KookTae / KookV
Cast :
Jeon Jeongguk
Kim Taehyung
Author : Tian Yerin a.k.a Wulan Titin
Genre : Hurt/Comfort
Disclaimer :
Cast(s) belongs to god, their entertainment, and their parents but the story line belong to me
.
.
.
"Pulang"
HAPPY READING
.
.
.
PART 1
"Hei! Orang rendahan sepertimu kenapa bisa masuk sekolah elit begini, sih?"
"Benar, kau kan simpanan om om. Aku melihatmu bersama pria tua itu kemarin malam keluar dari hotel."
"Hei, Yeri! Jaga mulutmu! Belum tentu itu benar. Kenapa kau dan teman-temanmu senang sekali mengganggu Taehyung? Lagipula dia ini lelaki. Kalian gila."
Ya, objek yang jadi pembahasan mereka tak lain dan tak bukan adalah Kim Taehyung. Seorang siswa di sekolah terpandang yang berdiri tengah pusat kota. Taehyung hanya terdiam memandangi temannya satu persatu. Di raut wajahnya tak sekalipun terlihat bahwa ia akan menyangkal ataupun tampak terganggu dengan perkataan itu. Ia selalu melakukannya acap kali dicaci maki seperti itu. Hanya ada satu orang yang selalu membelanya dan orang itu adalah-
"Hei, Park Jimin! Tutup mulutmu! Kenapa kau selalu membelanya? Diamlah seperti Jeongguk di sudut sana." titah Wendy.
Jeongguk yang merasa namanya dibawa akhirnya merubah posisi. Dengan sebelah tangan yang memangku dagunya, ia melirik ke arah Jimin lalu berganti Taehyung. Ia mendesah keras hingga menarik atensi Yeri dan komplotannya.
"Kenapa kau mendengkus begitu, uri Jeongguk-ie?" tanya Yeri ramah.
Jimin menatap Jeongguk ragu. Tumben sekali Jeongguk merespon. Ia sempat terpikir kalau mungkin saja karena namanya disebut barusan. Lantas ia hanya menunggu jawaban yang akan keluar dari lelaki itu.
"Park Jimin, kemari kau."
Jimin tertegun. Matanya sedikit melebar mendengar nada suara Jeonggguk yang seolah tak boleh diabaikan. Namun entah mengapa kakinya kaku dan tak mau bergerak. Ia menoleh ke arah Taehyung yang masih saja tak berekspresi. Baru saja kakinya ingin melangkah, Jeongguk meneruskan kalimatnya.
"Kenapa kau membantu orang yang tidak membutuhkan bantuan, Jimin? Kau hanya akan masuk dalam lingkaran masalah. Kalau dia diam saja dan tak membela diri, biarkan saja. Dia tak mau urusannya dicampuri."
Demi Tuhan, Jimin melihat kelopak mata Taehyung sedikit melebar dan wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut luar biasa. Mungkin karena ucapan Jeongguk yang kelewat acuh, ia jadi bisa merasakan dingin menusuk tulangnya.
Jimin menghela napasnya perlahan dan berjalan menjauh. Ia kembali ke mejanya, yaitu di belakang Jeongguk. Setelah itu ia tak tau lagi bagaimana ekspresi Taehyung karena guru pun sudah memasuki kelas mereka.
Di dalam kelas, Taehyung tampak serius sekali. Ia mampu dengan lancar dan mudah menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan gurunya. Taehyung memang anak yang dibanggakan karena ia selalu bisa menaikkan nama baik sekolahnya. Ia sudah menyumbang banyak piala dan medali serta piagam yang diizinkan pihak sekolah untuk ia bawa guna dijadikan acuan apabila ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi nantinya. Anak beasiswa sepertinya pastilah tekun, setidaknya Jimin berpikir begitu. Maka dari itu ia selalu membela Taehyung.
Tak terasa pelajaran berlalu dengan cepat dan tiba saatnya pulang. Hari ini mereka dipulangkan lebih cepat karena para guru harus rapat tentang satu dua hal dan siswa/i dianggap lebih baik belajar di rumah saja karena para guru butuh ketenangan saat rapat digelar.
Kembali, komplotan Yeri datang dan menendang meja tempat Taehyung yang mana ia sedang merapikan kotak pensilnya. Ia mendongak dan menatap Yeri tenang. Sejujurnya ia lelah. Hidup di rumah keduanya dengan tanpa seorang teman pun. Teman dalam artian positif. Kalau teman dalam konteks negatif banyak. Karena hampir semua temannya membicarakannya di belakang. Bagaimanapun juga ia lelaki, selelah apapun, sesakit apapun hatinya, ia tak mampu melampiaskannya pada perempuan. Kepalanya masih berfungsi dengan baik.
"Kenapa kau melihatku begitu? Tatapanmu membuatku muak."
