KookTae / KookV

Cast :

Jeon Jeongguk

Kim Taehyung

Author : Tian Yerin a.k.a Wulan Titin

Genre : Hurt/Comfort

Disclaimer :

Cast(s) belongs to god, their entertainment, and their parents but the story line belong to me

.

.

.

"Pulang – Part III"

HAPPY READING

.

.

.

Jeongguk kembali ke ruang kelas tanpa ada Taehyung di sampingnya. Ia mengatakan bahwa Taehyung ada di UKS dan ia usai mengantarnya ke sana. Jadi, guru pun memahami dan mengizinkannya masuk di tengah jam pelajaran.

Usai mata pelajaran dari Pak Seong berakhir, Jimin langsung berbalik dan bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Jeongguk mengeluarkan ponselnya dan mengirimi Jimin pesan.

[JK] kita bicarakan di sini saja, Yeri sedang memperhatikan. Setelah membaca ini, tunjukkan raut wajah senangmu seolah mendapat gebetan baru agar ia tak curiga.

"Ah, Jisoo membalas pesanku!" pekik Jimin pelan berusaha membangun situasi seperti yang Jeongguk inginkan.

"Kalau begitu balas langsung agar ia tak lama menunggumu." jawab Jeongguk acuh. Dan benar saja, setelah itu Yeri mengabaikan mereka berdua.

[JM] Berhasil. Jadi, apa yang terjadi tadi? Apa benar Taehyung di UKS? Omong-omong maaf aku duduk di tempatmu. Guru Seong menyuruhku maju mengisinya.

[JK] tidak masalah. Tentang Taehyung, ia ada di taman belakang. Tapi aku juga tidak dapat memastikan kalau sampai sekarang ia masih di sana. Dan tadi, sebenarnya aku ingin melihat raut wajahnya saat menanyai beberapa hal. Rupanya tak banyak yang terjadi. Ia masih menutup diri.

[JM] Kau tidak mengancamnya kan?

[JK] Untuk apa? Tidak ada manfaatnya bagiku, Jimin. Aku pikir ia akan bercerita begitu saja dan menangis. Tapi dia kuat sekali. Aku rasa ia punya banyak masalah dan sudah terbiasa dengan itu. Makanya pandangan matanya sama sekali tak gentar pada Yeri maupun aku.

[JM] Aku bisa meminta temanku menyelidikinya kalau kau mau. Bagaimana?

[JK] Teman yang mana? Jangan bilang RM, dia kan kakakku, Jimin.

[JM] Iya juga, sih. Dia kakakmu. Lalu siapa? Apa kita tanyakan saja pada kakakmu? Dia pasti punya orang andalan.

[JK] Entahlah, tapi kurasa itu tidak perlu karena terlalu berlebihan, Jimin. Dia siswa SMA sama seperti kita, harusnya masalah hidupnya tak serumit itu hingga kita harus menyewa seseorang untuk menyelidikinya.

"Ah, menyebalkan! Lalu aku harus bagaimana?" tanya Jimin dengan nada khawatir dan seketika membuat Jeongguk terkejut bukan main. Ia tak mau Yeri jadi curiga dengan situasi ini.

"Bagaimana apanya? Memang perempuan itu bilang apa?"

Oh, crap! Untung saja Jeongguk memberinya isyarat. Kalau tidak ia pasti sudah kelepasan berbicara.

"Incaranku bilang ingin bertemu. Entahlah, aku tidak begitu minat melakukannya."

.

Hari ini Jeongguk tak pulang bersama Jimin. Ia berencana mengikuti Taehyung pulang sekolah. Paling tidak ia tahu di mana rumahnya. Selagi ia dalam misi membuntuti Taehyung, ia juga mengamati keadaan sekitar. Seragam sekolahnya menarik banyak perhatian warga sekitar. Meskipun Taehyung juga memakai seragam yang sama, mereka mengacuhkannya. Mungkin karena seragam milik Taehyung sudah menguning, tidak seperti Jeongguk yang seragamnya putih bersih disertai atribut sekolah yang sangat berbeda dari Taehyung. Ia terkesan classy dan mewah. Namun ia tak peduli. Ia bukan orang yang takut dengan situasi macam itu. Ia mampu melawan apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Jeongguk melihat Taehyung hanya berjalan menunduk sepanjang waktu. Hingga pada akhirnya ia berhenti di sebuat apartemen kecil di kawasan yang terbilang kumuh baginya. Namun inilah rumah Kim Taehyung. Ia sempat berhenti sejenak sebelum naik mendekati unitnya.

