Everything I Need

.

Desclaimer : Naruto by Masashi Khisimoto

Pairing : Kiba/Ino

Chapter 8 : A Moment to Remember

.

.

Hari ini rasa pusing menderanya tanpa ampun, dan ketimbang mendengarkan celotehan Sakura tentang semua hal yang tidak benar-benar ia tahu, Ino lebih memilih mengamati jalanan sekitar ketika sesi menunggu bus. Astaga, sialan kenapa busnya tidak segera datang?

Satu pesan muncul, dan Ino nyaris mengira itu dari sang mantan. Tapi ternyata, bukan. Hanya pesan dari ibunya.

'Apa dia setuju untuk ikut makan malam bersama kami?'

Ino mendesah, kalimat Sakura tentang seseorang menyebalkan di kelasnya lolos dari pendengaran. Dan ingatannya tentang Kiba tidak sepenuhnya membuatnya lega. Lelaki itu tak mengatakan jika dia bersedia datang, dan seingatnya dia hanya mendengarkan dengan kening berkerut seolah itu permintaan yang terlalu mustahil untuk bisa dikabulkan.

Ia mengetikkan balasan singkat dan berusaha tak membuat orang tuanya kecewa.

'Dia orangnya lumayan sibuk, jadi kami akan mencari waktu luang yang tepat. Ku harap Mom nggak terlalu menaruh harapan besar untuk ini.'

Pesan sukses terkirim ketika Sakura berbisik pelan di telinganya, "Gaara jalan ke sini."

Atensi keduanya lekat pada Gaara, yang berjalan mendekat dengan tas yang mengait salah satu pundaknya, dan ekspresi wajahnya tak bisa dijelaskan. Apa dia hendak menunggu bus juga?

Pertemuan mereka tak pernah secanggung ini, ya Tuhan Ino serasa mau muntah. Ini sungguh memualkan. Kalau saja mereka tak habis bertengkar beberapa hari lalu, barangkali sekarang sudah ngobrol asyik tentang banyak hal. Rencana pergi nonton bersama mungkin? Atau sekedar berkumpul dengan bahasan ngelantur. Tapi tidak begitu sekarang. Udara serasa membeku diantara mereka, sementara aktivitas dunia tetap seperti biasanya.

Mereka berdiri bersisian, dan segala omong kosong Sakura mendadak berhenti. Seolah dia kehabisan bahan obrolan, dan lebih memilih diam. Alih-alih lega, Ino justru berharap Sakura kembali berbicara tentang apapun, karena itu terdengar lebih mudah ketimbang membiarkan suasana sunyi seperti ini. Bukannya ia berharap Gaara menyapa, dan sungguh ia juga tak ingin menyapa. Tapi ayolah, dimana sih busnya ini?

"Ponselmu bunyi terus, dari siapa sih?" Pertanyaan tak penting, dan bukan Sakura sekali. Tapi Ino kagum dengan usaha Sakura untuk tetap terlihat seperti biasanya.

"Ibuku, benar-benar deh dia ini." Ia jelas menyesal pernah mengirim fotonya bersama Kiba beberapa hari lalu, dengan kalimat pendek di bawahnya. Aku sudah bisa makan dengan tenang lagi Mom. Yang ingin ia tarik lagi andai sang ibu belum membaca pesan itu.

Meski tidak sama-sama mengungkapkan, Ino dan Sakura bersorak dalam hati ketika bus biru itu berhenti di hadapan mereka. Rasa lega membanjiri keduanya ketika mulai berjalan masuk.

"Hei kalian."

Sakura baru selesai dengan tangga bus, dan Ino baru memasuki pintu ketika suara Gaara menginterupsi. Keduanya menoleh, agak tak yakin dengan respon yang ingin mereka berikan.

"Aku minta maaf." Sabaku menunduk sekilas sebelum menatap dengan penuh tekad.

Ino rasa ini bukan masalah dimaafkan atau tidak, karena ia merasa ini tak ada sangkut paut dengannya. Kendati bentakan Gaara waktu itu sedikit membuatnya sakit hati, itu tak benar-benar membuatnya menyimpan dendam. Jadi ia bingung sendiri harus merespon bagaimana.