Taehyung memejamkan matanya. Perih menjalar ke kulit kepalanya. Ia mendesis dan alhasil Jimin menoleh dan langsung menepis tangan Joy dengan kasar.
"Kalian ini perempuan barbar!"
"Park Jimin. Lagi-lagi kau mengganggu kami."
"Jangan kalian semena-mena padanya hanya karena kalian anak donatur di sini. Aku bisa melaporkan kalian pada-"
Seulgi tertawa dengan anggun. Ia mendongak dan tawanya berganti dengan tatapan sinis.
"Coba saja. Aku berani jamin setelah melaporkan kami, kau lah yang akan dikeluarkan."
Mata Jimin melebar. Benar. Mereka berlima memang donatur besar di sekolah ini. Ia tak berdaya melawan mereka. Tapi ini salah, Taehyung juga kenapa tidak pernah angkat suara, sih?
"Park Jimin, ayo pulang. Ayahmu sudah menjemput."
Ucapan Jeongguk membuyarkan pikiran Jimin. Namun, saat kakinya ingin melangkah, ia kembali berhenti. Ia kembali menatap komplotan Yeri dan Taehyung bergantian.
"Kenapa kalian selalu mengganggu Taehyung? Apa dia pernah melakukan kesalahan? Dan kenapa kau tidak berkata apa-apa, Kim Taehyung?"
Nada suaranya sedikit bergetar. Sesungguhnya ia memang hanya pihak luar yang menerobos masuk dalam urusan diantara mereka.
Yeri menjawab dengan tegas, "Kesalahannya adalah masuk ke sekolah ini."
"Tidak masuk akal sekali. Kau hanya ingin membullynya, kan?"
"Ah, satu lagi. Kami mengganggunya karena ia tak merasa terganggu juga karena ia tampak lemah dan tak punya daya melawan, Park Jimin."
Jeongguk menendang mejanya dengan keras hingga kelas yang kini hanya berisikan mereka berdelapan pun menggema. Jeongguk mengacak rambutnya kesal. Entah ia kesal karena ketenangannya terusik atau karena Jimin mengabaikan ajakannya untuk pulang.
Kaki Jeongguk melangkah dengan lebar dan berhenti tepat di hadapan Taehyung yang memandanginya dengan tatapan tenang. Saat Jeongguk melihatnya dari dekat ia merasa ada yang salah dengan Yaehyung. Matanya memerah seperti menahan sesuatu namun ekspresi wajahnya sangat tenang seperti sedang melamun.
"Park Jimin, turunlah sekarang juga. Atau ayahmu akan naik kemari dan melihat situasi ini."
Jimin terkejut dan segera berlari keluar kelas. Benar saja, ayahnya sudah berada di anak tangga terakhir di lantai kelasnya berada. Dengan cepat ia mengajak ayahnya bergegas pulang dengan beralasan ia terlambat karena mengerjakan tugas yang sebentar lagi selesai.
"Jeongguk tidak pulang bersama?"
"Tidak ayah, Jeongguk izin pulang lebih awal. Tumben ayah yang menjemput, Pak Lee kemana?"
"Oh, ayah menjemput karena ayah ada meeting di luar dan Pak Lee sedang mengantar ibu kontrol ke rumah sakit, kau lupa jadwal ibumu?"
Jimin menggaruk kepala belakangnya dan tertawa kecil dan melanjutkan obrolan kecil bersama sang ayah.
Kembali ke Jeongguk yang masih saling bertatapan dengan Taehyung dan itu membuat Yeri tak suka. Benar, Yeri menyukai Jeongguk sedari awal masuk sekolah itu. Ia sudah setengah mati berusaha agar Jeongguk meliriknya, namun satu kali pun hal itu tidak pernah terjadi. Dan kini, pujaan hatinya malah menatap orang yang ia ganggu?
"Jeongguk-ie... Kenapa kau tidak pulang saja bersama Jimin? Kami ada urusan yang belum sele-"
"Hei, Kim Taehyung. Lebih baik kau keluar dari sekolah ini dan cari beasiswa di tempat lain. Sekolah ini tak bisa menampung siswa yang mati rasa sepertimu."
Jeongguk keluar diikuti komplotan Yeri. Mereka membuntuti Jeongguk dan menyerukan bahwa kata-kata yang dilontarkannya tadi hebat. Begitu terus hingga suara mereka hilang dibalik tembok.
Tarhyung kembali mengemasi buku dan perlengkapan sekolahnya lalu menjinjing tasnya. Ia beranjak keluar kelas namun ketika kakinya hampir sampai di depan pintu gerbang, ia berbelok dan masuk ke ruang yang cukup besar di mana sudah terdapat banyak guru di sana. Ia sudah menduga, pasti mereka semua akan membahas perkara masalah dirinya yang simpang siur ini, cepat atau lambat. Ketika pikirannya berkelut resah, tangan Taehyung mengepal seolah tahu apa yang akan terjadi.
.
.
.
