-san, aku ingin bertemu Tazuna-san, apakah dia dirumah?" tanya Itaro

"ayah belum kem-"

"Nami-chan!" ucapan wanita bernama Nami itu terhenti ketika ada seseorang yang memanggil namanya.

"Ayah!"

Semua terkejut dengan kemunculan seorang pria tua yang membopong seorang pria berambut putih yang dibantu dengan 3 remaja lainya. Dengan sigap Naruto menghampiri pria tua yang berusaha mendekati, ia berniat membantu membawa pria berambut putih itu ke rumah yang diyakini rumah si pak tua.

"Biar kubantu!"

Kalian sudah taukan mereka siapa

-Soldier in Another World-

Dan berakhirlah mereka disini, di ruang utama rumah pak tua Tazuna, di tengah ruangan itu terbaring seorang pria berambut putih beralasakan futon, dengan Mai yang memeriksa kedaan pria "beruban" itu, dibantu oleh Tsunami, Putri dari Pak Tua Tazuna. Tiba-tiba Kakashi membuka matanya, namun entah Mai dan Nami mereseponnya biasa saja.

"Kau tak apa-apa. Sensei?" Tanya Tsunami memastikan keadaan Kakashi.

"tidak juga, kurasa aku terlalu lama mengunakan Mana-ku." Kakashi mencoba bangun, namun sakit kepala menyerang dirinya, membuatnya berhenti.

"Sebaiknya anda jangan terlalu banyak bergerak, Sensei." Mai ikut menimpali. "dalam masa pemulihan aku sarankan untuk berhemat energi anda, Sensei." Sambungnya.

Kakashi akhirnya merebahkan dirinya kembali, dan pada saat yang bersamaan Naruto muncul dari ruangan lain, bersama dengan 3 remaja lainnya, yang entah kenapa ketiga mempunyai rambut yang berbeda, pirang, hitam dan yang paling menarik perhatian gadis berambut merah jambu, Naruto dan Mai jadi semakin heran.

"ah, Sensei sudah sadar." Ucap riang remaja pirang yang Naruto ketahui bernama Menma.

"Sensei!, mata sharingan itu memang hebat tapi jika itu mengunakan Mana yang banyak sebaiknya kau pikirkankan lagi Sensei!" Gadis merah muda pun ikut menimpali dengan nada yang sedikit khawatir.

"Maaf." Balas singkat Kakashi.

"Kakashi-san" Panggil Naruto yang duduk didekat Kakashi terbaring. "Maaf menganggu waktu kebersamaan kalian. Tapi…." Naruto mengantungkan kalimatnya.

"seperti ada yang kau sendiri tahu, namun mereka belum tahu, benarkan Sensei."

Kakashi menatap diam wajah Naruto, "kau.."

"Nishimura Naruto, desu."

"Sakurajima Mai desu." Mai yang duduk Tak jauh dari Naruto ikut memperkenalkan diri.

Kakashi mengangguk lemah.

"Aku sudah mendengar sebagian cerita mu dari Tazuna-san, dan siapa sosok bertopeng yang mereka maksud.?"

Dengan suara datar Kakashi menjawab pertanyaan Naruto.

"dia adalah Pasukan Penyihir Elit Anbu dari Kirigakure."

"Kirigakure?, Ibu Kota Kerajaan Mizu No Kuni" Pikir Mai yang sudah mengetahui dasar dari dunia ini."

"Dan dari topeng yang ia gunakan, sudah kupastikan ia merupakan Kelompok Pemburu Ahli Sihir."

"Pemburu Ahli Sihir?" Potong Naruto.

"Tugas mereka adalah menghapus Ahli Sihir yang mereka buru dari peradaban, dengan alasan teknik sihir rahasia negara ataupun rahasia dari ahli sihir itu sendiri. Sebagai contohnya jika seorang penyihir telah tewas maka akan dipelajari semua tenik sihir yang mampu dikuasai sehingga rahasia kekuatan teknik sihir akan di ketahui. Simpelnya itu Pemburu Ahli Sihir adalah kelompok yang mencegah rahasia negara mereka bocor ke negara lain, dengan cara membunuh penyihir yang berkhianat dari Negara."

