#Masashi Kishimoto#
Tidak suka bisa skip :)
Pairing sasuhina
Happy Reading
--
Flashback on
Bungsu Uchiha merebahkan diri di hamparan rumput hutan konoha. Sesekali ia menguap bosan menatap langit. Semula Ia tidak tau tujuannya datang kemari. Tetapi ketika mendengar suara seseorang berteriak aneh di dekat pohon, dia jadi mengerti, bahwa sekarang dirinya sedang membuntuti si Gadis kecil Hyuuga. Bukan, dia bukan khawatir terhadapnya, Sasuke kecil hanya penasaran saja, sampai kapan Gadis itu akan menghajar batang pohon di sana.
Matanya terkatup. Ia menikmati desiran angin di sore hari. Sampai suara lain memecahkan ketenangannya.
"Oii Hinata." Suara cempreng yang biasa ia dengar di kelas, kini telah berpindah ke hutan.
Sasuke bangkit berdiri,bersembunyi di balik pohon untuk melihat adegan sepasang manusia bodoh bertemu.
"Na-naruto-kun.." Pipi Hinata kecil bersemu merah,
"Sedang latihan? Wah kau hebat Hinata hihi." Puji Naruto kecil memamerkan deretan giginya.
"Te-terima kasih Naruto-kun." Pemilik mata bulan semakin tersipu malu.
Cih!
"Hoi Gadis Hantu, dan monster jelek. Kalian kelihatan cocok sekali!" Seru salah satu anak laki-laki perundung Hinata. Entah sejak kapan mereka bertiga sudah berdiri di belakang. Mereka mendekati tubuh Naruto dan membuat lingkaran.
"Mau apa lagi kalian, pergi atau kuhajar!" Naruto bersiap mengeluarkan jurus Kage Bunshin tetapi kalah cepat dengan bocah botak yang memegangi kedua tangannya di belakang.
"Pfftt rasakan ini." Tubuh Naruto berputar-putar lalu terjungkal di tumpukan batu.
"Aww. Aduhh." Kepalanya benjol dan pelipisnya mengeluarkan darah.
"Sudah kami bilang kau itu hanyalah seorang pecundang. Hahaha." Mereka tertawa mencemooh sembari pergi meninggalkan tempat itu.
"Naruto-kun, k-kau baik-baik saja?" Hinata berjongkok untuk memastikan keadaan sang bocah rubah.
"I-ini untukmu." Sulung Hyuuga menawarkan salep luka buatan klannya sendiri.
"Bi-biar aku oleskan."Gadis kecil itu kemudian membuka penutup salep dan mulai mengobati luka Naruto.
"Sankyu hehe." Mereka berdua saling melemparkan senyum tanpa mau tau, bahwa sosok yang sedari tadi menonton pertunjukkan konyol itu, mengeram kesal.
'
'
'
'
Ke esokan hari, Sasuke kecil kembali membuntuti Hinata sepulang dari akademi. Ia menyamarkan chakra agar gadis itu tidak curiga. Seperti sebelumnya, ia merebahkan diri di rumput seraya menikmati cuaca sejuk di sore hari. Angin sepoi membuat matanya mengantuk, tetapi sebelum matanya tertutup, telinganya mendengar suara cekikikan yang tak asing baginya. Ia membawa diri pergi untuk melihat apa yang tengah di lakukan gadis itu di sana.
"Makanlah. Kau pasti lapar." Gadis kecil Hyuuga memberi beberapa sisa makanannya ke seekor kelinci hutan.
"Terima kasih sudah menemaniku di sini." Ia tersenyum menerawang jauh.
"Aku harus tetap berlatih agar Ayah bangga padaku. Di-dimana keluargamu?" Kelinci itu menggoyangkan hidungnya, Hinata tertawa kecil. "Mata merahmu itu sangat menggemaskan." Sasuke terdiam mendengar perkataan Hinata. Ia melihat gadis mungil itu tengah asyik mengelus bulu kelinci di pangkuannya.
Ck. Bodoh
"Heyy kau disini lagi rupanya hantu!" Bocak botak menyeringai jahil, Hinata membulatkan mata, ia menoleh saat tiga orang tengah berdiri bertolak pinggang melemparkan pandangan penuh ejek kepadanya.
"Sekarang hantu sudah punya teman rupanya. Kita apakan sebaiknya teman barunya itu ya?" Bocah ompong menggaruk dagu seraya berakting seolah tengah berfikir.
"Bagaimana jika kita lempar ke sungai?
Terdengar bagus bukan? Haha." Langkah kaki mendekat perlahan membuat Hinata memeluk erat si kelinci. Tidak!
Dia tidak mungkin tega membiarkan mereka menyakiti hewan tak bersalah itu! Biarlah Hinata menanggung rasa sakit yang akan ia dapatkan sebentar lagi.
"Pukul aku." Bocah Uchiha memunculkan batang hidungnya. Ia berdiri berhadapan dengan ketiga anak laki-laki yang kerap bersikap sok jagoan.
