KookTae / KookV

Cast :

Jeon Jeongguk

Kim Taehyung

Author : Tian Yerin a.k.a Wulan Titin

Genre : Hurt/Comfort

Disclaimer :

Cast(s) belongs to god, their entertainment, and their parents but the story line belong to me

.

.

.

"Pulang – Part II"

HAPPY READING

.

.

.

Satu hari berlalu ..

Dua hari berlalu ..

Hari demi hari berlalu hingga berganti minggu. Akan tetapi Taehyung tak kunjung terlihat. Siswa/i lain berspekulasi kalau ia sudah dileluarkan atau malah mengundurkan diri dari beasiswa yang masih berjalan. Tapi Jimin geram, spekulasi mereka membuatnya semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Taehyung. Akhirnya ia memberanikan diri menanyakannya pada guru di tengah pelajaran.

"Bu, saya ingin bertanya. Apakah ibu tahu kemana Kim Taehyung? Karena ibu selalu melewatkan namanya, saya jadi sadar kalau ibu tahu apa yang terjadi."

Seisi kelas menjadi diam dan memandangi Jimin yang berdiri di sana.

"Kim Taehyung sedang diskors selama dua minggu. Lebih baik kalian hanya tahu hal ini saja. Sekarang, Bae Irene lanjutkan baca hal 51 dengan aksen British."

Yah, seperti itu. Sang guru sudah memutus keinginannya untuk bertanya lebih. Setidaknya ia tahu kalau Taehyung hanya diskors bukan keluar atau dikeluarkan.

Jeongguk masih terdiam mendengar penjelasan sang guru. Sebenarnya ia sedang memikirkan hal lain. Betul, ia memikirkan Kim Taehyung. Kepalanya mengutuk mulutnya yang selalu berbicara tajam. Terlebih saat malam itu, 2 hari sebelum hari ini ia melihat pemilik nama itu begitu sakit.

Pikirannya melayang kembali ke saat itu. Jeongguk sedang keluar mencari kedai yang menyajikan makanan jepang cepat saji. Tapi saat melewati mulut lorong gelap, ia medengar suara lirih yang sepertinya ia kenali. Perlahan kakinya mendekat dan benar saja, ia melihat siluet Taehyung menangis terisak dengan mulut yang ia bekap sendiri. Sebelah tangannya menggenggam ponsel. Sepertinya ia sedang menelepon seseorang. Jeongguk hanya bisa mendengar sedikit percakapan mereka. Secara garis besar ia mengetahui kalau Taehyung bekerja paruh waktu di hotel untuk membiayai sang ibu yang sakit keras di desa. Ia berusaha hidup sebatang kara di kota besar karena berpikir ia akan mendapat gaji yang lumayan daripada kerja di desa. Namun, meskipun ia berusaha sekeras apapun sang ibu tetap tak kunjung membaik dan ia mendapat kabar dari bibinya kalau keadaan ibu malah semakin memburuk. Maka itu ia menangis sesedih itu. Jeongguk tak percaya kalau Taehyung masih bisa tertawa di akhir pembicaraanya saat mengatakan teman-temannya bersikap baik padanya dan tak seorang pun mengganggunya. Sungguh iba. Jeongguk sangat merasa bersalah.

"Jeongguk!"

"Ya, Jimin?"

Tepukan Jimin menyadarkan Jeongguk. Ia melamun rupanya hingga tak sadar sang guru memanggil berkali-kali untuk mengerjakan soal di papan tulis. Alhasil ia mendapat ceramah panjang.

.

.

.

"Oh! Taehyung-ah, dari mana saja kau?" tanya Jimin dengan sok akrab. Ia berpura-pura tidak mengetahui kalau Taehyung diskors.

"Jangan mengajakku berbicara. Lakukan saja seperti saat pertama masuk sekolah, kita hanya sebatas orang asing."

Dijawab seperti itu malah membuat Jimin senang bukan main. Itu artinya Taehyung sudah membuka diri.

"Eum, hei, kau lapar? Mau ke kantin?"

Taehyung kembali diam. Ia tak berminat membalas perlakuan Jimin ataupun perkataaannya. Kepalanya sakit dan ia merasa harus tidur untuk beristirahat.

Kedua tangan Taehyung menekuk di atas meja guna memangku kepalanya untuk menjadi bantalan. Ia memejamkan mata dan tertidur pulas secepat itu. Jimin yang melihatnya hanya memaklumi dan kembali ke meja Jeongguk yang menatap Taehyung begitu intens.

"Kau menatapnya seolah mangsa, Jeongguk."

"Aku tertarik padanya, Jimin. Tertarik karena ia begitu menutup rapat dirinya. Menurutmu ia orang yang seperti apa? Kau tadi baru saja diacuhkan, kan?"

JImin duduk di bangku dan menghadap ke belakang. Ia tersenyum saat Jeongguk mulai membicarakan sesuatu dengan serius.

"Kau yakin hanya tertarik sebatas itu?"

"Tentu."

"Menurutku ia baik. Aku juga kagum padanya yang tak gentar dan tak pernah merintih meminta tolong agar Yeri cs menghentikan gangguannya. Aku kagum dengan harga dirinya yang tinggi dan rasa sabar yang ia miliki."

Jeongguk menyetujuinya dalam hati. Ia memang melihat Taehyung seperti itu, akan tetapi tetap saja. Sepertinya memang lebih baik mencari tahu sendiri seperti apa sosok Kim Taehyung sebenarnya.

"Hei, Jimin. Bisa kau kenalkan aku padanya?"