Setelah mendengar penjelasan panjang Kakashi, Naruto mengangguk paham.

"Tapi ada yang menggangu pikiranku."

"apa itu Kakashi-san." Tanya Naruto

"senjata yang digunakan oleh Pemburu Ahli Sihir saat menangkap Penyihir Zabuza."

"Sebuah jarum biasa" Timpal remaja berambut hitam yang sedari tadi diam bernama Sasuke. "Jangan-jangan… Tak mungkin." Ekspresi Sasuke tiba-tiba berubah.

"Ya benar Sasuke, sulit dipercaya."

Naruto yang tak mengerti maksud mereka berdua kemudian bertanya. "Apa yang kalian bicarakan?"

"Pemburu Ahli Sihir akan langsung menghabisi target mereka selagi punya kesempatan, dan melenyapkan tubuh buruannya, namun pemburu ahli sihir yang kami temui tadi pagi berbeda, dia membawa tubuh Zabuza pergi dengan keadaan utuh."

"Bukankah itu hal yang wajar, seorang pemburu memerlukan bukti laporan bahwa target buronan sudah dibunuh." Sakura, gadis merah muda itu menanggapi penjelasan Kakashi.

"jika untuk laporan sebenarnya cukup kepalanya saja, dan mereka akan memusnahkan tubuhnya, jika begitu maka…" Sanggah Kakashi mengantung membuat Menma dan Sakura menjadi heran. "Kemungkinan Zabuza masih hidup."

"EHHHH!" Suara Menma, Sakura dan Tazuna memenuhi ruangan tersebut.


Sementara itu, didalam rindangnya pepohonan di hutan, nampak seorang hmmmm….. sebut saja lucina luna. Tidak, jangan sebut lah , kita langsung saja sebut nama, Haku. Disamping haku tampak seorang dengan banyak perban ditubuhnya terbaring tak bergerak. Haku mengambil sebuah gunting dan berniah memotong perban yang menutup mulut Zabuza.

"pertama-tama, mulai dengan sayatan kecil." Gunting itu mulai mendekati mulut Zabuza. Hingaa tiba-tiba "mayat" pria itu membuka matanya dan tangannya menghentikan tangan Haku.

"Aku bisa sendiri"

Haku yang melihat itu tak terkejut dan bertanya. "Kau sudah bangun?"

"bisakah kau tidak menyerang leherku, kau itu sangat sakit."

"Ya mau bagaimana lagi, aku tak ingin merusak tubuhmu itu, selain itu leher adalah titik vital yang bisa ku bidik."

Zabuza mencoba bangun dan hendak berdiri, namun itu sangat sulit dilakukan.

"Jangan terlalu memaksakan diri Zabuza-san."

"Ya, kau cukup perhatianya, itulah yang aku suka dari dirimu."

Haku yang mendapat pujian itu menjadi merona. "Kuanggap itu pujian."

"Lalu apa rencanamu selanjutnya, Zabuza."

"Mengalahkan Sharingan no Kakashi."

- Soldier in Another World -

Matahari serasa menari-nari di atas kepala Kakashi, mengetahui fakta bahwa Zabuza masih hidup Kakashi tak bisa tinggal diam ia mengumpulkan muridnya untuk berlatih agar bisa mengalahkan Zabuza. Ia tahu musuh yang ia hadapi sekarang bukanlah orang sembarangan. Momochi Zabuza, merupakan seorang ahli sihir yang sangat beberhaya, juga salah satu dari pewaris 7 Pedang Legendaris Kirigakure yang tak perlu ditanyakaan lagi kehebatannya. Yah-yah, Kakashi tak pernah berfikir bahwa misi kelas-C pertama yang seharusnya hanya mengawal seorang tukang kayu Tazuna, berubah menjadi Kelas S melawan Buronan kelas Kakap yang bahkan dalam dalam buku Buronan mempunyai 2 halaman detail kejahatannya.