Jeongguk melihat di depan unit itu tidak ada alas kaki. Mungkin Taehyung memasukkan semua alas kakinya ke dalam. Rasanya lega mengetahui di mana Taehyung tinggal. Usai puas dengan hal itu, Jeongguk berbalik dan berjalan menjauhi apartemen itu. Alih-alih pulang, ia malah mendengar suara yang mengusik telinganya.

"Kau membuntutiku, Jeongguk?"

Jeongguk berbalik dan mendapati Taehyung yang menangkap basah dirinya. Ia tak bisa berkilah karena mustahil orang sepertinya bisa nyasar ke sana apalagi punya teman di sana.

"Aa, itu... Haaahh... Iya, apa pun alasannya, aku membuntutimu."

Taehyung mendengkus dan bergeser dari pintu masuk. Ia mengisyaratkan Jeongguk untuk masuk namun sepertinya Jeongguk tidak mengerti. Lantas ia berkata, "Mau berdiri terus di sana? Baiklah. Aku ma-" Belum selesai dengan kalimatnya, Jeongguk sudah menyelinap masuk lebih dahulu.

"Sebelum itu, bisa kau ganti seragammu dengan ini? Jangan salah paham, kau terlalu mencolok dan di sini rawan kejahatan."

Jeongguk mengernyit. Setelah ditawari bertamu, sekarang Taehyung memberinya baju ganti hanya karena hal itu? Ternyata Taehyung orang yang cukup memperhatikan sekitar.

Setelah Jeongguk berganti pakaian di hadapan Taehyung, ia segera berbalik dan memberikan seragamnya pada Taehyung yang sedikit tersipu. Dengan tenang, Taehyung memasukkan seragam yang Jeongguk pakai ke dalam kantung keresek besar berwarna putih beserta tas yang Jeongguk kenakan.

"Kalau begini, kau tak akan menarik perhatian di sini. Masalah sepatu sepertinya tak masalah. Kau kotori saja sedikit selama perjalanan pulang nanti."

Jeongguk tak habis pikir. "Memang benar aku aman di sini tapi aku akan di usir bila masuk ke perumahanku."

"Tidak mungkin. Penjaga gerbang dan kemanan di sana pasti mengenalimu, aku bertaruh untuk itu."

Taehyung duduk di sebelah Jeongguk karena memang hanya ada tempat itu saja di ruang tengah. Apartemen yang Taehyung sewa itu kecil dan keberadaan Jeongguk mempersempit ruang minimalis itu.

"Apa kau tinggal sendiri? Jujur saja, ini sempit."

"Ternyata mulutmu memang sespontan itu ya, Jeon Jeongguk."

Jeongguk membelalak. Ia mengatakan kalimat yang menyebalkan lagi. Pantas saja hanya Jimin yang bisa bertahan dengannya.

"Maaf, terkadang mulutku memang suka kelepasan. Tapi, tolong percaya kalau aku tak mengatakan hal-hal buruk itu dengan niat yang buruk juga."

"Aku tahu. Aku tak sebodoh itu karena mempercayainya. Percaya atau tidak, aku sudah kenal banyak model manusia di dunia ini. Kau sama saja dengan Jimin, bedanya Jimin terlihat bisa me-manage perkataannya dan cenderung lembut. Kalau kau, mulut pedasmu bertolak belakang dengan hatimu. Tapi aku tetap kesal jika melihatmu memandangku dengan tatapan anehmu seolah bertanya 'ada apa dengan anak itu?' Apa aku benar?"

Jeongguk mengangguk. Ia terkesima dengan kepekaan yang Taehyung miliki. Jadi, sebenarnya ia tak perlu repot untuk meminta maaf? Sia-sia saja.