"Lupakan saja berengsek," Sakura mendengus jengkel. "Ayo Ino."

Hingga melangkah masuk bus pun, Ino masih tak merespon apapun ucapan Gaara. Dan sepertinya bukan bus yang tengah ditunggu cowok itu, dia hanya berusaha mencari momen yang tepat untuk minta maaf. Mendadak Ino agak merasa bersalah.

.

.

"Oh maaf nona," Kiba menghela napas ketika nyaris menabrak seorang gadis di belokan lorong. Gadis itu tersenyum singkat, dan mengangguk sebagai tanda maaf juga. Ia nyaris mengenal orang-orang yang tinggal disini, tapi gadis yang tadi seolah baru pertama kali ia lihat. Penghuni baru? Mungkin saja.

Kiba kembali berjalan ketika Shikamaru baru saja keluar dari pintu apartemennya, dan tersenyum sembari melambai sekilas.

"Baru pulang Bro?"

"Yeah, hari yang selalu melelahkan." Ia berusaha melukiskan senyum yang sama cerianya, tapi sepertinya gagal total. "Kau kelihatan bahagia sekali."

Tawa singkat Shikamaru seharusnya menjelaskan segalanya, tapi Kiba masih tak cukup yakin dengan opininya. Jadi dia tetap memutuskan berdiri di depan pintu dan menunggu si lawan bicara memberi tahu sesuatu.

"Kau pasti berpapasan dengannya tadi, dia baru saja pulang."

"Siapa?"

"Pacarku," Ujarnya. "Kau benar, itu cuma soal waktu, karena sekarang dia kembali mengenalku. Meski beberapa ingatannya masih perlu proses penyembuhan."

Kiba mengangguk, dia sudah berusaha tersenyum sebagai rasa hormat atas kebahagiaan Shikamaru, tapi barangkali bibirnya hanya melukiskan garis lurus yang tak bisa disebut senyum. "Nah kan, aku lebih suka melihatmu normal tanpa beban Man, dan pacarmu itu akan sembuh total."

Shikamaru mengangguk selama Kiba membuka kunci apartemennya, dan ketika pintu sudah berhasil terbuka ia tiba-tiba bingung untuk mengakhiri percakapan mereka. "Mau main ke sini?"

Pemuda Nara itu menggeleng, memutar ponsel di tangan sembari berujar, "aku akan menunggu Temari sampai rumah lalu meneleponnya. Jadi, selamat istirahat Bung."

"Oke," Tak ada yang ingin ia katakan lagi ketika mulai mengunci pintu dari dalam, yang ingin ia lakukan sekarang hanyalah merebah. Tugas kuliah bisa menunggu nanti.

.

.

'Apa kau sibuk?'

Itu pesan dari Ino yang dikirim sekitar dua jam lalu, dan Kiba berusaha memperoleh kesadarannya sejenak. Sekarang sudah nyaris pukul sebelas malam, apa ada urusan penting yang ingin disampaikan cewek itu tadi? Atau dia butuh bantuan? Dengan cepat dia mengetikkan balasan, merasa sedikit tak enak jika respon Ino nantinya mengecewakan.

'Oh sorry, aku ketiduran.'

'Aku free.'

Sejujurnya tidak begitu, setumpuk laporan mikrobiologinya belum terselesaikan di atas meja, dan menunggunya dengan kebosanan akut karena terlalu lama ditunda.

Kiba menghela napas ketika sampai lima belas menit kemudian, Ino tak kunjung membalas pesannya. Barangkali, besok pagi ia akan menemui Ino dan menanyakan alasannya mengirim pesan. Namun, bukan pesan yang akhirnya membuatnya tertegun, tapi panggilan video dari Ino. Kenapa berubah jadi panggilan video?

Setelah tiga detik, ia memutuskan mengangkatnya dan mendapati tawa cewek itu mengalun saat gambar mereka sama-sama muncul di layar.

'Astaga Kiba, rambutmu parah.'