Ia harus melaporkan ini kepada pihak Konoha namun sebelum itu ia harus melatih para muridnya yang masih minim pengalaman ini. Tak dapat dipungkiri para muridnya ini belum siap akan karena sejak lulus dari akademi 3 bulan lalu, tim mereka hanya mendapatkan misi kelas-D ringan, seperti mengejar kucing, memasang pagar membersihkan kandang, mengangkat kerbau masuk parit, kuda lepas, mengangkap ular, bermain tic-tac-toe, membaca majalah, membuat coklat panas, menonton… eh tunggu sebentar… itu terlalu banyak, lupakan!.

Kakashi menghela nafas panjang, satu hal yang ia sadari, ini terlalu berat bagi timnya. Kakashi menatap ke tiga muridnya. "baiklah, dengarkan aku!" suara berat Kakashi membuat suasana tim menjadi hening. "Untuk mengalahkan seorang Zabuza, bukanlah sesuatu yang mudah, mulai sekarang aku akan melatih kalian dengan sungguh-sungguh."

"Sensei," Panggil Sakura. "Maksud sensei, apakah kita tidak cukup kuat melawan Zabuza?,"

"Bukankah kita sangat kuat sensei, bahkan kita juga mempunyai Guru yang hebat," Menma menimpali dengan nada yang kurang senang dianggap remeh oleh Kakashi. Sedangkan Sasuke, entah kenapa dari tadi hanya diam.

Kakashi mengangkat telunjuknya, "Melawan Zabuza bukan hanya soal kekuatan, namun juga soal strategi, ketepatan dan kecerdasan"

"Untuk saat ini berlatih lah memanjat pohon itu" Kakashi menunjuk salah satu pohon yang berada cukup jauh dari mereka, pohon besar dengan ketinggian lebih dari 50 meter.

"EHHHHH" sahut Menma dan Sakura. Sasuke?, masih diam seribu bahasa.

Dari kejauhan ternyata terdapat Naruto dan Tazuna berdiri memperhatikan interaksi guru dan murid tersebut.

"Zabuza itu… penyihir yang sangat beberhaya ya?" tanya Naruto kepada Tazuna.

Tazuna mengangguk "Zabuza bukan orang sembarangan, Para penyihir dari Kirigakure terkenal akan kekejaman dan kesadisannya." Tazuna menatap lurus kedepan. "dan yang paling brutalnya adalah Ujian Penyihir Atas."

"Ujian Penyihir Atas?."

"itu adalah sebutan untuk penyihir saat masuk kedalam kelas elite, dan kau tau, itu bukan lah sebuah ujian, melainkan sebuah gladiator antara hidup mati."

Naruto mengangkat alisnya dan menengok ke arah samping.

"Dimana para calon penyihir elit akan dikumpulkan dari seluruh kerajaan, mereka semua ditempatkan dalam sebuah arena. Dimana mereka harus menyerang satu sama lain, hingga tersisa satu pemenang yang masih hidup dan diangkat menjadi Penyihir elit." Tazuna melirik kearah Naruto.

Naruto merasa ngeri dengan cerita Tazuna. "Lalu, musuh kita saat ini adalah pemenang dari 'gladiator' itu?"

"Benar"

Tazuma mengangguk, Naruto merasa kedepanya akan di hadapakan hal yang lebih sulit lagi.

Tiga hari berlalu sudah Kakashi melatih ketiga muridnya, kini pemandangan yang dapat ditemukan adalah Kakashi menatap dua muridnya berambut hitam dan pirang dengan terkapar di dekat pohon yang mereka coba panjat, tidak lebih tepatnya berjalan secara vertikal dengan kedua kaki di batang pohon tersebut. Sedangkan si rambut pink sudah duduk manis di salah satu dahan tertinggi mengejek kedua rekan timnya. Dan Menma yang paling jengkel atas ejekan sakura, sedangkan Sasuke hanya membatin mengutuk Sakura.