"Sudahlah, kau tak perlu minta maaf untuk hal yang tak kau sengaja. Hanya saja, kurangi tatapan menjengkelkanmu itu."

"Kau berbeda sekali. Di sekolah kau tenang dan selalu diam. Tapi di sini kau terbuka dan banyak bicara."

Taehyung kembali berdiri. Ia mengeluarkan gelas dan mengisinya dengan air dalam dispenser.

"Maaf aku hanya punya air putih, jadi tidak bisa menawarimu pilihan lain."

"Tak masalah. Jadi, kenapa kau berbeda dengan yang di sekolah? Aku sangat penasaran."

Taehyung menggenggam gelasnya dan mendongakkan kepalanya menatap langit-langit rumah singgahnya. "Aku cukup tahu diri. Aku tak bisa bergaul dengan kalian karena jelas, status kita jauh berbeda. Aku tak ingin di cap sebagai orang yang memanfaatkan orang lain."

"Memangnya masih ada orang yang seperti itu? Kolot sekali."

Taehyung mengulas senyum tipis. Kali itu, jantung Jeongguk berdegup cepat. Ia merasa gemuruh memenuhi dadanya.

"Nah, kau juga sama rupanya. Apa kau selalu sebanyak omong ini saat berdua dengan Jimin?"

"O-oh! Eum, apa aku banyak bicara saat ini?"

Taehyung mengangguk membenarkannya. Yah, mau bagaimana, ternyata mereka berdua sama. Hanya banyak bicara pada orang terdekat atau saat situasinya sedang kondusif saja.

"Tapi, Taehyung. Pancaran matamu selalu redup, bahkan saat ini aku melihatmu menyimpan beban yang sangat banyak."

"Satu-satunya bebanku adalah aku harus cepat lulus dari sekolah itu dan bekerja. Aku ingin menaikkan status sosialku dan juga martabat keluargaku."

"Bukankah selama ini kau mengumpulkan piagam untuk lanjut kuliah?"

Taehyung merenung. Awalnya memang ia ingin kuliah, tapi rasanya sulit karena ia harus segera mencari kerja agar bisa mendapat uang untuk memberikan pengobatan terbaik bagi sang ibu.

"Tidak. Aku tak berniat untuk itu. Aku hanya diminta pihak sekolah untuk membantu mengangkat nilai sekolah di mata publik."

"Entah kenapa aku merasa kalau kau berbohong, haha... Soal ibumu, bukankah kita sudah sepakat? Aku akan membiayai pengobatan ibumu dan kau memberikan dirimu padaku sebagai imbalannya."

Air wajah Taehyung mengeras. Jujur saja, awalnya ia sudah lupa soal itu. Ia pikir Jeongguk bercanda dengan perkataannya.

"Diriku bagaimana maksudmu? Jelaskan dengan baik atau aku akan mengusirmu sekarang juga."

Tensi nada suara yang Taehyung berikan benar-benar gelap. Suara deep-nya menjadikannya semakin menakutkan. Tatapan matanya juga berubah sangat tak bersahabat. Namun, tujuan Jeongguk bukanlah untuk macam-macam, jadi ia tak merasa terintimidasi sedikitpun. Ia malah berpikir kalau Taehyung ini sedang mengeluarkan perlawanan, seperti punya dua kepribadian sekaligus dalam waktu berdekatan.

Jeongguk akhirnya terkekeh. Ia tak mampu menahan tawanya saat melihat Taehyung begitu defensif soal hal ini. Ia lalu semakin mendekatkan posisi tubuhnya pada Taehyung hingga lelaki itu brefleks berdiri dan menarik baju yang dipakai Jeongguk.

"Wow, Tae! Easy, okay?"

Jeongguk menarik lembut tangan Taehyung yang sempat mengeras. Tanpa sadar, tangannya mengusap lembut jemari Taehyung dan itu membuat empunya tenang begitu saja. Biasanya Taehyung akan tetap melawan, tapi anehnya ia hanya diam dan malah menjadi tenang hanya karena dibelai dalam hitungan detik.