Pikirannya setengah sadar, tapi juga terasa penuh saat suara Ino seolah menggema dalam kamarnya. Kiba ikut tertawa pelan, dan mulai merapikan rambutnya yang awut-awutan. "Yeah, aku baru bangun tidur." Hening sejenak. "Kau oke?"

"Sangat oke," Kata Ino. "Ada yang perlu ku tanyakan lagi soal ajakan makan malam itu."

Mendadak otaknya jadi berat untuk diajak berpikir, dan bukannya Kiba merasa malas untuk datang atau apa, ayolah ini bukan sesuatu yang sederhana. Lagipula dari sekian banyak teman yang pernah dikenal Ino, kenapa harus dirinya? "Ku pikir kau cuma bercanda waktu itu."

"Ya Tuhan, Kiba. Tentu saja tidak."

Kiba bisa melihat sebagian rupa kamar Ino. Dinding dengan cat berwarna ungu muda, rak buku disisi lain kamar, bersebelahan dengan meja belajar dan jendela yang terletak tepat di samping tempat tidur. Terlihat luar biasa rapi. "Aku nggak yakin itu ide bagus, Ino. Orang tuamu bisa saja tak menyukaiku."

"Kita kan belum mencoba." Rasa optimisnya terasa jelas dari nada bicaranya, membuat Kiba yakin jika Ino tak akan menyerah sebelum ia mengiyakan ajakan itu. "Dan ibuku bertanya lagi, kapan aku bakal mengajakmu ikut makan malam bersama mereka."

Ya Tuhan, ini berawal dari apa dan bagaimana? Ia dan Ino hanya teman, memang, tapi pemaksaan ini akhirnya terdengar seperti sosok calon mantu yang akan dikenalkan pada orang rumah. "Yeah, oke." Dan siapa tahu itu memang menyenangkan seperti yang Ino katakan. Ingat, ia cuma teman, tidak ada alasan untuk gugup berlebihan.

"Asyik, kau nggak akan kecewa Inuzuka."

Kiba tidak yakin Ino tersenyum selebar itu untuk apa? Lagipula keuntungan semacam apa yang bakal dia peroleh dari kegiatan membawa Kiba ke acara makan malam keluarganya?

.

.

Ino menjelaskan beberapa hal soal Karin selama perjalanan satu jam mereka menuju kediaman Yamanaka. Yang tidak semuanya bisa Kiba tangkap karena rasa gugupnya seolah nyaris mencekik pembuluh darahnya. Intinya, Karin yatim piatu, dia pernah suka Gaara, Gaara menolaknya, dan Karin jadi memacari nyaris seluruh cowok karena patah hati. Yeah, apapun itu tak terlalu penting, tapi setidaknya Kiba akhirnya paham kenapa Karin suka gonta-ganti pacar.

"Tahu tidak, kemarin Gaara menemuiku dan Sakura di halte hanya untuk minta maaf," Ino mengerling Kiba, berharap mendapati ekspresi antusias. Tapi sepertinya wajah datar Kiba tak terlalu bisa menunjukkan ekspresi yang berarti.

"Oh ya?" Jalanan yang agak macet terasa lumayan bikin lelah. "Dia absen tiap kali kami mengajaknya latihan band ataupun futsal. Tapi kata Sasuke, dia bakal normal lagi dalam beberapa hari."

Dia bakal normal dalam beberapa hari, tetap saja yang jadi canggung dengan Gaara nantinya bukan hanya Karin tapi Sakura juga, dan mungkin dirinya termasuk. "Aku nggak suka memikirkan ini, aku harus kasihan atau nggak suka dengan Gaara. Dia... menyebalkan, tapi--"

Kalimat cewek itu yang menggantung membuat Kiba mengernyitkan kening, apa yang hendak dikatakan Ino sepertinya tak ingin dia lanjutkan lagi. "Tapi apa?"

Biru jernih iris Ino mengerjap perlahan, seolah mencari kata paling tepat dalam otaknya tanpa perlu membuka banyak aib. "Tapi kadang-kadang baik, maksudku ekspresi waktu minta maaf itu agak bikin iba."