"Eh?" Mereka mengernyitkan dahi saat Sasuke menyuruh ketiganya untuk memukulnya.
"Aku bilang pukul aku! Apa kalian tuli?" Suara menusuk lelaki itu membuat mereka ketakutan. Bocah botak maju ke depan mulai memberi tonjokan. Sasuke diam walau terlihat menahan sakit, lalu bocah kedua dan ketiga melanjutkan bagiannya. Akhirnya mereka berhasil menghajar, salah satu anak keturunan terkuat itu.
Hinata yang menyaksikan semuanya, menampilkan mimik bingung. Ia tak mengerti mengapa anak lelaki bermarga Uchiha ini malah sengaja meminta kepada mereka untuk dipukul. Benar-benar tidak waras!
"Huaaa..." Ketiga bocah meninggalkan tempat itu dengan suara raungan. Mereka takut jika ketua klan Uchiha sampai mengetahui tindakan mereka,pasti Ayah bocah itu akan menghajar mereka semua hidup-hidup.
Sasuke duduk bersender ke batang pohon. Ia menyeka pelipisnya yang luka akibat pukulan. Dalam hati ia senang, dengan begini si Hyuuga akan merasa bersalah dan mengobati lukanya.
"Akh." Sasuke berpura-pura kesakitan lalu melirik Hinata masih menunduk.
"Aww!" lagi Bocah Uchiha menaikkan nada lenguhannya membuat Hinata mendongak tetapi bergeming.
Sasuke menyerah. Ia mendengus sebal memperhatikan si Hyuuga tak juga peduli padanya.
"Kau tidak mau mengobati lukaku?? Aku akan memberitaumu pada Kaa-san ku, biar kau di marahi!" Akhirnya jurus terakhir Sasuke keluar juga dari mulutnya.
"Uhn. T-tapi aku tidak membawa o-obat." Ujar Hinata pelan.
"Ck. Gunakan ini." Sasuke merogoh kantung celana untuk meraih benda kecil yang ia simpan.
"Um." Hinata mengiyakan perkataan Sasuke. Gadis kecil itu mulai membuka bungkus plester berwarna cokelat dan memakaikannya ke pelipis Sasuke.
Sederhana. Tetapi berhasil menyenangkan Sasuke kecil. Ia menyeringai tipis saat Hinata tengah mengobatinya.
"Jika mereka mengganggumu, Katakan Sasuke-kun, maka kau takkan di ganggu lagi. Jangan menyebut nama selain itu! Kau paham?" Hinata tidak menjawab. Ia mengedipkan mata berulang kali, tanda bahwa tidak pernah mengerti akan maksud si pemilik mata gelap yang sedang memberinya sebuah nasehat?
Flashback off
31 desember
Sebentar lagi penduduk konoha akan merayakan hari pergantian tahun. Mereka berbondong-bondong meramaikan pasar untuk sekedar membeli keperluan rumah dan beberapa bahan masakan. Memang tidak semuanya kedai akan buka ketika penghujung tahun tiba. Sebagian besar lebih memilih untuk mempersiapkan acara, mengunjungi kuil ataupun menyambut kembang api sebagai tujuan utama.
Tampak Naruto melipat tangan di dada. Ia bersama Sasuke dan juga Shikamaru memenuhi ruangan Hokage semalaman. Mereka sedang lembur untuk menyelesaikan tugas Hatake Kakashi yang menumpuk. Aneh sekali bukan?! Yang menjadi Hokage adalah pria tua itu, tapi mengapa ia malah melimpahkan tanggung jawabnya pada orang lain!
Lihatlah wajah santainya itu! Bukan ikut membantu, pria tua berambut bak manusia silver malah asyik membaca novel keramat yang selalu menjadi andalannya untuk menghilangkan stress.
Dasar licik!
"Hah sampai kapan ini akan selesai!" Keluh Naruto melemparkan kertas-kertas yang ia pegang ke sembarang tempat. Pemuda itu kira tugas menjadi Hokage hanya untuk melindungi desa dari para ninja penjahat, ternyata itu cuma pemikiran seorang bocah ingusan tolol, yang ia bawa sampai dewasa.
Dia memang kuat secara fisik, tetapi untuk urusan otak, hufft
Naruto tidak mau membahasnya...
"Nikmati saja, itu akan menjadi pekerjaanmu nanti." Sahut Kakashi masih menaruh fokus ke benda kecil berbentuk segi empat.
Ia mendengus sebal. Tentu berbicara memang lebih mudah dari-pada mempraktekannya. Dan apa-apaan tidak boleh menggunakan jurus seribu bayangan untuk mempersingkat waktu. huh! Naruto melirik kedua temannya yang sedari tadi tidakmelayangkan protes, melakukan kerja paksa berkedok tugas itu. Kalau begini terus, ia tidak akan pernah punya waktu untuk sang kekasih. Paling tidak biarkan dirinya sebentar saja menghabiskan malam tahun baru dengan merengkuh Hinata. Bukan malah dengan tumpukan kertas!