"Aku tak punya niat buruk. Kau bilang kau tahu kalau mulutku saja yang buruk tapi aku tidak punya niat yang buruk juga. Ternyata kau masih belum sebaik itu menilai orang. Haha..."

Taehyung melirik ke lain sisi. Ia kesal sekaligus merasa aneh. Tawa Jeongguk dan sentuhannya bisa membuatnya tenang. Ia seperti merasa tak sendiri sekarang.

"Lagipula aku lelaki, sama sepertimu. Untuk apa aku mau dirimu dalam konteks negatif?"

"Oh, maaf. Dulu sekali aku pernah punya pengalaman buruk soal ini. Jadi, maksudmu apa dengan 'mau diriku'?"

"Jadi pembantu pribadiku, bagaimana?"

Taehyung langsung menatap Jeongguk nyalang. Secara tidak langsung ia tersinggung dan harga dirinya dibawa jatuh oleh lelaki itu.

"Ma-maksudku buka pembantu! Maaf, mulutku ini tak ada remnya. Aku akan mengatakan dengan bahasa yang lebih halus, asisten pribadi. Itu penawaran kerja terbaikku untukmu. Aku akan menambah bonus dan gajimu dari uang sakuku pribadi. Bagaimana? Aku pastikan biayanya jauh lebih besar daripada pekerjaan paruh waktumu di hotel."

Taehyung mengernyit. Sombong sekali, batinnya. Ia lantas bertanya lagi. "Jadi, aku berkerja dari sepulang sekolah sampai dini hari?"

"Tidak. Kau bekerja padaku purna waktu, lebih bagus lagi 24 jam. Jadi, kau harus pindah dari sini ke rumahku. Tenang, di sana ada kamar untukmu sendiri. Selain berhemat uang, kau akan lebih cepat mempersiapkan segala yang aku butuhkan. Bagaimana? Makan dan segala keperluanmu juga sudah beres."

"Lalu sekolahku bagaimana?"

Jeongguk mengernyit, memang apa hubungannya?

"Kau tetap sekolah seperti biasa tapi tetap di sisiku. Selain kau menjadi asistenku, kau juga jelas terjauhkan dari gangguan Yeri dan teman-temannya. Bagaimana? Ini memberikan banyak benefit untukmu."

Hening. Sebegitu inginnya Jeongguk membantu dirinya? Ini mengganjal di dasar hatinya. Otaknya jadi bertanya-tanya.

"Memang. Lalu apa untungnya untukmu membantuku sebegitu banyaknya?"

Jeongguk bangkit dan mengambil ponselnya. Ia menunjukkan sesuatu pada Taehyung.

"Ini ibuku. Kakinya lumpuh aktifitasnya terhambat. Ini ayahku, ia gila kerja. Aku anak tunggal dan asistenku ini berhenti sepekan yang lalu karena akan menikah dan pindah ke kampung halamannya untuk mengelola bisnis kecil-kecilan turunan ayahnya. Jadi, aku memintamu bukan karena percuma, aku ingin kau menggantikannya dan juga sesekali menemani ibuku bicara karena ayahku hampir tak pernah pulang, kecuali saat hari besar saja. Kau, mau menolongku untuk itu?"

Taehyung terenyuk. Awalnya ia pikir Jeongguk punya keluarga yang sempurna, tapi nyatanya tidak. Ia menceritakan ibunya dengan raut wajah sedih sedangkan berekspresi jengkel saat membicarakan ayahnya. Bolehkah ia menerima pekerjaan ini?

Taehyung kembali melihat Jeongguk yang menaruh harapan padanya. Entah mengapa ia ingin bertanya sekali lagi. "Kenapa aku? Kenapa diantara sebegitu banyak orang yang kau kenal kau meminta bantuanku?"

"Karena kita sama-sama memerlukan bantuan. Aku pikir akan jadi simbiosis mutualisme yang bagus... Jadi?"

Taehyung berpikir lagi. Kepalanya berisi kalimat, bolehkah? Bolehkah? Seperti itu terus. Namun ia tak bisa egois karena ibunya memerlukan biaya secepat mungkin. Pada akhirnya ia pun mengiyakan tawaran dari Jeongguk.

.

.

.

TBC