"Kau nggak memaafkannya?"

Ino menggeleng, "Sakura membentaknya, dan busnya sudah datang."

Kiba menghela napas panjang, "apa Sakura memang begitu?"

"Kadang-kadang, tapi dia baik."

Kiba tidak tahu inti obrolan ini apa, kalaupun Ino menjelaskan seluruh sifat teman-teman mereka, itu masih tak bisa mendeskripsikan seluruhnya dengan baik. Tapi ia lumayan berterima kasih karena rasa gugupnya agak berkurang berkat percakapan itu.

.

.

"Goal." Teriakan ayah Ino menggema ketika Kiba berhasil membobol gawang lawan dan menimbulkan desah kecewa bagi lawan mereka.

Ino bohong soal makan malam keluarga, yang Kiba kira hanya makan malam keluarga inti. Nyatanya itu adalah makan malam mewah untuk merayakan ulang tahun ke 51 ayah Ino. Banyak temannya yang diundang kesana, dan keluarga besar Ino juga tak kalah banyak. Kiba mendadak menyesal telah setuju untuk datang kemari. Tapi meskipun begitu, ia tak menyangkal jika ada sedikit rasa bangga ketika para orang tua itu mengajaknya main bola. Sesuatu yang memang susah untuk ditolak.

"Hei anak muda, kalau saja kau lahir lebih awal, ku pastikan kau bergabung dengan tim kami." Itu suara Pak Iruka, salah satu teman ayah Ino yang sejak tadi tak berhenti memuji permainan Kiba.

Ino sempat memberikan informasi sekilas soal ayahnya yang dulu tergabung dalam tim sepak bola kota, sebelum akhirnya memilih kuliah dan menjadi dosen. Detail informasi itu lumayan membuat Kiba senang, sebab sepak bola mencairkan suasana canggung antara dirinya dan para orang tua tanpa harus terlalu banyak bicara.

"Dia benar-benar luar biasa kan?" Pak Asuma, menepuk bahu Kiba, tepukan paling bersahabat yang pernah Kiba terima dari lelaki seusia ayahnya. "Apa dia ini pacar anakmu?"

Tatapan gugup Kiba sempat beradu dengan manik biru milik Tuan Yamanaka, yang langsung menyunggingkan senyum lebar.

"Entahlah jika bisa disebut begitu, Ino cuma bilang mereka teman." Gelak tawa para lelaki paruh baya itu sedikit mengusik sekumpulan wanita sosialita di ujung lain teras belakang. Tapi mereka sungguh tak peduli, rasa bahagia membanjiri masing-masing orang disana. "Atau Ino terlalu malu untuk jujur pada kami."

Apa-apaan ini? Dan meskipun Kiba hanya bisa menanggapi dengan senyum, sejujurnya ia setengah ingin lari, namun setengahnya tetap ingin berada disana. Segala kehangatan dan perhatian yang mereka berikan membuat hatinya nyaman, hal familiar yang dulu sering ia dapatkan dari keluarganya. Saat ayahnya belum berubah jadi monster cuek yang seperti tak memiliki perasaan. Ketika Kiba menoleh ke ujung kanan teras, Ino berdiri disana, menatapnya dengan senyum terkembang manis.

.

.

Ino perlu ke toilet untuk membetulkan riasannya sebelum sesi foto bersama dimulai, dan tak sengaja mendengarkan percakapan para sepupu kecilnya di teras sepi sebelah air mancur. Tak ada dari mereka yang menyadari kehadirannya, dan andai itu tak menyangkut sesuatu tentang dirinya ia tak akan repot-repot berhenti untuk mendengarkan.

"Aku lebih suka Sai dari pada yang ini." Itu suara Mika, anak lelaki 12 tahun. Yang selalu membuat Ino heran dengan segala caciannya pada apapun yang tak disukainya.

"Aku suka yang ini, ayolah, Sai membosankan setengah mati." Dan disisi lain, Mai, si gadis kecil lucu dengan pipi tembem yang selalu membuat Ino menjulukinya bakpao menjawab dengan polos.