"Aku selesai." Suara datar membuyarkan lamunan Naruto.
"Heh? Cepat sekali!" Pemuda rubah menatap horor ke arah Sasuke .
"Aku pergi."
"Tunggu dulu teme. Apa kau mau menyelesaikan punyaku juga? Hehe, yah kau tau kita kan teman dekat. Jadi sudah- Oii teme aku belum selesai~ oii, ah siall!" Sasuke tidak tertarik mendengar ocehan rekannya. Ia berjalan terus sampai punggungnya tidak terlihat lagi.
]
Ada yang salah dengan Gadis Hyuuga hari ini. Wajahnya yang biasa memancarkan aura lembut nan anggun kini terganti dengan ekspresi pucat pasi. Ditemani suhu udara yang tidak bersahabat, ia tetap menyusuri pasar konoha yang terlihat lebih ramai dari hari biasa. Ia mengunjungi beberapa kedai makanan dan juga membeli beberapa macam buah. Terakhir, tujuannya adalah toko yamanaka. Mencari bunga matahari untuk berkunjung ke makam mendiang Neji Hyuuga. Ia bergegas memasuki toko nakamanya itu.
"Selamat datang eh- Hinata." Sapa Ino menghampiri dengan wajah sumringah.
"Kau pasti mencari bunga matahari kan." Sudah menjadi kebiasaan si sulung Hyuuga jika ia datang ke toko tersebut.
"Mengapa wajah mu pucat sekali. Apa kau sedang sakit?" Ino mengamati bibir Hinata seperti orang terkena dehidrasi parah.
"Ti-tidak Ino-san. Aku hanya kurang tidur." Jawabnya pelan.
"Oh begitu. Sebentar ya Hinata. Aku ambilkan pesananmu dulu." Kata Ino seraya mencari dimana letak bunga mataharinya tersimpan.
"Ah ketemu." Ia meraih beberapa tangkai lalu memberikannya pada si gadis Hyuuga.
"Ini pesananmu." Ucap Ino tersenyum ramah.
"Terima kasih Ino-san. Aku pergi dulu."
Setelah membayar Hinata langsung keluar dari dalam toko. Tetapi saat hendak ingin melangkah lebih jauh, dirinya tiba-tiba terperanjat. Dari jarak 5 meter berdiri sosok bertubuh tinggi dengan pandangan lurus menembus ke iris matanya.
Tidak mungkin!
Uchiha Sasuke memandanginya dari seberang. Dia terlihat begitu dingin dan misterius. Mengapa ia selalu muncul? Hinata tidak sanggup lagi. Ia menundukkan kepala. Lelaki di depannya masih saja tetap bergeming.
Mengapa dia terus memperhatikanku?
"Oi Hinata."
Deg
Gadis berambut panjang mendongak ke atas. Lalu tubuhnya bergerak setengah melihat bahwa di seberang kirinya berdiri kekasih hatinya sambil tersenyum melambaikan tangan. Hinata mematung. Situasi yang tergambar menjadi begitu rumit. Ia menoleh kembali ke arah Sasuke yang berada di seberang kanan, ia mendapati Sasuke tak juga bergerak.
Waktu terasa seperti berhenti berputar.
Apakah ini artinya Kami-sama ingin Hinata untuk memilih salah satu dari antara mereka berdua?
Gadis Hyuuga menunduk. Ia menggigit ujung bibir. Bukankah sudah jelas pilihannya adalah Naruto. Lalu mengapa Hinata merasa sangat sulit untuk melangkahkan kaki.
Apa yang harus aku lakukan?
Perlahan-lahan Hinata menggerakkan tubuhnya membelakangi Pemuda Uchiha. Walau di dalam lubuk hati terasa ada yang mengganjal. Ia mencoba menepis perasaan itu dan mulai berjalan ke arah Naruto berada.
"Sasuke-kun."
Deg
Hinata menghentikan kakinya. Menoleh ke sumber suara yang memanggil nama pemuda Uchiha. Di belakang Sasuke, berdiri sosok Sakura, si gadis musim semi yang tengah tersipu malu.
Mengapa dia hanya diam saja?
Mengapa dia tidak menoleh sedikitpun?
Mata Sasuke tetap tertuju padanya. Tidak kemana-mana. Hanya berpusat pada Hinata.
Pada akhirnya gadis beriris bulan tidak mengindahkan kata hatinya yang berteriak keras memberitahu sebuah petunjuk.
Dia tetap mengabaikan sosok Uchiha Sasuke, dan pergi menyambut sang mentari.
TBC
NB: Aku lupa kasi tau di cerita ini Sasuke punya tangan utuh.
Kalau flashback masa kecil itu sebelum pembantaian klan terjadi.
Mohon maaf Kalau ada persamaan kata, tempat, ataupun waktu kejadian. Itu semua murni tidak ada maksud di sengaja
Terima kasih banyak!