Jimin terperangah. Kenalkan katanya? Padahal Jeongguk sudah melampaui batas tempo hari. Apakah ia bisa mengenalkannya dengan baik? Sedangkan dirinya saja kesulitan saat berbicara padanya.

"Kurasa lebih baik kau datang meminta maaf atas ucapanmu kemarin itu. Kalau aku tiba-tiba membawamu rasanya tidak etis."

Jeongguk berpikir. Betul juga. Setidaknya ia harus meluruskan dahulu tindakannya tempo hari agar Tehyung bisa mengerti.

"Kalau begitu aku akan menunggu keributan dan menariknya keluar."

"Rencana ba- Hei!"

Benar saja. Keributan pun tak lama terjadi, komplotan Yeri datang dan berceloteh seperti bayi. Bahasanya membuat siapapun yang mendengar menjadi pusing. Belum lagi suaranya yang begitu lantang. Namun, ditunggu sampai bel hampir berbunyi lagi pun, Jimin tak melihat Jeongguk bergerak hingga derik bangku di depannya membuat Jimin kembali duduk. Saat itu Jeongguk beranjak mendekati bangku Taehyung dengan langkah tegas dan menariknya keluar dari kelas.

Jimin tertegun. Pasalnya Jeongguk tidak pernah seperti itu. Dia tulus ingin meminta maaf atau mengajak baku hantam, sih?

Sesampainya di taman belakang sekolah, ia melepas genggamannya pada Taehyung yang masih diam tak mengerti kondisinya. Ia kembali menatap Jeongguk dan duduk di bangku yang tersedia.

"Kim Taehyung"

"Ya?"

Taehyung menjawabnya. 'Ternyata tak sulit untuk mengajaknya membuka suara. Dipanggil saja sudah menyahut'. Itu batinnya.

"Aku minta maaf karena sudah mengatakan hal yang tidak-tidak waktu itu."

"Sudah biasa."

Holy shit! Jeongguk belum selesai dengan kalimatnya tapi lelaki ini sudah menjawab. Apakah ia harus berbicara tanpa jeda agar tak dijawab di awal?

"Bukan, maksudku aku benar-benar minta maaf. Aku mengatakan hal yang tak kuketahui. Intinya aku minta maaf. Kupikir mereka saja yang terlalu menutup mata."

Taehyung terdiam dengan jari yang saling bermain tak tenang. Wajahnya masih tetap sama, datar. Lalu Taehyung berujar, "Kau pun sama. Hanya Jimin yang berbeda."

Hell! "Tidak. Aku bukannya berkata begitu dari dasar hati. Aku hanya berkata begitu agar mereka berhenti mengganggu dan meninggalkanmu sendiri. Kau diskors tepat sehari setelahnya. Kau pikir aku tak tahu kalau para guru akan mengadakan rapat untuk mengadilimu tempo lalu?"

Bola mata Taehyung membelalak kaget. Otaknya berpikir keras. "Kau menguping?"

"Tak sengaja mendengar lebih tepatnya. Saat aku berjalan di lorong dewan guru, aku mendengar kepala sekolah berbicara dengan suara lantang dan ia membawa namamu seolah kau ada di sana. Dan ternyata benar, kau memang ada di sana karena suaramu terdengar jelas saat menjawabnya. Dari situlah aku tahu."

Taehyung mengernyit. Itu kali kedua ia berekspresi dan tentu saja Jeongguk tertarik dengan ekspresi baru itu.

"Jadi kau sudah tahu rupanya. Kupikir kau adalah anak donatur besar yang mengetahui hal ini dari orang tua mu."

"Ya, aku memang anak dari donatur terbesar sekolah ini. Tapi itu bukan poin utamanya. Aku tahu kau bekerja paruh waktu untuk membiayai pengobatan ibumu dan para guru mempercayaimu , jadi mereka menangguhkan putusan untuk mengeluarkanmu karena dedikasi yang sudah kau berikan... Sebagai info tambahan, berita ini belum masuk ke dewan donatur. Aku mengetahuinya dari kepala sekolah saat aku bertanya."

Taehyung kembali datar. Ia tak ingin terlihat menyedihkan dan menangis dihadapan Jeongguk seperti keinginanya. Terlalu berisiko. Hidupnya akan lebih hancur daripada ini.

"Lalu, apa urusannya denganmu?"

Jeongguk menumpu kedua tangannya di lutut guna melihat Taehyung lebih dekat lagi. Mata Kim Taehyung sama sekali tak gentar, itu menandakan ia sudah terbiasa diremehkan orang seperti ini. Mentalnya sudah terbentuk dengan kuat dan tak mudah terintimidasi.

Jeongguk menahan napas. Ia menepuk dua kali kepala Taehyung dan tetap tak ada yang berubah. Ia hanya diam dengan tatapan datarnya.

"Sebanyak apa masalahmu sampai kau seperti robot begini? Sesekali kau boleh terlihat lemah dan hancur. Kalau kau terus begitu, orang hanya akan semakin membuat praduga negatif lagi dan lagi."

"Aku hanya perlu bertahan hingga lulus dari sini. Aku tidak merasa perlu membagi semua yang kau ingin tahu dan aku tak butuh belas kasihan siapa pun, termasuk Jimin, orang yang sangat tulus itu."

"Lalu, apakah kalau aku meminta sesuatu darimu kau akan memberikannya? Sebagai timbal balik, aku akan membantu membiayai perawatan ibumu sampai beliau sembuh."

Taehyung berpikir tentang permintaan itu. Apa yang akan diminta lelaki itu kalau ia menyetujuinya?

"Jangan bertele-tele. Katakan apa yang kau inginkan sebagai timbal balik dariku?"

"Dirimu."

.

.

.

TBC