"Setidaknya dia begitu rupawan." Mika sedikit menekankan kata 'rupawan' lebih dari kata lainnya.

"Tapi Sai nggak punya sisi keren sebagai seorang lelaki." Mai bersedekap, dan membuat Ino terkikik pelan. "Kaukah itu Ino?"

Sembari memutar bola mata, ia tak punya pilihan untuk keluar dari persembunyian. Pura-pura memasang ekspresi datar tanda kesal. "Berhenti membicarakan mereka anak-anak, aku tak suka itu."

.

.

Ini foto keluarga besar yang luar biasa, saling peduli, tertawa bahagia bersama, saling merangkul dan tak ada yang saling menjatuhkan. Kiba belum pernah merasa sekagum ini dengan keluarga Yamanaka, ah tentu saja, ini kan pertama kalinya dia bertemu mereka.

Ia masih mengamati foto yang baru dikirim Ino beberapa menit lalu, dan tersenyum melihat foto dirinya diapit oleh paman dan bibi Ino. Kesan pertama bertemu yang terasa seperti sudah menjadi bagian selama bertahun-tahun.

"Hei," Sapaan sederhana Tuan Yamanaka membuat Kiba teralihkan dari ponselnya. "Ku dengar kau ambil Farmasi ya? Calon Apoteker eh?"

Tidak tahu harus menanggapi apa, Kiba cuma tertawa. Para tamu sudah mulai pamit, menyisakan beberapa anggota keluarga. Lagipula ini sudah nyaris tengah malam, dan seharusnya ia serta Ino sudah harus kembali. "Yeah, Paman."

"Belajar dari mana teknik sepak bola?"

"Ayah saya, dia suka main bola waktu mudanya. Kalau sekarang dia sudah sibuk dengan pekerjaan." Kiba menerima uluran minuman dingin dari Tuan Yamanaka, dan mendadak berharap Ino yang berada di seberang ruangan menghampiri untuk mencairkan suasana.

Pria paruh baya itu mengangguk, lalu menghela napas pelan, dan mengikuti arah tatapan Kiba. "Seberapa sayang kau padanya?"

"Eh?" Pertanyaan itu mengejutkannya, kenapa topik pembicaraan itu mendadak berubah?

"Ino bilang kau sering membantunya dalam banyak hal, dan kurasa sikapnya akhir-akhir ini agak melunak." Mata birunya kembali fokus pada Kiba, tak tahu apa yang mungkin dipikirkan pemuda dua puluhan itu. "Kalau saja kau tahu beberapa bulan lalu, dia seolah tak memiliki gairah hidup."

Tak memiliki gairah hidup? Apa ini karena mantan pacarnya itu? Keluarga Ino sepertinya sangat suka ikut campur urusan anak mereka. Ia tidak yakin ini bisa disebut baik, tapi bisa juga ini bukan soal mencampuri tapi karena mereka begitu peduli dan sayang pada Ino. "Apa benar begitu? Saya rasa, dia orang paling ekspresif yang pernah saya kenal."

Tawa pelan pria itu menguapkan segala bentuk canggung yang semula menggelayut dalam dada Kiba, "mungkin, dan aku minta tolong."

Minta tolong apa? Belum-belum Kiba sudah dibuat berdebar dengan pernyataan singkat itu.

"Bantu kami menjaganya ya."

Kiba membeku, apa maksudnya?

.

.

"Ayah nggak bicara yang aneh-aneh kan padamu?" Itu adalah pertanyaan Ino setelah obrolan mereka soal sepupu kecil Ino yang naik ke atas pohon dan tak bisa turun selesai, sementara tawa diantara mereka masih tersisa.

Kiba bukan pembohong yang mahir, tapi ia tak mungkin bilang pada Ino jika sebagian besar obrolannya dengan Tuan Yamanaka adalah tentang dirinya. Itu agak memalukan dan, aneh. "Nggak." Ia mengalihkan tatapan ke depan, dimana jalanan sudah sepi dan kendaraan hanya satu dua yang masih beroperasi di tengah malam seperti ini. "Kami membicarakan sepak bola."