"sudah aku bilang, memfokuskan Mana dalam memanjat pohon seperti kalian mengumpulkan Mana yang tepat untuk melakukan sebuah rapalan mantra, dari yang aku lihat, Sakura adalah terbaik dalam mengontrol Mana, namun… " Kakashi tak melanjutkan kata-katanya saat melihat kedua murid laki-lakinya malah saling menatap dengan petir listrik yang menghubungkan kedua mata mereka. Ya, mereka sudah saling bersaing dalam hal apa pun, entah darimana mereka memeluainya.

"aku dikacangin muridku sendirii" batin pilu Kakashi.


Sementara itu, di sisi desa yang lain, Mai tengah membantu Tsunami memasakan makan malam, Mai menguncir rambut panjangnya, kemudian mengambil pisau dan memotong beberapa kentang, malam ini mereka berencana untuk menghidangkan kare, selain pintar dalam hal akademik, Mai juga pandai dalam urusan rumah, hal ini karena selama Mai kuliah kedokteran, Mai memutuskan untuk keluar dari mansion orang tuanya karena Mai lebih memilih apartemen yang dekat dengan kampusnya. Terlebih walaupun berasal dari keluarga kaya, Mai sudah diajarkan untuk hidup mandiri dan sederhana oleh orang tuanya, hal itu terbawa hingga sekarang.

note : Mai the best pokoknya, istri saya ini

Sedangkan kini Naruto sedang mengawasi pembangunan jembatan yang sempat terhenti akibat dari seragan perusahaan Geto beberapa hari yang lalu. Para pekerja juga takut saat Tazuna selaku mandor pergi mencari bantuan dari Kerajaan lain. Namun karena Tazuna sudah kembali mereka di minta Tazuna untuk melanjutkan pembangunan jembatan.

Naruto duduk di tumpukan batu bata dengan masih memanggul senjata HK 416 di punggungnya, ia menguap karena mengantung diterpa angin laut yang menyejukan.

"Kau merasa bosan ya Naruto," Tazuna bertanya setela menurunkan beberapa kayu di dekat Naruto. Naruto yang masih belum selesai menguap melirik ke arah Tazuna.

"Tidak," Sangah Naruto. "Hanya saja, mungkin aku sudah lama aku tak merasakan ketenangan seperti ini,"

"Lalu bagaimana dengan Asalmu?" Tanya Tazuna.

"Jepang ya…., itu negara yang damai, dimana masyarakatnya bisa menjalani kehidupanya dengan tenang. Hingga saat negara lain yang jauh dari Jepang memerlukan bantuan karena Perang, aku di kirim ke medan konflik selama lebih dari 1 tahun."

"Kau, berasal dari negara damai namun kamu mau ikut perang yang tak berada di negaramu?, kau meninggalkan kedamaianmu hanya untuk perang konyol?"

"Ya.. mau bagaiamana lagi negara ku sangat menjujung tinggi 'kemanusian' itulah tugas sebagai tentara." Naruto terkekeh dalam penjelasanya.

"andaikan saja Kerajaan Sihir juga menanamkan prinsip itu, bahkan aku harus berbohong mengenai permintaanku agar dapat bantuan penyihir." Gumam Tazuna.

To be Continued

Note : Naruto disini layaknya orang jepang biasa ya yaitu berambut hitam, alasan memakai nama nishimura karena kalau pake uzumaki atau namikaze bakal kacau dicerrita karena nyinggung nama klan lain

Naruto di gambarkan kayak Mc anime Daitoshokan no Hitsujikai, alias Kyotaro kakei terutama model rambutnya, sedangkan matanya masih biru

oke terima kasih sudah menunggu

maaf lama karena sibuk kuliah ama magang

27-01-2025

Natsukawa Takashi Desu