Helaan lega napas Ino mampu dirasakan Kiba, dan kendati untuk alasan apa cewek itu melakukannya Kiba cuma menduga, jika Ino malu dibicarakan terlalu banyak oleh orang tuanya. Ia tak banyak ngobrol dengan Nyonya Yamanaka, selain membantunya membawa sekeranjang buah yang hendak dimasukkan ke lemari pendingin. Dan sementara wanita itu menanyainya soal study, fokus pikiran Kiba sudah melambung ke mana-mana. Lebih karena gugup, namun berusaha keras terlihat santai.

"Ayah bilang aku perlu lebih sering lagi mengajakmu ke rumah, agar kalian bisa main sepak bola bareng lagi." Matanya lelah dan ingin terpejam, tapi ada sebagian dari dirinya yang enggan untuk segera sampai di apartemen. "Kalau kau nggak keberatan sih."

Kiba tersenyum, untuk pertama kalinya merasa memiliki ayah lain yang menghargainya. Meskipun bahkan cuma menganggapnya ada. "Yeah, mungkin itu ide bagus." Ayah Ino sempat minta nomor teleponnya tadi, yang ia berikan dengan senang hati. Jadi, seharusnya pria itu tak perlu memberi tahu Ino jika kapan-kapan ingin mengajaknya main futsal lagi.

"Senang sekali rasanya."

"Apa?" Kiba tak mampu menahan kagum, entah kenapa malam ini biru jernih manik Ino tak henti-hentinya mengobarkan ekspresi pengharapan yang luar biasa.

"Senang sekali rasanya bisa mewujudkan keinginan orang tuaku untuk bisa punya anak lelaki seperti yang mereka harapkan." Ekspresi bingung Kiba membuatnya gemas, dan meskipun tidak ada hubungan khusus antara mereka selain teman, Ino rasanya ingin mencium pipi cowok itu. "Aku tidak bermaksud berlebihan Kiba, tapi ini kenyataan."

Kiba lelah luar biasa, tapi sisa tenaganya masih terlalu banyak hanya untuk sekedar tertawa. "Aku nggak seyakin itu pernyataanmu sungguhan."

Ino nyaris menyanggah, namun honda civic itu sudah berhenti di halaman apartemennya.

"Kita sudah sampai, pastikan kau istirahat dengan baik karena besok kita harus kuliah lagi."

Desahan Ino tertahan ketika mulai melepas sabuk pengamannya, dan sejenak teringat sesuatu. "Kemejamu sudah ku cuci, tapi aku selalu lupa mengembalikannya."

"Yeah ambil saja kalau kau suka."

"Mana mungkin begitu," Ino memutar bola mata mengingat kemeja itu terlalu besar untuk ukuran tubuhnya, panjangnya saja mencapai pertengahan paha.

"Cuma bercanda," Kiba tergelak lagi melihat respon lawan bicaranya. "Simpan saja dulu, kembalikan lain kali."

Ino mengangguk, dan mulai membuka pintu. "Trims untuk hari ini. Kau luar biasa." Ia mengacungkan jempolnya, sebelum menutup pintu dan melenggang pergi.

Senyum tipisnya masih tersisa bahkan ketika Ino sudah mulai memasuki lobi apartemen. Entah kenapa, kebersamaan ini terasa familiar dan nyaman di saat bersamaan. Ino tidak se-merepotkan yang pernah dibayangkannya. Dan, sepertinya menjadi urutan paling atas dalam daftar hal-hal yang membuatnya semangat untuk sekedar menarik napas.

Seharusnya tadi ketika mengucapkan kalimat terakhir sebelum pergi, ia membalas cewek itu dengan ungkapan, 'thanks, karena keluargamu ternyata baik sekali.' Tapi mungkin ia bisa mengirim pesan singkat saja untuk itu.

Arlojinya menunjuk pukul 01.24 ketika ia meninggalkan halaman apartemen Ino, dan mendadak segala lelah satu persatu mengalir sepanjang urat nadinya. Demi Tuhan, ia besok harus bangun pagi untuk ikut praktikum Farmakognosi.

tbc

~Lin

26 Februri 2025